Please be my bride

Standar

Author:Shin hye Kyung/Ryeongri

 

“Apa??? Dijodohkan??? Gyu tidak setuju Appa,” protesku pada Appa saat rapat keluarga.

“Ayolah Gyu, ini juga demi keluarga kita. Appa banyak hutang budi dengan Harabojinya, Appa juga berjanji akan memenuhi semua permintaan beliau.” Ucap Appa memohon. Ya Tuhan… harus berapa kali aku menolak agar tidak dijodohkan dengan namja yang sama sekali tidak aku kenal. Appa dan Eomma masih saja memaksaku untuk menerima lamaran itu dengan alasan keluarga kami banyak hutang budi dengan keluarganya. Bahkan lebih parahnya aku sekarang masih berusia 17 tahun, dan aku sangat tidak siap untuk menikah.

“Ayolah Gyu, bantu keluarga kita. Sekarang perusahaan Appamu mulai mengalami krisis keuangan, dan beliau mau membantu apabila kamu mau menikah dengan cucunya.” Eomma angkat bicara.

“Membantu keluarga? Aku merasa seperti di jual. Appa, Eomma aku masih 17 tahun, aku belum siap untuk menikah. Lagian aku masih harus menyelesaikan sekolahku.”

“Itu bukan masalah, pernikahan saat ini hanya bersifat untuk mengikat, dan kalian diperbolehkan tinggal satu rumah saat kalian sudah menyelesaikan Senior high school. Bagaimana? Ayolah Gyu…” Appa merengek padaku, tetap saja aku tidak mau walaupun pernikahan sekarang hanya untuk mengikat. Mana mungkin aku mau menikahi orang yang tidak aku cinta.

“Kalau Gyu menikah sekarang, apa Appa tidak takut Gyu akan dikeluarkan dari sekolah?”

“Kamu lupa siapa donator terbesar di sekolahmu? Itu Appa, lagian yang memiliki yayasan sekolahmu adalah Kakek Cho, mana berani mereka mengeluarkanmu,” ucap Appa bangga.

“Kenapa Gyu harus menikah sekarang? Kenapa bukan saat Gyu lulus dari universitas saja?”

“Kamu harus mengerti, Kakek Cho sekarang sakit-sakitan, makanya beliau ingin melihat cucu kesayangannya menikah sebelum beliau meninggal. Ayolah Gyu…”

“Anio. Gyu tetap tidak mau. Kenapa tidak Yesung oppa saja yang di jodohkan?” Yesung oppa menghentikan permainannya dan melotot kearahku. Dari tadi dia sama sekali tidak membelaku dan masa depanku, malah asik dengan PSPnya.

“Kamu gila? Memangnya aku gay? Mana mungkin aku menikahi yang jenis kelaminnya sama denganku?”

“Trus, bagaimana denganku? Oppa bantu aku…” rengekku sambil memegang legannya, ia tidak peduli dan kembali bergelut dengan PSPnya. Kakak yang payah.

“Terima saja tawaran Appa.” Komentarnya di sela-sela keasikannya, aku mencibir dan mencubitnya karena kecewa dengan responnya. Seharusnya dia membelaku.

“Gyuri, cucunya tampan kok, dia juga masih muda, umurnya hanya lebih tua satu tahun darimu.” Ujar Eomma. Biar dia mau setampan apapun, aku tetap saja tidak tertarik. Di mataku yang tampan hanya Cho Kyuhyun, cowok pendiam yang sederhana, sunbaeku di sekolah. Saat melihat matanya yang berseri-seri jantungku tak dapat dikontrol, hanya dia yang sanggup membuatku seperti mengalami kelambatan syaraf saat bertemu dengannya.

“Tapi Eomma, aku sudah menyukai orang lain.”

“Lupakan dia, paling cuma cinta monyet.” Kata Appa yang langsung membuat bibirku manyun.

“Aishh…Pokoknya Gyu tidak mau dijodohkan, titik.” Ucapku kemudian pergi ke kamar sambil ngedumel sendiri, kudengar Appa juga mengomel sendiri karena tak berhasil membujukku.

*        *        *

“Apa? Dijodohkan?” Tanya Minzy dan Donghae serempak saat aku menceritakan masalahku pada mereka di bawah pohon yang letaknya di taman sekolah. Ekspresi kedua sahabatku sama saat aku pertama kali mendengar perjodohanku.

“Kamu kan baru 17 tahun, masa sudah mau nikah?” Komentar Donghae sambil memainkan bola basket di tangannya.

“Aku juga tidak mau menikah diusia remaja, tapi Appa, Eomma bahkan Oppaku sendiri memaksaku untuk menikah. Alasannya cuma karena hutang budi, dan perusahaan Appa mengalami krisis keuangan. Aku merasa sepeti dijual oleh keluarga sendiri.”

“Sekolah kamu bagaimana? Kamukan baru tingkat dua.”

“Kata Appa, aku dan dia hanya boleh tinggal serumah saat kami lulus dari Senior High school.”

“Oh, jadi kalian sama-sama masih sekolah? Tapi apa kamu sudah melihat calon suami kamu?” tanya Minzy sambil memakan bekal gimbab yang ia bawa.

“Belum. Kata Eomma dia tampan dan umurnya hanya beda satu tahun denganku.”

“Trus keputusan kamu sekarang bagai mana? Apa kamu mau menerima perjodohan ini?” Donghae masih memainkan bola di tangannya,

“Ya jelas lah aku sebisa mungkin mengagalkan perjodohan ini. Di hatiku hanya ada Cho Kyuhyun oppa…” Ucapku dengan dada yang berdebar-debar saat membayangkan wajahnya. Baru saja aku menyebut namanya, Minzy menyengol lenganku memberitahukan kepadaku bahwa Kyuhyun berada di dekat kami. Mataku langsung menuju ke arahnya yang sedang membawa setumpuk buku Matematika di tangannya, aku yakin dia baru dari perpustakaan, karena di situlah tempat favoridnya. Hatiku semakin berdebar saat melihat wajahnya, apalagi ia sangat manis dengan kacamatanya.

“Kau selalu mengidolakannya seperti itu, tak pernah mengajaknya ngobrol. Ayo sapa dia.” Saran Donghae yang membuatku terkejut.

“Apa menyapanya? Impossible, mau di taruh di mana mukaku, saat bertatapan dengannya saja aku malu setengah mati apalagi kalau harus menyapanya.”

“Bagai mana kau mau bisa dekat dengannya kalau menyapanya saja tidak berani. Baiklah aku akan membantumu.” Minzy sependapat dengan Donghae.

“Bagaimana?” Hatiku tiba-tiba saja tidak enak mendengar Minzy akan membantuku, idenya suka aneh.

“Tenang, kau duduk manis di sini, akan segera kutangani.” Kata Minzy sebelum dia pergi. Apa yang akan dia lakukan??? Minzy berlari menghampiri Kyuhyun yang berada tak jauh dari kami. Oh tidak!!! Apa yang dia lakukan??? Anak itu sudah gila…

Minzy menghampirinya dan mengatakan sesuatu yang aku dan Donghae tidak tahu karena pendengaran kami tidak bisa mencapainya. Keningku dan Donghae sama-sama berkerut melihat aksi Minzy yang menurutku sangat ekstrim, berani sekali dia menemui bahkan berbicara dengan Kyuhyun. Kalau aku mungkin sudah pingsan.

Entah apa yang dibicarakan mereka, yang pasti Minzy tiba-tiba menunjuk kearahku dan Kyuhyun melihat ke arahku. Aku seakan mati rasa, apa yang Minzy lakukan??? Apa Minzy bilang padanya kalau aku menyukainnya sejak aku duduk di tingkat satu? Akhirnya aku melihat Kyuhyun mengangguk, kemudian pembicaraan mereka berakhir. Minzy kembali menghampiri kami dengan wajah girang.

“Kau bilang apa dengannya?” Tanya Donghae mendahuluiku angkat bicara karena penasaran.

“Kim Gyuri, kamu harus berterima kasih dengan sahabatmu ini.” Ucapnya bangga, seakan dia baru saja menyelamatkan hidupku.

“Why??? Apa yang kalian bicarakan??”

“Aku mohon padanya untuk bisa mengajarkanmu Matematika karena nilai Matematikamu menurun.”

“What???” aku shock mendengar ucapan Minzy, oh God!!! Aku harap ini hanya mimpi.

“Trus dia bilang apa?” kata Donghae.

“Dan… dia bilang setuju!!!! Itu berarti tiket emas untuk kamu bisa dekat dengannya.”

“Apa??? Yang benar??? Kamu emang pintar Minju. Horeeee…” Sorak Donghae bahagia sambil memeluk Minzy.

“Donghae, bisakah kau berhenti memanggilku Minju???” protes Minzy karena Donghae selalu memanggilnya Minju. Aku tidak tahu harus berkata apa, yang pasti aku sangat senang.

*        *        *

God!!! Aku sangat tegang sekali, hari ini aku dan Kyuhyun janjian akan belajar bersama. Bukan belajar bersama, tapi lebih tepatnya les private Matematika dengannya. Tak heran kalau dia itu sangat pintar dalam Matematika, dia selalu langganan juara olympiade Matematika sejak junior high school hingga sekarang. Sekali lagi aku merapikan dandananku dan tak henti-hentinya aku melihat diriku di cermin kecil yang selalu aku bawa. Aku masih menunggunya dengan deg-deg di café yang kami janjikan, dia sengaja memilih café untuk belajar, karena menurutnya suasana santai memudahkan untuk menyerap pelajaran.

Aku semakin deg-degkan saat melihat kedatangannya dengan sepeda yang selalu menemaninya kemana-mana. Inilah yang sangat aku suka dari Kyuhyun, dia dan kesederhanaannya. Dia tersenyum saat melihatku yang menunggunya.

Dua jam kemudian…

Les private dengan Kyuhyun oppa berakhir. Aku sangat senang sekali bisa sedekat itu dengannya. Tapi masalahnya sekarang aku harus pulang sendirian, Yesung oppa menelponku dan bilang dengan rasa tidak bersalah kalau dia sedang sibuk bersama-sama tamannya dan tak bisa datang menjemputku. Kalau tahu begitu lebih baik aku bawa mobil sendiri saja dari pada harus minta antar dengan Yesung oppa. Aku ngedumel sendiri sambil berjalan pulang.

“Gyu.” Panggil seseorang, aku menoleh kearah suara. Kyuhyun mengayuh sepedanya mendekatiku. “Kau pulang jalan kaki?”

“Ne, Yesung oppa tidak bisa menjemputku.”

“Kalau begitu naiklah, aku akan mengantarmu pulang.”

“Mwo?” tanyaku bego sekaligus senang atas tawarannya.

“Kau tidak malukan aku memboncengmu dengan sepeda?” tanyanya. Aku menggeleng, mana mungkin aku malu, aku hanya tidak percaya ini sedang terjadi. Kyuhyun oppa akan memboncengku. OMG!!! Aku mau pingsan. “Pegang pinggangku, nanti kamu jatuh.” Katanya saat aku duduk di boncengan sepedanya, dengan ragu aku memegang bajunya namun aku tersenyum senang.

*        *        *

“Kamu boncengan sama Kyuhyun hyung kemaren??” Donghae dan Minzy takjub dengan ceritaku. Aku dengan bangga menceritakan dengan mereka kalau aku dibonceng Kyuhyun kemaren saat dia mengantarku pulang.

“Aku tidak menyangka akan seperti itu. Tapi aku sangat senang atas kemajuanmu,” Minzy senang, karena tak disangka ulah nekatnya beberapa hari yang lalu membuahkan hasil untukku.

“Ternyata dia itu orang yang sangat lembut dan sabar. Aku jadi semakin menyukainnya.” Donghae tiba-tiba menempelkan tangannya di keningku.

“Wah, suhu tubuhmu jadi aneh begini saat menyebut nama Kyuhyun hyung.” Aku menepis tangan Donghae dari keningku yang mengangguku.

“Donghae kau ini usil sekali,” ucapku. Donghae hanya tertawa saja melihat ekspresiku dengan senyumnya yang banyak digilai wanita.

*        *        *

Sore ini aku senang sekali, karena sewaktu di sekolah Kyuhyun ingin mengajakku ke toko buku jika aku tidak sibuk. Tentu saja aku menerima tawarannya dengan senang hati, mana mungkin aku menolak kesempatan emas seperti itu, aku jadi ingin tahu buku apa saja yang di sukai Kyuhyun oppa selain buku Matematika.

Aku sedang bersiap-siap untuk janjian dengan Kyuhyun, aku tersenyum-senyum sendiri di cermin. Tiba-tiba Eomma masuk ke kamarku.

“Gyu ayo cepat ganti bajumu, kita sekeluarga diundang kerumah Kakek Cho sekalian utuk mengenalkanmu pada calon suamimu.” Kata-kata Eomma membuatku shock, mana mungkin aku membatalkan janjian dengan Kyuhyun yang sudah aku nantikan??? Eomma juga bilang aku akan bertemu dengan calon suamiku??? GOD!!! Aku harap aku koma sekarang, karena aku tidak mau ikut ke rumah Kakek Cho.

“Tapi Eomma, Gyu ada janji.”

“Pokoknya kamu harus ikut, ini sangat penting bagimu dan keluarga kita. Ayolah… jangan sampai membuat Kakek Cho kecewa.”

“Pokoknya Gyu tidak mau,” ucapku setengah melemas. Rasanya aku ingin menangis saja. Eomma tidak memperdulikanku, malah ia membuka lemari pakaianku dan memilih-milih gaun yang aku kenakan.

“Eomma tidak mau dengar alasan kamu lagi, sekarang siap-siap, pakai gaun ini dan dandan yang cantik. Setengah jam lagi kita berangkat.” Aku masih cemberut sambil memegang gaun ungu yang dipilihkan Eomma. Aku mengambil ponselku di atas meja dan mengetik pesan untuk Kyuhyun.

‘oppa, sorry hri ini aq tidk bsa menmanimu k’toko buku. Aq sdang ada urusan. Mianhamnida…^^’

*        *        *

Kami tiba di rumah Kakek Cho, rumah dan halamannya tiga kali lipat dari rumahku, sangat luas dan besar, mirip seperti istana. Ini pertama kalinya aku kemari. Kami duduk di ruang keluarga yang sangat mewah sambil menunggu kakek Cho dan cucunya.

“Kau hari ini berdandan cantik sekali Gyu, kau pasti tidak sabar bertemu calon suamimu, hahahaha.” Aku cemberut dan mencubit pinggang Yesung oppa saat dia menggodaku. Aku sudah tidak tahan dengannya yang sedari tadi terus saja mengoda dan mengangguku. “Kamu pasti grogi sekali bertemu dengannya, ayo ngaku…” Yesung oppa lagi-lagi mengangguku.

“Oppa ini cerewet sekali.” Kataku marah dan kemudian mengigit tangannya, ia menjerit kesakitan.

“Gyu, lepasin. Kalau Oppa kena rabies kamu gimana??” katanya masih sambil mencoba melepaskan tangannya dari gigitanku.

“Gyuri, Yesung. Hentikan, kalian ini tidak sopan, seperti anak kecil saja.” Ucap Appa yang mencoba memisahkan kami berdua.

“Gyu memang anak kecil, makanya tidak pantas untuk dinikahkan sedini ini,” kataku cemberut. Akhirnya aku harus pindah duduk dekat dengan Eomma, karena itu lebih baik dari pada duduk berdekatan dengan Yesung oppa.

Kakek Cho datang dengan senyum ramahnya dan langsung menyapa kami dengan hangat.

“Jadi ini putrimu? Cantik sekali dia,” Kakek Cho tersenyum menatapku, aku menunduk memberi hormat dan membalas senyuman beliau.

“Oh ya, kemana Hyunie?” Tanya Appa pada Kakek.

“Dia sedang keluar, padahal aku sudah melarangnya, mungkin dia sebentar lagi akan datang.”

Beberapa menit kemudian terjadilah perbincangan antara Appa, Eomma dan Kakek Cho yang menurutku membosankan, mereka banyak membahas masa depanku nanti dengan cucunya. Aku memilih untuk diam dan tidak banyak bicara, hanya sesekali aku bicara saat Kakek Kim menanyaiku.

Hyunie.. Hyunie??? Apa itu nama namja yang di jodohkan denganku??? Namanya aneh sekali, aku melihat ke sekeliling, hanya ada sebuah foto keluarga yang berbingkai besar, itu foto Kakek Cho mungkin bersama anak, mantu dan cucunya. Anak kecil yang mungkin berumur tiga tahun dalam gendongan Eommanya tertawa bahagia, manis sekali senyumnya, apa itu yang akan di jodohkan denganku??? Apa sekarang dia tidak punya fotonya sekarang? Dari tadi aku tidak melihat satupun foto namja yang seumuran sepertiku.

Yesung oppa seakan senang dengan kondisiku sekarang, ia melirikku dengan nakal, aku tahu maksudnya kalau ia sedang mengodaku. Awas saja nanti di rumah akan aku balas, aku membalas lirikannya dengan kepalan tangan. Namja itu masih belum datang juga, aku penasaran seperti apa wajahnya. Tiba-tiba sesuatu menyerang perutku, rasanya melilit sekali dan seperti di tusuk-tusuk, aku pamit sebentar ke toilet.

Saat di toilet perutku semakin menjadi-jadi, aku menurunkan celana dalamku. Damn!!! Seperti yang kukira, aku haid saat yang tidak tepat seperti ini. Yang pasti aku harus pulang sekarang, mana mungkin saat aku bertemu dengan namja itu dengan keadaan seperti ini.

“Eomma, aku harus pulang sekarang, aku haid.” Bisikku pada Eomma.

“Mwo? Kenapa kamu tidak mempersiapkan sebelumnya?”

“Ada apa?” tanya Kakek Cho saat melihat pembicaraanku dan Eomma yang mengundang perhatiannya.

“Gyu sepertinya kondisinya kurang sehat, jadi dia ijin untuk pulang lebih cepat.” Kata Eomma.

“Kalau begitu istirahatlah yang cukup, sayang sekali kamu tidak bisa bertemu dengannya. Kemana anak itu, lama sekali perginya.” Kakek Kim sepertinya kecewa karena cucunya belum pulang.

“Yesung, antarkan dongsaengmu pulang.” Titah Appa.

“Kamu pasti sengaja untuk kaburkan? Agar tidak bertemu dengan calon suamimu?” tanya Yesung oppa saat kami menuju mobil.

“Oppa ini sembarangan menuduh, coba saja kalau kau menjadi aku yang setiap bulan harus kedatangan tamu.”

“Pasti hanya alasanmu saja,” dia tidak percaya.

“Oppa ini menyebalkan sekali,” ucapku saat memasuki mobil.

Tanpa sadar ada seorang namja yang menatap kepergianku, aku melihatnya dari kaca spion, mungkin dia sudah melihatku sebelum masuk mobil. Sayangnya aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena Yesung oppa mengendarai mobil cepat sekali seperti kebiasaannya.

*        *        *

“Gyu kenapa seminggu ini kamu murung? Ada masalah?” tanya Donghae.

“Aniyo.”

“Jangan bohong, aku tahu kamu ada masalah. Kita kan sudah berteman sejak kecil, jadi aku tahu kalau kamu sedang ada masalah. Ayo ceritakan.”

“Ayolah Gyu,” Minzy mendesak.

“Kakek Cho tiba-tiba sakit,” kataku.

“Trus??” Minzy sangat ingin tahu dengan kelanjutan kata-kataku.

“Jadi rencana pernikahanku dimajukan, dan itu seminggu lagi.”

“Apa??? Seminggu lagi?” Donghae dan Minzy sama-sama shock mendengar ceritaku. Jangankan mereka, aku saja pingsan saat Appa dan Eomma bilang hari pernikahanku. Aku hanya meratapi nasibku yang harus dinikahkan paksa dengan orang yang tidak aku cintai.

“Dan sekarang aku masih belum melihat wajah calon sumiku, namanya saja aku tidak tahu.”

“Mwo??? Kamu belum melihat sama sekali? Dan namanya pun kamu belum tahu? Bagaimana bisa??? Bagaimana kalau seandainya dia jelek, atau kepalanya botak, atau dia kumisan.” Minzy shock sendiri dengan fantasinya tantang calon suamiku. Donghae mencubit Minzy karena tidak enak denganku.

“Apa kamu tidak pernah diajak untuk perkenalan dengannya?” tanya Donghae.

“Pernah, tapi pada waktu itu tiba-tiba aku haid dan aku memutuskan untuk pulang lebih cepat sehingga tidak sempat bertemu dengannya.”

“Sekarang bagaimana dengan Kyuhyun oppa? Apa kamu akan melupakannyaa?” tanya Minzy.

“Sudah aku putuskan, aku akan mengatakan perasaanku kepadanya.”

“Wow, tak kusangka kamu seberani ini. Aku akan mendukungmu Lee Gyuri, ya kan Minju?” Minzy mencubit perut Donghae karena ia tidak suka dengan pangilan Minju.

  • ·        ·

Aku menyeret Kyuhyun ke bawah pohon belakang gedung music. Ia heran saat aku membawanya kemari.

“Ada apa?” tanyanya.

“Malhage isseo.”

“Apa?” Tiba-tiba saja aku menjadi gemetaran. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Aku perlu banyak keberanian untuk menagatakan ini. Ia masih menungguku dengan sabar.

“Oppa, jeneun dangsineul joahaeyo. Saranghaeyo.” Akhirnya aku mengatakannya juga, ini termasuk aksi paling ekstrimku dengannya. Menyatakan perasaan padanya? God!!! Aku ingin rasanya pingsan karena aku sangat malu. Aku tak berani mengangkat wajahku untuk menatapnya yang lebih tinggi 10 cm dariku. Dia diam, mungkin dia shock. Tapi yang jelas aku tak mau melihat wajahnya, akhirnya aku memutuskan pergi meninggalkannya tanpa melihat ekspresinya saat aku meyatakan cinta. Agggghhhh… rasanya aku ingin ditelan bumi.

Aku merutukki diriku sendiri dibawah pohon, andai saja sekarang ada cermin, maka aku akan bisa melihat wajah merahku. Yaampun aku masih malu sekarang, sangat malu.

“Gyu, rupanya kamu disini? Aku mencarimu, kenapa kamu lari?” Kyuhyun tiba-tiba duduk di sebelahku. Rasanya aku benar-benar ingin pingsan, aku segera menundukan wajahku tak mau melihat wajahnya. “Aku sangat senang atas ucapanmu tadi.” Katanya.

“Aku hanya ingin berkata jujur sebelum semuanya terlambat. Oppa, muleomulge isseo?”

“Ne.”

“Pernahkah Oppa melakukan sesuatu demi orang yang Oppa sayangi bahkan rela mengorbankan perasaan dan kepentingan sendiri?”

“Pernah, aku pikir Tuhan sangat tidak adil karena bukan itu yang kumau sampai-sampai aku harus berkorban perasaanku sendiri, tapi ternyata dibalik  semua itu, ternyata rencana Tuhan sangatlah indah untukku. Wae?”

“Aniyo. Aku hanya bertanya saja. Ya-sudah, aku harus masuk kelas dulu.” Ucapku kemudian meninggalkannya sendirian.

  • ·        ·

Hari ini hari pernikahanku. Bukan hari yang aku tunggu, bahkan aku benci hari ini. Aku hanya pasrah saja saat mereka mendandaniku, parahnya sampai hari inipun aku masih belum melihat calon suamiku. Aku pernah bertanya kepada Eomma siapa nama calon suamiku, dan dia sekolah di mana? Tapi Eomma cuma bilang ‘nanti kamu tahu sendiri, tunggu saja saat hari pernikahanmu, kamu pasti suka.’ Aku coba bertanya dengan Appa dan Yesung oppa, lagi-lagi jawaban mereka hampir sama. Yang benar saja??? Masa sampai sekarang aku belum pernah melihat wajahnya walaupun dalam foto? Bahkan namanya saja aku tidak tahu. Ini mengerikan bagiku. Yang aku tahu, pangilannya adalah Hyunie, mungkin itu hanya panggilan kesayangan saja.

Aku melihat diriku di cermin saat mereka selesai mendandaniku. Gaun putih yang mewah dengan aksen pita besar di belakang dan berpotongan punggung terbuka serta perhiasan yang mewah melingkar di leher, dan bergantungan di telingaku, aku merasa seperti seorang putri sekarang. Dulu aku berharap suatu hari nanti aku akan memakai gaun putih dengan senyum bahagia saat hari pernikahanku, tapi sekarang? Aku benar-benar tidak bisa tersenyum sekarang. Rasanya aku ingin kabur sekarang. Kabur??? Bukan kah itu ide bagus???

Aku melihat sekitarku, tampaknya mereka begitu sibuk, ini kesempatan bagus untukku lari. Tapi saat aku melangkahkan kaki keluar dari kamar hotel tiba-tiba saja sebuah suara yang kukenal mengagetkanku.

“Gyu, kamu mau kemana?” tanya pemilik suara itu, aku menoleh. Itu Eomma.

“Gyu… Gyu… ingin menemui Yesung oppa sebentar.”

“Oh, baiklah, tapi nanti kembali kemari lagi ya.”

“Baiklah Eomma.” Aku segera melakukan aksi kaburku. Aku mengendap-endap dengan susah payah karena gaun pengantinku sangat berat. Aku melihat keluarga dekatku, beberapa teman dekat Appa, dan mungkin kerabat dari Kakek Cho sedang membaur sebelum acara di mulai. Aku juga melihat beberapa teman-teman sekolahku yang datang termasuk Minzy dan Donghae yang berpakain rapi dengan gaun dan tuxedo mereka.

“Pernikahan aja udah mewah kayak gini, apalagi resepsi besarnya nanti malam.” Komentarku dalam hati saat aku sengaja mengintip tempat pernikahanku. Aku sebisa mungkin keluar dengan mengendap-endap dan berlari secapat mungkin memasuki lift. Finally, aku berhasil keluar dari hotel, mau kemana aku sekarang? Ke rumah? Tidak mungkin, pasti mereka dengan cepat menemukanku. Aku ingin menghentikan taksi tapi kuurungkan niatku, karena sekarang aku tidak membawa uang dan yang kubawa hanya ponselku saja. Akhirnya aku memutuskan untuk lari saja, kuangkat gaunku yang lebar agar memudahkanku untuk berlari. Dan satu lagi pertanyaan bodoh, kenapa sekarang aku menggunakan high heels??? Ini mempersulit lariku.

Entah sudah berapa ratus meter aku berlari dengan gaun yang berat dan high heels serta tatapan aneh dari orang-orang yang melihatku. Aku berhenti sejenak di jembatan penyebrangan jalan dan membiarkan sebagian dari tubuh dan punggungku diterpa sinar pagi. Aku melihat ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang lewat sambil mengatur napasku. Orang-orang yang lewat menatapku aneh, aku tidak memperdulikan mereka.

Lagu sorry sorry mengalun di ponselku, sebuah panggilan dari Yesung oppa. Pasti mereka sudah menyadari aku melarikan diri.

“Yeoboseo.”

“Gyu!!!!!!” Suaranya memekakan telingaku. “Kamu dimana sekarang?? Semua cemas mencarimu.”

“Gyu tidak peduli!!! Gyu ingin mati saja dari pada di jodohkan!!!”

“Mwo??? Jangan berkata tolol, kamu sekarang di mana??? Oppa akan menjemputmu.”

‘Klik…’ aku menutup telpon kemudian memencet tombol nonaktif. Sekarang kemana aku harus lari??? Aku masih menatap mobil-mobil yang terus hilir mudik di bawahku.

“Gyu!!!” Teriak seorang namja, aku menoleh kearah suara. Aku tidak percaya, itu Kyuhyun!!!! Bagaimana ia bisa menemukanku??? Ia mengayuh sepedanya lebih cepat dan berhenti dengan nafas yang tersengal, aku tahu pasti dia mengendarai sepeda dengan cepat sekali. Ia terlihat sangat tampan dengan tuxedonya, berbeda saat ia mengenakan jas sekolah.

“Oppa???”

“Ayo ikut aku, semua cemas mencarimu, apalagi Eommamu.” Dia menarik tanganku, aku menarik tanganku kembali. Ia menatapku.

“Aku tidak mau kembali kesana.”

“Kenapa??? Calon suamimu pasti panik.”

“Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai, bahkan belum pernah aku lihat. Oppa, bawalah aku pergi sekarang, kemanapun Oppa mau, please…” aku memohon padanya, air mataku mulai menetes.

“Aku akan membawamu kembali ke hotel.” Ucapnya mengecewakanku.

“Kalau begitu pergilah, biarkan aku sendiri. Apakau tega melihatku begini? Aku tidak pernah mencintainya, aku hanya mencintai oppa. Apa Oppa juga mencintaiku?”

Ia terdiam sejenak… “Ne. Saranghaeyo.”

“Bawalah aku pergi sekarang, kemanapun asal jangan kembali ke hotel. Apa Oppa tega melihatku menderita menikahi namja yang tidak aku cintai? Pernikahan dini ini sudah mimpi buruk bagiku, tapi lebih buruk aku menikahi orang yang tidak aku cintai.”

“Kembalilah ke sana, Tuhan pasti merencanakan sesuatu yang indah untukmu.” Aku semakin kecewa mendengar jawabannya, jika ia mencintaiku juga seharusnya ia membawaku pergi. Dan tidak membiarkanku menikahi orang lain. Air mataku semakin mengalir deras.

“Kalau begitu pergilah, aku tidak mau melihat Oppa lagi. Aku hanya berharap aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai. Pergilah sekarang.” Aku membalikan badan dan pergi sambil menangis.

“Gyu! Tunggu.” Teriaknya, aku tak menghiraukannya dan mempercepat langkahku. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

“Jangan pergi,” katanya. Aku masih diam, air mataku jatuh. Ia membalikan badanku dan mengangkat wajahku untuk menatapnya. Ia memeluku lagi, lebih erat.

“Sebenarnya akulah pria itu, akulah calon suamimu.” Katanya yang membuatku kaget, aku melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya.

“Maksud oppa? Oppa adalah cucu Kakek Cho??? Oh iya ya, Cho kan marga oppa, babo.” Ia mengangguk, aku senang dan tak percaya.

“Aku sengaja menyuruh Kakek jangan mempertemukan aku denganmu, dan juga minta kepada Kakek dan keluargamu agar jangan memberitahukan identitasku sebelum hari pernikahan. Aku hanya ingin memberi kejutan padamu. Awalnya aku juga menolak keras pada Kakek tentang perjodohan itu, makanya hari itu aku mengajakmu ke toko buku karena ingin menghindari pertemuan itu dan ternyata kau tidak bisa menemaniku. Tapi setelah aku pulang dan melihatmu dari rumahku, aku baru tahu kalau wanita yang di jodohkan kakek denganku ternyata itu kau. Aku sangat senang karena dari dulu aku meyukaimu tapi tidak pernah berani untuk mendekatimu. Apalagi saat aku mengajarimu Matematika, aku selalu deg-degkan kalau dekat denganmu. Dan saat kau menyatakan cinta di sekolah, aku sangat senang sampai-sampai akau tidak tahu harus berkata apa.” Aku shock, senang, bahagia, seakan semua bebanku selama ini menguap begitu saja setelah mengetahui kebenarannya. “

Air mataku jatuh lagi, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena kebahagiaan. Ternyata calon suamiku adalah Cho Kyuhyun, orang yang aku cintai.

“Oppa jahat sekali membiarkanku stress berminggu-minggu karena perjodohan ini, bahkan rasanya aku ingin bunuh diri.” Dia memelukku erat, aku tersenyum.

“Kim Gyuri, please be my bride.”

Aku mengangguk. “Oppa, tapi aku ingin kau melamarku dulu.”

“Baiklah.” Ia mengeluarkan ponselnya dari kantongnya, aku bingung dengan yang ia lakukan, apakah ia akan menelpon???

…Love oh baby my girl

Geudaen naui juhnbu nunbushige areumdawoon

Naui shinbu shini jushin suhnmul

Haengbokhangayo geudaeui ggaman nunesuh nunmuri heureujyo

Ggaman muhri pappuri dwel ddaeggajido

Naui sarang naui geudae saranghal guhseul na maengsehalgeyo

Geudaereul saranghandaneun mal pyuhngsaeng maeil haejugo shipuh

Would you marry me? Nuhl saranghago akkimyuh saragago shipuh

Geudaega jami deul ddaemada nae pare jaewuhjugo shipuh

Would you marry me? Iruhn naui maeum huhrakhaejullae?…….

 

Lagu Marry U dari Super junior mengalun dari ponselnya.

“Ini lagu kesukaanmu kan?” tanyanya, aku tersenyum. “Kim Gyuri, would you marry me? Menikahi Cho Kyuhyun yang telah membuatmu stress berminggu-minggu dengan perjodohan ini?”

“Yes, I do. Aku bersedia menikahi Cho Kyuhyun yang berhasil membuatku stress berminggu-minggu dan menyebabkan jerawatku bermunculan.”

“Saranghaeyo.” Ucapnya dan memelukku.

“Saranghaeyo,” balasku.

“Sekarang kamu maukan aku bawa kembali ke hotel? Appa dan Eommamu pasti sangat cemas.” Aku mengangguk.

“Sekarang naiklah, aku akan memboncengmu.” Kali ini aku tidak ragu lagi untuk memeluk erat pinggangnya. Inilah sejak dulu hingga sekarang salah satu alasanku menyukainnya, aku menyukainnya dengan kesederhanaannya. Sebagai cucu Kakek Cho yang sangat kaya raya, mungkin saja ia bisa membeli berapapun mobil mahal yang ia inginkan, tapi Kyuhyun lebih suka dengan sepeda kesayangannya dari pada sebuah mobil mahal.

  • ·        ·

Sesampainnya kami di hotel, Yesung oppa menyambutku dengan senyumnya dan langsung memelukku.

“Kamu kemana saja? Kami semua sangat cemas, aku takut kamu melakukan hal yang bodoh. Jika aku terlahir sebagai perempuan, aku rela menggantikan posisimu. Aku tidak mau kau menderita seperti ini.” Pelukan Yesung oppa sangat erat sekali seakan kami baru bertemu setelah berpisah selama sepuluh tahun. Aku baru tahu, kalau oppa juga sangat menyayangiku di balik sifat jahilnnya.

“Oppa aku tidak akan melakukan hal bodoh. Bisakah Oppa melepaskanku? Oppa merusak tatanan rambutku, dan aku ingin tampil cantik di hadapan suamiku nanti saat menikah.” Yesung oppa melepas pelukannya dan melihatku dengan tatapan tidak percaya.

“Gyu apakah kamu gila? Kemaren kamu nangis-nangis curhat dengan oppa kalau kamu tidak mau menikah, sekarang?”

“Oppa, di balik rencana Tuhan itu sangat indah.” Ucapku tersenyum bahagia.

“Gyu!!!” Eomma memanggilku dan memelukku.

“Kamu kemana saja nak? Appa dan Eomma panik sekali mencarimu. Lihat dandananmu kacau sekali.”

“Eomma, aku baik-baik saja, aku tadi hanya menenangkan pikiranku. Sekarang aku akan menikah, jadi Gyu ingin merapikan dandanan.”

“Ayo sekarang kita masuk, setengah jam lagi acara dimulai.” Yesung oppa merangkul aku dan Eomma masuk.

  • ·        ·

Aku sangat deg-degkan sekali saat menghadapi pintu di depanku, Appa mengecup keningku.

Sambil menunggu, aku mengaktifkan ponselku, entah kenapa ponsel ini masih ada di tanganku. Saat diaktifkan, terdapat 20 SMS, itu dari Kyuhyun, Yesung oppa, Minzy, Eomma, Donghae dan Appa. Aku membaca satu persatu, SMSnya kebanyakan menanyakan keberadaanku, mungkin mereka mengirimnya saat aku melarikan diri. Tapi ada satu SMS yang membuatku tersenyum, SMS dari Minzy.

‘Gyu, aq bru thu kalau ternyata clon suamimu itu Kyuhyun oppa. Aku hmpir pingsan mndengarnya.Tpi kamu psti sngat senang.^^’

“Gyu, sini biar Appa simpan dulu ponselmu.” Aku menyerahkannya, Appa memasukan kedalam saku kantongnya.

“Appa, gomawo.” Bisikku, Appa tersenyum.

Tiba-tiba pintu di depanku terbuka lebar, semua orang di ruangan itu menatapku takjub, mars wedding menggema. Aku melangkah dengan angun di damping Appa di sampingku, aku erat memegang lengan Appa dan tersenyum pada tamu yang melihatku. Kulihat Minzy dan Donghae tersenyum melihatku, aku membalas senyum mereka. Seseorang yang aku cintai berdiri di ujung jalan, berdiri mantap dengan tuxedonya sambil tersenyum. Itu senyum favoridku selama ini. Bunga-bunga yang di taburkan gadis bunga mengantarku ke arah namja yang aku cintai. Dia Cho Kyuhyun. Namja yang kusukai… Namja yang aku cintai dengan segala kesederhanaannya.

-THE END-

3 responses »

  1. Happy ending………Aku jg mau d jodohin, kalo pngantin pria.a kyu *PLAK/ngarep*
    OMO…….gmn wjh yesung oppa kalo jd prempuan *cengengesan sndiri*
    aku suka couple minzy ma donghae *mrka bdua lucu* btw mrka bdua pacaran ga ceh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s