Between Love and Friendship

Standar

Based on True Story

 

I live wherever you live in

I hope we can know each other although just say ‘hi’

 

Hyegun POV

 

Hari ini hari pertamaku masuk sekolah setelah kepindahanku ke Korea. Aku dikirim ke sini karena orang tuaku ingin aku serius belajar. Tidak seperti di Jepang yang hanya ada tekanan dari nenek.

O ya, namaku Momoko Daigo, tapi karena aku ada di Korea, namaku Kang Hyegun. Sekarang aku sudah terdaftar di suatu sekolah di daerah Kagnam yang bernama Chungdamn High. Aku dengar sih murid-muridnya sangat pintar. Jadi, beruntung sekali aku bisa bersekolah di sini.

“Kang Hyegun imnida. Aku berumur 14 tahun. Dan aku berasal dari Jepang. Jadi, mohon bantuannya…” tuturku memperkenalkan diri saat awal orientasi siswa berlangsung, yang langsung disambut dengan pelongo-an oleh anak-anak kelasku. Aku rasa mereka heran, kenapa orang Jepang sepertiku bisa nyasar ke sini.

“Ya sudah, kau duduklah lagi…” perintah Yong Eun Jae, sunbae-ku dari kelas 11 yang merupakan OSIS pemandu kelasku, 1-E.

“Ne, sunbaenim…” Aku pun duduk di tempat yang aku duduki tadi.

Dua hari kemudian, orientasi siswa benar-benar berlangsung. Yang kemarin itu sih masih pra-nya. Jadi selama tiga hari ke depan, kita, murid baru, benar-benar akan diuji mental dan kesabarannya.

Sampai pada suatu hari yang masih saja orientasi siswa, aku kehilangan bandana kelasku. “OMO, mati aku… Bisa dimarahi orang sekelas nih aku… Nanti aku dikira tak bertanggung jawab lagi… Ukh…” Aku pun mencari-cari bandana kelasku ke sana kemari. Aku bingung hingga aku tak menyadari bahwa aku sudah ada di kawasan aula.

“Kau mencari ini??” tanya seseorang yang di belakangku.

Aku pun langsung menoleh. OMO, OSIS!!??

“Jongmal mianhaeyo, sunbaenim. Aku benar-benar tak bermaksud untuk menjatuhkannya…” tuturku gelagapan.

Orang itu malah tertawa kecil. “Kau ini bisa saja, aku ini bukan tatib kok…” balas sang sunbae itu sembari mengacak-acak rambutku.

Aku hanya menunduk malu. “Nih, ambillah. Nanti kau dihukum lag…” ujar orang tersebut mengembalikan bandanaku sambil menunjukkan senyum termanisnya (itu menurutku sih).

“Gomawo, sunbae-ah…”  Aku pun berlalu dari OSIS itu. Fiuuhh, aku terselamatkan oleh sunbae itu.

Hari-hari orientasi siswa pun berlalu dengan tawa dan tangisan dari para siswa dan sedikit dari OSIS. Menderita memang, tapi sangat menyenangkan. Aduh… Mataku sampai sembab gara-gara nangis waktu hari terakhir orientasi siswa.

Cause I can’t stop thinking ‘bout you girl…. Ponselku berdering. Umma menelponku.

“Sayang, bagaimana hari terakhirnya??” tanya Umma dengan nada ceria.

“Mataku sakit, Umma. Kebanyakan nangis tadi… Soalnya tadi dibentak bareng-bareng di aula…” jawabku sedikit manja.

“Ya, itu kan cuma bentakan yang biasa terjadi di orientasi. Sudahlah, tak usah dimasukkan di hati…” ujar Umma memberiku saran.

“Ne, Umma. Aku tahu itu kok…” balasku lemah.

“Sudah ya, dongsaengmu lagi belajar nih, minta diajarin Umma. Saranghaeyo, Hyegun-ah…”

“Ne, nado Umma…”

Kututup langsung slide ponselku. Ukh, benar-benar hari yang melelahkan.

 

 

Dua bulan kemudian…

“Hyegun-ah, kita ke kantin yuk…” ajak Hyesun padaku.

“Hah, ok dech. Khaja…” ujarku menerima ajakannya.

Kami berdua pun pergi kantin bersama-sama. Di kantin, kami sedang menikmati makanan kami. “OMO, Hyesun-ah, itu Kibum-sunbae yang OSIS itu kan??” tanyaku sambil menunjuk-nunjuk seseorang yang pernah menolongku saat orientasi siswa dulu.

Hyesun sontak menoleh ke arah Kibum-sunbae. “Umh, iya kayaknya tuh… Aku gak begitu tahu…” balasnya cuek.

“Ach, kau ini sama sekali tidak asik… Sudah yuk, Ha Ah nanti kangen kita lagi…”

“Iya iya…” Kami pun berjalan menuju kelas. Di kelas terlihat Ha Ah yang justru sedang melamun gak jelas.

 

Ha Ah POV

 

Wah, sunbae itu manis sekali… Dia benar-benar tinggi. Saat asik-asik membayangkan Kyuhyun-sunbae, tiba-tiba saja teriakan yang tidak diinginkan menusuk telingaku. “HA AH!!!”

Aku langsung melonjak kaget. Ku toleh ke samping kiri dan kananku. Hyesun dan Hyegun. Ukh, jahil sekali mereka. “YA!! Kalian ini…” geramku.

“Lha kamu malah melamun siyh…” balas Hyesun sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

“HEI!!” Aku tidak terima begitu saja.

“Sudah-sudah, gak bagus lho bertengkar… Kita pulang yuk… Udah sepi nih…” ujar Hyegun yang terlihat lebih dewasa dari Hyesun. Aku heran, kenapa seorang Kang Hyegun bisa terlihat lebih mengerti perasaan orang lain dibandingkan Lee Hyesun yang umurnya 1 tahun di atas Hyegun.

“Aih, sudahlah. Pulang yuk, Hyesun…” ajakku pada Hyesun yang masih berdiri di samping tempat duduknya.

“Khaja…”

Kami pun pulang mengendarai bus, sedangkan Hyegun berjalan kaki karena apartemen yang disewa orang tuanya untuknya tak jauh dari sekolah.

 

Kibum POV

 

Akh, pendalamannya lama banget. OK siy buat persiapan ujian, tapi ya kalau setiap hari harus begini, bisa mati kecapekan aku entar.

Sekarang aku sedang berjalan ke halte bus untuk pulang. Di depan sekolah justru trjadi insiden yang benar-benar tak kuinginkan. Aku menabrak seoarang gadis hingga dia jatuh terduduk.

“Ukh…” rintihnya pelan yang masih bisa terdengar olehku. Sepertinya aku pernah mengenal gadis ini deh… Tapi siapa??

“Gwenchana??” tanyaku pada gadis itu yang masih terduduk dan merintih kesakitan.

Gadis itu mengangguk. Lalu dia pun mencoba untuk berdiri tapi langsung terjatuh lagi. Untung aku sigap, aku langsung menangkapnya. Kulihat lututnya berdarah. Kurasa dia gagal menopang tubuhnya karena lututnya itu.

“OMO, kau berdarah. Kau duduk di sini dulu yach, aku pangilkan pengurus klinik sekolah dulu…” Aku yang cukup panik saat itu hanya bisa mencarikan dia seseorang dari klinik sekolah. Kyuhyun, hanya dia yang terbesit di benakku.

Aku pun hampir mengelilingi sekolah untuk mencari seorang Kyuhyun. Di depan perpustakaan aku menemukan sosoknya bersama Jung Dae Ri, yeojachingu-nya. Karena merasa tidak enak mengganggu, aku tunggu saja sampai mereka selesai bicara. Yach, tapi kenapa perbuatanku seperti menguping pembicaraan mereka yach..?? Ya sudahlah…

“Kyuhyunnie, lebih baik sampai di sini saja hubungan kita…” tutur Daeri pada Kyuhyun yang berdiri di depannya.

“Maksudmu kita udahan??” tanya Kyuhyun.

Daeri hanya mengangguk, kemudian dia meninggalkan Kyuhyun sendirian di depan perpustakaan. Aku ingin menghampirinya saat Kyuhyun pergi meninggalkan perpustakaan dengan wajahnya yang menunduk. Aku langsung mengurungkan niatku. Aku pun pergi ke klinik sekolah untuk mengambil obat merah untuk gadis tadi.

“Mian, kau tidak menemukan orang dari klinik sekolah. Dengan obat merah saja cukup kan??” tanyaku pada gadis itu yang masih duduk di depan sekolah.

Gadis itu mengangguk. Aku melihat matanya. Ya, aku pernah bertemu dengannya dulu, tapi kapan??

“Gomawo, sunbae-ah… Kau menolongku sekali lagi…” ujar gadis itu kemudian.

“Hah??” Aku sama sekali tidak mengerti atas apa yang dikatakannya.

“Dulu waktu orientasi siswa, sunbae sudah menyelamatkan aku waktu aku kehilangan bandana kelasku…” jelas gadis itu.

Aku mencoba mengingatnya kembali. Beberapa detik kemudian… “Oh, kau yang waktu itu… Ya, akhirnya aku ingat. Pantas rasanya aku pernah bertemu denganmu. Kim Ki Bum imnida…” ujarku memperkenalkan diriku padanya.

“Aku sudah tahu kok, sunbae. Sunbae kan terkenal di Chungdamn…” balasnya.

“O ya?? Hhahaha, kalau boleh tahu, namamu siapa??”

“Kang Hye Gun imnida…” jawabnya singkat.

“Jongmal bangapsumnida…”

“Jongmal bangapsumnida…”

“Perlu kuantar pulang sampai ke rumahmu??” Aku menawarkan bantuan padanya.

“Aniyo sunbae-ah.. Aku bisa jalan sendiri kok… Jongmal…” tolaknya pelan sambil tersenyum. Whaa, ‘lucu sekali dia’ pikirku.

“Ya sudah, hati-ahti ya…”

“Ne…”

Gadis yang bernama Hyegun itu langsung berjalan ke arah rumahnya. Kulihat dia berjalan dengan terpincang-pincang. Uhh, andaikan dia menerima ajakanku tadi, mungkin tidak sesulit itu dia berjalan. Setelah gadis itu lenyap dari pandanganku, barulah kau menuju halte. Ya, meskipun aku sudah ketinggalan banyak bus.

Besoknya di sekolah, aku menemukan sosok Kyuhyun dengan senyumannya yang biasa. “Kyuhyunnie!!” panggilku dari kelasku.

Kyuhyun langsung menoleh. “Kibummie..??” gumamnya pelan.

“Gwenchana?? Kemarin Daeri minta putus kan??” tanyaku to the point.

“Ya begitulah, Kibummie. Katanya dia udah naksir sama orang lain…” jawabnya yang kelihatan cuek.

“Kau tidak marah??” tanyaku lagi.

“Buat apa aku marah?? Gak perlu lah… Toh cewek gak cuma dia… Hhehehe..”

Baru saja kami bersenda gurau, tiba-tiba saja Hyukjae menghampiri kami dengan tergopoh-gopoh. “Kyuhyunnie, ada cewek dari kelas 1 pingsan… Kau diminta ke klinik sama songsaenim…”

“Ne…” Kyuhyun pun berlari, aku pun sontak mengkutinya dari belakang.

 

Hyegun POV

 

Ha Ah pingsan!! OMO, apa yang terjadi padamu, Ha Ah?? Tadi pagi kau masih terlihat baik-baik saja, kenapa bisa sampai begini??

Aku panik sembari mengangkat tubuh Ha Ah bersama teman-teman sekelas ke klinik sekolah. Kulihat wajahnya pucat. Aku hampir saja menangis karena keadaannya itu. Hyesun juga ikut membantu mengangkat.

“Chingu, sadarkan dia ya…” perintah Hyesun sembari mencari-cari obat.

Kami pun mencoba untuk menyadarkan Ha Ah, tapi dia tak kunjung sadar juga. Sampai Kyuhyun-sunbae bersama Kibum-sunbae datang ke klinik sekolah. Tapi, kenapa Kibum-sunbae ke klinik. Dari informasi yang kudapat (aku selalu berusaha mencari informasi tentang Kibum-sunbae karena aku memang suka padanya saat pertama kali dia menolongku ^^), Kibum-sunbae bukan pengurus klinik sekolah, tapi dia kan orang fotografi. Tapi aku hiraukan saja itu.

“Kenapa dia sampai pingsan??”  tanya Kyuhyun-sunbae pada seseorang di antara kami semua.

“Aku gak tahu… Tadi, waktu aku nulis, tiba-tiba saja…” Aku menjawab pertanyaan Kyuhyun-sunbae dengan terbata-bata karena tiba-tiba saja aku menangis.

“Ya sudah, permisi…” Kyuhyun-sunbae pun langsung mencoba membangunkan Ha Ah. Kami yang tadinya ada di sebelah ranjang, menepi ke dinding klinik.

“Kukira tadi kau…” ujar Kibum-sunbae.

“Aniyo sunbae, aku tidak pernah pingsan…” balasku sembari menyapu air mataku.

Saat Kibum-sunbae ingin meneruskan kalimatnya, Kyuhyun-sunbae mendahuluinya. “Dia sudah sadar…”

Aku yang tadinya sudah berhenti menangis, langsug menangis lagi karena lega. Namun langsung aku hapus itu. Aku benar-benar senang mendengar keadaannya baik-baik saja.

Beberapa hri kemudian, aku, Hyesun, dan Ha Ah ada janjian untuk jalan-jalan ke sebuah resort. “Hyegun-ah!!” panggil Ha Ah dan Hyesun padaku.

Aku pun menghampiri mereka. “Wueyo??”

“Tadi Kibum-sunbae ada di dalam…” tutur Ha Ah.

“Chinca??” tanyaku tidak percaya.

“Ya, dibilangin kok…” sahut Hyesun. “Tuh, yang sedang baca buku di bawah pohon ntu siapa??”

Aku pun memalingkan wajahku ke arah yang ditunjuk Hyesun. OMO, dia sedang baca buku. Kibum-sunbae, neo neomu meotjyeo…

 

“Ah, sudah yuk… Kita ke dalam aja… Kita maen sepuasnya sebelum ujian….” ajakku pada kedua temanku.

“Yuk, khaja…”

Kami pun berjalan-jalan dan menikmati apa yang ada di resort itu. Saat itu kami sangat senang, seakan melupakan pelajaran di sekolah untuk sesaat.

Saat kami ingin pulang…

“Wuih, capeknya aku…” keluhku.

“Iya nih, capek. Nyari Kibum-sunbae yuk…” ajak Hyesun.

“Hah??” Aku terkejut akan apa yang dikatakannya.

“Ah sudah, yuk Ha Ah…”

Hyesun pun menarik tangan Ha Ah masuk ke dalam resort itu lagi. Babonya, aku menunggu mereka di luar karena aku memang benar-benar capek.

“Ih senengnya, tadi nemu Kibum-sunbae… Dia ternyata cuma muter-muter di sekitar itu aja,kayaknya… OMO, cute banget..!!” tutur Hyesun dengan ekspresi yang benar-benar senang. Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya ini. Yang ada, dadaku terasa sakit sekali saat Hyesun berkata seperti itu.

“Hyesun-ah, kau diam dong… Ada Hyegun tuwh…”

“Biarin, emang dia siapa-nya Hyegun, cuma teman kan?? Jadi, aku masih punya kesempatan dong…” ujar Hyesun sembari tersebyum sinis padaku.

Maksudnya Hyesun itu apa?? Maksudnya dia punya kesempatan itu apa?? Aku yang sudah tak punya kekuatan lagi untuk berada di sana, langsung berlari menuju apartemen orang tuaku.

Langsung kukunci pintu kamarku. Dan langsung kutumpahkan semuanya dengan tangisan. “Kenapa ini semua bisa terjadi??”

Aku menangis sampai tengah malam, hingga akhirnya besoknya aku sakit. Tapi aku masih memaksakan diriku untuk tetap masuk sekolah.

Sudah beberapa minggu aku bertahan dengan hatiku yan goyah ini. Rasanya aku sudah tak punya kekuatan lagi untuk hidup. Hyesun semakin dekat saja dengan Kibum-sunbae. Aih, mereka pasangan yang serasi, itu pikirku.

Tiba-tiba saja, Kibum-sunbae berlalu di hadapanku. Aku melihat matanya, lalu kupalingkan muka. Namun, Kibum-sunbae menahan tanganku. “Wue??” tanyanya singkat.

“Maksud oppa apa??” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Kenapa selama ini kau menatapku begitu?? Apa aku punya salah padamu??” tanya Kibum-sunbae lagi.

“Aniyo, sunbae… Sunbae tidak punya salah apa-apa kok…” jawabku dengan wajah menunduk.

“Tapi…”

“Permisi sunbae, aku mau ke kantin dulu…” Aku pun melepaskan genggaman tangan Kibum-sunbae. Rasanya ingin menangis mendengar suaranya.

 

Ha Ah POV

 

Aku jadi sedih melihat perubahan teman-temanku sekarang. Hyesun yang tiba-tiba saja bicara sinis seperti itu pada Hyegun, langsung membuat Hyegun berubah 180 derajat. Dia sekarang menjadi lebih pemurung.

“Hyegun-ah, Kyuhyun-sunbae tadi mengajakku ketemuan lho…” ujarku berusaha membuat Hyegun tersenyum.

“Oh…” ujarnya menanggapi. Singkat sekali tanggapannya.

“Hyegun-ah, kau baik-baik saja kan??”

“Ne, gwenchana…”

Dia pun melenggang keluar dari kelas dan pulang menuju apartemennya. Setelah Hyegun hilang dari pandanganku, Kyuhyun-sunbae tiba-tiba masuk ke kelasku.

“Ha Ah, aku mau bicarakan sesuatu padamu…” tutur Kyuhyun-sunbae padaku.

“Ada apa, sunbae??” tanyaku memastikan.

“Umm, kau tahu ini??” tanyanya sembari menunjukkan dua lembar kertas lipat, yang satu berwarna biru safir yang satunya lagi berwarna hitam legam.

“Ini untuk apa, oppa??” tanyaku tak mengerti.

“Umm, aku mau kau jadi yeojachingu-ku. Kalau kau menerimaku ambil yang warna biru safir, tapi kalau kau menolakku ambil yang warna hitam…” ujarnya menembakku tiba-tiba.

Aku shock di tempat. Aku coba untuk tenang sesaat. Lalu kuhemuskan nafasku pelan. Dengan dadaku yang berdegup kencang, aku mengambil yang berwarna biru safir. “Saranghaeyo, sunbae-ah…”

Kyuhyun-sunbae langsung memelukku. “Nado, saranghaeyo Ha Ah…”

Begitu Kyuhyun melepas pelukanku. “Wue?? Kenapa kau menangis??”

“Aniyo, aku hanya kepikiran soal Hyegun dan Hyesun…”

“Yang memperebutkan Kibummie kah??”

Aku mengangguk. “Tenang saja, masalah mereka pasti bisa terselesaikan…” tutur Kyuhyun menenangkanku.

Kibum POV

 

Hari ini, aku dan Hyesun ada janji keemuan di resort terdekat. Aku mulai mempersiapkan diriku. Tapi, yang ada di pikiranku justru Hyegun. Kenapa dia bisa sampai begitu ya?? Apa ini ada hubungannya denganku dan Hyesun?? Terus kenapa?? Kami berdua hanya berteman, tidak lebih.

Ponselku tiba-tiba berbunyi. Dari Hyesun. Sunbae kapan datang?? Aku sudah menunggumu lho…

Aku langsung turun dan keluar dari kamarku. Dan beranjak dari rumahku. Tapi di depan terlihat Hyegun berdiri dengan tatapan kosong.

 

Hyegun POV

 

“Wue??” tanyanya pelan.

“Aniyo, aku hanya ingin memberikan ucapan selamat saja pada sunbae… Sebentar lagi Hyesun akan jadi yeojachingu-mu…” tuturku lirih. Aku pun langsung meninggalkan Kibum-sunbae yang masih berdiri tak mengerti. Meskipun aku sebenarnya mengikutinya juga.

Di resort yang pernah kami kunjungi sebelumnya, aku melihat Hyesun sedang berjalan bersama Kibum-sunbae.

Aku hanya bisa menatap mereka dari jauh. Sesaat kulihat Kibum-sunbae meninggalkan Hyesun duduk sendirian.

Aku rasa Hyesun merasakan keberadaanku. Dia langsung menghampiriku yang ada di seberang jalan. “Hyegun-ah, kau ini apa-apaan sih?? Kau terus saja mengikutiku… Sebenarnya kau ini maunya apa, hah??” maki Hyesun padaku.

Aku terdiam sesaat. Sahabatku dulu sekarang menjadi begini. Dia memakiku sekarang. Ironis sekali. “Hanya perasaanmu saja, aku memang ada perlu kok di sini…” tuturku pelan.

“Ah sudahlah..!!” Hyesun pun kembali ke seberang.

Namun dari arah yang berlawanan, mobil dengan kecepatan tinggi melaju dan nyaris saja mengenai Hyesun kalau dia tidak ku tolong duluan.

BRUAAKKK!!!

 

Kibum POV

 

“Waaaaaaaaaa!!!!!” Aku mendengar teriakan Hyesun. Aku yang baru saja dari kamar kecil, langsung berlari menuju tempatku tadi.

“Hyegun-ah…” gumamku ketika melihat tubuh Hyegun yang tergeletak dengan darah yang mendasari semuanya.

Aku berlari menghampiri tubuh itu. “Hyegun-ah!! HYEGUN-AH!!” Aku panic dan tak tahu harus berbuat apa. Aku terus memanggil namanya sembari menahan tubuh lemasnya dan tak memperdulikan Hyesun yang sudah menangis ketakutan. “Hyegun-ah!!!”

“…Sunbae…”

“Hyegun-ah, syukurlah…”

“Sunbae…saranghaeyo…” tuturnya lirih.

“Kau jangan bicara apa-apa dulu, kau harus ke rumah sakit sekarang…”

Belum ada 1 menit, dia, Hyegun, sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Andweee, Hyegun-ah…”

“Nado, saranghaeyo…” bisikku ke telinganya meskipun sudah tak berguna lagi. Dia sudah pergi. Pergi meninggalkan dunia ini.

 

THE END

Author : unknown

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s