Protected Brother . . . Part 10

Standar

“Appa…” Ujar Eeteuk saat mendapati sosok Appanya di ruang rawat Kyuhyun. “Kapan Appa sampai di Korea?” Eeteuk buru-buru mendekati Appa mereka yang kemudian disusul oleh ketiga dongsaengnya di belakang.

Sang Appa tidak menjawab pertanyaan Eeteuk, dia masih terus menatap Kyuhyun yang terbaring lemas. Minji yang sejak tadi bingung mengenai sosok laki-laki paruh baya itu pun akhirnya mengetahui bahwa dia adalah Appanya Kyuhyun.

“Annyeong Ajhussi.” Sapa Minji dengan ramah. Laki-laki itu menatap Minji lalu tersenyum.

“Appa pasti lelah menempuh perjalanan yang jauh, sebaiknya Appa istirahat saja. Ayo duduk Appa?” Ujar Sungmin sambil memegangi lengan Appanya.

Laki-laki itu menepis tangan Sungmin dan berbalik menatap ke empat anaknya yang sudah lama ia tak jumpai. Tersirat amarah dalam tatapan laki-laki itu kepada anak-anaknya. Baik Eeteuk, Sungmin, Siwon, bahkan Kibum menyadari akan kemarahan appa mereka.

“Appa, bisa aku jelaskan kenap…” Eeteuk hendak menjelaskan kepada Appanya tentang kondisi Kyuhyun, namun…

‘PLAAAAAK !’ Belum sempat Eeteuk menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipinya dengan mulus. Ya, Eeteuk mendapat sebuah tamparan dari Appanya. Semua yang ada disana terperangah melihatnya.

“Kenapa kau tidak menjaga dongsaengmu dengan baik?” Tanya Appanya dengan suara berat yang menahan amarah. Eeteuk menundukkan kepalanya karena takut melihat kemarahan yang terpancar di wajah Appanya.

“Appa, ini bukan salah Eeteuk hyung!” Ujar Siwon berusaha membela hyungnya.

“Tentu saja ini salahnya! Dia itu anak tertua, kenapa tidak bisa menjaga dongsaengnya dengan baik???” Laki-laki itu beralih menatap Siwon dengan tajam. “Ku pikir dengan membiarkan kalian tinggal di Korea tanpa pengawasanku, kalian bisa hidup dengan baik. Aku sudah berikan kepercayaan bahwa kalian dapat hidup mandiri dan saling menjaga. Tapi nyatanya apa?!” Ujar laki-laki itu dengan nada bicara agak membentak.

“Appa… mianhe…” Kata Eeteuk yang sudah mengeluarkan air matanya.

“Aish…kau!” Laki-laki itu hendak memukul kembali Eeteuk.

Belum sempat tangan itu mendarat, sebuah suara menghentikan gerakannya. “Ya! Hentikan…” Suara itu berasal dari ambang pintu.

“Eomma!” Teriak Kibum tidak percaya bahwa Eommanya pun datang.

Wanita paruh baya itu berjalan mendekati mereka. “Kini kau mulai kasar pada anakmu, hah?!”

“Diam kau. Mau apa kau datang kesini?!”

“Oo… kau lupa bahwa aku ini eomma mereka???”

“Mereka tidak pernah punya Eomma sepertimu yang pergi meninggalkan mereka demi sebuah impian belaka.”

“Lama tidak bertemu kau malah cari ribut denganku?!” Ujar Eomma mereka menantang. “Kau sendiri Appa macam apa yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang anak-anaknya?”

“Ya Hyorin, jaga bicaramu!”

“Kau yang harusnya jaga sikapmu. Memukul anak tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.”

“Sudah tidak ada yang perlu di jelaskan! Semua akibat sudah ada di depan mata kita sendiri. Lihat sekarang kyuhyun terbaring lemah.” Laki-laki itu menunjuk ke arah Kyuhyun. “Itu menandakan bahwa mereka tidak becus hidup tanpa orang tua!”

Pertengkaran kedua mantan suami-istri ini terjadi dengan sengit. Tidak ada diantara Eeteuk, Sungmin, Siwon, maupun Kibum yang berani memisahkan mereka. Minji menatap keduanya dengan heran. ‘Kenapa disaat seperti ini mereka justru malah bertengkar?’ Ujar Minji dalam hati.

Beberapa saat kemudian Minji merasakan tangan Kyuhyun bergerak. Kyuhyun mulai sadarkan diri, mungkin karena dia mendengar kebisingan yang mengganggu tidurnya. Perlahan Kyuhyun membuka matanya.

“Kyu, kau sudah bangun?” Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan. “Syukurlah.” Ujar Minji Sambil tersenyum manis. Kyuhyun mendengar seseorang berteriak-teriak di dalam ruangannya, dia tidak dapat melihat siapa mereka karna terhalang oleh Minji. Kyuhyun pun berusaha untuk melihatnya, dan dia berhasil menangkap sosok Appa dan Eommanya sedang bertengkar.

“Tuan Yujin, jangan pernah kau salahkan mereka. Kau lah yang patut di persalahkan! Kenapa kau tidak pernah memperhatikan mereka?!”

“Semua masalah ini ada karna kau, nyonya Hyorin.” Ujar Yujin balik membentak mantan istrinya. “Kau lah yang membuat keluarga ini terpecah, dan membuat anak-anak menderita seperti ini!”

‘Skak Mat’ Untuk kali ini Hyorin kalah telak dari mantan suaminya itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karna memang dia lah yang menyebabkan keluarga ini terpecah. Keduanya saling menatap tajam dan mengatur nafas masing-masing akibat berteriak-teriak tadi.

“Appa… Eomma… Sudahlah…” Ujar Sungmin yang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Kenapa kau mengungkit tentang masa lalu???” Nada bicara Hyorin menjadi lirih.

Yujin tidak menjawab pertanyaan Hyorin. Dia menghela nafas panjang kemudian berkata lagi. “Sudah ku putuskan, aku akan membawa Kyuhyun ke London.”

“Mwo?!” Ujar mereka bersamaan.

“Appa, apa yang…” Ujar Siwon yang akan memprotes keputusan Appanya.

“Dan aku tidak akan mebiarkanmu membawanya, karna aku lah yang akan membawa kyuhyun ke Amerika.” Ujar Eomma mereka memotong perkataan Siwon.

Eeteuk, Sungmin, Siwon, dan Kibum membulatkan mata mereka tidak percaya dengan apa yang di ucapkan kedua orang tua mereka.

“Apa kau bilang?! Kau yang akan membawanya ke Amerika?”

“Iya, karna aku Eommanya.”

“Kalau begitu, tidak akan ku biarkan kau menyentuh Kyuhyun sedikit pun!” Ucap Yujin yang tidak mau kalah dari mantan istrinya itu. “Cih.. Kau tidak pantas membawanya, kau bukanlah seorang Eomma yang baik untuknya.”

Kyuhyun yang sudah geram mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dari tadi pun bertindak. Dia segera mengambil Vas Bunga yang ada di atas meja samping ranjangnya, kemudian kelemparkannya dengan kencang ke dinding yang ada di hadapannya.

PRRAAAAANG! Pertengkaran Yujin dan Hyorin terhenti kemudian menatap ke arah sumber suara pecahan dan menatap Kyuhyun yang sudah sadarkan diri.

“Kyunnie…” Ucap ke empat hyungnya.

“Aku benci Appa dan aku juga benci Eomma. KELUAR KALIAN DARI SINI! KELUAR! KELUAR SEKARANG JUGA! AKU BENCI KALIAN….!!!” Kyuhyun berteriak sangat kencang. Minji yang melihat Kyuhyun marah pun segera meraih kepala Kyuhyun dan membenamkannya ke dalam pelukan yang hangat. Baik Yujin dan Hyorin hanya diam di tempat menatap Kyuhyun yang masih berteriak-teriak mengusir mereka.

“APA KALIAN TIDAK DENGAR? AKU BENCI KALIAN… KELUAR SEKARANG JUGA! KELUAR!!!!!!” Teriak Kyuhyun lagi mengusir kedua orang tuanya.

“Appa, Eomma, sebaiknya kita keluar.” Bujuk Eeteuk kepada kedua orang tuanya. Keduanya terperangah mendengar ucapan Kyuhyun yang membenci mereka. Dan mereka pun dibawa keluar oleh ke empat hyungnya.

Minji masih tetap berusaha menenangkan Kyuhyun. “Sudah Kyu, sudah… tenanglah…” Ujar Minji sambil terus memeluk Kyuhyun dan mengelus-ngelus kepala Kyuhyun dengan lembut. Kyuhyun berhenti berteriak dan akhirnya menangis dalam pelukkan Minji.

~~~~~~~~~~

Di luar ruangan…

Mereka masih tidak mempercayai kata-kata Kyuhyun tadi, dan terduduk lemas di bangku tunggu.

Dokter Jang menghampiri mereka semua dengan wajah kecemasan. ”Ada apa ini? Kenapa terdengar suara Kyuhyun yang berteriak-teriak?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan dokter Jang. Dokter Jang pun berinisiatif memasuki ruang rawat Kyuhyun, namun di cegah oleh Sungmin.

“Sebaiknya jangan Ajhussi, ku rasa Kyuhyun sudah tenang sekarang.”

Dokter Jang percaya dengan apa yang dikatakan Sungmin, dia segera mengurungkan niatnya untuk masuk. Melihat Yujin dan Hyorin yang murung, dia mengajak semuanya untuk berbicara di ruang kerjanya.

Sesampainya diruang kerja dokter Jang, mereka segera duduk di sofa empuk yang besar. Yujin dan Hyorin duduk saling membelakangi tubuh, seperti anak kecil yang sedang marahan. Dokter Jang menyuguhkan teh hangat kepada mereka semua.

“Ayo di minum dulu tehnya?” Pinta dokter Jang sambil menyodorkan secangkir teh satu-persatu kehadapan mereka.

Leteuk, Sungmin, Siwon, dan Kibum meminum teh itu, tapi tidak dengan kedua orang tua mereka yang masih emosi.

“Hei, kalian ini seperti anak kecil saja. Ayo minum dulu tehnya?” Ujar dokter Jang dengan nada agak kesal. Yujin dan Hyorin meminumnya dengan cepat, kemudian saling membelakangi lagi.

“Aish…sebenarnya apa sih yang kalian ributkan?” Tanya dokter Jang kepada keduanya. “Dan kapan kau sampai di Korea, Hyorin?”

Di mulailah pembicaraan panjang diantara mereka. Yujin dan Hyorin berapi-api menceritakan pertengkaran mereka barusan. Keduanya saling menyalahkan satu sama lain, sampai keinginan mereka yang akan membawa Kyuhyun keluar negri. Yujin yang awalnya keras kepala pun akhirnya mau mendengarkan apa yang sesungguhnya telah terjadi pada Kyuhyun. Percakapan berlansung cukup lama, karna perselisihan antara mantan suami-istri itu yang tidak henti-hentinya. Dokter Jang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. ‘Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil.’ Eluh Dokter Jang dalam hati.

“Kalian berdua seharusnya tidak bertengkar seperti ini di hadapan anak-anak, terutama Kyuhyun. Aku tidak heran jika Kyuhyun sampai membenci kalian. Karna disaat dia mebutuhkan support seperti saat ini, kedua orang tuanya malah justru bertengkar memperebutkannya. Tanpa kalian sadari, kalian telah melukai hati Kyuhyun.” Ujar dokter Jang berusaha menyadarkan Yujin dan Hyorin. “Mulai sekarang berhentilah bertengkar. Yang perlu kalian lakukan saat ini adalah merawat Kyuhyun agar cepat sembuh, arraseo?!”

Mereka semua terdiam setelah mendengar ucapan dokter Jang. Apa yang di ucapkan dokter Jang sepertinya telah mampu membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengintropeksikan diri mereka masing-masing..

~~~~~~~~~~

Yujin memutuskan untuk tinggal sementara di Korea, dan meninggalkan pekerjaannya beberapa hari. Hyorin juga melakukan hal yang sama seperti mantan suaminya, dia akan tinggal di Korea sampai Kyuhyun sembuh. Kedua orang itu sudah tidak bertengkar lagi, namun mereka tidak mau bicara satu sama lain. Dan untuk sementara juga mereka kembali tinggal di rumah lama mereka. Yujin tidur di kamar utama, sedangkan Hyorin tidur di kamar tamu.

Walaupun sudah beberapa hari sejak kejadian pertengkaran itu, Kyuhyun tetap tidak mau berbicara dengan Appa dan Eommanya. Dia memang sudah tidak terteriak-teriak dan mengusir mereka lagi, tapi sebagai gantinya Kyuhyun tidak mau berbicara pada mereka.

“Kyunnie, eomma masakin bubur enak untukmu. Kau makan ya?” Ujar Hyorin yang baru saja datang di temani oleh Kibum. Sungmin yang sudah menjaga Kyuhyun sejak pagi pun mendekati eommanya.

“…..” Kyuhyun tidak menghiraukan keberadaan eommanya.

“Wah…sepertinya enak!” Kata Sungmin saat melihat eommanya menuangkan bubur itu ke sebuah mangkuk. “Aku juga minta ya eomma?”

“Hust… jangan! Bubur ini eomma masakin khusus untuk dongsaengmu. Lagi pula kau kan tidak sakit.” Hyorin melarang Sungmin yang hendak menyuap bubur itu kedalam mulutnya. Sungmin seketika mengerucutkan bibirnya.

“Kyunnie, Eomma suapin ya. Ayo aaaaaa~” Ujar Hyorin sambil menjulurkan tangannya untuk menyuapi bubur itu. Namun dengan cepat Kyuhyun menepis kasar tangan Eommanya. Hyorin menghela nafas panjang, dia merasa sedih melihat Kyuhyun bersikap seperti ini. Tapi Hyorin tidak menyerah, dan sekali lagi berusaha menyuapi Kyuhyun.

“Kyu, kau kan tadi pagi makannya sedikit, pasti sekarang perutmu sudah lapar. Bubur ini eomma jamin rasanya enak. Kau makan ya?” Hyorin berusaha menyuapi Kyuhyun lagi, dan lagi-lagi Kyuhyun menepis tangannya dengan kasar.

“Kyu, jangan seperti ini. Kasihan eomma…” Ujar Sungmin menatap ke arah dongsaengnya. Tetap saja Kyuhyun tidak menggubrisnya sama sekali, dia tetap memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.

Tidak beberapa lama kemudian Minji datang masih mengenakan seragan sekolahnya.

“Annyeong ajhuma. Annyeong oppa. Annyeong Kyu.” Sapa Minji kepada seluruh orang yang ada di ruangan itu.

“O..Minji, kau sudah datang.” Hyorin balik menyapa Minji. Ya, kedua orang tua Kyuhyun sekarang telah mengenal Minji.

“Ne ajhuma.” Minji melihat semangkuk bubur di tangan Hyorin dan sendok yang terjatuh di lantai, dia langsung bisa menebak bahwa Kyuhyun tidak mau disuapi oleh eommanya. “Ajhuma, sini biar aku yang membujuk Kyu untuk makan.” Ujar Minji meminta semangkuk bubur itu.

“Ah.. iya ini. Tolong kau bujuk dia untuk memakannya.” Hyorin menyerahkan semangkuk bubur itu kepada Minji. Kemudian Minji duduk di tepi ranjang Kyuhyun.

“Kyu, makan ya buburnya?” Ujar Minji membujuk Kyuhyun untuk makan. Kyuhyun tetap tidak merespon ucapan Minji. “Hei…kau harus makan biar cepat sembuh. Aku yang akan menyuapimu.” Minji mengusap kepala Kyuhyun dengan lembut. Kyuhyun pun menolehkan kepalanya menatap Minji.

“Aku suapin ya? Ayo aaaaaa~” Kyuhyun akhirnya mau membuka mulutnya setelah di bujuk oleh Minji dan melahap bubur itu sampai habis.

 

Setelah menjalani perawatan selama dua minggu, akhirnya Kyuhyun di perbolehkan pulang. Di rumah Kyuhyun sangat di perhatikan oleh kedua orang tua dan hyung-hyungnya. Walaupun Appa dan Eommanya masih saling benci, tapi berkat Kyuhyun keluarga itu utuh kembali untuk sementara.

~~~~~~~~~~

Selesainya jam kuliah Kibum segera pulang ke rumah, diam-diam dia berencana ingin melakukan penyelidikan terhadap penculikkan Kyuhyun tanpa sepengetahuan hyung-hyungnya. Dalam perjalanan dia melihat gadis yang dikenalnya sedang di bentak dan di tempeleng oleh orang-orang yang berdandanan seperti preman. Gadis itu adalah Seoeun, dia hanya bisa menundukkan kepalanya ketakutan. Kibum menghentikan mobilnya untuk menghampiri Seoeun.

“Jangan bertindak kasar terhadap seorang gadis.” Kata Kibum menepis tangan yang hendak menampar Seoeun.

“Siapa kau? Beraninya ikut campur urusan kami.” Salah satu diantara mereka maju untuk menantang Kibum. “Hei anak pelacur, dia kekasihmu? Hebat juga kau punya kekasih orang kaya.” Yang lain berkata sambil membelai rambut Seoeun.

“Bu… bukan… dia bukan kekasihku.” Kata Seoeun gemetaran.

“Hentikan, jangan berani-beraninya kau menyentuh Seoeun!” Kibum mulai panas.

“Aish… anak ini sok sekali. Hajar dia!”

“Jangan…aku mohon jangan! Ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia.” Seoeun berusaha melindungi Kibum.

Kibum menarik tangan Seoeun kebelakang tubuhnya. “Sebenarnya apa mau kalian?” Tantang Kibum tanpa rasa takut sedikit pun.

“Mau kami apa?! Kami hanya ingin menagih uang, oemmanya yang seorang pelacur membawa lari uang ribuan dolar milik bos kami.”

“Aku pasti akan membayarnya.” Kata Seoeun.

“Kami sudah bosan mendengar perkataan itu. Kalau kau tidak sanggup membayarnya lebih baik menyerah saja, kami akan menjualmu pada konglomerat. Gadis secantikmu pasti memiliki harga yang tinggi, dengan begitu semua hutang oemmamu akan lunas.” Mereka manarik paksa tangan Seoeun.

“Lepaskan! Aku yang akan membayar semua hutangnya.” Akhirnya Kibum angkat bicara.

“Apa katamu, kau yang akan membayarnya?! Cih…sombong sekali kau bocah. Kau tahu uang yang dibawa lari oemmanya sebesar 2500 dolar. Bocah sepertimu mana mungkin punya uang sebanyak itu. Hahahaha . . .” Mereka semua menertawakan Kibum. “Baiklah jika kau memang bisa melunasi hutang gadis ini, kami berjanji tidak akan mengganggunya lagi.”

“Hanya 2500 dolar? Oke, aku akan membayarnya.”

“Tu.. tunggu.. apa yang..”

“Kau tenang saja, mereka tidak akan mengganggumu lagi.” Kata Kibum berusaha menenangkan Seoeun. “Kalian tunggu disini sebentar, aku akan mengambil uangnya di bank.” Kibum pergi meninggalkan mereka semua mencari Bank terdekat.

Tidak lama kemudian Kibum sudah kembali dengan sebuah amplop yang berisikan uang di tangannya. Kibum memberikan amplop tersebut, lalu membawa Seoeun pergi meninggalkan tempat itu.

 

Kibum mengantarkan Seoeun sampai ke tempatnya bekerja yaitu rumah Jessica. Selama perjalanan mereka tidak berbicara satu sama lain berusaha membaca pikiran masing-masing.

“Kenapa kau membayar semua hutang-hutangku?” Tanya Seoeun saat mereka tiba di depan rumah Jessica. “Aku tidak butuh kau kasihani.”

“Siapa yang kasihan padamu? Aku hanya tidak ingin kau disakiti oleh mereka.” Kibum menjawabnya dengan santai. “Apa itu alasannya kau bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah ini?” Tanya Kibum yang seketika memajang wajah serius.

Seoeun menundukkan kepalanya tidak berani menjawab pertanyaan yang Kibum lontarkan. “Gomawo. . .” Ucap Seoeun berusaha tegar. “Aku akan segera mengganti uangmu.”

’Tidak usah, anggap saja itu hadiah ulangtahunmu dariku. Dan satu lagi, sebaiknya mulai sekarang kau berhenti bekerja jadi pembatu. Carilah pekerjaan yang lebih baik dari ini, arraseo?!” Ujar Kibum selembut mungkin. Kemudian Kibum meninggalkan Seoeun begitu saja disaat gadis itu mulai meneteskan air matanya.

~~~~~~~~~~

Dalam perjalanan Kibum teringat kalau dia harus mengambil buku yang di pinjam Eunhyuk sejak minggu lalu. Kebetulan jarak antara rumah Jessica dan Eunhyuk tidak begitu jauh, Kibum pun memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah sahabatnya itu.

Ting… Tong… Ting… Tong…

Sesampainya disana Kibum langsung menekan bell rumah Eunhyuk. Tidak lama kemudian penghuni rumah yang tidak lain adalah Eunhyuk membukakan pintu.

“Kibum?” Ujar Eunhyuk yang baru bangun dari tidur siangnya.

“Hehehe…” Kibum tertawa garing.

“Kenapa tidak menghubungiku dulu kalau kau mau kesini?” Tanya Eunhyuk sambil mempersilahkan Kibum untuk masuk.

“Mian, aku kesini cuma ingin mengambil buku yang kau pinjam minggu lalu.” Kata Kibum langsung menyampaikan niatnya ke rumah Runhyuk.

“Oh… tunggu sebentar ya, ku ambil bukunya dulu.”

Kibum mengangguk singkat, lalu dia melihat berkeliling rumah itu. Sebuah rumah yang tidak begitu besar namun nampak nyaman dan tentram. Beberapa menit kemudian Eunhyuk kembali dengan sebuah buku Ensiklopedia tebal di tangannya. “Ini, mian ya aku pinjamnya kelamaan.”

“Gwaenchana.”

“Kibum, kau mau minum apa?”

“Tidak usah repot, aku langsung pulang saja.”

“Aniyo, kau sudah sampai di rumahku jadi bersantailah sebentar.”

“Ehmm…baiklah.”

“Silahkan duduk, aku ambilkan minum dulu.”

Kemudian Kibum duduk di sebuah sofa panjang di ruang tengah. “Sepi… Keluargamu kemana?” Tanya Kibum yang masih mengamati setiap inci rumah Eunhyuk.

“Mereka sedang sibuk semua.” Eunhyuk menjawab pertanyaan Kibum setengah berteriak dari dalam dapur.

Bolkka malkka bolkka malkka bolkka malkka

Nagatun namja

Bonche manche bonche manche bonche manche

Doraso bwado

Bogabwado bogabwado bogabwado

Na bakke apta

Bonamana bonamana bonamana

Na bakke apta

 

Tiba-tiba ponsel Eunhyuk yang tergeletak di sofa tempat Kibum duduk berdering.

“Nyuk, ponselmu berdering.”

Eunhyuk berlari menghampiri Kibum, lalu meraih ponselnya. “Aish…dasar bocah babo, untuk apa dia mengirimiku video seperti ini.” Gerutu Eunhyuk setelah melihat ponselnya.

Kibum mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Ani… Sepupuku mengirimiku sebuah video murahan.” Ujar Eunhyuk malas.

“Memang video apa? Boleh aku lihat?”

“Ne.” Eunhyuk segera menyerahkan ponselnya kepada Kibum. “Dasar anak-anak nggak ada kerjaan.”

Kibum hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan sahabatnya itu, dan dia memplay video yang di tunjukkan Eunhyuk.

 

1 detik

 

3 detik

 

5 detik

 

7 detik

 

9 detik

 

Seketika mata Kibum nanar menatap layar ponsel Eunhyuk dan wajahnya berubah pucat melihat video tersebut.

“Ini….”

 

. . . . to be continued . . . .

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s