Black Heart . . . Part 2

Standar

Ting . . . Tong . . . Ting . . . Tong . . .

Samar-samar ku dengar bell rumah berbunyi, sepertinya ada seseorang yang bertamu. Tapi tak ku perdulikan siapa yang bertamu, karna siapa pun itu pasti bukan bertamu untuk mencariku.

‘Krucuuuukkkk…’ Perutku mulai protes minta di isi. Ku lirik makanan yang di bawakan eommaku tadi, lalu memakannya dengan terpaksa dan hanya beberapa suap yang masuk kedalam perutku. Setelah itu ku sibukkan diriku dengan bermain game.

~~~~~~~~~

Di halaman depan rumah Kyuhyun telah berdiri sesosok gadis manis bertubuh mungil dengan rambut sebahu sedang menanti pemilik rumah membukakan pintu untuknya.

“Annyeong Ajhuma !” Sapa gadis itu ketika melihat orang yang sudah familiar baginya membukakan pintu.

“Rika?!” Ujar orang tersebut agak terkejut.

“Ne, ajhuma.” Gadis yang bernama Rika itu tersenyum manis pada eommanya Kyuhyun.

“Ajhuma sangat merindukkanmu, sekarang kau sudah besar. Kapan kau sampai di Korea? Kenapa kau tidak memeberitahu ajhuma kalau kau akan datang hari ini?” Seketika wajah eomma Kyuhyun memancarkan kebahagiaan seolah Rika adalah yang akan menjadi penyelamat keluarganya dari kegelapan. Dia memeluk gadis itu dan melontarkan pertanyaan dengan bertubi-tubi.

“Ajhuma, satu-satu nanyanya.”

“Mian, ajhuma terlalu senang dengan kedatanganmu.”

“Gwaenchana Ajhuma.”

“Ayo cepat masuk! Ajhuma sudah siapkan kamar untukmu.” Eomma Kyuhyun mengajak Rika segera masuk kedalam rumah karna di luar cuaca memang sangat dingin.

“Ne, kamsahamnida.”

~~~~~~~~~

‘Berisik sekali!’ Batinku saat mendengar suara-suara tak jelas yang terdengar dari lantai bawah rumahku. ‘Memang siapa sih yang bertamu?’ Tak mau pusing memikirkan hal itu aku melanjutkan kembali aktivitasku bermain game yang sebelumnya sempat terhenti karna mendengar suara bising dari ruang tamu.

Didalam kamar ini biasanya aku selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku atau menatap keluar jendela dan memperhatiakan orang yang berlalu-lalang di jalan seharian. Namun belum lama ini ada kegiatan baru yang dapat ku lakukan selain kedua hal di atas, yaitu bermain game online. Siwon hyung memberikanku sebuah laptop pada ulang tahunku bulan lalu. Dia adalah suami Ahra nonna. Dulu sebelum aku lumpuh, aku sangat dekat dengannya. Siwon hyung orang yang sangat tampan, baik, dan perhatian pada keluargaku. Jujur, nonnaku sangat beruntung bisa mendapatkan hati Siwon hyung. Tapi sekarang aku tak pernah berbicara sedikit pun dengannya, walaupun dia sudah berusaha keras mengajakku agar mau berbicara, tetap saja aku selalu mengunci mulutku rapat-rapat.

Aku akui dengan adanya laptop pemberian dari Siwon hyung ini dapat mengurangi rasa bosan dan jenuhku. Aku dapat berkutat selama berjam-jam tanpa rasa bosan sedikit pun didepan layar LCD mini ini. Selain main game, aku bisa sedikit bersosialisasi dengan para penghuni dunia maya melalui situs jejaringan sosial. Dalam dunia maya aku tidak perlu merasa malu akan kondisi tubuhku yang cacat karna orang-orang tersebut tidak akan mengetahuinya.

“Aish…aku kalah lagi.” Gerutuku dengan kesal setelah berturut-turut kalah di level 6. Tidak terasa sudah 4 jam aku berkutat di depan layar laptop. Ku renggangkan kedua tangan dan leherku yang terasa pegal. Ku putuskan untuk pergi mandi, karna tubuhku sudah terasa lengket oleh keringat. Aku pun menggerakkan kursi roda menuju kamar mandi, melepaskan bajuku satu persatu dan berusaha dengan keras mengangkat tubuhku untuk berpindah ke kursi lain yang di buat khusus untuk mandi dengan berpegangan pada pegangan yang telah di sediakan. Kakiku memang lumpuh tapi tidak dengan bagian atas tubuhku, aku masih bisa melakukan hal seperti ini tanpa bantuan orang lain. Dan kamar mandi ini memang sudah di rancang khusus untuk mempermudahkan diriku melakukan segala aktivitas didalam kamar mandi, bahkan closetnya pun di rancang sedemikian rupa.

Setelah mandi aku selalu melakukan kebiasaanku di waktu sore hari, menatap keluar jendela dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di komplek rumahku. Ada sepasang suami istri yang sedang melakukan jogging, seorang pria paruh baya yang mengajak jalan anjing-anjing kesayangannya, dan terdapat beberapa anak bersepeda. Melihat itu semua membuatku merasa sangat iri terhadap mereka yang dapat melakukan segala aktivitas dengan leluasa. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum miris menatap keadaan kakiku yang lumpuh.

 

“Kyunie, eomma masuk ya?” Terdengar suara eommaku dari balik pintu meminta izin untuk masuk ke dalam kamarku. Aku tetap diam tidak menanggapinya.

Kemudian eomma masuk, dia melihat makanan yang tadi dibawanya tidak habis karna hanya tersentuh sedikit olehku. “Sayang, kenapa kau tidak menghabiskan makanan ini?” Tanyanya dengan tatapan sendu yang menatap kearahku. Lagi-lagi aku tidak membalas pertanyaannya.

“Kau bisa sakit kalau tidak makan, Kyu.” Ujarnya lirih. “Eomma tidak mau kalau kau sampai sakit. Kau ingin apa? Nanti eomma belikan.”

‘Aku ingin mati meninggalkan tubuh ini.’ Kataku dalam hati. Sebenarnya kata-kata itu ingin sekali aku lontarkan dari mulutku, tapi aku tidak mau melihatnya menangis lagi.

“Ehmm… nanti eomma belikan jajangmyeon kesukaanmu ya.” Riang eomma yang sangat terlihat dibuat-buat. “Kyunie, ada yang ingin eomma sampaikan lagi padamu.” Setelah mengucapkan itu dia terdiam beberapa saat.

Aku melirik kearahnya, eomma tampak ragu-ragu untuk mengatakannya. Sepertinya dia takut aku akan marah mendengar perkataannya.

Eomma menundukkan kepalanya sangat dalam. “Mulai hari ini akan ada seseorang yang tinggal bersama keluarga kita.” Aku menyerngitkan keningku sebagai tanda tidak percaya. Eomma yang melihat menyadari ekspresi wajahku buru-buru menjelaskannya. “Dia anak sahabat eomma yang tinggal di Negara Indonesia. Dia berhasil mendapatkan beasiswa di Seoul National University fakultas seni, itu sebabnya dia datang ke Korea. Appamu yang juga merupakan teman baik Appanya, meminta dia untuk tinggal disini sampai kuliahnya selesai. Namanya Rika, dia anak yang baik, manis, dan sopan. Eomma harap kau tidak keberatan Rika tinggal bersama kita.”

Aku tidak terima, sangat tidak terima, apalagi dia seorang gadis. Ku ambil salah satu buku yang ada di atas meja lalu melemparnya ke tembok. Seketika itu juga eomma menyadari bahwa aku marah dan tidak menerima kehadiran gadis yang bernama Rika itu.

“Kyu, eomma mohon terimalah Rika di rumah ini. Eomma bisa pastikan Rika tidak akan mengganggumu atau pun membuatmu marah.” Ujar eomma memohon padaku. Aku tidak melempar apa-apa lagi, dan eomma pun pergi dari kamarku dengan nampan yang berisi sisa makananku ditangannya.

~~~~~~~~~

Sudah satu minggu Rika tinggal di rumahku, tapi belum pernah sekali pun kami bertemun. Tentu saja itu terjadi karna aku tidak pernah meninggalkan kamar ini, walau sedetik saja. Aku hanya dapat mendengar suaranya yang khas saat berbincang-bincang dengan eommaku, dan aku tau itu pasti suara Rika karna di keluargaku tidak ada yang bersuara cempreng seperti dia. Sejak kedatangan Rika di rumah ini, seolah dia telah memberikan suasana hangat dan warna baru. Seringku dengar tawa candanya saat sedang membantu eomma memasak atau saat makan malan bersama kedua orang tuaku. Kalian tau, sebelumnya rumah ini sangat sepi dan berhawa dingin bagai rumah kosong tak berpenghuni. Terkadang aku iri mendengar tawa canda mereka, ingin rasanya berada di tengah-tengah mereka. Namun apa daya, hatiku yang sudah mati melenyapkan segala keinginan itu secepat kilat.

 

Suatu hari aku terjatuh di lantai kamar mandi yang licin dengan bunyi debamam yang keras, dan aku mengerang kesakitan. “Akhhhh…!” Tangan kiriku tergores ujung bak mandi yang tajam hingga mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Lututku juga memar akibat benturan, hanya saja tidak terasa sakit sama sekali. Aku terbaring di lantai kamar mandi tak berdaya. Tiba-tiba seorang gadis masuk kedalam kamarku, dan menemukan tubuhku yang terbaring di kamar mandi.

“Ommo!” Ucapnya terkejut. Gadis itu segera mendekatiku, lalu membantuku bangkit dari lantai dan memapahku duduk kembali di kursi roda. “Gwaenchana?” Tanyanya dengan tampang wajah yang panik.

Aku memperhatikan wajah gadis itu sejenak. Gadis itu manis, dia memiliki wajah yang imut, rambutnya yang panjang berhiaskan penjepit rambut berwarna pink diatasnya, serta warna kulitnya kuning langsat. Dia benar-benar tampak berbeda dari tampang orang Korea pada umumnya yang berkulit putih dan bermata sipit. Tatapannya yang panik seperti sekarang, membuat wajahnya semakin lucu. ‘Dia pasti Rika.’ Tebakku dalam hati.

“Gwaenchanayo?” Tanyanya lagi saat aku melamun memandang sosoknya yang cantik.

‘Aish…Kenapa kami bertemu saat aku terlihat memalukan seperti ini? Dia pasti menganggapku sebagai manusia yang sangat menyedihkan.’ Gerutuku dalam hati. Karna merasa malu, aku memalingkan wajah dari hadapannya lalu segera mengusirnya sebelum dia mengasihaniku. “Keluar…”

“Tangan kiri dan lututmu terluka! Harus segera di obati agar tidak infeksi.” Gumamnya tanpa menghiraukan ucapanku yang sedang mengusirnya. Gadis itu segera pergi dari kamarku, namun tidak lama kemudian dia kembali dengan kotak obat di tangannya.

“Mau apa kau kembali?!” Kataku ketus.

“Mengobati lukamu.” Ujarnya singkat dengan wajah polosnya. Kemudian dia berlutut di hadapanku sambil membuka kotak obat. Diambilnya sehelai kapas yang sebelumnya sudah dilumuri oleh alcohol. Rika hendak meraih tanganku yang terluka, namun aku menepisnya kencang hingga ia terjatuh.

“Keluar!” Aku membentaknya agar dia segera keluar dari kamarku.

“Tapi kau terluka.” Kata Rika berusaha menegakkan tubuhnya kembali di hadapanku.

“Keluar kataku! KELUAR . . . KELUAAAR!!!”

Bukannya segera keluar, Rika justru hanya terpaku menatapku. ‘Cih, aku benci tatapannya yang sulit di artikan itu.’ Ku gerakkan kursi roda dengan tangan kananku ke arahnya, lalu mendorong tubuhnya keluar kamar dengan tangan kiriku yang terluka. Dia tidak boleh melihat makhluk cacat sepertiku. . .

~~~~~~~~~

“Rika, apa yang terjadi? Ajhuma dengar ada yang berteriak.” Eomma Kyuhyun datang tergesa-gesa menghampiri Rika.

“Dia jatuh di kamar mandi dan terluka.” Ujar Rika sambil menunjuk pintu kamar Kyuhyun.

“Mwo?!” Eomma Kyuhyun terkejut. Dia segera mendatangi kamar Kyuhyun, sedangkan Rika masih diam berdiri tak jauh dari kamar Kyuhyun. “Kyu, buka pintunya nak. Ini eomma.” Eomma Kyuhyun tidak dapat masuk karna pintunya telah terkunci dari dalam.

“Pergi! TINGGALKAN AKU!!!” Terdengar teriakan Kyuhyun dari dalam kamar yang juga mengusir eommanya.

Eommanya terlihat sangat khawatir, namun tidak ada yang bisa di lakukannya jika Kyuhyun sudah mengusirnya seperti itu. Yang dapat ia lakukan hanyalah menangis. Rika tidak tega melihat ajhumanya menangis, berusaha menenangkannya dan memapahnya duduk di ruang tengah.

Setelah tangisan eommanya Kyuhyun mereda, Rika memberanikan dirinya untuk bertanya. “Ajhuma, kalau aku boleh tau dia itu siapa?”

Eomma Kyuhyun menatap Rika sesaat, dia tau hari ini pasti datang. Hari dimana dia harus memberitahukan tentang keadaan anak bungsunya pada gadis yang ada di hadapannya ini. Karna sejak datang ke rumah, Rika sama sekali tidak tau tentang keberadaan Kyuhyun.

“Dia…anak bungsu ajhuma, namanya Kyuhyun.” Ucapnya lirih.

“Jadi Ahra onnie punya dongsaeng?” Tanya Rika penuh penasaran.

“Ne.”

Selama ini yang Rika tau, ajhumanya hanya memiliki satu anak perempuan yaitu Cho Ahra. Rika baru menyadari kalau di rumah yang besar ini tidak terdapat satu pun foto keluarga yang terpampang di dinding, yang ada hanya lukisan-lukisan indah sejauh mata memandang.

“Kenapa ajhuma tidak pernah cerita padaku?” Tanya Rika.

“Mian, itu karna . . .” Akhirnya eomma Kyuhyun menceritakan segala kejadian yang menimpa anak bungsunya itu pada Rika, bahkan ia menceritakan perubahan sifat Kyuhyun sejak kakinya mengalami kelumpuhan. Eomma Kyuhyun sudah tidak dapat menahan beban pikiran yang selama ini terpendam dihatinya dan mencurahkan segalanya pada gadis yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.

 

Setelah ajhumanya menceritakan semua yang terjadi di rumah ini, Rika memasuki kamarnya dengan perasaan campur aduk. Dia merasa kasihan atas kejadian yang menimpa Kyuhyun, tapi disisi lain dia juga marah akan perubahan sifat Kyuhyun yang membuat seluruh keluarganya sedih.

“Namja babo.” Rika mendesis pelan. “Aku harus mengubah sifat jelekmu yang suka marah-marah itu. Kasihan ajhuma…”

~~~~~~~~~

Keesokkan harinya…

Hari ini aku tidak bisa kosentrasi dengan permainanku, wajah Rika saat panik selalu terbayang-bayang dalam ingatanku. “Kenapa wajah dia yang selalu muncul…” Tanyaku pada diri sendiri. Aku menutup layar laptop, kemudian mengambil salah satu buku yang ada di atas meja.

Tok… Tok…

Ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku pelan. Aku berbalik sesaat dan menemukan secarik kertas yang sengaja diselipkan bawah pintu. Segera ku ambil kertas itu dan membaca tulisan yang melekat dengan tinta berwarna hijau muda.

Annyeong Kyuhyun-ssi, Rika imnida.

Maaf jika kemarin aku menyinggung perasaanmu, tapi sungguh aku hanya ingin membantumu. Salam kenal! ^^

Maukah kau berteman denganku???

Aku tersenyum sinis membaca tulisan yang ada di kertas itu lalu merobeknya kecil-kecil. “Berteman katanya? Apa dia tidak salah mengajak orang cacat sepertiku menjadi temannya. Gadis itu sungguh bodoh.”

 

Hampir setiap hari Rika selalu menyelipkan kertas di bawah pintu kamarku yang isinya hal-hal yang tidak penting. Terkadang dia melemparkan sesuatu ke jendela kamarku dari halaman belakang. Entah itu coklat, permen, atau barang-barang tidak berguna lainnya.

“Aish…lama-lama gadis ini menyebalkan.” Ujarku yang kesal akan barang-barang yang di lemparnya sudah menumpuk di sudut kamarku. Aku selalu berusaha membuangnya, tapi eomma melarangku.

Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini. Ku ambil semua barang-barang yang ia berikan dan meletakkannya di atas pangkuanku. ‘Akanku datangi kamarnya.’ Pikirku dalam hati. Saat aku membuka pintu, aku terkejut melihat seorang gadis yang sedang berjongkok di depan pintu kamarku. Ya, gadis itu adalah Rika. Dia hendak menyelipkan selembar kertas lagi melalui celah yang ada dibawah pintu kamarku.

“Hehehe…” Dia terkekeh pelan menyadari aksinya telah ku pergoki secara langsung. Aku hanya terdiam menatapnya tajam. Kemudian ku tuang semua barang-barang dan suratnya yang ada di pangkuanku di hadapannya.

“Buang semua sampah ini dan jangan pernah kau melakukan hal bodoh seperti ini lagi, karna aku tidak akan pernah mau berteman denganmu. Asal kau tau, aku sangat membenci dirimu!!!” Ujarku membentaknya.

Rika hendak mengatakan sesuatu, namun belum sempat dia bicara aku sudah menutup pintu kamarku dengan kencang. BLAAAM !

 

Keesokan paginya

Appa dan eomma masuk ke dalam kamarku lalu mendekatiku yang sedang sibuk bermain game di meja belajarku. “Kyunnie, appa dan eomma harus pergi ke pulau Nami beberapa hari untuk persiapan pernikahan kakak sepupumu disana.” Kata appa sambil mengacak rambutku lembut.

“Rika akan merawatmu selama kami pergi.” Eomma menambahkan perkataan appa.

“Mwo?!” Ujarku terkejut.

“Ne. Noonamu juga sedang sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak bisa menjagamu.” Lanjut appaku lagi.

“Andwae! Lebih baik aku di tinggal sendirian, daripada harus dirawat oleh gadis itu.” Aku tetap protes pada mereka.

“Terserah apa katamu, tapi Rika yang akan merawatmu selagi appa dan eomma pergi.” Ujar appaku dengan tegas.

“Iya nak, lagi pula kami tidak akan lama disana. Sekitar 3 harian. Kau dan Rika baik-baik di rumah ya?” Setelah itu appa dan eomma mengecup keningku dan segera berangkat ke bandara.

“Aish . . . kenapa aku di tinggal berdua dengan gadis itu?”

 

. . . . to be countinue . . . .

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s