Cake Of Love Part 10

Standar

Author : Hye Ri

~~~~~~~~~~~~~

Cerita sebelumnya :

Aku terdiam. Aku ingin belajar bikin first snow. Karena hanya itu yang dapat mengendalikan perasaanku padanya. Aku harus bilang.

 

“Aku ingin untuk selanjutnya, kita bikin first snow ya ? Bisa kan ?” Pintaku.

Wajah Hye Ri berubah ekspresi. Dia kelihatan tidak yakin.

“Tapi, Unnie, aku nggak tau resepnya. Oppa belum mau memberi tahukan resepnya. Dan menurutku first snow itu susah bikinnya.”

“Ayolah, Hye Ri. Kau pasti bisa. Aku benar-benar ingin belajar membuatnya.” Rengekku. Dia masih kelihatan tidak yakin. Sekarang ia berpikir.

“Emang Unnie pingin belajar First snow kenapa sih ? Kenapa tiba-tiba ?”

 

JDEEENNGG !!!

Apa yang harus aku jawab ???

 

“Aku….”

~~~~~~~~~~~~~~~

—- Hye Ri POV —-

Ada yang aneh sama Seohyun Unnie. Kenapa tiba-tiba dia minta di ajarin bikin first snow ya ? Padahal kami baru belajar hari ini. Dan dia baru belajar cara bikin bolu. Hari ini aku juga merasakan ada yang berbeda dari Unnie. Sepertinya, Unnie baru dapet masalah nih.

Aku harus tahu.

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

“Aku…”

Aku berhenti. Mencoba merangkai kata yang pas untuknya.

“Unnie ada masalah, ya ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku gelagapan.

“Cerita aja, Unnie. Kalo Unnie punya masalah, mungkin aja aku bisa mbantu.” Tawarnya dengan nada meyakinkan. Aku memandangnya dan dia menatap balik padaku. Aku tidak bisa berbohong padanya.

“Sebenarnya, ada… Ini menyangkut Oppamu juga. Kyuhyun…”

 

Aku menceritakan kejadian yang kualami hari ini. Sambil menunggu bolu kami selesai di kukus. Hye Ri mendengarkan ceritaku serius. Dahinya mengerut seperti memikirkan sesuatu.

Kuceritakan semua mulai dari Yoona menangis, aku melabrak Yoo Yi, Yoo Yi menamparku, dan terus sampai Kyuhyun bilang benci padaku. Dan saat itulah aku kembali menitikkan air mata.

“Jadi gitu.” Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya begitu aku selesai cerita. Aku menghapus airmataku. Kenapa aku jadi gampang menangis ya ? Apalagi hari ini.

“Jadi nama Unnie yang Oppa sukai itu, Yoo Yi. Aku jadi ingin tahu seperti apa dia. Dari cerita Unnie, Yoo Yi Unnie itu memang menyebalkan. Tapi kalau dari versi Oppa pasti beda ceritanya.” Dia menatapku penuh arti. “Unnie sabar ya. Aku yakin nggak akan lama. Aku harap besok hubungan Oppa dan Unnie membaik. Setidaknya bisa jadi teman seperti yang Unnie pingin tadi. Ayo Unnie ! Jangan nyerah ! Unnie pasti bisa ! Unnie dapat dukungan dariku 100 persen lho. Hwaiting, Unnie !” Dia menyemangatiku

 

Aku memasang senyuman di wajahku. Menanggapinya yang begitu mendukungku.

“Gomawoyo, Hye Ri. Aku nggak tau bakal jadi apa aku kalau aku tidak bertemu denganmu.” Kami berpelukan. Aku mendekapnya erat.

 

Tak lama, bolu kami jadi. Hye Ri mengangkatnya dan menatanya di piring. Tanpa perlu dihias, kami langsung menyantapnya. Kesan pertama yang kurasakan….

 

“Kuemu banget !!! Ini sih, kau yang buat. Kaya’nya aku nggak mungkin bisa bikin bolu seenak ini.” Kataku pada Hye Ri yang nyengir lebar sambil mulutnya penuh bolu. Kami tertawa bersama.

 

 

Sudah 3 jam aku di rumahnya. Dan sekarang saatnya aku pulang. Setelah membungkus beberapa bolu buatanku *yang sepertinya justru lebih ‘bolu buatanya’*, aku pamit pulang. Rumahnya masih sepi. Maksudku, keluarganya yang lain belum pulang.

“Kau nggak apa-apa aku tinggal ? Nanti kau sendirian lagi.”

Dia menggeleng.

“Aku sudah biasa. Sudah sana, Unnie ! Udah malem. Nanti kemaleman lagi.” Katanya. Aku terkekeh.

 

Dia mengantarku sampai depan gerbang. Setelah memberi tahukanku rute jalan menuju halte bis, aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku melambaikan tanganku sambil berjalan pulang.

“Josimhaseyo, Unnie !” Teriaknya. Aku berbalik dan melambaikan tanganku lagi. Aku akan hati-hati. Tenang saja.

 

Lampu jalan menemani perjalananku menuju halte bis. Walau hari sudah gelap, tapi aku tidak merasa takut. Aku tidak merasa dingin karena angin malam. Aku merasakan kehangatan. Dan aku menyukainya.

 

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

 

Aku mengurangi kecepatan mobilku begitu masuk daerah sekitar rumahku. Rumahku sudah kelihatan. Lho ? Ada Hye Ri di depan gerbang ? Dia melambai pada siapa ?

Aku menyorotkaN lampu mobilku ke arahnya. Refleks, dia menghalangi sorotan lampuku dengan tangannya dan berhenti melambai. Aku memencet klakson dan dia menyingkir. Aku berhenti begitu mobilku melewatinya. Kubuka jendela kaca mobilku dan memanggilnya.

“Hye Ri ah~ Apa yang kau lakukan di sini ?” Tanyaku. Dia mendekat. Ada serpihan adonan dan serbuk tepung di rambutnya.

“Aku habis mengantar temanku pulang. Tumben Oppa udah pulang ? Eomma nggak bareng Oppa ya ?”

Aku menggeleng.

“Eomma bareng sama Appa dan Joo Yeon Noona. Aku masuk dulu.”

“Ne.”

 

Aku sempat melirik sebentar ke arah temannya Hye Ri yang sedang berjalan. Sudah agak jauh dan aku tidak bisa menebak siapa. Sosoknya menghilang di pertigaan. Ia berbelok dan aku sudah tidak bisa mengamatinya lagi. Karena itu, aku segera memarkirkan mobilku setelah itu.

 

Aku berjalan beriringan dengan yeodongsaengku dan begitu masuk rumah, aku langsung menjatuhkan diriku di sofa besar di ruang keluarga. Hye Ri mengikutiku. Kami duduk bersebelahan. Ia menyalakan tv dan langsung mencari channel kartun kesukaanya, Spongebob.

“Kau tadi habis bikin kue, ya ?” Aku memulai percakapan. Hye Ri hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.

“Sama temenmu tadi ? Siapa dia ? Aku kok sepertinya belum pernah lihat ?”

“Temen baru kok.” Jawabnya masih sambil menatap tv. Dasar adikku.

 

Tapi, aku sepertinya tidak asing dengan gadis temannya Hye Ri itu. Postur tubuhnya seperti sering kulihat. Siapa ya ?

 

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

 

Hari ini Kamis. Sebenarnya, tidak ada latihan hari ini. Tapi, aku mau ke sekolah untuk bertemu dengan wakil kepala sekolah untuk mengganti uang kaca jendela gedung sekolah yang pernah kupecahkan waktu itu. Malas sebenarnya.

Tapi, aku baru dapat sms dari Hye Ri kalau Kyuhyun ke sekolah. Wah, aku langsung semangat mau ke sekolah. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya. Pertemuan yang baik semoga.

Dan aku, siap berangkat.

 

 

Aku sampai sekolah juga akhirnya. Hari inipun, walau libur, sekolah tetap saja ramai. Sunny dan Soo Young tidak kuajak hari ini. Aku tidak ingin mereka tahu kalau aku ke sini adalah untuk bertemu dengannya. Aku masih belum siap memberitahu mereka tentang hal ini. Cukup aku dan Hye Ri saja yang tahu.

 

Tempat pertama yang kudatangi tentu saja ruang wakil kepala sekolah. Hari ini aku diminta datang siang hari. Dan sekarang sudah hampir waktu makan siang. Aku tidak yakin, Pak Wakil Kepala Sekolah ada di ruangannya. Tapi mau bagaimana lagi. Aku harus bertemu dengannya sih.

Kuketuk pintu dan membukanya perlahan. Ternyata Pak WaKa ada di dalam. Aku pun masuk dan segera menyelesaikan urusanku dengannya. Aku tidak ingin lama-lama.

 

“Aku mau ngapain ya ? Mau pulang juga nanggung. Ke kantin aja deh.” Aku berbicara pada diriku sekeluarnya aku dari ruang WaKa. Aku pun pergi meninggalkan ruang WaKa menuju kantin yang pasti ramai.

Aku tiba di kantin. Tuh kan, benar apa kataku. Kantin pasti ramai. Aku langsung saja memesan makanan. Untung nggak ngantri. Kalau ngantri, hmm, bisa kurus duluan deh. Habis, laper banget sih.

Begitu selesai memesan makanan, aku memilih bangku yang berada di dekat jendela, tempat kesukaanku. Sambil menerawang keluar, aku merenung. Mencari cara bagaimana aku bisa dekat dengan Kyuhyun. Apa aku juga harus minta maaf duluan. Tapi untuk apa ? Kejadian kemarin ? Idih, aku nggak sudi kalau itu.

Pesananku tiba. Setelah mengucapkan terima kasih pada bu kantin yang mengantarkan makananku, aku berdoa lalu mulai menyantap makanan dihadapnku ini. Tiba-tiba aku merasakan perasaanku tidak enak. Bukan karena makanannya. Aku merasa aku seperti di awasi. Aku merasa seseorang menatapku tapi aku tidak tahu siapa dan di mana dia.

Aku menolehkan kepalaku ke semua arah dan mencoba mencari siapapun yang sedang mengawasiku itu. Apa ini cuma perasaan saja ya ? Sepertinya aku tidak melihat siapapun yang mencurigakan. Aku mengangkat bahu dan mulai meneruskan makanku. Aku coba menghilangkan prasangka yang merayapi hatiku. Ah, itu cuma perasaan.

 

Aku berniat pulang setelah ini. Maksudku setelah membayar makananku ini. Tapi, sepertinya aku harus ke toilet dulu. Dan kurasa aku memang perlu ke sana.

Kubayar makananku tadi dan langsung menuju toilet yang biasa. Tapi, entah darimana, tiba-tiba perasaan itu datang lagi. Perasaan yang kurasakan di kantin tadi. Aku berhenti lalu menengok kebelakangku, tapi tidak ada siapapun. Aku kembali berjalan lagi. Kupelankan langkahku. Sepertinya memang ada yang mengikutiku. Aku menoleh lagi dan tetap saja kosong. Lorong ini kosong seperti sebelumnya. Hanya ada beberapa anak yang berlalu lalang dan itupun jauh.

Ah, sudahlah. Mungkin memang perasaanku saja.

 

“Segar sekali.” Kataku. Aku membasuh wajahku lalu melihat pantulan bayanganku di cermin. Aku lupa bilang kalau hari ini, aku memakai pakaian biasa. Bukan kaos seragam bola atau kaos latihan. Seperti yang biasanya. Dan aku baru sadar kalau aku sebenarnya cukup manis dengan pakaian seperti ini. Hehehe, percaya diri banget ya ???

Perasaan tadi sudah hilang. Maksudku, aku sudah tidak mau peduli lagi. Memang akunya yang lebay tadi. Buktinya kan tidak ada yang menunjukan kalau aku memang diawasi dan diikuti.

Aku mengeringkan wajah dan tanganku dengan sapu tangan yang biasa kubawa. Setelah merapikan rambutku yang digerai, aku keluar dari toilet.

Aku membuka pintu toilet dan tiba-tiba 3 orang gadis menghadangku.

“Permisi. Maaf, aku mau lewat.” Aku mendesak mereka. Aku memang mau lewat kok. Harusnya mereka bisa minggir kan ? Tapi mereka tetap tidak bergeming. Aku kesal sendiri.

“Aku mau lewat. Bisa minggir sedikit tidak sih ? Permi…, Auw !” Aku terus mendesak sampai salah satu diantara mereka mendorong bahuku kencang. Aku terdorong dan mundur beberapa langkah sampai menabrak pintu toilet. Mereka mengerubungiku.

“Apa maksudmu kemarin, hah ?!” Bentak gadis yang persis di depanku.

“Kau menyakiti Yoo Yi kami. Kau nggak sepantasnya berbuat seperti itu padanya. Apa maumu, hah ?!” Yang lain mulai bicara.

Aku cuma bisa menganga tidak percaya. Apa maksudnya ini semua ?

“Kau mau merebut Kyuhyun dari Yoo Yi, kan ?? Kau harus berhadapan dengan kami dulu sebelumnya. Kami benci orang-orang sepertimu yang berani menyakiti Yoo Yi. Rasakan ini !” Yang berada di sebelah depan kananku menarik rambutku kencang.

“AAAUUW !!!” Aku memekik. Ya ampun ! Sakit sekali.

“Rasakan ini ! Kau harus terima akibatnya !” Mereka mulai mengeroyokku. Ada yang menarik rambutku, menendangku, mendorong-dorongku, pokoknya menyiksaku.

 

Aku mencoba berontak. Tapi mereka jauh lebih kuat. Aku tidak bisa lebih melawan. Tapi aku terus berontak dan membela diriku. Sampai salah satu diantara mereka menamparku sangat keras.

PLAAKK !!!

Bibirku terluka. Dan kini sudah mulai berdarah dan aku bisa merasakan asinnya darah itu di mulutku. Aku meringis. Aku mengusap darahku dengan sapu tangan yang masih kugenggam sejak tadi. Perih sekali. Dan sekali lagi, airmataku menetes.

Mereka berhenti menyiksaku. Tapi deru napas marah masih terdengar dari mereka.

“Siapa kalian ? Apa mau kalian ? Apa salahku sampai-sampai kalian harus berbuat begini padaku ? Hah ?! Siapa kalian ?!” Aku menjerit. Salah satu dari mereka yang paling tinggi dan berkulit kecoklatan maju lalu mencengkram wajahku.

“Kau tidak perlu tahu siapa kami. Tapi kami di sini untuk membalas perlakuanmu kepada Yoo Yi kemarin. Dan kau juga berusaha merebut Kyuhyun dari Yoo Yi, kan ? Mengaku saja ! Kami tidak akan berhenti sampai kau menyerah.”

Aku mendesah.

“Hah ! Ternyata Yoo Yi itu pengecut. Kenapa dia tidak langsung berhadapan denganku saja ? Dan kalian…, kalian terlalu payah. Mau-maunya membela orang licik sepertinya. Hanya segini ? Kutanya, hanya segini kemampuan kalian ?” Tantangku.

“APA KATAMU ??!!!” Mereka mendorongku. Salah satu dari mereka memelintir tanganku dan menarikku. Aku menjerit kesakitan. Sapu tanganku yang kugenggam terjatuh.

Mereka menggeretku menuju gudang belakang dan mendorongku masuk kesana. Aku jatuh menabrak kardus-kardus. Mereka segera menutup pintu gudang itu dan menguncinya. Mengurungku di dalam sini.

Aku menjerit-jerit. Gudang ini berada di luar gedung. Aku menggedor-gedor pintunya. Aku dapat mendengar tawa mereka yang semakin lama semakin pelan dan kutahu sekarang aku sendirian. Mereka pergi dan aku terkurung di sini. Dikurung di sini tepatnya.

Di sini gelap. Tidak ada lampu. Aku berhenti menggedor pintu dan menjerit. Kini aku terduduk sambil memeluk lututku. Aku menangis sekencang-kencangnya. Air mataku terus mengalir dan napasku menjadi sesak. Aku takut sekali berada di sini.

Aku ingin keluar. Seseorang tolong aku.

“TOLOONG !!! SIAPAPUN TOLONG BUKA PINTUNYA !!!!!”

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

Aku sedang berberes ketika Sungmin datang membawa beberapa majalah masakan yang ia pinjam dari perpustakaan. Ia meletakkan majalah itu di dekatku.

“Kyunnie, ini majalah yang kau minta. Kita jadi pulang sekarang, kan ? Sore ini mendung sekali. Aku takut kalau hari ini hujan deras. Kau kan nggak bawa mobil. Nanti kalau hujan, kita susah pulangnya.” Sungmin nyerocos. Aku menghela napas.

“Aku tahu, Sungmin. Makanya, daripada kau nyerocos seperti itu terus, kau bantu aku saja membereskan meja. Bersihkan yang sebelah sana saja. Sana cepat !” Suruhku sambil menunjuk meja yang berada di dekat jendela di ruang tata boga ini.

Aku baru saja selesai membuat satu resep baru hari ini untuk persiapan kontesku. Baru resep sih, belum kupraktekan. Aku coba saja nanti dirumah. Aku melihat jam yang terpasang di dinding di atas pintu. Sudah jam 3. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela dan melihat keadaan yang memang agak gelap. Benar kata Sungmin, sekarang mendung.

“Sudah, Kyunnie. Ayo, kita pulang !” Ajak Sungmin. Ia memakai tasnya dan mengajakku pergi. Aku mengambil tasku. Kami keluar ruang tata boga. Aku mematikan lampu sebelum keluar dan sempat mengitari pandangan sebelum akhirnya kututup pintu ruangan itu.

 

Kami sudah sampai gerbang sekolah ketika tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menepeuk dahiku.

“Aaiisshh !!”

“Waeyo, Kyunnie ?” Tanya Sungmin.

“Aku meninggalkan majalah-majalah yang kau bawa tadi di ruang tata boga. Aigoo~ aku ambil dulu ya. Oh iya, aku sekalian ke toilet juga deh. Kau duluan saja. Dadah…” Aku berlari menuju gedung sekolah lagi. Padahal kami sudah sampai gerbang dan untuk sampai ke ruang tata boga itu lumayan jauh.

“Ya, Kyunnie !!! Jangan lama-lama !!!” Sungmin berteriak. Kubalas dengan teriakan mengiyakan.

 

Aku sudah berada di dalam gedung sekolah dan langsung menuju ruang tata boga. Tapi, kurasa harus kubatalkan. Karena sepertinya aku harus ke toilet dulu. Aku terus berlari melewati ruang tata boga langsung menuju toilet.

Aku mencuci tanganku dan mengeringkannya dengan sapu tangan yang biasa kubawa. Leganya. Setelah kurapikan rambutku dengan jari, aku bergegas keluar toilet dan menyusul Sungmin.

Baru beberapa langkah, aku merasa aku baru saja menginjak sesuatu. Kuangkat kakiku dan kutemukan sebuah sapu tangan berwarna biru muda yang tidak sengaja kuinjak. Aku mengerutkan keningku lalu memungutnya. Siapa yang membuang sapu tangan ini ? Masih bagus padahal, pikirku.

Aku membolak-balikannya dan aku sangat terkejut ketika aku menemukan sesuatu di sapu tangan itu. Bercak darah.

“Darah ?”

Aku mengerutkan keningku lagi. Ada bercak darah di sapu tangan itu dan darah itu masih jelas terlihat baru. Masih merah dan segar.

“Tapi, milik siapa sapu tangan ini ?” Tanyaku lagi. Penasaran, kubalikkan lagi sapu tangan itu dan menemukan jawaban dari pertanyaanku barusan.

 

DEG !!!

 

Ada nama pemiliknya di sapu tangan itu. Dan ketika kubaca siapa, jujur aku terkejut sekali. Dan namanya adalah…, Seo Joo Hyun ?

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

Di sini sangat gelap. Dan aku takut sekali. Aku benci gelap seperti ini. Kenapa mereka tega sekali berbuat ini padaku ? Aku tidak pernah berurusan dengan mereka, kenapa mereka melakukan semua ini padaku ? Tiba-tiba, sebuah benda jatuh di depanku dengan bunyi keras.

 

“AAAAAAAAAAAA……… !!!!”

 

Aku menjerit ketakutan. Jujur, aku takut sekali berada di sini. Banyak gossip yang bilang bahwa gudang ini angker. Beberapa tahun lalu pernah ada cerita kalau ada seorang siswi sini yang bunuh diri di sini dan arwahnya masih gentayangan di sini. Aku pernah diceritakan pengalaman teman-temanku yang lewat di dekat janitor ini dan katanya mereka pernah melihat seseorang di dalam sini, dan dia adalah arwah gadis itu. Aku merinding mengingatnya.

Sejak di kurung di sini, aku hanya bisa menangis sambil menunduk dan memeluk lututku. Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di dalam sini. Aku sudah mencoba menghubungi siapapun. Sunny, Soo Young, bahkan Hye Ri pun sudah kucoba hubungi. Sialnya, ternyata baterai Handphoneku mati dan sekarang tidak berguna lagi. Hanya satu harapanku dari tadi. Seseorang, siapapun itu, ada yang sadar kalau aku terkurung di sini.

 

Aku makin erat memeluk lututku dan makin erat juga memejamkan mataku. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku haus. Tenggorokanku sakit akibat kebanyakan menjerit dan berteriak meminta pertolongan. Dan sampai saat ini belum ada yang menolongku. Airmataku habis. Tapi, aku tidak bisa berhenti menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang selain terus berharap.

Badanku sakit semua. Mungkin sekarang badanku penuh memar dan bengkak akibat perlakuan mereka tadi. Aku menahan sakitnya. Aku, sudah tidak kuat lagi.

“Aku mohon tolonglah aku…”

Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang berlari. Kurasa mendekati janitor. Aku mendongakkan kepalaku.

“Ya ! Ada orang di dalam ?!”

Teriak seseorang dari luar. Suaranya seperti seorang namja (cowok). Aku melebarkan mataku bahagia begitu mengetahui ada yang sadar aku di sini.

Aku harus memintanya menolongku. Siapapun itu…

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

Seo Joo Hyun ???

Sapu tangan ini miliknya ? Bagaimana bisa ada di sini ? Apa dia tidak sengaja menjatuhkannya ? Apa yang dilakukannya hingga bisa ada darah di sapu tangannya ini ? Seohyun… ?

 

Aku sedang bergulat dengan pikiranku sendiri ketika sebuah jeritan tiba-tiba terdengar dari arah luar. Aku langsung bergegas menuju kesana. Lewat pintu keluar dekat toilet yang menuju kebun belakang sekolah yang terdapat kebun tanaman obat dan kandang kelinci.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kebun belakang sekolah. Tidak ada siapapun. Tapi aku benar-benar mendengar seseorang menjerit dari sini. Entah darimana datangnya, tiba-tiba aku punya pikiran kalau seseorang yang menjerit itu asalnya dari ruang itu. Gudang belakang.

Aku mendekatinya dengan langkah perlahan dan waspada. Mataku awas mengamati pintu ruangan itu. Aku tahu rumor tentang ruangan itu. Tapi aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh tentangnya karena aku yakin sekali kalau ada seseorang di dalam sana.

Kuberanikan diriku.

“Ya ! Ada orang di dalam ?!” Tanyaku dengan agak sedikit berteriak. Awalnya sepi sampai tiba-tiba kudengar ada jawaban dari dalam. Memang benar ada orang di dalam sana.

“Iya ! Tolong aku ! Aku mohon keluarkan aku dari sini ! Cepat tolong aku !” Jawab seseorang dari dalam sana. Suara seorang yeoja (cewek). Nadanya terdengar ketakutan dan memohon. Aku mengerutkan kening lagi.

Aku kenal suara ini. Jangan-jangan…

 

“Seohyun… ?” Panggilku.

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

“Ya ! Ada orang di dalam ?!” Tanyanya.

 

Mendadak, semua keberanian muncul lagi dalam diriku. Aku harus memberitahunya aku di sini. Aku berdiri dan mendekati pintu.

“Iya ! Tolong aku ! Aku mohon keluarkan aku dari sini ! Cepat tolong aku !” Jawabku sekeras mungkin.

Tak terasa, airmataku menetes lagi. Aku menangis lagi namun tangis bahagia karena ada seseorang yang pasti akan menolongku dari sini saat ini juga.

“Seohyun ?” Panggil namja itu. Aku tersentak. Bagaimana dia tahu kalau aku yang terkurung di sini ?

Aku kaget sekali. Siapa orang itu ?

“Kau Seohyun, kan ?” Tanyanya lagi. Aku cepat-cepat menjawab.

“Iya. Aku Seohyun. Kumohon, siapapun dirimu, cepat tolong aku ! Cepat keluarkan aku dari sini ! Aku takut !”

“Pintunya terkunci. Tidak bisa kubuka. Tunggu ! akan kudobrak saja. Chamkanman ……”

“Siapa kau ?” Tanyaku dari dalam. Pertanyaan interupsi. Jujur, aku penasaran sekali dengan cowok itu. Tapi, aku seperti merasa ia tidak asing walau aku belum melihatnya.

Tak ada jawaban. Tapi aku yakin dia masih ada di sana. Aku menunggu dengan pikiran kacau dan sebuah jawaban muncul tiba-tiba saja di kepalaku. Apa mungkin dia…

 

“Kyuhyun … ? Kau Kyuhyun, ya ?”

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

“Pintunya terkunci. Tidak bisa kubuka. Tunggu ! akan kudobrak saja. Chamkanman ……” Aku bersiap-siap. Tapi, dia memotongku dan membuatku berhenti bertindak.

“Siapa kau ?” Tanyanya dari dalam.

 

DEG !

 

Aku tersentak. Aku harus jawab apa ? Aku dan dia bermusuhan. Dan menolong bukan salah satu yang dilakukan orang yang sedang bermusuhan. Tapi, entah kenapa aku ingin sekali menolong gadis itu. Aku pun tidak tahu kenapa.

“Aku…”

“Kyuhyun… ? Kau Kyuhyun, ya ?” Tebaknya. Aku terdiam lagi. Telak. Dia tau aku ? Bagaimana ?

 

“Kyuhyun, kumohon !! Aku tahu kau membenciku. Aku tahu hubungan kita tidak baik, tapi kumohon sekali padamu, tolong keluarkan aku dari sini ! Aku takut sekali di sini. Kumohon…” Pintanya dengan nada memelas.

Aku masih diam. Terngiang akan kalimat yang ia katakan barusan. “Aku tahu kau membenciku. Aku tahu hubungan kita tidak baik, tapi kumohon sekali padamu, tolong keluarkan aku dari sini !”. Membencinya ? Aku memang membencinya, tapi tidak saat ini. Entah kenapa semua rasa benciku padanya hilang dan aku ingin sekali menolongnya. Aku tidak membencinya. Aku tidak ingin membencinya lagi.

Aku memejamkan mataku. Aku tidak bisa ! jeritku dalam hati. Aku memang membencinya. Setelah semua yang ia lakukan padaku. Pada Yoo Yi. Dan pada hidupku akhir-akhir ini. Dia merusak semua.

Tapi aku harus menolongnya sekarang. Aku ingin menolongnya. Aku tahu bagaimana rasanya terkurung di dalam sana. Di tempat yang menyeramkan, gelap, dan tidak terawat. Aku pernah merasakannya. Dan aku yakin dia merasakan apa yang pernah kurasakan waktu itu. Beberapa tahun lalu. Itu tak perlu kubahas, karena ku sudah melupakannya.

“Kau masih di sana kan, Kyuhyun ? Aku mohon sekali padamu…” Pintanya lagi. Aku tidak bisa menahannya. Aku harus menolongnya kali ini, walau aku tahu bagaimana perasaanku padanya. Walaupun aku membencinya.

Aku mengambil ancang-ancang.

“Seohyun ah~ ! Mundurlah ! Aku akan mendobrak pintunya ! Minggirlah !” Perintahku. Aku menarik napas panjang dan…

 

BRAAKK !!!

 

Aku berhasil mendobraknya. Dan aku mendengar dia menjerit saat kudobrak. Aku terbatuk-batuk begitu pintu berhasil kudobrak. Debu gudang itu mengepul di sekitarku. Membuatku terbatuk dan tiba-tiba…

Dia berlari menembus kepulan debu itu dari dalam dan langsung memelukku. Memelukku ? Iya. Memelukku tiba-tiba. Aku jelas kaget dan shok saat itu. Dia memelukku erat dan dia menangis. Sambil memelukku.

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

BRAAKK !!!

 

Kyuhyun berhasil mendobrak pintu gudang ini. Kepulan debu sontak keluar dan membuatnya terbatuk-batuk. Aku bisa mendengarnya. Aku juga terbatuk di dalam sini. Gudang ini tidak lagi gelap. Dan aku bisa melihat sosok yang-sangat-ingin-kutemui itu dari sini. Sosok yang telah menyelamatkanku.

Airmataku mengalir semakin deras. Aku menangis. Bahagia. Bahagia karena aku bisa keluar dari tempat menyeramkan ini. Bahagia karena aku bisa melihat cahaya lagi. Bahagia karena ada seseorang yang menyelamatkanku. Dan lebih bahagia karena yang menolongku adalah dia. Cho Kyuhyun. Seseorang yang-sangat-ingin-kutemui itu.

Aku bergegas keluar dari gudang itu. Masih sambil menangis kuterobos kepulan debu dan langsung menujunya. Langsung memeluknya. Memeluk tubuhnya. Aku bahagia dia menyelamatkanku. Dan aku menangis sambil memeluknya. Menangis di dadanya.

 

“Seohyun … ?” Panggilnya.

“Gomawo…” Ucapku di tengah-tengah tangisku. “Terima kasih sudah menyelamatkanku …, Kyuhyun.”

 

Dan aku masih menangis. Bahagia.

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

Dadaku sakit. Jantungku berdetak lebih cepat. Sangat cepat malah. Tidak seperti biasanya. Apa karena ini adalah pertama kalinya aku dipeluk seorang yeoja ? Maksudku selain Eommaku, Noonaku, dan yeodongsaengku. Baru kali ini ada yeoja yang memelukku. Dan jantungku, aku bahkan bisa mendengar dan merasakan detaknya yang sangat cepat.

Aku terpaku. Aku hanya bisa berdiri diam seperti ini dan membiarkan diriku dipeluknya. Membiarkan airmatanya membasahi bajuku. Apa ini yang kuinginkan ? Kyuhyun, ingat kau membencinya !! Sebuah suara terdengar di kepalaku. Aku tidak tahu siapa.

 

“Seohyun…” Panggilku. Aku berniat melepaskan pelukannya.

“Gomawo…” Katanya tiba-tiba. Suaranya terdengar lirih dan tangisnya masih belum berhenti.

Niatku melepaskan pelukannya, tiba-tiba hilang entah kemana. Begitu dia mengucapkan terima kasih yang lirih itu, aku seperti merasa tidak pernah membencinya. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Aku benar-benar tidak tahu.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku…, Kyuhyun.” Lanjutnya. Aku semakin terpaku mendengar ucapannya. Ucapan yang tulus. Seolah dia tidak pernah membenciku atau bermusuhan denganku. Seolah kami adalah teman. Seolah kami tidak pernah berada dalam hubungan yang tidak baik.

 

Aku terenyuh. Entah darimana datangnya keinginan ini, begitu ingin aku membalas mendekapnya. Menenangkannya dalam pelukanku. Dan akhirnya kulakukan. Kuangkat lenganku dan kudekap dirinya. Kudekap dirinya erat dan kupejamkan mataku. Rasa benciku yang kujaga menguap. Hilang bersama tiupan angin yang mulai kencang. Dan aku merasakan bahagianya tidak lagi membencinya.

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

Tangisku belum berhenti dan aku masih memeluknya. Erat. Aku berharap dia bisa menenangkanku. Aku berharap.

Tiba-tiba, dia mendekapku. Ikut memelukku.

 

DEG !!!

 

Dia memelukku. Maksudku, membalas pelukanku. Jantungku berdetak makin kencang dan dadaku sesak. Hatiku berbunga. Perasaanku membuncah dan terasa seperti ingin keluar dari diriku. Aku bahagia.

Dia mengelus kepalaku. Menenangkanku yang justru semakin kencang menangis. Menangis bahagia. Dan yang kutahu saat ini adalah, kami berpelukan.

 

Aku menikmati saat ini. Saat aku berpelukan dengannya yang-sangat-ingin-kutemui. Saat aku berpelukan dengannya, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin ini selesai. Aku ingin seperti ini selamanya.

 

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

 

Kami berpelukan. Aku menenangkannya. Kuelus rambutnya dan kubiarkan dia menangis. Menangis dalam pelukanku sekarang. Aku ingin dia tenang. Dan lama-kelamaan, tangisnya berhenti dan menjadi isakan kecil.

Entah kenapa, aku justru senang. Bisa memeluknya dan menenangkannya saat ini. Aku merasa seperti waktu berhenti. Jujur, aku tidak ingin ini selesai begitu saja. Aku masih ingin seperti ini. Menenangkannya dalam keadaan seperti ini. Menjadi pelindungnya saat ini.

 

Aku tahu. Aku tidak lagi membencinya.

 

Baru mau kutanyakan bagaimana keadaannya, tiba-tiba hujan turun. Tidak gerimis, namun langsung deras. Aku melepaskan pelukanku.

“Hujan ! Ayo masuk !” Aku menarik tangannya. Membawanya berlari bersamaku memasuki gedung sekolah dan meninggalkan tempat itu.

 

Kami sudah berada di dalam gedung sekolah. Aku mengajaknya ke depan. Kami berlari melewati lorong ke pintu gedung depan. Melewati ruang tata boga. Masih sambil menarik tangannya dan mengajaknya berlari, kami berlari menuju pintu gedung depan dan pemandangan yang tidak kami inginkan terlihat jelas bahkan dari sebelum kami sampai pintu depan.

Aku terengah lalu menghela napas kecewa. Seohyun sama saja. Aku menatap kecewa. Hujannya sangat deras. Bahkan aku sudah tidak bisa melihat gerbang lagi saking deras, gelap, dan pekatnya hujan kali ini. Tidak perlu waktu lama untuk membuat halaman depan gedung banjir. Walaupun hanya semata kaki.

Aku beralih ke Seohyun yang juga menatap kecewa ke depan. Dia masih terisak-isak walaupun sudah tidak menangis lagi. Napasnya masih berantakan.

“Kau tidak apa-apa, kan ? Sepertinya kita terjebak hujan. Deras sekali. Kau yakin tidak apa-apa kan ?” Aku memegang bahunya. Memastikan dia baik-baik saja. Masih sambil mengatur napasnya, dia menggeleng. Menandakan dia tidak apa-apa, dia baik-baik saja.

“Ikut aku !” Aku menarik tangannya lagi dan membawanya ke suatu tempat.

 

Tempat yang awalnya ingin kudatangi tadi.

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

Aku mengatur napasku. Dia mengajakku berlari dari belakang saapi ke sini, ke pintu depan. Pemandangan tidak mengenakan langsung menyambut. Hujan deras dengan angin kencang dan petir mendera. Jarak pandangku tidak bisa jauh karena pekatnya hujan kali ini. Aigoo~ gimana aku bisa pulang ?

Aku mencuri pandang ke orang di sebelah kananku, Cho Kyuhyun. Dia sedang menatap lurus dengan pandangan kecewa. Aku tahu, dia kecewa karena hujan sderas ini. Aku kembali menatap depan.

Dia memegang bahuku tiba-tiba. Aku jelas kaget dan spontan menengok dan melihat tangannya yang sedang memegang bahuku.

“Kau tidak apa-apa, kan ? Sepertinya kita terjebak hujan. Deras sekali. Kau yakin tidak apa-apa kan ?” Tanyanya. Nadanya terdengar memastikan keadaanku. Aku menggeleng menandakan aku baik-baik saja.

Dia melihat ke arah gerbang yang tidak terlihat lagi, lalu menggenggam pergelangan tanganku.

“Ikut aku !” Dia menarikku lagi. Membawaku ke suatu tempat. Jalannya cepat dan membuatku sedikit tersandung beberapa kali. Langkahku tersaruk.

Dia mau membawaku ke mana ? Tanyaku dalam hati.

 

Dia membuka sebuah pintu ruangan dan menyalakan lampu ruangan itu. Ruang tata boga ternyata. Dia mengajakku masuk.

“Kita tunggu hjan redanya di sini saja. Di sini hangat dan kering kan ?” Tanyanya retoris. Dia melepas genggamannya padaku dan menuju sebuah meja di tengah. Dia menaruh tasnya di sana. Aku berdiri terpaku. Memandangi ruangan tata boga ini.

Aromanya tetap enak walaupun tidak ada yang sedang memasak. Aku melangkah perlahan menuju meja di tengah itu. Kyuhyun sedang berdiri membelakangiku. Sepertinya ia sedang membuka sebuah majalah. Dan aku bertaruh itu pasti majalah masakan.

Aku mendekat dan melongok. Tuh kan, benar. Dia sedang membuka sebuah majalah masakan. Aku merasa kikuk sekali sekarang.

“Taruh saja tasmu di meja ini.” Katanya tanpa menoleh padaku. Ia masih sibuk membolak-balikan halaman majalah. Aku cuma menurut dan menaruh tasku yang tidak seberapa besar di dekat tasnya. Aku mengedarkan pandanganku mengitari seisi ruang tata boga ini. Ruangan ini lumayan luas, bersih lagi.

 

“Aduh !” Aku setengah memekik ketika sikuku tidak sengaja menyenggol lemari ketika aku sedang berjalan melihat-lihat ruang ini. Aku melihat sikuku dan ternyata ada luka dan aku baru menyadarinya. Pasti karena di siksa gadis-gadis kejam tadi. Aigoo~ sakit sekali.

Kyuhyun yang awalnya sibuk membuka-buka halaman majalah, sontak menoleh ke arahku dan menghampiriku. Aku meniup-niup lukaku. Tiba-tiba dia menarik tanganku lagi dan menyuruhku duduk. Lebih tepatnya memaksaku duduk di salah satu meja.

Tanpa bicara apapun lagi, dia berjalan ke salah satu kotak yang tergantung di dekat pintu masuk. Kotak P3K. Ia mengambil kapas, antiseptik, gel luka, dan plester lalu menghampiriku lagi.

“Kesinikan lenganmu !”

“Mau kau apakan ?” Tanyaku agak kurang percaya. Dia berdecak dan langsung menarik lenganku. Ia duduk di sampingku. Lenganku di genggamnya. Aku tidak percaya dia akan mengobati lukaku.

 

Dia menuangkan antiseptik ke kapas dan mengoleskannya ke lukaku. Setelah itu ia mengoleskan gel luka di atas lukaku dan meniupnya berkali-kali sampai kering.

Aku memandanginya yang sedang mengobati lukaku. Dia menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang kulihat ketika dia bernyanyi waktu itu di café. Sisinya yang sangat kusukai. Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi hari ini. Berbeda sekali dengan kemarin. Tapi aku senang.

Dia melakukan langkah terakhir, memplester lukaku. Dia tersenyum kecil. Sayang, aku tidak bisa melihat sepenuhnya. Aku masih menatapnya. Hatiku berbunga-bunga. Tuhan mengabulkan harapanku. Harapanku untuk bisa dekat dengannya. Hari inilah terjadinya. Aiih…, neomu joa.

“Nah, sudah selesai.” Katanya. Dia membereskan semua yang dia ambil daro kotak P3K dan mengembalikannya lagi. Lalu, tanpa menengok lagi padaku, dia melewatiku begitu saja menuju majalahnya lagi. Mataku mengikutinya terus.

 

Aku menghela napas. Dia masih saja dingin padaku. Padahal tadi dia kan……, ah, aku malu sekali mengingatnya. Aku turun dari meja yang kududuki dan berjalan menuju ke arahnya. Aku mendekatinya, walau masih menjaga jarak sih. Habis aku jadi canggung banget sejak dipeluk dia tadi. Aku beranikan melihat wajahnya yang sedang serius.

“Eumm, terima kasih banyak, ya. Kau sudah menolongku keluar dari gudang itu. Kau juga sudah mengobati lukaku. Makasih banget, ya.” Kataku. Kubuat sepelan dan sesopan mungkin. Dia tidak bergemin. Masih sibuk membolak-balik halaman majalah itu. Aku serasa dicuekin *memang kenyataanya sih.* Aku menghela napas.

Tiba-tiba dia berhenti lalu menoleh ke arahku yang berdiri menghadapnya. Dia mendongak karena dia duduk di bangku dan aku berdiri. Dia menatapku langsung dan sempurna membuatku membeku. Aku kikuk.

Tanpa bicara sepatah katapun, dia tiba-tiba berdiri lalu mendorongku duduk di bangkunya. Ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah sapu tangan yang tidak asing di mataku.

“Sapu tanganku ? Bagaimana bisa ada padamu ?” Tanyaku bingung sambil menatapnya. Kini aku yang agak mendongak karena dia yang tinggi berdiri tepat di hadapanku.

“Kau menjatuhkannya atau membuangnya ? Aku temukan di depan toilet. Lihat wajahmu ! Kau sadar tidak sih kalau wajahmu sudah seperti bagian bawah wajan yang menghitam karena terlalu sering dipakai untuk masak ?” Dia menyindirku. Sebuah senyum remeh muncul di wajahnya.

Aku spontan mengusap wajahku dengan jari dan begitu kulihat di jariku, jariku menghitam. Aku mendongak lagi.

“Wajahku… ?”

“Pasti karena terlalu lama di dalam gudang tadi. Oh iya, di dalam sana tadi tidak ada yang mengganggumu kan ?” Tanyanya lagi. Kali ini nadanya dibuat sedikit menakut-nakuti. Aku langsung tegang mengingat kejadian tadi.

“Aa…, aku…, aku rasa tidak.”

“Jadi gadis itu tidak muncul, ya ? Hmm, padahal kau bisa saja menemaninya di sana, ya kan ?”

Terlintas pikiran-pikiran aneh di kepalaku. Aku langsung merinding.

“Ap…, apa maksudmu ? Jangan menakut-nakutiku, ah ! Eh, kemarikan sapu tanganku ! Aku mau menghapus debu di wajahku nih.” Aku menengadahkan tanganku meminta sapu tanganku kembali. Dia memberikannya padaku.

 

Aku baru mau menghapus kotoran di wajahku jika saja dia tidak tiba-tiba menahan tanganku.

“Jangan. Jangan pakai sapu tanganmu.” Dia mengusapkan sapu tangannya ke wajahku. Membersihkannya secara perlahan. Aku terperangah. “ Sapu tanganmu ada bekas darahnya. Pakai saja sapu tanganku. Yup, sudah.” Lanjutnya. Ia selesai membersihkan wajahku.

“Nanti cucilah dengan air. Di sana ada wastafel.” Dia menunjuk arah belakangku.

Aku mematung. Terkejut melihat perlakuannya padaku barusan. Bagaimana bisa dia… ? Tidak mungkin !

 

Aku tidak percaya ia melakukan ini padaku.

“Gamsahamnida.” Ucapku lirih. Aku menunduk. Tidak berani lagi menatapnya. Aku benar-benar terkejut dengan hal ini.

“Aku ingin mengajukan pertanyaan padamu. Kau harus menjawabnya !” Paksanya. Aku yang masih mengatur hatiku saat ini belum bisa fokus. Aku hanya bisa mengangguk.

 

“Baiklah. Pertama, kenapa kau bisa terkurung di gudang itu ? Siapa yang mengurungmu ? Kenapa sapu tanganmu ada noda darahnya ? Dan mengapa bibir dan sikumu bisa luka ? Hanya itu. Oh, satu lagi. Apa yang kau lakukan di sekolah padahal aku tahu hari ini klub sepak bola putri tidak latihan, kenapa kau kesekolah ?”

 

Aku menggigit bibirku. Lumayan juga pertanyaanya. Lumayan membuatku harus memutar otak. Kalau aku ceritakan semua ini ulah Yoo Yi, dia bisa makin benci padaku. Kalau kukarang saja, mungkin nggak ya dia percaya ? Akhirnya kuputuskan untuk mengarang alasan.

“Aku ke sekolah untuk memberikan uang ganti rugi atas kaca jendela ruangan ini yang beberapa hari lalu kupecahkan. Terus soal terkurung dan luka, sebenarnya…, ehmm, semua itu ulah beberapa orang yang tidak suka padaku. Mereka tidak menyukaiku karena mereka mengira aku menyakiti teman mereka, padahal tidak. Mereka mengurungku di dalam sana. Mereka juga bilang itu semua tindakan untuk membalasku yang sudah mencoba merebutmu dari Yoo Yi…, eh ?!”

Gawat ! Aku keceplosan. Aku makin menunduk menyebunyikan wajahku. Tidak ada respon darinya. Dia hanya diam. Namun, kurasa dugaanku salah.

“Kau bilang apa tadi ?”

 

Mati aku.

 

“Lihat aku, Seohyun ! Jawab pertanyaanku barusan ! Apa yang kau ucapkan tadi.”

“Eeh, eobseo. Bukan apa-apa. Aku cuma ngelantur aja.” Alasanku. Kuharap dia mau mengerti.

Kami terdiam lagi. Kurasa dia sudah tidak terlalu memperhatikannya lagi. Aku menghembuskan napas lega.

“Aku diam bukan berarti aku tidak memikirkannya lagi ya. Kau masih hutang satu jawaban padaku.” Katanya tiba-tiba yang membuatku sport jantung mendadak.

 

Dia berbalik dan mengambil sebuah buku agenda dari dalamnya. Lalu mengambil bangku dan menuliskan sesuatu.

“Kau hutang jawaban padaku. Sudah kucatat.”

Eh ? Aneh banget sih ini orang ? Masalah begitu saja sampai diperhatikan segitunya. Tapi tetep cakep dong. Aku tersenyum sendiri memikirkannya. Hening lagi diantara kami.

 

“Terus, kau sendiri masuk sekolah ngapain ? Latihan ? Kau kan sudah canggih jadi appatiser. Aku yakin sekali kau akan menang di kontes itu. Pasti.” Kataku memecah keheningan. Dia yang kembali membaca majalah masakannya itu berhenti sejenak. Dahinya mengerut.

“Kau tahu darimana aku akan kontes ?”

“Hye Ri yang mengatakannya padaku. Aku boleh tahu tidak, kue apa yang ingin kau buat untuk kontes nanti ?”

“Tidak.” Jawabnya singkat sambil kembali menekuni majalahnya. Aku menghela napas kecewa.

“Eh, kau belum jawab pertanyaanku. Kau latihan lagi ?”

Dia masih diam. Aku jadi bosan sendiri.

“Ya sudah.” Aku menyerah. Akhirnya, aku berdiri dan bermaksud untuk berkeliling. Tiba-tiba dia membuka mulutnya.

“Aku hanya menulis resep baru. Puas kan ?” Jawabnya. Aku tersenyum. Aku mendekatinya.

“Kenapa hanya bikin resep aja ? Kenapa nggak praktek langsung ? Sepertinya hari ini hujannya bakal lama. Sambil nunggu reda, kita praktekan saja resepmu. Sekalian kau ajari aku. Aku baru belajar bikin kue, lho. Siapa tau aku jadi canggih kalau kau yang mengajari.” Cerocosku. Dia masih diam.

Ya ampun ! Apa nggak bisa orang ini ngomong sedikit ? Kenapa sikapnya berubah-rubah sih ? Hangat dingin hangat dingin. Aku jadi bingung harus bagaimana kalau begini.

 

“Ya ! Bagaimana ?! Aku ambilkan bahan-bahannya, deh.” Aku baru mau beranjak mengambil bahan-bahannya ketika dia melarangku tiba-tiba.

“Tidak.” Katanya. Aku mengurungkan niatku.

“Daripada nggak ngapa-ngapain. Kau sih enak, ada kegiatan. Aku ? Aku bingung harus ngapain. Aku ambil bahannya ya ?”

“Tidak.” Katanya lagi. Aku mulai kesal.

“Terus gimana ? Aku bosan. Kalau tidak mau membuat cake terbarumu itu, lakukan sesuatu yang aku bisa terlibat di dalamnya juga. Aku bingung mesti ngelakuin apa di sini.” Nadaku semakin tinggi. Dia menutup majalahnya lalu berdiri. Bangkunya terdorong keras ke belakang. Aku agak terkejut melihatnya. Dia menoleh ke arahku. Expresinya datar.

“Kau bisa diam tidak sih ? Aku bilang tidak kalau kau yang mau mengambil bahannya. Biar aku yang ambil bahannya. Lagian kau kan juga tidak tahu bahannya. Kau bereskan meja ini saja. Puas kan ?” Dia berbalik dan menuju lemari penyimpanan di pojok. Aku terperangah. Ternyata…

 

Dia itu…, ada-ada saja.

 

Aku membereskan meja itu. Menyingkirkankan tasku, tasnya, dan juga majalah-majalahnya. Setelah itu aku membersihkan tanganku dan wajahku diwastafel dan langsung kembali ke meja. Pas sekali dengan Kyuhyun yang baru kembali sambil membawa bahan-bahan.

“Pakai celemekmu. Kita tetap harus bersih saat memasak.” Suruhnya. Dengan senyum mengembang, aku melakukan perintahnya.

“Bisa tidak ?” Tanyanya remeh. Aku cemberut. Meremahkanku sekali…

“Bisa.” Jawabku agak ketus.

“Kau, harus melakukan apa yang aku perintahkan, arachi ?”

Aku menganggukan kepalaku.

“Sekarang, kau harus pisahkan kuning telur dengan putih telurnya. Cepat ya !”

“Siap…, eumm, aku memanggilmu apa nih ? Sunbae ? Apa Oppa ? Apa namamu saja.”

“Kalau panggil namaku itu tidak sopan. Aku kan sunbae mu.”

“Berarti kupanggil sunbae saja ?”

Dia menggeleng pelan. Sebuah senyum manis terpasang di wajahnya.

“Pamggil aku…, Oppa saja. Cukup. Sekarang, kerjakan tugasmu ! Palli (cepat) !”

 

Aku terperangah lagi. Dia tersenyum padaku ? Manis sekali.

 

Dan itu, pertama kalinya dia tersenyum padaku. Jantungku serasa mau meloncat dari dadaku saking senangnya.

Dan yang membuatku sangatsenang adalah, hari ini kami akan menghabiskan waktu berdua. Dan harapanku terkabul untuk bisa dekat dengannya.

 

Aku mencintainya……, akankah hubungan kami membaik ?

TBC

 

Chinguuuu…………,,

Tunggu Part 11 ya………………….

4 responses »

  1. admindeul, jeongmal gomawo udah publish FF author di sini…. ^^
    buat chinguseul semua yang penasaran ma kelanjutan FF cake of Love, kalo mau mbaca part sampai akhirnya bisa dibaca di page fesbuk :

    Seo Hye Kyu Fanfiction

    Baca yaaaaa….
    gomawoooo ^^

    by : Author…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s