The Desire of a Man . . . Part 3

Standar

“Kyu, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.” Tiba-tiba Sunha mengatakan hal yang membuatku kaget bukan main.

“Mwo?! Apa aku tidak salah dengar? Jagi, kau bercanda kan???” Tanyaku tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

Ucapannya benar-benar membuat hatiku hancur luluh lantak berkeping-keping. “Tapi…kenapa?” Kataku dengan suara yang terdengar lirih. Sunha terdiam tidak menjawab pertanyaanku. “Apa kau sudah tidak cinta lagi padaku???” Aku menahan segala emosi yang menyeruak dalam hati. “Atau… kau mencintai pria lain??? Sunha jawab aku!!!” Aku sudah tidak dapat menahan emosiku lagi dan berteriak dihadapannya. Tapi Sunha tidak bergeming sedikit pun, dia masih tetap membungkam mulutnya.

“Lebih baik kita putus dan melupakan segala sesuatu yang sudah kita lakukan bersama beberapa bulan ini.” Ucapannya kali ini benar-benar membuatku tak berdaya, ingin mati rasanya.

Aku tersenyum lirih. “Tapi aku sangat mencintaimu, Lee Sunha.” Ku tatap matanya dalam-dalam, terlihat tidak ada keraguan sedikit pun saat dia mengucapkan kata ‘berakhir’. Aku mengerti tidak akan mampu mengubah pendirian hati Sunha. Otakku tidak dapat berpikir apa-apa lagi, tubuhku rasanya sangat lelah sekali, perlahan ku langkahkan kakiku dengan gontai meninggalkan dirinya.

Saat beberapa langkah dibelakangnya, Sunha berkata. “Aku hamil…” Langkahku seketika terhenti. “Dan aku yakin kau pasti tidak akan mau bertanggung jawab, itu sebabnya lebih baik kita berpisah dan melupakan segalanya.” Sunha berkata lagi kemudian masuk kedalam rumahnya tanpa menghiraukan diriku.

‘Benarkah yang dikatakanya barusan? Dia… hamil…’ Batinku berkecamuk, dadaku rasanya sesak sekali.

~~~~~~~~~

Aku pulang dalam keadaan kacau. Yang ku harapkan adalah semua kejadian malam ini hanyalah mimpi buruk semata. Ketika esok hari aku terbangun semua akan baik-baik saja, dan Sunha tetap berada disisiku. Kepalaku terasa berat, rasanya pusing sekali. Aku pun sudah tidak mampu melangkah lagi. ‘BRUUUK!’ Tubuhku terjatuh dilantai.

“Ommo! Kyu, gwaenchanayo?!” Dengan kesadaran yang masih tersisa, ku lihat Ahra noona segera menghampiriku dan meletakkan kepalaku dipangkuannya.

“No..ona… kepalaku pusing…” Kataku dengan nafas tersengal-sengal.

Ahra noona meletakan tangannya di dahiku. “Kau demam, Kyu.” Kemudian noona memapahku menuju kamarku yang ada dilantai dua dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. Noona segera menggantikan bajuku yang basah kuyup. Setelah itu dia turun kebawah mengambil obat dan kompresan. Semalaman aku demam tinggi dan terus mengigaukan nama Suhna. Ahra noona dengan sabar merawatku semalaman suntuk, sedangkan kedua orang tuaku masih berada di Kanada karna urusan bisnis.

Keesokan harinya aku terbangun dengan fakta bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi melainkan sebuah kenyataan pahit.

~~~~~~~~~

Sudah 5 hari aku terus mengurung diri dikamar dan tidak nafsu makan. Ahra noona selalu membujukku untuk cek-up ke rumah sakit, tapi aku menolak karna bukan tubuhku yang sakit melainkan hatiku yang terkoyak.

Aku menatap foto-foto saat bersama Sunha. Senyumannya sangat manis, rasa rindu yang amat besar muncul dalam hatiku. Ternyata anggapanku waktu itu salah besar. Pikiranku terlalu dangkal beranggapan Sunha tidak akan hamil karna kami hanya melakukannya satu kali. Nyatanya kini Sunha tengah mengandung darah dagingku.

Dan aku tidak memungkiri dengan apa yang di ucapkan Sunha malam itu adalah benar. Aku mungkin tidak akan mau bertanggung jawab, karna aku tidak menginginkan pernikahan dini. Aku masih muda, masa depanku masih panjang, bahkan aku belum menyelesaikan kuliahku. Tapi dari kesemua alasan itu yang lebih membuatku tidak ingin bertanggujawab adalah karna aku belum siap untuk berumah tangga dan menjadi seorang Appa. Egois memang, namun apa daya aku hanyalah seorang laki-laki pengecut yang bajingan.

Tok…Tok…Tok…

“Kyu, noona masuk ya.” Ahra noona masuk dengan membawakan aku makanan. Dia duduk di samping ranjangku dengan tatapan sendu. “Ku rasa kau sudah tidak apa-apa, Kyu. Noona tidak tau apa yang sedang terjadi padamu, tapi sebaiknya kau pergi jalan-jalan ditaman untuk menyegarkan pikiranmu. Sudah 5 hari kau mengurung diri terus dikamar.” Ujarnya sambil menghela nafas panjang.

“Ne, arraseo.” Ujarku singkat. Kemudian aku bangkit dari ranjangku dan segera mengganti pakaianku. Ahra noona terlihat senang.

Yang Ahra noona katakan memang benar aku butuh menyegarkan pikiranku dari segala masalah. Aku berjalan menuju taman yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. Taman itu selalu ramai dikunjungi warga. Banyak anak-anak bermain disana, dan ada banyak orang tua juga yang senang bersantai ditaman ini. Aku duduk di salah satu bangku kosong. Pikiranku melayang kemasa 2 bulan yang lalu dimana saat-saat indah aku lalui bersama Sunha. Sampai mataku tidak sengaja menatap seorang wanita hamil bersama suaminya.

“Nak, kau harus cepat lahir dan tumbuh sehat. Appa sangat menantikan kehadiranmu.” Ujar sang suami sambil mengelus-ngelus perut istrinya.

Melihat adengan itu air mataku mendadak jatuh, ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang mengatakan aku juga ingin seperti laki-laki itu. Sekilas terbanyang wajah Sunha yang tersenyum dengan sangat manis.

Aku berdiri dan meninggalkan taman itu secepatnya, aku tidak mau melihat pemandangan yang membuatku merasa tambah bersalah.

~~~~~~~~~

Sepulangnya dari taman aku segera menyalakan komputerku untuk bermain game melepaskan segala beban pikiranku. Namun entah apa yang mendorongku, bukannya bermain game aku malah online dan mencari tahu tentang kehamilan seseorang di searching google. Seharian aku terus berkutat di depan layar komputerku, ada banyak informasi yang kudapat mengenai kehamilan seorang wanita. Dan saat ini aku sedang menyaksikan proses aborsi yang dilakukan dengan sebuah alat yang dipakai oleh dokter untuk menggugurkan kandungan seseorang. Janin yang sudah terbentuk manusia itu mati dan tubuhnya hancur secara perlahan-lahan. Melihat itu air mataku mengalir sangat deras.

“Bagaimana jika Sunha melakukan itu?” Gumamku sambil terisak pelan. “Itu berarti bayi ku akan terbunuh.” Aku tersentak dengan apa yang aku ucapkan. Aku menyadari bahwa aku butuh Sunha dan bayi yang ada didalam kandungannya sekarang, yaitu bayiku. Aku mencintai Sunha dan bayi itu melebihi apa pun.

Langsung ku ambil mantel dan kunci mobil, aku berlari keluar dan menghiraukan panggilan Ahra noona yang mengkhawatirkan keadaanku.

Aku melajukan mobilku secepat kilat menuju rumah Sunha. Setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai disebuah rumah yang memiliki halaman cukup luas. Aku tersenyum bahagia karna sebentar lagi aku akan bertemu dengan orang yang sangat aku cintai dan calon bayiku. Ku ketuk pintu rumahnya, tidak ada jawaban. Dan coba ku ketuk lagi, tetap tidak ada jawaban. Kemudian aku mengambil ponsel yang ada disaku celanaku untuk menghubungi Sunha, namun belum sempat aku menekan nomornya, samar-samar ku dengar sebuah teriakan yang berasal dari lantai dua rumah ini. “Akhhh!”

Perasaan cemas menyeruak dalam hatiku, tanpa peduli ku buka pintu yang nyatanya tidak terkunci. Aku berlari secepat mungkin menuju asal suara tersebut dan suara itu berasal dari kamar Sunha. ‘Pintunya terkunci.’ Batinku saat tidak bisa membuka pintu kamar Sunha. Langsung saja ku dobrak pintu kamar Sunha dengan kencang hingga pintu terbanting terbuka.

Mataku membelalak lebar seketika melihat pemandangan yang ada didalam kamar Sunha. Sunha sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang membanjiri pergelangan tangannya. Ya, sunha menyayat pergelangan tangan kirinya dengan sebilah pisau dapur. Aku mendekatinya dan memeluknya sangat erat. Ku rasakan hembusan nafas Sunha, gadis yang ku cintai masih hidup. Ku robek sedikit kain selimut dan mengikatkannya pada pergelangan tangan Sunha yang tersayat agar darahnya berhenti mengalir. Kemudian Sunha ku larikan ke rumah sakit terdekat.

~~~~~~~~~

Di rumah sakit…

Sunha segera di larikan keruang UGD. Aku benar-benar terpukul atas kejadian ini. Tidak menyangka karena kesalahanku Sunha memilih menghabisi nyawanya dan calon bayi kami. Aku memukul tembok kuat-kuat melampiaskan segala kebodohanku.

Satu jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Sunha keluar. “Apakah anda suaminya?” Tanya dokter itu kepadaku. Aku mengangguk dengan cepat. Walaupun saat ini Sunha bukanlah istriku, tapi aku akan segera menikahinya.

“Bagaimana keadaannya dan bayiku, Dok?”

“Kondisi istri anda sudah tidak apa-apa. Untungnya anda segera membawanya kemari, jika tidak nyawanya dan bayi kalian yang baru berusia 5 minggu bisa terancam. Keadaannya sangat lemah sekarang, sepertinya istri anda terlalu banyak pikiran dan tidak menjaga bayinya dengan baik. Dia butuh perhatian serta kasih sayang lebih dari anda.” Ujar Dokter yang bermarga Kim itu.

“Ne, saya akan lebih menjaga dan memperhatikan kesehatannya lagi Dok. Apakah saya sekarang sudah boleh menjenguknya?”

“Tentu saja boleh, silahkan. Istri anda sudah dipindahkan ke ruang rawat.”

Aku masuk kedalam ruangan yang serba putih dan berbau obat itu sambil menatap seorang wanita yang sangat ku cintai tergelatak lemah. Aku duduk disampingnya membelai lembut rambutnya dan ku pegang tangannya yang terasa agak dingin.

“Sunha, mianhe… jeongmal mianhe… Gara-gara aku, kau jadi seperti ini.” Aku menyalahkan diriku sendiri. “Aku memang namja babo yang tidak berperasaan…” Air mataku mengalir dengan deras menyesali semua kesalahanku terhadap Sunha.

“Kyu….”

“Jagi, kau sudah sadar.”

“Kenapa kau menyelamatkanku…?” Ujarnya lemah.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku akan menyelamatkanmu.”

“Kau bodoh, aku tidak ingin diselamatkan! Kau tau aku sudah tidak sanggup lagi menanggung beban ini sendirian, Kyu. Jadi lebih baik aku mati!!!”  Sunha berteriak histeris. Dia mengambil pisau kecil diatas meja yang sengaja dipersiapkan untuk mengupas buah yang disediakan, lalu mencoba memotong urat nadinya lagi. Ku cegah perbuatannya dengan sekuat tenaga, tapi Sunha tetap berontak. Ujung pisau itu akhirnya ku genggam erat-erat, hingga melukai tanganku sendiri. Darah mengalir dari telapak tanganku. “Hentikan… ku mohon Sunha… jangan melukai dirimu lagi…” Ujarku sambil menangis di hadapannya.

Sunha terdiam melihatku, dan seperti baru tersadar dia melepaskan pisau itu dari tanganku dan membuangnya jauh-jauh. “Kyu, tanganmu berdarah!” Katanya yang juga mengeluarkan air mata. “Tolong… suster tolong… ada yang terluka disini!” Dia berteriak memanggil suster.

“Aku tidak apa-apa jagi, tenanglah.”

“Aniyo, tanganmu banyak mengeluarkan darah.” Sunha berteriak lagi. Tidak lama kemudian beberapa suster datang dengan panik, dan segera mengobati luka ditanganku.

“Kyu… mianhe… tanganmu terluka gara-gara aku…” Kata sunha yang masih terisak. Aku pun berlutut dihadapannya. “Kyu, apa yang kau lakukan? Ayo cepat bangun!”

Aku menggelengkan kepalaku pelan dan menangis sejadi-jadinya. “Sunha, mianhe… jeongmal mianhe… Aku memang seorang namja babo yang sangat jahat. Kau memang benar aku melakukan ‘itu’ tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatanku, karna aku tidak mau menghancurkan masa depanku sendiri terlebih aku belum siap menjadi seorang Appa. Tapi setelah malam dimana kau memutuskan hubungan kita, aku sakit dan terus berpikir tentang dirimu, tentang hubungan kita, tentang bayi yang ada didalam kandunganmu… Sampai akhirnya aku sadar bahwa kau dan calon bayi kita sangatlah berharga bagiku. Aku membutuhkan kalian berdua untuk terus tetap berada disisiku selamanya. Saranghe Sunha… Saranghe….” Ujarku sambil bersujud dilantai.

“Kyu bangun, aku tidak ingin melihatmu bersujud seperti ini.” Sunha dengan susah payah bangkit dari ranjangnya, lalu menghampiri namja yang selama ini dia cintai. Sunha meletakan tubuh Kyuhyun yang bergetar akibat menangis kedalam pelukannya yang hangat. “Aku tidak pernah marah padamu, Kyu. Aku dan bayi kita akan selalu berada di sisimu selamanya. Saranghe… nado saranghe Kyu…” Keduanya pun menangis dalam pelukan masing-masing.

“Gomawo Sunha, aku akan segera menikahimu secepatnya. Kita sambut kehadiran bayi ini bersama, dan aku akan berusaha menjadi Appa terbaik untuknya.”

 

_END_

By: Shania9ranger

10 responses »

  1. Uhuhuhu
    Paling suka part ini
    Walaupun udh baca fullnya tetep ngga mau ngelewatin yg ini
    Kyuhyuuuuun~
    Aku makin jatuh cinta😄
    Gomawo to author, nunjukkin kesweetan kyu yg paling keren yg pernah kubaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s