Black Heart . . . Part 1

Standar

By: Shania9ranger

Cast :

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Kesepian, kecewa, benci, sakit hati, malu, hancur tak bernyawa, semua perasaan itu yang terus ada di dalam hatiku selama 2 tahun ini. Aku lelah dengan keadaanku yang seperti ini, rasanya lebih baik mati daripada menjalani hidup. Aku ingin seseorang menolongku keluar dari hatiku yang sudah berwarna hitam ini. Tapi apakah ada yang mampu?

Tok . . . Tok . . . Tok . . .

“Kyunnie, kau sudah bangun?” Seorang wanita paruh baya memasuki kamarku dengan membawa senampah makanan di tangannya. Ya, dia adalah oemmaku. Aku tak menghiraukan kehadirannya atau pun menjawab pertanyaannya.

“Oemma, bawakan sarapan untukmu. Kau harus makan.” Ucapnya sambil meletakan semua makanan itu di atas meja belajarku. Dan aku masih tetap terdiam menatap keluar jendela.

“Oemma suapin ya? Ayo aaaaa~” Wanita itu masih bersih keras membujukku untuk makan.

Aku segera menepis tangannya dengan kasar. “Keluar…” Perintahku padanya agar dia segera pergi dari hadapanku.

“Kyunnie, oemma mohon jangan seperti ini.” Kali ini aku melihatnya menitikan air mata lagi dan lagi.

“Keluar! JANGAN TERUS-TERUSAN MENGKHAWATIRKANKU SEPERTI INI, AKU BENCI! AKU BENCI DENGAN TATAPAN IBA-MU KEPADAKU! KELUAR SEKARANG. . . !” Aku berteriak sangat kencang padanya. Bukan hanya pagi ini aku meneriakinya seperti itu, tapi selama 2 tahun aku selalu meneriakinya dengan kasar.

Dia tidak membalas perkataanku, namun air matanya mengalir sangat deras kemudian pergi dari kamarku.

“Aish . . . Aaaggrr!” Aku kepal tanganku kuat-kuat sambil berteriak seperti orang kesetanan.

Aku tidak bisa melanjutkan hidup seperti ini, terlalu menyakitkan bagiku. Tuhan benar-benar sangat tega memberiku ujian hidup yang tidak mungkin sanggup aku lewati.

Aku melihat sekeliling kamarku dengan penuh pilu. Di dinding banyak foto-foto terbingkai, di dalamnya terdapat gambar seorang pria yang selalu tersenyum ceria menujukkan deretan gigi putihnya. Pria itu tampak sangat bahagia dengan piala emas yang di terimanya. Namun senyuman itu kini sudah lenyap di telan bumi.

Bagaimana aku bisa tau? Karna akulah pria yang ada di gambar itu. Sekarang bahkan aku pun lupa bagaimana caranya tersenyum. Keceriaan yang ku miliki telah sirna bagai ditelan oleh kelamnya kegelapan. Tidak akan ada lagi Cho Kyuhyun yang selalu menang dalam olimpiade matematika, tidak akan ada lagi Cho Kyuhyun yang membuat bangga keluarga. Dan tidak akan ada lagi senyuman serta kebahagiaan dari seorang Cho Kyuhyun. Yang ada hanyalah aku yang terpuruk dalam kebencian. Kejadian 2 tahun yang lalu lah yang membuatku seperti ini. Pristiwa yang tidak akan pernah dapat ku lupakan seumur hidup.

*Flashback*

2 tahun yang lalu saat aku masih kelas 2 SMA, dimana aku menjalani hidupku dengan sempurna. Aku memiliki banyak teman, prestasiku di sekolah sangat baik, dan keluargaku bangga akan prestasi yang ku raih. Hidupku terasa lebih lengkap ketika bertemu dengannya.

Suatu hari saat aku sedang mencari film kesukaanku di toko CD, aku tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga menjatuhkan CD yang ada di genggaman tangannya. Aku membantunya meraih CD yang terjatuh di lantai, spontan dia pun melakukan hal yang sama. Mata kami bertemu dan saling tatap untuk beberapa saat. Ada perasaan aneh yang seolah menyetrumku. Entah dapat keberanian dari mana, aku tanpa malu mengajaknya berkenalan. Namanya Kim Yuri, dia gadis imut yang sangat cantik. Dia berhasil mencuri hatiku dan membuatku sangat tergila-gila padanya.

Beberapa minggu setelah pertemuan itu, ku ungkapkan perasaanku padanya. Betapa bahagianya aku mengetahui bahwa dirinya pun merasakan hal yang sama. Mungkin kami sepasang kekasih yang paling bahagia saat itu. Yuri berbeda sekolah denganku tapi kami satu angkatan, dia hidup hanya berdua dengan ibunya. Bersama dengan Yuri membuatku memiliki suatu impian, yaitu segera menyelesaikan pendidikanku dan melamarnya menjadi istriku. Ya, aku ingin Yuri menjadi oemma dari anak-anakku kelak, dan mendampingiku sampai maut memisahkan kami.

Tapi impian itu hancur berkeping-keping oleh sebuah insiden yang tidak pernah terbayangkan sedikit pun di benakku. Hari itu sepulang sekolah aku pergi kerumah Yuri untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah. Sesampainya di rumah Yuri sudah ada salah satu sahabatnya yang sedang membaca komik di ruang tengah. Yuri pun segera memperkenalkanku dengan sahabatnya itu.

“Kyu, kenalkan dia sahabatku. Namanya Eunhye, dia teman sebangkuku.” Ujar Yuri memperkenalkan sahabatnya.

“Annyeong, Park Eunhye imnida.” Sapa gadis itu yang tak kalah manis dengan Yuri-ku.

“Annyeong, Kyuhyun imnida. Aku namjachingunya Yuri.” Balasku dengan sopan.

“Iya, aku sudah tau tentang dirimu. Setiap hari Yuri selalu bercerita tentang dirimu, Kyuhyun-ssi.” Ujar gadis itu sambil melirik ke arah Yuri. Wajah Yuri seketika memerah seperti kepiting rebus.

“Benarkah? Senangnya…” Aku tersenyum lebar kearah Yuri. “Chagy, ajhuma mana?” Tanyaku kemudian setelah tidak melihat oemmanya Yuri.

“Oemma sedang banyak kerjaan, jadi pulangnya mungkin akan agak malam.”

“Oh, kau tidak apa sendirian di rumah?”

“Tidak apa-apa, kan ada Eunhye yang menemaniku.” Ujar Yuri sambil tersenyum manis padaku.

“Kalau nanti ada apa-apa kau bisa menghubungiku, aku pasti akan segera menemuimu.”

“Ne, gomawo oppa.”

“Kalian ini mesra sekali. Kapan kita mulai belajarnya?” Eunhye meledek kemesraanku pada Yuri. Dan kami hanya tersenyum melihatnya yang sudah mengeluarkan buku-buku di atas meja.

~~~~~~~~~

Kami bertiga belajar dengan serius selama 2 jam, tugas sekolah mereka pun selesai satu-persatu.

“Yah…cemilannya abis. Kalian tunggu sebentar ya, aku belikan cemilan lagi di supermarket depan.” Ucap Yuri sambil beranjak dari tempatnya duduk.

Aku segera meraih tangannya. “Biar aku saja yang beli chagy?”

“Tidak usah oppa, biar aku saja yang beli. Lagi pula sebaiknya kau membantu Eunhye menyelesaikan soal Fisikanya.”

Yuri pun pergi menginggalkan ku dan Eunhye. Aku jadi agak merasa canggung hanya berduaan dengan Eunhye.

“Kyuhyun-ssi, sepertinya kau sangat mencintai Yuri?” Tanya Eunhye tiba-tiba.

“Tentu saja, dia adalah gadis pertama yang mampu mencuri hatiku.” Kataku mantap menjawab pertanyaan Eunhye. Suasana antara aku dan eunhye pun mencair.

“Kalau begitu beruntung sekali Yuri mendapatkanmu…” Ucapnya yang terdengar lirih.

“Hehehe…gomawo Eunhye-ssi.” Kataku yang agak malu mendapat ujian itu. “Hidup memang terasa lebih indah dengan cinta. Eunhye-ssi, apa kau sudah memiliki namjachingu?”

“Aniyo, tapi aku diam-diam telah mencintai seseorang sejak lama.” Ujarnya sambil sibuk mengerjakan soal-soal.

“Kalau begitu orang itu sangat beruntung mendapatkan cintamu.” Ujarku tanpa ada maksud lain.

“Benarkah?” Tanyanya seolah tidak percaya dengan ucapanku.

“Tentu saja, kau ini manis, dan pintar.” Dapat ku lihat wajahnya merona. “Kenapa tidak kau nyatakan saja padanya?” Kataku lagi.

“Aku takut di tolak…”

“Kan belum dicoba? Dan aku yakin dia pasti tidak akan menolakmu.” Kali ini ku coba menyemangatinya.

Eunhye tidak menjawab perkataanku lagi. Dia terlihat sedang memikirkan ucapanku dengan seksama. Beberapa saat kemudian Eunhye mendekatiku, lalu mendorong tubuhku hingga terbaring di lantai.

“Eunhye-ssi, ap..apa yang sedang kau lakukan?!” Tanyaku yang kaget dengan perbuatannya. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah justru menindih tubuhku. Aku berusaha menjauhi tubuhnya, tapi dia semakin erat memelukku.

“Kyu, kau lah laki-laki yang aku cintai itu.”  Ucapnya sambil setengah merengek. “Sebenarnya sudah sejak lama aku selalu memeperhatikanmu, tapi kau tidak pernah menyadari keberadaanku.”

“I…itu tidak mungkin, yang aku cintai hanya Yuri seorang.” Kataku dengan tegas kepadanya. Aku berusaha menyingkirkan tubuhnya, tapi tak berhasil.

“Ku mohon, terimalah cintaku.” Eunhye semakin menggila dan berusaha mencium bibirku.

BRAAAKKK! ! ! Aku dan Eunhye kaget melihat Yuri yang datang dengan tatapan nanar ke arahku.

“Yu…Yuri ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bisa menjelaskannya…” Ujarku menghempaskan tubuh Eunhye dengan kencang.

“Kyu…” Ucap Eunhye menarik tanganku.

“Lepaskan!” Kataku menghempaskan tangan Eunhye.

Yuri pergi meninggalkan ruangan itu. Aku hendak menyusulnya, namun Eunhye mencegahku.

“Kyu, jangan tinggalkan aku. Lihat dia saja sudah pergi meninggalkanmu?”

“Lepaskan! Aku tidak mencintaimu. Yang aku cintai hanya Yuri seorang, bukan dirimu.”

Eunhye tampak tercekat mendengar ucapanku, kemudian melepaskan tanganku. Aku hendak pergi menyusul Yuri, namun belum sempat ku langkahkan kaki, Yuri sudah kembali dengan tatapan mengerikan. Aku tau dia pasti menyangkaku selingkuh dengan sahabatnya.

“Chagy, bisa aku jelaskan semua ini. Yang aku cintai hanya…”

JLEEBBB! Kata-kataku terputus saat merasakan sesuatu yang tajam menghujam perutku. Yuri menusukku dengan sebilah pisau dapur yang di ambilnya tadi. Seketika darah merembas keluar dari seragam yang ku kenakan.

KYAAAAAAAAA . . . ! ! ! Ku dengar Eunhye berteriak histeris.

“Yu… Yuri… kenapa… kau melakukan… ini…” Kataku dengan terbata. Rasa sakit luar biasa menjalar diseluruh tubuhku. Aku menatap Yuri yang mematung di hadapanku. Lalu pandanganku mulai gelap dan aku jatuh tersungkur tak sadarkan diri lagi.

~~~~~~~~~

“Emmm… oemma… appa…” Panggilku lemah ketika sadar dan melihat kedua orang tuaku yang sedang menangisi keadaanku.

Aku sadarkan diri setelah 4 hari mengalami koma di ruang ICU. Bayangan wajah Yuri saat menusukku terekam sangat jelas di dalam ingatanku. Sulit bagiku mempercayai akan kejadian itu, karna Yuri adalah gadis yang lemah lembut dan penuh akan kasih sayang. Kenapa dia tega melakukan hal itu kepadaku?

Ku dengar dari Ahra nonna, Yuri langsung di tahan di penjara. Dia mendapat ancaman hukuman penjara beberapa tahun, karena telah berusaha menghilangkan nyawa seseorang. Sudah dua minggu lamanya aku di rawat di rumah sakit, keadaanku pun semakin membaik. Tapi . . .

“Oemma, kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?” Tanyaku yang merasakan kakiku seperti mati rasa.

“Itu karna kau belum sembuh total, Kyu.” Appa menjawab pertanyaanku, namun ku lihat oemma justru menangis.

“Appa bohongkan?!” Ujarku yang tidak percaya pada ucapan appa.

Appa hanya diam, dia tidak berani menjawab tuduhanku. Barulah ku sadari ada kelainan pada tubuhku, yaitu aku tidak dapat merasakan dan menggerakkan kakiku sendiri.

“Appa… oemma… sebenarnya apa yang terjadi pada kakiku?” Tanyaku lagi, dan berharap kali ini mereka mau menjawabnya dengan jujur.

“Tidak terjadi apa-apa nak…” Ujar oemmaku lirih.

“Jangan bohong!” Aku berteriak sangat kencang.

“Kyu… akibat tusukkan itu kakimu…” Ucap Ahra nonna berusaha memberitahuku. Ucapannya terpotong, dapat ku lihat nonna menghela nafas panjang sesaat, seolah ada beban berat berkilo-kilo dalam ucapannya.

“Nonna, kakiku kenapa???”

Ahra nonna pun melanjutkan kata-katanya lagi. “Kakimu . . . lumpuh Kyu . . .”

DUAAARRR . . . ! Hatiku bagai tersambar petir mendengar apa yang Ahra nonna katakan.

“Mwo?!” Ujarku tak percaya. “Oemma… benarkah itu?” Kali ini aku meminta kepastian dari oemma.

Oemma menganggukkan kepalanya pelan dan air matanya pun semakin deras membasahi pipinya.

“Andwae! Itu tidak mungkin . . .” Aku tidak bisa menerima keadaan ini. Ku coba bangkit dari ranjang, lalu menurunkan kakiku satu-persatu dengan kedua tanganku. Aku bersiap untuk turun dari ranjang, dan mencoba berdiri dengan kedua kakiku. BRRUUUKK . . . Aku langsung terjatuh di lantai. Ternyata kakiku benar-benar mati rasa . . .

“ANDWAE! ANDWAE ! ! ! Aku pasti sedang bermimpi . . . Ya, pasti aku sedang bermimpi.” Kataku sambil tersenyum kecut, berharap bahwa ini semua hanyalah sekedar mimpi buruk. Aku mencoba meyakinkan pada diriku sendiri kalau ini hanya sebuah mimpi.

Ahra nonna mendekat dan memelukku sangat erat. “Ini bukan mimpi Kyu. Kau lumpuh sekarang . . . Kau harus tegar menerimanya, pasti ada jalan penyembuhan agar kakimu dapat di gerakkan lagi.” Dia berbisik di teringaku mencoba memberiku kekuatan.

“Nonna, aku yakin ini hanya mimpi.” Kataku yang masih bersih keras tidak percaya. “Cubit aku . . . sadarkan aku dari mimpi.” Tapi nonna tidak melakukan apa pun, selain mempererat pelukkannya.

Ku cabut jarum infus yang tertuncap di pergelangan tanganku dengan paksa.

“Akh !” Jeritku merasakan sakit saat jarum infus terlepas dari pergelangan tanganku, darahku pun keluar seketika. Barulah aku sadar bahwa ini bukan mimpi.

TIIIDAAAAAKKKK ! ! !

*End Flashback*

Kata dokter luka tusukkan di perutku cukup dalam dan mengenai urat saraf yang berfungsi untuk menerima perintah dari otak untuk menggerakkan kaki. Sebagian urat saraf itu rusak, hingga menyebabkan kelumpuhan terhadap kedua kakiku.

Setelah kakiku lumpuh, hidupku pun berubah seketika. Aku bagaikan boneka yang tak bernyawa. Oemma dan Appa selalu membujukku untuk melakukan terapi pemulihan kakiku, tapi aku menolaknya dengan keras. Bagiku percuma saja melakukan hal itu, karna kakiku tidak akan mungkin kembali seperti dulu.

Aku tidak melanjutkan kembali sekolahku karna rasa malu terhadap teman-temanku. Dan selama 2 tahun ini aku selalu mengurung diriku di dalam kamar. Aku tidak mau membuat keluargaku malu akan kondisiku yang cacat ini, aku juga tidak ingin mendapat belas kasihan dari orang-orang yang meliahatku. Aku benci semua orang, Yuri, bahkan benci diriku sendiri. Hatiku sudah membeku oleh kebencian yang mendalam.

. . . . to be continued . . . .

11 responses »

  1. Wow….!!! Seru, seruuu….
    Tpi kyu jgn nutup dri kya gtu donk.. Hiks … T^T…
    Lgian si yuri cemburu bta bgt sie… Kn kyu lum jlasin pa yg trjdi sbner’y….
    Next di tgu sangat ya….. ^^ slam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s