Cake of Love Part 4

Standar

Cerita sebelumnya :

Hari ini aku mau ke sekolah lagi. Latihan lagi. Sebenarnya malas sih. Tapi aku tidak enak dengan Sunny dan Soo Young. Aku tidak berniat menceritakan kejadian kemarin di cafe pada mereka. Aku tidak ingin menambah rumit urusanku. Cukup dengan manusia kejam itu. Cukup dengannya saja.

Aku sudah siap. Tinggal mengambil bolaku. Eh ?

“Bolaku ? Mana ya ? Sepertinya kemarin saat pulang aku tidak membawanya. Apa ketinggalan ? Di mana ?” Aku berputar-putar di sekeliling tempatku berdiri mencari bolaku. Aku teringat sesuatu. Kelebatan kejadian kemarin, dari awal sampai aku pergi, berputar di kepalaku, dan…

“Aaa~ Aisshi ! Bolaku tertinggal di cafe itu. Aaah~ kenapa harus di tempat itu sih ?” Hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah, kemungkinan besar aku akan bertemu dengan orang yang paling ingin kuhindari saat ini kalau aku ke sana.

“Tapi aku kan bisa bertemu lagi dengannya. Yah, bisa melihatnya sebentar.”  Suara hatiku menggema terus. Aku mengembangkan senyum sedikit ketika berpikir bisa bertemu dengannya.

“Ah ! Aku kan ingin menghindarinya. Kenapa malah ingin bertemu sih. Aissh ! Siapa sih yang tiba-tiba bilang begitu.” Aku geleng-geleng. Mencoba menghilangkan pikiran tentang Kyuhyun Oppa.

Ups ! Sejak kapan aku memanggilnya Oppa. Ralat deh, Kyuhyun saja maksudku.

“Aiissh !! Kenapa aku memikirkannya ? Aku kan benci padanya.”

Cake of Love Part 4

Aku mencoba mengalihkan pikiranku dengan bernyanyi-nyanyi sendiri. Eomma dan appa masih belum pulang. Berarti benar semalam mereka menginap di Busan. Aku mengikat tali sepatuku di teras kemudian beranjak dan mengunci pintu rumah. Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku.

“Aigoo, aku telat lagi.” Aku mengeluh sendiri. Hari ini aku janjian dengan tim sepak bola putri lainnya untuk kumpul di sekolah jam 8. Dan sekarang sudah jam setengah 9. Hehe, aku memang suka ngaret.

Aku berjalan menuruni jalanan rumahku yang memang menurun. Aku malas cepat-cepat. Badan dan pikiranku masih lelah. Habis kemarin seperti bertemu dengan penghisap energi sih. Si Kyuhyun itu. “Dia masuk sekolah nggak ya ?” pikirku. “Aissh ! Kenapa kepikiran lagi sih ? Sudah Seohyun…., tenang, tenang. Lupakan saja manusia kejam satu itu. Oke ? Rileks.” Aku mencoba menenangkan diriku.

Sejak memakan kuenya [dan berurusan dengannya juga], aku jadi sering kepikiran tentangnya. Entah darimana datangnya. Itu muncul begitu saja. Tapi, aku merasakan hawa yang sangat berbeda ketika bertemu dengannya dan ketika aku memakan kuenya. Perbedaan yang jauh kalau menurutku. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu.

Bis yang kutunggu akhirnya datang. Aku segera naik dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Tentu saja setelah menggesek kartu berlanggananku. Aku memandang ke arah luar selama perjalanan. Tatapanku kosong namun sebenarnya aku punya banyak pikiran yang memenuhi kepalaku saat ini. Hpku bergetar.

Telephon dari Soo Young. Aku mengangkatnya.

“Yoboseyo ?”

“Ya ! Seohyun ah ! Eodi isseo [kau di mana] ? Kenapa belum datang ?” Suara nyaring Soo Young meerjang keluar begitu aku mengankat telephonenya. Aku menjauhkan Hpku dari telinga sambil sedikit meringis.

“Mianhada. Aku masih di jalan. Jeongmal mianhae. Tadi aku harus beres-beres rumah dulu. Eomma dan appaku sedang tidak ada di rumah.” Alasanku. Soo Young bergumam, tapi aku tidak bisa mendengar jelas apa katanya.

‘”Aa~ Geuraeyo ? Ya sudah, cepat ke sini. Pallayo [cepat ya].” Tuuuut ~. Dia menutup telephonenya. Aku menghela napas. Aku benar-benar tidak ada semangat hari ini. Sebenarnya, jika bukan karena janji, aku juga tidak akan datang ke sekolah. Enakan tidur di rumah. Mumpung eomma tidak ada, aku kan bisa tidur seharian. Aku melanjutkan lamunanku yang sebenarnya aku juga bingung aku melamun apa. Dan lama kelamaan, aku pun tertidur.

“Ya ! Seohyun ah !” Seseorang memanggilku begitu aku turun dari bis. Itu Soo Young dan Sunny dari depan jalan masuk ke sekolahku. Mereka melambai. Aku tersenyum kemudian berjalan ke arah mereka. Mereka malah berlari menghampiriku.

“Kenapa lama sekali sih ?” Sunny merangkulku. Suaranya seperti anak kecil. Aku tertawa saja mendengar suaranya. Soo Young malah menepuk pundakku agak keras.

“Ya ! Kau ini. Janjinya jam 8, baru datang jam 9 lebih. Apa lagi alasanmu ? Ha ?” Dia berkacak pinggang. Aku tersenyum lagi.

“Mian. Tadi macet.”

“Alasan. Whuu !” Soo Young mengacak rambutku. Kami tertawa bertiga.

“Seohyunnie, kau jadi diam ya sejak kejadian kemarin ? Biasanya aku ajak bercanda kau juga ikut ketawa sampai ngakak. Sekarang, tersenyum saja sudah syukur. Ayo donk ! Heboh lagi. Kau jadi jelek kalau begini terus.” Sunny protes. Aku memamerkan gigiku dan angkat bicara.

“Habisnya, nyawaku seperti tersedot orang itu sih. Jadi lemas.” Jelasku. Sunny terkikik. Gantian Soo Young yang bicara.

“Seperti vacuum cleaner ?” tanyanya konyol. Aku dan Sunny berpandangan.

“Kau ini kenapa sih ? Tiba-tiba jadi nyambungnya ke vacuum cleaner.” Komentarku. Kami tertawa lagi. Dan akupun merasa nyawaku sedikit demi sedikit kembali. Karena mereka.

Kami sampai di lapangan. Semua anggota tim, dari sunbaeku sampai yonbaeku sudah berkumpul semua. Hanya aku yang datang paling terakhir.

“Yaa ! Putri Telatnya sudah datang, nih !” San Ji sunbae menggodaku. Yang lain ikut-ikutan. Bahkan pelatih Han juga ikut menggodaku. Aku merasakan wajahku memanas karena malu. Siapa sih yang tidak malu dijuluki ‘Putri Telat’ ?

Pelatih Han segera menyudahi bercandaan kami dan menyuruhku melakukan pemanasan. Aku segera mengerjakan perintahnya. Setelah menaruh tasku tentu saja. Sunny menghampiriku tiba-tiba.

“Bolamu mana ?” tanyanya. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang sebenarnya biasa saja itu. Aku mencari-cari alasan [PS : Aku juga sering dijuluki gudang alasan. Hehe, maklum. Aku kan putri telat. Punya alasan banyak itu perlu]. Kubilang saja,

“Aduh, mian. Bolaku bocor kemaren.”

Sunny menaikan alisnya. “Aa, jinjaeyo ? Kok bisa sih, Seohyunnie ? Ada ada saja.” Dia menyilangkan lengan di depan dadanya. Aku mengangkat bahu. Aku memang tidak tahu. Aku saja mengarang alasannya. Aku menyadari sesuatu.

“Sunny, sejak kapan sih, kau memanggilku Seohyunnie ? Dulu kau selalu memanggilku Joojoo [dari nama asliku, Seo Joo Hyun] atau Seohyun biasa. Aa~ kau ikut-ikut subae berisik kemarin itu ya ? Panggil-panggil Kyuhyun dengan nama Kyuhyunnie segala. Kau jadi ikut-ikut memanggilku begitu. Iya kan ?” tebakku sambil sedikit menggodanya. Dia tergagap.

“A…, aniyo ! Aku sudah lama memanggilku begitu kok. Ah ! Sudah ah. Kau pemanasan lagi sana !” Dia pergi meninggalkanku dengan kikuk. Aku tertawa melihat ekspresinya tadi. Lucu. Pelatih Han tiba-tiba datang mendekatiku.

“Seohyun ah.” Panggilnya. Aku menghentikan pemanasanku.

“Ne, pelatih ?”

“Aku sudah mendengar tentang kejadian kemarin. Soal kau yang memecahkan kaca jendela. Aku juga sudah bicara dengan wakil kepala sekolah soal ini. Kau diminta kesana secepatnya. Tapi nanti saja setelah latihan juga tidak apa-apa. Jelaskan saja yang terjadi sebenarnya. Buat beliau mengerti. Bisa kan?” Jelas pelatih Han. Aku mengangguk dan tersenyum sedikit. Dia berkata lagi.

“Gwaenchanayo. Jangan terlalu merasa bersalah. Beliau orang yang bijaksana. Asal kau jelaskan, dia pasti mengerti. Jangan terlalu di pikirkan juga, ya. Dan satu lagi, jangan buat alasan-alasan konyol ya. Kau kan gudangnya alasan. Ingat itu !” Pelatih Han mewanti-wantiku. Aku hampir ketawa mendengar kalimat terakhirnya. Hehe, kenapa harus bawa-bawa julukan, sih ?

Aku masih terus fokus pada latihanku di saat yang lain sudah beristirahat. Konsekuensiku juga sih datangnya telat tadi. Jadi latihanku juga ikut mundur dan sedikit berbeda dengan yang lain. Para sunbae dan beberapa yonbae meminta ijin ke kantin. Ada yang ke toilet. Tinggal aku, Soo Young, dan Sunny yang masih di lapangan.

Aku berlari menggiring bola sendiri dan terus berlatih sendiri. Soo Young dan Sunny malah mengobrol dan ngakak-ngakak di pinggir lapangan. Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas dan sedikit beristirahat. Aku sadar kalau ternyata aku sedang berdiri di tempat kemarin aku menendang sampai ada kejadian seperti kemarin. Pikiranku kembali ke kejadian kemarin.

Aku memandang ke salah satu jendela yang kacanya bolong karena kupecahkan kemarin. Jendela ruang tata boga. Aku sempat mendengar suara tawa dan orang-orang bersorak dari dalam sana. Aku penasaran. Aku juga sempat melihat beberapa anak terlihat melewati jendela. Aku semakin menajamkan penglihatanku ke sana. Aku berharap bisa melihat orang itu. Siapa tahu dia masuk.

“Tuh kan, lagi-lagi. Kenapa sih, Seohyun, kau suka sekali tiba-tiba memikirkannya ?” Aku bertanya pada diriku sendiri. Lebih seperti menyalahkan. Aku memejamkan mata sebentar ketika tiba-tiba hawa dingin menyeramkan itu terasa lagi. Aku membuka mata dan menoleh ke arah kananku.

Dari jauh, manusia kejam itu seperti berjalan menghampiri lapangan tempatku berlatih sekarang. Mau apa lagi sih dia ? tanyaku dalam hati. Aku sudah berjanji tidak ingin bertemu dengannya, kenapa justru dia kesini. Aiissh !

Dia berhenti tepat di samping Soo Young dan Sunny yang melongo melihatnya datang. Mereka berpandangan. Aku memalingkan wajahku.

“Aku mencari seseorang bernama Seohyun. Apa dia ada di sini ?” tanyanya dengan suara yang pelan namun tegas. Ekspresinya datar. Sunny dan Soo Young berpandangan lagi.

“Kau bisa melihatnya. Tuh ! Orang yang kau cari tidak jauh dari sini. Ke sana saja.” Soo Young angkat bicara. Sebenarnya, dari tempatku berdiri [yang tidak jauh dari mereka], aku masih bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Maksudku, dari sinipun orang masih dalam radius kedengaran.

“Panggil dia.” Perintahnya.

“Eh ? Maksudmu ? Ya ! Kau bisa menemuinya langsung. Dia di sana. Ya ! Seohyun ah ! Ada yang mencarimu.” Soo Young yang merasa aneh dengan sikapnya akhirnya memanggilku juga. Aku berbalik dan menghadap mereka langsung. Aku maju beberapa langkah. Sunny menghampiriku.

“Siapa ?” tanyaku. Walau sebenarnya aku tahu siapa yang mencariku. Si Kyuhyun itu. Sunny memiringkan kepalanya.

“Kau jangan ikut-ikutan orang aneh itu donk.” katanya. Aku tidak menggubrisnya.

“Siapa, Soo Young ?” tanyaku lagi. Soo Young ikut berdiri dan mendekati Sunny. Mereka berada di antara kami sekarang. Aku dan Kyuhyun maksudku.

Aku bisa melihatnya menatapku dengan tajam dan ekspresinya datar namun menyiratkan kebencian. Aku balas saja. Memangnya aku tidak bisa seperti dia. Kami berhadapan dan bisa saja bicara langsung. Tapi, aku tidak akan mau bicara langsung dengannya.

Kira-kira, begini lah cara bicara kami yang konyol. Dia bilang ke Soo Young, Soo Young menyampaikannya padaku, aku membalasnya lewat Soo Young juga. Padahal aku dan dia berhadapan dan sama-sama saling menatap tajam.

Aku                 : “Siapa, Soo Young ?”

Soo Young       : “Eh ? Kau kan bisa lihat sendiri.”

Aku                 : “Tanyakan apa tujuannya kemari.”

Soo Young       : “Ya ! Kau mau apa ke sini ?” [ke Kyuhyun]

Kyuhyun           : “Bilang padanya, ada yang harus kukembalikan padanya.”

Soo Young       : “Dia bilang ada yang mau dia kembalikan padamu. Ya ! Seohyun ah, dia pinjam apa padamu ?” [ke aku]

Sunny              : “Ya ampun, bisa tidak sih, kalian bersikap wajar ?”

Aku                 : “Katakan padanya, aku tidak punya barang milikku yang ada padanya. Apa yang mau dia kembalikan ?”

Soo Young       : “Ya ! Sunbae ! Aiish ! Apa aku harus seperti ini terus ?”

Sunny              : “Sudahlah ! Kalian ini seperti anak kecil.”

Kyuhyun           : “Katakan pada teman kalian bernama Seo Joo Hyun itu, kalau dia meninggalkan barangnya di cafeku dan aku dipaksa untuk mengembalikannya. Aku kesini untuk itu. Walaupun sangat terpaksa.”

Soo Young       : “Seohyun, kau dengar sendiri.”

Aku                 : “Katakan padanya, aku tidak meninggalkan apapun.”

Soo Young       : “Sunbae…, Aiissh! (mereka bahkan sudah tidak perlu aku lagi untuk bicara) ” [mulai bosan, berbisik pada Sunny]

Kami masih saling menatap. Dia menunjukan sesuatu yang dia bawa dibalik punggunya. Bolaku. Aku mengerutkan kening.

Kyuhyun          : “Katakan padanya. Aku kesini dipaksa untuk mengembalikan bolanya yang tertinggal di cafeku.”

Soo Young      : “Seohyun ah, katanya dia kesini untuk mengembalikan bolamu.”

Sunny dan Soo Young : “Bola ?” [berbarengan]

Sunny             : “Seohyunnie, kau bilang…, Soo Young ah ! temani aku ke toilet.”

Soo Young      : “Kalian lanjutkan sendiri !” [mereka pergi]

Kami diam. Angin bertiup cukup kencang hari ini. Aku menghela napas.

“Berikan padaku !” Aku mengangkat tanganku meminta bolaku kembali. Kyuhyun masih diam. Dia malah menatapku semakin tajam. Kudengar dia mendengus.

“Kalau bukan karena adikku yang memaksaku memberikannya padamu, bola ini mungkin tidak akan kembali ke pemiliknya.” Dia melempar bolaku. Sigap, aku menangkapnya.

Cerita Kyuhyun yang sebenarnya…

Rumah keluarga Cho, tadi malam….

“Oppa, bolanya Seohyun Unnie ketinggalan.” Hye Ri memberi laporan yang sebenarnya tidak perlu di laporkan. Kyuhyun yang sedang membuat kue [lagi], menghentikan aktifitasnya. Dia menoleh ke adiknya yang kini sedang membawa bola Seohyun.

“Berikan padaku.”

Hye Ri menautkan alisnya. “Untuk apa ?” tanyanya. Kyuhyun tertawa sedikit.

“Ya untuk kukembalikan lah.” Jawabnya. Dia ingin mengambil bola yang dibawa adiknya. Hye Ri malah semakin erat mendekapnya. Menghindarkannya dari Oppanya.

“Aniyo ! Oppa kan lagi berantem. Ngapain Oppa yang kasih ? Aku saja.”

Kyuhyun mencoba merebut bola itu dari adiknya. Hye Ri juga semakin kuat mempertahankannya.

“Berkan padaku ! Berikan tidak ? Atau aku akan…”

Mereka berkejaran.

Justru cerita sebenarnya, bukan Hye Ri yang memaksa Kyuhyun untuk mengembalikan bola itu. Tapi malah Kyuhyun yang memaksa Hye Ri yang mempertahankan bola itu untuk memberikannya padanya. Ada pembalikan fakta dengan cerita yang Kyuhyun jadikan alasan sebenarnya.

Kembali ke Seohyun dan Kyuhyun…

“Kau tidak apa-apakan bolaku kan ?” Aku bertanya penuh curiga. Dia berdecak.

“Sudah bagus kukembalikan padamu.” Dia berbalik lalu pergi. Meninggalkanku yang terdiam heran melihatnya. Ada ya, orang sepercaya diri seperti orang itu ? pikirku.

Dia berhenti tiba-tiba dan berbalik setengah badan. Lalu,

“Urusan kita belum selesai.” Tegasnya.

Cake of Love Part 5 sebentar lagi mau keluar………….

Jangan lewatin ya……………

Bonus Track

Super Junior ~ First Snow

Heen noon ee oh myuhn dong neh gah deuk hee

Kkoh mah deul oo seum soh ree nuhm chyuh wah

Oh nuh yae jang nahn seu ruhn mee soh

I can’t stop loving you

Nahn ahl soo eet neun guhl ooh chuht noon ee wah

Oh neul bahm ee jee nah gah myuhn

[Themesong Cake of Love]

Super Junior ~ Shining Star

Shining star ! Like a little diamond,

Makes me Love, naegen kkoomgyeolgateun

Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

Hangsang hamkke halgeora, ’till the end of time

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s