Hope is a Dream that Never Sleeps Part 4

Standar

Author: Aisora Hyunnie

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Disclaimer : Tribute ehh, salah! Dedicated to Uri Yeobo, Yonin, Chingu, Oppa, Hyung, Dongsaeng, Appa (?), Ahjussi (??), Haraboji (???) “Evil Game Cho Kyu Hyun”

Warning (ngerangkep ma AN) : Setelah baca ff ini diharapkan tidak ada keributan ataupun unjuk rasa apalagi demonstrasi *appan sich??*

Jika setelah baca ff ini ada yang keberatan, silahkan bantai Kyumong *inno smile*

Dui buqi, kalo ada ejaan Mandarin yang salah ato ngaco, cz Author emang sotoy binti ke-PD-an hahahah

~~~~~~~~~~~~~

Cho’s House…

Kyu Hyun baru saja pulang dari berziarah ke makam ibunya. Ia langsung berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Rasanya lumayan capek karena setelah syuting, hari ini ia langsung pergi ke pinggiran kota Seoul untuk berziarah ke makam ibunya. Ia ingin cepat – cepat berendam air hangat untuk me-rileks-kan otot – ototnya. Saat tiba di dalam kamarnya, ia langsung memencet sakelar dan menyalakan lampu kamarnya. Lalu ia melepas jaket dan melemparnya ke atas kasur. Saat akan melepas kaosnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba – tiba saja memeluknya dari belakang. Sontak Kyu Hyun terlonjak karena kaget. Ia langsung berbalik dan mendapati Jessica, kakak tirinya sedang berdiri di hadapannya sembari tersenyum penuh arti padanya.

 

“Noona?! Sejak kapan Noona di sini dan apa yang Noona lakukan di kamarku?!” cecar Kyu Hyun kaget.

“Memangnya tidak boleh?” Jessica malah bertanya balik dengan nada manja. *cih!!*

“Setidaknya Noona ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamarku. Kalau saat itu aku sedang tidak berpakaian bagaimana?”

“Justru itu yang ku inginkan.”

“Maksud Noona?”

“Kyu, kau kan tahu, sejak dulu aku sudah tertarik padamu. Kali ini kau tidak akan bisa menolakku lagi.”

Tiba – tiba Jessica mendorong tubuh Kyu Hyun hingga ia jatuh terlentang di atas ranjang. Tanpa permisi Jessica langsung naik ke atas tubuh Kyu Hyun dan segera mencium bibirnya. Kyu Hyun berusaha menyentakkan tubuh Jessica hingga membuat wanita itu terjatuh dari ranjang. *syukurin!!!*

 

“Noona, apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!!”

“Ya!! Aku memang sudah gila! Tahukah kau adikku yang manis, aku sangat tergila – gila padamu. Jadi, biarkanlah aku memilikkimu!” jawab Jessica sembari bangkit dan berusaha memeluk Kyu Hyun kembali.

 

“Noona, hentikan!! Kita ini kakak – beradik!!”

“Aku bukan kakakmu!!” bentak Jessica. Kyu Hyun menatapnya kaget.

“Bukankah kau juga sudah tahu, bahwa kita hanya saudara tiri?! Dan asal kau tahu, sebenarnya aku bukan anak kandung Papa.”

 

Degg!!

 

Kata – kata Jessica barusan benar- benar membuat Kyu Hyun kaget. Kakak yang selama ini ia sayangi meski ia tahu ia hanya kakak tirinya ternyata benar – benar bukan kakak kandungnya.

 

“Lagi pula, kau juga tidak pantas menjadi adikku. Kau hanya seorang anak haram yang terlahir dari seorang wanita murahan yang suka menggoda suami orang.”

 

Plaakkk!!

 

Jessica memegangi pipi kanannya yang baru saja mendapat tamparan keras dari Kyu Hyun.

 

“Kau?!!”

“Mengapa Noona menghina ibuku?! Noona boleh menghinaku, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Noona menghina ibuku!!” teriak Kyu Hyun. Ia sangat marah mendengar Jessica menghina ibunya.

“Benar – benar anak tidak tahu diri! Akan ku buat kau menjadi milikku! Apapun yang terjadi, aku akan membuatmu menyesal karena telah berani menamparku!” balas Jessica yang kini mulai berusaha memeluk dan mencium Kyu Hyun lagi.

“Jessica!!” teriaknya sembari mendorong tubuh Jessica hingga wanita itu terjerembab ke lantai.

“Cho Kyu Hyun, kau benar – benar keterlaluan!!”

“Kau yang keterlaluan!!”

 

Perlahan Jessica bangkit dan hendak keluar kamar Kyu Hyun. Namun langkahnya terhenti saat matanya melirik sebuah benda yang terletak manis di atas meja tulis Kyu Hyun. Ia tersenyum sinis lalu menghampiri meja itu.

 

“Apa kau menolakku karena dia?” tanya Jessica sinis.

“Mwo??”

“Jadi sampai sekarang kau masih mengingat dia? Cinta pertamamu itu?” ulang Jessica sembari berbalik menatap Kyu Hyun dan menunjukkan sebuah benda di tangannya. Seketika mata Kyu Hyun membulat menatap benda di tangan Jessica itu.

 

“Apa yang akan kau lakukan? Cepat kembalikan benda padaku!!” bentak Kyu Hyun. Jessica tertawa puas melihat nada kepanikan dari wajah Kyu Hyun.

“Wae Kyu? Apa pentingnya benda ini untukmu, hah?”

“Cepat kembalikan benda itu atau…”

“Atau apa?! Memangnya sepenting itukah benda ini untukmu?”

“Jangan main – main. Aku bilang kembalikan!!”

“Kalau aku tidak mau?? Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan jika aku melakukan ini.”

 

Praangg!!

 

Bersamaan dengan itu Jessica melemparkan benda yang tadi dipegangnya ke lantai hingga benda itu hancur berantakan. Kaca – kacanya berserakan kemana – mana. Kyu Hyun sangat kaget melihat hal itu. Ia hanya mematung menatap benda kesayangannya itu yang kini telah menjadi puing – puing akibat ulah kakak tirinya itu. Jessica yang melihat reaksi Kyu Hyun kembali tertawa puas. Lalu ia segera pergi meninggalkan Kyu Hyun yang terlihat hancur seperti benda yang tadi dilemparnya.

 

Sepeninggal Jessica, perlahan Kyu Hyun berjalan mendekati puing – puing benda kesayangannya itu. Perlahan ia meraih bagian dari benda itu yang tidak hancur. Tanpa ia sadari jarinya tergores serpihan kaca hingga berdarah tapi Kyu Hyun tidak mempedulikannya. Ia terus memandangi benda yang ada di tangannya itu dengan nanar. Tanpa ia sadari air mata mengalir dari kedua bola matanya. Kini, satu – satunya benda yang ia miliki yang bisa mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia sayangi telah hancur. Bagaimana jika nanti ia bertemu dengannya dan ia tahu bahwa dirinya tidak bisa menjaga satu – satunya benda pemberiannya itu?

 

Lalu Kyu Hyun kembali meraih jaketnya dan segera keluar dari kamarnya. Rasa lelahnya tadi seakan menguap begitu saja. Di ruang tamu ia melihat ayah dan kakak tirinya sedang berbincang – bincang namun ia tidak peduli. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan ayahnya. ia terus melangkah menuju pintu keluar dan masuk mobilnya. Tanpa pikir panjang lagi ia segera memacu mobilnya menuju suatu tempat yang mungkin bisa menolongnya.

 

===============

 

“Kyu??” sapa seseorang. Kyu Hyun menoleh sekilas lalu kembali meneguk isi dari kaleng sodanya.

“Kau sedang ada masalah?” tanya orang itu yang ternyata Jung Soo.

“Tidak ada. Oh ya, bagaimana hasil pembicaraan Hyung dengan Hyun Ae?” tanya Kyu Hyun mengalihkan pembicaraan. Jung Soo mendesah pelan seakan mengerti keebiasaan adik sepupunya yang suka memendam masalah itu.

“Dia setuju.”

“Jinjja?” Kyu Hyun langsung menoleh pada Jung Soo saat mendengar bahwa Hyun Ae setuju menjadi sutradara untuk video klip nya. Tampak ada kilatan kebahagiaan di matanya.

“Ne.”

“Gomawo Hyung.”

“Hemm, tampaknya kau senang sekali mendengar hal ini. apa kau benar – benar menyukainya?” selidik Jung Soo yang sukses membuat Kyu Hyun tersedak. Jung Soo langsung menepuk – nepuk punggung Kyu Hyun.

“Mak.. maksud Hyung?”

“Ya, dari pengamatanku sepertinya kau sedang jatuh cinta padanya.”

“Mwo??”

“Kenapa kau malah kaget seperti itu? Ehh, tapi bagaimana dengan cinta pertamamu itu? apa kau sudah melupakannya dan berpaling pada Hyun Ae?”

 

Deegg!!

 

Kyu Hyun tertegun mendengar pertanyaan Jung Soo. Benar juga. Apa perasaannya telah berubah? apa ia memang telah jatuh cinta pada gadis lain? Berarti itu sama artinya dengan mengkhianati dia. Mengingkari janji yang telah ia buat dulu. ingatannya kembali pada beberapa saat yang lalu.

 

<flashback>

“Bagaimana Ahjussi? Apa Ahjussi bisa memperbaikinya?” tanya Kyu Hyun pada seorang paman pemilik toko barang antic. Paman itu mengamati benda yang ada di tangannya lalu menghela nafas.

“Mengapa barang sebagus ini bisa hancur?” tanyanya.

“Aku.. Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Apa Ahjussi bisa memperbaikinya?”

“Apa benda ini begitu penting untukmu?”

“Ne, sangat penting.” Jawab Kyu Hyun lirih.

“Baiklah, aku akan berusaha memperbaikinya. Satu minggu lagi kembalilah kemari.”

“Gamshahamnida Ahjussi.”

 

<flashback end>

 

“Hei, kenapa kau malah melamun?” tanya Jung Soo membuyarkan lamunan Kyu Hyun.

“Tidak ada.” Jawab Kyu Hyun singkat lalu kembali meneguk sodanya hingga habis.

“Seminggu lagi kita berangkat ke Beijing. Aku harap kau menjaga kesehatanmu. Kita tidak mau semua yang telah kita rencanakan berantakan begitu saja kan?”

“Araso Hyung, jangan khawatir.”

 

==**==

 

A week later…

 

“Mian Hyung aku terlambat.” Kata Kyu Hyun saat tiba di Incheon International Airport. Hari ini ia bersama para crew yang lain akan pergi ke Beijing untuk syuting. Nafasnya tidak beraturan dan keringat membasahi dahinya.

“Kau pergi kemana saja? Hampir saja kita ketinggalan pesawat.” Sahut Jung Soo setengah kesal.

“Mianhae, tadi aku masih ada urusan sedikit.” Jawab Kyu Hyun.

 

Tadi ia pergi ke toko barang antic untuk mengambil benda kesayangannya yang telah selesai diperbaiki. Ia senang saat melihat benda kesayangannya itu tampak seperti sedia kala. Ia sangat berterima kasih pada paman pemilik toko barang antic yang telah memperbaikinya.

 

“Sebaiknya kita segera naik ke pesawat sekarang sebelum kita ketinggalan pesawat.” Ajak Jung Soo.

“Semuanya, maafkan saya.” Kata Kyu Hyun sembari menganggukkan kepalanya ke beberapa crew. Meski ia seorang artis terkenal, tapi ia tidak sungkan meminta maaf jika memang ia bersalah.

 

Tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata Hyun Ae, segera ia tersenyum pada gadis itu yang langsung membalas senyumnya.

 

===============

 

In the plane…

 

Entah sengaja atau memang kebetulan, Kyu Hyun dan Hyun Ae duduk bersebelahan di dalam kabin pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Beijing itu. mereka pun mengobrol layaknya teman lama. Baik Kyu Hyun maupun Hyun Ae merasa aneh karena mereka merasa nyaman berada di dekat satu sama lain, seolah – olah mereka memang sudah lama saling mengenal.

 

Di tengah perjalanan mereka, Kyu Hyun tertidur dengan kepala menyandar tanpa sengaja di bahu Hyun Ae. Entah sejak kapan, tapi setiap berada di dekat Kyu Hyun jantung Hyun Ae menjadi berdebar tak karuan. Ia melirik wajah Kyu Hyun yang terlihat pulas di bahunya. Samar, ia tersenyum menatap wajah polos *hoeekk~ #plaaakkk* yang tengah tertidur itu.

 

‘Kenapa semakin lama aku merasa kau semakin mirip dia? Apa kau adalah Kui Xian?’ batin Hyun Ae.

 

Mendadak ia tersentak saat batinnya menyebut nama Kui Xian. Ia jadi merasa bersalah pada Kui Xian. Benarkah perasaannya mulai berubah? Ia tidak ingin mengkhianati Kui Xian, tapi saat ini ia sendiri pun tidak yakin apakah Kui Xian masih ingat padanya apa tidak. Lalu apa yang ia lakukan sekarang? Apa ia bisa berpaling pada namja yang sekarang sedang tertidur di bahunya saat ini? Pikiran Hyun Ae jadi kacau karena hal itu.

 

Tanpa Hyun Ae sadari, sebenarnya Kyu Hyun tidak benar – benar tertidur. Ia sengaja pura – pura tidur agar bisa sedekat ini dengan Hyun Ae. Namun mendadak sesok bayangan melintas di benaknya. Kyu Hyun sedikit terhenyak dalam ‘tidur’ nya. Ia semakin bingung tentang perasaannya. Apa benar ia telah berubah dan berpaling pada yeoja di sampingnya kini?

 

==**==

 

Beijing, 1st February 2011…

 

Hari ini hari pertama syuting di Beijing. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Tapi ada satu hal yang membuat Hyun Ae semakin penasaran. Kenapa seorang penyanyi terkenal seperti Cho Kyu Hyun memilih syuting di sebuah panti asuhan tua yang sudah tak berpenghuni, sementara di Beijing banyak sekali tempat yang lebih bagus. Selain itu, panti asuhan yang dijadikan lokasi syuting ini adalah panti asuhan tempat tinggalnya dulu. Entah ini suatu kebetulan atau apa? Hyun Ae semakin penasaran dengan hal itu.

 

===============

 

Beijing, 2nd February 2011…

 

Hari ke dua syuting sekaligus berakhirnya syuting pembuatan video klip terbaru Kyu Hyun. Semua crew mengadakan pesta kecil – kecilan untuk merayakan keberhasilan mereka itu. Namun, tiba – tiba Hyun Ae menghilang. Hal itu membuat Kyu Hyun menjadi panic. Tadi selesai syuting ia masih melihat keberadaan Hyun Ae, namun saat berada di restaurant ini lah ia baru sadar bahwa Hyun Ae sudah tidak ada.

 

“Hyung, apa kau melihat Hyun Ae?” tanya Kyu Hyun pada Jung Soo.

“Tidak. Memangnya kemana dia?” balas Jung Soo.

“Kalau aku tahu, mana mungkin aku bertanya padamu Hyung!” jawab Kyu Hyun kesal, lalu segera pergi meninggalkan Jung Soo yang menatapnya bingung.

 

“Hyung, apa kau melihat Hyun, emh, Hyun Ae-ssi?” tanya Kyu Hyun pada Zhou Mi, Asisten Sutradara Hyun Ae.

“Hemm, tidak. Tapi jika kau bertemu dengannya tolong berikan ini padanya.” Balas Zhou Mi sembari menyerahkan sebuah kalung berliontin batu giok pada Kyu Hyun.

 

Mata Kyu Hyun seketika membulat saat melihat benda yang kini ada di tangannya itu. sebuah benda yang amat sangat ia kenal. Sebuah benda yang pernah menjadi miliknya.

 

“Hyung, darimana Hyung mendapatkan benda ini?!” tanya Kyu Hyun.

“Itu milik Hyun Ae.”

“Mi.. milik Hyun Ae??”

“Ne, tadi aku menemukannya terjatuh di depan pintu penginapan kita. Dia memang sangat ceroboh. Kalau dia tahu bahwa kalung ini tidak ada padanya, dia pasti sangat panic.”

“Wa.. wae??”

“Karena setahuku, kalung ini adalah benda kesayangan Hyun Ae yang paling berharga. Dia pernah bercerita bahwa kalung ini adalah pemberian dari cinta pertamanya dulu, jadi…”

“Gomawo Hyung!!” potong Kyu Hyun sembari beranjak dari hadapan Zhou Mi yang menatapnya heran campur bingung.

 

===============

 

Kyu Hyun tengah berlari – lari kecil di tengah keramaian kota Beijing. Tujuannya hanya satu, mencari keberadaan Hyun Ae. sekarang ia mengerti mengapa ia bisa merasa begitu nyaman di dekat Hyun Ae. ia terus tersenyum mengingat perkataan Zhou Mi tadi, ‘Karena setahuku, kalung ini adalah benda kesayangan Hyun Ae yang paling berharga. Dia pernah bercerita bahwa kalung ini adalah pemberian dari cinta pertamanya dulu…’

 

“Cinta pertamanya? Jadi sampai sekarang kau masih mengingatku?” gumam Kyu Hyun. Ia semakin bersemangat berlari menuju tempat itu. ya, ia yakin pasti Hyun Ae ada di sana.

 

===============

 

In other place…

 

Hyun Ae sedang berdiri sendirian di bawah pohon besar di atas bukit kecil di belakang sebuah panti asuhan tua. Kepalanya mendongak mengamati sebuah rumah pohon di atasnya. Saat ia meraba lehernya, baru lah ia sadar bahwa kalungnya hilang. Hyun Ae langsung panic dan berusaha mencari kalungnya itu.

 

“Apa kau mencari ini?” tanya seseorang yang telah berdiri di hadapannya sembari menyodorkan sebuah kalung berliontin batu giok padanya. Hyun Ae mendongak dan kaget saat mendapati Kyu Hyun berdiri disana.

“Kau?? Apa yang kau lakukan di sini?! Bagaiman kau bisa menemukan tempat ini?!” cecar Hyun Ae. Kyu Hyun tersenyum menatap wajah paniknya itu.

“Bagaimana jika aku menjawab, aku tahu tempat ini karena dulu aku juga sering menghabiskan waktu di tempat ini.” jawab Kyu Hyun.

“Apa maksudmu?”

“Jadi kau sudah melupakan aku, Yan Lin?”

 

Hyun Ae langsung membulatkan matanya saat mendengar Kyu Hyun memanggilnya. Bukan karena cara Kyu Hyun memanggilnya, tapi nama yang dipanggil Kyu Hyun. Yan Lin, bagaimana bisa dia mengetahui nama kecilnya dulu sebelum ia pindah ke Korea dan berganti nama? Saking terkejutnya, Hyun Ae hanya bisa terbengong menatap Kyu Hyun. Kyu Hyun sendiri menjadi khawatir melihatnya.

 

“Hei, Ni kuai kuai ma?” tanya Kyu Hyun sembari menyentuh bahu Hyun Ae lembut. Hyun Ae terkesiap lalu menatap Kyu Hyun dalam.

“Kau.. Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

“Yan Lin, kau tidak mengenaliku? Ini aku, Kui Xian…”

“Kui Xian??”

Sh, Ni de Kui Xian…”

“Benarkah, ini kau Kui Xian??” tanya Hyun Ae sembari menyentuh lembut pipi Kyu Hyun.

“Benar, ini aku.” Jawab Kyu Hyun sembari meraih telapak tanga Hyun Ae dan mengecup punggung tangannya.

 

Hyun Ae pun langsung menghambur ke pelukan Kyu Hyun. Kyu Hyun pun langsung mendekap erat tubuh Hyun Ae seakan ia tidak mau melepaskannya lagi. Ia begitu merindukan gadis ini. Yan Lin kecilnya yang selalu ia rindukan. Sekarang ia benar – benar telah menemukannya. Hyun Ae terisak dalam pelukan Kyu Hyun. Bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Penantiannya selama tiga belas tahun kini terbayar sudah. Kui Xian-nya telah kembali. Akhirnya ia menemukan Kui Xian yang selama tiga belas tahun ini selalu ia nantikan.

Perlahan Kyu Hyun melepaskan pelukan mereka. Lalu ia memakaikan kembali kalung Hyun Ae dan menghapus air matanya.

 

“Kau ini ceroboh sekali. Bagaimana bisa benda sepenting ini bisa jatuh? Untung tadi Zhou Mi Hyung yang menemukannya, kalau orang lain bagaimana?!” omel Kyu Hyun. Hyun Ae langsung memanyunkan bibirnya.

“Apa begini caramu memperlakukan orang yang sudah lama tidak kau temui?” balas Hyun Ae.

“Isshh, kau ini.”

“Kalau ada yang marah, harusnya itu aku!”

“Hee??”

“Iya! Kenapa tiga tahun yang lalu kau tidak datang kemari?! Kau tahu, seharian aku menunggumu di sini, tapi kau malah tidak datang! Kau memang sengaja tidak datang, heh?!” bentak Hyun Ae marah. Ia memang masih marah mengingat Kui Xian yang tidak menepati janjinya itu.

Dui bu qi, mianhae, aku tidak bermaksud untuk tidak menepati janjiku, tapi waktu itu aku mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju bandara.” Jelas Kyu Hyun.

“Kecelakaan?”

 

<flashback>

 

Seoul, 2nd February 2008…

 

Kui Xian yang semenjak pindah ke Korea berganti nama menjadi Cho Kyu Hyun sedang dalam perjalanan menuju bandara. Hari ini ia berniat akan pergi ke China untuk menepati janjinya pada Yan Lin. Ia sudah tidak sabar karena lima belas menit lagi pesawatnya akan berangkat.

 

“Ahjussi, bisa lebih cepat sedikit? Aku sudah terlambat.” Kata Kyu Hyun pada sopirnya. Ia terlihat sangat panic.

“Sabar Tuan Muda, sebentar lagi kita sampai. Jalanan sangat licin karena salju, jadi terlalu berbahaya jika kita mengebut.” Jawab sopirnya.

“Tapi aku sedang terburu – buru!”

“Saya mengerti Tuan Muda, tolong anda bersabar.”

 

Kyu Hyun menghela nafas berat lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran jok mobil. Namun tiba – tiba saja mobil yang ia tumpangi mengalami pecah ban dan selip. Sopirnya berusaha keras mengendalikan laju mobil mereka namun kecelakaan itu tetap tidak bisa terhindarkan. Mobil mereka terbalik beberapa kali dan terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di tengah jalan. Kyu Hyun yang masih setengah sadar merasa tubuhnya seakan remuk. Ia melihat mobilnya yang sudah tidak berbentuk di depannya. Tadi saat mobil mereka terbalik, tubuh Kyu Hyun terlempar dari dalam mobil dan kini tergolek di tengah jalan. Sekujur tubuhnya penuh luka dengan beberapa serpihan kaca menancap di bagian tubuhnya.

 

Tiba – tiba ia teringat kata – kata seseorang. Bahwa konon ketika seseorang berada dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat potongan – potangn kejadian dalam hidupnya, seperti menonton sebuah film yang tidak jelas alurnya. Sekarang ia mengalaminya. Namun anehnya, tiba – tiba ia bisa melihat wajah seseorang dengan jelas. Ia juga bisa melihat senyum dan mendengar suaranya dengan jelas. Seseorang yang sangat ia rindukan. Seseorang yang sangat ingin ia temui. Sekali saja, ia berharap ia masih bisa bertemu dengan orang itu. Ia ingin mengatakan suatu hal padanya. Sekali saja, ia ingin memeluk tubuh orang itu dan mengatakan bahwa ia rindu, ia sangat merindukannya.

 

Kyu Hyun tersenyum getir melihat bayangan – bayangan ilusi yang seolah nyata di hadapannya. Lalu perlahan kegelapan menyelimutinya.

 

<flashback end>

 

“Aku mengalami cidera fatal hingga koma selama hampir satu bulan. Lalu ayahku membawaku ke Amerika untuk pengobatan. Sementara sopirku meninggal dalam kecelakaan itu. Aku merasa sangat beruntung karena masih bisa selamat dari kecelakaan maut itu. Karena saat malaikat maut hendak menjemputku, aku mengatakan bahwa aku masih ingin menemuimu.” Jelas Kyu Hyun menutup ceritanya.

 

Hyun Ae hanya bisa menangis dan menangis mendengar cerita Kyu Hyun. Jadi saat itu ia hampir saja kehilangan Kyu Hyun, kehilangan Kui Xian kesayangannya. Hyun Ae tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya seandainya saat itu Kyu Hyun tidak selamat.

 

Wo xiangnian Ni, qingren…” (*I miss U, Dear) bisik Kyu Hyun lirih sembari menghapus air mata Hyun Ae.

“Maaf…”

“Hemm?”

“Maafkan aku karena aku tidak tahu penderitaanmu…”

“Kenapa harus minta maaf? Yang penting sekarang kita sudah bisa bersama lagi bukan?”

“Jangan lagi pergi meninggalkan aku…” kata Hyun Ae sembari mencengkeram ujung baju Kyu Hyun.

“Tidak akan lagi. Mulai sekarang, kita tidak akan pernah berpisah lagi.” Sahut Kyu Hyun dan kembali merengkuh Hyun Ae dalam pelukannya.

 

Rasanya ia ingin tetap seperti ini. Ia sangat merindukan gadis ini. Dialah alasannya untuk bertahan hidup saat maut berusaha merenggut hidupnya. Karena membayangkan senyum Yan Lin kecilnya lah akhirnya ia bisa membuka matanya kembali. Ia tidak akan pernah melepasnya lagi. Atau ia benar – benar akan mati.

 

==**== FIN ==**==

 

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s