Hope is a Dream that Never Sleeps Part 2

Standar

Author : Ayuka Sora JunghyukjoongkikyuKaitoraogawa Lee

OST. :

  1. Hope is a Dream that Never Sleep (Super Junior Kyu Hyun)
  2. Blue Tomorrow (SuJu – M)

Disclaimer : Tribute ehh, salah! Dedicated to Uri Yeobo, Yonin, Chingu, Oppa, Hyung, Dongsaeng, Appa (?), Ahjussi (??), Haraboji (???) “Evil Game Cho Kyu Hyun”

 

Warning (ngerangkep ma AN) : Setelah baca ff ini diharapkan tidak ada keributan ataupun unjuk rasa apalagi demonstrasi *appan sich??*

Jika setelah baca ff ini ada yang keberatan, silahkan bantai Kyumong *inno smile*

Tapi jika ada yang jatuh cinte ama saia, dengan senang hati saia menerima kiriman parcell dan juga angpao *maklum Imlek Buuuu~*

Dui buqi, kalo ada ejaan Mandarin yang salah ato ngaco, cz Author emang sotoy binti ke-PD-an hahahah

 

 

A Month Later…

Hari ini hari yang sama sekali tidak diduga oleh Yan Lin karena tiba – tiba saja ada sepasang suami istri yang datang ke panti asuhan tempat tinggalnya dan berkata akan mengangkatnya sebagai anak. Saat ini Yan Lin sedang berada di ruangan Ibu Kepala Panti bersama dengan pasangan suami istri yang sama sekali belum pernah ia kenal itu.

Qingren, (*Sweetheart) kamu mau kan ikut bersama Amma dan Papa? Kamu mau kan menjadi putri kami?” tanya wanita muda itu sembari menggenggam tangan Yan Lin. Tampak ada harapan dalam matanya.

“A.. aku.. tidak mau…” jawab Yan Lin lirih.

She me?”

Wo bu yao!!” (*I wont) teriak Yan Lin sembari menyentakkan tangan wanita itu.

Lalu ia segera berlari keluar ruangan itu. Di lorong panti ia berpapasan dengan Kui Xian yang bingung melihatnya berlari sambil menangis seperti itu. Akhirnya Kui Xian menyusul Yan Lin dan seperti dugaannya bahwa Yan Lin ada di rumah pohon rahasia mereka. Perlahan ia menaiki tangga menuju atas rumah pohon itu. setibanya di atas, ia melihat Yan Lin sedang duduk di sudut ruangan sembari sesenggukkan. Kui Xian pun langsung menghampirinya.

Ni kuai kuai ma?” (*Are U ok?) tanya Kui Xian sembari menyentuh pelan pundak Yan Lin.

Tiba – tiba Yan Lin langsung memeluknya hingga tubuhnya terdorong ke belakang dan jatuh terduduk. Tangis Yan Lin semakin menjadi di pelukan Kui Xian. Entah mengapa Kui Xian jadi ikut sedih. Ia merasa seperti akan berpisah dengan Yan Lin.

“Sshh, tenanglah, ada aku di sini. Sudah, jangan menangis lagi.” Kata Kui Xian, mencoba menenangkan Yan Lin. Kemudian ia melepas pelukan Yan Lin lalu menghapus air mata gadis kecil itu menggunakan ibu jarinya.

Sheme shi? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Kui Xian setelah Yan Lin agak tenang.

“A.. ada orang yang ingin mengambilku…” jawab Yan Lin sesenggukan.

“Mengambilmu? Siapa?” Yan Lin menggeleng pelan.

“Mere.. ka bilang, mereka mau mengadopsiku.”

“Ehh, adopsi?? Lalu kenapa kau malah menangis? Harusnya kau senang bukan?” Yan Lin menatap Kui Xian dengan alis berkerut.

“Yan Lin, harusnya kau merasa beruntung, karena sebentar lagi kau akan mendapatkan orang tua baru. Setiap anak di sini sangat berharap suatu saat nanti akan ada orang yang mau mengangkat mereka menjadi anak. Walaupun di sini kita juga mendapatkan kasih sayang, tapi setidaknya mereka juga ingin mempunyai orang tua seperti anak – anak normal yang lain. Mereka memimpikan mempunyai keluarga yang lengkap. Jadi, harusnya kau bersyukur.” Lanjut Kui Xian mencoba bijaksana.

“Tapi aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau berpisah dengan Kui Xian!”

“Hee??”

“Kalau aku ikut mereka, berarti aku harus meninggalkan panti ini dan juga dirimu. Nanti, kalau tidak ada Kui Xian, lalu siapa yang akan menjaga aku?! Bukankah kau juga berjanji bahwa kau akan selalu menjagaku! Bukankah kita berjanji bahwa kita tidak akan berpisah!!” balas Yan Lin setengah berteriak.

Air mata mulai membanjiri pipinya lagi. Kui Xian hanya menatapnya bingung. Jujur, dalam hati ia juga merasa kecewa dan takut. Ia sadar bahwa jika Yan Lin mau diadopsi oleh keluarga itu, maka ia akan berpisah dengan Yan Lin. Ia juga tidak mau berpisah dengan Yan Lin, tapi ia tidak boleh egois. Bukankah dengan begitu Yan Lin akan mendapatkan kebahagiaan? Asal Yan Lin bahagia, ia rela melepasnya.

“Yan Lin…”

“Pokoknya aku tidak mau pergi kalau Kui Xian tidak ikut bersamaku!!”

“Yan Lin dengarkan aku! Kau harus ikut mereka. Aku yakin, dengan menjadi putri mereka kau akan bahagia.”

“Kenapa kau bisa yakin aku akan bahagia bersama mereka? Bagaimana mungkin aku bisa bahagia sementara kau di sini, kau tidak ada di sampingku!!”

“Mereka pasti akan menyayangimu seperti anak kandung mereka sendiri. Ingatlah, meskipun kita tidak bersama lagi, tapi selama kau masih mengingatku, maka selama itu pula kita masih bisa bersama. Bukankah kita mempunyai benda kesayangan kita masing – masing? Jika nanti kau merindukanku, maka kau lihat saja batu giok itu. Begitu juga aku. Aku akan melihat bola Kristal ini saat aku merindukanmu. Dan selama itu, kita tidak akan terpisah. Karena aku akan selalu mengingatmu. Bie danxin, (*Don’t worry) aku akan selalu bersamamu.“

“Ta.. tapi aku takut…”

“Jangan takut. Aku kan sudah berjanji kalau aku akan selalu menjagamu. Menjagamu dengan hatiku.” Kata Kui Xian sembari tersenyum hangat. Yan Lin hanya mengangguk lemah.

“Jadi, aku mau kan menerima mereka?”

“Aku…”

“Kenapa? Bukankah nanti kau juga masih bisa mengunjungiku di sini?”

“Bagaimana kalau kita tidak bisa bertemu lagi?”

“Hemm…” Kui Xian berpikir sejenak.

“Begini saja, apapun yang akan terjadi, sepuluh tahun lagi kita bertemu di sini, di rumah pohon kita ini saat ulang tahun kita. Dan pada saat itu, aku berjanji, aku akan mengatakan sesuatu padamu.” Lanjut Kui Xian.

“Apa?”

“Hemm, rahasia!” jawab Kui Xian sembari tersenyum jahil. Yan Lin langsung manyun mendengarnya.

“Nanti kau juga akan tahu.”

“Baiklah, kta berjanji ya, sepuluh tahun lagi kita akan bertemu lagi di sini.” kata Yan Lin sembari mengacungkan kelingkingnya.

“Siap, tuan putri.” Sahut Kui Xian sembari menautkan kelingkingnya pada kelingking Yan Lin.

“Satu hal lagi.”

“Apa?”

“Kui Xian tidak boleh menyukai gadis lain. Bukankah Kui Xian pernah bilang, kalau Kui Xian menyukai Yan Lin dan berjanji akan menyayangi Yan Lin selamanya.” kata Yan Lin sembari tersipu. Kui Xian tersenyum kecil melihatnya.

“Tentu saja. Yan Lin juga, tidak boleh menyukai dan  menikah dengan pria lain.”

“Ehh?? Jadi, nanti Yan Lin menikah dengan siapa?”

“Tentu saja denganku.” Jawab Kui Xian yang membuat Yan Lin semakin tersipu.

“Kau mau kan, suatu saat nanti jadi pengantin Kui Xian?” tanya Kui Xian. Yan Lin langsung mengangguk.

“Janji?” tanyanya lagi tanpa melepas tautan kelingking mereka.

“Janji!” jawab Yan Lin.

“Sekarang, kita kembali ke panti. Calon orang tuamu dan Suster Kepala pasti khawatir pada kita.” Ajak Kui Xian sembari beranjak berdiri. Lalu ia membantu Yan Lin berdiri.

“Kui Xian?”

“Hemm??”

Chu~

Yan Lin mencium pipi kanan Kui Xian dengan cepat, lalu segera menundukkan wajahnya karena malu. Kui Xian hanya bisa bengong karena kaget. Sesaat kemudian ia segera tersenyum dan menatap Yan Lin.

Xiexie” ucap Yan Lin lirih.

Bu khe xie

Lalu mereka segera turun dari rumah pohon itu dan kembali ke panti asuhan. Sepanjang perjalanan, Kui Xian terus menggenggam erat tangan Yan Lin seolah tidak ingin melepasnya. Saat tiba di depan ruangan Ibu Kepala Panti, Kui Xian melepas genggamannya dan membiarkan Yan Lin masuk sendirian. Ia bisa melihat calon orang tua Yan Lin langsung memeluknya erat saat Yan Lin mengatakan bahwa ia setuju untuk diadopsi. Kui Xian tersenyum saat Yan Lin menoleh padanya. Ia ikut bahagia melihat Yan Lin juga bahagia.

===============

Sore harinya Yan Lin resmi diadopsi dan dibawa pergi oleh orang tua angkatnya. Semua anak – anak dan para pengurus panti asuhan mengantar kepergiannya. Hanya Kui Xian yang tidak terlihat di sana. Yan Lin agak kecewa karena Kui Xian tidak mengantar kepergiannya. Setidaknya ia ingin mengucapkan salam perpisahan padanya.

Perlahan mobil yang membawanya bergerak menjauh dari areal panti asuhan itu. Yan Lin masih memikirkan Kui Xian sampai tiba – tiba lamunannya buyar karena sebuah suara seseorang yang berteriak dari atas bukit di tepi jalan tempatnya lewat. Yan Lin segera mencari sumber suara itu dan mendapati Kui Xian berdiri di sana sembari melambaikan tangannya. Yan Lin balas melambaikan tangannya dari dalam mobil.

Zaijian…” (*Goodbye) kata Kui Xian yang mungkin tidak bisa didengar Yan Lin.

Kui Xian mencoba berlari mengikuti mobil Yan Lin hingga ia tidak sanggup lagi mengejarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah pohon rahasia mereka. Di rumah pohon itu, ia membuat sebuah tulisan di papan kayu dan memasangnya di batang pohon tempat rumah pohon itu berada. Papan itu bertuliskan “Rumah Kenangan Milik Kui Xian & Yan Lin”

==**==

A Week Later…

Yan Lin segera berlari memasuki bangunan tua panti asuhan yang pernah menjadi tempat tinggalnya sebelum keluarga Lee mengadopsinya. Tujuannya hanya satu, bertemu dengan Kui Xian sekaligus menyampaikan berita gembira bahwa keluarganya telah setuju untuk mengadopsi Kui Xian. Namun, ia tidak dapat menemukan keberadaan Kui Xian. Akhirnya ia kembali ke ruangan Ibu Kepala Panti dimana sekarang kedua orang tua angkatnya sedang berbincang – bincang dengan Ibu Kepala Panti.

“Suster Kepala, dimana Kui Xian? Aku tidak bisa menemukannya dimana pun.” Tanya Yan Lin penasaran.

“Yan Lin, Kui Xian sudah pergi dari panti ini tiga hari yang lalu.” Jawab Ibu Kepala Panti.

“Pergi?”

Sh, tiga hari yang lalu, seorang pria yang mengaku sebagai ayah kandung Kui Xian datang menjemputnya. Selama ini ia mencari keberadaan Kui Xian setelah kematian ibunya.”

 

<flashback>

Kui Xian masuk ke dalam ruangan Ibu Kepala Panti dengan ditemani seorang Suster pengurus panti. Ia melihat Ibu Kepala Panti sedang berbincang – bincang dengan seorang pria yang tampak asing di matanya.

“Ahh, Kui Xian, kemarilah.” Perintah Ibu Kepala Panti. Kui Xian segera mendekati mereka.

“Kui Xian, beliau adalah Mr. Cho.” Ibu Kepala Panti memperkenalkan pria itu.

Pria itu segera bangkit dari duduknya dan mendekati Kui Xian. Ia langsung memeluk Kui Xian erat. Kui Xian yang tidak mengerti hanya diam mematung.

“Kui Xian, kau sudah sebesar ini? Kau tidak mengenali Papa?” tanya pria itu setelah melepas pelukannya.

“Papa?”

Sh, aku adalah ayah kandungmu. Apa selama ini ibumu tidak pernah menceritakan tentang Papa?”

Amma bilang Papa sudah meninggal.” Jawab Kui Xian polos.

“Tidak sayang, Papa masih hidup. Papa adalah ayah kandungmu.”

“Ayah kandungku?”

“Ya, dan mulai sekarang kau akan tinggal bersama Papa, kau mau kan?”

<flashback end>

 

“Jadi, Kui Xian sudah tidak di sini lagi?” tanya Yan Lin lesu.

“Iya.”

“Suster Kepala tahu, dimana Kui Xian tinggal sekarang?”

“Sayang sekali Yan Lin, Mr. Cho bilang, ia hanya sementara tinggal di Beijing. Secepatnya mereka akan pindah ke luar negeri.” Jawab Ibu Kepala Panti.

Yan Lin sangat kaget mendengarnya. Berarti kesempatan untuk bisa bersama Kui Xian lagi hilang sudah. Ia pun langsung menangis. Ibu angkatnya segera memeluknya dengan penuh kasih sembari berusaha menenangkannya. Yang Yan Lin sesalkan adalah, ia belum sempat mengatakan pada Kui Xian bahwa lusa ia dan kedua orang tua angkatnya akan pindah ke Korea, tanah kelahiran ayah angkatnya. Sekarang harapan Yan Lin untuk bertemu dengan Kui Xian hanya janji mereka. Selama ia masih memegang janji mereka bahwa sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu kembali di rumah pohon rahasia mereka, selama itu pula Yan Lin yakin bahwa ia akan bertemu kembali dengan Kui Xian.

Setelah itu Yan Lin dan kedua orang tuanya pulang. Beberapa menit setelah kepergian Yan Lin dan kedua orang tuanya, barulah Ibu Kepala Panti ingat bahwa Kui Xian menitipkan sepucuk surat kepada Yan Lin sebelum ia meninggalkan panti asuhan ini.

“Bagaimana aku bisa lupa memberikan surat Kui Xian kepada Yan Lin?” tanya Ibu Kepala Panti pada dirinya sendiri.

“Sudahlah Suster Kepala, nanti kita berikan padanya saat ia mengunjungi panti ini lagi. Sebaiknya surat itu  Suster Kepala simpan.” Saran seorang Suster pengurus panti.

“Sebaiknya juga begitu.” Sahut Ibu Kepala Panti. Lalu ia menyimpan surat dari Kui Xian untuk Yan Lin di laci meja kerjanya.

===============

Hari ini Yan Lin beserta kedua orang tua angkatnya akan pindah ke Korea, karena ayah angkatnya merupakan orang Korea. Semenjak itu pula namanya berubah menjadi Lee Hyun Ae. Yan Lin atau Hyun Ae tidak tahu bahwa sebenarnya Kui Xian juga pindah ke Korea karena ternyata ayah kandungnya adalah orang Korea. Hal itu dikarenakan Ibu Kepala Panti lupa menyampaikan surat dari Kui Xian pada Yan Lin. Baik Kui Xian maupun Yan Lin tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka naik pesawat yang sama ke Korea. Hampir saja mereka bertemu di Bandara jika saja tidak ada segerombolan tourist yang menghalangi pandangan mereka. *drama banget, keak iklan Ponds juga, hahaha #plaaakk*

~ TBC

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s