Hope is a Dream that Never Sleeps Part3

Standar

Author: Aisora Hyunnie

 

Disclaimer : Tribute ehh, salah! Dedicated to Uri Yeobo, Yonin, Chingu, Oppa, Hyung, Dongsaeng, Appa (?), Ahjussi (??), Haraboji (???) “Evil Game Cho Kyu Hyun”

Warning (ngerangkep ma AN) : Setelah baca ff ini diharapkan tidak ada keributan ataupun unjuk rasa apalagi demonstrasi *appan sich??*

Jika setelah baca ff ini ada yang keberatan, silahkan bantai Kyumong *inno smile*

Dui buqi, kalo ada ejaan Mandarin yang salah ato ngaco, cz Author emang sotoy binti ke-PD-an hahahah

_______________________________________

10 years later, Beijing 2nd February 2008…

Hari ini Yan Lin yang sudah berganti nama menjadi Hyun Ae kembali ke Beijing untuk memenuhi janjinya bersama Kui Xian 10 tahun yang lalu. Hari yang paling ia nantikan selama sepuluh tahun  ini. Akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Kui Xian, sahabat masa kecilnya, malaikat penjaganya, sekaligus cinta pertamanya. Hyun Ae penasaran, kira – kira sekarang Kui Xian seperti apa? Apakah ia tumbuh menjadi seorang pria tampan seperti bayangannya, atau malah berubah menjadi jelek? Hyun Ae hanya tertawa sendiri membayangkan akan seperti apa wajah Kui Xian.

Setibanya di Beijing, ia pun segera menuju panti asuhan tempat tinggalnya dulu, namun ia tidak pergi ke panti itu, melainkan langsung menuju bukit kecil di belakan panti tersebut. Tempat dimana terdapat sebuah rumah pohon rahasia, tempat kenangannya bersama Kui Xian, sekaligus tempat yang akan menjadi saksi pertemuannya kembali dengan Kui Xian. Hyun Ae segera naik ke atas rumah pohon itu dan membersihkannya. Ia tersenyum saat melihat sebuah papan bertuliskan “Rumah Kenangan Milik Kui Xian & Yan Lin” . Ia sudah dapat menduga bahwa itu buatan Kui Xian. Ia semakin tidak sabar bertemu dengan Kui Xian nya itu.

 

Setelah selesai membersihkan rumah pohon itu, Hyun Ae segera menyiapkan makanan dan minuman yang sempat ia beli di perjalanan menuju kemari. Ia juga membeli sebuah cake dan segera menghiasnya dengan lilin – lilin kecil berwarna – warni. Selain itu, Hyun Ae juga sengaja menghias rumah pohon mereka sehingga rumah pohon itu menjadi lebih indah. Sekarang ia bersiap menunggu Kui Xian datang. Awalnya Hyun Ae hanya duduk di rumah pohon itu sembari menikmati pemandangan yang lama ia rindukan itu. Saat Kui Xian tak juga datang, Hyun Ae mulai gelisah. Ia menunggu dengan tidak tenang. sebentar – sebentar ia melihat jam tangannya dan berharap bahwa Rui Xian akan segera datang menemuinya.

 

Hari sudah beranjak malam. Tanpa terasa Hyun Ae tertidur di rumah pohon itu. Saat ia terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Berarti hari ini sudah tanggal tiga Februari, tepat hari ulang tahun Kui Xian yang ke 20. Hyun Ae semakin yakin bahwa Kui Xian tidak akan datang. Perlahan ia menyalakan lilin – lilin kecil di atas cake ulang tahunnya lalu memejamkan matanya untuk berdoa.

 

‘Kui Xian, dimanapun kau berada, aku harap kau selalu dilindungi Tuhan. Aku masih akan menantimu menepati janjimu, janji kita. Semoga kau sehat dan bahagia selalu. Tuhan memberkatimu. Amien.’

 

Zhu ni sheng ri khuai le, wo de qingren Kui Xian.” (*Happy Birthday, My Dear Kui Xian). Bisiknya lirih.

 

Lalu Hyun Ae membuka matanya dan langsung meniup lilin – lilin itu hingga padam yang membuat keadaan di rumah pohon itu menjadi lebih gelap karena hanya diterangi oleh sebuah lampion mini yang dibawa oleh Hyun Ae. tanpa terasa air mata Hyun Ae mengalir membasahi wajahnya. Ia sangat kecewa karena Kui Xian tidak datang menemuinya. Kui Xian tidak menepati janjinya. Apakah Kui Xian sudah melupakannya? Pikir Hyun Ae kalut. Ia pun meringkuk di sudut rumah pohon itu sambil terus terisak. Udara dingin di akhir musim dingin tidak mampu mengalahkan kebekuan hatinya saat ini. Ia masih ingin tetap percaya bahwa suatu saat Kui Xian akan mencarinya dan menepati janjinya, tapi ia juga sadar bahwa hal itu terasa sulit karena ia pun tidak mengetahui dimana keberadaan Kui Xian sekarang. Yang ia ingin hanya bertemu dengan Kui Xian.

Hyun Ae masih terus terisak dalam kesendiriannya, hingga akhirnya ia kembali tertidur dalam buaian angin malam yang dingin.

 

===============

 

Pagi harinya, Yan Lin memutuskan untuk mampir ke panti asuhan tempat tinggalnya dulu sebelum ia kembali ke Korea.  Ia baru mengetahui bahwa Ibu Kepala Panti telah meninggal tiga bulan yang lalu. Ia pun pergi berziarah ke makam Ibu Kepala Panti itu. Lalu seorang Suster yang pernah merawatnya dulu memberikan sepucuk surat yang sudah lumayan usang karena terlalu lama disimpan padanya. Yan Lin menerimanya dengan bingung.

 

“Maafkan Suster Kepala Yan Lin, beliau lupa memberikan surat ini padamu sepuluh tahun yang lalu. Surat ini dari Kui Xian untukmu yang ia titipkan pada Suster Kepala sebelum ia meninggalkan panti ini.” jelas Suster Wang.

Mei guan xi (*It’s ok) Suster. Terima kasih, karena Suster masih menyimpan surat ini untukku.” Balas Hyun Ae.

 

Setelah berziarah ke makam Suster Kepala, akhirnya Hyun Ae kembali ke Korea. Di dalam pesawat, ia membaca surat dari Kui Xian itu.

 

Beijing, 7th March 1998

Wo de qingren Yan Lin,

Saat kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Ya, akhirnya ayah kandungku datang menjemputku. Kau tentu kaget bukan? Aku sendiri juga begitu. Ternyata ayah kandungku masih hidup dan mulai sekarang aku akan tinggal bersamanya. Aku sangat senang sekali.

Oh ya, bagaimana kabarmu? Aku harap kau akan selalu bahagia dimanapun kau berada. Apa orang tua angkatmu memperlakukanmu dengan baik? Aku harap mereka menyayangimu setulus hati. Kau sudah tidak cengeng lagi kan? hehe

Jangan pernah melupakan aku ya? Ingat, sepuluh tahun lagi kita akan bertemu di rumah pohon milik kita, jangan sampai lupa, Ni dong ma? (*U got it?)

Aku juga ingin memberitahumu kalau aku akan pindah ke Seoul. Ya, Seoul, Korea Selatan. Meski kita berjauhan, aku harap kau tidak melupakan aku. Aku benar – benar akan merindukanmu. Sampai jumpa sepuluh tahun lagi dan kau akan aku buat terkesan karena aku pasti akan menjadi seorang pria yang tampan, hehe ^^v.

Ni de qingren,

= Kui Xian =

 

Hyun Ae kembali melipat surat itu dan memasukannya ke dalam amplop. Ia menghela nafas sejenak setelah membaca surat Kui Xian. Ingatannya terfokus pada paragraph terakhir surat Kui Xian.

 

“Seoul?? Jadi selama ini kau juga ada di Seoul?” gumam Hyun Ae lirih.

 

Dalam hatinya timbul secercah harapan untuk bertemu dengan Kui Xian. Ya, karena ternyata selama ini mereka tinggal di Negara bahkan kota yang sama. Seoul, akankah mereka bisa bertemu kembali di Seoul? Samar, Hyun Ae mengulas senyum tipis saat mengetahui bahwa Kui Xian juga berada di Seoul, kota tempat tinggalnya sekarang.

 

==**==

 

Seoul, 3 years later…

 

Lee Hyun Ae sekarang telah berhasil menjadi seorang sutradara. Meski usianya masih muda, namun karyanya banyak mendapat pujian dan penghargaan. Namanya pun menjadi salah satu sutradara yang diperhitungkan di dunia hiburan. Karena kesuksesannya ini lah, tak jarang banyak namja yang berusaha mendekatinya. Namun, Hyun Ae tidak terlalu mempedulikannya, karena sampai saat ini ia masih percaya pada Kui Xian. Konyol memang, ia masih memegang janji masa kecilnya bersama Kui Xian. Tapi Hyun Ae yakin, bahwa suatu saat nanti, ia pasti bisa bertemu dengan Kui Xian kembali.

 

Selama tiga tahun ini pun Hyun Ae sudah berusaha mencari keberadaan Kui Xian. Tapi, ia tidak bisa menemukannya. Ia sempat mendatangi rumah lama Kui Xian di Seoul, tapi sekali lagi ia harus mendapat kekecewaan karena menurut penjaga rumah itu, Kui Xian dan keluarganya telah pindah ke Amerika dua setengah tahun yang lalu. Sampai sekarang, ia masih belum mendapat kabar apakah Kui Xian sudah kembali dari Amerika atau belum. Dan selama itu pula, Hyun Ae masih setia menunggu Kui Xian.

 

Hari ini Hyun Ae menangani syuting sebuah produk minuman ringan yang kabarnya akan dibintangi oleh seorang penyanyi muda berbakat yang telah mencuri banyak perhatian public Korea bahkan kepopulerannya telah sampai ke penjuru Asia dan Amerika. Hyun Ae memang sudah tahu siapa yang akan menjadi partnernya kali ini. Namun, ia tidak terlalu peduli dengan siapa ia akan bekerja nantinya, yang penting ia bisa mengerjakan proyeknya kali ini dengan lancar.

 

===============

 

Purple Line Studio…

 

Seorang pemuda tampan berusia sekitar 22 tahunan turun dari sebuah mobil van berwarna putih. Lalu ia segera bejalan memasuki studio advertising dengan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Pemuda jangkung itu berjalan dengan santai menuju ke sebuah ruangan di studio itu sembari memainkan PSP di tangannya.

 

“Kyu Hyun-ssi, hari ini setelah syuting iklan di ini, kau masih mempunyai beberapa jadwal lagi.” Kata seorang pria yang berusia sekitar lima tahun lebih tua darinya. Sementara pemuda di sampingnya itu hanya acuh menanggapinya.

“Setelah ini kau masih ada interview dengan majalah Style. Lalu kau juga masih ada petemuan dengan produser Kang dari rumah poduksi A Line untuk membicarakan drama yang akan kau bintangi nanti. Lalu…”

“Hyung bisakah kita bicarakan hal itu nanti saja?” potong pemuda yang dipangggil Kyu Hyun itu sembari menghentikan langkahnya.

“Aku hanya melakukan tugasku sabagai manager mu itu saja.” Jawab pria itu.

“Ya, aku tahu Hyung dan aku berterima kasih untuk hal itu. Tapi, saat ini aku sungguh sedang malas mendengar seluruh jadwal yang kau berikan padaku itu. Setelah ini aku mau pergi.” Sahutnya sembari melanjutkan langkahnya.

“Kau mau pergi? Kemana??” cecar managernya.

“Itu bukan urusanmu.”

“Yaa!! Cho Kyu Hyun, aku adalah managermu! Setidaknya beritahu aku kau mau pergi kemana? Jadi aku bisa memberikan alasan saat meeka bertanya tentang keberadaanmu!” balas managernya kesal.

“Jung Soo Hyung kau kan managerku, harusnya kau bisa mengaturnya untukku bukan? Atau kau memang sudah tidak sanggup lagi bekerja padaku?” balas Kyu Hyun sembari tersenyum sinis.

“Kau?!”

“Sudahlah Hyung, bukankah kau manager professional? Jangan merajuk seperti itu.”

“Cho Kyu Hyun!! Kau jangan seenaknya saja!! Setidaknya pandang aku sebagai kakak sepupumu!!!”

“Ne, ara ara! Aku akan mengikuti semua jadwal itu, tapi jangan hari ini, kau bisa menggantinya dengan hari lain kan?” kali ini nada bicara Kyu Hyun melembut. Jung Soo hanya menghela nafas pasrah.

“Baiklah. Tapi katakan padaku, kau mau pergi kemana?” Tanya Jung Soo nyaris putus asa. Kyu Hyun kembali menghentikan langkahnya.

“Hari ini hari ulang tahun mendiang ibuku.” Jawabnya lirih. Jung Soo kaget mendenganya. Ia jadi merasa tidak enak hati pada Kyu Hyun.

“Mianhae…”

“Gwaenchana Hyung.”

“Baiklah, jika memang itu alasanmu, pergilah. Urusan mereka serahkan padaku.” Kata Jung Soo sembari menepuk pelan pundak Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya tersenyum tipis.

“Gomawo Hyung.”

“Sekarang, kita selesaikan syuting hari ini terlebih dulu, setelah itu, kau bisa pergi.” Kyu Hyun mengangguk lalu kembali melangkah dengan diikuti oleh Jung Soo dan beberapa asistennya yang lain.

 

Cho Kyu Hyun seorang penyanyi muda berbakat yang sedang naik daun. Albumnya laris manis di pasaran. Perjalanan karirnya selama dua tahun ini pun bisa dibilang tanpa hambatan. Ia menorehkan banyak prestasi dan meraih banyak penghargaan. Ia juga mendapat pujian untuk music maupun aktingnya di beberapa drama dan film. Tak heran, banyak produser yang meliriknya untuk mengajaknya bekerja sama. Namun di balik penampilannya yang nyaris sempurna itu, ia mempunyai sikap yang membuat tak sedikit orang menjadi kesal karenanya. Terkadang ia suka seenaknya sendiri dan selalu membuat Park Jung Soo, kakak sepupu sekaligus managernya itu kewalahan menghadapinya. Tapi, mau bagaimana lagi, karena itu memang sifatnaya. Walaupun begitu, Kyu Hyun merupakan seorang artis yang professional. Meski sepadat apapun jadwal kerjanya, ia masih berusaha menjalaninya sesuai tanggung jawabnya.

 

Hari ini, Kyu Hyun harus menjalani syuting iklan sebuah produk yang dibintanginya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan aktivitas apa – apa karena hari ini adalah hari ulang tahun mendiang ibunya. Ia ingin sekali mengunjungi gereja tempat abu ibunya disemayamkan. Tapi karena syuting hari ini tidak bisa ditunda, akhirnya ia menjalani syuting hari itu. apalagi, yang menjadi sutradaranya kali ini adalah Lee Hyun Ae. Kyu Hyun memang telah lama mengagumi gadis itu. Baginya, Hyun Ae itu sangat berbakat. Selain itu, Hyun Ae juga merupakan putri satu – satunya pemilik management tempatnya bernaung saat ini. Jadi bagaimana pun juga, ia tidak ingin image nya menjadi buruk karena membatalkan syuting.

 

Setelah make up dan berganti pakaian, akhirnya Kyu Hyun memulai syuting hari itu. Untung saja, pengambilan gambar untuk iklan kali ini dilakukan di dalam studio, karena udara di luar sangat dingin sementara Kyu Hyun tidak tahan dingin. Dirinya gampang jatuh sakit setelah ia mengalami kecelakaan fatal hampir tiga tahun yang lalu. *curcol dikit yeee~ heheheh*

 

Hyun Ae selaku sutradara memberikan briefing ringan untuk Kyu Hyun mengenai adegan yang harus dijalaninya nanti. Dengan antusias Kyu Hyun mendengarkan arahan dari sang sutradara pujaannya itu. Setelah dirasa semuanya siap, akhirnya syuting pun dimulai. Kyu Hyun benar – benar bekerja keras agar tidak melakukan kesalahan, sehingga ia tidak mengecewakan sutradara atau pun crew syuting hari itu. Jung Soo yang tahu tentang gelagat aneh dari sang artis pun hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.

 

===============

 

Cut!!” seru Hyun Ae dari balik monitor kecil tempat melihat adegan yang sedang diambil saat itu.

“Ok, cukup. Semuanya, terima kasih telah bekerja dengan baik. Syuting hari ini selesai.” Lanjutnya sembari berdiri dan menebar senyum kepada seluruh pihak yang telah ikut bekerja dalam pembuatan iklan hari itu.

Kata – katanya tadi langsung mendapat tepuk tangan dan seruan meriah dari para crew karena merasa bahwa mereka telah berhasil bekerja hari itu. Kyu Hyun pun segera menghampiri Hyun Ae.

 

“Hyun Ae-ssi?” sapanya. Hyun Ae menoleh dan tersenyum padanya.

“Gamshahamnida Kyu Hyun-ssi, hari ini kau telah bekerja dengan sangat baik.” Puji Hyun Ae tulus.

“Ini semua karena arahanmu. Kau memang benar – benar hebat.” Kyu Hyun balas memuji.

“Kau terlalu memuji.” Sahut Hyun Ae merendah.

“Hemm, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, tapi sekarang aku masih ada urusan lain. Biar nanti Jung Soo Hyung yang menyampaikannya padamu.”

“Memangnya ada apa?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama di pembuatan video klip terbaruku nanti.”

“Ehh??”

“Lebih jelasnya, nanti biar Jung Soo Hyung saja yang bicara denganmu. Sekarang aku benar – benar harus pergi. Terima kasih atas bantuannya hari ini. Annyeong…” lanjut Kyu Hyun seraya berlalu dari hadapan Hyun Ae yang masih agak bingung dengan perkataannya tadi.

“Hyun Ae-ssi??” sapa seseorang yang langsung menyadarkan keterbengongan Hyun Ae. Hyun Ae menoleh dan mendapati Jung Soo berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

“Bisa kita bicara sebentar?” lanjut Jung Soo.

“Nde?”

 

===============

 

“Apa yang ingin Oppa bicarakan?” tanya Hyun Ae begitu ia dan Jung Soo sudah duduk di sebuah coffee shop.

“Begini, mungkin tadi Kyu Hyun-ssi sudah mengatakannya padamu bahwa ia ingin agar kau mengerjakan video klip terbarunya.” Jawab Jung Soo.

“Hemm, kenapa aku? Setahuku, sebelum ini video klip Kyu Hyun-ssi dikerjakan oleh Kim Sunbae-nim dan rekan – rekannya. Bukankah dibandingkan aku, mereka jauh lebih professional?”

“Kau jangan terlalu merendah. Kyu Hyun-ssi sangat mengagumi karyamu selama ini. Ia sudah menunggu saat seperti ini agar bisa bekerja sama denganmu Hyun Ae-ssi.”

“Tapi Oppa, apa kalian benar- benar yakin akan menyerahkan proyek itu padaku? Aku masih orang baru.” Jung Soo tersenyum mendengar kata – kata Hyun Ae.

“Kyu Hyun sangat percaya padamu. Ia yakin kau mampu mengerjakan video klip nya kali ini dengan sangat baik. Jika ia bisa seyakin itu, maka tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya keinginannya. Lagipula, aku juga setuju pada keyakinannya itu.”

“Tapi…”

“Tolong bantu kami.” Pinta Jung Soo. Hyun Ae menghela nafas pasrah.

“Baiklah Oppa, aku akan mencobanya.”

“Gamshahamnida Hyun Ae-ssi. Untuk kontrak formalnya akan segera aku kirimkan padamu, jadi kita bisa segera memulai syuting.”

“Ne. Emf, kalau boleh aku tahu, kapan kira – kira kita akan syuting? Karena aku juga harus menyesuaikannya dengan jadwalku.”

“Awal Februari ini dan kali ini Kyu Hyun sengaja ingin mengambil lokasi syuting di Beijing.”

 

Degg!!

 

“Beijing?” tanya Hyun Ae setengah menggumam namun bisa terdengar jelas oleh Jung Soo.

“Ne, Beijing, China. Wae??”

“Ehh, tidak, tidak apa – apa.”

“Hemm, kau tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja tidak. Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu Oppa, masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Kita bicarakan hal ini lebih lanjut di kantorku. Oppa tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja. Aku justru berterima kasih karena kau mau menerima pekerjaan ini.”

“Ne, cheon manneyo. Sekarang aku permisi dulu. Annyeong….”

“Hati – hati di jalan.”

 

Lalu Hyun Ae beranjak meninggalkan coffee shop itu dan masuk mobilnya. Pikirannya kembali mengingat perkataan Jung Soo barusan. Tentang Kyu Hyun yang menginginkan syuting di Beijing dan pada awal Februari. Kenapa kebetulan sekali? Pikir Hyun Ae. Beijing adalah kota kenangannya bersama Kui Xian dan di awal Februari atau tepatnya tanggal tiga Februari merupakan ulang tahun Kui Xian. Meski syuting hari ini merupakan kerja sama pertamanya dengan Kyu Hyun, tapi entah mengapa Hyun Ae merasa saat pertama kali melihat mata dan senyum Kyu Hyun, ia bagaikan melihat Kui Xian.

 

“Babo! Mana mungkin Kyu Hyun adalah Kui Xian.” Gumam Hyun Ae pada dirinya sendiri. Lalu ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.

 

~ TBC 

 

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s