Cake Of Love Part 7

Standar

Author  : Hye Ri

_____________

Cerita sebelumnya :

“Aku sengaja menyisihkan sepotong first snow untuk Unnie. Aku yakin sekali Unnie akan ke sini lagi. Waktu aku tahu stock first snow tinggal beberapa potong, aku langsung menyelinap ke dapur dan mengambil sepotong. Tenang aja. Aku nggak nyuri kok. Aku udah mbayar kue ini tadi. Yang njaga kasir itu Unnieku. Jadinya gampang aku lapornya.

“Unnie mu ?”

“Iya. Yang tadi melayani Seohyun Unnie juga Unnie ku. Tapi Unnie ku yang kedua. Yang menjaga kasir itu baru Unnie ku yang pertama. Yang pertama namanya Joo Yeon Unnie dan Unnieku yang barusan namanya Taeyon Unnie” Jelasnya. Aku teringat sesuatu. Aku coba memberikat beberapa pertanyaan yang menjurus ke arah situ.

“Ooh. Berarti kau, Oppamu, dan Unniemu semua bekerja di sini ?”

“Keureuchi !” Jawabnya mantap.

“Appa dan Eommamu juga kan ?”

“Ne.” Jawabnya lagi masih dengan mantapnya.

“Nama margamu Cho kan ?”

“Yup !”

“Dan Oppamu bernama Cho Kyuhyun, penerus cafe ini sebagai usaha keluargamu. Keureucho ?”

“Ne, keureuchi ! Eh ?” Dia kelihatan bingung. “Kok Unnie tahu semuanya ?”

Aku tersenyum.

“Tentu saja. Aku bahkan sangat mengenal Oppamu.”

 

 

Cake of Love Part 7

 

—- Hye Ri POV [Point of View] —-

 

“Unnie…, sangat kenal…, sama Kyu Oppa ?” tanyaku. Jujur, aku terkejut sekali. Ternyata, mereka sudah saling kenal. Berarti, aku tidak perlu menjalankan misi rahasiaku mempertemukan mereka. Mereka kan habis berantem kemaren. Maksudku, mereka kan bisa berdamai.

Seohyun Unnie tersenyum lagi. Dia mengangguk pelan.

“Gimana bisa kenal ? Kok Kyu Oppa nggak pernah cerita-cerita kalau punya temen semanis Unnie, ya ? Oh iya, kemaren kalian berantem kan ? Kalau boleh aku tahu, kenapa ya ?” tanyaku penasaran. Habis kemarin sampai heboh begitu, siapa yang ggak penasaran coba ?

Unnie di depanku kelihatan sedikit terkejut.

 

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

 

Aduuuh,

Kenapa sih anak ini pakai tanya kejadian kemarin segala ? Kalau aku cerita sekarang, bisa-bisa dia heboh *menurut pengamatanku, anak ini sepertinya tipe anak yang gampang heboh.* Aissshh !!! Harus cari alasan nih.

“Wah, ceritanya panjang, Hye Ri. Bisa selesai besok sore kalau aku cerita sekarang.” Alasanku. Ah, peduli amat mau lebay atau tidak. Dia terkekeh.

“Unnie lebay.” Komentarnya. Aku cuma memasang cengiran khasku. Kami terdiam beberapa saat sampai akhirnya Hye Ri bicara.

“Unnie, first snow-nya dimakan tuh. Aku udah beliin buat Unnie lho. Oh ya, bolanya Unnie udah jadi dibalikin sama Oppa ?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia bertanya lagi.

“Baguslah. Kemarin kukira Oppa malah akan membuangnya. Soalnya, Oppa maksa-maksa aku terus sih buat mbalikin bola itu.”

“Jadi, awalnya kau tidak ingin mengembalikan bolaku ? Aiiih, nakal ya.” Aku mencubit hidungnya. Dia mengerang kesakitan.

“Bukan gitu, Unnie,” dia mengelak sambil mengelus hidungnya yang merah karena kucubit *habis, gemes banget sih*. “Sebenarnya, aku ingin bola itu aku yang balikin ke Unnie. Tapi Oppa maksa biar dia aja yang balikin. Aku nggak percaya, soalnya kalian kan habis berantem. Tapi Oppa maksa terus. Bilangnya, buat minta maaf gitu. Tapi aku tetep keukeuh buat aku aja yang balikin ke Unnie. Terus Oppa malah nggelitikin aku sampai aku sesak napas. Ya udah, akhirnya mau nggak mau, bolanya diambil Oppa. O iya, Oppa jadi minta maaf ?”

Aku tersentak.

“Maaf ?” tanyaku bingung. Bagaimana tidak bingung. Ceritanya Hye Ri dan apa yang si Kyuhyun itu jelaskan berbeda 360 derajat. Dia bilang kalau Hye Ri yang memaksanya, kenapa Hye Ri malah bilang kalau Oppanya itu yang memaksa ingin mengembalikan bolaku sendiri ?

Aneh.

“Iya. Katanya Oppa kan mau minta maaf sama Unnie. Makanya dia ngebet banget mau ngembaliin bola Unnie. Gimana, udah jadi ?” Tanyanya lagi. Aku gelagapan. Jujur, aku bingung.

“Oh…, eh…, eummm…, aa~” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Dia mengerutkan dahi.

“Belum ya ? Tuh kan bener. Oppa nggak bener-bener ingin minta maaf. Dasar Oppa.” Katanya. Aku cuma menganggukan kepalaku pelan sambil masih sedikit syok.

“First snow-nya dimakan, Unnie. Tapi, aku minta sedikit ya ? Hehehe.” Pintanya. Aku mengangguk mengiyakan. Pikiranku masih agak kacau mendengar ceritanya barusan. Kubiarkan dia menyendok sedikit first snow cake yang diberikannya padaku itu.

“Aku juga bawa kue lain lho, Unnie. Tapi buatanku sendiri.” Lapornya. Aku cuma tersenyum kecil. Mencoba peduli padahal pikiranku masih benar-benar kacau.

“Apa sih maksud orang itu?” gumamku.

 

 

“Hari ini selasa ya ? Wah, sepertinya Oppa akan munul hari ini.” Tiba-tiba dia berkata di sela-sela makannya. Aku yang baru saja memasukkan sepotong kecil first snow ke dalam mulutku *dan merasakan sensasi ‘terbang’nya*, menaikan alis mataku bingung.

“Muncul ?” tanyaku. Dia mengangguk sambil menyendok kuenya sendiri.

“Ne. Aku tidak tahu mulai kapan itu terjadi tapi, setiap hari selasa dan minggu, Oppa selalu menyempatkan keluar dapur afe dan mengantarkan langsung pesanan pengunjung. Memang tidak lama dan tidak semua pengunjung sih. Tapi, Oppa keluar dari dapur saja sudah cukup bikin heboh dan histeris pengunjung cafe, apalagi yang beruntung bisa diantar pesanannya sama Oppa.” Jelas gadis kelas 3 SMP di depanku itu.

“Oppamu…, fans-nya banyak ya ?” tanyaku penasaran. Dia mengangkat bahu.

“Nggak juga sih. Lumayan lah, menurutku. Tapi, kebanyakan pengunjung cafe ini adalah fans Oppa. Kenapa emang, Unnie ? Oh, apa jangan-jangan, diem-diem Unnie nge-fans sama Oppa, ya ?”

Aku seperti terkena sambaran petir. Pertanyaannya sukses membuatku melebarkan mataku.

“Eh ! Aniyo ! Buat apa juga. Aku kan lagi berantem sama Oppamu itu. Amit-amit deh.” Elakku. Dia manggut-manggut.

“Syukurlah…” Dia mengelus dada.

“Eh ? Wae ?”

“Aku taku aja. Soalnya, banyak fans Oppa yang ganas-ganas dan ingin mendapatkan Oppa. Tapi, selama aku, Cho Hye Ri, masih hidup dan masih sehat, aku akan selalu menjaga Oppaku tercinta dari fans-fansnya yang ganas-ganas itu. Ayo ! Unnie bantu aku ! HWAITING !!!” Teriaknya tiba-tiba sambil beranjak berdiri. Aku sedikit kaget melihat tingkahnya *tuh kan, anaknya memang heboh*

“Ne, hwaiting.” Aku mengepalkan tanganku walau agak ngeri juga. Dia kembali duduk.

“Mian, Unnie. Aku emang suka agak heboh. Hehe.” Dia nyengir. Aku ikutan nyengir juga. Cih, ada-ada saja.

 

“Eh, kok Confettiku belum diantar-antar ya ?” aku melongok-longok mencari pelayan yang membawa pesananku. Hye Ri yang baru saja melahap lagi kuenya, menawarkan bantuan.

“Apa mau aku tanyain sama Unnieku, Unnie ?”

Aku menggeleng pelang.

“Nggak usah. Kamu di sini aja, temenin aku.” Aku menyendok first snowku lagi. Dia berkata lagi.

“Kalau beruntung, Confetti Unnie bisa aja Oppa yang nganterin. Aiih, haengbokhaeyo !! Kalau cake Unnie Oppa yang anterin kan, Unnie sama Oppa bisa ketemu. Hehehe.”

Aku sedikit terkejut. Mataku membelalak.

“Kau ini ngomong apa, sih ? Ada-ada saja.” Kataku mengelak. Sebenarnya, jujur aku agak mengharapkan itu juga sih. Siapa tahu kan cake-ku si Kyuhyun yang antar. Hey, Seo Joo Hyun, kau mikir apa sih ? *dimarahin logika sendiri*

“Tapi aku nggak yakin juga, sih, Unnie. Akhir-akhir ini, Oppa lagi sibuk buat persiapan kontes patissier tingkat Inernasional di Italia 2 minggu lagi. Aku juga belum ketemu Oppa hari ini. Ya, selain tadi pagi sih. Unnie tahu, first snow itu juga salah satu cake Oppa yang akan dibuat untuk kontes patissiernya. Walaupun agak mendadak sih. Dan yang spesial lagi, potongan pertama first snow cake itu akan diberikan Oppa untuk seorang Unnie yang disukai Oppa. Aku juga belum tahu siapa Unnie itu. Kuharap, dia itu Unnie yang baik dan sayang sama Oppa. Dan sayang sama aku juga. Itu syarat sebenarnya.” Hye Ri selesai menyelesaikan penjelasan panjang lebar itu. Aku semakin tersentak.

“Jadi benar. Kyuhyun ingin memberikan cake-nya itu untuk yeoja yang disukainya tapi aku malah menggagalkannya. Gadis itu pasti Yoo Yi.” Kataku dalam hati.

“Seohyun Unnie, tau nggak siapa Unnie yang Oppa suka ?” dia bertanya tiba-tiba. Aku tersadar dari lamunanku kemudian menggeleng pelan. Dia ber’o-o’ ria.

“Aku tahu, Hye Ri. Sangat tahu.” Kataku lagi dalam hati. Entah kenapa, hatiku jadi perih tiba-tiba. Sakit. Aku mendadak pusing dan menlungkupkan kepalaku di meja. Hye Ri menyentuh pundakku.

 

—- END POV —-

 

—- Hye Ri POV —-

 

“Unnie nggak apa-apa ?” tanyaku panik. Siapa sih yang nggak panik lihat orang di deket kita tiba-tiba jadi lemes. Mana barusan aku sama Unnie sempet ngobrol seru juga.

Seohyun Unnie menggoyangkan tangannya menandakan dia tidak kenapa-kenapa.

“Aku nggak apa-apa. Cuma tiba-tiba pusing aja. Kecapekan mungkin tadi habis latihan.” Jelasnya. Aku bernapas lega.

“Phufh ! Kirain kenapa. Aigoo~ Unnie bikin panik aja.” Aku mengelus dada.

Tiba-tiba daerah cafe dekat pintu dapur ramai mendadak. Aku langsung melongok mencari tahu apa yang terjadi.

“Oo~ !” Aku menaikan alis mataku. Aku melihat seseorang dengan pakaian koki keluar dapur dan mengantarkan pesanan seorang pengunjung. Pengunjung itu terlihat sangat senang dengan kehadiran orang itu.

“Oppa ?!”

 

—- End POV —

 

—- Seohyun POV —-

 

“Oppa ?!” Nada suara Hye Ri agak sedikit terdengar terkejut. Aku mendongak lalu menoleh mengikuti pandangannya yang lurus di belakangku. Aku ikut terkejut.

“Si Kyuhyun itu ? Di sini ? Sekarang ?” Aku segera kembali ke posisi ku semula. Mataku melebar.

“Wah, Oppa muncul juga akhirnya. Kirain nggak bakal dateng. Eh ? Unnie nggak apa-apa, kan ? Kok dari tadi aku lihat kagetan terus ? Ada Oppa tuh. Lho ? Oppa ke sini ? Whoa !! Oppa kesini !” Hye Ri heboh. Mendengarnya berkata seperti itu, aku langsung kembali menengok ke belakang dan ternyata benar !

Aku melihatnya berjalan melewati meja-meja dan pengunjung lain sambil terus tersenyum dan menyapa para pengunjung itu. Pemandangan yang menyenangkan tapi hanya sebentar aku bisa melihatnya. Aku segera memalingkan wajahku menghadap arah lain. Intinya, jangan sampai orang itu melihatku.

Perasaanku tidak enak.

“Pesanan meja nomor 22. Confetti Almonade dan Capuccino pesanan anda sudah diantarkan. Selamat menikma…, Eh ? Kau ?!”

 

Mati aku.

 

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

Aku terus menyapa para pengunjung di cafeku ini sambil menuju meja bernomor 22. Angaka kesukaanku. Aku terus berjalan sambil terus menjaga keseimbangan nampan kue berisi sepotong Confetti Almonade dan segelas Capuino di atasnya. Salah satu kue yang paling kusuka. Cake rasa tiramisu berlapis dengan wafer di dalamnya. Krim berwarna krem yang dicampur dengan serpihan oklat yang kecil-kecil dan juga taburan potongan kacang almond menghiasi cake itu. Enak sekali. Makannya kenapa kunamakan Confetti Almonade. Sebenarnya, aku tidak terlalu yakin apa arti Confetti itu. Tiba-tiba terlintas saja di pikiranku ketika selesai membuat kue itu.

Aku sampai di meja bernomor angka kesukaanku.

“Pesanan meja nomor 22. Confetti Almonade dan Capuccino pesanan anda sudah diantarkan. Selamat menikma…, Eh ? Kau ?!”

Aku terkejut melihat pengunjung yang duduk di meja ini. Hye Ri ?

“Hye Ri ? Sedang apa kau di sini ? Bukannya seharusnya kau kerja ya ?” Aku memberondonginya pertanyaan. Yeodongsaengku itu malah nyengir lebar.

“Aku kan lagi istirahat. Shiftku masih nanti jam 3.” Jawabnya. Aku menganggukan kepalaku tanda mengerti.

“Kau pesan Confetti ?” Tanyaku. Dia menggeleng.

“Ani. Bukan aku yang pesan kok. Nih, Unnie ini yang pesan. Unnie, Oppaku nih.” Dia mencolek gadis di depannya. Aku baru sadar kalau dia bersama temannya.

Gadis itu menghadapkan wajahnya ke arah lain membelakangiku. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Rambutnya panjang dan digerai. Aku belum pernah lihat teman Hye Ri yang seperti dia. “Tapi Hye Ri memanggilnya Unnie. Memang, dia benar temannya ?” Tanyaku dalam hati.

“Siapa dia ?” tanyaku pada Hye Ri sambil menunjuk gadis itu. Hye Ri tersenyum. Dia kembali mencolek gadis di depannya.

“Unnie, ada Oppaku nih. Pengen ketemu. Kalian kan udah saling kenal. Unnie !” Dia menggoyang tangan gadis itu yang berada di atas meja. Gadis itu masih tidak bergeming. Aneh sekali, sih ? pikirku.

“Kenal ? Memangnya dia siapa ?”

“Seohyun Unnie. Oppa kenal kan ?” Hye Ri akhirnya menyebutkan namannya.

“Seohyun ? Nama yang tidak asing bagiku. Apa jangan-jangan… ?” Aku menyipitkan mataku dan memanggilnya.

“Seohyun ? Kau…, Seo Joo Hyun ?”

 

Dengan sedikit takut-taku *atau apa, aku tidak tahu*, dia mulai membalikkan wajahnya dan melihatku. Aku kaget sekali begitu tahu kalau dia…

“KAU !!”

 

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

 

Dia memanggil namaku ? Dia memanggil namaku ! *girang dalam hati*

Jangan berbalik Seohyun. Jangan !

Tapi, akhirnya, entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku sudah berbalik dan kin kulihat dia berdiri di depanku. Aku memberanikan diriku melihat wajahnya.

“KAU !!” Dia menunjuk ke arahku dengan pandangan terkejut total. Jujur, sebenarnya aku sama terkejutnya mendengar dia tiba-tiba berteriak dan menudingku. Aku kena serangan sesak napas tiba-tiba.

“Ka…, kau ?! Sedang apa kau di sini ? Hh, kau tidak bosan-bosannya ya, terus-terusan ada dalam kehidupanku. Kau tidak kapok dengan kejadian kemarin ? Masih berani juga main ke sini ! Kau mengikutiku ya ?” Bentaknya. Walau tidak sekeras kemarin, tapi cukup membuat pengunjung di cafe sempurna melihat ke arah kami. Hye Ri menenangkan Oppanya.

“Sssshhtt, Oppa ! Pengunjung lain ngeliatin tuh. Sudahlah, Oppa. Kalau kalian mau berantem lagi, jangan di sini donk.”

Aku berdiri menghadapnya. Entah keberanian darimana tiba-tiba saja aku berdiri dan melabraknya. Mungkin karena masalah harga diri.

“Cih, aku pengunjung dan aku berhak untuk berada dimana saja atau pergi kemana saja. Kau bukan siapa-siapa. Statusmu sebagai pewaris utama cafe ini tidak berlaku untukku. Kau seharusnya menghargai dan melayaniku sebagai pengunjung cafemu. Aku bisa saja melaporkanmu dan membuat cafemu bangkrut dengan caraku sendiri…”

“Andwae, Unnie !” Hye Ri memotong kalimatku. Aku gelagapan. Jujur, sebenarnya itu cuma ancaman saja, aku tidak akan benar-benar melakukannya. Si Kyuhyun itu mulai melunak wajahnya setelah aku bilang seperti itu. Rasakan !

Dia mendengus.

“Seohyun Unnie benar, Oppa. Nggak semestinya Oppa bersikap seperti ini. Lagian Unnie kan juga pengunjung cafe kita. Harus diperlakukan dengan sopan. Oppa lupa peraturan cafe ya ?” tanya Hye Ri yang langsung merubah wajah Kyuhyun menjadi jauh lebih lunak dari sebelumnya. Namja itu melirik padaku dengan tatapan menyebalkan kemudian berlalu.

 

“Oppa !” Panggil Hye Ri. Kyuhyun berbalik.

“Mwo ?!”

“Ada yang kelupaan, Oppa.” Hye Ri menunjukku dengan tatapannya. Aku tidak tahu maksudnya apa. Kyuhyun mendengus lagi. Lebih keras. Ia kembali ke kami.

“Katakan ! Palli [cepat] !” Suruh Hye Ri. Katakan apa ?

“Selamat menikmati.” Kata Kyuhyun sambil membungkuk dan memasang senyum yang dipaksakan. Dia berlalu lagi.

“Oppa !” Hye Ri memanggilnya lagi. Kyuhyun berbalik lagi dan tampangnya agak kesal.

“Apa lagi sih ? Kau mau aku melakukan apa lagi ?” tanyannya dengan nada kesal.

“Maksudku bukan bilang ‘selamat menikmati’. Bukan itu, Oppa. Oppa nggak minta maaf sama Seohyun Unnie? Sagwahaeyo [ayo minta maaf] !”

“Apa aku harus melakukannya ?” Nadanya menolak. Hye Ri mengangguk yakin.

Aku menahan tawa. Rasakan itu, Kyuhyun ! Mau apa kau sekarang, hah !

Dia mendekati kami lagi. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Tawaku nyaris keluar dan aku harus tetap menahannya. Aigoo~ wahnya lucu sekali.

“Joesonghamnida.” Katanya pelan. Pelan sekali. Dia membungkukan badannya sekali lagi.

“Nggak kedengaran, Oppa. Ulangi !” Hye Ri protes. Kudengar Kyuhyun mendengus lagi. “Aku siap, Kyunnie ! Silahkan ucapkan kata itu sekali lagi.” Aku tertawa dalam hati.

Dia mencengkram erat bajunya.

“Jalmot haeseo. Joesonghamnida. [saya salah, maaf].”

“Masih nggak kedengeran.” Hye Ri protes lagi. Terlihat jelas di wajah Kyuhyun kalau dia kesal dan ingin sekali membalas Hye Ri atas perlakuannya ini padanya. Aku masih berusaha menahan tawaku yang siap meledak.

“Sambil senyum ya, Oppa.” Request Hye Ri. Senyum ?

Dia kelihatan keberatan, tapi akhirnya, dia melakukannya juga walau aku yakin pasti dia sangat terpaksa.

“Seohyun ssi, Jalmot haeseo, joesonghamnida.” Dia mengucapkan namaku sambil tersenyum lalu membungkuk.

 

Tawa yang kutahan tiba-tiba hilang entah kemana begitu melihatnya tersenyum padaku. Napasku sesak tiba-tia. Perasaan apa ini ? Kenapa rasanya ada sesuatu yang tidak bisa kutahan yang terus menyesakkan dadaku ? Kenapa begitu melihatnya tersenyum aku malah merasakan sesuatu yang berbeda ? Apa aku…?

“Aku tidak menyukainya !” Aku menyanggah pikiranku sendiri. Tidak mungkin.

 

“Nah, gitu donk. Kan enak. Eh, Oppa ! Nyanyi donk.” Pinta Hye Ri. Kyuhyun, yang sebenarnya masih kesal, cuma bisa menghela napas dan berlalu lagi.

“Ih, aku dicuekin. Dasar Oppa aneh. Unnie, duduk lagi yuk.” Ajaknya. Aku masih merasa sesak, tapi aku tetap mengikutinya duduk. Aku mencoba kembali ke alam sadarku dan melihatnya memandangi panggung.

“Oppa jadi nyanyi nggak ya ?”

“Nyanyi ?” tanyaku bingung. Dia mengangguk.

“Iya, Oppa kan ikut Band di SMA, dan mereka sering banget nyanyi di sini. Kadang Oppa nyanyi solo kadang bareng Bandnya. Biasanya kalau Oppa nganterin pesanan, ujung-ujungnya pasti nyanyi.”

Terdengar suara seseorang mengetes mic di atas panggung kecil di cafe ini. Hye Ri berbalik dan heboh. Aku mengalihkan pandangaku juga dan melihat orang itu diatas panggung.

“Whooa !! Oppa mau nyanyi juga ternyata. Aiih, neomu meositta [keren banget] ! Oppa ! Oppa !” Hye Ri memanggil berkali-kali memberi dukungan. Sama seperti pengunjung lain yang heboh melihat Kyuhyun di atas sana. Dia tersenyum lagi *serasa kesetrum tiba-tiba.*

“Annyeong haseyo, Kyuhyun imnida. Hari ini, aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk gadis yang duduk di meja sebelah sana…,” dia menunjuk mejaku. Kami maksudku, mejaku dan Hye Ri. Hye Ri heboh lagi. Jujur, aku terkejut setengah mati waktu dia menunjuk ke meja kami.Aku jadi ge-er.

“Dia menunjukku ? Masa sih ?” Aku senyum-senyum malu. Dia melanjutkan lagi.

“…, adikku yang paling kusayangi, Cho Hye Ri. Dan juga untuk Eomma, Appa, dan kedua Noonaku, Joo Yeon Noona dan Taeyon Noona. Neomu Saranghae.” Dia melingkarkan tangannya di kepala membuat lambang ‘saranghae’. Semua pengunjung berteriak histeris dan heboh.

Aku merasa seperti dijatuhkan dari gedung berlantai 20. Sumpah, aku malu sekali. “Kau keterlaluan, Seohyun. Mana mungkin dia menunjukku ? Dia kan membenciku ? ” Aku menjitak kepalaku sendiri dan membenamkan wajahku diantara kedua telapak tanganku.

 

Hye Ri ikut heboh.

“Oppa ! Seohyun Unnie juga !” Teriak Hye Ri. Aku tidak menggubrisnya. Yang ada dipikiranku sekarang, bagaimana caranya menghilangkan perasaan-perasaan yang bercampur ini ?

Kyuhyun tersenyum *author POV*.

“Dan juga, karena permintaan adikku, lagu ini kupersembahkan juga untuk temannya, Seohyun…”

Aku langsung mengangkat kepalaku. Mataku membelalak dan mulutku otomatis ikut menganga tidak percaya. Orang itu ?

 

Apa baru saja orang itu… ? Aku pasti salah dengar. Tapi tadi jelas sekali dia menyebutkan namaku. Tidak mungkin semudah itu kan ? Karena permintaan Hye Ri, dia langsung melakukannya. Dia sayang banget sama Hye Ri, ya ? Namaku…, dia sebut lagi.

Aku melihat ke Hye Ri yang tersenyum senang melihat Oppanya diatas sana. Aku menghela napas.

 

Shining Star! like a little diamond, makes me love

Naegen kkoomgyeolgateun

Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

Hangsang hamkke halgeora till the end of time

 

Aku semakin terkejut begitu dia mulai menyanyi intro lagu itu. Lagu yang selalu kudengarkan. Lagu yang selalu membuatku tenang. Lagu ini ? Lagu yang sangat kusukai. Shining Star ?

“Lagu ini, lagu kesukaanku dan adikku, Shining Star dari Super Junior.” Kyuhyun berkata disela-sela musik lagu itu.

Dia…, suka lagu ini ?

 

Neul barago ijjyo hangsang geogieseo wooseumjitgireul

Ddeut moreul ohaewa iyoo eobneun miwoome himi deureodo

Deo meon goseul bwayo ije shijakijyo woolgo shipeul ddaen naege gidaeyo

Boojokhajiman geudael jikilgeyo

 

Sarangeun geureohke cheoeum soonganbooteo chajawa

Gajang gipeun gose narawa nal ddeugeopge hae

Byeonhaji anhneun ddeollim geudaeneun

 

Shining Star! like a little diamond, makes me love

Naegen kkoomgyeolgateun

Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

Hangsang hamkke halgeora till the end of time

 

Sarangeun geureohke cheoeum soonganbooteo chajawa

Gajang gipeun gose narawa nal ddeugeopge hae

Byeonhaji anhneun ddeollim geudaeneun

 

Shining Star! like a little diamond, makes me love

Naegen kkoomgyeolgateun

Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

 

Shining Star! like a little diamond, makes me love

Naegen kkoomgyeolgateun

Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

Hangsang hamkke halgeora till the end of time

 

Aku terus menatapnya saat dia bernyanyi di atas sana. Benar kata Soo Young, suaranya sangat bagus. Indah sekali. Aku hampir menangis mendengarnya. Lagu ini selalu membuat perasaanku tenang, dan aku tidak tahu kenapa, perasaan itu datang lagi dan kembali menyesakkan dadaku.

Aku seperti melihat Kyuhyun yang berbeda. Kyuhyun yang sesungguhnya menurutku. Bukan Kyuhyun yang menyebalkan, kejam, dingin, dan sinis padaku. Bukan Kyuhyun yang kemarin dan tadi membentakku. Kyuhyun yang ini berbeda. Lebih baik dan lebih menyenangkan. Aku suka Kyuhyun yang ini. Ya, aku menyukai Kyuhyun yang seperti ini. Apa sebenarnya aku memang menyukaimya ?

Aku bingung. Aku benar-benar bingung.

 

Tepuk tangan heboh langsung memenuhi seisi ruangan ketika dia selesai menyanyikan lagu itu diatas sana. Tidak ada yang tidak tepuk tangan kecuali aku. Air mataku justru menetes begitu ia selesai. Menetes begitu saja. Aku segera menghapusnya. Aku tidak mau Hye Ri melihatnya. Tapi, air mataku tidak mau berhenti mengalir.

 

     Aku kembali terdiam.

“Unnie tidak apa-apa kan ?” Hye Ri bertanya khawatir yang melihatku terdiam sambil menunduk. Aku menggeleng.

“Unnie nangis ya ?” tanyanya lagi. “Unnie sedih ya dijahatin sama Oppaku ? Biar aku marahin deh nanti.” Aku menggeleng lagi.

“Bukan, Hye Ri ah. Aku tidak sedih.”

“Terus, kenapa nangis ?”

“Aku terharu.”

“Eh ? Terharu kenapa ?”

Aku tersenyum dan memandangnya. Adik manis yang perhatian itu, seperti sudah mengenalku sejak lama. Aku juga merasa aku telah lama mengenalnya. Aku menjawab pertanyaanya.

“Suara Oppamu, ternyata bagus sekali.” Jawabku lirih. “Aku suka lagunya.”

“Aku juga suka lagunya. Oppa juga suka lagu itu. Eh ?” Dia berhenti. Seperti teringat sesuatu.

“Wae ?”

“Chamkkanman. Unnie, aku, Oppa sama-sama suka lagu itu. Tapi Unnie suka banget, Oppa juga. Kalau aku, biasa aja sih. Unnie, aku, sama Oppa juga suka Confetti. Tapi Unnie suka banget juga, Oppa juga. Unnie sama Oppa satu sekolah. Unnie dan Oppa suka berantem. Kenapa mesti Unnie sama Oppa ya ? Unnie sama Oppa samaan terus sih ? Apa jodoh ya ?”

Aku mengacak rambutnya.

“Apaan sih kau ini !!! Dasar nakal !”

Dia berusaha mengelak. Tapi aku terus berusaha mengacak rambutnya. Kami tertawa bersama.

 

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

“Mereka ngapain sih ?” tanyaku sendiri. Aku melihat adikku dan gadis itu saling mengacak rambut dan tertawa bersama.

“Mereka seperti sudah dekat sekali. Aiisshh ! Kenapa dia dekat sekali dengan cewek menyebalkan itu ? Kenapa sih aku mau-mau saja mempersembahkan lagu tadi untuk cewek perusuh itu juga ? Kenapa aku selalu melakukan apa yang Hye Ri minta sih ? Huhft ! Ada apa sih denganku ?” Gerutuku. Seseorang menghampiriku. Taeyon Noona.

“Hey ! Malah ngelamun di depan pintu. Masuk lagi sana. Pesenan banyak tahu. Oh iya, kau kenal sama temennya Hye Ri ya ? Sampai mempersembahkan lagu tadi untuknya juga. Atau jangan-jangan…., kau suka padanya ya ?” Taeyon Noona mencoba menggodaku.

“Aisshh ! Noona, apaan sih ? Aku masuk saja lah.” Aku siap berbalik. Tapi Taeyon Noona sudah menarik lenganku. “Apa lagi sih Noona ?”

“Kau tahu namanya ? Dia anaknya ramah dan manis lho. Tadi aku yang menanyakan pesanannya. Makannya begitu aku tahu dia pesan Confetti, aku langsung memberitahukanmu. Kau kan suka banget sama Confetti. Mungkin kalian jodoh.”

“Noona nglantur. Dasar tukang nglindur hobinya ngomong nglantur.” Aku melepas genggamannya dan masuk kedapur. Taeyon Noona misuh-misuh.

“Aiisshh ! Dasar anak nggak sopan. Sama Noonanya malah ngatain gitu. Ih, jeongmal !”

 

“Aisshh !! Kenapa Noona tiba-tiba bilang begitu sih ? Aku tidak akan menyukai gadis yang sudah menghancurkan kueku dan menjadi perusuh di kehidupanku.” Aku menggerutu lagi di dalam dapur.

“Kau tahu namanya ? Dia anaknya ramah dan manis lho…” Aku teringat kalimat Noona. Manis ? Lumayan sih. Sepertinya dia bukan cewek tomboy walaupun dia ikut ekstra sepak bola putri. Lagian, dia juga dekat dengan Hye Ri. Manis ya ? Hmmm…,

“Aiisshh !! Kau ini mikir apa Cho Kyuhyun ??? Dia itu tidak manis. Dia itu menyebalkan. Dan Yoo Yi masih lebih cantik daripada dia. Ketularan penyakit nglanturnya Taeyon Noona, nih. Aaa~” Aku mengerang.

 

“Aku tidak mungkin suka padanya.”

 

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

 

“Aku tidak mungkin lah suka sama orang itu. Kau tidak lihat bagaimana dia memperlakukanku tadi. A-ku-ti-dak-mung-kin-me-nyu-ka-i-nya. Titik. Jelas kan, Hye Ri.” Kataku tegas. Habis, tiba-tiba dia tanya kalau aku suka sama Oppanya apa nggak. Ya jelas aku blang tidak. Walau sebenarnya, aku tidak tahu aku ini bohong atau tidak.

“Ya kan siapa tahu. Unnie kan yang pertama first snow Oppa.” Katanya.

“Terus, apa hubungannya.” Aku mengerutkan kening

“Kurasa mantraku benar-benar terjadi.”

“Apa maksudmu sih ? Mantra apa ?”

Dia menarik napas panjang, dan mulai berkisah.

“Kemarin, waktu Oppa bikin first snow itu, aku ngerasa agak aneh karena Oppa terus bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendi Makanya aku tanya kenapa. Oppa bilang, kalau first snow yang dibuatnya itu, akan diberikan untuk gadis yang disukai Oppa. Dan menjadikan gadis itu sebagai orang pertama yang memakannya. Terus dia memintaku untuk, yaa, membaakan mantra atau harapan saja lah. Karena, dia yakin kalau akau yang kasih pengharapan, bakal terkabul. Ya udah, aku bilang aja, ‘semoga orang yang pertama memakan kue kakak itu adalah gadis yang terbaik untuk Oppa. Semoga dia menjadi cinta sejati dan selamanya untuk Oppa. Dan dia selalu menyukai Oppa dan menyayangi Oppa sampai maut memisahkan kalian. Kalau gadis itu belum menyukai Oppa, semoga gadis itu bisa terbuka mata dan hatinya dan bisa menyukai Oppa melebihi apapun. Semoga, cinta kalian bisa terus terasa menyenangkan dan sangat indah sama seperti menyenangkannya ketika memakan kue ini. Dan Oppa juga mencintai gadis itu selamanya.’ Aku bilang begitu.”

 

“Kau bilang begitu ?”

“Yup ! Bagus kan ?”

 

Mantranya ? Apa iya berhasil ?

 

 

 

Cake of Love Part 8 bakal riiiilllliiiisss………………………

Makasih buat yang udah ngikutin sampai sini………………..

Di komen yak !!!

 

Gomapatagu Chinan Chingu ……………………..

5 responses »

  1. huaaaaaaaa…….!!!!!
    hye ri pinteeeerr…
    aku dukung kok hye ri..
    aku ikut ngulangin deh mantra nya hye ri biar lbh mantep khasiatnya ama seokyu..
    crt nya seru lho author, bener2 bikin penasaran gmn selanjutnya..
    ditunggu ya update selanjutnya..
    SEOKYU JJANG…!!!!!

  2. huaaaa… Hyeri… berikan mantra itu juga pada Siwon biar dia nyantol sama aq >.<
    kekeke~~~

    aigoo..makin seru n bkin penasaran sama klanjutannya.. ayo thor, post part selanjutnya… DAEBAK!!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s