Black Heart . . . Part 3

Standar

Karena hari ini adalah hari sabtu, maka Rika pun tidak pergi kuliah. Seharian ini dia terus-terusan mengganggu ketenanganku. “Doooooooor!” teriak Rika tepat di belakang telingaku. Aku terlonjak kaget dari kursi roda, jantungku benar-benar terkejut.

“Ya! Kau ingin aku mati jantungan hah?!” Bentakku dengan keras.

“Mi…mian…a…aku hanya…”

“Aish…kenapa aku sial sekali ditinggal bersama gadis menyebalkan sepertimu.” Ujarku sambil mengelus-ngelus dadaku.

Rika menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia tidak berani menatapku yang jengkel akan tingkahnya. “Mianhe, aku hanya ingin menanyakan kau mau aku masakan apa untuk makan siang nanti?” Ucap Rika ragu-ragu.

Aku meliriknya sekilas lalu memalingkan mukaku dari tatapannya. “Terserah kau mau masak apa, asal jangan mengangguku lagi. Arraseo!” Kataku agak meninggikan suara. Kulihat kali ini dia yang justru tersentak kaget mendengar perkataanku.

“Ne, arraseo.” Jawab Rika singkat lalu segera meninggalkan kamarku.

‘Huh…baguslah kalau dia mengerti. Dasar yeoja babo!’ Umpatku dalam hati sambil melanjutkan permainan gameku.

 

2 jam kemudian…

Aku mencium bau harum masakan dari lantai bawah. Jujur, perutku merasa lapar setelah mencium aromanya. Tidak lama kemudia Rika datang ke kamarku sambil membawakan senampah makanan yang baru saja di masaknya tadi. Bagaimana aku bisa tau? karna makanan yang dibawanya masih terlihat mengeluarkan uap. Aku melihat sejenak Rika masuk kedalam kamarku dan meletakkan makanan itu di atas meja belajarku, tapi aku tetap tidak memperdulikannya.

“Kyuhyun-ssi, ini aku sudah buatkan makanan untukmu. Ayo dimakan, kau pasti sudah lapar.” Bujuknya padaku.

Tanpa menjawabnya aku mendekati kearah makanan tersebut, kemudian melahapnya sesendok demi sesendok.

Satu sendok…

Dua sendok…

Tiga sendok…

“Sudah. Sekarang cepat bawa pergi ini semua dari kamarku.” Ujarku sambil menggerakkan kursi roda untuk menjauh dari meja belajar.

“Mwo!?” Lagi-lagi Rika terkejut akan tingkahku.

“Wae?” Tanyaku dingin.

“Ani…hanya saja kau tidak menghabiskannya, Kyuhyun-ssi???” Tanya Rika penuh harap.

“Aku sudah kenyang.”

~~~~~~~~~

Malam harinya Rika masuk kedalam kamarku, membawakanku makan malam untuk ku santap. Perlahan dia mendekatiku yang sedang membaca buku. Saat itu juga ponsel Rika berdering, dan gadis itu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.

“Yoboseo, ajhuma.”

“….”

“Ne, akan ku berikan pada Kyuhyun-ssi.” Kemudian Rika memberikan ponselnya kepadaku.

“Mwo?” Tanyaku ketika Rika menjulurkan ponselnya ke arahku.

“Bicaralah, ajhuma sangat merindukanmu.”

“Cih… aku tidak mau bicara dengannya.” Kataku sambil memalingkan wajahku darinya.

“Aku mohon Kyuhyun-ssi, ajhuma tidak akan tenang jika tidak mendengar suaramu.”

Hufffft….terpaksa aku mengambil ponselnya dan berbicara pada eomma. Lagi-lagi wanita tua itu terlalu mencemaskanku. Aku sungguh sudah muak dengan segala ucapan dan nasihatnya.

‘Klik’ Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku memutuskan sambungan teleponnya disaat eomma masih berbicara panjang lebar padaku.

“Kyuhyun-ssi, kenapa kau putus sambungan teleponya? Ajhuma kan masih berbicara padamu…”

“Aku muak mendengar segala ucapannya.” Jawabku dengan jujur.

Plaaaaaak! Rika melayangkan tangannya cukup keras mendarat di pipi kiriku.

“Ya! Apa-apaan kau ini? Menamparku seenaknya saja!!!” Bentakku yang sepontan terbawa emosi.

“Kau yang apa-apaan memutuskan sambungan telpon begitu saja! Kau tidak merasa kasihankah pada ajhuma yang begitu mencemaskanmu???” Rika berteriak dihadapanku.

“Aku justru sudah muak dengan perhatiannya yang memperlakukan aku seperti bayi!!!” Aku membalasnya dengan berteriak juga.

Plaaaaaak! Rika menamparku lagi, kali ini pipi kananku yang menjadi tempat landasan tangannya. “Jangan pernah sekali-kali kau meremehkan perhatiannya. Ajhuma begitu karna dia sangat sayang dan mencintaimu, Kyuhyun-ssi!”

“Itu bukanlah perhatian, dia hanya merasa kasihan dengan kondisiku yang lumpuh. Dan aku paling benci dikasihani oleh siapa pun! Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, jadi jangan sok ikut campur urusan keluargaku karna kau tidak tau apa-apa!!!” Teriakku lebih kencang dengan nafas yang terengah-engah.

“Keluar dari kamarku sekarang. KELUAR!!! Kau tidak perlu mengurusi orang cacat sepertiku, aku tidak butuh siapa pun, dan aku bisa mengurusi hidupku sendiri. Satu lagi, jangan pernah masuk kedalam kamarku!!!” Bentakku mengusirnya sambil melempar semua buku yang ada di atas meja belajarku.

Rika menatapku yang berteriak-teriak mengusirnya dengan tatapan nanar menahan tangis kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kamarku dan menutupnya agak kencang. Aku segera menggerakkan kursi roda mendekati pintu lalu menguncinya.

Perlahan aku menumpahkan air mataku yang sejak tadi sudah ku tahan dengan sekuat tenaga. Aku menangis sejadi-jadinya meratapi kelumpuhanku. ‘Kenapa semua ini terjadi padaku . . . ?’

~~~~~~~~~

Aku tidak memakan makanan yang Rika bawakan untuk ku. Yang aku lakukan hanyalah menangis dalam diam sepanjang malam. Aku tidak mau sampai Rika mendengar tangisanku, sebab dia akan lebih mengasihaniku dan menganggapku sebagai namja yang menyedihkan.

Keesokkan harinya aku dapat mendengar Rika memasak dan menaruh makanan di depan pintuku tanpa berbicara sepatah kata pun. Sedangkan aku tetap tidak bergeming dari tempatku untuk mengambil makanan itu. Kali ini aku benar-benar merasa marah dan malu kepadanya.

 

Hari ini aku tidak semangat bermain game atau membaca buku, aku hanya termangu menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Beberapa saat kemudian aku melihat Rika keluar rumah dengan tergesa-gesa, sepertinya dia akan pergi ke kampusnya. Semalaman menangis dan tidak tidur membuat tubuhku lelah, ku baringkan tubuhku diranjang untuk tidur. Hanya tidur yang aku butuhkan saat ini dan dalam hitungan detik mataku sudah terpejam memasuki dunia mimpi.

 

Beberapa jam kemudian aku terbangun dalam kegelapan yang menyelimuti kamarku. Aku menatap berkeliling ruangan dan menyadari ternyata hari sudah gelap. Aku bangkit dari ranjangku lalu segera menghidupkan lampu duduk yang terletak diatas meja mini yang ada di samping ranjang.

“Sudah jam 8 rupanya.” Gumamku pelan saat melihat jam yang ada diatas meja belajarku. Pemandangan kamarku masih sama seperti kemarin, berantakan dengan barang-barang yang ku lemparkan saat membentak Rika. Aku malas merapikannya…

Aku membuka Laptopku dan mulai bermain game tanpa memperdulikan segala hal yang terjadi padaku. ‘Apa gadis bodoh itu sudah pulang?’ Tanyaku dalam hati. Ku hentikan permainan sejenak berusaha mendengar kegaduhan yang biasa diperbuat oleh gadis itu. Aku tidak mendengar suara apa pun selain suara jangkrik dan itu menandakan bahwa dia belum pulang. Ku lanjutkan permainanku lagi sambil sesekali melihat jam yang ada di dekatku.

Jam 10 malam…

“Aish… Dia belum pulang juga? Padahal biasanya dia tidak pernah pulang malam.” Kataku yang tidak bisa fokus pada permainan yang sedang aku mainkan. “Ya! Cho Kyuhyun, kenapa kau justru memikirkan gadis yang telah menamparmu???” Tanyaku pada diriku sendiri.

‘Cklek!’

Aku mendengar pintu rumahku terbuka. ‘Sepertinya gadis itu sudah pulang.’ Batinku dalam hati. Aku pun melanjutkan permain gameku hingga lupa waktu.

~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Rika sudah bangun memasak untuk Kyuhyun, karna hari ini dia ada kuliah pagi. Selesainya memasak seperti biasa Rika membawakannya ke kamar Kyuhyun. Dia melemas ketika melihat makanan yang kemarin ditaruhnya di depan pintu tidak tersentuh sama sekali oleh namja itu.

‘Aish…kenapa dia tidak memakannya? Apa dia ingin mati kelaparan?’ Batin Rika kesal. ‘Baiklah kalau itu maunya, aku tidak akan memaksanya untuk makan. Silahkan kau mati kelaparan, manusia batu!’ Umpatnya dalam hati. Namun sekesal apa pun Rika pada Kyuhyun, dia tetap tidak bisa tidak memperdulikannya. Sebenarnya Rika sudah berusaha bersabar akhir-akhir ini untuk mendekati namja es yang berhati dingin itu, tapi kesabarannya habis setelah dia mengetahui betapa kejamnya Kyuhyun pada eommanya. Rika tidak terima ajhuma yang begitu baik baginya di hina oleh anak kandungnya sendiri.

Sejak kecil Rika sudah kehilangan eomma tercintanya, jadi dia tidak bisa merasakan bagaimana kasih sayang sang eomma pada anaknya karna hanya ada seorang appa yang membesarkannya. Tapi semenjak Rika tinggal di rumah keluarga Cho dan akrab dengan eomma Kyuhyun, dia mulai merasakan kasih sayang seorang eomma dari ajhuma cho. Rika sangat iri pada Kyuhyun yang memiliki eomma yang cantik, baik hati, pintar memasak, dan selalu perhatian kepada anak-anaknya bahkan pada Rika. Itu sebabnya Rika sangat marah ketika Kyuhyun memaki eommanya sendiri. Rika beranggapan Kyuhyun tidak tau terimakasih sudah diberikan eomma yang paling baik dari Tuhan.

Rika menukar makanan kemarin dengan makanan yang baru saja di masaknya. Kemudian membawanya kembali kedapur untuk dibuang. ‘Apa dia baik-baik saja ya?’ Rika bicara pada dirinya sendiri yang agak merasa khawatir pada Kyuhyun yang belum makan sejak kemarin. “Ah~ sudahlah, untuk apa aku memikirkan namja babo seperti dia.”

Rika melangkahkan kakinya keluar rumah sambil berlari-lari kecil menuju halte bus, dia tidak mau kalau sampai harus ketinggalan busnya. Tepat ketika Rika sampai di halte, bus pun tiba. Dia memasuki bus yang selalu mengantarkannya sampai di kampus. Di dalam bus tanpa Rika sadari otaknya terus memikirkan Kyuhyun.

~~~~~~~~~

“Akhirnya menang juga. Hoaaammm . . .” Kyuhyun merenggangkan tangan yang terasa sangat pegal. “Jam berapa sekarang?” Gara-gara terlalu fokus pada gamenya, kyuhyun jadi lupa waktu. “Hah…jam 8 pagi?! Pantas saja badanku rasanya sakit semua, ternyata semalaman aku tidak tidur keasikkan main game.” Ujar Kyuhyun sambil mematikan laptopnya. “Ku rasa aku butuh tidur sekarang…” Kyuhyun mendekati ranjangnya lalu berpindah dari kursi roda dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang yang empuk. Dia pun terlelap dalam buaian bunga tidurnya.

Entah mengapa siang itu Kyuhyun dihantui lagi oleh kejadian mengerikan yang membuat kakinya lumpuh. Kyuhyuh memimpikan saat Yuri menikam perutnya dengan pisau dapur. Tidurnya sangat gelisah, raut wajahnya menggambarkan ketakutan yang luar biasa.

DUAAAARRRRR ! ! ! ! ! ! ! ! !

Kyuhyun spontan terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah dan kringat dingin keluar membasahi tubuhnya. Dia menatap berkeliling kamarnya ‘Kenapa gelap?’ pikirnya saat melihat suasana kamarnya sudah gelap gulita.

DUAAAARRRRR ! ! ! ! ! ! ! ! !

Kyuhyun tersentak mendengar suara itu, dengan cepat dia memandang keluar jendela. “Hujan? Aish… ternyata sudah malam.” Ya, hari sudah malam dan hujan membasahi kota dengan deras bersamaan kilat petir yang menggerumuh saling menyahut.

Didunia ini tidak ada yang Kyuhyun takutkan selain Petir dan gelap, dia paling membenci dua hal diatas. Kyuhyun berusaha menyalakan lampu duduk yang ada di atas mejanya, namun lampu itu tidak menyala. Kyuhyun pun segera bangkit dari ranjangnya, dengan lincah dia memindahkan tubuhnya  ke kursi roda. Tapi karena Kyuhyun terlalu tergesa-gesa memindahkan tubuhnya, dia kehilangan keseimbangan yang akhirnya terjatuh bersama kursi rodanya yang terbalik. “AAAaaaaa… sakit…” Kyuhyun terjatuh cukup keras, tubuhnya menghantam lantai yang dingin.

Kyuhyun berusaha bangkit dari tempatnya terjatuh, namun usahanya sia-sia. Dia tidak bertenaga sama sekali saat ini, karna perutnya tidak terisi oleh makanan sejak kemarin. Kyuhyun tidak memperdulikan lagi kursi rodanya, dia terus berusaha menyeret tubuhnya menjauh dari jendela yang masih terbuka lebar dikamarnya itu.

DUAAAARRRRR ! ! ! ! ! ! ! ! !

Lagi-lagi petir menyambar dengan suara yang amat menggelegar ditelinga membuat Kyuhyun sangat ketakutan. Dia menekuk lututnya sambil berbaring di lantai. Dia sudah benar-benar merasa takut dan tubuhnya gemetar hebat.

“Eomma… Appa… Noona… aku takut….” Ujar Kyuhyun ketakutan, dia sangat berharap orang-orang yang disebutnya tadi dapat mendengarnya dan segera datang menemaninya. Tapi itu hanya pengharapan kosong belaka, karna seluruh keluarganya sedang tidak ada di rumah saat ini.

DUAAAARRRRR ! ! ! ! ! ! ! ! !

“AAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaa. . . . . . . . . !”

~~~~~~~~~

Ditempat lain Rika sedang berada di rumah Lee Eunji, salah satu sahabatnya yang paling dekat dengannya dikampus. Mereka sedang mengerjakan tugas mata kuliah Estetika bersama.

Rika beranjak bangun dari tempat duduknya. “Aku harus pulang.”

“Ya! Rika, hujannya masih sangat deras.” Kata Eunji mencegah kepergian Rika, karna diluar memang hujan deras.

“Tapi….” Sejenak Rika memikirkan kata-kata Eunji.

“Tunggulah sampai hujannya mereda, nanti aku akan mengantarkanmu pulang. Arraseo?!” Eunji membujuk sahabatnya itu dan menyuruhnya duduk kembali.

“Ne, gomawo Eunji-ssi.”

 

Akhinya Rika mendengarkan apa kata Eunji untuk tidak pulang dulu. Dengan sabar Rika menunggu hujan mereda, tapi entah kenapa perasaan gelisah, dia terus memikirkan keaadaan Kyuhyun. Hujan berlangsung selama 2 jam. Setelah hujan mereda, Rika pun diantar pulang oleh sahabatnya yang bernama Lee Eunji.

“Sampai ketemu besok dikampus ya?” Teriak Eunji sambil melambaikan tangannya. Rika hanya tersenyum simpul melihat sahabatnya semakin jauh.

 

“Aigo, sudah jam 10 malam.” Ujar Rika memasuki halaman rumah keluarga Cho yang cukup luas itu. “Loh?! Kenapa gelap sekali?” Rika baru menyadari bahwa rumah itu sangat gelap. “Seingatku tadi pagi ada beberapa lampu yang sengaja tidak aku matikan…”

Rika segera membuka kunci rumah tersebut, lalu berjalan menuju dapur dengan penerangan yang minim dari cahaya ponselnya. Sesampainya didapur dia segera mencari lilin yang disimpan ajhumanya, kemudian menyalakannya beberapa batang. Rika meletakkan lilin yang menyala itu di dapur 2 batang, ruang tengah 2 batang, dan di ruang tamu 2 batang. Lilin-lilin itu cukup besar, jadi 2 lilin saja sudah cukup menerangi ruangan. Rika menyalakannya satu lagi untuk diletakkannya di kamar Kyuhyun.

 

Di kamar Kyuhyun…

Tok . . . Tok . . . Tok . . .

“Kyuhyun-ssi, aku datang membawakan lilin untukmu. Ayo buka pintunya?” Ujar Rika seramah mungkin. Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Kyuhyun. “Kyu, ayo buka pintunya? Tidak enak gelap-gelapan seperti itu.” Rika berusaha membujuk namja itu agar mau membukakan pintunya karna sejak mereka bertengkar, Kyuhyun mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Tetap tidak ada jawaban.

Rika semakin khawatir karna tidak ada tanggapan dari Kyuhyun. Dia mendekatkan telinganya di dinding pintu untuk mendengarkan suara didalam. Tadi pagi saja dia masih bisa mendengar suara Kyuhyun yang sedang bermain game.

‘Kenapa tidak ada suara sama sekali…’ Batin Rika ketika dia tidak menemukan suara apa pun dari dalam. Kemudian Rika beralih pada lubang kunci dan berusaha melihat apa yang terjadi didalam kamar Kyuhyun. Awalnya dia tidak dapat melihatnya dengan jelas, namun dia terkejut ketika melihat jendela kamar Kyuhyun yang terbuka lebar dan tirainya sudah menjuntai kesana kemari terbawa angin. Rika lebih terkejut ketika melihat kursi roda Kyuhyun yang sudah terbalik dan sepasang telapak kaki yang gemetar di lantai. Ya, itu adalah kaki Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi! Kyuhyun-ssi!!!” Yang dipanggilnya tidak bergerak sama sekali.

Rika panik setengah mati, dia berlari menuju kamar ajhumanya untuk mengambil kunci duplikat rumah ini. Sebelum ajhuma dan ajhussinya pergi, Rika diberi tau letak kunci-kunci pudlikat rumah keluarga Cho untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Tidak butuh waktu lama bagi Rika menemukan kunci duplikat kamar Kyuhyun, karna kunci-kunci tersebut disimpan di meja hias ajhumanya. Ada banyak kunci duplikat disana, tapi disetiap kunci tertera nama ruangannya masing-masing. Jadi Rika dapat menemukan kunci duplikat kamar Kyuhyun dengan cepat. Gadis itu berlari lagi menuju kamar Kyuhyun dan segera melepaskan kuncinya.

 

‘Cklek!’ Pintu berbuka.

“Ommo~ Kyuhyun-ssi!!!”

 

 

. . . . to be countinue . . . .

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s