LUCIFER

Standar

Author: Shin Hye Kyung/Ryeongri

Note: Bayangin Sungmin yang kekanak-kanakan, polos dan imut-imut yah, ini sebanarnya FF Shinee(Minho dan Taemin), berhubung di sini harus cast Suju, aku ubah aja deh.

~~~~~~~~~~

“Kau boleh tinggal di sini sesuka hatimu. Anggap saja rumah sendiri.” Kata Nenek Min

yang membuat mataku berbinar-binar. Bagai mana tidak?? Remaja 16 tahun yang pontang-panting hidup sendiri di kota sebesar Seoul dan baru diusir dari kontrakan kini mendapat tempat berteduh yang sangat mewah, seperti istana. Tuhan itu maha adil, saat kita dengan ikhlas menolong orang lain, maka tuhan akan membalas 10 kali lipat. Ini semua berawal dari beberapa jam yang lalu, saat aku menjadi gembel yang diusir dari kontrakan karena menunggak bayar empat bulan, aku melihat nenek Min yang hampir saja ditabrak oleh sebuah truk, dan taraaaaaaaaa!!! Aku berhasil menyelamatkan beliau. Awalnya beliau ingin memberiku uang sebagai imbalan, tapi aku menolak, yang benar saja??? Itu pamrih namanya. Saat beliau tahu aku tidak punya tempat tinggal, beliau langsung membawaku kerumahnya dan memberiku tempat tinggal. Ini seperti sebuah drama-drama yang aku tonton di tv, tapi sekali lagi aku katakan Tuhan  itu maha adil.

“Orang tuamu tinggal dimana?”

“Orang tua saya tinggal di desa.” Satu lagi alasanku tetap tidak mau meninggalkan Seoul walaupun aku tidak punya tempat tinggal, yaitu aku tidak mau kembali ke desa. Itu sama saja artinya aku harus mengucapkan selamat tinggal pada Aikido, yang telah membawaku sampai ke Seoul bahkan mendapatkan beasiswa di sekolah elite yang kebanyakan tempat sekolah anak orang-orang super kaya.

“Kau sekolah di mana?”

“Saya sekolah di Geumsaekyo senior high school.”

“Oh ya? Cucuku juga sekolah di situ.”

“Aku pulang.” Suara seorang namja memberi salam.

“Nah itu dia.” Kata nenek Min menunjuk ke arah cucunya. Mataku terbelalak saat melihat kearahnya. OMG! Apa aku mimpi??? Cucu nenek Min itu ternyata… Kyuhyun!!!!! Prince di sekolahku. Aku akan tinggal satu atap dengannya???? Aku tidak bisa membayangkan ekspresi teman-teman perempuanku saat mengetahui kalau aku akan tinggal satu rumah dengannya. Apalagi Sungmin, pasti ia akan shock berat.

Kyuhyun menatapku, aku membalasnya dengan senyuman.

“Mau apa orang aneh itu di sini?” Katanya ketus yang langsung membuyarkan semyumanku. What!!!! Kenapa ekspresinya begitu??? Ini tidak seperti yang aku bayangkan.

“Kyu, kau tidak boleh begitu, sekarang Gyo Sun akan tinggal bersama kita. Dia kan menjadi temanmu.”

“Aku tidak perlu teman seperti dia. Mana mau aku berteman dengan cewek aneh yang telah melemparku dengan kotoran.” Nenek Min terkejut.

“Aniyo… Waktu itu aku tidak sengaja.” Aku membela diri.

Flash back…

“Nuna, kenapa kita harus melakukan ini? Ini bau sekali.” Kata Sungmin yang sedari tadi mengeluh karena harus berhadapan dengan kotoran sapi. Hari ini kami akan membuat pupuk organic dari kotoran hewan saat jam pelajaran pertanian. Aku sudah terbiasa dengan baunya, karena Appa juga peternak sapi.

“Kau ini cerewet sekali, percuma saja kalau kau jago aikido tapi takut dengan kotoran hewan.”

“Tapi kan ini menjijikan sekali, baunya membuatku ingin muntah.”

“Kau payah sekali, nih cium biar kau tidak muntah.”

“Nuna!!!!” Sungmin histeris saat aku mendekatkan segenggam kotoran sapi ke arahnya. Aku tertawa girang saat melihatnya ketakutan dan jijik.

“Ini saja kau takut.”

“Nuna, jauhkan kotoran itu!!!” Teriak Sungmin kemudian berlari, aku mengejarnya dengan segenggam kotoran di tanganku yang beralaskan sarung tangan karet.

“Sungmin! Terima seranganku… Hiiiattt…” Aku melemparkan kotoran kearah Sungmin…. Dan ang… Ing… Eng… Bencana datang, Sungmin ternyata dengan lincahnya menghindar dari bom kotoranku dan akhirnya kotoran itu mendarat dengan mulus di wajah pangeran. KYUHYUN!!!! Sungmin shock sampai-sampai ia tidak bisa menutup mulutnya yang mungkin muat untuk seukuran gajah tiga ton. Bukan hanya aku dan Sungmin saja yang shock, teman-teman lain yang melihatpun juga sangat shock. Aku melempar kotoran dan mendarat di wajah pangeran mereka.

Tidak!!!!! Ini bencana, aku menutup mataku, ngeri membayangkan ekspresinnya. Ya Tuhan… Apa yang aku lakukan??? Eotteoge hajyo???

Kyuhyun mulai sadar dari shocknya dan menyingkirkan kotoran di wajahnya.

“Mianhamnida… Aku tidak bermaksud melemparmu dengan kotoran.” Aku menunduk, tidak berani menatap matanya.

“Hyung, kau baik-baik saja?” Sungmin membuka suaranya.

“I’m ok. Tidak apa-apa.” Jawab Kyuhyun yang membuatku ternganga. Bagaimana dia bisa bilang baik-baik saja setelah kejadian yang memalukan ini.

“Hyung, pakai ini.” Sungmin menawarkan sapu tangannya.

“Gomawo.”

“Mianhae… Aku tidak bermaksud…”

“Gwaechana.” Kata Kyuhyun memotong kata-kataku. Dia tersenyum. Ya Tuhan… Setelah kejadian memalukan ini, dia masih bisa tersenyum??? Dasar pangerang, dia selain ramah, dia juga penyabar. Ia memang pantas menyandang status sebagai pangeran. Tak salah kalau aku memang menyukainya.

“Lain kali hati-hati.”

“Ne. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Aku membungkuk.

“Ternyata Kyuhyun hyung memang seperti seorang pangeran, kalau aku jadi dia, Nuna sudah aku banting habis-habisan.” Komentar Sungmin sambil menatap kepergian Kyuhyun.

Flash back end….

 

“Tidak sengaja? Kau pikir aku mau memaafkanmu begitu saja? Kamu tahu betapa malunya aku saat itu? Bayangkan cewek aneh melempariku kotoran di mukaku dan disaksikan oleh orang-orang? Itu menjijikan.”

“Mianhae.”

“Kyu, sudahlah, dia bilangkan tidak sengaja.” Nenek Min membelaku, ia hanya merengut sebal menatapku kemudian pergi dari hadapan kami.

“Maafkan sikapnnya, dia memang begitu selalu ketus.”

“Tidak apa-apa. Tapi saya hanya kaget dengan responnya, padahal dia bilang di sekolah kalau dia tidak marah dan baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia berubah.”

“Sikapnya memang selalu dingin, mungkin ini semua salah nenek yang kurang memperhatikannya sejak kecil. Nenek selalu sibuk dengan bisnis dan mengurus hotel sehingga dia kurang perhatian.”

“Mugyoknya kemana?”

“Appa dan Eommanya sudah meninggal sejak ia berusia lima tahun karena kecelakaan pesawat, jadi dia nenek yang mengurusnnya.” Kata nenek Min sedih mengenang anak dan mantunya.

“Oh, mianhae, aku tidak bermaksud membuat nenek sedih.”

“Tidak apa-apa. Gyo Sun, bolehkan aku minta tolong?”

“Apa nek?”

“Maukah kau menjadi teman Kyu? Selama ini dia tidak ada yang menemani di rumah, nenek selalu sibuk. Nanti segala kebutuhanmu akan nenek tanggung, bahkan nenek akan mengajihmu. Bagaimana?”

“Mwo?” Aku terkejut, menemani Kyuhyun? Plus segala kebutuhan ditanggung dan di gajih? Tuhan benar-benar pemurah….

“Baiklah, saya terima tawaran nenek. Tapi sebenarnya diijinkan tinggal di rumah semewah ini pun saya sudah sangat berterima kasih, tidak perlu di gajih untuk menemani Kyuhyun. Tapi bagaimana kalau saya melamar sebagai pekerja rumah tangga? Saya bisa memasak, mencuci dan membersihkan rumah, nenek boleh menggajih saya.”

“Baiklah kalau maumu begitu. Aku harap kau bisa menjadi teman yang baik bagi Kyuhyun, aku mempercayaimu.”

*          *          *

Aku melirik kearah Kyuhyun yang duduk di sampingku, aku melihat wajahnya yang datar.

“Ahjussi, berhenti.” Kata Kyu yang membuatku heran, mau apa dia berhenti di sini? Sekolah kan masih jauh.

“Mau apa kamu?”

“Turun.”

“Mwo?”

“Kamu tuli? Turun.”

“Buat apa? Inikan belum sampai di sekolah?”

“Aku ingin kamu turun di sini.”

“Waeyo?”

“Kau pikir aku mau orang-orang tahu kalau aku berangkat sekolah satu mobil denganmu?” Apa lagi ini??? Aku tarik kembali ucapanku yang dulu bilang kalau dia adalah seorang pangeran, ternyata selama ini ia hanya memakai topeng. Di sekolah dia baik kepada siapa saja, selalu tersenyum, dan ramah. Tapi ternyata, ia orang yang sangat menyebalkan. Dia adalah LUCIFER!!!! Menyesal aku telah menyukainnya, oke, sekarang aku putuskan untuk berhenti menyukainya, titik!

“Ne, aku akan keluar,” aku melongos dan keluar dari mobil.

“Ingat, jangan pernah cerita kepada siapapun kalau kau tinggal di rumahku. Awas saja kalau sampai orang-orang tahu, habis lah kau.”

“Ne, aku juga tidak mau bilang kalau aku tinggal dengan orang menyebalkan sepertimu.” Jawabku sebelum menutup pintu mobil. Aku melihat wajahnya tersenyum saat dia menurunkanku di jalan yang jaraknya sangat jauh dari sekolah. Dasar tidak mempunyai perasaan! Aigoo… Gyo Sun kenapa dulu kau pernah suka dengannya???? Itu kesalahan terbesar.

*          *          *

“Nuna, kenapa kau tadi terlambat?” Tanya Sungmin saat kami beristirahat sehabis latihan aikido di sekolah.

“Jarak tempat tinggal baruku jauh dari sekolah.”

“Nuna baru pindah tempat tinggal?”

“Ne.”

“Kapan-kapan boleh dong aku main ke rumahmu.”

“Jangan!”

“Waeyo?”

“Eng… Tempatku itu sangat jauh.”

“Tidak masalah, kan aku bisa pakai mobil.” Aku semakin gelabakan dan memutar otak.

“Tempatku itu terpencil dan banyak hewan ternak, apalagi kotoran sapi.” Kata brilian meluncur dari mulutku, aku yakin itu pasti membut Sungmin membatalkan niatnya.

“Sebegitu terpencilnya ya dari Seoul? Sampai kau tinggal di tempat yang banyak hewan ternaknya?Eng… Kalau begitu tidak jadi deh. Apa tidak ada tempat lain lagi? Kenapa Nuna harus memilih tempat seperti itu?”

“Karena sewanya murah, kau kan tahu aku hanya hidup sendirian di sini. Beda denganmu, orang kaya yang bisa tinggal di rumah mewah.”

“Ah, nuna, yang kayakan orang tuaku, bukan aku.” Sungmin itu memang anak orang kaya yang punya mall terbesar di Seoul dan keluarganya mempunyai hotel bintang lima di Seoul maupun luar negri, tapi walaupun hidup yang serba berkecukupan, dia tidak pernah sombong atau membanggakan harta orang tuannya. Dia itu sangat pintar, baik dalam hal menyanyi, menari, aikido bahkan di bidang akademik. Dia seharusnya menjadi adik kelasku, tapi karena kecerdasannya yang selalu loncat kelas, akhirnya aku harus satu angkatan dengannya.

“Ya Tuhan, betapa menawannya dia.” Ucap Sungmin yang membuatku meloleh kearah pandangannya. Rupanya dia sedang memandang Kyu yang sedang lewat tak jauh dari kami. “Dia memang seorang pangeran,” katanya lagi dengan wajah yang berbinar.

“Kau menyukainnya?”

“Iya, semua orang menyukainya. Dia ramah, baik dan selalu tersenyum. Kalau aku menjadi cewek pasti sudah aku kejar, sekarangpun aku rasanya jatuh cinta dengannya.”

“Aneh,”

“Apanya yang aneh? Aku rasa wajar kalau orang-orang, namja, yeoja, termasuk aku jatuh cinta kepadannya. Nuna, bagai mana denganmu? Apa kau juga menyukainya?”

“Aniyo.”

“Waeyo?”

“Aku rasa dia hanya memakai topeng.”

“Topeng? Kenapa?”

“Siapa tahu itu bukan sifat aslinya.”

“Rasanya tidak mungkin, aku tidak percaya. Kau yang melemparnya dengan kotoran saja, dia tidak marah.”

*          *          *

Aku meletakan barang belanjaanku di atas meja. Rasanya lelah sekali belanja seharian.

“Pesananku mana?” Kyuhyun datang mengejutkanku. Aku mengeluarkan dua buah sikat gigi, dan memberikannya satu berwarna biru.

“Kenapa kau membelikanku warna biru? Aku tidak suka. Aku mau yang warna pink.”

“Mwo?”

“Aku pikir kebanyakan cowok suka warna biru. Lagian warna pink identik dengan cewek.”

“Kau ini cerewet sekali, terserah aku kalau sikat gigiku warna pink.” Ia merebut sikat gigi warna pink dari tanganku. Kasar sekali, dasar menyabalkan. “Sekarang masakan makanan untukku, aku lapar sekali.”

“Masak saja sendiri, bahannya sudah tersedia.”

“Kaukan sudah digajih nenek, jadi kau harus menuruti perintahku.”

“Yang mengajih aku kan nenek, bukan kau. Jadi aku hanya menuruti perintah nenek saja. Kau masak saja sendiri, aku mau istirahat.” Aku pergi meninggalkannya, ia merasa dongkol sekali. Siapa suruh tidak ramah padaku, jika ia bermanis-manis sedikit saja kepadaku maka aku akan memasakan untuknya.

Saat aku kembali ke dapur untuk mengambil air minum, aku melihat Kyu yang bergelut sendirian.

“Kau mau masak apa?”

“Omlete.”

“Omlete? Aku kira makanan ternak, aneh sekali bentuknya, bahkan kau membuatnya lengkap dengan kulit telur.”

“Kau jangan mengejekku.”

“Aish, meliahat caramu memasak membuat mataku sakit, sini aku saja yang membuatkan omlete.” Tanganku mengambil beberapa telur, memotong sosis tipis-tipis dan mencampurkan segala bahan yang diperlukan dan taraaaaa…. Tidak butuh waktu lama untuk tanganku yang mencitakan sebuah omlete sosis keju yang sempurna dengan aroma yang mengugah selera.

“Oh ya, sekarang bersihkan kamarku.”

“Mwo?”

“Kau ini tuli? Cepat sana bersihkan, atau nanti aku bilang sama halmeoni, kalau kau malas untuk bekerja dan hanya bermalas-malasan saja.”

“Ne, aku akan membersihkan kamarmu.” Aku cemberut sambil menuju kamarnya. Setelah berbaik hati aku memasakan omlete untuknya, sekarang dia menyuruhku untuk membersihkan kamarnya, bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih sama sekali. Dasar namja menyebalkan!!!!

*          *          *

Brukkkkk!!!!

Seorang namja menabrakku dengan keras sehingga membuat tubuhku sedikit tepental dan bekal yang kubawa terjatuh hingga berhamburan di lantai. Sandwich jatuh dan menjadi kotor.

“Kalau jalan hati-hati, punya mata ga sih.” Kata namja itu kasar. Ternyata dia adalah Jung Min, anak orang kaya yang manja, suka membuat onar, dan sok berkuasa.

“Kau yang tidak hati-hati, setelah membuat bekalku jatuh, kau tidak minta maaf.”

“Minta maaf kau bilang? Kau yang salah.” Ia menginjak sandwichku saat aku mau memungutnya kembali untuk membuangnya di sampah. Ini sebuah penghinaan.

“Dasar cowok sombong!”

“Apa kau bilang?” Ia memajukan tubuhnya hingga menyudutkan tubuhku hingga ke dinding, rasanya aku ingin membantingnya, walaupun ia lebih tinggi 13 cm dariku, aku yakin bisa membantingnya. Yang lebih tinggi 20 cm darikupun masih bisa aku banting saat latihan aikido, kalau dia??? Kecil….

“Kau cowok sombong, pembuat onar, manja, angkuh, dan parasit. Kau hanya cowok yang sok berkuasa dengan harta orang tuamu.” Perkataanku membuatnya semakin naik darah, tangan besarnya mencengkram pundakku hingga terasa sakit.

“Kau kira kau siapa? Kau cuma orang miskin yang beruntung bisa sekolah di sini.”

“Yang pasti aku bangga bisa sekolah di sini karena usahaku sendiri, dari pada kau, cuma menang di harta doang. Prestasimu juga ga bagus-bagus amat, cuma menang di prestasi pembuat onar.” Rupanya kata-kataku semakin membuatnya mendidih dan membuat suhu tubuhnya semakin panas hingga 100° Celcius.

Plakkkk!!! Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kiriku. Ini sebuah penghinaan dan pelecehan, seumur hidupku aku tidak pernah di tampar begini, bahkan oleh orang tuaku sekalipun. Refleks aku meraih tangannya dan meninju titik rawannya. Dalam hitungan detik saja ia sudah mencium lantai, dan tak puas untuk itu, tanganku mengepal ingin meninju wajahnya. Saat kepalan tanganku masih dalam pose untuk menonjok wajahnya terdengar teriakan dari suara berat yang aku kenal.

“YA!!!STOP!!!” Aku dan dia sama-sama menoleh. Mr. Gun berlari ke arah kami dengan ekpresi marah. Dia adalah guru olah raga dan dia juga adalah pelatih club Aikido di sekolahku. Aduh, mampuslah diriku.

“Gyo Sun! Apa yang kau lakukan terhadap Jung Min? Jangan menggunakan kemampuanmu seenaknya, aikido bukan untuk berkelahi.” Ia memarahiku seakan aku yang bersalah. Jelas saja ia menyalahiku, tadi poseku benar-benar meyakinkan kalau akulah yang menganiaya Jung Min.Padahal aku hanya membela diri.

“Mianhae seongsaenim, tadi aku hanya membela diri, dia duluan yang menamparku.”

“Bohong! Aku tidak pernah menamparnya, dia bilang dia benci denganku dan langsung membanting dan juga menamparku.” Jung Min berakting sambil memegang pipinya, aish… Pembohong, penjilat!!!! Aku tidak pernah menampar pipinya, harusnya aku yang meringis kesakitan sambil memegang pipi, bukan dia!

“Sekarang Gyo Sun, kau harus ikut denganku ke ruang bimbingan siswa, kau harus mendapat hukuman atas perbuatan tidak terpujimu.”

“Tapi seongsaenim, aku tidak bersalah, dia yang duluan mulai.” Aku membela diri lagi, dan kulihat senyum iblis bertengger di bibir Jung Min. Seongsaenim menarik tanganku untuk menyeretku ke ruang bimbingan siswa.

“Berhenti!” Kata seseorang, kami menoleh ke arah suara. OMONA!!! Kyu??? Dia berjalan ke arah kami dengan sosoknya seperti penyihir dingin dengan kedua tangan yang ia masukan ke saku celananya. Aish, ngapain dia? Pasti dia ingin menambah masalahku hingga aku akan di hukum lebih berat.

“Ada apa Kyu?” Tanya Gun seongsaenim.

“Aku rasa Gyo Sun tidak bersalah.”

“Mwo?” Dia membelaku??? Keajaiban apa ini?

“Aku sedari tadi duduk di sana, dan aku melihat semua kejadian ini. Jung Min menabrak Gyo Sun hingga bekalnya jatuh. Jung Min tidak mau meminta maaf, dan tak berapa lama kemudian mereka bertengkar dan akhirnya Jung Min menampar pipi Gyo Sun. Aku rasa bukan salah Gyo Sun kalau ia membanting Jung Min dan ingin menamparnya, itu suatu tindakan pembelaan dirinya kalau sedang di serang musuh.” Dia menjelaskan dengan tenang.

“Benarkah begitu Jung Min?” Tanya seongsaenim yang melihat ke arah Jung Min. Di ekpresi Jung Min mulai ada seraut ketakutan.

“Anio, dia bohong. Aku tidak melakukan itu.”

“Kalau tidak percaya, aku ada buktinya.” Minho menunjuk CCTV yang berada di atas. Selain di kelas, sekolah juga memasang CCTV di beberapa tempat, termasuk di gedung olah raga ini.

“Sekarang kalian berdua ikut aku ke ruang pengawasan, kita akan lihat siapa yang bersalah. Gyo Sun, kalau kau tidak bersalah maka kau akan di bebaskan, dan kau Jung Min, bila kau terbukti bersalah maka kau akan di hukum lebih berat karena berbohong. Ayo ikut aku.”

Aku mengikuti seongsaenim, dan sebelum pergi aku menoleh kepada Minho.

“Gomawo.” Kataku sebelum pergi. Aku hanya melihat ia tersenyum mengeluarkan senyum mautnya yang membunuh. Agh… Senyum itu lagi, Gyo Sun kuatkan diri dan imanmu jangan sampai tergoda oleh senyum mautnya.

*          *          *

Aku sangat senang sekali karena aku tidak di buktikan bersalah, untung saja ada Kyu yang menyelamatkanku. Dan aku hanya tersenyum puas saat Jung Min mendapatkan hukuman, ia di suruh menulis kata ‘aku minta maaf pada Gyo Sun dan tidak akan berbohong lagi’ sampai 500 kalimat ditulis tangan. Aku tidak bisa membayangkan tangannya akan keriting saat menulis itu.

Aku bernyanyi-nyanyi kecil sambil membawa vacuum cleaner, aku baru saja membersihkan ruang tamu, dan sekarang aku akan membersihkan ruang keluarga. Saat aku tiba di ruang keluarga, mataku langsung di suguhi pemandangan mengerikan. Sepatu dan kaus kaki Kyu bertebaran, popcorn yang berhamburan kesana kemari. Ruangan ini sangat berantakan! But, wait… Sebuah pemandangan indah juga terpampang di depan mataku. Kyu tertidur dengan wajahnya yang polos, dengan kemeja putihnya yang sedikit terbuka sehingga menampakan dadanya yang sixpack dan mulus. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Wajah itu sangat tampan, ah bukan, tapi super sangat tampan. Kulitnya putih mulus seperti porslen, bibir merahnya yang menggoda. Dia seperti seorang malaikat, malaikat tanpa sayap yang sedang tertidur di sofa.

Jantungku tiba-tiba berdetak saat melihatnya seperti ini. Aish… Kuatkan imanmu Gyo Sun, kalau seperti ini benteng pertahananku bisa runtuh, bisa-bisa aku menyukainya lagi. Agh… Pemandangan di depan mataku ini menyilaukan mataku seakan ingin membakar retina mataku. Semoga hidungku tidak mengeluarkan darah.

Matanya tiba-tiba terbuka, dan aku buru-buru memalingkan wajahku sambil berpura-pura sibuk untuk membersihkan ruang keluarga.

“Hey,” panggilnya.

Deg! Jantungku rasanya ingin berhenti.

“Apa?” Aku masih pura-pura menyibukan diri.

“Halmeoni mana? Sudah pulang?”

“Belum. Oh ya, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih telah menolongku di sekolah.”

“Kau pikir pertolonganku itu gratis? Semuanya ada timbal baliknya..”

“Mwo?”

“Kesini sebentar.” OMO!!! Senyumnya sangat memikat… Aku mendekatinya. “Pijatkan kakiku.”

“Apa?! Memijat kakimu? Tidak mau.”

“Kau tidak tahu terima kasih ya? Kalau tahu seperti ini, aku tak akan menolongmu. Ayo pijatkan kakiku.” Dengan pasrah akhirnya aku memijatkan kakinya sambil cemberut. Ku lihat wajahnya menampilkan kembali senyum puasnya. Aish… Ternyata dia tidak berubah, aku pikir dia ikhlas menolongku, tapi ternyata… Di luar dugaan.

*          *          *

Hari ini adalah ulang tahun Kyuhyun yang ke-17, dari tadi aku melihat para yeoja selalu mengerubunginya untuk memberinya hadiah. Ku lihat senyumnya terus mengembang saat bersama yeoja-yeoja itu, aish… Bukankan dia selalu tersenyum bila di hadapan orang lain? Membuat dirinya seperti seorang pangeran yang selalu tersenyum dan membuat orang terkagum-kagum karena senyuman mautnya. Entah sampai kapan ia melepas topeng senyumnya itu, aku tidak tahu apa reaksi yeoja-yeoja itu jika tahu aslinya Kyu itu seperti apa. Mungkin mereka akan sama shocknya dengan diriku saat pertama kali tahu.

Ku lirik Sungmin yang sedari tadi memainkan kadonya yang akan di berikan untuk Kyu. Dari tadi ia merengek-rengek padaku untuk menemaninya memberikan kado untuk Kyu, karena ia terlalu malu.

“Nuna, please…” Pintanya lagi.

“Anio, kamu saja sendiri.”

“Nuna jahat!” Ia cemberut dan menampakan wajahnya yang semakin imut.

“Kau ngotot sekali ingin memberinya kado.”

“Iya dong, aku kan ngefans dengan Kyuhyun hyung. Nuna? Kau memberi kado apa untuknya?”

“Kado? Tidak ada.”

“Sudah ku duga. Nuna, ayolah, jebal…” Rengeknya lagi dengan wajah memelasnya dan memasan puppy eye-nya.

“Baiklah.” Ia tersenyum kegirangan dan langsung menyeret tanganku ke kelas Kyu.

*          *          *

“Heh, bawa itu semua.” Perintah Kyu saat mobil kami berhenti di depan rumah. Mataku menatap tumpukan kado dengan bungkus yang berwarna warni dan juga beberapa bunga mawar di sampingku. Kado itu menggunung, yaampun banyak sekali fansnya sampai kado itu tingginya menyaingi gunung Himalaya. Aku saja tidak pernah di beri kado seperti ini, paling banyak aku dapat kado tiga, enaknya seperti dia.

Kado yang ku bawa memenuhi kedua tanganku dan menghalangi pandangku, sedangkan ia hanya santai saja dengan tenangnya melangkah masuk ke rumah seperti berjalan di atas red carpet.

“Kau enak sekali dapat kado sebanyak ini, aku saja tidak pernah dapat kado sebanyak ini.”

“Jelas saja pangeran lebih banyak dapat kado dari pada bebek sepertimu.” Satu lagi hal yang aku benci dari Kyuhyun, dia selalu memanggilku dengan panggilan ‘bebek’, aish… Dia sangat-sangat menyebalkan.

“Permisi tuan, tadi nyonya besar menitipkan ini untuk tuan,” kata Jang Mi ahjuma seorang pekerja rumah tangga di sini, usianya sudah menginjak 45 tahun, dan ia mengabdi di keluarga ini selama 20 tahun, dia juga sangat baik denganku, dia ku anggap seperti ahjumaku sendiri. Jang Mi ahjuma memberikan sebuah kotak yang isinya subuah kue ulang tahun dengan angka 17 tahun di atasnya. Di atas kotak kue itu terselip kartu ucapan, Minho membacanya dengan ekspresi datar.

“Ahjuma, halmeoni sudah berangkat ya?”

“Ne, dia sudah berangkat ke Jepang tadi pagi, ia menyuruhmu untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan tuan Kyu.”

“Aku tidak perlu baby sitter seperti bebek ini.” Ucap Kyu datar dengan ekspresi penyihir putih dari dunia Narnia. Aish, kalau bukan karena nenek Min, aku tidak mau mengurusinya, dia pikir aku senang apa berada di dekatnya yang selalu memancarkan aura roh jahat. Tapi, tak bisa di pungkiri, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku senang bisa berada di dekatnya.

“Hey, kado ini mau di taruh di mana?” Tanyaku saat dia pergi menuju kamarnya.

“Terserah mau di apakan, dibuang ke tempat sampah juga tidak apa-apa.”

Mwo??? Dia ingin membuang kado sebanyak ini di tempat sampah? Dia benar-benar gila.

*          *          *

Tok… Tok… Tok…

Aku mengetuk pintu Kyu pelan. Tak ada jawaban, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka kamarnya. Saat membuka kamarnya, mataku disuguhi pemandangan yang agak remang, lampu kamarnya dimatikan dan penerangan hanya berasal dari balkon kamarnya.

“Annyeong, penyihir jahat, kau di mana?” tanyaku, merasa tak ada jawaban aku menekan sakelar di dekat pintu. Saat lampu dinyalakan aku melihat sesosok Kyu duduk di tepi ranjang besarnya dengan memeluk lututnya. Apa yang ia lakukan? Tapi… aku melihat sepertinya ia habis menangis.

“Tetap matikan lampunya.”

“Oh, ne.” Aku mematikan lampunya lagi, sekarang keadaan kamar cukup remang-remang tapi aku masih bisa melihat Kyu bahkan masih bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku menghampirinya dan meletakan kado-kadonya di atas meja.

“Kyu, kau menangis?” Tanyaku, baru kali ini aku melihat wajahnya yang sedang menangis, biasanya wajahnya selalu menampakan topeng senyum dan wajah penyihir putih dari Narnia.

“Mau apa kau kemari?”

“Aku mengantarkan kado-kadomu. Neo, waeyo?”

“Anyio, aku tidak apa-apa.”

“Bohong, kau menangiskan?” Aku menyentuh pipinya yang basah. “Tuh kan, menangis. Waeyo?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawabnya lemah. Kali ini aku seperti melihat Kyu yang berbeda, seperti bukan Kyuhyun yang biasanya aku kenal.

“Kau jangan bohong, pasti ada apa-apa. Ceritalah padaku, mungkin itu bisa meringankan bebanmu.”

“Aku sedang kangen dengan kedua orang tuaku,” katanya. “Sudah 12 tahun aku melewatkan hari ulang tahunku tanpa mereka. Sepertinya hari ulang tahunku memang selalu menyedihkan, halmeoni juga kadang sibuk dengan pekerjaannya.”

“Tapi kau punya teman-teman yang selalu ingat hari ulang tahunmu dan memberimu kado yang banyak, apa itu tidak menyenangkan?”

“Bagimu menyenangkan, tapi bagiku tidak. Aku selalu merasakan kesepian, seperti yang kau lihat sekarang, setiap hari ulang tahunku aku selalu menangis.”

OMO!!! Kyuhyun si penyihir jahat yang selama ini aku kenal ternyata sangat berbeda dengan apa yang di hadapanku sekarang. Aku kira selama ini dia selalu senang karena dikelilingi oleh banyak orang yang menyukainnya, ternyata di balik topeng senyumnya ia begitu sensitive.

“Aish… Seharusnya aku tak menangis di depanmu,” ia menghapus air matanya.

“Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Oh ya, tunggu sebentar.” Aku keluar kamarnya dan mengambil kotak kue ulang tahunnya dari nenek Min yang tak pernah ia sentuh lagi sejak tadi siang. Aku membawanya ke kamar dan menyalakan api di atas lilin yang berbentuk angka 17.

“Kau tidak boleh mengabaikan kue pemberian nenekmu. Sekarang aku akan menemanimu melewati hari ulang tahunmu, biar kau tak kesepian lagi. Sekarang ayo buat permohonan sebelum meniup lilin.”

Ia menundukan kepalanya untuk beberapa detik dan kemudian meniup api di atas lilin hingga padam.

“Gomawo.” Katanya.

“Ne, Kyuhyun ssi, saengil chukhahamnida. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu.” Aku mengeluarkan sebuah kado kecil dari kantong hoddieku. Entah kenapa sejak tadi siang aku tiba-tiba ingin memberikannya kado ulang tahun.

“Apa ini?”

“Kau buta? kado lah, bukalah…” Ia membuka kado dariku yang isinya sebuah strap HP bentuk boneka anjing berwarna pink.

“Anjing?”

“Ne, karena aku pikir kau dan anjing sama-sama menyebalkan, makanya aku pilih boneka anjing.”

“Heh, bebek, kau menyamakanku dengan anjing?” Ia cemberut sambil menatap strap HP pemberianku di tangannya.

“Tapi, kalau kau tidak suka, kau bisa membuangnya kok. Mianhae, aku hanya bisa memberimu itu.”

“Aniyo, aku suka kok. Gomawo karena mau mendengarkan ceritaku, gomawo karena menamaniku di hari ulang tahunku, dan gomawo untuk kado ini, aku akan menyimpannya dan menjaganya baik-baik.” Ia menatapku. OMO!!!! Lagi-lagi tatapan maut itu, jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Oh Tuhan tolong diriku yang mulai tersihir oleh pesonanya walaupun di sini kurang penerangan, tapi wajahnya seakan menyilaukan mataku.

Deg! Deg!!!

Jantungku mau copot, apalagi tiba-tiba jarinya memegang daguku dan kemudian… Kyu mulai mendekatkan wajahnya pada wajahku. OMONA!!!! Apa dia mau menciumku? Tuhan, cepat bengunkan aku dari mimpi ini, apa dia benar-benar mau menciumku?

20 cm…

15 cm… wajahnya semakin mendekat…

10 cm… aku bisa merasakan nafasnya yang hangat…Oh No!!! Apa dia akan benar-benar melakukannya??

5 cm… Super dekat dan aku memejamkan mataku… hembusan nafasnya menyapu lembut bibirku…

Dan…

Dan…

Dan…

Mwo??? tak terjadi apa-apa… Ku dengar ia tertawa, aku membuka mataku dan melihat wajahnya yang sudah menjauh dari wajahku.

“Hahahaha… Kau kira aku mau menciummu??” Ia tertawa puas karena mempermainkanku. Aku meninju lengannya.

AAAAAAA…. Ternyata dia memang seorang Lucifer!!!!!!!

 

-THE END-

8 responses »

  1. aq udh bc dblog sbelah…
    msh ada typo, nama minho kesebut 2x..ckckck..author,,g dcek lg…

    sbnrny karakter ini aq bnyainnya key– scra dy emg suka merintah, sm kea kyu.. tp brhub da couple minho-taemin jd cocok k kyu-sungmin..

    pkokny aq sk ffnya.. kyu emang evil yg naik tngkt jd lucifer…hahaha

    nice ff thor ^_^

  2. Sungmin cocok bgt jd anak yg polos. . Aplg wkt nyebut ‘nuna’. . . Hahaha. ,

    Kyu si evil, penyihir, lucifer, raja iblis. .
    Hedeh hedeh, image-ny g bgus mulu. . .
    Kekeke. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s