The Doctor and Me

Standar

Author                  : babyhae

Berapa lama aku diam di sini, aku juga tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Aku tidak yakin ingin keluar dari tempat ini. Aku merasa inilah tempat yang paling nyaman untukku sekarang. Sesaat tadi, menabrakkan diri ke bus atau truk memang menjadi ide paling menggiurkan kalau saja aku tidak ingat masih ada orang yang harus kumintai maaf. Orang yang terus-menerus membuatku berpikir bahwa aku ini bukan korban. Akulah pelakunya. Aku membuatnya masuk ke tempat itu. Diam di sana tanpa bisa melakukan apapun. Tidak untuk makan, berbicara, bahkan untuk tersenyum.

Dia memang mengganggu, sangat mengganggu. Dia membuat hidupku tidak nyaman. Aku menolak siapapun untuk masuk dalam hidupku, terutama dalam hatiku. Tapi entah kenapa, senyum tulusnya membuatku lupa dan memberinya pengecualian. Dia mengubah segalanya. “Memang ada yang salah dengan tersenyum?” “Ayolah! Kau kan tidak pernah mencoba. Tersenyumlah!” bujuknya setelah aku hanya terdiam atas semua humor jaman bahula-nya itu. Ya ampun, demi Tuhan, dimana dia belajar semua itu? Bagaimana bisa orang tertawa hanya dengan pertanyaan, “Lele apa yang ada di pinggir jalan?”

Setiap hari dia, dengan senyum lebar dan tawa khas anak-anaknya, mengganggu hariku. Kuakui, hari-hariku tidak lagi suram. Well, okay, entah sejak kapan, kuakui dia menjadi alasanku untuk bangun pagi. Dulu aku merutuki setiap kalimat pujian di novel-novel yang kubaca. Cih! “Kaulah alasanku tetap hidup!” Kukira itu hanya karangan penulisnya. Sampai beberapa menit lalu, kalimat itu terngiang di otakku. Dialah alasanku tetap hidup.

Dia tampan? Ahahahaha *hei, aku bisa tertawa* menurutku dia tampan. Sangat tampan. Pria paling tampan yang pernah kukenal. Baiklah, itu berlebihan, mengingat dia adalah pria pertama yang kukenal secara langsung. Aku ini bukan lesbi. Aku normal kok. Hanya saja aku tidak pernah ingin jatuh cinta. Tidak ada orang yang akan mencintaiku, jika kulihat dari sudut pandangku. Entah sudut PANDANG yang mana.

“Kau ingat? Ini tempat kita bertemu pertama kali lho,” ujarnya riang dan kusambut dengan gerutu pelanku. Bagaimana aku bisa mengingat. Hey! Kau menyindirku! “Aku tidak menyindirmu,” jawabnya santai seolah bisa menjawab semua keluhan di otakku. Aku baru tahu, pria ceria, tampan, dan menyebalkan ini juga bisa membaca pikiran. “Aku tidak bisa membaca pikiran kok. Hanya saja, semua yang kau pikirkan itu terlihat jelas di wajahmu. Aku heran, kenapa semua orang bilang kau itu unpredictable. Menurutku, kau ini seperti buku yang terbuka. Mudah sekali dibaca.” Kalimatnya ini sampai sekarang menjadi salah satu kalimat yang paling aku ingat. Tidak banyak kalimatnya yang bertahan di memoriku, mengingat dia sangat cerewet. Dia bisa bicara nonstop dua jam dengan topik yang random. Dari anjingnya sampai pantai, dari Appanya sampai kakaknya, dari masa bayinya –entah darimana dia tahu itu semua dengan begitu yakin- sampai sehari sebelum pertemuan pertama kami.

Sejak kapan aku menangis. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Kalimat tidak pentingnya, humor tidak lucunya, tawa lepasnya, senyum manisnya, pegangan tangannya, kehadirannya sebagai alasanku untuk bertahan hidup, dan semangatnya. Aku merindukannya. Seandainya bisa, aku rela menggantikan tempatnya. Biarlah aku yang ada di sana. Toh aku juga tidak punya apapun lagi untuk disayangkan. Aku hanya punya dia. Seandainya waktu itu aku tidak kabur. Seandainya waktu itu aku tidak sembarangan berjalan. Seandainya waktu itu aku mendengarkan semua nasehatnya. Seandainya aku mau menerima kenyataan bahwa aku membutuhkannya.

“Shinmi-ssi! Kau di sini?!” tiba-tiba beberapa suara kudengar dan langkah kaki semakin dekat dari tempatku. Aku semakin meringkuk. Aku tidak ingin ditemukan. “Shinmi-ssi!” mereka masih mencariku. Mereka tidak menyerah. Untuk apa aku keluar? Aku tidak punya alasan. Aku tidak siap dibenci. Aku terlanjur mencintainya.

“Shinmi-ssi. Dia sadar. Dia mencarimu!” teriak suara itu lagi dan sukses membuatku tersentak. Dia sadar? Dia mencariku? Kenapa? Bukankah dia harusnya membenciku? “Shinmi-ssi, kau di sini? Ternyata benar!” teriak suara itu. Aku ditemukan. “Dia yang memberitahuku, kau ada di sini. Dia mencarimu, Shinmi-ssi. Dia memanggil namamu terus dari tadi,” katanya lembut.

Kuulurkan tanganku dan dia menyambutnya kemudian membantuku keluar dari lubang itu. Lubang pipa ini memang bukan tempat yang luas dan cenderung sempit untuk orang seusiaku. Aku tidak tahu lagi bagaimana rupaku. Aku bahkan tidak peduli. Yang aku tahu, dia mencariku. Alasanku tetap hidup sedang mencariku, sedang memanggilku, sedang menungguku. Terseok-seok aku berusaha berjalan secepat mungkin. Namun, hanya beberapa langkah dan aku terjembab. Semuanya gelap. Ah, ini sudah malam rupanya. Hampir setengah hari sepertinya aku bersembunyi, mengutuk diriku, sambil berdoa agar Tuhan mau berbaik hati untuk mengembalikannya. Aku tidak pernah berharap untuk diriku karena aku tahu itu tidak akan berguna. Aku tidak pernah berdoa karena aku marah, mungkin. Tapi untuk kali ini aku berharap, aku berdoa agar dia bisa bertahan. Aku rela dia membenciku bahkan melupakanku, menghapusku dari hidupnya asal dia masih bisa tertawa. Karena aku tahu, tidak akan ada bedanya bagiku. Tapi bagi keluarganya dan semua yang mengenal dia, tawanya berguna. Tawanya yang membuat semua orang bahagia.

“Pelan-pelan saja Shinmi-ssi. Dengan kondisinya, dia tidak akan kemana-mana kok,” gurau orang itu. Ingin rasanya aku menampar wajah wanita itu. Bagaimana mungkin dia masih bisa bercanda sedangkan aku panik dan dilanda rasa bersalah dan dia baru saja menang berjuang melawan malaikat pencabut nyawa?! Wanita sialan!

“Shinmi….” panggilnya dengan suara yang lemah. Kontras sekali dengan suara lantang dan nada ceria bersemangatnya yang biasa membuatku kesal dan nyaman di saat yang bersamaan. Pelan-pelan aku mendekat ke arahnya, berusaha tidak menabrak apapun atau melukainya. Aku sudah cukup melukainya.

“Shinmi. Aku senang kau masih hidup. Tidak! Aku bahagia kau masih mau bertemu denganku,” katanya lagi sambil memegang tanganku. Oh Tuhan, aku bahkan hampir membunuhmu. Tidakkah kau sadar, aku yang membuatmu terbaring seperti ini? Tidakkah kau sadar bahwa harusnya kau membenciku dan bukannya memanggil namaku?

“Shinmi. Jangan pergi lagi. Kumohon. Jadikan aku alasanmu untuk tetap hidup,” dan di sanalah aku dengan air mata yang keluar dan tampang yang aku yakin berantakan balas menggenggam erat tangannya yang hangat. “Jangan menangis. Kumohon. Aku juga bisa menangis kalau kau begini. Tolonglah,” pintanya lemah. Kuraba wajahnya dengan tanganku yang bebas. Dia….menangis. Lee Donghae, dokterku, menangis.

“A…a..aku buta, dokter.” Dari sekian banyak hal yang ingin kukatakan, entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulutku. “Kau bicara? Shinmi? Kau akhirnya bicara?” bisa kurasakan dia terkejut. Aku, sejujurnya juga terkejut.

Yah, aku buta. Appa Eommaku bertengkar. Appa menampar Eomma dan Eomma membalasnya dengan melemparkan vas bunga. Tapi itu meleset dan mengenai jendela rumah kami. Sedetik kemudian aku meraung-raung di ruang keluarga rumah kami. Pecahan kaca jendela itu melukai kedua mataku dan membuatku buta. Aku benci mereka. Saling mencintai? Mencintai di bagian mana? Di bagian aku mencintaimu dengan menamparmu dan kau juga mencintaiku dengan membuat anak kita buta! Aku benci cinta. Aku benci orang yang tertawa. Aku tidak pernah bisa melihat seperti apa mereka tertawa. Aku BUTA.

Aku akhirnya masuk ke rumah sakit ini demi mendapatkan donor mata. Dialah dokterku yang baru. Lee Donghae. Dokter muda yang baru saja bangga memegang jabatannya sebagai dokter spesialis mata. Dia dokter yang ditugaskan menanganiku. Tapi sepertinya dia tidak hanya menangani mataku, tapi juga mental dan hatiku. Setiap hari aku tidak pernah tersenyum, tertawa, atau bahkan berbicara. Aku tidak pernah bicara sejak kejadian pembuktian cinta Appa dan Eommaku. Tapi dia tidak pernah menyerah. Dia membawaku jalan-jalan ke semua tempat indah, menurutnya karena menurutku semuanya sama, GELAP. Dia tidak pernah mengijinkanku memakai tongkatku. Sebagai gantinya, dia menuntunku. Tidak, dia menggandengku, membisikkan jalan mana yang bisa kulewati dan yang harus kuhindari, menceritakan apa saja yang kami lewati, dan melontarkan humor jaman bahulanya itu. Dia membantuku mengetahui seberapa tampannya dia –versinya- dengan meletakkan tanganku di wajahnya. Baiklah, sekali lagi kuakui dia tampan. Dia jugalah yang mengajarkanku hal-hal yang tidak pernah ingin kulakukan. Tersenyumlah, tertawalah, menangislah, teriaklah, buat semua orang tahu apa yang kau rasakan. Orang tidak akan pernah tahu kalau kau tidak memberitahu mereka. Dengan hidup menyendiri, semua tidak akan berjalan dengan lebih baik. Dia juga telah mengajarkanku untuk menerimanya, sebagai alasanku bertahan hidup meskipun semuanya gelap.

“Dokter, aku minta maaf. Seandainya aku tidak….” aku tidak sanggup meneruskan kalimatku. Aku tidak sanggup mengucapkan kalimat perpisahanku. “Seandainya kau tidak apa? Tidak kabur dan nekat menyeberang jalan?” aku hanya mengeratkan genggaman tanganku. “Sudah kubilang, jangan pergi dariku. Aku tidak rela. Kau keras kepala. Lagipula, aku tidak akan mati, aku belum sempat memarahimu. Kau ini, lain kali jangan sembarangan menyeberang jalan!” dia memarahiku seenaknya padahal aku yakin dia kesakitan. “Sembarangan atau tidak, tidak ada bedanya dokter. Aku tetap tidak bisa melihat apapun.” “Kau tahu? Kau itu perempuan paling keras kepala yang pernah kutemui, setelah eommaku. Tapi aku bersyukur, setidaknya berkat keras kepalanya, aku bisa lahir.”

“Maaf, Dokter Lee, tapi kami harus memeriksa Anda.” Tiba-tiba seorang dokter memasuki ruangan ini diikuti beberapa orang, yang aku yakin itu pasti perawat tapi aku tidak yakin berapa orang jumlah mereka.

“Ya! Park Jung Soo! Formal sekali kau!” sergah Dokter Lee berusaha memarahi dokter itu dengan sisa tenaganya. “Baru sadar saja kau galak, Hae. Aku ini masih hyung-mu,” jawab Dokter Park geli. “Iya, Hyung. Tapi, biarkan Shinmi di sini,” pintanya dan Dokter Park menyanggupinya.

“Kau baik-baik saja, Hae. Istirahat beberapa hari, dan kau bisa pulang. Tapi jangan bekerja dulu. Kau butuh waktu untuk sembuh. Dan untukmu, Nona, kau butuh mandi.” Kata dokter Park. Kalimat terakhir yang ditujukannya padaku diikuti dengan tangannya yang mengacak rambutku gemas. Dia dokterku sebelum Lee Donghae bertugas di rumah sakit ini.

———–

“Dokter, apa kau sedang tersenyum?”

“Iya, Shinmi. Aku tersenyum. Kau tahu, sekarang semuanya sempurna. Ah, sudah lama aku ingin ke tempat ini, duduk di kursi ini, dan menghabiskan waktuku dengan ngobrol. Terimakasih, sudah mengabulkan semuanya, Shinmi,” jawabnya ceria. Nada hangatnya tidak berubah. Sekalipun aku pernah membuatnya sesaat kehilangan itu semua, tapi dia tetap saja hangat. “Kau akan baik-baik saja, Shinmi. Percayalah padaku. Kau akan baik-baik saja. Tersenyumlah, dan kau akan merasa bahagia. Aku janji padamu,” sambungnya dan aku langsung yakin. Dokterku tidak pernah bohong. Dia tidak pernah mengingkari janjinya.

-Shinmi, annyeong!! Kaulah pasien pertamaku. Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu seperti orang lain. Aku janji padamu.-

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s