Cake Of Love Part 9

Standar

Author : Hye Ri

~~~~~~~~~~~~

Cerita sebelumnya :

“Dan satu lagi. Aku benci padamu !”

Kata-katanya sempurna membuat airmataku jatuh. Dia semakin jauh dariku dan kini mereka berdua belok di ujung koridor dan tidak terlihat lagi. Aku shok. Entah pergi kemana semua kekuatan dalam diriku saat ini dan itu membuatku sempurna tersungkur. Aku sesenggukan.

Kenapa ? Kenapa dia harus melihat semuanya ? Kenapa dia harus salah paham padaku ? Kenapa, orang yag sangat ingin kutemui sekarang justru jadi sangat membenciku ? Kenapa ?

Aku menunduk sambil terus membiarkan airmataku mengalir. Tanganku menggenggam erat ujung bajuku. Aku kecewa. Aku menyesal. Aku kesal. Aku marah. Aku sedih karena orang yang sangat aku sukai justru yang mengucapkan kata yang tak ingin kudengar. Dan aku tahu dia pasti sangat membenciku sekarang. Sangat membenciku.

Dalam sepi, aku masih menangis……

 

 

Cake of Love

 

—- Kyuhyun POV —-

 

Aku sungguh tidak habis pikir dengan gadis itu. Bisa-bisanya dia mendorong Yoo Yi. Tapi….,

 

PLAAK !!!

 

Tergambar jelas bagaimana Yoo Yi menampar Seohyun. Aku melihatnya. Ya, aku sempat melihatnya menampar pipi Seohyun. Aku ingin tahu apa masalah mereka. Andai aku tahu apa yang terjadi dengan mereka tadi. Tapi, Yoo Yi tidak mungkin menamparnya tanpa suatu alasan. Dan aku yakin, Seohyunlah yang memulai masalah. Kalau dia bisa membuat masalah denganku, dengan Yoo Yi juga pasti bisa. Dia pasti salah satu dari mereka-mereka yang membenci Yoo Yi.

“Kyuhyun ssi ? Kau melamun ya ?” Suara Yoo Yi, yang aku dudukan di meja di ruang tata boga, membuyarkan lamunanku tentang mereka. Aku tersadar dan langsung menggeleng. Sebuah senyuman hadir di wajahnya. Aku membalasnya. Pikiranku kembali lagi ke masalah mereka.

Flashback

 

Aku sedang mencari Yoo Yi saat itu dan tidak sengaja melihat mereka berdua di koridor dekat ruang tata boga lantai satu. Aku bersembunyi di balik sebuah pot besar dan mengintip. Dan aku melihat Yoo Yi menamparnya. Menampar seorang gadis yang kurasa sudah tidak asing lagi di mataku, Seohyun. Tapi, kenapa ? Kenapa Yoo Yi menampar gadis itu ? Ada apa dengan mereka.

“AKU TIDAK CENGEEENG…………. !!!!” Seohyun mendorong Yoo Yi. Mataku membelalak. Aku harus sudahi ini. Aku segera keluar dari belakang pot itu dan membentak.

“YA !!! APA YANG KALIAN LAKUKAN ?”

Mereka menoleh bersamaan. Aku melihat wajah terkejut Seohyun. Ada sesuatu yang tidak dapat aku mengerti dari tatapan keterkejutannya padaku. Bukan sebuah tatapan jahat, tapi lebih ke tatapan pembelaan. Aku tidak bisa menebaknya. Ada airmata yang mendesak keluar dari matanya.

 

“Kyuhyun !!!” Teriak Yoo Yi sambil mencoba beranjak berdiri. Tapi dia jatuh lagi. Aku langsung bergegas menuju Yoo Yi dan membantunya berdiri.

“Ayo Yoo Yi ! Kau bisa berdiri kan ?” Tanyaku pada Yoo Yi terdengar khawatir. Yoo Yi hanya mengangguk lemah. Aku memapahnya. Kami berjalan melewati gadis itu yang kini memandangku dan Yoo Yi terpaku. Aku berhenti ketika berada di sampingku. Jujur, aku tidak terima ia memperlakukan Yoo Yi seperti tadi. Aku mengucapkan sesuatu padanya dengan lirih.

“Untuk kesekian kalinya kau membuat masalah denganku. Kalau kau bermasalah dengan Yoo Yi, itu artinya kau berurusan juga denganku. Pergilah dari hidupku ! Selamanya !” Tegasku. Aku berlalu. Yoo Yi mendesah pelan di telingaku.

“Aku benci padanya, Kyuhyun ssi.”

Aku terdiam. Aku tidak ingin mengucapkan kata itu lagi. Aku tahu aku memang membencinya. Dan aku tidak mau menambahkan kebencianku lagi. Tapi,

 

“Dan satu lagi. Aku benci padamu !”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku berjalan lagi sambil memapah Yoo Yi. Yoo Yi tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang sangat lirih dan pelan padaku. Aku seperti tersihir.

Aku sempat mendengarnya terisak. Pelan namun aku yakin dia memang menangis. Ya ampun ! Aku bilang benci padanya tapi kenapa bukan rasa benci itu yang ada dalam hatiku ?

Aku bingung. Kami berjalan perlahan menuju ruang tata boga.

End Flashback

 

Bahkan sampai sekarang, entah kenapa aku masih terus kepikiran dengan hal tadi. Melihat mereka berdua di koridor tadi membuatku bingung. Benar-benar bingung. Aku penasaran. Apa masalah mereka ? Kenapa Yoo Yi sampai menamparnya ? Dan masalah benci, jujur aku juga bingung. Aku memang membela Yoo Yi. Kalau jelas sekali Yoo Yi membencinya, aku tidak sepenuhnya merasa begitu. Entah kenapa tiba-tiba rasa benciku malah berubah, jadi rasa kasihan.

“Kyuhyun ssi ? Kau melamun lagi ? Kau kenapa sih ?” Yoo Yi mengguncang tubuhku. Aku tersentak.

“Ani. Aku nggak apa-apa. Cuma sedang kepikiran sesuatu saja. Oh iya, kakimu sudah baikan kan ?” Aku berjongkok memeriksa kakinya. Yoo Yi mengubah ekspresinya. Ia menggeleng pelan.

“Belum. Masih sedikit sakit. Oh iya Kyuhyun, gomawo ya. Kau sudah membelaku tadi dan memapahku kesini. Gadis itu terlalu keras mendorongku dan membuat kakiku terkilir. Makasih kau sudah mau membantuku.” Ia tersenyum padaku yang masih berjongkok memeriksa kakinya. Aku menunjukan cengiran khasku. Aku teringat sesuatu.

“Eh, Yoo Yi, kalau boleh tahu, masalahmu dengan gadis itu apa sih ? Kenapa kalian sampai bertengkar tadi ? Memangnya Seohyun bersalah apa padamu ?” Tanyaku. Kening Yoo Yi justru berkerut setelah mendengar pertanyaanku.

“Seohyun ? Jadi nama gadis itu Seohyun. Bagaimana kau tahu namanya ? Kau mengenalnya ? Oh iya, kau tadi bilang kalau untuk kesekian kalinya dia membuat masalah denganmu. Memangnya masalah apa ? Dia sering berurusan denganmu ya ? Dia itu siapa sih, Kyuhyun ssi ?” Yoo Yi memberondong pertanyaan padaku.

“Bukan siapa-siapa. Dia yang pernah merusak kueku waktu itu. Sepertinya, aku sudah cerita padamu. Dan dia juga yang……” Aku berhenti. Aku ceritakan tidak ya masalahnya yang memakan first snow yang akan kuberikan pada Yoo Yi ? Tidak usah, ah.

“Yang apa ?” Yoo Yi penasaran. Gadis itu memandangku. Aku menengadah membalas tatapannya dan menggeleng.

“Aniyo. Maksudku dia juga yang, eumm, yang sudah mendorongmu kan ? Oh iya, ayo ceritakan padaku kenapa kejadiannya bisa seperti tadi. Ayolah !” Pintaku. Dia terlihat berpikir sejenak sebelum memulai penjelasannya.

“Emm, begini Kyuhyun ssi, jadi dia itu adalah orang yang tidak suka padaku karena aku terlalu dekat denganmu. Kau bilang kalian pernah ada masalah kan. Dan kupikir dia membencimu dan membenci siapapun yang dekat dengannya. Termasuk aku. Begitu.” Jelasnya. Aku mengerutkan kening. Aku tidak langsung mempercayainya kali ini. Entah kenapa, padahal biasanya aku selalu mempercayai setiap yang ia katakan.

“Keureucho ? Lalu kenapa kau menamparnya tadi ?” Tanyaku begitu saja dan membuatnya sempurna terkejut. Ia melebarkan matanya dan membuka mulutnya. Aku menunggu masih dengan dahi mengerut dan tatapan menyelidik.

“Karena…, karena tadi dia menjelek-jelekanmu. Iya, tadi dia menjelek-jelekanmu di depanku. Aku jelas tidak terima donk. Aku tampar saja dia. Dia juga kelewatan sekali sih.” Jelas Yoo Yi disusulu dengan hembusan napas lega yang terdengar cukup keras. Kupasang senyuman di wajahku. Mungkin dia memang benar. Seohyun itu kan membenciku, bisa saja dia memang menjelek-jelekanku tadi. Aku harus percaya pada Yoo Yi. Aku menganggukan kepalaku menanggapi penjelasannya.

Tapi, jujur aku masih ragu…

 

Aku memandang Yoo Yi sekali lagi. Dia memandangku juga dan kami tersenyum. Aku mendengar suara seseorang berlari dan tidak sengaja aku melihat sekelebat bayangan itu. Seseorang yang sepertinya kukenal. Dan sepertinya dia baru saja melihat ke arah sini. Apa yang dia lihat ?

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

Airmataku masih menetes. Kata-kata yang sudah tak ingin kudengar lagi dari mulutnya justru dengan jelas ia tegaskan barusan. Aku syok dan sangat menyesal saat ini. Yang ada dipikiranku adalah, aku semakin jauh darinya. Padahal kuharap setelah aku memang yakin aku menyukainya, aku bisa dekat dengannya pelan-pelan. Aku tidak terlalu berharap banyak sekarang. Aku hanya ingin bisa berteman dulu dengannya. Itu saja saat ini.

Aku menghapus airmataku dan mencoba berdiri. Aku menghibur diriku sendiri.

“Tidak ada gunannya kau menyesalinya, Soehyun. Kau harus bisa mengatasi ini. Ayo Seohyun ! Kau pasti bisa berteman dengannya ! Pasti bisa !” Tekadku. Aku mengepalkan tanganku erat dan mulai meninggalkan penyesalanku barusan. Aku teringat harus segera kembali ke lapangan.

Dengan langkah sedikit ditarik dan lemas, aku berjalan menuju lapangan. Lagi-lagi, aku merasa seperti tersedot energinya dan nyawaku tinggal setengah. Aku sudah malas sekali menjalani sisa hariku hari ini. Aku ingin sekali pulang dan tidur. Apa mungkin karena habis menangis barusan ya ? Ah, aku tidak peduli.

Aku melewati ruang tata boga lagi. Masih ramai, tapi sudah tidak seramai tadi. Aku tidak ingin lagi menengok ke dalamnya, tapi tidak tahu kenapa aku justru malah melakukannya. Dan pemandangan yang tidak ingin kulihat dan cukup membuatku teringat kejadian tadi justru yang pertama yang kulihat. Hatiku perih. Lebih perih dari tadi.

Kulihat Kyuhyun sedang berjongkok sambil memijat kaki Yoo Yi. Aku tidak yakin Nenek sihir itu benaran terkilir kakinya. Sampai-sampai harus dipapah dan dipijat segala. Mana sama Kyuhyun lagi. Hatiku panas. Aku tidak terima.

Dan yang lebih menyakitkan adalah, mereka saling memandang lalu tersenyum penuh arti satu sama lain. Kenapa ada adegan seperti itu sih ? Aku berani bersumpah aku sangat kesal melihat mereka. Karena muak, aku memejamkan mataku erat dan setetes airmata jatuh. Aku segera meninggalkan tempat itu dan mencoba melupakan apa yang baru saja kulihat. Aku berlari secepat yang kubisa.

 

Sambil berjalan, aku mencoba menghapus bekas-bekas airmata di wajahku dan coba menghilangkan mata sembab akibat menangis tadi. Aiissh, kenapa tadi aku tidak ke toilet dulu ya ? Sekalin menengok keadaan Yoona. Aa~ Paboya ! Aku mencemooh diriku dan memukul kepalaku sendiri.

Terdengar suara Sunny dan Soo Young yang memanggil namaku. Aku semakin berusaha menghilangkan bekas itu. Kalau mereka melihatnya, makin runyam nanti urusannya. Mereka bisa saja balas dendam kalau sampai tahu kejadiannya seperti tadi. Dan itu bisa saja membuat Kyuhyun makin membenciku karena pasti dia mengira ini semua karena aku yang menceritakannya pada mereka. Aku tidak mau itu terjadi.

Soo Young menghampiriku duluan lalu merangkulku.

“Seohyun ah~ Kau kok lama sekali sih ? San Ji sunbae marah-marah tuh. Hehe, tapi sudah reda kok sekarang. Tenang saja.” Katanya. Aku mencoba tersenyum. Walau agak dipaksakan. Sunny ikut-ikutan merangkulku walau agak menjinjit karena diantara kami bertiga, dia yang paling pendek.

“Kaya’nya nggak seceria tadi ya ? Kenapa sih ? Tadi aja ceria banget. Kenapa sekarang jadi agak diem begini sih, Seohyunnie ? Cerita donk ! Kau kenapa ?” Sunny nyeletuk dan cukup membuatku tersentak. Aku segera menggeleng.

“Ani ah. Biasa aja kok. Aku nggak apa-apa.” Kataku mengelak. Sunny hanya ber’hm-hm’ saja. Kami berjalan menuju lapangan yang ternyata sudah agak sepi.

“Hlo ? Pada kemana nih anak-anak ?” Tanyaku dengan nada sebiasa mungkin untuk menutupi perasaanku yang amburadul sekarang. Sunny mengedikkan bahu.

“Molla. Tadi katanya pada mau ke kantin. Padahal baru jam 10, udah pada laper. Aku jadi ikut-ikutan laper nih. Aku ke kantin apa ya ? Kalian mau ikut nggak ?” Tawar Sunny. Soo Young yang hobi makan tapi badannya tetap langsing, langsungsaja  menyetujui tawaran Sunny tanpa pikir panjang dulu. Kini mereka beralih padaku. Kujawab dengan gelengan malas.

“Aku nggak ya ? Aku lagi males banget nih. Aku mau di lapangan dulu. Sekalian nge-cek hpku kalau-kalau ada sms masuk. Aku lupa kalau hpku masih aku taruh di tas. Kalian duluan aja. Nanti kalau aku kepingin, aku tinggal nyusul kalian. Eoteokhe ?”

Mereka bertatapan sejenak lalu mengangguk bersamaan. Aku mengembangkan senyum dan segera menyuruh mereka ke kantin. Mereka berbalik pergi dan tak lupa melambai padaku. Aku cuma bisa geleng-geleng heran. Mau ke kantin saja, pakai melambaikan tangan segala. Kaya’ mau pergi ke mana saja.

 

Aku sampai di pinggir lapangan dan segera menuju ke tas ku yang berada di belakang tas Sunny. Aku mengambilnya dan langsung mengambil handphoneku. Ada satu sms masuk. Aku membukanya dan ternyata itu dari Hye Ri. Sehati sekali, pikirku. Aku baru saja ingin meng-smsi-nya.

 

Unnie, nanti jadi kan ? Aku sudah siapin semua bahan. Oh ya Unnie, nanti kita mulainya sore saja. Aku ganti shift, jadinya waktu istirahatku sore. Unnie mau ke café kapan ?

 

Begitu isi smsnya. Ah, aku malah lupa kalau aku ada janji dengannya belajar membuat kue hari ini gara-gara kejadian tadi. Aku menghela napas lalu membalas smsnya.

 

Keureuchi. Aku akan datang nanti. Gomawo ya.

 

Aku mengirimkannya dan tak lama sebuah sms balik masuk. Hye Ri bilang dia akan menungguku. Aku membaca sms-nya dengan perasaan bercampur. Antara sedih, kecewa, tapi juga ada sedikit rasa senang bisa bertemu lagi dengan Hye Ri. Karena, entah kenapa aku rasa dia seperti memeliki aura menenangkan. Seperti aroma therapy yang menenangkan dan aromanya yang sangat nyaman. *Aduh, nggak nyambung ya ???*

Sebenarnya, bisa saja aku menyusul Sunny dan Soo Young ke kantin sekarang. Tapi aku lebih tertarik untuk merebahkan diri di pinggir lapangan sepak bola ini. Entah kenapa tiba-tiba langit jadi sedikit mendung. Langit hari ini menyamakan hatiku ya ? Kenapa tadi pagi cerah, lalu sekarang agak mendung ? Aku juga seperti itu hari ini. Aah, langit…, aku ingin bisa ke sana dan melupakan semua masalahku. Tapi aku tidak ingin melupakan orang itu. Kalau bisa, aku malah ingin pergi ke atas sana dengannya. Berdua.

Aku terlentang dengan tasku menjadi bantal. Tanganku kurentangkan. Aku menatap langit yang agak mendung jadi tidak sakit di mataku. Aku ingin semua ini berhenti. Aku ingin semua kembali lebih baik. Aku ingin tidak pernah ada kejadian seperti ini.

 

Itu saja cukup…, dan aku memejamkan mataku.

 

Sudah 2 jam yang lalu latihan berakhir. Tapi, seperti biasa aku masih menggunakan lapangan untuk latihan. Sunny dan Soo Young sedang berkemas di pinggir lapangan. Aku menendang bola, berlari mengambilnya lagi, lalu menendangnya lagi, dan mengambilnya lagi, dan terus seperti itu sampai Soo Young menghampiriku. Dia sudah menenteng tas-nya.

“Kau sudah dari tadi latihan terus. Kau bahkan belum makan siang. Ini sudah jam 2 lho ? Ayolah, Seohyun ! Jangan paksakan dirimu. Kalau kau sakit bagaimana ?” Tanyanya khawatir. Aku yang sudah siap menendang lagi, mengurungkan niatku lalu memandangnya. Wajahnya memang terlihat khawatir. Aku memasang senyum di wajahku untuk menenangkannya.

“Aku tidak akan sakit. Tenang saja. Aku…, masih ingin di sini. Habis ini aku makan kok. Jangan khawatir ya. Ajak Sunny pulang. Kaya’nya dia sudah capek banget. Kau hati-hati juga ya di jalan.” Aku memegang bahunya dan tersenyum. Dia membalas senyumku. Kurasa dia yakin padaku. Akhirnya dia mengangguk lalu kembali ke Sunny yang sudah menunggunya. Sunny berteriak dari pinggir lapangan.

“Seohyunnie !! Kami pulang dulu !! Jangan terlalu capek ya !! Annyeonghi Gyeseyo !!!” Dia melambaikan tangannya. Cukup lama. Mereka akhirnya meninggalkan sekolah dan aku.

“Ne ! Jal Gayo [selamat jalan] !” Aku membalasnya ketika mereka belum benar-benar pergi dari lapangan. Aku mendesah. Aku menatap langit lagi. Masih agak mendung seperti tadi. Kulirik waktu di jam tangan keroro yang melingkar di tangan kiriku saat ini. Pukul 2 siang kurang 10 menit. Aku janji dengan Hye Ri jam 3. Ah, aku ke sana nanti saja deh. Setengah jam lagi.

Aku menendang, berlari, menendang lagi, berlari lagi, dan terus begitu. Ini satu-satunya caraku mengalihkan perhatian dan pikiranku darinya. Dari Kyuhyun dan semua kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Aku harus focus. Aku tidak ma uterus-terusan seperti tadi.

Ini juga satu-satunya cara membuatku semangat lagi. Semangat untuk bisa dekat dengannya. Aku harus bisa !

 

Aku menyelonjorkan kakiku setelah cukup lama berlatih. Capek sekali rasanya. Tapi rasanya menyenangkan dan lega sekali setelah melampiaskan semuanya. Dengan bermain bola walau sendirian. Aku mengambil bola yang tepat berada di sampingku dan memeluknya.

“Aah~ Seandainya hidup itu seperti bola, gampang bergulir. Gampang…, aaaarrgh, pokoknya nggak serumit ini, pasti menyenangkan sekali. Kenapa sih urusan begini itu rumit ? Apa yang namanya cinta itu rumit ya ?” Aku bertanya pada diriku sendiri. Desahan panjang keluar lagi dari mulutku.

Aku teringat sesuatu. Segera aku mengecek waktu di jam tanganku dan sekarang sudah menunjukan pukul setengah 3 lebih 5 menit.

“Aigoo~ Aku harus segera ke café ! Kalau tidak, aku bisa telat.” Aku tersentak dan langsung berdiri. Aku memasukan bolaku ke dalam kantong bolaku lalu menyambar tasku dan kemudian berlari pergi. Aku harus ke café.

 

Aku sampai di café tidak sampai 30 menit. Tapi tetap saja mepet. Setelah menuruni bis dan menyebrang, aku langsung masuk ke café. Tak lupa sebelumnya aku mengabari Hye Ri. Begitu masuk, mataku langsung mengitari seluruh ruangan dan melihat Hye Ri yang baru saja turun dari lantai 2 yang kurasa adalah loker dan ruangan khusus pegawai. Aku menghampirinya.

“Hye Ri ah~” Panggilku. Gadis itu langsung menoleh dan mencariku. Begitu melihatku, dia langsung tersenyum lebar dan melambai. Kami berhadapan sekarang. Dia sudah berganti pakaian dari seragam kerjanya dan kini memakai pakaian seperti biasa. Sebuah kemeja cewek berenda berwarna jingga pastel dipadu dengan rok yang panjangnya di bawah lutut dengan renda dan pita berwarna oranye muda.

“Wah, Unnie udah dateng. Kukira aku bakal nunggu. Kita bikin sekarang aja gimana ? Unnie udah siap ?” Tanyanya. Aku mengangguk. Tiba-tiba ekspresinya berubah. Senyumnya menghilang begitu melihat penampilanku.

“Ada apa ? Ada yang salah denganku ?” Aku memandangi tubuhku sendiri dan kurasa tidak ada sesuatu yang salah. Hye Ri menggelengkan kepalanya walau masih dengan ekspresi agak heran dan aneh.

“Unnie, mau masak dengan keadaan kaya’ gini ? Emm, emm… Unnie harus mandi dulu deh. Minimal ganti baju lah. Masa Unnie mau masak masih pakai kaos seragam bola begini ? Kalau mau masak itu harus higienis.” Sarannya. Aku melongo. Yang benar ?

“Tapi…, aku nggak bawa baju ganti. Apa kita batalkan saja dulu janji kita hari ini ?”

Gadis di depanku sempurna mengerutkan keningnya.

“Enak saja. Ani ! Aku udah nyiapin semua bahannya, Unnie. Kita harus jadi bikin kuenya !” Tolaknya sambil menggoyangkan tangannya cepat menandakan ia tidak setuju. Aku menghela napas.

“Terus bagaimana ? Aku nggak bawa baju, Hye Ri.”

“Aku pinjemin bajunya Taeyon Unnie atau Joo Yeon Unnie deh. Sepertinya muat. Nanti aku ijin ke mereka. Ya sudah, ayo berangkat sekarang. Nanti keburu kesorean. Kajja !” Dia menarikku. Aku mengikutinya dan ternyata kami menuju ke parkiran.

 

“Rumahku agak jauh dari sini, Unnie. Kalau jalan kaki sih. Makannya aku pinjem scooternya Joo Yeon Unnie. Yang ini.” Dia menunjuk sebuah scooter berwarna pink muda yang terparkir rapi di parkiran khusus karyawan.

“Kau bisa naik scooter ?” Tanyaku. Jujur, kalau aku sih tidak bisa naik scooter atau motor. Makanya aku selalu naik bis kemana-mana.

Gadis SMP disampingku menatapku lekat kemudian menggeleng sambil menampilkan cengiran di wajahnya.

“Makanya aku mau minta Unnie yang ngendarain scooternya sampai rumahku. Unnie bisa kan?” Ia meyakinkan.

“Hmm, justru itu, Hye Ri ah. Aku juga tidak bisa naik scooter. Kukira kau bisa menaikinya. Makanya kutanyakan tadi.”

Kami menghela napas bersamaan dan terdiam. Tiba-tiba Hye Ri menjentikkan jarinya.

“Aha ! Arayo ! Kenapa kita tidak naik sepedaku saja ? Aku punya sepeda yang ada boncengannya dan selalu kutinggal di sini kalau-kalau ada keadaan darurat. Sebentar kuambilkan. Kurasa ada di belakang.” Anak itu bergegas pergi meninggalkanku dalam keadaan bingung.

Tidak sampai 5 menit, dia kembali dengan membawa sepedanya yang berwarna biru muda dengan gambar bunga-bunga di seluruh badan sepedanya. Ada keranjang dari rotan dengan ikatan pita ditengahnya dan juga sebuah boncengan. Terlihat masih bagus dan terawat.

KRING KRING !!!

Dia membunyikan bel sepedanya.

“Unnie, ini sepedaku. Seohyun Unnie yang ngendarain ya ? Aku yang mbonceng aja. Aku pakai rok nih.” Pintanya. Aku mengangguk.

Kutaruh tasku dan juga bolaku ke dalam keranjang. Muat ternyata. Awalnya kukira tidak akan muat. Setelah itu aku segera menaiki sepeda itu dan Hye Ri juga menaiki boncengannya.

“Kau siap ? Pegangan ya !” Perintahku. Aku mulai mengayuh sepedanya. Agak oleng awalnya. Dan itu membuat gadis yang memboncengku sempat menjerit-jerit heboh. Tapi akhirnya aku bisa mengusai keadaan dan aku bisa mengayuh sepedanya secara stabil.

Semoga kami bisa sampai rumahnya dengan selamat. Kami terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Aku fokus mengayuh sepeda, sedang dia ? Aku tidak tahu apa yang ia kerjakan, tapi untuk saat ini dia cukup diam.

 

Aku mencoba membuat suasana yang tidak membosankan dengan membuat sebuah percakapan dengannya.

“Hye Ri ah~ Tidak apa-apa kalau kita belajar membuat kuenya di rumahmu ? Kenapa tidak di café ? Atau di rumahku saja ?” Tanyaku.

“Yaaa, Unnie. Bisanya kan memang di rumahku. Kalau di café, aku yang bakal dibantai Appa nanti. Bahan-bahan di café bukan untuk kepentingan pribadi. Lagian, di dapur café banyak orang dan selalu sibuk. Mondar-mandir kesana-kemari. Kupikir nggak mungkin kondusif. Kalau di rumah Unnie…, tadi kan Unnie bilang kalau rumah Unnie lumayan jauh dari sini. Lagian, Unnie bisa jamin nggak kalau semua bahan untuk buat kue ada semua di rumah Unnie ?” Jelasnya dan diakhiri dengan pertanyaan telak. Aku nyengir. Aku saja nggak bisa masak, gimana mau ada bahan untuk bikin kue dirumah ?

“Hehehe…, enggak ada sih Hye Ri. Mian deh. Ya udah, sekarang jalan ke rumahmu lewat mana nih ?”

“Hmmm, lurus dulu aja. Nanti kalau belok aku kasih tau kok.” Katanya mantap.

Aku mengangguk dan mengayuh sepedanya lebih kencang. Oleng lagi dan itu membuat kami menjerit bersama. Kami tertawa karenannya.

 

 

“Stop, stop !!! Berhenti di sini, Unnie ! Itu rumahku.” Hye Ri yang masih duduk di boncengan sepedanya menunjuk sebuah rumah bergaya semi Eropa yang tertutup pagar dinding yang cukup tinggi di seberang kami.

“I…, itu rumahmu ?” Tanyaku penuh dengan kekaguman. Besar sekali. Dari luar saja sudah terlihat sangat besar. Mana desainnya unik lagi. Aku benar-benar tidak percaya.

“Kalau yang ini, apartemen yang ditinggali Oppaku dan Oppa-oppa yang lain. Appa membeli sebuah apartemen untuk dijadikan kos. Tapi khusus cowok sih.” Jelas gadis di belakangku sambil menunjuk gedung besar yang tinggi dan keliatan cukup mewah di seberang rumahnya itu.

“Waw ! Kau benar-benar tinggal di kawasan elite ya ? Jeongmal……” Komentarku. Dia agak terkekeh.

“Hehehe… Nggak juga ah, Unnie. Ayo, Unnie ! Kita masuk aja. Nyebrang dulu, Unnie. Aku turun ya ?”

Dia menuruni sepeda yang kami naiki dan berlari menuju rumahnya. Aku mengikutinya sambil menuntun sepedanya. Hye Ri memencet tombol di samping pintu gerbangnya yang mirip seperti tombol telepon. Seperti kode lah. Dan memang benar, ternyata tombol itu untuk membuka pintu gerbang rumahnya. Aku terperangah.

“Rumahmu keren banget ada kodenya seperti itu.” Pujiku. Dia memamerkan giginya mendengar ucapanku.

“Makasih Unnie. Iya, ini untuk kode membuka gerbang dan alarm rumah juga.” Jelasnya. Aku ber’o-o’ saja menanggapinya. Keren sekali. >.<

 

Kami memasuki halaman rumahnya. Tidak terlalu luas tapi sangat mempesona menurutku. Tatanan tamannya rapi dan diatur dengan sangat sempurna. Banyak tanaman dan bunga-bunga memenuhi pekarangan rumahnya. Wah, belum apa-apa aku sudah dibuat terpesona dengan rumah Hye Ri. Rumah si Kyuhyun juga.

“Halaman rumahmu indah banget.” Pujiku lagi. Hye Ri cuma tersenyum menanggapi.

“Siapa yang ngerawat ? Eommamu ? Apa Unnie-unnie mu ? Atau jangan-jangan kau ya ?” Tanyaku. Dia tertawa.

“Unnie nggak bakal percaya kalau aku kasih tau siapa. Eomma sih kadang-kadang aja. Cuma ngerawat yang bunga-bunga aja. Unnie-unnie ku, sih, mana sempat. Aku juga nggak terlalu peduli sama soal taman. Semuanya, Oppaku yang selalu ngerawat. Dari mangkasin yang udah tua, mupukin, nyiramin, sampai yang beli tanaman sama bunga yang baru, itu semua Kyu Oppa yang ngurusin. Aku aja kaget kok Oppa bisa kaya’ gitu.” Jelasnya. Aku melongo. Kyuhyun ?

 

Kami memasuki rumah Hye Ri yang mampu membuatku lagi-lagi terperangan dan terkagum-kagum. Rumahnya ternyata percampuran antara gaya semi Korea dan semi Eropa. Unik sekali.

Butuh waktu lama jika aku harus menggambarkan bagaimana bagusnya rumah Keluarga Cho ini. Lantainya dari kayu yang diplitur sangat halus. Dindingnya pun lebih di dominasi dengan kayu dan kaca. Jadinya rumah ini terasa lebar dan terang. Selain itu, banyak jendelanya. Jadi sirkulasi udara dan cahaya sangat teratur di sini.

Aku mendapat kesimpulan kalau rumah keluarga Cho ini bersifat back to nature. Karena bahan-bahan dan benda-benda di dalam rumah ini benar-benar ramah lingkungan dan tidak mengganggu alam menurutku.

Hye Ri memimpin jalan menuju dapur. Kami sudah melewati ruang tamu yang cukup besar dan nyaman di depan tadi. Ada kamar tamu juga di sana.

“Ini tangga ke lantai 2. Kamarku, kamar Jeo Yoon Unnie, Taeyon Unnie, dan Kyu Oppa juga di sana. Nanti kalau sempat kita ke atas ya ?” Tawarnya. Aku mengangguk saja. Jujur, aku masih terkagum-kagum dengan rumahnya yang keren ini.

Kami berjalan lagi menuju dapur sampai sebuah suara memanggil nama Hye Ri.

“Hye Ri ah~ ?!”

Hye Ri berbalik begitu namanya dipanggil. Begitupun aku. Dan orang yang memanggil Hye Ri itu ternyata…

“Taeyon Unnie ?!”

Hye Ri menghampiri Unnienya. Aku masih berdiri di tempatku semula.

“Lho ?! Unnie masih di rumah ?” Tanyanya. Taeyon Unnie mengangguk pelan. Dia melihat ke arahku dengan tatapan bingung.

“Siapa dia ? Dia temanmu ?” Taeyon Unnie menunjukku. Hye Ri menoleh padaku dan mengajakku mendekat. Aku hanya mengikutinya saja.

“Annyeong haseyo. Seohyun imnida.” Aku memberi salam dan memperkenalkan diri. Taeyon Unnie seperti menyadari sesuatu.

“Oh ! Kau yang kemarin ke café itu ya ? Yang waktu Kyuhyun saeng nyanyi, dia juga mempersembahkan lagunya untukmu kan ? Wah ! Nggak nyangka bisa ketemu di sini. Kau temannya Hye Ri, ya Seohyun ?” Taeyon Unnie tiba-tiba bertanya padaku. Dan pertanyaan itu cukup membuat wajahku memerah. Terang saja, Taeyon Unnie pakai sebut-sebut nama Kyuhyun lagi.

“Iya Unnie. Seohyun Unnie ini juga temennya Oppa di sekolah. Eh, bukan dink. Oppa itu sunbaenya Seohyun Unnie.” Hye Ri angkat bicara. Phiuuh ! Aku lega nih. Hye Ri udah meng-handle semuanya.

Unnienya mengangguk.

“Oooh. Kau anak tata boga juga berarti ? Bagaimana ceritanya kau bisa kenal dengan yeodongsaeng ku ini ?” Tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Aniyo, Unnie. Aku nggak ikut tata boga.”

“Seohyun Unnie anak sepak bola putri.” Tambah Hye Ri sambil tersenyum padaku.

“Omo ?! Yang benar ? Aku juga anak sepak bola putri dulu. Tapi nggak sampai turnamen sih. Aku harus istirahat total selama setahun gara-gara kakiku patah dulu. Kalian mau ngapain sih ?”

“Aku mau ngajarin Seohyun Unnie bikin kue. Dia kan suka sama…… Aaaww !!”

Aku menepuk bahunya keras. Keras sekali sampai dia harus menjerit. Dia menatapku dengan tatapan bingung sambil mengelus bahunya.

“Suka sama ?” Taeyon Unnie yang mulai merasa aneh dengan kami, akhirnya bertanya lagi.

“Suka sama…., aa~, aku suka sama cake-cake yang ada di café. Enak banget. Makanya aku minta ajarin Hye Ri membuat beberapa cake. Biar aku bisa coba bikin sendiri di rumah.” Alasanku. Taeyon Unnie menganggukan kepalanya menanggapi.

“Aku ikut dong. Aku kan juga lebih jago dari Hye Ri.”

“Iya, iya.” Gumam Hye Ri pelan tapi sampai ditelingaku.

“Eh ? Tapi kau mau masak dengan pakaian seperti ini ? Apa nggak sebaiknya ganti dulu ?” Saran Taeyon Unnie. Aku dan Hye Ri berpandangan. Taeyon Unnie bertanya lagi. “Ada apa ?”

Hye Ri berdehem.

“Seohyun Unnie nggak bawa baju lagi. Boleh pinjem baju Unnie nggak ? Kaya’nya muat deh. Badan kalian sepertinya sama ukurannya. Cuma, ya, Taeyon Unnie lebih pendek aja.”

“Eh, dasar anak nakal ! Pakai ngatain lagi. Ya sudah. Seohyun ssi, kamu ganti bajuku saja. Pilih saja mau yang mana.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Taeyon Unnie yang imut dan sangat manis itu membalas senyumku. Tiba-tiba Hye Ri seperti teringat sesuatu.

“Eh, bukannya Unnie mesti ke kursusan ya ? Udah hampir jam 4 lho.” Hye Ri melirik arlojinya dan mengingatkan Unnienya. Taeyon Unnie ikut-ikutan memeriksa jamnya. Ia memekik.

“Aigoo~ !!! Aku sudah harus berangkat sekarang. Yaaah, Seohyun ssi besok-besok saja ya masak sama akunya. Aku berangkat dulu. Oh iya satu lagi, Hye Ri, jangan kotorin dapur !” Taeyon Unnie memberi wanti-wanti tegas pada Hye Ri.

“Ya udah sana. Cepetan !” Usir Hye Ri. Taeyon Unnie mencubit gemas pipi Hye Ri dulu sebelum akhirnya dengan setengah berlari ia meninggalkan kami berdua.

Kami berdua lagi sekarang.

 

“Unnie apaan sih pakai mukul bahuku segala ? Kan sakit…” Protes Hye Ri sambil mewek. Aku nyengir.

“Mian deh. Kau juga sih, cablak banget. Coba kalau nggak aku pukul, kamu mungkin langsung aja ngomong semua.”

“Ehehehe…., iya juga sih. Ya deh, Unnie. Ini emang salahku. Ayo, jalan lagi. Eh ? Unnie ganti dulu dink. Ayo !”

Dia mengajakku naik ke lantai 2. Setelah dia memilihkan baju dan celana yang pas denganku, aku langsung ganti. Seselesainya aku ganti, kami turun lagi dan menuju dapur.

 

“Ini dapurnya. Silahkan.” Hye Ri bergaya seperti penjaga pintu di gedung-gedung.

“Waw !” Hanya itu yang dapat aku katakana sekarang. Dapurnya, ya ampun, bagus banget. Besar, luas, bersih, elegan, dan keren. Nggak seperti kebanyakan dapur. Apa karena mereka keluarga chef jadinya dapurnya seperti ini ya ?

“Kita langsung aja ya, Unnie. Tuh, aku udah siapin bahan-bahannya.” Hye Ri menunjuk ke sebuah meja masak yang terbuat dari marmer di tengah-tengah ruangan. Kulihat memang sudah tersedia lengkap semua bahannya. Kami langsung menuju ke sana.

Ada sedikit undakan sebelum meja itu. Kurasa meja ini malah mirip seperti meja persembahan atau apa. Sudah ditengah-tengah, pakai ada tangganya sedikit lagi. Walau cuma 2 anak tangga tapi tetap saja mirip.

“Hari ini, kita bikin bolu dulu ya. Yang gampang. Oh iya, Unnie pakai celemek ya. Terus cuci tangannya di wastafel dekat kulkas itu.” Tunjuk Hye Ri. Wah, bahkan wastafelnya saja mewah dan lebar. Benar-benar fantastis keluarga ini.

 

Kami sudah siap. Hye Ri mengajariku dengan cermat dan cekatan. Aku selalu mencatat bahan dan cara membuatnya setiap dia menjelaskannya. Kami belajar praktek langsung kali ini. Aku agak gugup juga sih. Ini kali pertamanya aku masak. Masak kue lagi. Tapi Hye Ri mengajariku dengan baik dan tetap mencoba menghilangkan rasa gugupku. Dia terus membesarkan hatiku. Anak baik.

Walaupun pemula, aku terhitung lumayan mahir lho. Yah, meski masih penuh dengan tepung di seluruh wajah dan celemekku, tapi sudah lumayan lah. Hye Ri tidak membuat suasananya serius atau bagaimana. Dia justru yang mengajakku belajar sambil bermain. Sedikit-sedikit kami saling melempar tepung atau mengoleskan adonan ke wajah. Walau akhirnya jadipun, kami sudah terlanjur belepotan duluan.

“Tinggal tunggu di kukus, Unnie. Ahahahahahaha…………!!!! Unnie kenapa wajahnya jadi begitu ? Unnie luluran tepung ? Hahahahaha…… !!!!” Hye Ri tertawa dengan puasnya. Aku mencubit pipinya dan menariknya lebar.

“Ini kan gara-gara kau. Siapa yang tadi melempar tepung duluan ? Ha ? Iiih, dasar nakal…. !!!” Aku makin menarik pipinya sampai lebar. Dia mengaduh dan menjerit-jerit.

“Unnie, unnie…., udaaah !!! Sakiiiittt…….. !!!”

“Nakal sih !”

“Biarin. Yang penting kan aku udah ngajarin Unnie. Weeek !!” Dia meleletkan lidahnya. Aku makin lebar menarik pipinya. Dia menjerit lagi.

“Udah ah, Unnie. Sakiiiittt……… !!!”

Akhirnya, kulepaskan pipinya dan kini pipinya memerah setelah kutarik. Dia mengelus-elus pipinya lalu duduk di undakan meja masak sambil mengaduh. Aku itu duduk disampingnya.

“Sakit ya ?”

“Iyalah ! Unnie kejem ah. Aku bilangin Oppa lho kalo Unnie naksir sama Oppa !” Ancamnya.

“Heh ?! Mau kutarik lagi pipimu ?!”

“Ani, ani. Andwae !” Tolaknya mentah-mentah. Aku geleng-geleng.

Kami diam-diaman setelah itu. Berada dalam pikiran masing-masing. Oh iya, aku punya pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya.

“Hye Ri, aku mau tanya. Unniemu itu ikut kursus ya ?”

Gadis berambut sebahu itu menoleh padaku dan menaikan alisnya kemudian menggeleng.

“Nggak ikut, tapi ngajar. Keluargaku punya kursus tata boga. Yang jadi pengajar Eomma, Taeyon Unnie, sama Kyu Oppa. Gitu lho.” Jawabnya.

Aku tersentak. Kyuhyun lagi ? Ya ampun. Apa semua hal di sini selalu ada hubungannya dengan Kyuhyun? Tidak kusangka ternyata jiwa sosialnya lumayan juga. Wah, aku dapat beberapa kesimpulan baru lagi nih tentangnya. Hehehe  =)

Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi. Begitu teringak Kyuhyun, aku jadi teringat kejadian mengesalkan tadi. Apa perlu kuceritakan pada Hye Ri juga. Kuceritakan tidak ya ? Aigoo~ aku bingung.

“First snow.” Aku menggumam.

“Ne ? Apa Unnie ?” Tanyanya. Dia mendegar gumamanku ternyata.

“Aa~ aniyo. Bukan apa-apa. Eh ? Oh iya, Hye Ri, aku boleh request nggak ?”

Dia mengerutkan keningnya.

“Request ? Apa ?”

 

Aku terdiam. Aku ingin belajar bikin first snow. Karena hanya itu yang dapat mengendalikan perasaanku padanya. Aku harus bilang.

 

“Aku ingin untuk selanjutnya, kita bikin first snow ya ? Bisa kan ?” Pintaku.

Wajah Hye Ri berubah ekspresi. Dia kelihatan tidak yakin.

“Tapi, Unnie, aku nggak tau resepnya. Oppa belum mau memberi tahukan resepnya. Dan menurutku first snow itu susah bikinnya.”

“Ayolah, Hye Ri. Kau pasti bisa. Aku benar-benar ingin belajar membuatnya.” Rengekku. Dia masih kelihatan tidak yakin. Sekarang ia berpikir.

“Emang Unnie pingin belajar First snow kenapa sih ? Kenapa tiba-tiba ?”

 

JDEEENNGG !!!

Apa yang harus aku jawab ???

 

“Aku….”

 

 

 

 

Udah Part 9……………

Tunggu Part 10 ya….

 

Jangan lupa dibaca sama dikomen ya…………..

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s