I Wanna Love You (part 1)

Standar

Author: Haedie Luph Donghaegaeul

_________

Gaeul’s POV

Aku berjalan mengiringi seorang pengantin wanita berjalan menuju altar dimana seorang pria sedang menunggu kehadirannya. Seorang pria yang sangat aku cintai, dan bodohnya diriku, aku mencintai seorang pria yang sesaat lagi akan resmi menjadi suami dari Eonnie ku sendiri. Hari kebahagiaan Eonnieku sekaligus menjadi hari pertama kali aku mengenal kata patah hati. Tapi aku tak bisa melakukan apapun, aku tak mungkin mengahancurkan kebahagiaan orang yang begitu menyayangiku dan menjadi sosok eomma sekaligus appa untuk diriku saat usianya 18 tahun. Orang tuaku meninggal saat usiaku 14 tahun karena kecelakaan pesawat. Sejak saat itu hanya dia yang kumiliki, dia berusaha keras untuk memenuhi semua kebutuhanku, dan sekarang aku hanya bisa mengorbankan perasaanku untuk kebahagiaannya. Lagipula tak ada gunanya aku mempertahankan perasaanku, karena yang dia cintai adalah Eonnieku bukan aku.

 

Sejak aku mengenal dunia ini, aku sudah mengenal pria yang aku cintai itu. Dan dia yang membuatku mengerti apa itu cinta dan dia juga yang membuatku mengerti bagaimana sakitnya patah hati. Ya Eunhyuk oppa adalah sahabat Ahra Eonnie sejak kecil, dan bukan itu saja orang tua kami juga bersahabat. Karena persahabatan itulah aku bisa mengenalnya. Sejak kecil dia selalu ada di sampingku, menjaga dan melindungiku selayaknya seorang kakak. Tapi semua kebaikannya malah membuatku mencintainya, meskipun aku tau dia mencintai eonnieku dan sebaliknya.

Dan sekarang puncak kegilaanku. Aku berdiri di depan pintu gereja mengantar eonnieku menuju altar. Mengantarnya menuju pangeran hatinya dan pangeran hatiku. Kulihat Eunhyuk oppa tersenyum dan kemudian menyambut tangan Ahra Eonnie. Tak butuh waktu lama untuk Eunhyuk oppa mengucapkan sumpahnya di depan pendeta. Kulihat air mata membasahi pipi Ahra Eonnie.

 

Eunhyuk oppa menghapus air mata itu kemudian mencium bibir Ahra Eonnie. Sesaat aku merasa dunia ini berhenti berputar dan membiarkan aku menikmati luka hatiku ini. Tanpa bisa kutahan air mataku ikut menetes. Ahra eonnie yang melihat air mata di pipiku langsung menghampiriku dan diikuti Hyuk Oppa. Ahra eonnie memelukku sangat erat.

”Ya, kenapa kau menangis???” tanyanya sambil menyeka air mataku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

Ahra Eonnie tersenyum padaku kemudian merengkuh wajahku. ”Eonnie tau, kau takut kehilangan Eonnie kan?? Kau takut Eonnie tak menyayangimu lagi karna sekarang ada Eunhyuk di hidup Eonnie???” ucapnya.

Ahra eonnie menatap Eunhyuk oppa sejenak yang dibalas dengan senyuman oleh Eunhyuk oppa. ”Lucunya adik manjaku yang satu ini. Mana mungkin eonnie melupakanmu. Kau tetap adik tercinta eonnie. Dimana ada eonnie maka di situlah ada kau,” lanjutnya lagi.

Air mataku semakin mengalir deras. Kenapa aku memiliki kakak sebaik dia??? Jika dia tau perasaanku yang sebenarnya maka dia akan terluka dalam.

Kurasakan seseorang mengacak rambutku pelan dan tersenyum tepat di depan wajahku. ”Huahhhh adik kecil ini sungguh pencemburu,” godanya. ”Mana mungkin oppa akan menguasai eonniemu yang satu ini. Kau tetap memiliki tempat pertama, sedangkan aku hanya di tempat kedua dihatinya,” ucap Eunhyuk oppa lagi.

Kupaksakan bibirku untuk tersenyum, meskipun hatiku sakit karena dia selalu menganggapku adik kecilnya.

”Oppa berhentilah memanggilku adik kecil. Sekarang usiaku sudah 17 tahun,” balasku.

Eunhyuk oppa dan Ahra eonnie langsung tertawa mendengar ucapanku, kemudian mereka berdua langsung mendekapku dalam pelukan mereka.

Sampai kapan aku akan bertahan memendam perasaanku, Tuhan. Aku mohon bantu aku….

 

*****

 

9 bulan kemudian.

Aku mematut diriku di depan cermin. Aku sudah mengenakan seragam sekolahku. Rambut panjangku juga sudah terikat dengan rapinya. Aku melangkahkan kakiku menuju ruang makan dimana kakak dan kakak iparku sudah menungguku untuk sarapan.

Setelah tiba di ruang makan, kulihat Eunhyuk oppa sudah rapi dengan jasnya. Sekarang Eunhyuk oppa memimpin perusahaan keluarganya, dan kuakui dia berbakat dalam hal bisnis.

”Pagi oppa,” sapaku.

”Pagi Dongsaeng,” balasnya.

”Kemana Eonnie???” tanyaku ketika tak kudapati eonnie tercintaku itu.

Belum sempat Hyuk oppa menjawab, tiba-tiba teriakan seseorang mengalihkan perhatianku dan Hyuk oppa ke arah sumber suara itu.

”Aku datang….” ucapnya berjalan keluar dari dapur dan membawakan tiga piring nasi goreng.

Eunhyuk oppa yang melihat eonnieku sedikit kesusahan membawa ketiga piring itu, langsung berdiri dan membantu Ahra Eonnie.

”Biar kubantu,” ucap Hyuk Oppa lembut.

”Gomawo yeobo,” balas Ahra Eonnie sembari mendaratkan ciuman di pipi Hyuk Oppa.

Aku hanya bisa tersenyum miris melihat kemesraan mereka. 9 bulan sudah berlalu sejak hari pernikahan itu dan Jujur aku belum bisa membunuh perasaanku terhadap Hyuk oppa. Malah perasaan ini seakan mengikatku. Melihat kemesraan mereka tiap hari seakan membunuhku secara perlahan. Entah sampai kapan rasa cinta ini akan terus menyiksaku.

”Ya, kenapa tak dimakan???” tanya Ahra Eonnie yang membuyarkan lamunanku.

”Ah,,, Ne Eonnie,” ucapku kaget kemudian mulai memasukkan nasi goreng buatan Ahra Eonnie itu ke dalam mulutku.

”Aku sudah selesai, aku pergi dulu ya,” ucap Hyuk Oppa kemudian mengecup singkat bibir eonnieku, lalu mencium pipiku. ”Ehhmm adik kecil, kau mau kuantar ke sekolah???” ucapnya lagi padaku.

Aku tertawa mendengarnya kemudian memukul lengannya pelan. ”Tak usah sok baik padaku oppa.”

”Ya kenapa kau bicara begitu padaku,” rajuknya. ”Jagi, kau lihat sendirikan adikmu ini begitu buruk menilaiku,” ucapnya lagi pada Ahra Eonnie.

”Huuu dasar tukang ngadu…!!!!!!” balasku. ”Aku lebih suka naik sepeda daripada naik mobil bersama oppa.” Aku memeletkan lidahku padanya.

”Aissss dasar adik kecil,” ucapnya gusar sembari mengacak pelan rambutku.

Belum sempat kutepis tangannya, tapi dia sudah berlari duluan. ”Oppa rambutku berantakan dan berhentilah memanggilku adik kecil….!!!!!!!!!!” Teriakku dan dia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arahku.

Sungguh menyebalkan tapi sikapnya yang seperti inilah yang semakin memupuk rasa cintaku padanya. Eonnie Mianhae, Jeongmal Mianhae

 

*****

 

Huahhhh rasanya sungguh lega sudah berada di rumah kembali. Hari ini sungguh melelahkan. Park Seonsaengnim, si Teletubbies itu sungguh menyebalkan. Dia memberikan banyak sekali tugas rumah dan harus segera dikumpulkan besok, dan ini membuatku pulang terlambat karena aku mengerjakannya dulu bersama Ga Eun, sahabatku.

Kenapa rumah ini begitu sepi, sepertinya Eonnie dan Oppa tak ada. Tapi kenapa pintu rumah tak dikunci??? Mereka sungguh ceroboh. Huhhh perutku lapar sekali, Apa aku harus masak sendiri untuk mengisi perutku??? Mudah-mudahan saja ada sesuatu di kulkas yang langsung bisa kumakan tanpa harus kumasak dulu.

Aku berjalan menuju dapur dan kubuka kulkas. Aku langsung tersenyum bahagia ketika kudapati sepotong besar kue di sana. Tanpa ragu, langsung ku gigit kue itu. Wahhh enaknya. Beginilah efek kalau perut lapar, apapun akan terasa enak.

Tapi tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutku dari belakang dan menganggu kesenanganku. Siapa yang berani mengganggu kesenanganku, dasar tidak sopan!!! Tapi tunggu dulu??? Siapa pemilik tangan ini??? Sepertinya ini bukan tangan Hyuk Oppa. Apa ada maling yang menyusup ke rumah ini???

Tangan itu menarik tubuhku paksa menuju ruang tamu, sedangkan tangan yang satunya lagi masih membekap mulutku. ’Tuhan siapa orang ini??? Jangan-jangan dia pemerkosa??? Andwae..!!!!!! Eonnie, Oppa, kalian kemana??? Tuhan tolong lindungi hartaku…’ doaku dalam hati.

Aku harus melindungi diriku sendiri. Dengan nekat aku menggigit tangannya yang membungkam mulutku dan membuatnya mendorong tubuhku ke sofa. Aku menoleh ke arahnya. Tak ada tampang penjahat sedikitpun. Dia begitu bersih, dan kuakui dia cukup tampan. Tapi jangan tertipu dengan tampangnya Gaeul.

”Auuuu…” teriaknya yang membuyarkan lamunanku. ”Ya!!! Dasar setan kecil. Beraninya kau memasuki rumah orang tanpa izin. Kau pencuri ya???” ucapnya yang membuatku kaget.

”Mwo???” Ucapku lirih. ”Kau jangan sembarangan bicara!!!!” hardikku

”Ayo cepat mengaku!!! Atau kau akan kulaporkan ke polisi,” ucapnya lagi sembari mengangkat gagang telepon rumah kami dan bersiap-siap memencet sederet nomor.

Aku langsung menghampirinya, dan berusaha merebut gagang telepon itu. Tapi dia tak mau mengalah, aku sudah kehabisan akal hingga kugigit lengannya yang akhirnya membuat pria itu menjatuhkan gagang telepon.

”Akhhhh..” teriaknya lagi.

Aku langsung mengambil tongkat baseball Hyuk oppa dan bersiap-siap memukulkannya ke pria brengsek itu. Tapi tiba-tiba pintu rumah terbuka dan kudengar jeritan seseorang.

”Jangan…!!!!!!!”

Hyuk oppa dan Ahra eonnie langsung menghampiri kami dan mengambil tongkat baseball di tanganku.

”Ada setan kecil masuk ke rumahmu. Dia pencuri makanan!!!” ucap pria itu sembari menunjukku.

Aku terperangah mendengarnya. Setan kecil pencuri makanan??? Apa aku tak salah dengar??

”Ya!!!” Teriakku gusar. ”Kau jangan sembarangan bicara!!! Oppa, dia menyelinap masuk, sepertinya dia perampok sekaligus pemerkosa..!!!” balasku tak kalah kuatnya dengan suara pria itu.

”Mwooo??? Pemerkosa???” ucapnya tak percaya. Namun sedetik kemudian tawanya memenuhi ruangan ini. ”Hahahaha…. Pemerkosa katamu??? Mataku masih normal, mana mungkin aku akan memperkosa wanita sepertimu. Tubuhmu tak ada menariknya sama sekali. RATA….!!!!!!!!” balasnya.

Ini sungguh penghinaan bagiku. Aku berjalan mendekati laki-laki itu. Aku ingin sekali mencakar wajahnya tapi sebuah tangan melingkar di pinggangku. Aku meronta dan terus berusaha mencakar wajah pria brengsek itu. Tapi sepasang tangan itu mengangkatku dan menurunkanku tepat di belakang tubuh Ahra eonnie.

”Oppa apa yang kau lakukan???” ucapku gusar.

”Ya!!! Aku mohon kalian diam dulu dan dengarkan ucapanku!!!” teriak Hyuk oppa. ”Apa kalian sudah bisa tenang???” ucapnya lagi ketika tak mendengar sepatah katapun dari kami.

”Dia Cho Gaeul, adik iparku,” ucap Hyuk oppa sembari mengatur napasnya. Aku mengernyitkan dahiku tak mengerti, untuk apa Hyuk oppa mengatakan hal ini pada Pria brengsek itu.

”Dan dia Lee Donghae, sahabatku. Jadi tak ada setan kecil pencuri makanan ataupun pemerkosa di sini,” lanjutnya lagi.

Aku terperangah mendengarnya. Begitu juga dengan laki-laki itu.

”Ne, Gaeul. Dia sahabat oppamu. Donghae baru pulang dari Amerika dan dia akan liburan di Korea selama beberapa bulan,” jelas Ahra eonnie.

Aku memandang ke arah pria itu dan dia juga membalas tatapanku. Aku menggembungkan pipiku dan melototkan mataku padanya tapi dia langsung membuang wajahnya.

”Dan satu hal lagi, dia akan tinggal bersama kita selama masa liburannya,” ucap Hyuk oppa.

”Mwoo???” ucapku kaget. ”Bukankah dia dari Amerika, dan dia datang ke Korea untuk liburan, berarti dia memiliki banyak uang. Masa dia tak sanggup menyewa sebuah penginapan??”

”Gaeul…” ucap Ahra eonnie mengingatkanku.

Aku menatap Ahra eonnie sejenak kemudian kembali memandang pria itu. ’Makanya, jika kau tak punya banyak uang, tak perlu berlagak seperti orang kaya sampai liburan ke luar negeri,” lanjutku lagi kemudian memeletkan lidahku padanya.

Aku tak peduli dengan matanya yang melotot padaku. Aku berjalan meninggalkan mereka menuju kamarku.

 

*****

 

Sudah 1 minggu, pria itu tinggal bersama kami. Hufff sungguh menyebalkan setiap kali aku harus melihat wajahnya dan parahnya dia akan menghabiskan masa liburannya di Korea selama 3 bulan. Itu berarti, selama itu juga aku akan terus melihat wajahnya. Sungguh mimpi buruk bagiku.

Ditambah lagi malam ini Ahra Onnie dan Hyuk Oppa tak ada di rumah. Ahra Onnie menemani Hyuk Oppa ke Busan karna urusan Bisnis Hyuk Oppa. Ini sebuah musibah bagiku. Bagaimana mungkin aku tinggal berdua saja dengan laki-laki pervert itu di rumah ini. Oppa, Onnie kenapa kalian begitu percaya meninggalkanku berdua saja dengannya.

”Ya!!! Cepat turun. Apa kau tidak lapar???” Teriaknya.

Aku hanya mendengus kesal mendengar teriakannya.

”Ne,” sahutku dari kamar.

Aku turun dari ranjangku dan menuju ruang makan. Saat tiba di sana, kulihat dia sudah duduk di kursinya dan beberapa makanan sudah terhidang di atas meja. Aku duduk di hadapannya dan mulai mengambil beberapa makanan yang mulai menggodaku. Aku memasukkan makanan itu ke dalam mulutku dan memakannya dengan lahap. Tapi aku sungguh risih diperhatikan seperti ini. Kulihat dia tak menyentuh makanannya sama sekali dan malah memperhatikanku sembari tersenyum mengerikan seperti itu.

”Ya!!! Apa ada yang salah dengan cara makanku?? Apa aku terlihat aneh???” tanyaku ketus.

Lagi-lagi dia memamerkan senyumnya yang menjijikan itu. Apa kau pikir aku akan tergoda dengan senyumanmu itu??? NEVER….!!!!!

”Annie.. Tapi kau terlihat lucu ketika sedang makan,” jawabnya cengengesan.

”Hahaha…” Aku berpura-pura tertawa mendengar ucapannya. ”Kau pikir aku badut??? Dan berhentilah tersenyum memuakkan seperti itu!!!” Hardikku.

”Jujur saja padaku, sebenarnya kau tergoda kan dengan senyumanku???” ucapnya narsis.

Aku menatap wajahnya dengan malas. ”Terserah apa katamu,” balasku kemudian memasukkan lagi makanan ke dalam mulutku.

”Aku tak menyangka kau mau memakan masakanku,” ucapnya lagi.

”Ini masakanmu???” Tanyaku tak percaya dan di jawab dengan anggukan kepala olehnya. Jujur kuakui masakannya lebih baik dari masakanku. ”Yah cukup layak untuk dimakan,” lanjutku tak mau mengakui kehebatannya. Aku tak ingin dia besar kepala di hadapanku.

Dia tertawa mendengar ucapanku dan mengeleng-gelengkan kepalanya pelan.

”Kau terlalu mudah percaya pada orang lain. Bagaimana jika seandainya aku memasukkan sesuatu di dalam makanan ini???” ucapnya yang membuatku terperanjat.

Aku mengangkat kepalaku dan kembali memandang wajahnya. ”Apa maksudmu??”

Dia menaik-naikkan alisnya dan tersenyum jahil padaku. ”Bagaimana jika aku menaburkan sesuatu di makananmu??? Kau lupa?? Malam ini kita hanya berdua di rumah ini.”

Tubuhku sedikit bergetar mendengar ucapannya. Ingin sekali aku mengutuk diriku sendiri. Gaeul-ah paboya. Bagaimana mungkin kau melupakan hal itu???

Aku berusaha menguasai diriku. Kuletakkan sumpitku, kemudian kulipat tanganku di atas meja dan menatap matanya.

”Kau tak akan berani melakukan hal yang macam-macam padaku,” balasku tetap bersikap tenang.

”Kau begitu yakin dengan pikiranmu sendiri,” jawabnya.

Aku menelan ludahku sendiri yang terasa seperti batu. ”Kau tak akan pernah berani melakukan hal itu padaku,” lawanku.

Dia menyeringai padaku. Kemudian berdiri dari duduknya. Dia mulai berjalan menyusuri setiap sudut meja dan semakin mendekatiku. Aku sudah tak sanggup mengontrol detak jantungku.

“Jangan pernah menantang keberanian seorang namja. Jangan pernah menguji nyaliku,” ucapnya tanpa menghentikan langkah kakinya yang terus mendekatiku. Sekarang dia berdiri tepat di hadapanku. Dia menundukkan tubuhnya dan menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. ”Ketika setan mulai menguasai pikiranmu, kau tak akan pernah bisa berpikir jernih, Gaeul-ah,” ucapnya setengah berbisik.

Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhku. Napasku juga mulai terasa berat. Kulihat tangannya mulai terangkat dan mencoba menyentuh pipiku. Dengan sisa-sisa keberanianku kudorong tubuhnya kuat dan berlari secepat mungkin ke arah kamarku. Kulihat dia mengejarku dan sedikit lagi dia hampir menggapai tubuhku, kubanting pintu kamarku tepat di depan wajahnya, kemudian ku kunci pintu kamarku. Napasku tak beraturan dan kakiku mulai melemas. Aku tak bisa menyanggah tubuhku sendiri. Aku bersandar pada pintu kamarku dan akhirnya meringkuk di lantai.

’Eonnie, Oppa…’ ucapku dalam hati.

Ini sungguh sangat menakutkan.

Aku memeluk kedua lututku untuk mengurangi rasa takutku. Tapi tiba-tiba kudengar tawa bahagia dari balik pintu kamarku. Ige mwoya???

”Hahaha Gaeul-ah kau sungguh lucu. Aku mendapatkan hiburan gratis malam ini. Gomawo Gaeul-ah..” ucapnya disela tawanya.

”Mwo??” ucapku lirih.

Aku langsung berdiri dan tanpa membuka pintu kamarku, kutendang pintu kamar itu dengan kasar yang membuat tawa pria mesum itu lenyap.

”Ya!!!! Pria mesum kau sungguh menyebalkan. Dasar Laki-laki GILA!!!!!!!” Teriakku kesal.

”Hahahaha…” lagi-lagi suara tawa itu terdengar di telingaku namun sesaat kemudian suara tawa itu mulai menjauh dari kamarku. Sepertinya dia sudah kembali ke kamarnya.

Aku menghentak-hentakan kakiku kesal dan berjalan menuju ranjangku. Kuhempaskan tubuhku di ranjang empukku.

”Pria itu benar-benar gila. Bagaimana mungkin hal seperti itu dijadikan lelucon??? Apa dia ingin membuatku mati karna jantungan??? DASAR PERVERT!!!!”

 

*****

 

Super Senior High School terlihat sangat sepi pagi-pagi begini. Ya, aku sengaja pergi ke sekolah lebih cepat dari hari-hari biasanya. Ini semua karena pria mesum itu. Aku sengaja keluar rumah sebelum pria gila itu keluar dari kamarnya. Aku sungguh tak mau bertemu dengan pria itu lagi. Itu sungguh menakutkan.

”Ya!!!! Kau sedang memikirkan apa???” ucap seseorang sembari merangkul pundakku dan itu membuatku sedikit terkejut.

Aku menghela napasku lega ketika melihat orang yang sangat kukenal, Park Ga Eun. Tapi….

Aku menyipitkan mataku dan kepandangi dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Apa-apaan ini??? Kenapa dia berdandan seperti ahjumma-ahjumma.

”Ya!!!! Kenapa melihatku seperti itu????” ucapnya.

Aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya.Tidak panas sama sekali. Ga Eun menepis tanganku pelan.

”Ya Cho Gaeul!!!” ucapnya geram.

“Apa kau baik-baik saja??? Ada apa dengan dirimu hari ini??? Kenapa berdandan seperti ini??? Kau ingin sekolah atau pergi ke pesta??? Kau tau, kau terlihat seperti ahjumma,” balasku.

Dia berdecak kesal mendengar ucapanku.

”Ya!! Kau lihat??? Bukan hanya aku yang berdandan seperti ini, tapi hampir seluruh wanita di sekolah ini termasuk Kim seonsaengnim,” ucapnya sembari menunjuk salah satu guru muda yang lewat di depan kami. ”Jika kau berdandan, kujamin kau tak akan rugi,” lanjutnya lagi.

”Wae???” tanyaku malas.

”Aissss Cho Gaeul,” ucapnya gemas. ”Sebenarnya kau hidup di dunia mana??? Apa kau masih satu dunia denganku???”

Pletakkk…

Kujitak kepalanya. Wanita ini benar-benar bicara seenaknya saja.

”Kau pikir aku alien???” balasku.

Ga Eun memanyunkan bibirnya dan mengelus pelan bekas jitakanku.

”Itu semua karna kau tak pernah menyadari dengan keadaan di sekitarmu,” ucapnya pelan. Namun, sesaat kemudian dia langsung menatapku dengan semangat yang meluap-luap.

”Kau tau kan, Han Seonsaengnim sedang cuti karna sebentar lagi dia akan melahirkan???” tanyanya dan kujawab dengan anggukkan kepala.

Kemudian aku berjalan menuju bangkuku dan duduk di sana. Ga Eun juga duduk di sampingku.

”Dan Kau tau siapa yang menggantikan Han Seonsaengnim menjadi guru musik di sekolah kita???” Tanyanya lagi dan dengan enteng kepalaku menggeleng cepat.

”Memangnya itu penting???” Tanyaku asal.

”Sangat penting. Dia seorang namja dan dia hanya beberapa tahun lebih tua dari kita. Dan yang paling penting dia sangat tampan, dan ketika kau melihatnya menari kau akan terkagum-kagum pada dirinya.”

”Jincha???” ucapku malas. Aku mengeluarkan buku ku dari dalam tas dan membolak-balik setiap halamannya meskipun aku tak membacanya. Sejujurnya ini hanya alat untuk membuat Ga Eun mengerti aku tak tertarik dengan ucapannya ^_^

Dan sepertinya itu berhasil, Ga Eun berhenti mengoceh. Tapi tunggu dulu, kenapa kelas ku juga terasa sepi sekali. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah Ga Eun dan kulihat matanya tak berkedip sama sekali. Ku kibaskan tanganku di depan matanya tapi tetap tak mendapat respon.

”Annyeonghaseyo,” ucap seseorang yang membuatku mengalihkan pandanganku dari wajah Ga Eun.

Kulihat seorang namja berpakaian rapi, kurasa dia guru baru itu, berdiri di depan kelas dan sedang membungkukkan tubuhnya sedikit. Namun sedetik kemudian mulutku menganga ketika melihat wajah namja itu.

Andwae….

ANDWAE…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

To be Continue….

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s