The Desire of a Man . . . (Epilog Part2)

Standar

Annyeong chingudeul…

Mian ya posting The Desire of a Man Epilog part 2nya agak ngaret. Hehehe… kemarin2 keasikan ngetik lanjutan Protected Brother jadi lupa sama FF ini. Oke, selamat membaca. Jangan lupa komentnya ya? ^^

 

“Huek… Huek… Huek…” Kyuhyun berlari menuju wastafel yang ada didapur dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Sunha menyusul Kyuhyun dengan panik. “Huek… Huek… Huek…”

“Kyu, gwaenchana?” Sunha bertanya sambil memijat-mijat belakang tengkuk leher suaminya itu.

Setelah berhenti muntah, Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Sunha. “Aku tidak apa-apa, mungkin hanya masuk angin saja. Kau tau kan belakangan ini aku sering tidur larut malam mengerjakan tugas Seminarku.”

“Kau yakin? Apa tidak sebaiknya kita ke dokter?” Sunha masih mencemaskan keadaan Kyuhyun.

“Jagi, kau terlalu berlebihan. Tenanglah, aku tidak apa-apa.” Ujar Kyuhyun berusaha menenangkan Sunha.

“Makanya jangan sering tidur larut malam, nanti kau bisa sakit.” Ucap Sunha mengambil tissue untuk membersihkan mulut Kyuhyun.

“Ne, arraseo. Ayo kita berangkat ke Kampus!” Ajak Kyuhyun menggenggam tangan istrinya. Ya, mereka selalu berangkat dan pulang kuliah bersama sejak menikah.

~~~~~~~~~

Saat jam makan siang….

Kibum berlari tergesah-gesah tanpa memperdulikan berapa banyak orang yang telah ditabraknya sepanjang koridor kampus, dia mencari-cari kelas jurusan Seni. Sesampainya di depan kelas jurusan Seni, Kibum segera mencari seseorang dikelas itu. Namun yang dicari sepertinya tidak ada, dia pun bertanya pada salah satu mahasiswi yang ada disana. “Maaf permisi, apa kau tau Sunha ada dimana?”

“Suhna… maksudmu Cho Sunha?”

“Ne, aku mencarinya sejak tadi.”

“Sepertinya Sunha ada dikantin.”

“Kalau begitu terimakasih,” Ujar Kibum singkat lalu berlari lagi menuju Kantin.

~~~~~~~~~

Dikantin sunha dan teman-temannya sedang makan siang bersama. Biasanya Sunha selalu makan siang bersama Kyuhyun, tapi karna Kyuhyun bilang hari ini ingin membantu mengerjakan tugas kuliah Kibum, Sunha pun memutuskan makan siang bersama teman-temannya.

“Sunha!!!” Seseorang berteriak memanggil namanya. Sunha segera menoleh dan menemukan Kibum sedang berlari mendekatinya.

“Annyeong Kibum-ah.” Sapa Sunha ramah.

“Aku sejak tadi mencarimu kemana-mana….” Ujar Kibum dengan nafas yang tersengal-sengal karena sejak tadi dia terus berlari.

“Mencariku? Tumben…ada apa?”

“Suamimu… Kyu-Kyuhyun…” Kibum masih sulit berbicara.

“Kibum-ah, kau bicara tidak jelas. Atur dulu nafasmu. Kyuhyun kenapa?”

Kibum mengatur nafasnya sejenak lalu meneruskan kata-katanya yang terputus tadi. “Kyuhyun, muntah-muntah ditoilet.” Ujar Kibum pada akhirnya.

“Mwo?!”

“Iya, suamimu tadi mengeluh perutnya terasa tidak enak. Kemudian Kyuhyun berlari ke toilet lalu muntah tak berhenti-henti. Aku panik dan langsung pergi mencarimu.”

“Jincha?! Kibum-ah, dimana dia sekarang???”

“Kyuhyun masih ada ditoilet lantai 3.”

Tanpa memperdulikan apa-apa lagi Sunha langsung berlari ke toilet yang dibilang Kibum tadi. Perasaaan cemasnya bergema dalam hati, jantung Sunha berdegup sangat kencang.

Ketika hampir sampai didepan toilet yang hendak ditujunya, Sunha melihat Kyuhyun keluar dari dalam toilet dengan lunglai dan wajah yang pucat. Kyuhyun agak terkejut melihat kehadiran Sunha dihadapannya. Kyuhyun tersenyum simpul memberikan isyarat bahwa dia baik-baik saja kepada sang istri. Sunha mengerti dan langsung mendekati Kyuhyun.

“Sebaiknya kita pulang agar kau bisa istirahat.” Ujar Sunha singkat.

“Tapi Kibum…”

“Jangan membantah, wajahmu sudah pucat seperti ini masih ingin memaksakan diri juga?” Kyuhyun hanya diam mendengar perkataan Sunha. Sunha segera memapah tubuh Kyuhyun yang terlihat sangat lemas.

Sesampainya ditempat parkiran, Sunha meminta kunci mobil pada Kyuhyun. Kali ini dia yang mengendarainya berhubung Kyuhyun sedang lemas. Sepanjang perjalanan Kyuhyun hanya diam dan memejamkan matanya, namun tidak tidur. Tidak lama kemudian keduanya sampai di apartement yang mereka tinggali. Kyuhyun tidak banyak bicara, dia langsung berjalan menuju kamar untuk membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Sunha mengikuti Kyuhyun dari belakang, dia tidak ingin banyak tanya karna tau suaminya hanya akan mengatakan ‘gwaenchana’.

“Istiharatlah, akan ku masakan bubur untukmu.” Sunha mengecup singkat dahi Kyuhyun sambil menarik selimut menutupi tubuh suaminya. Kyuhyun mengangguk pelan.

Ketika membuka lemari es, Sunha baru menyadari kalau bahan makanan sudah habis. Sunha akhirnya memutuskan untuk pergi belanja bahan makanan terlebih dahulu di Supermarket terdekat.

~~~~~~~~~

Di Supermarket Sunha tidak mau berlama-lama, dia mengambil bahan-bahan rumah tangganya dengan cepat. Setelah membayar semua barang belanjaannya, Sunha segera pulang, ada perasaan tidak enak dalam hatinya.

“Huek… Huek… Huek… Huek… Huek… Huek…”

Saat membuka pintu apartementnya Sunha mendengar suara Kyuhyun yang sedang muntah-muntah lagi. Dengan cepat dia meletakkan barang belanjaannya disembarang tempat dan berlari menuju ke kamar. Sunha tidak menemukan Kyuhyun diranjang, dia mencari disekeliling ruangan. “Huek… Huek… Huek…”

Sunha menemukan Kyuhyun muntah dikamar mandi, terduduk didepan closet sambil memegangi perutnya.

“Ommo…Kyu!!! Gwaenchana???”

“Molla… perutku rasanya mual sekali…uugggghhh…”

“Sebaiknya kita kedokter ya?” Ajak Sunha sambil membantu Kyuhyun berdiri.

Sunha membawa Kyuhyun kerumah sakit terdekat, yang kebetulan saudara sepupunya menjadi dokter disana. Selama diperjalanan Kyuhyun terus-terusan memegangi perutnya, keringat dingin keluar bercucuran dari pelipis keningnya. Sunha menggenggam tangan Kyuhyun dengan rasa khawatir yang sangat amat besar.

Sesampainya dirumah sakit, Kyuhyun segera dilarikan keruang UGD. Dan yang menangani kondisi Kyuhyun adalah saudara sepupu Sunha yang bernama Lee Donghae. Selama 10 menit Sunha menunggu diluar ruang UGD menanti kabar kondisi sang Suami. Tidak lama kemudian Donghae pun keluar ruangan UGD menemui Sunha.

“Oppa, bagaimana keadaan Kyuhyun? Dia sakit apa?” Tanya Sunha yang tidak sabaran.

“Sunha tenanglah, ini rumah sakit.” Donghae menyuruh Sunha agar tidak terlalu berisik. “Aku belum bisa memastikan suamimu sakit apa, karna belum terlihat gejala-gejala penyakit tertentu.”

“Maksud oppa?”

“Iya, aku masih belum bisa memastikan penyakit apa yang ada di dalam tubuh Kyuhyun.”

“Bukannya Kyuhyun hanya masuk angin biasa?” Tanya Sunha lagi.

“Kurasa bukan. Kalau memang hanya masuk angin biasa dia tidak akan muntah-muntah sampai seperti ini.”

“….” Sunha terdiam beberapa saat.

“Sebaiknya kita lakukan cek kesehatan Kyuhyun, aku takut ada suatu penyakit didalam tubuhnya seperti gagal ginjal.”

“Mwo?!”

“Itu baru sekedar asumsiku saja. Makanya kita harus mengecek kesehatnya terlebih dahulu agar bisa memastikan Kyuhyun sakit apa, sehingga kita bisa menanggulangi penyakitnya sejak dini. Jangan takut, aku yakin Kyuhyun akan baik-baik saja.” Ujar Donghae meyakinkan Sunha. Dia tau Sunha pasti akan sedih sekali jika sampai Kyuhyun menderita sakit parah.

“Ne, oppa lakukan saja yang terbaik untuk Kyuhyun.”

“Baiklah, aku akan melakukan pemeriksaannya sekarang. Kau tunggu disini ya?”

Sunha mengagukkan kepalanya cepat.

~~~~~~~~~

1 jam kemudian Donghae keluar dari ruang UGD, dia menghampiri Sunha yang masih setia menanti. “Pemeriksaannya sudah selesai.”

“Lalu hasilnya bagaimana?”

“Untuk hasilnya baru bisa kita lihat besok.”

“Kyuhyun…”

“Suamimu tertidur didalam saat pemeriksaan, sepertinya dia kelelahan sekali.”

“Oppa, apa boleh aku masuk?”

“Tentu saja boleh, tapi jangan berisik ya? Biarkan Kyuhyun istirahat, nanti kalau dia sudah bangun, kalian baru boleh pulang.”

“Gomawo, oppa.” Ujar Sunha sambil membungkukkan badannya dihadapan Donghae.

“Aish… kau ini formal sekali. Kita kan saudara sepupu, jadi tidak usah sungkan.” Donghae mengacak rambut Sunha dengan lembut. “Aku tinggal ya. Masih ada pasien yang harus aku tangani. Ini resep obat untuk Kyuhyun.” Donghae menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat ke Sunha lalu pergi meninggalkannya sendirian.

Sunha masuk kedalam ruangan dimana suaminya tergeletak lemah. “Kyu, semoga tidak terjadi apa-apa pada dirimu.” Sunha memegang tangan Kyuhyun lalu berdoa pada Tuhan.

~~~~~~~~~

Setelah Kyuhyun sadarkan diri, keduanya kembali ke apartement. Obat yang di berikan Donghae memang cukup manjur, karna sehabis meminumnya Kyuhyun tidak muntah-muntah lagi. Tapi ternyata tepat tengah malam Kyuhyun kembali muntah-muntah, bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Rasanya Sunha ingin menangis sekencang-kencangnya melihat keadaan suaminya yang menderita.

Keesokan harinya Sunha segera membawa Kyuhyun kembali kerumah sakit untuk melihat hasil cek kesehatan Kyuhyun kemarin.

“Suster, tolong ambilkan hasil cek kesehatan atas nama pasien Cho Kyuhyun kemarin.” Perintah Donghae pada salah satu suster yang menjadi asistennya.

“Ne Dok, saya akan segera mengambilkannya.”

Sunha dan Kyuhyun yang sudah duduk diruang kerja Donghae menanti dengan perasaan gelisah.

“Ini Dok hasil tes kesehatan milik tuan Cho.”

“Ne, gomawo.” Donghae mengambil amplop coklat itu dan membukanya. Didalam amplop coklat itu terdapat beberapa lembar kertas. Donghae segera membacanya dengan seksama. “Ini…” Ujar Donghae terputus, lalu dia memanggil suster itu lagi. “Suster, apa benar ini hasil cek kesehatan milik tuan Cho.”

“Iya, benar Dok. Saya tidak salah mengambil berkasnya.”

“Oh… syukurlah.”

“Wae oppa?” Sunha bertanya pada Donghae.

“Ah…ani. Aku hanya ingin memastikannya.”

“Memangnya hasilnya apa, oppa?”

“Hasilnya…” Donghae menatap Sunha dan Kyuhyun penuh misterius, membuat wajah keduanya menjadi tegang. “Kyuhyun sehat-sehat saja, bahkan dia sangat sehat.” Akhirnya seulas senyum manis terukir diwajah Donghae.

“Lalu hyung, sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini?” Kyuhyun pun bertanya penuh antusias pada Donghae.

“Molla… Aku juga tidak tau.” Donghae menghela nafas panjang. Entah kenapa tiba-tiba matanya beralih pada perut Sunha. “Sunha, usia kandunganmu sudah menginjak bulan keberapa?”

“Heh, bulan ketiga oppa.” Jawab Sunha singkat.

“Bulan ketiga? Wah.. berarti kondisimu sedang naik-turun ya?” Kata Donghae menatap kagum.

“Ne? Maksud oppa?” Sunha yang ditanya justru kebingungan dengan ucapan Donghae.

“Maksudku kau pasti sedang mengalami masa-masa trisemester pertama yang sulit.”

Sunha dan Kyuhyun saling tatap tidak mengerti. “Trisemester pertama itu apa?” Tanya Sunha lagi.

“Masa-masa trisemester pertama dimana sang ibu hamil akan sering mengalami pusing, mual, emosi yang tidak labil, dan ngidam ini-itu.”

“Selama ini aku tidak pernah merasakan apa-apa.” Kata Sunha polos.

“Selama hamil kau tidak pernah merasa mual sedikit pun???” Tanya Donghae tidak percaya. Sunha menjawab pertanyaan Donghae hanya dengan gelengan kepala.

“Jangan-jangan… Kalian tunggu disini sebentar.” Donghae pergi keluar ruangannya secepat mungkin. Dan saat Donghae kembali, dia membawa seorang wanita cantik dibelakangnya yang sama-sama memakai seragam Dokter.

“Haejin onnie!” Seru Sunha saat mengenali wanita itu.

“Annyeong Sunha.” Sapa Heejin ramah. Donghae mengambil bangku tambahan agar Haejin dapat duduk disampingnya.

“Annyeong… Onnie juga bekerja dirumah sakit ini?”

“Ne, aku dokter kandungan disini.” Haejin adalah kekasih Donghae sejak 2 tahun yang lalu, dulu dia memang sangat akrab dengan Sunha. Namun setelah Sunha menikah mereka hampir tidak pernah bertemu lagi. “Tadi Donghae sudah menceritakan tentang kasus kalian kepadaku.” Ujar Haejin tanpa basa basi lagi. “Ehmm…aku ingin bertanya pada suamimu, Sunha.”

“Silahkan onnie.”

“Kyuhyun-ssi, sejak kapan kau merasakan mual-mual seperti ini?” Tanya Haejin langsung ke inti permasalahan.

“Sebenarnya sudah sekitar 2 minggu yang lalu aku sering merasa mual, tapi tidak pernah sampai muntah. Hanya 3 hari belakangan ini saja aku jadi sering muntah-muntah.”

“Begitu, lalu apa kau pernah memiliki rasa keinginan yang sangat besar untuk memakan sesuatu?”

Kyuhyun berpikir sejenak. “Ah ya, pernah!” Sunha yang teringat sesuatu langsung menjawab pertanyaan Dokter Heejin. “Kau ingat Kyu, beberapa hari yang lalu kau menggebu-gebu memintaku untuk memasakkanmu tumis Chapchai. Padahal jelas-jelas kau tidak suka masakan yang berbau sayuran, tapi kau tetap memaksaku untuk memasaknya.”

“Oh iya, yang dikatakan Sunha benar. Waktu itu entah kenapa aku ingin sekali memakan masakan itu, padahal biasanya aku tidak pernah mau menyentuh masakkan yang ada sayurnya.” Jelas Kyuhyun menambahkan.

“Sepertinya dalam kasus kalian, pihak suamilah yang mengalami masa trisemester pertamamu Sunha.”

“Mwo?! Maksud Onnie???” Tanya Sunha bingung.

“Iya, saat ini Kyuhyun-ssi sedang mengalami masa ngidam.” Baik Sunha maupun Kyuhyun membelalakkan matanya. “Kalian pasti bingung, kalau begitu biar aku jelaskan tentang sindrom ini.” Haejin membenarkan posisi duduknya.

“Sindrom couvade, berasal dari bahasa Prancis “couver” yang artinya menetas. Sindrom ini membuat kaum laki-lakilah yang mengalami masa ngidam bukannya sang istri. Sejauh ini penyebabnya memang belum diketahui, namun sejumlah ahli menduga hal itu ada hubungannya dengan rasa cemas. Menjadi seorang Appa adalah pengalaman baru yang mungkin membawa kecemasan bagi sang suami. Kecemasan yang dirasakan para suami umumnya terekspresi dalam bentuk mengidam, meski bisa juga kondisi itu sebagai bentuk empati terhadap kehamilan istri. Beragam keluhan disampaikan calon Appa, dari kram, sakit punggung, suasana hati berubah-ubah, kurang nafsu makan, mengidam makanan tertentu, morning sickness, kelelahan, depresi, pingsan, insomnia, dan sakit gigi. Setelah diperiksa, ternyata tak ditemukan masalah fisik atau penyakit pada calon Appa tersebut. Berbagai keluhan itu memang tidak terkait dengan masalah fisik. Tapi, kondisi emosional yang tak bisa diprediksi kehadirannya. Salah satu contoh, ada pria yang tidak begitu suka kepada anak-anak, namun setelah istrinya hamil, perasaan itu hilang dengan sendirinya. Dalam survei yang dilakukan di Inggris terungkap para pria pengidap sindrom couvade mulai menderita di bulan-bulan awal kehamilan istrinya. Beberapa yang lain merasakan masalah ini bersamaan dengan pertumbuhan janin hingga saat melahirkan. Sebagian lagi menyebutkan keluhan muncul setelah kelahiran. Jadi sudah terlihat jelas sekali bahwa Kyuhyun-ssi mengidap sindrom cauvade.” Jelas Haejin panjang lebar kepada Kyuhyun dan Sunha.

Kyuhyun menelan ludahnya sebagai tanda tidak percaya dengan apa yang sudah dijelaskan Heejin, tapi ia juga tidak memungkiri kebenaran yang terkandung dalam kata-kata itu. “Apa ada obat untuk menghilangkan sindrom ini?” Tanya Kyuhyun ragu-ragu.

Haejin menggeleng pelan. “Sayangnya, tidak ada. Sindrom couvade akan hilang dengan sendirinya setelah janin lahir.”

“Sudah nikamti saja Kyu masa-masa sindrom cauvade ini.”  Donghae manepuk-nepuk bahu Kyuhyun.

“Syukurlah.” Perasaan Sunha menjadi terasa lega sekarang.

“Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang. Terimakasih banyak atas penjelasannya, sekarang aku hanya akan mencoba menikmati masa-masa ngidam.” Kyuhyun mengajak Sunha bangkit dari tempat duduknya. Kyuhyun berusaha setenang mungkin, namun dalam hatinya ia terteriak ‘Aku ngidam??? TIDAKKKKKK!!!’

“Ne, kami pulang dulu oppa-onnie. Terimakasih banyak sudah mau meluangkan banyak waktu untuk kami.”

“Ne dongsaeng-ah, tidak usah sungkan.”

“Ngomong-ngomong, kapan oppa akan menikahi Haejin eonnie?”

“Akan segera menyusul, kalian berdua akan menjadi orang pertama yang kami undang.” Ujar Donghae mengerlingkan matanya ke Haejin.

“Jinca?! Aku tunggu undangannya ya?” Sunha dan Kyuhyun pun keluar dari ruangan Donghae.

….to be countinue….

Gambaran Kyuhyun menjadi Appa kelak.

Hahahaha… bersambung lagi. Masih ada satu part lagi yang benar2 ending loh. Ditunggu ya… ^^

FB: Shania de Granger

Twitter: shania9ranger

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s