Cake of Love Part 2

Standar

Title  : Cake Of Love

Characters [Main characters]  : Super Junior, SNSD, CN BLUE, After School

Characters [Made by]  : Lee Hye Ri, Eun Ho, Ji Won

Pairing  : Kyuhyun and Seohyun

Genre  : Romance



Cerita sebelumnya :

Aku baru mau bertanya lagi, ketika tiba-tiba Kyuhyun datang sambil membawa sebuah kotak. Aku hanya mampu melihatnya melakukan hal yang ingin ia lakukan. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ternyata, dia mengambil kue yang nyaris jadi serpihan sempurna akibat bolaku itu, dan memasukkannya ke dalam kotak itu. Lalu mengikatnya dengan pita berwarna merah [warna kesukaanku, sebenarnya], dan memberikannya…, padaku ?

“Apa ini ?” tanyaku sedikit dengan antisipasi. Dia menyodorkannya. Wajahnya tidak terlalu kesal, namun masih menyiratkan kalau dia sebal dengan ulahku. Aku menerimanya dengan tangan sedikit gemetar.

“Makan itu. Aku sudah susah payah membuatnya. Kau harus memakannya karena kau yang sudah menghancurkannya.”

“Apa maksudmu ? Aku harus makan kue yang sudah hancur seperti ini. Ih, tidak akan.” Aku memberikannya lagi padanya. Sungmin hampir berkomentar lagi, kalau saja cowok bernama kyuhyun di depanku itu tidak mengisyaratkan padanya untuk diam.

“Makan !” Perintahnya lagi. Aku menganga tidak percaya…

Seohyun, gadis SMA yang mengikuti ekstrakulikuler sepak bola putri harus berurusan dengan kakak kelasnya yang mengikuti ekstrakulikuler tata boga di sekolah, Cho Kyuhyun, karena ia tidak sengaja menghancurkan cake buatan Kyuhyun dengan bolanya ketika ia sedang latihan. Kyuhyun yang dingin namun karismatik membuat Seohyun harus memakan kue buatannya yang sudah hancur lebur akibat ulah Seohyun.

Itulah awal pertemuan mereka yang akan berlanjut menjadi kisah cinta yang lucu namun manis antara si patissier dingin, Kyuhyun, dan gadis manis namun sedikit tomboy, Seohyun. Bagaimana kelanjutan kisah mereka ???

Cake of Love Part 2

“Makan !” Perintahnya lagi. Aku menganga tidak percaya. Dia memaksaku memakan kue yang sudah hancur lebur seperti itu ? Yang benar saja. Dia masih menyodorkan kotak berpita itu di hadapanku. Sunny, Soo Young, dan sunbae berisik si Sungmin itu terdiam menyaksikan kejadian ini. Aku menghela napas kemudian mengalihkan pandangan ku dari kotak itu ke cowok menyebalkan di depanku saat ini. Tatapanku sedikit mengabur dan mataku terasa panas.

Aku menyambar kotak lalu segera pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Aku sudah kesal setengah mati. Aku muak dengan gayanya yang menyebalkan itu. Sunny dan Soo Young menyusul. Aku sempat berbalik dan melihatnya berdiri mematung dan menunduk. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Gaya yang paling aku benci.

“Seohyun ah !” Panggil Sunny. Tapi aku sudah berlari secepat yang aku bisa. Aku mencoba menjauh dari daerah itu sejauh mungkin. Aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan makhluk menyebalkan itu lagi. Selamanya !

“Kau tidak apa-apa, kan ?” Sunny merangkulku yang terduduk lemas di bangku pinggir lapangan dan mencoba menenangkanku yang masih shok dengan kejadian tadi. Soo Young juga ikut merangkulku. Ia mengelus lenganku, mencoba menenangkanku. Tak terasa, air mataku mengalir keluar dari mataku. Aku segera menghapusnya.

“Benar, kau tidak apa-apa? Kau sampai menangis.” Soo Young melepas rangkulannya dan berjongkok di depanku. Ia menggenggam tanganku. Aku menggeleng lemas.

“Si Kyuhyun itu, menyebalkan sekali sih. Apalagi temannya yang centil itu, si Sungmin. Aku benar-benar jijik melihatnya.” Sunny mencoba mendukungku dengan menjelek-jelekan Kyuhyun. “Aku tidak akan mau hormat pada sunbae seperti mereka. Tidak akan.” Lanjutnya lagi.

Aku mendesah.

“Orang itu, aku akan membalas dendam padanya. Tunggu saja.” Kataku berapi-api. Sunny langsung mengangguk setuju. Soo Young justru terlihat cemas.

“Untuk apa, Seohyun ah ? Itu justru akan membuatmu tidak bisa berkonsentrasi. Kita akan menghadapi turnamen tidak lebih dari 3 minggu lagi. Kau mau menghancurkan usaha kerasmu untuk bisa menang hanya dengan misi balas dendam yang konyol ? Seohyun ah ! Sadarlah ! Lupakan saja orang itu !” Soo Young memberi pengertian kepadaku. Aku memandangnya dalam kemudia menunduk.

“Kau benar. Harusnya aku tidak terlalu memikirkannya. Gomawo.” Aku memeluknya.

“Euumm,, aku sayang kalian semua.” Kataku lagi. Sunny ikut memelukku. Kami tertwa bersama setelah itu.

Kami dalam perjalanan pulang sekarang. Aku terus diam padahal Soo Young dan Sunny terus mengajakku bercanda.

“Sepertinya kita tidak jadi ke Cafe Rainbow. Aku jadi malas gara-gara tadi.” Kata Sunny tiba-tiba. Soo Young mengangguk.

“Aku juga. Kita langsung pulang saja ya ? Oh ya, Seohyun ah, kotak itu mau kau bawa pulang ?” Soo Young bertanya padaku. Tanpa kusadari, ternyata dari tadi aku masih menenteng kotak berisi kue hancur itu. Padahal, aku ingin membuangnya. Seperti membaca pikiranku, Soo Young tiba-tiba bertanya padaku hal yang sama.

“Kau tidak membuangnya ? Sepertinya, kau ingin membuangnya. Buang saja !” Soo Young menyarankan. Aku memandang kotak kue yang masih aku bawa itu. Aku menghela napas.

“Belum ada tong sampah. Nanti saja. Eh, itu bis mu sudah datang.” Aku menunjuk bis yang perlahan berhenti di depan kami. Itu bis Sunny dan Soo Young. Rumah mereka searah dan beda jurusan denganku. Mereka segera masuk dan tak lupa mereka menyemangatiku dan melambai sebelum akhirnya bis mereka melaju pergi. Aku menghela napas lagi.

Di saat seperti ini, kenapa aku justru ingin ke Cafe itu ya? pikirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik bis yang arahnya menuju Cafe yang ingin aku datangi tadi dengan Sunny dan Soo Young. Sendirian.

Aku sampai di cafe itu. Cafenya bagus. Rapi, bersih, indah, menenangkan, unik, ah…, pokoknya keren lah. Aku segera memilih meja untuk 2 orang yang berada di dekat jendela. Aku duduk di situ dan menaruh tasku di kursi seberangku. Kotak itu masih bersamaku. Entah kenapa, aku merasa sayang untuk membuangnya padahal sebenarnya aku ingin. Seorang pelayan menghampiriku.

“Eoso Osipsiyo [selamat datang]. Menyu yeogi isseumnida [ini menunya]. Mau pesan apa ?” tanya pelayan itu ramah. Aku memperhatikannya. Dia masih kecil. Seumuran anak SMP. Aku refleks bertanya.

“Kau, masih SMP ya ?”

“Ne ?” dia terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku barusan. Namun, dia justru tersenyum manis.

“Ne, matsseumnida [ya, benar]. Ada yang bisa kubantu ? Mau pesan apa ?” tanyanya lagi. Bukannya menjawab pertanyaanya, aku malah balik bertanya lagi.

“Part time ya ?”

Dia mengangguk. Aku bertanya lagi.

“Namanya siapa ? Kelas berapa ? Orang tuamu mengijinkanmu part time ya ? Aiih, haengbokhaeyo.” cerocosku. Dia kembali tersenyum.

“Namaku Hye Ri. Aku masih SMP tahun terakhir. Iya, orang tuaku malah menyuruhku part time. Untuk mengisi liburan katanya.” Dia kembali tersenyum.

“Eh ?” pandangannya beralih. Ke kotak yang kubawa.

“Ada apa ?” tanyaku

“Unnie dari SMA XX ? Aku punya Oppa yang sekolah di sana juga.” Katanya.

“Oh ya ? Siapa ? Mungkin aku kenal.”

“Ah, sudahlah. Lupakan saja, Unnie. Oh iya, Unnie, mau pesan apa ?” tanyanya untuk yang ketiga kalinya. Aku tersenyum sambil membuka-buka menunya.

“Kami punya menu baru yang baru hari ini dibuat. Kalau Unnie pesan, Unnie punya kesempatan untuk menjadi orang pertama yang mencobanya. Baru saja jadi. Unnie mau mencoba ?” tawarnya. Aku mengangkat alisku tertarik lalu mengangguk senang.

“Sebuah kebanggaan tersendiri untukku, adik manis.”

Dia tersenyum lagi. “Gamsahamnida. Pesanan anda tidak akan lama lagi. Sillyehamnida.” Dia bergegas menuju dapur [mungkin]. Aku memandangnya berlari. Lucu sekali di mataku. Pandanganku beralih ke kotak itu. Aku menggesernya mendekatiku.

Perlahan, kutarik pita merah yang mengikat kotak itu, lalu kubuka tutupnya. Aku terkejut ketika melihat isi dari kotak itu. Kukira, isi kotak itu benar-benar kue yang sudah hancur, ternyata…, “dia memotong bagian yang rusak ?” tanyaku dalam hati. Aku melihat kue di dalam kotak itu tidak benar-benar rusak.

“Ah ! Aku ingat. Bolaku kan tidak menghancurkan seluruh bagian kue. Apa iya dia memotong bagian yang masih bagus dan memasukkannya ke dalam kotak ini ? Kenapa dia mau melakukannya ? Aku kan sudah membuatnya kesal.” Pikirku sendiri. Aku mengambil garpu kue di hadapanku. Aku mengambil sebagian kue itu dengan garpu, lalu memasukkanya ke dalam mulutku.

“Emm, Masitta. Enak banget….” Aku terus mengambilnya. Lagi dan lagi. Kue itu benar-benar enak dan sangat menyenangkan untuk di makan. Walau agak sedikit jijik membayangkan bagaimana awalnya aku dapat kue ini. Tapi, ini benar-benar enak. Sekali lagi, SANGAT ENAK.

Aku seperti terbang ketika makan kue itu. Air mataku sampai ingin keluar saking senangnya bisa makan kue seenak itu. Ah, sangat sangat enak. Hatiku jadi tenang ketika makan kue ini, pikirku. Aku menyudahi makan kue itu. Aku menutup lagi kotaknya dan mengikatnya lagi dengan pita merah itu. “Akan kuberikan untuk ibu nanti.” janjiku dalam hati.

Di tepat lain,

“Oppa, tadi aku lihat ada gadis dari sekolahmu. Sepertinya dia anak tata boga. Sama sepertimu. Aku melihatnya membawa kotak yang ada tulisannya Ekstra Tata Boga SMA XX. Dia pasti anak tata boga. Unnie itu cantik. Manis dan ramah sekali.” Hye Ri memberi laporan kepada Oppanya yang sedang asyik menghias sebuah cake.

“Dan dia pesan kue buatan Oppa. Yang sedang Oppa buat ini. Sepertinya dia akan menjadi orang pertama yang akan mencobanya. Kyuhyun Oppa, beruntung sekali dia bisa makan first snow cake buatan Oppa sebagai orang pertama.”

Kyuhyun berbalik. “Kau tanya namanya ?” tanyanya. Hye Ri menggeleng.

“Tapi pasti anak tata boga kok. Dia bawa kotak yang ada tulisannya itu.”

“Mungkin Yoo Yi. Aku akan mempersembahkan kue ini, dan dia berjanji akan menjawab permintaanku kemarin karena dialah orang pertama yang memakan kue ku ini.” Kyuhyun berkata dalam hati. Dia tersenyum sangat lebar. Manis sekali.

“Cepat berikan ini padanya. Katakan juga padanya, aku akan menemuinya nanti.” Kyuhyun memberikan kuenya kepada Hye Ri yang sedikit bingung. Tapi adiknya itu langsung melakukan apa yang diperintahkan Oppanya.

Di meja Seohyun…

Aku baru saja selesai memakan kue yang rasanya selangit itu, ketika aku melihat Hye Ri datang lagi. Dan dia datang dengan pesananku. Hmm, aku sudah tidak sabar. Aku mengikat rabut panjangku ke belakang sambil menunggunya sampai.

“Ini pesanan anda. Unnie, kue ini namanya First Snow Cake. Kenapa dinamakan seperti itu, karena warna kue dan krimnya berwarna putih. Terus, ada taburan gula halus yang seperti salju. Kalau dimakan, rasanya sejuk di mulut. Dan, ada garnish stroberi diatasnya agar terlihat lebih cantik.” Jelas Hye Ri lengkap. Aku tersenyum sambil manggut-manggut.

“Seperti judul lagu ya ? Lagunya Super Junior, kan ?”

Dia terlihat sedikit terkejut [lagi], mendengar pertanyaanku. Tapi ia mengangguk mengiyakan. “Iya, memang. Mereka keren-keren sekali.”

Aku mengambil garpu kue lagi. Dia masih berdiri di sampingku.

“Oh ya, katanya, Oppa ku ingin menemui Unnie, karena Unnie adalah orang pertama yang mencoba kue buatan Oppaku. Akan kutunjukkan Oppaku.” Katanya. Aku menautkan alisku.

“Oppa…, mu ? Kau punya Oppa yang bekerja di sini ?”

Dia tergagap. “Eh, err, i…, iya. Aku punya Oppa yang bekerja di sini juga. Sebagai Patissier.”

“Aa~ Geuraeyo ? Yang mana ?” tanyaku lagi. Dia menunjuk ke tempat dekat pintu dapur. Aku melihat seseorang dengan pakaian koki dan topi kokinya yang sedang dikerumuni oleh cewek-cewek.

“Yang sedang dikerumuni cewek-cewek itu ? Wow ! Oppamu populer ya ?”

Hye Ri nyengir lebar sambil menaikkan bahunya. “Mereka fans Oppa. Ada saat ketika Oppaku keluar dapur dan memberitahukan resep kuenya.”

“Wah, dia terlalu baik. Sayang, aku tidak bisa melihatnya jelas dari sini. Hanya topinya saja yang terlihat.” Komentarku. Hye Ri hanya terkekeh kemudian meminta ijin untuk kembali bekerja.

“Unnie, aku kerja lagi ya ? Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oh ya, Unnie namanya siapa ? Anak tata boga juga ?”

“Panggil saja aku Seohyun. Aniyo, aku bukan anak tata boga. Oh ya, Terima kasih sekali ya.”

Dia mengangguk dan pergi.

Kyuhyun melangkah perlahan menuju meja dimana ada seorang gadis berambut panjang yang diikat kebelakang yang sedang memandang keluar jendela. Dia menarik napas panjang kemudian memanggilnya.

“Yoo Yi ssi ?” panggilnya. Gadis yang dipanggil Yoo Yi itu menoleh dan tersenyum manis. Kyuhyun segera mendekatinya dan duduk diseberangnya.

“Kyu ssi, annyeong.” Sapanya sambil tersenyum. Kyuhyun membalas senyumnya. Dia sedikit gugup berhadapan dengan Yoo Yi. Asal tahu saja, Yoo Yi adalah gadis yang disukainya sejak masuk ekstra Tata Boga.

“Bagaimana kuenya ?” tanya Kyhuyn basa-basi. Yoo Yi menautkan kedua alisnya.

“Kue apa ? Aku belum pesan apapun. Kau bilang kau akan memberikan kue terbarumu padaku. Dan menjadikanku sebagai orang pertama yang memakannya. Mana kuenya ?”

Kyuhyun terdiam. Dia seperti baru saja dihantam oleh sesuatu yang sangat keras. Dadanya menjadi sesak. “Jadi bukan Yoo Yi yang memesan kue itu ? Lalu siapa ? Aku harus tanya Hye Ri.” Kyuhyun berdiri tiba-tiba.

“Kau mau kemana ?” tanya Yoo Yi. Kyuhyun menghela napas dan menjawab.

“Aku ambilkan dulu kuenya.”

Kyuhyun menemukan Hye Ri yang sedang mengelap meja di daerah taman. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik lengan adiknya itu. Wajahnya terlihat marah.

“Aduh, Oppa ! Lepaskan ! Sakit tahu !” Hye Ri meronta. Kyuhyun melepaskannya.

“Kau berikan pada siapa ?” tanyanya tiba-tiba. Hye Ri yang sedang mengelus lengannya yang kesakitan menatapnya bingung.

“Apanya yang kuberikan pada siapa ? Aissh ! Aku tidak mengerti.”

Kyuhyun mendengus. “First Snowku. Kau berika pada siapa ? Kau bilang pada anak tata boga kan ? Kau suda tanya namanya ?”

Hye Ri terlihat berpikir sampai ia menjentikan jarinya.

“Aa~ arachi… Aku ingat. Aah, ternyata Unnie itu. Dia bukan anak tata boga. Hanya saja dia membawa kotak dengan tulisan Ekstra Tata Boga. Jadi kukira dia anak tata boga. Tapi ternyata bukan.”

“Namanya ?” Kyuhyun langsung menginterupsi.

“Ne ?”

“Namanya, Hye Ri.” Dia mendekatkan wajahnya ke arah Hye Ri. Adiknya itu menelan ludah.

“Seohyun Unnie…,”

Di meja Seohyun…

“Kok, sepertinya familiar, ya ?” gumamku. Aku mengambil sepotong kue itu dengan garpu dan mencobanya.

Mataku langsung membelalak ketika tahu bagaimana rasa kue itu. Rasa ini ? Rasa yang membuatku terbang dan membuat hatiku tenang. Rasa apa ini ?

Hal pertama yang kulakukan setelah merasakan kue itu adalah langsung membuka kotak kue yang diberikan cowok menyebalkan yang aku temui di sekolahnya tadi. Tatapanku nanar.

“Ini…,” dia terhenti,

“Kue yang sama dengan yang kumakan barusan. Kue ini, kue orang itu…, kue Kyuhyun !”

Bagaimana kelanjutan kisah Seohyun yang baru mengetahui bahwa kue yang dia makan di Cafe itu adalah kue yang sama yang diberikan oleh Kyuhyun ? Apakah yang akan terjadi selanjutnya ?

Cake of Love Part 3 akan segera rilis………

Jangan lupa baca ya………

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s