Cake Of Love Part 8

Standar

Author : Hye Ri

Cerita sebelumnya :

“Aku tidak mungkin lah suka sama orang itu. Kau tidak lihat bagaimana dia memperlakukanku tadi. A-ku-ti-dak-mung-kin-me-nyu-ka-i-nya. Titik. Jelas kan, Hye Ri.” Kataku tegas. Habis, tiba-tiba dia tanya kalau aku suka sama Oppanya apa nggak. Ya jelas aku blang tidak. Walau sebenarnya, aku tidak tahu aku ini bohong atau tidak.

“Ya kan siapa tahu. Unnie kan yang pertama first snow Oppa.” Katanya.

“Terus, apa hubungannya.” Aku mengerutkan kening

“Kurasa mantraku benar-benar terjadi.”

“Apa maksudmu sih ? Mantra apa ?”

Dia menarik napas panjang, dan mulai berkisah.

“Kemarin, waktu Oppa bikin first snow itu, aku ngerasa agak aneh karena Oppa terus bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendi Makanya aku tanya kenapa. Oppa bilang, kalau first snow yang dibuatnya itu, akan diberikan untuk gadis yang disukai Oppa. Dan menjadikan gadis itu sebagai orang pertama yang memakannya. Terus dia memintaku untuk, yaa, membaakan mantra atau harapan saja lah. Karena, dia yakin kalau akau yang kasih pengharapan, bakal terkabul. Ya udah, aku bilang aja, ‘semoga orang yang pertama memakan kue kakak itu adalah gadis yang terbaik untuk Oppa. Semoga dia menjadi cinta sejati dan selamanya untuk Oppa. Dan dia selalu menyukai Oppa dan menyayangi Oppa sampai maut memisahkan kalian. Kalau gadis itu belum menyukai Oppa, semoga gadis itu bisa terbuka mata dan hatinya dan bisa menyukai Oppa melebihi apapun. Semoga, cinta kalian bisa terus terasa menyenangkan dan sangat indah sama seperti menyenangkannya ketika memakan kue ini. Dan Oppa juga mencintai gadis itu selamanya.’  Aku bilang begitu.”

“Kau bilang begitu ?”

“Yup ! Bagus kan ?”

Mantranya ? Apa iya berhasil ?


Cake of Love Part 8

“Anak ini, apa iya yang dia harapkan pada kue itu jadi kenyataan ? Apa benar itu mantra ? Masa mantra sih ? Tapi kok sepertinya berhasil ya ? Apa jangan-jangan memang berhasil ?” Aku berkutat dengan pikiranku sendiri sampai tidak sadar kalau gadis di depanku bertanya dengan mulut penuh *dia makan kuenya langsung semua sih, gimana nggak penuh ?*

“Unnie, ceritain donk kenapa Oppa sama Unnie bisa berantem. Aku penasaran banget, nih.” Pinta Hye Ri yang saat ini mulutnya sedang penuh dengan kuenya sambil berusaha merapikan rambutnya lagi yang baru saja kuacak-acak. Aku masih melamun.

“Unnie ! Aiissh ! Malah ngelamun. Ngelamunin Oppa ya ?” tanyanya seenaknya. Aku langsung tersadar dari lamunanku dan langsung mengelak.

“Enak aja. Aniyo !”

“Hmmm, yang bener ???” tanyanya menggoda. Wajahku memanas. Mungkin sekarang merah semerah udang rebus.

“Ani, Hye Ri. Salah emang kalo aku ngelamun ?”

Dia menggeleng. “Nggak sih, Unnie. Abis Unnie aku tanyain malah bengong sih. Aku godain Unnie aja deh, biar Unnie sadar. Ayo donk Unnie, cerita !!!” Hye Ri mulai merengek seperti anak kecil minta dibelikan permen. Aiish, ada-ada saja. Aku menyanggah kepalaku. Malas.

“Panjang banget ceritanya, Hye Ri. Besok aja ya.” Aku menolak permintaanya. Dia mengeluh.

“Nggak mau. Mau kapan lagi, Unnie ? Aku tanya Oppa aja deh kalo gitu.” Nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku sigap menolaknya. Bisa-bisa hilang image baikku kalau si Kyuhyun itu yang cerita.

“Andwae ! Keureuchi, aku akan cerita sekarang.”

Aku menceritakan kejadian kemarin dengan runtut pada Hye Ri yang sedang mendengarkanku dengan serius. Mulai dari aku main bola, bolaku memecahkan kaca, lalu bolaku menghancurkan kue Oppanya, dan terus sampai pertemuanku yang tidak menyenangkan dengan Oppanya di cafe sore itu. Tidak kurang tidak lebih *yaa, dilebihin dikit sih. Dikit aja tapi kok*.

Anak didepanku itu manggut-manggut. Entah memang mengerti atau hanya mencoba peduli. Tapi sepertinya memang mengerti. Dia mendesah. Aku ikut-ikut menghela napas.

“Jadi gitu…” katanya. Aku tersenyum kecil. Dia melanjutkan.

“Berarti sebenernya, kesalahan harusnya dari aku donk ? Kan aku yang nawarin Unnie first snow waktu itu. Hmm, gara-gara aku, Unnie sama Oppa jadi salah paham. Ntar aku coba ngomong ke Oppa deh. Oppa pasti ngerti kok. Unnie yang sabar ya. Aku wakilin Oppaku minta maaf dulu deh. Nanti aku suruh Oppa minta maaf lagi sama Unnie. Yang sabar ya, Unnie. Maaf juga Unnie.” Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya.

Kok bisa sih, antara dia dan Kyuhyun itu sangat berbeda ? Dia begitu tulus meminta maaf padaku. Dia bahkan yang berusaha memperbaiki hubunganku dengan si Kyuhyun itu. Dia seperti tidak ingin aku dan Oppanya bertengkar. Si Kyuhyun itu, apaan ? Menyebalkan. Kalau bukan karena dipaksa Hye Ri, dia juga nggak mungkin minta maaf tadi. Si Kyuhyun itu dingin, arogan, nyebelin. Beda banget sama adiknya yang ramah. Tapi, kenapa hanya padaku Kyuhyun bersikap begitu ya ? Apa karena aku yang sudah menggagalkan rencananya itu ?

“Oppa itu, memang begitu. Tapi aku juga heran. Oppa nggak biasanya sampai begini. Kalau ada yang bersalah padanya, emang sih ditegur dulu, tapi Oppa masih toleran kok. Nggak sampai berlanjut dan nggak sampai benci. Oppaku nggak terlalu gampang benci sama orang. Tapi sama Unnie, Oppaku lain. Apa karena masalah potongan pertama itu ya ? Tapi, kalau dinalar sih, orang pertama yang makan kue Oppa, ya pasti Unnie. Orang Oppa langsung kan yang kasih ke Unnie. Jadi kalau kemarin pun Oppa jadi ngasih potongan first snow pertamanya buat Unnie yang Oppa sukain itu, tetep aja Seohyun Unnie yang makan pertama kali.” Dia membuyarkan lamunanku sekali lagi dengan penjelasannya yang panjang. Aku sempurna tertegun. Pikirku, ini anak ada benernya juga sih.

Aku terdiam. Hye Ri juga ikut diam. Kami berada dalam pikiran kami masing-masing. Aku merasa agak pusing. Banyak hal yang aku ketahui *lagi* tentang si Kyuhyun itu. Entah itu dari Hye Ri, atau dari pengamatanku sendiri, tapi untukku, itu semua sudah banyak. Dan sekarang pikiranku terpenuhi dengan itu semua

Tapi aku senang bisa dapat informasi banyak tentang dia. Padahal aku benci padanya. Ah, kalau bicara tentang perasaan, jujur, aku sendiri masih bimbang. Aku merasa aku membohongi diriku sendiri. Perasaanku sendiri. Terasa seperti beban bagiku. Aku bingung. Kalau aku ditanya apakah aku menyukainya dan alasannya, mungkin akan susah bagiku untuk menjawabnya. Aku baru bertemu dengannya kemarin dan itu pun dengan pertemuan yag tidak terlalu baik. Baru 2 hari, dan aku menyukainya ? Rasanya tidak mungkin secepat itu. Lagipula, aku kan benci padanya.

Aku ingin menceritakan ini semua padanya. Pada Hye Ri.

“Hye Ri ah~” panggilku.

“Hm ?”

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu ? Tapi janji ya kau jangan ketawa !”

Dia mengerutkan kedua alisnya.

“Tanya apa ? Janji deh, aku nggak akan ketawa.” Jarinya membentuk huruf V tanda janjinya. Aku tersenyum lebar. Senang sekali mendengarnya. Hye Ri bersiap mendengarkan pertanyaanku sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Aku meremas tanganku dan mulai bertanya.

“Tapi agak panjang…” Kataku. Dia menggelengkan kepalanya.

“Nggak apa-apa kok. Tanya aja, Unnie.”

“Menurutmu, ini menurutmu lho ya…,” aku berhenti sejenak memikirkan kata-kata yang pas aku ucapkan. “… kalau kau baru saja bertemu dengan seseorang, baru saja, dan kalian belum kenal begitu lama tapi kau merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirimu jika bertemu dengannya. Apakah seperti itu bisa disebut jatuh cinta ? Dan terlebih lagi pertemuanmu dengannya tidak terlalu baik awalnya. Yaah, awalnya langsung bertengkar. Dan kalian saling benci. Sangat benci. Tapi kau selalu memikirkannya dan merasa kalau dia sebenarnya baik. Dan hatimu merasa tidak enak ketika tahu kalau orang itu ternyata suka dengan orang lain dan hatimu selalu terasa panas atau sakit ketika melihatnya atau membayangkannya dengan orang yang disukainya itu. Kau juga selalu mengelak pada dirimu sendiri ketika secara tidak sadar, kau mulai memikirkannya lagi. Kau selalu bilang, kau tidak menyukainya dan kau benci padanya padahal kau terus memikirkannya. Apakah seperti itu yang disebut membohongi diri sendiri ? Apakah seperti itu namanya jatuh cinta ? Wajar nggak sih kalau kau membencinya dan juga baru kenal sebentar dengannya, tapi kau sudah jatuh cinta padanya ? Apa yang akan kau lakukan ? Aduuuh, aku bingung !”

Aku memegang kepalaku dan menekannya sedikit. Pusingku kumat lagi. Aku merasa aneh setelah bertanya panjang lebar barusan. “Ya ampun, Seohyun. Nggak semestinya kau tanyakan itu pada anak seumuran dia. Dia pasti nggak ngerti.” Aku mengklaim dalam hati. Hye Ri terdiam lalu menghela napas panjang. Aku kembali menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku malu sekali.

Ia berdehem.

“Seohyun Unnie, jujur, aku baru 13 tahun dan nggak pernah ngurusin hal beginian. Tapi aku cukup ngerti sama masalah-masalah seperti ini, kok. Kalo menurutku ya Unnie, ehmm, cinta itu bisa datang darimana saja. Karena rasa kagum, rasa simpati, perasaan senasib, bahkan dari rasa benci pun bisa. Bisa dari sahabat, teman les, sunbae atau yonbae, teman sekelas, orang yang baru kenal, bahkan dari musuhpun bisa. Karena rasa cinta, bukan kita yang menghendaki. Unnie tau kan soal love at the first sight ? Cinta kaya’ gitu kan juga sering terjadi. Benci juga sama saja. Kalau dari awal bertemu, kita sudah saling benci, justru kesempatan untuk jatuh cinta jauh lebih besar. Karena, disaat kita membenci seseorang, secara tidak langsung kita justru ingin tahu apapun tentang dia. Walaupun akhirnya hanya untuk kita jelek-jelekan atau bahan gosip. Saat kita benci pun, secara tidak sadar justru kita akan terus berusaha untuk lebih baik kan ? Dan untuk mengetahui kelemahan musuh kita, kita jadi harus tau banyak informasi tentangnya. Hampir sama pengertiannya dengan suka, kan ? Saat kita menyukai sesuatu atau seseorang, kita juga akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang yang kita sukai itu. Sama saja, hanya perbedaanya saat kita benci, kita akan melampiaskan dengan rasa kesal dan marah. Kalau suka, jelas lah dengan senang hati. Menurutku, benci itu adalah rasa cinta yang berlebihan dan benci juga adalah ungkapan cinta yang dialihkan menjadi rasa marah. Gitu.” Jawabnya panjang lebar. Dia tersenyum lega setelahnya.

Aku terdiam. Mencoba mencerna penjelasan yang Hye Ri katakan. Apa yang dia bilang, dan Yoona bilang, sama. Bahwa benci pun bisa jadi cinta. Tapi, apa iya aku benar-benar jatuh cinta padanya ?

“Jangan takut untuk mencintai orang yang kita benci, Unnie. Karena, siapa tau orang yang kita bencilah yang justru jadi cinta sejati kita.” Kata Hye Ri lagi. Dia tersenyum penuh arti sambil memandangku. Hatiku berdesir. Kata-katanya telak mengenaiku. Menghantamku. Aku merasakan sedikit rasa hangat menjalari tubuhku. Entah kenapa, aku merasa sangat tenang mendengar perkataanya. Dia baru 13 tahun tapi perkataannya mampu membuatku setenang ini.

“Ini…, tentang Unnie dan Oppa, ya ? Unnie…., suka sama Oppa kan ?” tanyanya tiba-tiba. Aku mendelik. Entah kenapa, ingin sekali aku bilang iya, tapi logikaku terus melarangku. Lagi-lagi, dia menang telak terhadapku. Aku speechless. Seperti biasanya, aku mengelak.

“MWO ?! A…,, aa…, aniyo !! Aku itu tidak menyukai Oppamu. Aku tidak mungkin menyukai……….”

“Unnie…,” dia memanggilku lembut dan memandangku dengan tatapan yang memintaku untk berhenti seperti ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku menunduk.

“Apa terlihat sekali ?” tanyaku. Dia mengangguk lalu berkata lagi.

“Unnie, jangan takut untuk jujur. Justru lebih menyakitkan kalau Unnie terus membohongi diri Unnie dan juga perasaan Unnie sendiri ketimbang menerima kenyataan yang sebenarnya. Jangan ditolak Unnie. Cinta itu anugrah. Kekuatannya lebih besar dari benci.”

Aku tersenyum lega. Seperti terlepas dari ikatan-ikatan yang terus membelengguku selama ini. Walau baru 2 hari aku bertemu dengannya. Walau baru beberapa jam aku merasakan perasaan ini. Tapi, aku merasakan beban yang sangat berat. Dan sekarang, aku sudah bisa melepasnya. Dia masih memandangiku dan aku membalas tatapannya. Kami tersenyum. Aku mengangguk menjawab pertanyaanya. Dan bagaimana ceritanya, mataku tiba-tiba mulai berair dan airmataku menetes. Aku segera menghapusnya. Dia menghembuskan napas lega.

YA ! Aku menyukainya. Aku memang suka padanya. Ternyata, aku memang menyukaimu….., Cho Kyuhyun.

Hye Ri mengantarku sampai ke luar cafe. Dia membawakan bolaku. Sudah saatnya aku pulang.

“Aku dari sini saja. Kamu balik aja sana, gih. Kerja lagi.” Suruhku. Dia tertawa.

“Masih satu setengah jam lagi, Unnie. Unnie, kenapa cepet-cepet sih ? Di sini aja sampai nanti aku kerja lagi.” Pintanya. Aku tersenyum lalu menggeleng pelan.

“Nggak ah. Aku malu lama-lama di sini.”

“Iya, iya deh. Deuu, yang lagi jatuh cinta. Beruntung banget itu orang ? Bisa disenengin sama yeoja semanis Unnie.” Pujinya. Aku mencubit dan menarik pipinya samapi lebar.

“Iiiih ! Malah digodain. Oh iya ……………….. (ssssssstttttttttsssssss). Oke ?” Aku membisikan sesuatu padanya. Dia menaikan kedua alisnya.

“Uu…, unnie…, beneran ?”

Aku mengangguk yakin. Dia keliatan sedang berpikir. Aku menggigit bibirku menanti jawabannya. Dia tersenyum.

“Sip. Mau kapan ?” tanyanya. Aku membuka Hpku dan melihat kalender.

“Besok.”

Aku sudah tidak sabar menunggu besok. Kalian tahu, apa yang tadi kubisikan sama Hye Ri ? Itu yang akan kulakukan dengannya besok. Aku minta diajarkan membuat kue padanya. Yang simple aja sih. Seperti membuat sponge cake atau pound cake. Hehe, namanya juga masih pemula. Lagian, aku nggak bisa masak sama sekali. Kata Hye Ri, kalau kita menyukai seseorang, cobalah menyukai kesukaanya. Great advice menurutku.

Tapi, aku punya 2 masalah sekarang. Pertama, si Kyuhyun. Aku memang benci padanya awalnya. Tapi, aku bisa jadi suka padanya. Tapi dia ? Dia membenciku dan dia sudah menyukai orang lain. Dan itu justru masalah keduannya. Dia menyukai gadis yang salah. Jujur, aku berharap akhirnya kami bisa bersama. Minimal jadi teman lah. Tapi, aku tidak memaksakan keinginanku itu. Dia kan benci padaku dan kemungkinan menyukaiku balik juga sedikit. Kalaupun dia ingin bersama gadis lain, aku berharap siapapun asal bukan si Yoo Yi itu.

Aku harus membuatnya menyukaiku. Atau minimal membuatnya tidak bersama Yoo Yi. Itu tekadku. Ayo Seohyun !!! Kau pasti bisa !!! HWAITING !!!

Hari ini, latihan lagi. Dan aku bersemangat sekali. Hye Ri bilang kan kalau Oppanya lagi sering kesekolah untuk latihan kontes patissiernya. Jadi, ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya lagi. Hehehe, aku jadi malu sendiri. Aiiissh ! Sejak aku mulai jujur pada perasaanku sendiri kalau aku memang menyukainya, hatiku jadi suka berbunga-bunga. Dan rasanya sungguh menyenangkan sekali.

Aku mengikat tali sepatu sebelum meninggalkan rumah.

“Eomma, Seohyun berangkat dulu.” Pamitku dari depan *Eomma lagi di dapur*. Terdengar jawaban dari belakang.

“Ne, josimhaseyo [hati-hati] !!”

Aku siap berangkat. Dan siap bertemu dengannya juga.

Aku sampai di lapangan. Sunny dan Soo Young segera menyerbuku.

“Tumben nggak telat ?” Tanya Soo Young ngasal. Kalau aku sedang tidak berbunga-bunga, biasanya aku sudah menjitaknya. Tapi, aku sedang lain dan bahagia hari ini, jadi aku tersenyum lebar saja. Dan itu justru bikin bingung kedua sahabatku itu.

“Kok senyum-senyum ? Biasanya aja udah njitak kaya’ Soo Young.” Protes Sunny yang langsung dapat pelototan dari Soo Young. Aku makin melebarkan sayap *ralat ! senyum maksudku*.

“Jiiah, malah tambah aneh sama nggak jelas gini sih ? Dia kenapa sih, Sun ?” Soo Young menyenggol lengan Sunny dan langsung dapat gelengan heran dari Sunny. Aku ketawa melihat mereka.

“Nanti ya. Aku lagi nggak mau mbagi kebahagiaanku hari ini. Lalalalala….” Aku melenggang pergi dan dilepas oleh pandangan heran, aneh, bingung, dan kaget dari kedua sahabatku.

Memang iya kok. Untuk kebahagiaan yang satu ini, aku tidak ingin membaginya pada siapapun. Cukup hanya untukku. Hanya aku yang boleh menikmatinya.

Aku tidak bisa konsentrasi penuh. Sedikit-sedikit aku melihat ke arah jendela yang sudah tidak asing lagi menurutku. Jendela ruang tata boga yang terbuka dan selalu mengeluarkan aroma yang sangat enak. Hmmm……

JJDDUUKK !!!

“ADUH !!” Sebuah bola tepat mengenai kepalaku. Aku langsung memegangi kepalaku. Pusing sekali. Kudengar derap langkah kaki mendekatiku.

“Seohyun ah ! Kau tak apa-apa ?” Soo Young mengelus kepalaku. Sunny heboh.

“Kau sih, Seohyun ! Kenapa tidak konsentrasi ?”

Aku menggerutu.

“Heh, siapa sih yang menendang bola dan kena kepalaku ? Nggak hati-hati banget sih.”

“Aku yang melakukannya. Kau mau apa ?” Terdengar suara seseorang dari belakangku. Masih sambil mengelus-elus kepalaku yang sakit, aku berbalik dan sempurna terkejut.

“Sa…, San Ji sunbae ?! Ka…, kau sengaja ?” tanyaku gelagapan. San Ji sunbae mendekat dan menjewerku.

“Aaaaaaa ~ Sakit sunbae ! Ap…, apa salahku ? Aaa~ aaa !” Aku mengaduh. Dia semakin menarik telingaku.

“Kau itu, tidak pernah konsentrasi. Malah ngelamun terus. Ngeliatin gedung sekolah lagi. Lihat apa sih ? Hah ?! Ruang tata boga ? Nyari Kyuhyun ?!”

Sontak, aku melepas jewerannya dan mengelak *padahal sebenarnya iya sih*.

“Aniya ! Sunbae kok nanya gitu sih ? Emang apa hubungannya sama orang yang namannya Kyuhyun itu ?”

Dia berdecak.

“Cih, semua orang juga sudah tau kau punya masalah dengannya. Kau nyari-nyari dia kan ? Pakai liat-liat ruang tata boga lagi. Gawang tu di depan, bukan di ruang tata boga. Dasar anak nakal.” Dia mencoba menjewerku lagi. Aku langsung berkelit.

“Eaa~ Andwae sunbae ! Jangan dijewer lagi. Aku nggak pengen ketemu orang itu kok. Ngapain ? Orang aku pingin ke toilet. Aku ke toilet ya.” Aku langsung melesat pergi. San Ji sunbae misuh-misuh.

“Aae~ Aiissh !! Dasar anak nakal ! Ayo yang lain latihan lagi !” Perintahnya. Sunny dan Soo Young memanggilku yang sudah cukup jauh.

“Seohyun aah~ !!!” Panggil mereka serempak. Aku berbalik. Sambil berjalan mundur, aku menanggapi panggilan mereka.

“Mwo ?!”

“Aku ikut !!!” Sunny berlari. Aku langsung berteriak memerintahkannya berhenti.

“Andwae !!! Aku mau sendiri aja. Sana latihan lagi. Dadah ~ ” Aku melambai, berbalik, lalu kembali berlari. Soo Young berdecak.

“Ck ck ck. Ada apa sih sama anak itu ?”

Sunny mengangkat bahu menandakan tidak tahu. Mereka kembali latihan.

Aku berjalan dengan riang. Tidak tahu kenapa aku merasa sangat senang sekali. Mungkin karena lega. Lega karena sudah tidak perlu lagi membohongi dan berusaha menolak perasaanku lagi. Aku sudah terima.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar ingin ke toilet. Kalian tahu lah, kalau mau ke toilet otomatis melewati ruang itu. Ruang tata boga dan *siapa tahu* Kyuhyun Oppa ada di sana. *Jiiah, udah panggil-panggil Oppa nih.* Aku tersenyum sendiri memikirkan itu.

Aku sudah bisa mencium aroma sedap dari ruangan itu. Jelas saja, pintunya saja terbuka lebar, pantas saja aromanya sampai keluar. Aku menghirup aroma itu dalam-dalam. Aah~ jadi inget si Kyuhyun Oppa. Aku semakin dekat dengan ruang itu dan melambatkan langkahku ketika berada di dekatnya.

Aku melongokkan kepalaku mencoba mencarinya. Duh, nggak ada yang kukenal. Bahkan Yoona juga tidak aku temukan. Padahal dia satu-satunya anak tata boga yang kukenal. Kalau tidak dikenalin sama Sunny dan Soo Young, aku sudah tidak punya kenalan sama sekali.

Di dalam sana ramai. Ada yang memang membuat kue, ada yang cuma duduk-duduk dan ngobrol. Mataku mengitari sekitar ruangan tapi tidak juga kutemukan sosoknya. Aku menghela napas.

“Hhah ~ Padahal, kuharap aku bisa bertemu dengannya. Aah ~” Keluhku. Aku sedang melongok lagi ketika seseorang menepuk pundakku. Aku terlonjak.

“Aa ! Aiissh ! Kau mengagetkanku, tau. Eh ? Kau Shin Mi, ya ? Adiknya San Ji sunbae kan ?” Aku menunjuk tepat didepan wajahnya. Dia nyengir. Kedua tangannya memeluk sebuah bungkusan besar yang aku tidak tahu apa isinya.

“Ne, Unnie. Eotteokhe jinasseoyo ?” tanyanya. Aku menganggukan kepalaku.

“Joayo. Kau ?” tanyaku balik. Dia tersenyum.

“Baik juga, Unnie. Unnie nyari siapa ? Kok melongok-melongok ke dalem ? Mau aku panggilin?” tawarnya. Aku mengerutkan keningku dalam.

“Panggilin ? Kau…, anak tata boga ?”

Dia mengangguk kencang.

“Ne, Unnie. Masa Unnie nggak lihat bungkusan besar yang kubawa ini ? Ini bahan-bahan makanan untuk ekstra tata boga. Pasti lah aku anak tata boga.”

“Ooo ~”

“Unnie nyariin siapa ? Aku panggilin deh.” Tawarnya lagi yang kubalas dengan gelengan pelan.

“Aniyo, Shin Mi ah. Aku nggak nyari siapa-siapa. Cuma numpang lewat terus penasaran kok aromanya enak banget dari dalam. Ya, karena penasaran, aku ngelongok aja. Ternyata memang lagi ada yang masak. Keren ya ? Pada bisa masak. Kau juga bisa bikin kue ?”

“Eummm, nggak terlalu sih Unnie. Aku juga baru masuk. Kemarin sama Kyuhyun sunbae diajarin bikin sponge cake. Tapi masih nggak enak sih. Padahal gampang. Kalo Kyuhyun sunbae yang udah pegang masakan, hmmm, semuanya bakal kerasa perfect. Yang keren itu Kyuhyun sunbae malah. Unnie kenal sama Kyuhyun sunbae ?” tanyanya. Aku sedikit tersentak. Dan cuma bisa kujawab dengan senyum tipis.

“Hiya ~ Shin Mi ah, aku ke toilet dulu ya. Udah kebelet nih. Annyeonghi….” Aku bergegas dan melambai padanya. Dia menganggukan kepalanya membalas lambaianku.

Kalau diteruskan, bisa-bisa malah cerita sampe orangnya lagi.

Aku mengeluh dalam hati. Menyesali keadaan yang membuatku tidak bisa bertemu dengannya. Coba aku tanya Shin Mi di mana Kyuhyun, mungkin aku tidak sebingung ini. Tapi nanti ketahuan donk. Lagian atas alasan apa pula aku mau ketemu sama Kyuhyun Oppa. Masa mau berantem gitu alasannya ? Nggak mungkin lah.

Aku sampai di toilet. Masih dengan perasaan kecewa, aku mencoba berpikir positif saja. Mungkin saja Kyuhyun Oppa memang sedang tidak ada.

“Hhah ~” Desahku. Aku mendorong pintu toilet. Dan saat itulah ternyata ada sesorang yang juga sedang membuka pintu toilet. Aku sedikit terdorong sampai menyentuh tembok *apa dia mendorongnya terlalu keras ya ?*. Aku menyingkir sambil sedikit ada rasa kaget menjalari tubuhku. Ditambah lagi begitu aku tahu siapa yeoja yang baru saja keluar. Ternyata…., orang itu Yoo Yi. Dan dengan wajah menyebalkan dan sok-nya, dia lewat begitu saja di depanku sambil sedikit melirik sinis padaku. Dia melenggang pergi membawa sikapnya yang dimataku sangat memuakkan.

“Hiiy ! Kenapa bisa sampai bertemu dengannya sih ? Dasar nenek sihir !” Aku meleletkan lidah sedikit lalu masuk ke dalam toilet. Aku langsung menuju wastafel dan menyalakan kran. Ingin sekali aku membasuh wajahku biar segar lagi. Baru mau kulakukan, sebuah suara mengagetkanku. Suara isak tangis. Walau pelan, tapi cukup kedengaran.

Suaranya datang dari dalam toilet yang ke empat. Aku mengetuk.

“Halo ? Ada orang ya ?”

Ternyata tidak terkunci dan aku menemukan orang yang sempat kucari tadi.

“YOONA ?!!” Refleks begitu aku mengetahui orang itu, aku segera masuk dan menenangkannya yang masih terisak. Kuajak dia keluar dari toilet dan duduk di meja wastafel yang lebar dan besar. Aku berdiri menghadapnya.

“Yoona ssi ?! Ada apa ? Siapa yang melakukan ini padamu ? Katakan, ada apa ? Waeyo ?!” Aku mengusap airmata yang terus mengalir dari matanya. Dia menggeleng.

“Gwaenchanayo, Seohyun ssi. Nggak ada apa-apa. Aku cuma…. hwaaaaaaaaaaaaaa !!!” Dia menangis lagi. Malah lebih keras. Jujur, aku panik tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku cuma bisa memeluknya dan menenangkannya. Isaknya masih keras dan belum ada tanda-tanda mau berhenti. Aku memeluknya sambil terus berkata sabar-sabar dan berusaha membuatnya tenang.

Lama-lama, emosinya mulai terkontrol. Tangisnya mulai mereda dan hanya tinggal sesenggukannya yang masih tersisa. Aku melepas pelukanku dan menggantinya dengan merangkulnya. Aku bertanya lagi.

“Gwaenchanayo ? Sudah lebih baik ? Yoona ssi, ada apa ?”

Dia masih sesenggukan. Awalnya ia tidak mau cerita sama sekali. Setelah kupaksa secara pelan, barulah akhirnya dia mau membuka mulutnya dan menceritakan masalahnya padaku.

“Ini…, karena Yoo Yi Unnie. Dia melabrakku tadi dan menyalahkanku karena aku terlihat dekat dengan Kyuhyun sunbae. Aku hanya ingin minta ajarin cara bikin kue saja. Aku akan kontes tingkat kota akhir minggu ini. Kyuhyun sunbae juga akan mengikuti kontes, jadi maksudku, mungkin lebih baik kalau kami berlatih bersama. Bagaimanapun, Kyuhyun sunbae sudah mencapai tingkat paling tinggi, dan aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin meminta diajarkan saja. Tapi…., Yoo Yi Unnie…, dia…, hiks, hiks, dia malah menyalahkanku dan melabrakku barusan.” Ceritanya diantara tangis sesenggukannya. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Aku geram. Jujur, aku sudah sebal melihatnya. Dan sekarang, aku tahu kalau dia ternyata melukai perasaan temanku. Aku harus memberi pelajaran padanya. HARUS !!!

“Aku harus pergi. Kau masih mau di sini atau mau kuantar kemana ?” tanyaku sambil menahan rasa marahku. Yoona menggeleng. Dia masih ingin di sini. Aku memeluknya sekali lagi dan menyemangatinya. Aku melangkah keluar toilet dan segera mencari orang itu. Orang yang sudah menyakiti hati temanku, Yoona. Aku harus memberinya pelajaran.

Ruang tata boga adalah tujuan pertamaku untuk mulai mencarinya. Aku yakin dia pasti ada di sana. Kalau dia bisa menyakiti temanku, aku tidak akan membiarkannya menyakiti Kyuhyun. Aku tahu sifat busuknya. Dan aku tidak akan pernah terima jika dia juga menyakiti Kyuhyun *ku* seperti dia menyakiti Yoona.

Aku berjalan dengan sedikit berderap. Tanganku mengepal. Rambutku tertiup kebelakang setiap ku melangkah *aku nggak tahu apakah karena aku jalannya terlalu cepat atau karena memang anginnya sedang kencang*. Tekadku sudah bulat.

Tidak jauh lagi aku sampai ke ruang tata boga. Aku menoleh ke arah kananku. Ke arah koridor lain dan aku melihat ada orang di sana, walaupun sekelebat. Dan aku terhenti. Aku mundur beberapa langkah dan menoleh kembali ke arah koridor di sebelah kananku itu dan ternyata memang benar. Yoo Yi sedang berdiri di sana dan terlihat sedang mengobrol dengan seseorang. Aku menyipitkan mataku. Marah, kesal, dan perasaan tidak terima bercampur jadi satu di hatiku. Aku tidak suka dengannya !

Temannya pergi. Dia melambai sambil tertawa lalu berbalik. Aku masih menatapnya dengan tatapan marah. Dia selurus denganku dan terlihat sekali di wajahnya dia agak sedikit terkejut melihatku menatapnya dengan tatapan marah. Aku berjalan mendekatinya *masih dengan tangan mengepal dan langkah berderap*

“Apa maksudmu ? Kenapa kau menyakiti Yoona ? Dia temanku dan aku tidak terima dia diperlakukan seperti itu olehmu !” Aku melabraknya. Dia tersentak dan refleks melebarkan matanya. Antara terkejut, bingung, namun sebenarnya, aku tahu dia mengerti maksudku.

Dia membalas tatapanku. Sama marahnya. Dia menyilangkan kedua lengan di dada dan berjalan mendekatiku. Kami berhadapan sekarang. Ternyata dia sedikit lebih tinggi dariku. Dia mendecakkan lidahnya.

“Ck, ck, ck ! Ternyata ada KBFC *Kyuhyun Biggest Fans Club* lagi disini. Kau tidak tahu kau berurusan dengan siapa sekarang ? Kau pasti salah satu dari mereka kan ? Kutekankan padamu ya, KBFC itu seharusnya tidak ada. Kalian itu hanya kumpulan fans bodoh yang terlalu mengejar Kyuhyun. Dan mimpi kalian untuk mendapatkannya itu juga konyol. Karena Kyuhyun itu milikku. Aku tahu dia sangat menyukaiku dan dengan mudah aku akan mendapatkannya. Temanmu itu terlalu mendekati Kyuhyunku. Wajar donk, aku memberinya pelajaran. Karena semua orang pun tahu kalau aku akan dengan mudah mendapatkan Kyuhyun dan aku sangat membenci semua fansnya. Dan itu berarti, termasuk kau.” Dia mendorong bahuku dengan telunjuknya dan itu membuatku terdorong kebelakang sedikit. Aku menganga. Bisa-bisanya dia…,

Aku mendorong bahunya.

“Kau tidak perlu seperti ini kan ? Hey ! Nona sok cantik ! Kutekankan padamu ya, aku bukan KBFC dan aku membela Yoona bukan karena dia atau aku adalah KBFC, tapi karena dia temanku ! Kau tidak seharusnya berlaku seperti ini. Hah ! Kalau Kyuhyun tahu kau yang sebenarnya, aku yakin dia tidak akan pernah mau lagi bertemu denganmu, Nona Sok Cantik dan Sok Berkuas….”

PLAAK !!!

Dia menamparku. Yoo Yi…, menamparku ?

Pipiku terasa panas. Dan kuyakin kini memerah. Airmanatku tiba-tiba sudah berada di pelupuk mata. Itu keluar dengan sendirinya dan aku tidak pernah menginginkannya keluar. Aku tidak boleh menangis. Tapi,

“APA MAKSUDMU, HAH !!!” Bentaknya di hadapanku. Aku menoleh dan melihatnya lagi sambil masih memegangi pipiku yang merah dan sakit. Ingin sekali aku membalasnya. Membalas bentakannya tapi suaraku sama sekali tidak bisa keluar. Airmataku menetes.

“Kau menangis ?! Hah ! Dasar cengeng !”

“AKU TIDAK CENGEEEENG…………….. !!!!!!” Aku mendorongnya dan dia terjatuh. Aku memandangnya dengan tatapan marah. Sangat marah.

“YA !!! APA YANG KALIAN LAKUKAN ?” Sebuah bentakan terdengar dari ujung koridor. Aku menoleh seketika dan,

“Kyuhyun ?!” tanyaku pelan.

“Kyuhyun !!!” Teriak Yoo Yi sambil mencoba beranjak berdiri. Tapi dia jatuh lagi dan itu terlihat sangat dibuat-buat. Aku dapat merasakannya. Dia hanya ingin mendapat simpati dari Kyuhyun.

Kyuhyun berlari menuju Yoo Yi yang kini kelihatan kesakitan *dan aku yakin itu pura-pura*. Dia melewatiku yang terpaku. Orang yang paling ingin aku temui saat ini justru yang melihatku bertindak seperti tadi. Dia pasti semakin benci padaku.

“Ayo Yoo Yi ! Kau bisa berdiri kan ?” Tanyanya pada Yoo Yi. Nadanya terdengar khawatir. Yoo Yi hanya mengangguk lemah *sok lemah menurutku. Padahal tamparannya sakit sekali tadi*. Kyuhyun memapahnya. Dia berhenti ketika berada di sampingku.

“Untuk kesekian kalinya kau membuat masalah denganku. Kalau kau bermasalah dengan Yoo Yi, itu artinya kau berurusan juga dengannya. Pergilah dari hidupku ! Selamanya !” Kyuhyun berlalu begitu ia selesai berkata itu semua padaku. Aku cuma bisa menahan napasku dan airmataku agar tidak jatuh lagi. Dia berhenti lagi dan menolehkan kepalanya sedikit kebelakangku.

“Dan satu lagi. Aku benci padamu !”

Kata-katanya sempurna membuat airmataku jatuh. Dia semakin jauh dariku dan kini mereka berdua belok di ujung koridor dan tidak terlihat lagi. Aku shok. Entah pergi kemana semua kekuatan dalam diriku saat ini dan itu membuatku sempurna tersungkur. Aku sesenggukan.

Kenapa ? Kenapa dia harus melihat semuanya ? Kenapa dia harus salah paham padaku ? Kenapa, orang yag sangat ingin kutemui sekarang justru jadi sangat membenciku ? Kenapa ?

Aku menunduk sambil terus membiarkan airmataku mengalir. Tanganku menggenggam erat ujung bajuku. Aku kecewa. Aku menyesal. Aku kesal. Aku marah. Aku sedih karena orang yang sangat aku sukai justru yang mengucapkan kata yang tak ingin kudengar. Dan aku tahu dia pasti sangat membenciku sekarang. Sangat membenciku.

Dalam sepi, aku masih menangis……

Chinguuuu,,

Nggak kerasa udah delapan part ya ……………………………

Mau tau lanjutan kisah SeoKyu ? Tunggu Part 9 ya ………………………………………..

5 responses »

  1. huaaaa… c Evil marah…atut…. *kabur keblakang siwon*

    kasian Seohyun… Yooyi jahat bgt. minta ditempeleng tuh cewe!!! grrrrr!!!!!*emosi*

  2. huuuuuuaaaa….!!!
    Kesel…
    Kesellll..
    Keseeeelll liat kyu..
    Kyu udah dibutakan cinta…
    Lbh kesel lg liat yoo yi..
    Seo, ayo bela kebenaran..
    Jgn menyerah..
    Meskipun sakit, hrs diusahakan mengupas semua kejahatan yoo yi..
    Seokyu Jjang…!!!
    Ditunggu ya update selanjutnya..
    Penasaran bgt ama kelanjutannya..
    Gomawoooo…

  3. aigooo..kuu bka hati,mata,dan telinga mu kyu!!! hello…yooyi its a bad giri u know!!! …arrghh..*plaaaakk plaaaakk *ambil sendal timpuk yooyi*next part-next part asap ching!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s