1001 wajah Heenim chapter 4

Standar

Ahra’s POV

Dua minggu kemudian

Tak terasa sudah dua minggu berlalu, dan sialnya, aku masih saja belum bisa mengungkapkan kasus kekerasan yang dituduhkan pada Kim Hee Chul. Aku yang mulai merasa lelah bolak-balik kantor polisi dengan menggunakan taksi, langsung mencari supir baru. Ketika aku baru saja mau memasang iklan pencarian supir baru, Lee Hongki meneleponku kalau dia punya teman yang bisa dijadikan supir pribadiku. Akhirnya kuterima tawarannya, dan hari ini Hongki datang bersama temannya yang dia bilang padaku kemarin.
“Noona, ini Heenim, temanku yang kubicarakan kemarin”.
“Anyeong asseyo…Heenim imnida”.
Setelah memperkenalkan aku dengan Heenim, Hongki langsung menuju ke lantai atas, ke kamar Kyuhyun tepatnya. Apalagi kalau bukan bermain games.
Heenim masih saja terpaut pada posisi awal dia datang, masih berdiri dengan setelan jas hitamnya. Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah. Mungkin dia sedikit gugup. Karena aku memperhatikannya sambil duduk di sofa. Yang aku perhatikan dari tadi adalah bentuk dan postur tubuhnya. Kalau bisa aku simpulkan, Heenim adalah laki-laki cantik. Bagaimana tidak, meskipun tertutup oleh jas yang dipakainya, aku bisa melihat kulit putihnya yang seperti susu dari leher sampai wajah dan telapak tangannya. Aku bisa membayangkan diriku berselancar di tubuhnya karena kulitnya yang begitu putih dan mulus seperti susu sapi yang baru diperah. Proporsi tubuhnya yang kecil membuat dia semakin mendekati sosok seorang wanita. Aku saja yang wanita tidak mungkin bisa memiliki tubuh seperi Heenim.
Entah apa yang ada dipikiranku, aku langsung percaya begitu saja pada Heenim, kulempar kunci mobilku kearahnya, dan dengan tangan yang sigap dia menangkapnya.
“Antar aku ke kantorku”
Perintah pertamaku keluar untuk Heenim, supir baruku.
“Satu lagi Heenim…”
Aku mulai terbiasa memanggil namanya
“Ne, nona Cho”
“Ini terakhir kaliya kau berpakaian layaknya di pemakaman, arasseo?”
Kataku sedikit sinis
“Ne, arasseo”
“Kajja..”
Heenim pun laangsung mengikutiku dari belakang. Sebenarnya alasanku menyuruhnya untuk tidak berpakaian seperti orang pergi melayat adalah aku bukan orang se-formil itu, yaahh..meskipun aku selalu berpakaian formil karena tuntutan pekerjaanku, jadi kuijinkan Heenim memakai baju santai.

* * *

Aku sedang duduk termangu di meja kerja kantorku. Kutatapi beberapa lembar foto yang dijadikan polisi sebagai alat bukti untuk menjerat Kim Hee Chul ke dalam penjara. Kutatapi langit-langit ruang kerjaku sambil memutar-mutarkan kursi yang kududuki, sesekali kupandangi foto-foto itu. Seketika saja kuhentikan kursi yang kuputar-putar sedari tadi saat aku melihat ada kejanggalan di salah satu foto-foto itu.

Akupun kini sudah berada di kursi belakang mobilku.
“Kita ke kafe Myoon”
“Ne…”
Heenim pun langsung melaju sangat cepat mengendarai jaguarku, ketika tiba-tiba…
Ccckkkiiiiiiitttttttt………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tiba-tiba saja Heenim menginjak rem dengan mendadak ketika aku selesai menelepon Honki untuk memberitahu Kim Hee Chul untuk menemuiku di kafe Myoon dan kejadian itu berhasil membuat posisi dudukku jadi tak karuan. Rambutku kini terurai tanpa ada kuncir yang mengikatnya. Ditambah lagi kacamataku yang entah ada dimana. Aku sibuk mencari-cari kuncir rambut dan kacamataku, sedikit terganggu gerakku dengan rambutku yang terurai. Saat aku sedang sibuk-sibuknya mencari kedua benda yang sangat penting bagiku itu, sesosok tangan yang putih dan mulus menjulur di depan mataku. Aku begitu malu dengan keadaan rambut yang terurai dan tanpa kacamataku, sehingga ketika Heenim memberikan kacamataku, cepat-cepat kuambil alat bantu lihatku itu tanpa melihat Hennim sedikitpun. Pencarianku masih berlanjut, tapi segera kuhentikan karena aku memutuskan untuk membiarkan rambutku terurai. Akupun bercermin di kaca spion dan kurapikan rambutku dengan jari tanganku. Seketika kuhentikan kegiatanku itu saat kedua mataku dan Heenim saling bertemu di kaca spion itu. Aaiissshhh..kenapa aku jadi gugup didepan Heenim??Untungnya kegugupanku tak berselang lama, karena kami sudah tiba di tempat aku dan Kim Hee Chul berjanji untuk bertemu. Sedangkan Heenim, dia kusuruh pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Sebenarnya, ini hanya alasan semata menyuruhnya pulang, aku hanya ingin merasakan waktu berdua dengan Kim Hee Chul..Ottokhe??Apa yang aku pikirkan??aahhh..masa bodoh, itu yang aku inginkan saat ini. Kapan lagi aku punya waktu berdua dengan orang yang selama ini kukagumi sejak bertahun-tahun. Tapi, semangatku untuk bertemu Kim Hee Chul sedikit berkurang ketika aku duduk di kursi di luar kafe dan bercermin di kaca kafe, kulihat rambutku yang panjang bebas bergerak kesana-kemari karena hembusan angin di luar kafe ini.
Kutunggu Kim Hee Chul di teras kafe, duduk manis sambil sesekali merapikan rambutku. Dan ketika kurapikan rambutku, terlihat samar-samar seorang lai-laki berpakaian santai dan memakai masker, topi kupluk, dan kacamata. Dugaanku benar, itu adalah Kim Hee Chul. Aku sangat menyukai dandanan santainya hari ini, tapi mengapa penglihatanku harus terganggu dengan masker yang menutupi wajahnya, belum lagi topi di kepalanya dan sarung tangan yang membuat dia seperti orang yang takut terkena matahari. Aku tersenyum sambil membungkukkan badanku. Ooohh,,aku tidak suka ini. Seharusnya di tempat se-romantis ini, seorang namja sedang memanjakan yeojachingu nya. Tidak seperti aku dan Kim Hee Chul sekarang, kami malah serius membicarakan kasusnya. Aku jadi membayangkan tempat ini begitu sepi, hanya ada aku dan Kim Hee Chul duduk manis sambil menikmati udara musim semi, dan aku mencoba menangkap daun-daun yang berguguran dan Km Hee Chul meraih tanganku dan akupun tersenyum membalas genggamannya. Betapa manisnya khayalanku itu yang terpaksa berhenti ketika kurasakan ada sesuatu yang menempel di tanganku, halus, hangat…OMO!!!tangan Kim Hee Chul memegang erat tanganku!!Eottokhe??
“Hari ini kau cantik sekali nona Cho”
Omo!!wajahku merah padam!!andwe!!andwe!!aku benar-benar dibuat lemas olehnya, ingin sekali kulepas kacamata dan masker yang dipakainya agar aku bisa membelai lembut wajahnya untuk membalas genggaman tangannya di tanganku.

Ingin rasanya kuhentikan waktu untuk bisa lebih lama merasakan genggaman tangannya, walaupun terhalangi oleh saruh tangannya. Tapi sepertinya aku terlalu berharap, karena tiba-tiba dia melepaskan genggaman tangannya.
“Permisi nona Cho, aku ke toilet sebentar”
Wajahku mungkin seperti bunga yang baru mekar tapi kemudian layu karena diserang hama, SANGAT KECEWA!!!Andwe!!merusak suasana!!Untuk apa dia pergi ke toilet?!yang seharusnya gugup itu kan aku,,aaiisshh,,laki-laki itu. Aku terpaksa menunggunya lagi sambil menikmati capucino pesananku. Sedang nikmatnya kunikmati cappucino yang hangat itu, tiba-tiba aku terkejut dengan sekelebat cahaya seperti petir. Tak beberapa lama, beberapa orang yang kuyakini adalah paparazzi langsung menghampiriku dengan sedikit kasar karena keingintahuan mereka mencari berita. Sontak aku langsung berdiri dari kursi kafe itu. Dan dengan semua peralatan yang mereka bawa, mereka langsung mengambil gambarku, dan merekapun tak perlu menunggu lama untuk memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan.
“Nona Cho, bagaimana perkembangan kasus Kim Hee Chul?”
“apakah foto-foto yang beredar dapat menjeratnya ke penjara?”
“Akankah dia membuka identitas aslinya di depan publik?”
Aaiisshhh…rasanya aku ingin berteriak menerobos gerombolan paparazzi yang membabi buta menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang kasus Kim Hee Chul. Tubuhku semakin terdorong, kulihat ke arah belakangku, satu langkah lagi aku bergerak mundur, aku akan terjelembab ke dalam kolam kecil yang belum sepenuhnya selesai dibuat. Eottokhe?? Heeniiiimmmm!!!!Aku harus telepon dia!!Tapi waktuku tak banyak!!Aku sudah masuk ke dalam lubang itu kalau aku menelepon Heenim!!
Aku sudah pasrah, tubuhku tiba-tiba lemas, sepertinya aku positif jatuh ke dalam lubang itu.
Sssrreekk!!!
Di dalam kepasrahanku, tiba-tiba kurasakan seseorang melingkarkan lengannya ke pinggangku dan dengan sigap dia menarik tubuhku yang sudah ada di ujung tanduk siap terjelembab ke dalam lubang itu. Sesosok pria berseragam polisi lengkap dengan masker dan kacamatanya dengan cepat menjauhkan aku dari kumpulan paparazzi itu. Tapi paparazzi2 itu masih saja mengejar aku yang kini masih berada di lingkaran tangan laki-laki tak dikenal itu, dan baru kusadari tangan yang satunya menggenggam erat tanganku seperti tak ingin lepas. Dia membawaku ke dalam ruangan kecil di belakang kafe itu, sepertinya ruangan tempat menyimpan alat-alat pembersih ruangan.
Terdengar langkah orang berlari di luar ruangan itu. Tiba-tiba polisi itu menarikku ke dalam pelukannya dan bersembunyi di balik pintu ruangan itu ketika salah satu paparazzi yang mengejarku membuka pintu ruangan itu. Posisiku semakin terjatuh ke dalam pelukan polisi itu. Kepalaku tepat menempel di dadanya. Tangan kanan polisi itu merangkul bahuku sambil matanya melirik keluar untuk melihat keadaan. Kusempatkan diriku untuk melihat lebih lama sosok polisi itu. Aku lalu mendongakkan kepalaku untuk lebih jelas melihat wajahnya. Tapi percuma, aku tidak bisa melihat wajahnya yang ditutupi masker dan kacamata itu, dan rambutnya yang basah tertutupi oleh topi polisi yang dipakainya. Yang dapat kulihat hanyalah butiran-butiran keringatnya yang mengalir deras di lehernya. Kualihkan pnadanganku ke arah tangannya yang ada di bahuku. Sepertinya aku mengenali sosok tangan itu.
Sssssrrreeeekkkk!!!!!
Tiba-tiba saja orang itu menarik tanganku dan membawaku berlari keluar dari ruangan itu, suasana pun tak seramai tadi, dan orang itu menarikku ke arah tempat parkir dan menuju ke arah sebuah mobil jaguar silver yang tak lain adalah mobilku. Aku mulai berpikir, mengapa mobilku ada di sini? Bukankah Heenim sudah kusuruh puulang? Dan yang lebih mengagetkan, polisi yang tadi menolongku lalu membukakan pintu mobil samping supir untukku dan orang itupun ikut memasuki mobilku itu. Aku semakin bingung dibuatnya ketika dia duduk di kursi kemudi. Aku menatapnya heran, bertanya-tanya siapa sebenarnya orang ini…
OMO!!
Tiba-tiba saja orang itu tersentak kaget melihat paparazzi2 tadi lewat samping mobilku. Dan yang membuatku kaget, orang itu menarikku ke dalam pelukannya. Dan percaya atau tidak, kini posisiku dengan orang itu seperti sepasang kekasih yang sedang bercumbu. **readers bayanginnya jangan yadong yaaa,,,kekeke..**
Aaiigggoo..wajahku pasti sudah merah padam.
“Maaf, sebentar saja biarkan seperti ini setelah keadaan aman”
Aku kenal suara dibalik masker ini!!!
Selang beberapa menit, dia melepaskan tubuhku dari pelukannya setelah keadaan sudah aman. Aku masih manatapnya penasaran. Tak lama kemudian, orang itu melepaskan satu per satu atribut yang ada di wajahnya.
“Heenim!!!”
“Ne, mianhe nona Cho telah membuatmu tidak nyaman”
“bukankah kau kusuruh pulang??”
“Aku khawatir dengan keselamatan Anda dan Tuan Kim, jadi aku tidak jadi pergi”
Oohh!!!aku baru ingat, dimana Kim Hee Chul?Keadaan gawat seperti ini dia malah menghilang!!

TBC
Author : Chulliemyoon

Auutthhoorrr datttaaannnggg..setelah nge-post chapter 3 yang se-uprit,,akhirnya selesai juga chapter ini..ngetik mpe subuh euy…hehehe.pasti ada yang bilang “ooo..Heenim yang nyelametin” atau ada juga “tuh kan bener Heenim yang nyelametin”…tapi ngomong-ngomong sosok Kim Hee Chul ko tiba2 ilang yah disaat genting gitu..mau tauu jawabannya???**ting-ting..goyang2in kacamata**hhehehe…tunggu chapter selanjutnyaa yang AGAK skinship..hahahaha…daaaaahhhhhh

7 responses »

  1. ciahh..apaan tuhh,layu diserang hama..kwkwkwk.. ,ahra alay mode on. ehh,anyway,btw,bussway..tuh polisi pasti chulie yg nyamar ya kan ching..wkwkwk ..sesuai judulnya..keren2,lanjutan na ASAP bow!!

  2. oy oy oy

    dasar 1001 wajah.. tp emg kudu heenim yg nolong. klo heechul mlh tmbh heboh.. ksian oppa gw ntar dkrumunin paparazi lg..

    post quickly y eon… ^_^

  3. eonni,,, lanjutannya mana??? mian aku ru bisa buka lagi,, duh ichul oppaa kenapa banyak muka seh??? eonni kyu gimana jadinya??? part 5 segera ya eon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s