Ye-Won (Your Maid) Part 6

Standar

Annyeong rederrr….

Aku balik lagi sambil narik-narik Yeobo aku.. Yesungie..

Ini Part ke 6 dari FF gajebunn aku..

Di

YeSung POV

Setiba di rumah, Tuan muda langsung menuju kamarnya, dan sampai sekarang belum keluar. Sekarang sudah hampir jam duabelas, sedangkan dia belum makan malam. Tiba-tiba saja terdengar suara mobil Tuan Besar memasuki halaman.

Tuan Besar Choi selalu saja pulang larut malam karena kesibukannya. Karena itu pula Tuan Besar tidak terlalu sering berinteraksi secara langsung dengan Tuan Muda. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa istri Tuan Besar berseligkuh dengan pria lain, dan saat Tuan Muda berumur sepuluh tahun mereka bercerai. Sampai saat inipun Tuan Muda Siwon tidak pernah menanyakan tentang ibunya, begitu pula Tuan besar. Itu membuat Tuan Muda Siwon semakin merasa kesepian dan kurang kasih sayang. Di satu sisi aku merasa Tuan Muda memahami kesibukan ayahnya, tapi di sisi lain aku merasa ada sakit hati tersendiri yang dipendam Tuan Muda karena kurangnya perhatian dari ayahnya.

Tuan Besar Choi memasuki rumah, dan aku memberi salam padanya. Dia tersenyum padaku. Tuan Besar Choi adalah orang yang sangat baik bagiku. Dia selalu memperlakukanku dengan baik. Dia juga mengizinkanku kuliah di universitas miliknya, dan walaupun aku adalah anak seorang pelayan aku tidak pernah dianggap seperti pelayan. Dia tidak pernah menyuruhku melakukan apapun, dan karena aku merasa tidak enak, akulah yang menawarkan diri untuk mengawasi Tuan Muda Siwon.

Supir pribadi Tuan Besar juga memasuki rumah dengan membawa sebuah box yang cukup besar di tangannya. Apa itu?

“Yesungie, mana Siwon?” tanya Tuan Besar, dia sepertinya agak tergesa-gesa.

“Ada di kamarnya Tuan Besar. Apa perlu saya panggilkan?” tawarku. Tuan besar lalu menggeleng.

“Tidak usah. Biar aku menemuinya sendiri.” Tuan Besar lalu memberi isyarat agar supir pribadinya membuka box itu. Ternyata di dalamnya ada kue ulang tahun yang cukup besar. Tuan besar lalu meyalakan lilin di atasnya. Dia lalu membawa kue itu sendiri ke kamar Tuan Muda. Aku hanya menatapnya dari jauh.

“Siwonnie.. Buka pintunya.. Ini appa..” panggilnya. Setelah beberapa kali Tuan besar memanggil namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Agak lama Tuan besar berdiri di depan pintu, namun Siwon tidak kunjung keluar. Akhirnya Tuan Besar memutuskan untuk meletakkan kue itu di meja ruang tamu dan duduk di sofa. Aku mendekatinya perlahan, lalu dia memberikan isyarat agar aku duduk di sebelahnya.

“Sudah terlambat ya? Sekarang sudah tanggal 11? Tanya Tuan Besar. Aku lalu melihat jam tanganku.

“Masih ada lima belas menit sebelum tanggal 11. Apa Tuan Besar mau saya memanggilkan Tuan Muda?” tawarku untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini Tuan Besar mengangguk pertanda setuju. Aku lalu bergegas menuju ke kamar Tuan Muda Siwon lalu mengetuk pintunya.

“Tuan Muda.. Apa boleh saya masuk?” tanyaku, namun tidak ada suara. Aku mengulangi panggilanku beberapa kali namun tetap juga tidak ada suara. Aku tau sebenarnya Tuan Muda tidak tertidur, dia pasti tidak ingin bertemu dengan ayahnya.

“Choi Siwon..” panggilku lagi, kali ini tanpa Tuan Muda. “Mulai sekarang tidak usah panggil aku ‘hyung’ lagi.” Kataku dengan nada sedikit megancam. Tetap tidak ada suara.

“Tidak usah panggil aku hyung lagi, karena seorang dongsaeng pasti akan mendengarkan kata-kata hyungnya kan?” Diam beberapa saat, dan aku tidak mendapatkan respon. “Ya sudah kalau begitu. Selamat malam Tuan Muda.” Kataku menekankan di bagian ‘Tuan Muda’nya. Tuan Muda Siwon memang selalu tidak bisa dibujuk. Aku melangkahkan kakiku menjauhi pintu kamarnya. Namun setelah beberapa langkah, aku mendengar sura pintu dibuka. Aku melihat ke belakang dan mendapati Tuan Muda menutup pintu kamarnya. Dia masih memakai baju yang dia pakai tadi siang.

“Hyung..” panggilnya. Aku tersenyum padanya dan dia menghampiriku.

“Tanggal sepuluh tinggal sepuluh menit lagi. Cepat temui appamu di ruang tamu, sebelum tanggal berubah jadi sebelas..” suruhku. Siwon terlihat ragu, akan menemui appanya atau tidak. Karena gemas melihatnya, aku mendorong punggungnya dari belakang dan membawanya ke ruang tamu. Setelah sampai di sana, aku meninggalkan Tuan Muda dan Tuan besar berdua. It will be a kind of privat situation. Haha..

Author POV

Siwon berdiri canggung di dekat sofa. Appanya yang terlihat senang lalu mengangkat kue yang lilinnya masih menyala itu dan membawanya kepada Siwon.

“Appa sudah bilang kan, kalau appa pasti akan pulang secepat yang appa bisa agar kita bisa merayakan ulang tahunmu berdua..” kata Tn. Choi. Siwon terharu mendengarnya, tanpa terasa air mata megalir dari sudut matanya. Dia merasakan kebahagiaan yang tidak terkira menyeruak begitu saja. Dugaannya selama ini salah.. Ayahnya.. ayahnya ternyata menyayanginya..

“Appa…” panggil Siwon lemah, dia masih belum bisa mengontrol perasaan bahagia di dalam hatinya sehingga air mata tetap saja mengalir dari matanya. Appanya lalu menusap air matanya dengan penuh kasih sayang.

“Jangan menangis.. Kau kan sudah 23 tahun, apa tidak malu masih menangis seperti itu?” ejek appanya. Siwon lalu tertawa kecil sambil mengusap airmatanya sendiri. “Sekarang tiup lilinnya, sebentar lagi sudah tanggal sebelas.. Kalau terlambat nanti usaha appa jadi sia-sia..” tanpa pikir lagi Siwon langsung meniup lilin yang ada di atas kue tersebut. Appanya kemudian meletakkan kue itu di meja dan memeluk Siwon dengan erat.

“Saengil chukkahamnida Siwonnie.. Appa sangat sayang padamu..” lagi-lagi Siwon tidak bisa bicara karena apa yang barusaja didengarnya. Dia merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada ayahnya sendiri. Ternyata ayahnya sangat menyayanginya.. Ternyata kebenciannya selama ini salah.. ternyata selama ini dia yang keliru..

“Hei.. Jangan menangis.. Kamu tidak senang?” tanya ayahnya. Siwon menggeleng cepat seperti anak kecil.

“Justru karena aku senaaang sekali.. Terimakasih appa.. Cuma appa yang aku punya di dunia ini.. Maafkan aku sudah berpikir buruk tentang appa..” Siwon lalu mengeratkan pelukannya. Appanya membelai punggungnya dengan lembut.

“Nee, gwaenchana.. Appa juga hanya memilikimu..” cukup lama mereka berpelukan, dan Siwon kemudian melepas pelukannya.

“Appa.. Aku lapar.. Bagaimana kalau kue ini saja kita habiskan berdua?” kata Siwon dengan mata berbinar-binar. Ayahnya tertawa kecil.

“Kau yakin bisa menghabiskan kue sebesar ini?” tanya appanya ragu.

“Jelas bisa lah.. Karena yang akan menghabiskannya bukan aku saja, tapi appa juga.. Haha..” Kata Siwon lalu tertawa. Ayahnya megambil sedikit krim dari kue itu lalu mengoleskannya ke pipi Siwon.

“Appa.. Seperti anak muda saja main-main kue..” kata Siwon sambil menghapus krim di pipinya. Siwon lalu membalas apa yang dilakukan appanya dengan cara yang sama. Malam itu mereka berdua makan kue dan bercerita sampai pagi, seolah-olah sudah tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama.

Tanpa mereka ketahui Yesung menatap mereka dari kejauhan. Di satu sisi dia ikut bahagia melihat tawa lepas Siwon dengan appanya. Namun di sisi lain, jantungnya terasa teremas-remas. Entah itu rasa iri atau apa.. Tapi yang jelas perasaan itu begitu menyakitkan dan mendesak, sehingga airmatanya mengalir satu-satu. Dia lalu menempatkan tangannya di dadanya sebelah kiri, tepat di atas jantungnya.

Kenapa kau seperti ini? Kenapa terasa sesakit ini? Yesung bicara pada jantungnya.

Hidup Tuan Muda Siwon begitu sempurna..Dia memilki semua yang tidak aku punya..

Apa aku bisa seperti itu? Merasakan kebahagiaan dan kasih sayang dari ayah kandungku sendiri? Kenapa hanya aku saja yang tidak merasakannya? Tuhan.. apa aku pernah berbuat kesalahan sampai aku dihukum begini? Dihukum untuk hidup tanpa kasih sayang? Tidak ada yang menyayangiku di dunia ini.. Aku tidak diinginkan.. Kenapa aku masih tetap hidup sampai sekarang? Bukannya lebih baik aku mati saja? Dengan begitu, aku akan berhenti merepotkan orang lain.. Merepotkan appa.. Dan bertemu dengan umma..

Tapi tidak boleh.. Aku tidak boleh cengeng begini.. Aku tidak boleh putus asa.. Aku harus hidup untuk diriku sendiri. Aku harus bertahan.. Aku pasti bisa.. Kim Yesung pasti bisa.. Yang begini sudah biasa kan? Aku bisa bertahan, karena aku kuat. Semuanya pasti akan menjadi lebih baik, suatu hari nanti aku pasti bahagia.. Aku yakin itu..

Keesokan harinya

Seperti biasanya Yesung selalu membawakan kedua kotak bekal makan siang untuk Siwon dan untuknya. Barusaja dia akan memasukkan kotak itu ke dalam tasnya, appanya datang dari belakang dan menyelipkan sesuatu ke tangannya.

“Ini apa?” tanya Yesung, kemudian appanya tersenyum licik. Perasaan Yesung mulai tidak enak.

“Saatnya sudah tiba Yesungie.. Masukkan bubuk itu ke dalam salah satu kotak bekal itu.. Berikan pada Tuan Muda. Mudah sekali kan?” Yesung terbelalak tidak percaya. Ayah kandungnya sedang menyuruhnya… membunuh?

Dia tau jelas kalau yang ada di tangannya itu adalah racun. Yesung mematung, bergulat dengan pikirannya sendiri.

“Aku.. aku takut appa..” kata Yesung terbata-bata. Ayahnya menyeringai licik.

“Kalau kau tidak mau melakukannya, biar aku saja. Tapi jangan salahkan aku kalau yang terjadi malah lebih buruk daripada ini. Aku tidak bermaksud membunuhnya Yesungie.. Hanya menyiksanya saja dengan ini.. Tapi bila kau menolak permintaanku ini, yang terjadi akan lebih buruk.. Arachi?” Tubuh Yesung menegang. Dia bahkan tidak tau lagi yang ada di hadapannya itu siapa.

“Aku…” Yesung terbata, namun ayahnya sudah berjalan menjauhinya.

“Lebih baik segera lakukan.. Kalau kau mau Tuan Mudamu itu hidup..” Yesung merasakan ketakutan yang sangat. Tangannya gemetar, keringatnya mulai bermunculan.

Aku tidak boleh melakukan ini.. Aku tidak bisa…

“Semua tergantung padamu Yesung..” Yesung lalu benar-benar memasukkan bubuk itu ke salah satu kotak bekal yang berbentuk bulat. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, diapun juga tidak tau. Dia tidak bisa memilih satupun dari pilihan yang ditawarkan appanya. Tidak melukainya, apalagi membunuhnya. Yesung masih sibuk dengan pikirannya saat Siwon memanggilnya dan menyuruhnya untuk bergegas.

Siwon POV

Manusia kura-kura itu kembali pada kebiasaannya. Aku lalu menyusulnya ke dapur mendapatinya sedang memasukkan dua kotak bekal ke dalam tasnya. Mukanya terlihat sedikit pucat, terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Hyung.. Sampai kapan kau mau berdiri di situ?” kataku. Padahal aku bicara dengan nada yang normal, tapi anehnya dia malah terkejut.

“Mi.. mianhae..” ah.. kebiasaan orang ini. Selalu saja minta maaf, entah apa yang harus dimaafkan.

“Ayo pergi..” aku menarik tangannya pelan dan membawanya ke mobil. Sepanjang perjalanan ke kampus dia hanya diam saja, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Ada apa sih sebenarnya dengan dia? Pasti dia sedang tertekan karena sesuatu sampai dia jadi tidak fokus begini.

“Ada masalah apa hyung?” tanyaku. Dia tetap melihat ke luar jendela, tidak menggubris pertanyaanku. “HYUNG!” panggilku, kali ini agak keras sampai dia tersadar dari lamunannya.

“Ada apa?” dia balik bertanya. Ini sudah lebih dari sekedar aneh.

“Kenapa sih? Hyung sedang ada masalah apa?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Masalah pribadi. Kau tidak keberatan kan kalau aku tidak menceritakannya?” tanyanya. Ya sudah kalau begitu. Lagipula aku tidak punya hak mencampuri urusannya kan? Tapi.. masalah pribadi seperti apa yang sedang dia hadapi? Masalah perempuan kah? Atau apa? AISH!! Bukan urusanmu, Siwon! Stop hal-hal konyol itu!

Kami tiba di kampus, Yesung hyung lansung saja berjalan menuju kelasnya tanpa permisi padaku. Biasanya dia akan bilang padaku, dan dia akan memberitahuku jadwalnya dalam satu hari. Aku lalu megejarnya yang sudah agak jauh.

“Hyung.. Kenapa tidak menungguku?” kataku.

“Maaf.. Aku terburu-buru.. Hm.. Sampai nanti siang ya, Siwon-ah..” dia melanjutkan langkahnya, sedangkan aku hanya memandanginya heran dari belakang. Ya sudahlah Siwon! Mungkin dia memang sedang ada masalah.. Jangan terlalu dipikirkan..

Sepanjang kelasku berlangsung, aku teringat-ingat akan keanehan Yesung hyung pagi ini. Setelah kelas berakhir aku segera berlari ke kelasnya, aku harus menunggu sekitar lima belas menit sebelum kelas Yesung hyung bubar. Aku melihatnya dari luar, masih kosong. Dia tetap menatap ke arah dosennya, tapi aku tau kalau dia sedang tidak di sana. Pikirannya sedang ada si tempat lain.

Setelah dia keluar, aku segera menghampirinya.

“Hyung..” panggilku. Sekarang sudah jam makan siang, biasanya malah dia yang mengingatkanku untuk makan, tapi sekarang dia malah diam saja. “Sudah jam makan siang.. Mau makan bersamaku kan?” tanyaku. Dia hanya mengangguk pelan. Apa dia sedang sakit ya? Lesu sekali.

Aku lalu menuju ke taman belakang kampus dan dia mengikutiku dari belakang. Aku memang selalu minta makan siang di tempat ini. Aku tidak suka mahasiswi-mahasiswi itu melihatku dan Yesung dengan tatapan aneh. Dengan makan siang di sini aku bisa terbebas dari mereka.

Kami lalu duduk berhadapan dengan satu meja diantara kami. Yesung lalu mengeluarkan dua kotak bekal yang dia bawa dari dalam tasnya. Appaku memang selalu menyuruh pelayan untuk menyiapkanku bekal tiap hari. Aku tidak diizinkan makan di sembarang tempat, karena Tuan Muda sepertiku harus selalu memenuhi kebutuhan gizinya dengan lengkap. Lagipula aku juga tidak suka makan makanan yang dijual di tempat yang tidak terjamin.

Yesung hyung lalu memberikan bekal yang ada dalam kotak segiempat kepadaku. Aneh, biasanya dia memberiku bekal yang satunya, yang berbentuk lingkaran.

“Hyung.. Kenapa yang segiempat?” tanyaku.

Yesung POV

“Hyung.. Kenapa yang segiempat?” Siwon bertanya, dia sepertinya tau gelagat aneh yang tidak bisa kusembunyikan sejak tadi. Aku begitu gugup dan takut, sampai keringat dinginku mulai keluar.

“Makan saja.. Aku sedang ingin makan yang ini..” kataku sekenanya. Untungnya dia percaya dan mulai memakan bekal itu.

Aku menatap kotak bekal yang ada di hadapanku. Dalam kotak ini.. racun itu aku masukkan.. Kotak ini sekarang ada di depanku.. Bagaimanapun aku tidak bisa memberikan ini pada Siwon.. Aku.. jahat.. Dan bodoh.. Aku tidak pantas.. aku..

“Hyung.. kenapa tidak makan?” tanya Siwon. Aku tersenyum lemah padanya. Makanan ini.. yang seharusnya kuberikan pada Siwon.. Bagaimana kalau aku yang merasakannya lebih dulu? Bagaimana kalau aku coba efek racunnya dulu? Lagipula kalau aku mati.. malah lebih bagus kan?

Tanpa pikir panjang lagi aku mulai makan dari kotak bekal yang ada di hadapanku itu. Satu suap.. dua suap.. Aku tidak merasakan efek apa-apa. Tak lama kemudian suapanku terhenti. Kerongkonganku terasa panas. Aku segera meminum air yang ada dalam botol di atas meja. Ah, masih saja terasa panas.. Efeknya sudah mulai terasa..

Rasa panas itu dengan cepat mengalir ke dadaku. Panas.. Dadaku sesak, aku tidak bisa bernapas..

Author POV

Yesung mencengkeram dadanya kuat-kuat, masih berusaha mencari oksigen. Dia mulai batuk-batuk karena susah bernapas. Siwon yang menyadari hal itu langsung terlihat cemas.

“Hyung..” Siwon segera menghampiri Yesung. Mukanya sudah pucat sekarang, sedangkan napasnya tidak beraturan.

“Sa.. kit.. hh..” Yesung memegang erat tangan kanan Siwon, dan dengan segera dia terkulai lemas di bahu Siwon. Dia masih sadar, namun napasnya satu-satu dan sangat lemah. Siwon langsung menggendongnya dan membawanya ke mobil.

Siwon segera melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi ke rumah sakit. Sesekali dia memandang Yesung yang sudah tidak sadarkan diri dengan napas yang tidak beraturan. Mukanya sudah pucat, bahkan hampir membiru.

Hyung.. Kau kenapa? Jangan seperti ini hyung.. kumohon.. Aku takut sekali..

Setiba di rumah sakit Yesung langsung ditangani di ruang ICU. Siwon hanya menunggu di luar dengan perasaan yang campur aduk. Kejadian itu sungguh tidak masuk akal di otaknya. Padahal Yesung masih baik-baik saja saat mereka menuju belakang kampus, tapi tiba-tiba..

Yesung,, tolong aku.. tolong selamat.. Tolong jangan sejahat ini padaku..Tuhan, tolong Yesung.. Selamatkan dia.. Tuhan. Kumohon…

Tidak henti-hentinya Siwon berdoa untuk Yesung. Tanpa terasa airmata sudah mengalir di pipinya. Dia sangat takut sekarang. Bahkan dia tidak pernah setakut ini dalam hidupnya.. Dia takut terjadi hal yang buruk pada Yesung.. Karena bila itu terjadi, dia sungguh tidak bisa bertahan tanpa Yesung.. Karena dia.. Yesung sudah jadi bagian terpenting dalam hidupnya..

3 responses »

  1. aigo~ yesung malang…
    appanya kejam juga..
    apa jadinya klo yeobo aq yg makan?huaaa~~

    lanjutanny jgn lama” ran,,msh pnasaran modus appanya,,ms lalu eommanya n ayah mertua.. ada apa sbnrnya??

    ayo ran..hwaiting!!! ^_^

  2. siy yesung kesian,
    dy jadi dilema mo ngikutin
    printah appanya buat blz dendam
    ato ngelindungin siwon
    walo siwon dulunya jahat ma dy
    tapi skarang siwon sayang bgt ma yesung…..
    huhuhuu

    itu yesung gapapa kan thor? (?)
    #plak!
    (sembarangan aja, authornya kan punya nama)^^’
    hehehehew
    oiyaa thor, kisah cintanya gimana tuh?
    kan dulu ada cewe yg disukai siwon
    tapi cewenya lebih suka sama yesung,
    skaang cewenya kemana tuh?
    *clingak-clinguk*
    ^^’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s