Hope is a Dream that Never Sleeps Part 1

Standar

Tittle: ♥ Hope is a Dream that Never Sleeps

Genre: Terserah

Lenght: Oneshot [4 Chapts + Epilog]

OST. :

  1. Hope is a Dream that Never Sleep (Super Junior Kyu Hyun)
  2. Blue Tomorrow (SuJu – M)

Disclaimer : Tribute ehh, salah! Dedicated to Uri Yeobo, Yonin, Chingu, Oppa, Hyung, Dongsaeng, Appa (?), Ahjussi (??), Haraboji (???) “Evil Game Cho Kyu Hyun”

Warning (ngerangkep ma AN) : Setelah baca ff ini diharapkan tidak ada keributan ataupun unjuk rasa apalagi demonstrasi *appan sich??*

Jika setelah baca ff ini ada yang keberatan, silahkan bantai Kyumong *inno smile*

Tapi jika ada yang jatuh cinte ama saia, dengan senang hati saia menerima kiriman parcell dan juga angpao *maklum Imlek Buuuu~*

Dui buqi, kalo ada ejaan Mandarin yang salah ato ngaco, cz Author emang sotoy binti ke-PD-an hahahah

Yasud, nh Author dah ilang separo kesadarannya, jd langsung ajah, Yi.. Erl.. San…

Check this one out! *ala VJ MTV #gubraaaxxx*

Beijing, 31st December 1997…

Seorang bocah lelaki tengah berdiri di depan sebuah club malam di pusat kota Beijing. Tak berapa lama kemudian keluar lah seorang wanita muda dari club itu yang langsung menghampiri bocah lelaki itu.

“Kui Xian, maaf ya, tadi Amma (*Mother) masih menunggu Mr. Chen memberikan gaji Amma dulu. Kau sudah lapar?” tanya wanita itu.

“Hemm, dan aku ingin makan mie di tempat Paman Lim.” Jawab si bocah yang dipanggil Kui Xian itu.

Ibunya hanya tersenyum lalu segera menggandeng tangan putra semata wayangnya yang masih berusia 10 tahun tersebut untuk berjalan meninggalkan tempat itu. malam semakin dingin, karena di China ini masih puncaknya musim dingin. Beberapa kali wanita itu membetulkan jaket putranya yang tampak memucat karena hawa dingin yang sungguh menusuk kulit dan tulang itu.

Setibanya di sebuah warung mie di pinggir jalan di tengah keramaian kota Beijing di malam tahun baru itu, kedua ibu – anak itu berhenti dan si ibu menyuruh putranya untuk duduk, sementara ia mengatakan pesanannya pada si pemilik warung yang sudah sangat mengenal mereka berdua. Saat ibunya sedang memesan makanan untuk mereka, Kui Xian melihat ada seekor anak kucing sedang berdiri di tengah jalan. Reflek ia berdiri dan menghampiri anak kucing itu. Tanpa ia sadari ada sebuah mobil datang dari samping kirinya. Orang – orang yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan menyuruhnya minggir. Namun semuanya terjadi begitu cepat. Kui Xian kecil hanya bisa menutup matanya karena takut. Beberapa saat kemudian ia merasa ada yang mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh di tepi jalan, lalu terdengar suara benturan yang cukup keras. Kui Xian pun membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di hadapannya. Ia melihat tubuh ibunya tergolek di tengah jalan dengan darah segar mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang lain. Dengan tertatih, Kui Xian bangun dan berjalan ke arah ibunya. Ia langsung meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat.

Amma!!” teriak Kui Xian.

“Kui.. Xi.. an.. dui.. bu..qi… (*I’m sorry) Ma.. afkan.. Am.. ma….” Bersamaan dengan itu tangan ibunya jatuh terkulai.

Kui Xian langsung menangis sambil mengguncang – guncang tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa itu. ia terus memanggil – manggil ibunya, berharap bahwa ibunya akan bangun kembali. Tapi semua terlambat, ibunya telah meninggalkannya untuk selamanya. Meninggalkan dirinya sebatang kara. Akhirnya, di malam tahun baru itu ia harus merelakan ibu yang sangat ia sayangi pergi meninggalkannya.

Beberapa saat kemudian polisi dan petugas medis datang dan membawa jasad ibunya untuk dikremasi. Sementara ia sendiri akhirnya dibawa oleh petugas kepolisian dan diantar ke sebuah panti asuhan. Karena ia memang sudah tidak punya siapa – siapa lagi. Satu – satunya keluarga yang ia punya telah tiada. Mulai saat itu ia tinggal di sebuah panti asuhan sederhana di pinggiran kota Beijing.

==**==

Beijing, 31st December 1997 (in other place)…

Sebuah mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Beijing yang lumayan padat karena malam ini adalah malam tahun baru. Semua orang merayakan malam tahun baru dengan penuh suka cita, meski masih ada juga sebagian orang yang tidak bisa merayakan malam pergantian tahun itu. Di dalam mobil itu, tepatnya di jok belakang, duduk seorang gadis kecil yang tampak bahagia. Dari tadi ia terus mengamati benda yang ada di tangannya. Sebuah benda berbentuk bulat seperti bola yang terbuat dari kaca tembus pandang yang di dalamnya terdapat miniature rumah di tengah salju lengkap dengan boneka saljunya. Gadis kecil itu sangat menyukainya, hal itu membuat senyum seolah tak pernah lepas dari wajah polosnya.

“Apa kau menyukai kado tahun barumu sayang?” tanya seorang wanita muda yang duduk di jok depan. Si gadis kecil langsung mengangguk sambil tersenyum.

Gege (*Older Brother) mu sengaja membelikannya untukkmu. Katanya itu sekaligus kado Natal yang belum sempat ia berikan padamu kemarin.” Tambah seorang pria sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya.

Gege curang! Pokoknya, nanti kalau Gege pulang ke Beijing, aku akan menagih kado Natal darinya.” Sahut si gadis kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari bola Kristal yang ada di tangannya.

“Yan Lin, jangan begitu. Gege mu kan memang sedang sibuk dengan sekolahnya di Seoul, jadi dia tidak sempat membelikan kado Natal untukkmu.” Kata wanita itu mencoba bijak.

“Amma selalu membela Gege.” Balas si gadis kecil yang bernama Yan Lin itu sembari mengerucutkan bibirnya.

“Aihh, putri kesayangan Papa ngambeg?? Jelek lho…” goda si Pria yang tak lain ayah si gadis kecil.

“Pokoknya, aku mau minta kado Natal pada Gege kalau nanti Gege pulang!” balas Yan Lin tetap ngeyel. Kedua orang tuanya hanya tersenyum melihat tingkah manjanya itu.

Saat keluarga itu asyik mengobrol di tengah perjalanan mereka, tiba tiba ban kiri mobil yang mereka tumpangi pecah. Hal itu sontak membuat Mr. Tan, ayah Yan Lin kaget dan berusaha tetap mengendalikan laju mobilnya. Tetapi kondisi jalan yang licin karena salju yang masih turun membuat laju mobil mereka di luar kendali. Mr. Tan berusaha menginjak rem dengan sekuat tenaga, tapi mobil mereka terus meluncur hingga akhirnya selip dan membentur trotoar. Mobil itu terbanting dan terguling beberapa kali di tengah jalan hingga akhirnya berhenti di tengah jalan.

“Yan.. Lin…” panggil Mrs. Tan.

Amma…” Yan Lin langsung menangis.

“Ja.. ngan.. ta.. kut.. sa.. yang…” kata Mrs. Tan berusaha menenangkan putrinya yang menangis ketakutan di jok belakang.

Yan Lin sangat takut melihat ayahnya yang tidak bergerak lagi dengan tubuh yang berlumuran darah dan terjepit stir mobilnya. Sedangkan ibunya juga mengalami luka parah dengan darah segar mengalir deras dari pelipis dan hidungnya. Yan Lin sendiri juga mengalami luka yang cukup parah, namun melihat keadaan orang tuanya, membuat Yan Li lebih takut.

Beberapa orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung datang menolong. Mereka berusaha membuka pintu mobil itu namun yang bisa dibuka hanya pintu belakang dimana Yan Lin duduk. Akhirnya mereka mengeluarkan Yan Lin dari mobil itu dan membawanya ke tepi jalan. Saat mereka hendak menolong Mr. dan Mrs. Tan, tiba – tiba muncul sebuah truk dengan kecepatan lumayan tinggi. Spontan orang – orang itu berlari menyelamatkan diri. Sayangnya, mereka belum sempat menyelamatkan kedua orang tua Yan Lin yang masih terjebak di dalam mobil itu. Sehingga tabrakan pun tidak dapat terhindarkan. Yan Lin kecil melihat truk itu menghantam mobil ayahnya yang di dalamnya masih ada kedua orang tuanya. Yan Lin sangat shock hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Saat ia sadar, ia telah berada di rumah sakit. Tapi ada yang aneh. Ia tidak bisa mengingat apa pun. Dokter mengatakan bahwa ia mengalami amnesia karena shock. Tapi satu hal, ia masih memiliki bola Kristal yang di situ terukir sebuah nama, Yan Lin, maka dari itu orang – orang menduga bahwa namanya adalah Yan Lin. Lalu beberapa bibi yang sama sekali asing untuknya datang menjemput dan mengantarkannya ke makam orang tuanya. Setelah itu mereka membawanya ke sebuah panti asuhan. Sebuah tempat yang sangat asing baginya, namun mulai saat itu akan menjadi rumahnya. Karena tidak ada yang tahu apakah ia masih mempunyai keluarga atau tidak. Polisi juga mengalami kesulitan mencari tahu keluarganya karena Yan Lin sama sekali tidak ingat apa – apa. Di malam tahun baru itu ia mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan kedua orang tuanya sekaligus kehilangan seluruh ingatannya. Mulai saat itu ia tinggal di panti asuhan itu. Sebuah panti asuhan sederhana di pinggiran kota Beijing.

==**==

A week later…

Kui Xian sedang bermain bola bersama beberapa anak di panti asuhan. Tiba – tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis kecil yang sepertinya sedang diganggu oleh anak panti yang lain. Ia pun segera mendekati mereka. Ia melihat si gadis kecil sedang berusaha mengambil sesuatu dari tangan anak lain yang lebih besar darinya.

“Kembalikan, benda itu punyaku!” teriak si gadis kecil sambil menggapai benda yang masih berada di tangan anak itu.

“Kalau aku tidak mau memangnya kenapa? Apa yang bisa dilakukan anak aneh sepertimu?!” ledek si anak itu. teman – temannya yang menyaksikan hal itu hanya tertawa.

“Kembalikan!” kata si gadis kecil lagi. Kini matanya terlihat berkaca – kaca.

“Dasar anak tidak berguna!” bentak si anak lain sembari mendorong tubuh kecil gadis itu hingga ia jatuh terjengkang ke belakang.

“Benar kan? Kau itu hanya anak aneh yang tidak bisa apa – apa.” anak itu mulai menghina gadis kecil itu lagi sambil tertawa. Gadis kecil itu hanya menatapnya sambil menahan air mata.

“Hentikan!” teriak sebuah suara yang langsung membuat gerombolan anak – anak nakal itu menoleh. Ternyata Kui Xian.

“Hehh, bocah kecil, mau apa kau?!” sinis si anak yang bertubuh paling besar yang membawa benda si gadis kecil.

“Kalian itu seharusnya malu. Kalian lebih besar darinya, kenapa kalian malah menyakitinya?”

“Hehh, jangan sok pahlawan kau anak kecil!”

“Aku hanya ingin kau mengembalikan benda milik gadis itu.”

“Kalau aku tidak mau, kau mau apa, hah?!” bentak anak itu sembari berjalan menghampiri Kui Xian.

Kui Xian mundur beberapa langkah ke belakang. Anak – anak nakal itu tersenyum sinis melihatnya. Lalu salah satu dari mereka mencengkeram kerah baju Kui Xian. Disaat anak itu hendak melayangkan pukulan ke wajah Kui Xian, tiba – tiba Kui Xian berteriak.

“Suster Kepala!! Suster Kepala!!” teriak Kui Xian yang secara spontan membuat anak – anak tadi langsung melepasnya dan mendadak menjadi panic.

“Hehh, bocah tengik, tutup mulutmu!!” bentak ketua mereka.

“Kalau kalian tidak mengembalikan benda gadis itu, aku akan melaporkan kalian pada Suster Kepala!” balas Kui Xian.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kita meladeni bocah ini. sebaiknya kita lepaskan mereka, daripada kita dapat hukuman dari Suster Kepala.” Saran anak lain.

“Baiklah, kali ini kalian aku lepaskan! Cih, aku juga tidak butuh benda memuakkan seperti ini!” kata si ketua sembari melemparkan benda itu ke atas rumput.

“Kalian berdua memang cocok, sama – sama aneh!” lanjutnya sebelum akhirnya benar – benar pergi dari hadapan Kui Xian dan gadis kecil itu

“Kau tidak apa – apa?” tanya Kui Xian sembari membantu gadis kecil itu berdiri.

Gadis itu tidak menjawab, ia langsung merebut benda miliknya yang sekarang ada di tangan Kui Xian. Sepintas Kui Xian melihat siku gadis kecil itu berdarah. Ia langsung meraih tangan gadis itu dan memeriksa lukanya. Namun gadis kecil itu langsung menepis tangannya.

“Diam dulu! Lihat, tanganmu terluka, harus segera diobati, mengerti?!” kata Kui Xian setengah membentak.

Gadis kecil itu akhirnya diam dan menuruti Kui Xian saat ia menuntunnya menuju sebuah bangku kecil di taman panti asuhan.

“Tunggu di sini, aku akan segera kembali.” Perintah Kui Xian.

Gadis kecil itu hanya diam dan menundukkan wajahnya. Kui Xian menghela nafas sejenak lalu ia berlari kecil masuk ke dalam panti asuhan. Beberapa menit kemudian ia kembali ke taman itu dengan membawa kotak obat dan sebotol air minum. Namun saat tiba di taman itu ia tidak mendapati si gadis kecil di sana. Kui Xian menjadi agak panic karenanya. Lalu ia segera mencari si gadis kecil itu. Setelah beberapa saat berkeliling, ia akhirnya melihat sosok gadis kecil itu. Ia melihat gadis kecil itu sedang berdiri di bawah sebuah pohon besar di atas bukit kecil di belakang panti asuhan itu. Ia pun segera menghampiri gadis kecil itu.

“Heii, bukankah aku menyuruhmu untuk menungguku, kenapa kau malah ada di sini?! Aku mencarimu tau!!” omel Kui Xian begitu ia berdiri di samping gadis kecil itu.

“Kau ini berisik sekali.” Sahut gadis kecil itu dingin. Kui Xian langsung menaikkan alisnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Tidak ada.”

‘Dasar aneh.’ Batin Kui Xian.

“Sini, biar ku lihat lukamu.” Kata Kui Xian sembari meraih lengan gadis kecil itu, tapi lagi – lagi gadis kecil itu menepisnya.

“Kalau tidak diobati, nanti lukamu bisa infeksi!” kata Kui Xian setengah berteriak karena mulai kesal.

Akhirnya gadis kecil itu menurut dan membiarkan Kui Xian mengobati sikunya yang terluka. Ia sempat mengerang saat tanpa sengaja Kui Xian menekan lukanya terlalu keras saat mengoleskan obat. Kui Xian langsung meniup lukanya dan segera menutupnya menggunakan plester.

“Nah, sudah selesai. Sekarang minumlah, kau pasti haus juga kan?” Gadis kecil itu menatap botol minum yang disodorkan Kui Xian, tapi ia hanya diam saja.

“Jadi kau tidak mau minum? Baiklah, kalau begitu aku minum sendiri saja.” Goda Kui Xian. Secepat kilat gadis kecil itu merebut botol minum dari tangan Kui Xian dan meneguknya. Kui Xian tersenyum dan mengusap pelan kepala gadis kecil itu.

===============

“Oh ya, kenalkan, namaku Kui Xian. Siapa namamu?” tanya Kui Xian sembari mengulurkan tangan kanannya. Gadis kecil itu menetapnya sejenak, lalu meraih uluran tangan Kui Xian.

“Yan.. Lin…” jawab gadis kecil itu lirih.

“Yan Lin? Hemm, nama yang bagus. Jadi mulai sekarang, kita berteman ya?”

“Hee? Kau, mau berteman denganku?” tanya Yan Lin polos. Kui Xian tersenyum.

“Tentu saja.” Jawabnya sembari mengusap puncak kepala Yan Lin dengan gemas.

“Tapi, mereka bilang aku aneh.”

“Aku juga aneh.”

“Hee??”

“Sudahlah. Aku tidak peduli apa yang mereka katakan, yang penting aku mau berteman denganmu.”

Kui Xian kembali tersenyum dan tanpa sadar Yan Lin juga ikut tersenyum. Seingatnya, itu seperti senyuman pertamanya semenjak ia tidak bisa mengingat apa – apa lagi. Tanpa terasa mereka cepat sekali akrab seperti teman lama. Mereka mengobrol banyak atau lebih tepatnya Yan Lin mendengarkan cerita Kui Xian dan juga gurauan Kui Xian. Itu pertama kalinya Yan Lin bisa tertawa lepas. Seperti semua beban di bahunya menghilang karena mendengar cerita dan gurauan Kui Xian.

“Oh ya, sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kui Xian. Rasa penasaran kembali melandanya.

“Hemm, aku hanya melihat rumah pohon itu.” jawab Yan Lin.

“Rumah Pohon??” Kui Xian mengernyitkan dahinya.

“He’eh, lihatlah ke atasmu.”

Kui Xian pun menuruti perkataan Yan Lin dan segera mendongakkan kepalanya. Matanya melebar saat mendapati sebuah rumah – rumahan yang berada di atas pohon besar yang dari tadi mereka pakai berteduh. Tadi Kui Xian tidak terlalu memperhatikan, jadi ia tidak tahu adanya rumah pohon itu.

“Wow, bagus sekali! Tapi, dimana tangganya?” tanya Kui Xian di sela kekagumannya.

“Tidak ada.” Jawab Yan Lin.

“Baiklah, kalau begitu besok kita buat tangga untuk naik ke atas sana, bagaimana?”

“Kita?”

“Iya, kau dan aku, siapa lagi?”

“Hemm, baiklah.”

“Nah, sekarang kita kembali ke panti. Hari sudah sore, nanti Muqin mencari kita.” Ajak Kui Xian sembari mengulurkan tangannya pada Yan Lin.

“Hemm…” Yan Lin menyambut uluran tangan Kui Xian dan berdiri mengikuti Kui Xian yang berjalan sembari mengenggam erat tangannya. Samar, Yan Lin tersenyum melihat tangannya yang berada di genggaman Kui Xian.

==**==

Next Day…

Hari ini seperti yang telah mereka sepakati, Kui Xian dan Yan Lin kembali ke rumah pohon itu dan memulai membuat tangga kecil untuk naik ke atas rumah pohon tersebut. Saat tangga yang mereka buat jadi, Kui Xian langsung mencobanya dan naik ke atas. Sementara Yan Lin masih mematung di tempatnya berdiri. Kui Xian yang menyadari hal itu kembali turun dan berdiri di hadapannya.

“Mengapa tidak ikut naik?” tanyanya.

“Aku.. Aku takut ketinggian.” Jawab Yan Lin sembari menundukkan wajahnya. Kui Xian tersenyum lalu meraih tangannya.

“Tenang saja, kan ada aku. Ayo, aku bantu kau naik.”

Yan Lin hanya mengangguk. Lalu Kui Xian kembali menapaki satu persatu anak tangga kecil itu sembari terus menggenggam tangan Yan Lin yang mengikuti di bawahnya.

“Kalau takut, jangan lihat ke bawah, mengerti?”

“Hemm…”

Akhirnya mereka pun tiba di atas rumah pohon itu. Setibanya di atas, Kui Xian langsung merebahkan dirinya, sementara Yan Lin berusaha mengatur nafasnya. Setelah itu Kui Xian bangun dan mulai melihat – lihat pemandangan dari atas rumah pohon itu. Ia tidak menyadari bahwa Yan Lin hanya duduk di sudut rumah pohon itu sembari memeluk lututnya. Kui Xian pun akhirnya menyadari hal itu dan langsung menghampirinya. Ia melihat Yan Lin gemetar. Ia tahu, pasti itu karena phobia Yan Lin. Perlahan ia mengelus kepala Yan Lin untuk menenangkannya.

“Jangan takut, ada aku di sini.” Kata Kui Xian berusaha menenangkan Yan Lin.

Perlahan, ia menarik tangan Yan Lin dan mengajaknya berdiri. Lalu ia mengajak Yan Lin menuju tepi rumah pohon itu. Yan Lin hanya menutup matanya karena takut. Kui Xian mengeratkan genggaman tangannya.

“Bukalah matamu, jangan takut.” Kata Kui Xian.

Lalu perlahan ia mulai membuka matanya. Awalnya ia masih merasa takut, tapi lama kelamaan rasa takutnya seakan menghilang dan tergantikan oleh rasa kagum. Yan Lin sangat takjub dengan pemandangan yang sedang dilihatnya kini. Hamparan bukit yang menghijau di bawah sana bagai sebuah permadani. Agak jauh di depannya, ia melihat hamparan padang bunga. Mungkin ada beberapa jenis bunga yang tumbuh di sana, pikir Yan Lin. Tanpa ia sadari ia terus tersenyum dan dari tadi Kui Xian juga tersenyum menatapnya. Sadar, sedang diperhatikan seseorang, Yan Lin pun menoleh.

She me?(*What?) tanya Yan Lin.

Mei she.(*Nothing) jawab Kui Xian sambil menggeleng pelan.

Lalu ia kembali memandang ke depan yang diikuti Yan Lin. Keheningan melanda mereka berdua sejenak. Sampai akhirnya Kui Xian buka suara.

“Emh, bagaimana kalau kita jadikan rumah pohon ini sebagai tempat rahasia kita berdua?” tanyanya, tanpa mengalihkan pandangannya. Yan Lin menatapnya dengan alis berkerut.

“Tempat rahasia kita?”

Sh, (*Yes) hanya kau dan aku, zen me?” (*How?) tanya Kui Xian lagi. Kali ini ia menatap Yan Lin.

Hao.(*Alright) Yan Lin mengangguk lalu kembali tersenyum.

==**==

Beijing, 3rd February 1998…

Tak terasa waktu cepat berlalu dan mereka pun semakin akrab selayaknya sahabat. Baru kali ini Yan Lin merasa nyaman semenjak tragedy yang dialaminya beberapa waktu lalu. Ia merasa beruntung ada Kui Xian di sampingnya yang selalu melindunginya.

Hari ini adalah ulang tahun Kui Xian. Ia sengaja meminta izin kepada ibu panti asuhan untuk merayakannya hanya berdua bersama Yan Lin. Lalu Kui Xian dan Yan Lin pun pergi ke rumah pohon, tempat rahasia mereka berdua.

“Oh ya, kapan hari ulang tahunmu?” tanya Kui Xian saat mereka sedang menyiapkan untuk merayakan ulang tahun Kui Xian. Yan Lin hanya menunduk dan menggeleng.

“Apa maksudmu? Kau tidak punya hari ulang tahun?”

“Aku tidak ingat.”

“Hee??”

“Kata Suster Wang, saat mereka membawaku dari rumah sakit, aku mengalami amnesia. Mereka tahu namaku dari ukiran yang ada di benda ini.” jelas Yan Lin sembari menunjukkan bola kristalnya yang terdapat sebuah ukiran nama di bawahnya.

“Oo, jadi begitu..” Kui Xian mengangguk paham.

“Sudah, jangan sedih. Begini saja, bagaimana kalau mulai sekarang hari ini juga hari ulang tahunmu?” lanjut Kui Xian. Yan Lin menatapnya tak mengerti.

“Ya, mulai sekarang ulang tahunku juga ulang tahunmu. Jadi kita bisa merayakannya bersama.” Tambah Kui Xian sembari tersenyum lebar.

Wo khe yi? (*May I?) tanya Yan Lin setengah tak percaya.

“Tentu saja. Kau mau kan?”

“Iya, tentu saja aku mau.” Jawab Yan Lin berseri – seri. Kui Xian langsung mengusap gemas kepala Yan Lin.

“Nah, sekarang kita nyalakan lilinnya.” Yan Lin hanya mengangguk.

Lalu Kui Xian menyalakan beberapa lilin – lilin kecil berwarna – warni diatas cake sederhana yang dibuatkan oleh ibu panti mereka. Saat Kui Xian hendak meniup lilin – lilin itu, Yan Lin menghentikannya. Kui Xian menatapnya bingung.

Make a wish dulu baru kita tiup lilinnya.” Ajak Yan Lin.

Kui Xian mengedikkan bahunya lalu mengikuti Yan Lin menutup mata. Namun Kui Xian kembali membuka matanya dan tersenyum menatap Yan Lin yang sedang serius menutup mata sembari mengucapkan permohonannya. Saat Yan Lin hendak membuka matanya, Kui Xian kembali menutup matanya dan berpura – pura mengucapkan permohonan. Sesaat kemudian ia membuka matanya.

“Kau siap?” tanya Kui Xian. Yan Lin mengangguk semangat.

Yi.. erl.. san.. (*1.. 2.. 3..)

Bloow~

Kui Xian dan Yan Lin kompak meniup lilin – lilin itu hingga padam.

Zhu ni sheng ri khuai le!! (*Happy Birthday!!) seru Kui Xian dan Yan Lin bersamaan sembari bertepuk tangan bahagia.

===============

“Kui Xian?” panggil Yan Lin. Kini mereka berdua tengah duduk sambil mengayunkan kaki di tepi rumah pohon itu.

“Hemm?” sahut Kui Xian tanpa mengalihkan pandangannya.

Xiexie (*Thank you)

“Untuk?”

“Karena kau telah mengizinkanku merayakan ulang tahun bersama denganmu. Hari ini aku sangat senang, seperti terlahir kembali. Tai xiexie.” Jawab Yan Lin. Kui Xian menoleh padanya dan tersenyum.

Bu khe xie. (*Ur welcome)

“Hemm, aku tidak punya apa – apa untukmu. Jadi, aku ingin memberikan ini sebagai ucapan terima kasih sekaligus kado ulang tahun untukmu.” Kata Yan Lin sembari menyerahkan bola Kristal kesayangannya pada Kui Xian.

“Yan Lin, tapi ini kan benda kesayanganmu. Lagipula ini adalah satu – satunya benda yang bisa mengingatkanmu pada keluargamu, kenapa kau memberikannya padaku?”

“Mulai sekarang, aku ingin kau menyimpannya. Memang itu satu – satunya benda yang bisa mengingatkanku pada keluargaku, tapi bukankah hal itu percuma jika aku tidak bisa mengingat apa – apa? Lagipula, sekarang kau kan juga keluargaku. Jadi tidak salah kan, jika aku memberikannya padamu?” jawab Yan Lin sembari tersenyum. Kui Xian menatapnya bengong.

“Sudahlah, aku mohon kau menerimanya. Apa yang kau lakukan untukku jauh lebih berharga dan berarti dari sekedar menyimpan benda seperti ini. Terima kasih.” Lanjut Yan Lin. Kui Xian pun menerima bola Kristal itu.

“Aku, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan menjaga bola Kristal ini dengan sepenuh hatiku, seperti aku akan selalu menjagamu.” Janji Kui Xian.

“Janji?” tanya Yan Lin sembari menjulurkan kelingkingnya.

“Janji!” sahut Kui Xian yang langsung menautkan kelingkingnya pada kelingking Yan Lin dan mereka pun tertawa bersama.

“Ahh, sebenarnya aku juga punya hadiah untukmu.” Kata Kui Xian.

“Ehh??”

“Hemm, aku juga ingin memberimu sesuatu karena kau juga memberikan benda kesayanganmu ini padaku. Sekarang, tutup matamu.” Pinta Kui Xian.

Meski agak bingung, tapi Yan Lin menurutinya juga. Ia pun menutup matanya. Perlahan Kui Xian mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Sebuah kalung berantai kecil panjang dengan sebuah liontin berbentuk lingkaran dari batu giok berwarna hijau emerald. Ia mengamati kalung itu sejenak, lalu segera memakaikannya pada Yan Lin.

“Sekarang, buka matamu.” Pinta Kui Xian. Perlahan Yan Lin membuka matanya dan terkejut melihat ada sebuah benda yang menggantung manis di lehernya kini.

“Kui Xian, i.. ini??”

“Itu adalah kalung mendiang ibuku.”

“Ta.. tapi…”

“Sangat cocok untukmu. Seperti namamu yang berarti Batu Giok yang Cantik, kalung itu memang seperti berjodoh denganmu ya?” gurau Kui Xian.

“Kui Xian…”

“Coba kau lihat di balik liontin batu giok itu.” pinta Kui Xian. Yan Lin pun membalik batu giok tersebut dan matanya seketika membulat.

“Tulisan ini?”

“Kui Xian & Yan Lin, kau menyukainya?”

“Sangat, aku sangat menyukainya.” Jawab Yan Lin. Perlahan air mata menetes dari kedua bola matanya. Melihat hal itu, Kui Xian langsung merangkul pundak Yan Lin untuk menenangkannya.

Sheme shi?(*What’s wrong?) tanya Kui Xian.

“Aku, hanya terharu. Xiexie…” jawab Yan Lin.

“Sama – sama.”

“Mulai sekarang, kita tidak akan terpisah. Aku akan selalu menjagamu.” Lanjut Kui Xian. Yan Lin hanya mengangguk dan tersenyum.

==**==

~ TBC

7 responses »

  1. unyu unyu… aigoo~
    Kyu u r good in seduction..
    masih kecil bs se-sweet itu sm cwe..ckckck..

    ini smpe 4-end kn y shan? wkt tu liat dfb tp g smpet bc…

    dtunggu next partny..
    btw authornya syp? slm knal author ^_^

  2. Annyeong ^^

    Hyunnie Imnida *bow*

    Ahh, 1st would thank’s to Sun Ha Onnie~
    *Hugs*
    Gomawo dah bantuin publish nh ff *agak telat sih*

    Buat all readers makasi banyak, saia pendatang baru, hahhhahah😄
    tai xiexie ^^
    *bow*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s