I Wanna Love You Part 2

Standar

Author: Haedie Luph Donghaegaeul ChayankDsoulver

_______________

”Annyeonghaseyo,” ucap seseorang yang membuatku mengalihkan pandanganku dari wajah Ga Eun.

Kulihat seorang namja berpakaian rapi-kurasa dia guru baru itu, berdiri di depan kelas dan sedang membungkukkan tubuhnya sedikit. Namun sedetik kemudian mulutku menganga ketika  melihat wajah namja itu.

Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tanganku.

”Choneun Lee Donghae imnida. Untuk beberapa saat, aku akan menggantikan Han Seosaengnim mengajar musik di sekolah ini. Kuharap kita bisa bekerja sama, dan ah satu lagi kalian tidak perlu terlalu bersikap formal padaku, kurasa usia kita tak berbeda jauh, dan siapa tau salah satu di antara kalian nanti akan menjadi istriku,” ucapnya yang sontak membuat para siswi berteriak histeris.

Pria itu tersenyum jahil padaku. Apa-apaan namja bodoh ini???

Akhhhh dasar pria genit….!!!!!!!!!

”Panggil saja aku Oppa atau Hyung,” lanjutnya lagi.

Selama pelajarannya aku sungguh tak bisa berkonsentrasi. Aissss kenapa pria ini selalu ada di mana-mana??? Mana ketenangan hidupku yang dulu sebelum pria mesum ini muncul???

Selama pelajaran aku merasa dia terus melirik ke arahku. Aku tau dia sengaja ingin menggangguku. Rasanya ingin sekali mencakar wajah tampannya itu. Chakkanman, Tampan??? Akhh dasar paboya, mana mungkin aku bisa mengatakan pria bertampang mesum seperti itu tampan. Hyuk oppa jauh lebih tampan daripada dirinya.

Kupukul pelan kepalaku.

”Ya!!!” ucap seseorang lembut. ”Ada apa dengan kepala mu…” dia memotong ucapannya dan seperti berpikir sejenak. ”Maaf siapa namamu???”

Mataku melotot mendengar ucapannya. Ah, jadi kau ingin berpura-pura tak mengenalku. Baiklah, lagipula ini lebih baik, aku tak perlu repot membungkam mulutmu untuk tak memberitahu seluruh penghuni sekolah bahwa kau tinggal di rumahku.

”Cho Gaeul imnida,” jawabku sembari menggertakkan gigiku.

”Ah, Gaeul-sshi ada apa dengan kepalamu??? Apa ada yang tak kau mengerti dengan penjelasanku tadi??? Tanyakan saja,” ucapnya dengan tetap memamerkan senyuman menjijikkannya itu.

”Tidak ada. Penjelasan anda sudah sangat jelas, Seonsaengnim,” jawabku dengan penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.

”Ah, tak perlu memanggilku seformal itu. Panggil saja aku oppa,” balasnya.

Aku benar-benar ingin muntah mendengar ucapannya. Oppa??? Itu sungguh menggelikan. NEVER!!!

”Tapi ini dunia pendidikkan. Bagaimana pun anda tetap guru di Super senior High School dan meskipun anda merasa muda, anda tetap guru kami,” balasku dan alhasil membuatku mendapatkan cubitan dipinggangku.

Kutatap Ga Eun yang melotot padaku. Kemudian kualihkan lagi tatapanku pada namja itu yang menatapku dengan lembut. Kau berusaha menggodaku???

AKU TAK KAN TERGODA!!!!!!!!!!!!

*****

 

Saat bel istirahat berbunyi aku langsung bergegas keluar kelas, dan melarikan diri dari namja itu. Bahkan aku tak mempedulikan teriakan Ga Eun yang terus memanggil namaku dari depan kelas. Aku tak mau pria itu terus mengusikku. Sudah cukup aku menjadi bahan leluconnya di rumah, dan aku tak akan membiarkan dia melakukan hal yang sama padaku di sekolah.

Aku terus melangkahkan kakiku dengan cepat dan sesekali menolehkan kepalaku ke belakang. Jangan sampai pria itu mengikutiku dari belakang. Tak ada yang tak mungkin dilakukan oleh pria gila itu. Sepertinya dia sudah tak memiliki urat malu…..

Tiba-tiba…

BRUKKK….

Aku menabrak seseorang dan membuat minuman yang di bawa orang itu mengotori seragam sekolahku.

”Mianhae,” ucap orang itu.

Aku mengangkat kepalaku dan mataku tak berkedip melihat wajahnya. Dia sangat imut. Ingin sekali rasanya mencubit pipi namja ini.

”Mianhae,” ucapnya lagi yang membuatku sadar dari lamunanku.

”Gwaenchana,” balasku.

Pria itu mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan tangannya mulai bergerak menuju noda yang ada di bajuku. Aku langsung menahannya. Mau apa dia??? Jangan pernah menyentuhku.

”Gwaenchana,” ulangku.

Kemudian aku melangkahkan kakiku kembali dan meninggalkannya yang masih terpaku di tempatnya.

 

*****

 

Aku sengaja pulang terlambat hari ini. Aku tak ingin pulang ke rumah jika onnie dan oppa belum pulang. Aku tak mau membahayakan diriku lagi. Pria itu sungguh menakutkan.

Kulihat jam yang melingkar di tanganku. Sekarang sudah saatnya jam makan malam. Aku yakin onnie dan oppa pasti sudah pulang. Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju rumah tapi sayang ketika aku masuk ke dalam rumah, sesuatu yang menyakitkan hatiku kembali kulihat. Onnie dan oppa sedang bermesraan di ruang santai. Lagi-lagi hatiku bergemuruh. Aku sungguh ingin berteriak. Tapi seluruh tubuhku terasa kaku, bahkan aku masih terpaku di tempatku.

”Ya!!! Apa yang sedang kau tonton??” bisik seseorang yang berdiri di belakangku.

Aku menoleh ke belakang dan kulihat pria menyebalkan itu lagi. Dia masih memakai kemeja biru yang dikenakannya ketika mengajar tadi. Apa dia juga baru pulang???

”Bukan urusanmu,” ucapku ketus. ”Kau baru pulang??? Dari mana saja???” tanyaku.

”Aku membuntutimu,” sambarnya langsung yang sontak membuatku terbelalak.

Lalu senyum jahilnya kembali tersungging di bibirnya. ”Kau pikir aku tak memiliki pekerjaan lain, selain mengikutimu???” lanjutnya lagi.

Aissshhh pria ini sungguh menyebalkan.

”Ya!!! Apa yang sedang kalian lakukan??? Lebih baik kalian lanjutkan saja di kamar. Apa kalian lupa di sini ada anak di bawah umur,” ucapnya kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa di dekat oppa dan onnie.

Anak di bawah umur??? Berani sekali kau PRIA MESUM!!!!!!!

Kulihat wajah onnieku memerah dan akhirnya mereka menyadari keberadaanku di ruangan itu.

“Gaeul-ah, kenapa baru pulang??? Dari mana saja???” Tanya Ahra Onnie.

”Ya adik kecil, kau membuat kami khawatir,” sambung Hyuk oppa.

 

Ingin sekali aku mencibir mereka. Mengkhawatirkanku??? Dalam keadaan khawatir seperti itu saja kalian masih bisa bermesraan. Apa kalian bisa mengerti dengan perasaanku???

”Gaeul-ah???” ulang onnieku lagi karna tak mendapatkan jawaban dariku.

”Aku tak ingin pulang ke rumah sebelum onnie dan oppa ada di rumah,” jawabku.

”Wae???” tanya Hyuk Oppa

”Tanyakan saja pada pria mesum itu,” jawabku lagi.

Hyuk oppa dan Ahra Onnie menoleh ke arah pria itu. Tapi seperti biasa pria itu hanya memamerkan senyum jahilnya.

Aku melangkahkan kakiku dan berjalan menuju kamarku. Tapi aku menghentikan langkahku ketika lewat di hadapannya.

”Chakkaman, kenapa kau bisa mengajar di sekolahku???” tanyaku.

”Uangku sudah habis untuk membeli tiket pesawat ke Korea dan untuk hidupku beberapa hari di sini. Aku butuh uang tambahan untuk melanjutkan hidupku di sini,” jawabnya enteng.

Aku mencibir mendengar ucapannya.

”Aku tak ingin ada satu orang pun temanku yang tau kau tinggal di sini!!!” balasku.

”Gaeul-ah,” desis Ahra onnie. ”Dia lebih tua darimu, bersikaplah sopan,” lanjut Ahra Onnie mengingatkan.

Aku memutarkan bola mataku, sedangkan dirinya terkekeh pelan mendengar pembelaan onnieku atas dirinya.

”Dan panggil aku Oppa,” sambungnya.

Aku menggembungkan pipiku kesal. ”Shiruhhhhh!!!!!!!!!!”

Aku langsung melangkahkan kakiku kasar menuju kamarku. Tak kupedulikan tawanya yang memekakkan telinga.

 

*****

 

”Gaeul-ah!!!” teriak Ahra Onnie ketika melihat semua barang-barangku berhamburan di kamarku. ”Apa yang kau lakukan???”

Aku menolehkan kepalaku sejenak ke arahnya, kemudian kembali mengobrak-abrik seluruh isi kamarku. ”Onnie, kalungku hilang,” jawabku tanpa memandang wajahnya.

Kalung itu sungguh sangat berharga bagiku. Itu satu-satunya benda peninggalan eommaku. Hanya itu kenang-kenangan yang kumiliki darinya. Aku tak mau kehilangan benda itu.

”Mwo???” tanya onnieku, juga terlihat dari wajahnya semburat kepanikkan.

Ahra onnie tau, kalung itu segala-galanya bagiku.

”Gaeul-ah,” panggil Ahra Onnie lembut. Kutatap matanya yang meneduhkan itu. ”Sebaiknya kau berangkat sekolah sekarang,” lanjutnya lagi.

”Tapi….”

”Biar Onnie yang mencarinya. Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum terlambat,” potongnya sebelum aku menyelesaikan ucapanku.

Aku menenangkan hatiku sejenak, kemudian aku menganggukkan kepalaku.

 

*****

 

Aku menyusuri koridor sekolahku. Perasaanku sekarang sedang kalut. Aku sungguh takut kehilangan kalung itu. Eomma mianhae…

”Annyeong Gaeul-sshi,” sapa seseorang yang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan lagi-lagi mataku melebar ketika melihat pria tampan yang menabrakku kemarin. Dia tersenyum ramah padaku. Chakkaman, darimana dia tau namaku.

Sepertinya dia mengerti dengan kebingunganku. Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya di hadapanku. Kulihat di atas telapak tangannya, sebuah kalung dengan liontin bertuliskan ’Gaeul’ tergeletak di sana.

Mataku membulat ketika melihatnya. Aku menatapnya tak percaya dan dia membalasnya dengan senyuman manisnya.

”Ini kalungmu kan??” tanyanya.

Aku menganggukkan kepalaku cepat dan mengambil kalung itu dari tangannya. Hatiku lega, akhirnya aku bisa menggenggam hartaku yang paling berharga ini.

”Kemarin saat aku menabrakmu, sepertinya kalungmu terlepas dan terjatuh,” jelasnya.

Aku tersenyum padanya. ”Gomawo ummm…” aku tak bisa melanjutkan ucapanku karna aku tak tau siapa dirinya.

Lagi-lagi dia tersenyum padaku. “Henry. Namaku Henry,” balasnya yang sepertinya bisa membaca pikiranku.

“Ah, gomawo Henry-sshi.”

Dia menganggukkan kepalanya ringan. “Cheonmaneyo. Sepertinya kalung itu sungguh berharga bagimu,” lanjutnya lagi.

“Ne, dia harta yang paling berharga bagiku. Ini pemberian eomma saat aku berusia 14 tahun. Dan sehari setelah dia memberikan kalung ini, eomma dan appa meninggalkanku untuk selamanya,” jawabku. Kupaksakan bibirku untuk tetap tersenyum tapi Henry mentapku dengan rasa bersalah.

”Mianhae,” ucapnya.

Aku tertawa pelan melihat ekspresinya. Pria ini sungguh mnggemaskan, sangat berbeda dengan pria mesum itu.

”Gwaenchana,” jawabku singkat. ”Ehmmmm Henry-sshi, aku harus ke kelasku,” lanjutku lagi.

”Ah, Ne. Sampai bertemu lagi,” balasnya.

Aku menganggukkan kepalaku kemudian berjalan menuju kelasku. Ada sedikit rasa bahagia menyelimuti hatiku ketika berbicara dengannya. Dia pria yang menyenangkan.

Tapi rasa bahagia dihatiku lenyap dengan seketika, ketika kulihat pria mesum itu telah duduk di singgasananya. Teman-temanku juga sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Aku lupa bahwa hari ini, dia kembali mengajar musik di kelasku.

”Maaf, aku terlambat, Seonsaengnim,” ucapku mencoba bersikap sopan padanya.

Pria mesum itu langsung berdiri dan berjalan menghampiriku. ”Apa besok pagi, kau perlu kujemput agar kau tak terlambat lagi, Gaeul-shhi??” ucapnya lengkap dengan seringaiannya.

Sorak-sorai gembira membahana di kelasku. Berani sekali pria ini mempermalukanku.

Aku tak mempedulikan ucapannya dan kemudian berjalan menuju tempat dudukku.

“Baiklah, orang yang kita tunggu-tunggu hari ini sudah datang, kita sudah bisa melanjutkan pelajaran kita hari ini,” lanjutnya lagi sembari mengerling nakal padaku.

Aku hanya menghela napas, mencoba meredam emosiku. Jangan sampai aku lepas kendali dan membuatku menghajar pria mesum ini di depan semua orang.

”Ehmmm aku ingin bertanya pada kalian, apa ada diantara kalian yang pernah menyatakan perasaan kalian melalui musik???” tanyanya. Terserah apa yang dikatakannya aku sungguh tak tertarik.

Tak ada jawaban sedikitpun yang didapatkannya.

”Heeeiiii jangan bilang kalian belum pernah sekalipun menyatakan perasaan kalian pada seseorang. Apa ada namja di kelas ini???” ucapnya lagi.

“Tapi semuanya tak semudah yang Hyung pikirkan untuk mengungkapkan perasaan dan mendapatkan hati seorang yeoja,” sahut salah seorang temanku.

”Ya ya ya!!! Kalian tau??? Saat seusia kalian, aku sudah bisa mendapatkan 5 orang yeoja yang bersaing untuk memperebutkan hatiku,” ucapnya bangga.

Kulihat teman-temanku yang awalnya juga tak tertarik pada pelajaran ini, terlihat sedikit antusias dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan pria jelek ini.

“Saat kalian menyukai seseorang jangan pernah berpikir, apakah kalian layak atau tidak untuknya. Jangan pernah berpikir apakah kalian pantas atau tidak untuk berdiri di sampingnya. Karena cinta tak butuh semua itu. Cinta hanya membutuhkan perasaan yang tulus. Jika kalian yakin dengan hati kalian, aku percaya dia juga akan merasakan perasaan kalian.”

Aku terperangah mendengar ucapannya. Baru kali ini aku mendengar ucapannya serius seperti itu dan bukan rayuan atau omong kosong belaka.

”Ah, sepertinya Gaeul-sshi bisa membantuku,” ucapnya yang mengagetkanku.

”De????”

Lagi-lagi dia menyeringai padaku dan menarik tanganku ke depan kelas. Apa lagi yang akan di lakukannya?? Firasatku sungguh tak enak. Apa ini salah satu cara untuk mengerjaiku lagi.

”Aku akan menunjukkan pada kalian, musik bukan hanya untuk menenangkan jiwa, bukan hanya membuat kalian merasa lebih santai. Tapi lewat musik dan lagu yang mengiringinya, kalian bisa mengutarakan isi hati kalian.”

Dia menatapku sesaat dan membuatku bergidik. Tatapannya berbeda dari biasanya tapi tatapan ini membuat bulu tengkukku berdiri.

Kulihat dia mulai mengitari tubuhku dan menggerakkan tubuhnya perlahan. Kuakui dia terlihat berbeda ketika sedang menari seperti ini. Dia terlihat lebih dewasa dan tampang mesumnya itu menghilang dari wajahnya.

You’re My Girl

(I want to tell loudly)

As long as I can see you

I’ll be okey

Dia mulai menyanyi, mengikuti alunan musik yang memenuhi ruangan ini. Aku hanya terpaku melihatnya yang terus menggerakkan tubuhnya dengan lembut. Suara indahnya mampu membius setiap orang yang mendengarnya.

Now I’ll be protecting you

Baby you know

Because…

I wanna Love You

I can’t live without you..

Dia menghentikan gerakannya kemudian menarik tanganku. Dan tanpa kusangka dia berlutut di hadapanku dan menatapku lembut.

I promise that my everything

Will belong to you…

Aku masih terpaku di tempatku. Ntah pergi kemana kesadaranku.

“HYUNG KAU HEBAT!!!!!!!!!!!!!” teriak seseorang dan diikuti dengan tepuk tangan yang menyadarkanku kembali.

Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas, dan kulihat raut wajah kagum dari teman-temanku.

”Kalian juga bisa melakukan hal yang seperti itu,” balasnya.

Dia bangkit dari berlututnya kemudian berdiri tepat di hadapanku.

”Bagaimana menurutmu Gaeul-sshi???” tanyanya.

Kubalas tatapannya. ”Anda cukup berbakat untuk menjadi seorang playboy, seonsaengnim,” jawabku.

Dia tertawa mendengar jawabanku, kemudian kembali menatapku dengan jahil. ”Jadi menurutmu, caraku cukup berhasil kan untuk memikat hati para wanita???”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Tak ada gunanya, dan itu akan membuatnya semakin besar kepala. Tapi jujur kuakui, jika dia selalu bersikap seperti itu, aku yakin wanita manapun akan takhluk padanya.

Tiba-tiba dia memajukan tubuhnya lebih mendekat padaku dan berbisik tepat di telingaku. Kurasakan pipiku sedikit memanas melihat tindakannya yang tak terduga seperti ini. Apa lagi yang akan dilakukannya???

”Apa sekarang kau terpikat padaku???” bisiknya pelan.

Aku shock mendengar ucapannya. Ige mwoya??? Aku sungguh menyesal dengan apa yang kupikirkan tadi.

Aku menoleh ke arahnya dan berusaha tetap bersikap tenang. Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.

”Kau tau??? Sejujurnya ini sungguh sangat menjijikkan, pria mesum” balasku yang membuatnya kembali memamerkan senyumnya yang sangat memuakkan itu.

Penilaianku tak akan pernah berubah padamu. Dasar NAMJA MESUM MENYEBALKAN!!!!!!!

 

*****

 

Sudah satu bulan ini, waktuku di sekolah tak hanya kuhabiskan bersama Ga Eun tapi juga Henry. Dia sungguh pria yang baik dan selalu menghiburku saat rasa sakit hati karena cintaku yang tak terbalaskan muncul. Selain itu dia juga meredam emosiku dengan banyolannya, ketika kekesalanku memuncak setiap kali melihat pria mesum itu. Kenapa aku bisa terlambat mengenal pria sebaik dirinya???

”Gaeul-ah,” ucap seseorang yang membuyarkan lamunanku.

Kutolehkan kepalaku ke sumber suara itu dan kulihat wajah imut itu lagi dengan terengah-engah.

”Henry,” balasku.

”Kau ini,” rutuknya yang membuatku ingin sekali mencubit pipi bakpaonya itu. ”Kau tau?? Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kau berada di perpustakaan,” lanjutnya lagi.

Aku terkekeh pelan melihat ekspresinya saat mengucapkan kalimat itu. ”Memangnya ada apa kau mencariku??”

”Aku…” sambarnya langsung tapi sedetik kemudian dia langsung menutup mulutnya.

”Ikut aku,” ucapnya lagi.

Tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan menarikku mengikuti langkah kakinya.

Dengan terseok-seok aku mengikuti langkah kakinya yang besar itu. Tatapan heran dari para yeoja sekolahku sungguh sangat menganggu, terutama tatapan pria mesum itu yang tak sengaja berpapasan dengan kami di koridor sekolah. Aku tau, Henry merupakan idola di sekolahku, dan wajar saja jika mereka terbelalak melihat Henry menggenggam tangan seorang wanita yang tak pernah didekati oleh seorang priapun di sekolah ini.

Henry membawaku ke taman belakang sekolah dan melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganku. Kulihat dia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Berkali-kali dia melakukan hal itu dan hingga akhirnya dia kembali memandang wajahku. Dia menatap mataku dalam. Ini pertama kalinya aku melihat ekspresinya seserius ini.

”Woo Gaeul-ah ada apa itu di matamu???” ucapnya tiba-tiba dengan ekspresi yang terkejut.

Aku langsung membalikkan tubuhku dan membelakanginya. Kuraba mata dan seluruh wajahku berusaha membersihkan sesuatu yang menempel di sana. Jangan bilang ada kotoran mata di mataku. Aissss ini sungguh memalukan.

Tapi sepertinya tak ada yang aneh dengan mata dan wajahku. Aku segera membalikkan tubuhku menghadap dirinya kembali.

”Memangnya ada apa dengan mataku??” tanyaku penasaran.

”Ada aku di matamu,” ucapnya yang sukses membuatku tertawa.

Namja ini benar-benar lucu. Dia sengaja mengerjaiku, membuatku gemas saja padanya. Aku berniat memukul bahunya karena sudah berani mengerjaiku seperti ini, tapi niat itu kuurungkan ketika Henry kembali menggenggam tangan kananku. Wajahnya kembali berubah menjadi serius. Dia meletakkan tangan kananku di atas dadanya.

”Dan aku sungguh ingin hanya ada aku di matamu,” ucapnya yang membuat lidahku kelu.

Detak jantungku berdetak dengan cepat dan tak beraturan. Kutatap matanya, mencoba mencari keseriusan dirinya.

”Saranghae, Gaeul-ah.”

 

*****

 

To Be Continue….

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s