(What I Am Curious About) That Weird Guy

Standar

*Kim Hyun Jae’s POV*

“Kim Jong Woon!” teriakku padanya. Sementara ia hanya terdiam dengan cuek seperti biasanya. “Sebenarnya kau ini makhluk apa sih?! Hantu yang bisa berubah-ubah sikap dengan seenaknya?! Tapi kalau kau memang hantu, kenapa orang-orang bisa melihat, menyentuh, bahkan berbicara denganmu?!” seruku, mengutarakan semua keingintahuanku. “Atau jangan-jangan kau berkepribadian ganda??!!” cerocosku lagi.

#FLASHBACK#

Hai, semuanya! Namaku Kim Hyun Jae. Aku murid baru di kelas 2 Yonsei High School ini. Aku pindahan dari Shindaebang High School. Sepupuku yang adalah alumni dari SMA Yonsei, menyarankanku untuk pindah saja ke sini, karena selain mutunya lebih bagus, Yonsei juga lebih dekat dengan pusat kota Seoul.

“Annyeonghaseyo, joneun Kim Hyun Jae imnida. Bangapseumnida. Kuharap kita bisa bersahabat baik,” ujarku sambil membungkukkan badan pada teman-teman baru, yang kini menatapku dengan bermacam-macam pandangan. Ada yang menatap dengan ramah, sinis, kagum, tapi ada juga yang hanya menatapku datar. “Nah, sekarang duduklah di bangku itu,” ujar Lee Aeja sonsaengnim padaku, seraya menunjuk satu-satunya bangku kosong di dekat jendela, di sebelah seorang murid laki-laki yang menatapku dengan datar tadi. Sambil menuju bangku tersebut, kudengar bisikan dari teman-teman baruku,”Akhirnya ada juga yang duduk sebangku dengan si ‘aneh’ itu..”, “Semoga murid baru itu tidak ketularan keanehan si ‘aneh’!, “Haha..Hyun Jae sangat beruntung!” ujar teman lain lagi sambil membentuk tanda kutip ketika mengatakan ‘beruntung’. Seketika firasat buruk menyelimutiku. Sebenarnya ada apa dengan teman sebangkuku ini?

“Halo…Aku Kim Hyunjae..” Kucoba untuk bersikap ramah pada si ‘aneh’, ups..maksudku..teman sebangkuku ini.

“Sudah tahu..” sahutnya pendek, sambil menatap papan tulis.

“Dan kau…?” Walaupun kesal karena responnya, kucoba untuk tetap tersenyum sambil menanyakan namanya.

“Kim Jong Woon, panggil saja Yesung.” jawabnya tanpa basa-basi. Tersenyum pun tidak.

Ya Tuhan..berikan aku kesabaran..Masa’ hari pertama saja sudah dapat teman yang seperti ini. Huft..Untunglah teman-teman lain baik padaku. Saat jam istirahat, aku pun ke kantin, diajak oleh mereka. Asyik, pikirku. Kalau begini, sekalian aku bisa cari info tentang teman sebangkuku yang aneh itu. “Dia memang begitu, Hyun Jae. Sulit didekati.” ucap Kibum, ketua kelasku. “Kami juga tidak tahu sebab pastinya. Yang jelas, dia suka menyendiri. Dan kalau mengerjakan tugas pun, dia tidak suka bekerjasama.” timpal Yongrim. “Iya..Selain itu dia juga tidak pernah ngobrol sampai panjang lebar, seperti kita sekarang,” ungkap Kyung Mi. Kira-kira seperti itulah pendapat kebanyakan teman tentang Yesung, yang mereka juluki dengan “si aneh”.

“Hyun Jae, kau mau bergabung dengan dance club kami, tidak?”. Tiba-tiba seorang laki-laki yang, hmm..cukup keren juga menurutku, menghampiri meja kami. “Oh iya, namaku Donghae,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan. “Dan aku Eunhyuk..”. Laki-laki di sebelah Donghae, yang tidak kalah kerennya, juga mengulurkan tangan padaku. Akupun menyambut uluran tangan mereka sambil minta maaf. “Terimakasih sudah mengajak. Tapi…aku sama sekali tidak bisa dance,” jawabku, agak merasa tak enak. “Di sekolahmu yang sebelumnya, kau ikut club apa?” tanya Donghae. “Aku ikut club jurnalistik untuk majalah sekolah kami. Tapi, aku sebagai ilustratornya, bukan sebagai penulis,” sambungku.

“Oh..Begitu..Berarti kau jago menggambar, ya?” tanya Yoona, yang duduk berhadapan denganku. “Eh, kalau begitu gambar aku, dong!” ujar Eunhyuk antusias. “Boleh..Mau kugambar waktu kau sedang dance?” tawarku. “Tidak usah susah-susah, Hyun Jae. Gambar saja monyet yang sedang menggaruk-garuk kepala. Sudah mirip dengannya, kok.” timpal Donghae, yang langsung mengundang tawaku dan teman-teman lain, sementara Eunhyuk hanya cemberut. “Sekalian saja suruh dia gambar pisangnya!” umpatnya pada Donghae. “Hahaha..Begitu saja marah-marah. Tidak usah pakai pisang, Hyun Jae,” kata Donghae padaku. “Tapi pakai pohon saja, untuk dia bergelantungan,” lanjutnya sambil berlari dari kejaran Eunhyuk.

Hahaha…Aku sedikit terhibur oleh mereka berdua. Tapi kemudian, pandanganku beralih pada pohon rindang di lapangan basket, yang terlihat dari tempat dudukku. Hanya ada seorang laki-laki di bawah pohon itu. Dia sedang membaca buku, dan kedua telinganya tertutupi oleh headphone. Kelihatannya dia sama sekali tidak ingin diganggu, sekaligus tak peduli pada suasana ramai di jam istirahat ini. Laki-laki itu tak lain adalah si aneh, Yesung. Aku semakin sependapat dengan teman-teman lain. Hmm..Sebenarnya kenapa dia terlalu menutup diri seperti itu, ya? Apa ada rahasia atau alasan tersendiri, yang membuatnya selalu menyendiri? Dalam hati, aku berniat ingin mencari tahu lebih tentangnya…

*Sepulang sekolah*

“Hyun Jae, kau sudah pulang! Bagaimana hari pertama di SMA baru?” tanya ibu begitu melihatku di depan pintu. “Asyik, Bu! Teman-temannya cukup menyenangkan,” jawabku riang. “Wah, syukurlah!” Ibu tampak lega setelah mendengar jawabanku. “Tapi…ada satu orang yang sulit didekati. Orangnya aneh,” kataku sambil mengingat wajah datar Yesung. Kuceritakan semuanya pada ibu, tentang bagaimana respon Yesung ketika aku mencoba berkenalan, sampai tanggapan teman-teman tentang dirinya. Mendengar itu, ibu pun tersenyum,”Ya sudah..Kita kan tidak tahu latar belakang Yesung. Siapa tahu ada masa lalu pahit yang membuatnya jadi seperti itu. Yang penting, kau harus tetap berusaha baik dengannya, ya..Apalagi kalian kan teman sebangku.” Aku hanya bisa mengangguk mendengar nasehatnya.

*Malam hari di kamar Hyun Jae*

Aku mengambil selembar kertas gambar dan pensil dari laci mejaku. Ya, aku suka sekali menggambar. Menggambar apa saja sesuai pikiran dan suasana hatiku. Dulu, ketika aku pertama kali punya pacar, aku menggambar sebuah balon udara berbentuk lambang hati yang besar, lalu di dalamnya kugambar seorang perempuan dan seorang laki-laki yang saling memandang sambil tersenyum. Dan, ketika aku putus dengan pacarku itu, kuhapus gambar hati yang besar itu, lalu kubuat seolah hati tersebut mengempis, dan langit di atasnya kugambar dengan warna gelap seolah sedang mendung, untuk melambangkan kesedihanku.

Oya, selain menggambar, aku juga suka membaca novel dan komik. Karena itu, sekarang yang sedang kubuat adalah wajah-wajah orang dalam bentuk anime. Lalu, pada bagian tengah atas, kutuliskan “TEMAN-TEMAN PERTAMAKU DI SMA YONSEI”. Yang pertama kugambar adalah wajah seorang laki-laki berkacamata, berambut cepak, dan tersenyum sangat manis. Lalu kutuliskan di bawahnya: “Ketua Kelas – Kim Kibum”. Berikutnya, seorang perempuan berambut panjang bernama Yongrim, perempuan berambut pendek dengan wajah yang agak judes bernama Kyung Mi, perempuan berwajah lembut bernama Yoona, lalu duo laki-laki keren—Donghae dengan senyum lebar dan jari tangan membentuk lambang “peace”—dan Eunhyuk dengan senyum yang menampakkan gusinya, tak lupa kutambahkan pisang di tangannya, mengingat candaan di kantin tadi siang. Aku tersenyum menatap versi anime mereka satu per satu. Di bagian bawah kertas gambar, kutulis “[Hopefully we can be] FRIENDS FOREVER” (“[Semoga kita bisa jadi] TEMAN SELAMANYA”).

Oh iya, ada yang lupa kugambar, lalu segera kucorat-coret kertas gambarku sehingga membentuk wajah seorang anak laki-laki dengan mata sipit, bibir mungil, dan ekspresi datar tanpa senyuman di wajahnya. Setelah itu kutulis “Kim Jongwoon (Yesung)” di bawah gambarnya. “Hmm..Tapi sepertinya begini lebih cocok,” gumamku sambil mengganti “Kim Jongwoon (Yesung)” menjadi “Si Aneh”. Semoga setelah lama kenal dengannya nanti, wajah dengan ekspresi datar ini (-_-) bisa berubah menjadi wajah penuh senyuman (^_^), pikirku.

***

*Keesokan harinya*

Sore ini, aku pergi ke mal bersama ibu dan kakak perempuanku. Kakakku membutuhkan baju-baju resmi untuk kerja praktek di fakultasnya, sekalian kami jalan-jalan. “Kak, Bu, sementara kalian memilah-milah baju, aku ke game centre di sebelah sana, ya,” pamitku sambil menunjuk sebuah game centre, yang letaknya tidak jauh dari toko-toko busana.

Aku segera masuk ke game centre, dan mengeluarkan beberapa coin sisaku bermain minggu lalu. Sambil aku beranjak menuju Y2K Touch Screen Game yang ingin kumainkan, aku melewati sekumpulan anak laki-laki, yang sepertinya seusiaku, sedang bermain basket dengan hebohnya. Haha..Sepertinya mereka taruhan. Kelihatan dari celetukan-celetukan mereka, “Asyik..Rupanya makan malam gratis untukku sudah di depan mata!” ejek salah satu dari mereka, setelah melihat jumlah bola yang berhasil dimasukkan oleh temannya lebih sedikit daripada jumlah miliknya. “Enak saja! Masih ada 1x kesempatan lagi, kan?” “Sudahlah..Menyerah saja..Toh coin mu sudah habis!” celetuk teman-teman yang lain.

Aku masih tersenyum geli melihat kehebohan mereka bermain, sampai aku sadar kalau salah satu dari mereka adalah…HA?! YESUNG??!! Yang benar saja…Aku mengucek-ucek mata, tidak mempercayai penglihatanku bahwa Yesung, si aneh yang tidak suka berinteraksi dengan orang lain itu, sekarang tengah tertawa terbahak-bahak sambil melanjutkan permainan bersama teman-temannya. “Yesung!” spontan aku memanggilnya. “Wah..Ada fansmu lagi nih!” goda salah satu dari mereka setelah melihatku memanggil Yesung. Di luar dugaanku, Yesung tersenyum menghampiriku yang masih berdiri mematung setelah memanggilnya.  Ya, dia TERSENYUM! Dan aku TIDAK SALAH LIHAT!! Senyum pertama yang terbentuk dari bibir mungil Yesung, dan itu untukku!

“Hai!” sapanya setelah berada di dekatku. “Kau…” katanya kemudian, sambil berusaha mengingat-ingat namaku. “Hyun Jae,” potongku. “Oh iya, iya, Hyun Jae!” ujarnya sambil tersenyum LAGI! “Kau sendirian?” tanyanya.

“Yesung, ternyata kalau di luar begini, kau jauh berbeda dengan yang di kelas, ya! Selain itu, kau cukup gaul juga..Itu..teman-temanmu dari sekolah lain, ya?” cerocosku saking herannya, tanpa mempedulikan pertanyaan Yesung. “Kenapa kau seheran itu? Kau tahu? Wajahmu itu sudah sama seperti orang yang seolah sedang melihat hantu bisa menyentuh tanah, tahu!” katanya sambil tertawa geli. Astaga, kali ini dia tertawa, yang makin sukses membuatku salah tingkah. >_< “Eh..emm..Tapi kau sungguh berbeda..Emm..sudah ya..aku mau main game yang ada di sana..” ujarku kikuk, sambil menunjuk mesin Touch Screen Game.

“Baiklah..Oya, pertanyaanku belum kau jawab. Kau ke sini sendirian?” tanyanya lagi. “Ti-Tidak..A-Aku ke sini bersama ibu dan onnie ku. Tapi mereka sedang belanja, jadi kutinggal ke sini dulu,” jawabku agak terbata. “Kalau begitu, kau sendirian, kan? Mau kutemani main?” tawarnya sambil tersenyum penuh arti. Belum sempat aku menanggapi tawarannya, tiba-tiba dia sudah menggandeng tanganku menuju mesin Touch Screen Game, setelah ia pamit sebentar pada teman-temannya yang masih heboh bermain…

*Malam hari sepulang dari mal*

Dengan tersenyum-senyum, kukeluarkan kembali kertas gambarku yang sudah terhiasi wajah teman-temanku dalam versi anime yang kubuat kemarin. Tadinya, ingin kuhapus wajah datar Yesung yang sudah kugambar. Tapi, sepertinya lebih baik kalau kutambahi saja, deh. Jadi, setelah gambar wajah murung Yesung, kuberikan tanda panah, dan aku menggambar wajah Yesung yang tersenyum ceria di samping tanda panah tersebut. “Hmm..ini bukti bahwa ternyata Yesung bisa juga berekspresi,” gumamku sambil mengingat kejadian tadi sore. Kalian tidak percaya, kan? Tak apa…Karena sampai sekarang, aku yang mengalaminya sendiri pun masih sulit percaya, kalau Yesung, si aneh, cuek, dingin, yang belum pernah berbicara lebih dari sepuluh kata denganku saat di kelas, tadi sore tidak hanya mengobrol, tetapi juga bercanda dan tertawa saat main game bersamaku!!

Aish! Aku jadi tidak sabar ingin cepat-cepat besok pagi…^^

***

*Keesokan harinya di sekolah*

“Pagi, Yesung!” sapaku riang sambil menaruh tasku. “Pagi,” jawabnya singkat sambil menekuri buku di tangannya. “Lho? Kok dia jadi datar lagi kalau di sekolah?” batinku kebingungan. Sampai jam istirahat pun, Yesung tetap saja menjadi “si aneh”, yang sungguh jauh berbeda dengan Yesung yang kutemui di mal kemarin. Kuceritakan hal ini pada teman-teman lain, dan…”Ah! Pasti kau salah lihat!” cetus Donghae diikuti isyarat setuju oleh teman-teman lain. “Benar…Tidak mungkin itu Yesung. Mungkin hanya orang yang mirip dia, lalu mengerjaimu, walaupun tidak kenal denganmu,” sambung Kyung Mi.

Aish! Tidak mungkin! Batinku menentang tanggapan teman-temanku. Atau jangan-jangan…Yesung berkepribadian ganda..Hiii..Aku bergidik ngeri sambil membayangkan kalau seandainya benar seperti itu, berarti Yesung sama dengan “Dr. Jekyll & Mr. Hyde”, novel misteri yang pernah kubaca. Bedanya, kalau Dr. Jekyll sedang berubah kepribadian, bentuk tubuhnya juga ikut berubah menjadi sangat pendek, dan wajahnya pun bengis. Itu semua gara-gara hasil eksperimennya sendiri.

Atau mungkin, Yesung ini seperti Emiko Noguchi, salah satu tokoh komik dalam “Chibi Maruko Chan”. Ia tampak aneh, misterius, padahal ia sangat menyukai komedi. Nah, yang mana yang kira-kira mendekati sifat Yesung? Aku malah kebingungan sendiri dengan analisa yang kubuat. Dan karena sudah tidak bersemangat lagi, pada jam pelajaran berikutnya, aku tidak begitu menyimak apa yang sedang dibahas oleh Lee Aeja sonsaengnim, guru Sejarah, sekaligus wali kelasku. Aku hanya mencoret-coret tidak jelas di halaman belakang buku tulisku. Perlahan, aku mulai menggambar wajah datar Yesung, lalu kuberi tanda panah, dan di sampingnya kugambar wajah ceria Yesung, yang kulihat di mal kemarin, dan di sampingnya, kembali kugambar lagi wajah datarnya. “Kapan wajah datar ini akan berubah jadi wajah ceria lagi?” batinku lesu, sambil melirik Yesung yang sedang menatap lurus ke depan.

“Anak-anak, keluarkan buku cetak Sejarah kalian! Seperti biasa, yang tidak membawa buku, silakan keluar dan nilai tes kalian mendatang, akan saya kurangi 10 poin!” Aku tersentak oleh perintah Lee Aeja sonsaengnim, dan langsung mengaduk-aduk tasku dengan paniknya. Habislah aku…Sebagai anak baru, ini sangat memalukan, batinku setelah tidak kutemui buku cetak Sejarah dalam tas. Perlahan aku beranjak dari tempat duduk. Namun, lagi-lagi “si aneh” membuat sensasi! Setelah kemarin dengan wajah cerianya di mal, kali ini dia mengejutkanku dengan menggeser buku cetak Sejarahnya ke mejaku, sementara dia dengan cueknya berjalan keluar kelas. “Ya! Chamgeuman! Sonsaengnim, akulah yang tidak bawa buku, bukan dia!” ujarku pada Lee Aeja sonsaengnim, sambil setengah berlari menyusul Yesung keluar.

“Duduk!” perintah Lee Aeja sonsaengnim padaku. “Tapi aku…” “Duduk!” potongnya tegas. Aku pun terduduk lemas di bangkuku. Dalam hati, aku merasa bersalah pada Yesung.

Kuputuskan untuk berbicara serius dengan Yesung sepulang sekolah. “Yesung, Yesung!” panggilku sambil setengah berlari mengejar Yesung. “Apa?” sahutnya dingin. “Yang tadi..terimakasih ya..Tapi sebenarnya kau tidak perlu melakukan itu,” kataku sambil mengembalikan buku cetak Sejarah Yesung. “Tadi aku sudah menemui Lee Aeja sonsaengnim di ruang guru dan menjelaskan semuanya. Jadi, nilaimu tidak dikurangi,” jelasku, sementara Yesung hanya berkata, “Oh..” sambil melanjutkan langkahnya.

Aku menjajari langkahnya yang panjang-panjang, sambil sedikit terengah. “Yesung, jawab dengan jujur! Kau mengerjaiku, ya? Kemarin ketika kita bertemu di mal, kenapa ekspresimu begitu cerah ceria bersama teman-temanmu? Bahkan kau sempat menggandengku, mengajak bermain game bersama, sambil mengobrol dan bercanda!” seruku tak sabar, sementara Yesung terlihat berpikir sebentar, seperti mencerna kata-kataku barusan. Lalu, apa responnya? “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” sahutnya, yang semakin membuatku jengkel.

“Kim Jong Woon!” teriakku lagi. Sementara ia hanya terdiam dengan cuek seperti biasanya. “Sebenarnya kau ini makhluk apa sih?! Hantu yang bisa berubah-ubah sikap dengan seenaknya?! Tapi kalau kau memang hantu, kenapa orang-orang bisa melihat, menyentuh, bahkan berbicara denganmu?!” seruku, mengutarakan semua keingintahuanku. “Atau jangan-jangan kau berkepribadian ganda??!!” cerocosku lagi.

Kali ini dia menatapku, sebelum kemudian menjawab, “Kau sungguh ingin tahu jawabannya? Sekarang juga, ikut aku!” tegasnya. “Ya Tuhan! Sensasi apa lagi yang akan dia buat sekarang?!” batinku kaget campur cemas. Dia pun mengajakku naik bis jurusan Yangjae-dong. “Ki-Kita m-mau ke mana?” ujarku takut-takut, sementara dia tetap diam sambil melihat ke luar jendela.  “Gawat! Jangan-jangan memang benar dia seperti Dr. Jekyll & Mr. Hyde. Jangan-jangan setelah ini ia akan berubah wujud, lalu menghabisiku..Tidak! Aku tidak mau! Aku masih ingin hidup!” batinku berteriak tidak karuan.

“Kita sudah sampai!” ujarnya sambil berjalan ke pintu bis untuk turun. Mau tidak mau aku mengikutinya juga. Tanganku berkeringat dan agak gemetar saking cemasnya. Setelah kami turun, dia mengajakku ke sebuah rumah. Rumah itu sederhana tapi sangat nyaman. Sejenak aku jadi rileks dengan suasana halaman rumah itu, yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman cantik disertai kolam ikan ukuran kecil di sisi kirinya. “Eh, Yesung! Sudah pulang? Kau bawa temanmu, ya?” tanya seorang wanita setengah baya, yang wajahnya mirip dengan Yesung. Namun, wajah wanita ini terlihat sangat ramah, tidak datar-datar saja, seperti Yesung. Mungkin dia ibunya. “Selamat siang, Bi!” sapaku sambil membungkukkan badan padanya. “Siang..Silakan masuk, jangan sungkan,” jawab wanita itu sambil tersenyum lagi.

Setelah itu Yesung mengajakku ke sebuah ruangan, yang sepertinya adalah ruang keluarga. Di situ ada seorang anak laki-laki yang sedang bermain Playstation bersama teman-temannya. Dan…HA??!! D-dia…Dia kan…”Orang ini kan yang kemarin kau temui di mal?” tanya Yesung padaku. “K-ka-kalian..Kalian KEMBAR??!!” seruku. Setelah itu aku menutup mulutku sendiri, karena sadar kalau suaraku cukup keras, dan sepertinya tidak sopan karena ini adalah rumah orang. Sekilas, laki-laki mirip Yesung itu menoleh padaku. “Hai! Kau yang kemarin, ya? Haha..Maaf, aku mengerjaimu,” katanya sambil berjalan ke arahku. “Aku sudah sering dikira Yesung oleh teman-teman Yesung, termasuk kau. Tapi mereka selalu kecewa karena setelah bertemu di sekolah, Yesung jadi datar lagi seperti ini,” ujarnya sambil menunjuk wajah Yesung. “Haha..Maaf, ya..” ujarnya lagi, sambil terkekeh melihatku yang masih tercengang. “Oya, namaku Yosung,” katanya sambil menjabat tanganku.

*di teras rumah Yesung*

“Kau puas?” tanya Yesung padaku. Sekarang aku hanya terdiam, masih shock dengan fakta bahwa Yesung itu kembar. Dan yang kulihat kemarin di mal, tersenyum padaku, bahkan menggandeng tanganku, serta tertawa dan mengajakku main game adalah Yosung, kembaran Yesung. “Kau juga kecewa, kan?” tanya Yesung lagi. “Ti-tidak kok. A-aku hanya ter-terkejut saja,” jawabku pelan. “Emm..kenapa kalian tidak 1 sekolah?” tanyaku.

“Dia tidak diterima di Yonsei. Sebenarnya dia pintar, tapi karena malas dan suka bolos, nilai-nilainya tidak mencukupi, ketika tes masuk,” jelas Yesung. “Ooo..Tapi sepertinya, dia asyik, ya. Coba kalau kau mau mengubah sedikit sifatmu jadi ramah dan murah senyum seperti dia, pasti kau banyak teman,” ujarku.

“Aish! Lagi-lagi aku dibanding-bandingkan dengannya! Aku benci!” ujarnya kesal. “Maaf..Bukan maksudku membanding-bandingkan, tapi…”

“Ah! Sudahlah! Aku berubah ramah seperti dia pun..Tidak akan ada yang tulus berteman denganku,” ujarnya. “Kau tahu? Dulu sebelum aku masuk SMA, aku sama ramahnya seperti dia. Tapi setelah teman-temanku mengenal Yosung, mereka melupakanku. Kata mereka, Yosung lebih keren, lebih menarik, jago basket, dan jago balap motor,” ungkap Yesung. Sekarang giliranku yang terdiam seribu bahasa. Aku tak percaya kalau Yesung bisa juga bicara panjang lebar seperti ini. Dan ini benar-benar Yesung! Aku tidak salah oramg lagi seperti kemarin.

“Emm..Yesung..Kau pasti punya kelebihan lain, yang juga mengagumkan, tapi mungkin kau saja yang belum menemukannya,” hiburku. “Aku selalu mendapat nilai-nilai bagus di sekolah. Makanya tadi kupinjamkan buku cetak Sejarahku. Karena kalau aku keluar pun, tidak terlalu berpengaruh bagi nilaiku yang sudah tinggi,” jelas Yesung. “Tapi, jarang kan ada yang mengagumi anak pintar dalam bidang akademis, jika dibandingkan dengan anak yang jago basket dan balap motor?!” lanjutnya.

Aku pun tersenyum. “Setiap orang punya kelebihannya masing-masing, Yesung. Tuhan memberikannya berbeda-beda agar kita semua saling melengkapi. Sama seperti tubuh kita. Kalau tubuh kita terdiri dari mata seluruhnya, kita akan bisa melihat dengan sangat jelas, tapi kita tidak bisa berjalan, berpikir, bernafas, mendengar, melakukan sesuatu, dan juga…tidak bisa mencintai, karena kita tidak punya hati. Ya kan? Contoh lain, kau pintar dalam bidang akademis, sedangkan Yosung pandai dalam olahraga. Nah, seharusnya kalian justru bisa saling mengajari, kan? Tunjukkan pada orang lain kalau kau juga tidak kalah hebat dengan Yosung! Bukannya malah menutup diri seperti ini, yang malah membuat teman-teman semakin yakin kalau Yosung lebih keren dan menyenangkan daripada kau!” ujarku, berusaha agar dia tidak kecil hati. Dia menatapku tajam. Aku jadi agak takut. Setelah itu dia terdiam dan menunduk, seperti merenungi kata-kataku. Aku jadi merasa bersalah. “Maaf..Aku tidak bermaksud menggurui. Aku hanya…”.

“Terimakasih, Kim Hyun Jae,” ujarnya sambil tersenyum. Mendadak wajahku terasa hangat hanya karena melihat senyumnya. Duh, pasti wajahku memerah, nih, batinku sambil menunduk.

Tapi aku sungguh senang. Ini pertama kalinya dia memanggil namaku, dan pertama kalinya juga dia tersenyum padaku! Kali ini benar-benar senyuman Yesung, bukan Yosung lagi! Aku pun membalas senyumnya. Dan, sebelum aku lebih grogi lagi, iseng-iseng kukeluarkan buku tulisku, yang pada halaman belakangnya terdapat gambar wajah Yesung. “Lihat ini! Ini perubahan wajahmu yang sudah membuatku tertipu! Tapi ternyata ini wajah Yosung,” ujarku sambil menunjuk wajah anak laki-laki yang sedang tersenyum. “Eh? Kau bisa menggambar, ya?” tanyanya sambil melihat ekspresi wajah datarnya yang kugambar. “Mmm..Hanya suka..” jawabku. Setelah itu, tiba-tiba Yesung membuat sensasi lagi! Dia menyanyi!

Stop being good to me

Don’t be good to me anymore

It might be better to be cold to me

Or ignoring me might be better for me

Dia menyanyikan lagu “Don’t Be Good To Me” milik Kim Jong Kook, penyanyi terkenal. “Wah! Kau bisa menyanyi?” ujarku kagum setelah mendengar suara merdunya yang mengalun lembut. Sungguh! Suaranya indah sekali! “Mmm..Hanya suka…” jawabnya sambil terkekeh. “Hei, itu kan jawabanku tadi! Ayo bayar ongkos karena sudah mengcopy jawabanku!” ujarku pura-pura marah. “Bagaimana kalau kubayar dengan ini?” tanyanya sambil menunjuk gambar laki-laki tersenyum di buku tulisku. Aku pun tertawa. Bisa juga dia bercanda, dan sekali lagi…ini Yesung, bukan Yosung! >_<

Tak terasa, semester pertama sudah berlalu. Yesung sekarang sudah mulai berubah..^^ Ya, meskipun perubahannya tidak drastis, tapi sekarang dia sudah mulai punya banyak teman karena dia mau membuka diri. Dia mau menyapa teman, tersenyum, bahkan mengajari teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran. Dan…kau tahu? Lagi-lagi dia membuat sensasi! Dia…menyatakan perasaannya padaku! Hal ini membuatku terkejut sekaligus senang. Jadi, sekarang, gambar Yesung dalam bentuk anime yang kubuat itu, sudah selalu tersenyum, dan…aku juga menambahkan ekspresi-ekspresi lain. Ekspresi saat dia tertawa, malu, bingung, juga ekspresi saat dia menyanyi. Aku senang karena akhirnya aku bisa melihat bermacam ekspresi dari diri “si aneh” Yesung. Tidak hanya itu, sekarang juga kutambahkan gambar hati yang besar di luar gambar wajahnya.. ^_^

 

THE END

 

By: Stefani Febrina

NOTE: FF ini request an dari Yemima Yohana yg minta dipairingin ma Yesung.. ^.^

@Yemima: map kalo “feel” nya ga dapet..abis author malah mikirin Donghae melulu.. *ELFishy mode = ON* wkwkwk..moga suka ya.. >,< jangan kapok baca FF ku.. >_<

@admin yang dah confirm: makasih banget.. n(_ _)n

@readers: ditunggu comment nya.. ^_^ makasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s