Psycho’s Love

Standar

Annyeong.. Kali ini saya bawa FF gaje pertama saya yang Straight.. ( I dont know why, but I just love Shounen Ai so much.. hehe).. Kali ini dengan nyeret-nyeret suami saya yang namanya Lee Sungmin.. Hahaha.. Dibaca ya..

Cast: Lee Sungmin,, Choi Raein.

Disc: Sungmin punya emaknya.. hehe.. Kalau Raein itu ya saya. Hahaha..

Happy reading…

Sungmin berjalan ke lantai teratas kampus sambil membawa minuman kaleng di tangannya. Setibanya di atas, dia meregangkan badannya dan berteriak keras seolah-olah melepaskan sesak di hatinya. Dia lalu tersenyum puas, dan menenggak minuman yang sedari tadi dipegangnya.

Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut, dan di salah satu sudut itu dia melihat seorang gadis sedang duduk memeluk kaki dengan kedua tangannya sambil membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Dia sepertinya habis menangis. Entah apa yang menggerakkan Sungmin sehingga dia menghampiri gadis itu, dan berlutut di sebelahnya. Sungmin lalu merengkuh kepala gadis itu dengan lembut, dan meletakkan di dadanya. Udara di sana sangat dingin, tapi gadis itu hanya memakai tank-top dan celana pendek. Otomatis, gadis itu terkejut dengan perlakuan Sungmin lalu dia mengangkat wajahnya.

Sungmin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah gadis itu yang basah dengan airmata. Dia baru sadar bahwa gadis itu baru saja dikerjai. Pasti yang melakukan itu Jessica dan kawan-kawannya. Ketika melihat wajah Sungmin, gadis itu kembali menundukkan kepalanya sambil beringsut menjauh. Ketakutan jelas tergambar dari wajahnya.

“Jangan takut, aku bukan orang jahat..” kata Sungmin sambil mendekati gadis itu, tapi dia kembali beringsut menjauh. Sungmin menghela napas panjang, lalu memegang kedua bahu gadis itu. “Oke.. Mungkin aku memang orang jahat.. Tapi sekarang aku benar-benar tidak punya niat jahat padamu..” gadis itu lalu menangis lebih keras sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

Sungmin membuka jaketnya dan melingkarkannya di bahu gadis yang menggigil kedinginan itu.

“Dimana rumahmu? Biar ku antar pulang.” Gadis itu masih belum merespon. Dia sepertinya sangat shock sekarang. Gara-gara Jessica atau malah gara-gara Sungmin? Ah.. Sungmin tidak peduli, yang jelas dia ingin sekali melindungi gadis yang ada di hadapannya itu.

“Choi Rae-In.. Ayolah..” kata Sungmin. Gadis itu mendongak, mungkin kaget karena Sungmin tiba-tiba saja memanggil namanya. “Kaget ya? Semua orang pasti akan tau namamu saat melihat gelang yang ada di tanganmu itu.” Kata Sungmin sambil tersenyum. Gadis bernama RaeIn itu memandang gelang metalik di tangan kirinya yang di atasnya terdapat ukiran namanya.

“Ah, lama sekali..” Sungmin lalu membopong Raein, membuatnya terkejut dan meronta minta diturunkan. Sungmin mengeratkan bopongannya, lalu berkata, “Lebih baik kau ikut aku. Daripada jadi tontonan orang sekampus karena memakai baju begini di musim dingin.” Raein berhenti protes, dia lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Sungmin sambil menikmati kehangatannya.

Sungmin memberhentikan mobilnya di depan rumah RaeIn lalu turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Dia menggamit tangan Raein dan menariknya pelan sampai ke depan ke pintu rumah. Dia lalu menekan bel beberapa kali. Tidak lama kemudian wanita paruh baya membuka pintu, dia adalah ibunya Raein.

“Annyeonghaseyo Ahjuma..” Sungmin membungkukkan badannya 90 derajat sambil tersenyum ramah. “Saya mau mengantarkan Raein, karena di kampus tadi ada orang yang mengerjainya. Tolong jaga dia ya Ahjuma, jangan sampai dia sakit. Sepertinya dia kedinginan..” kata Sungmin sok akrab. Ibu Raein lalu menarik anaknya dari samping Sungmin seolah-olah dia adalah orang jahat.

“Ya sudah Ahjuma, saya pamit dulu.. Annyeonghaseyo..” Sungmin lalu berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Tapi tiba-tiba dia berbalik lagi. “Oh iya Ahjuma.. Saya lupa memperkenalkan diri.. Lee Sungmin imida.. Saya sunbae-nya Raein.. Senang berkenalan dengan anda..” dia membungkuk lagi, tersenyum kecil sebelum benar-benar pergi.

Ibunya lalu menarik Raein ke dalam rumah, lalu mendudukkannya di sofa.

“Dia siapa?” tanya ibunya.

“Tadi dia sudah memperkenalkan diri.” Jawab Raein dingin.

“Raein.. Eomma sudah pernah bilang kan jangan bergaul dengan laki-laki sembarangan.”

“Arasseo.” Jawab Raein singkat lalu berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan Eommanya yang memanggil-manggil namanya. Dia lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam.

Choi Rae-In POV

Aku membuka jaket yang kupakai. Aku menatapnya lama, dan mencium aromanya. Orang itu punya bau yang spesial. Lee Sungmin.. Laki-laki pemilik masalah terbanyak yang pernah ada di kampus. Dia jarang masuk, senang berkelahi, dan kata orang.. jahat. Tapi saat aku berada di dekatnya.. dia malah seperti seorang malaikat. Begitu hangat.. dan bercahaya. Dulu aku percaya kata-kata orang yang mengira dia jahat, tapi sekarang tidak lagi. Bagiku dia baik. Sangat baik.

Untuk kesekian kalinya Jessica mengerjaiku lagi. Kali ini dia membuka secara paksa jaket, baju panjang, dan celana panjangku lalu membawanya pergi. Padahal udara sangat dingin, dan dia meninggalkanku di lantai teratas kampus. Entah kenapa dia sangat membenciku—tepatnya orang-orang sepertiku—yang lebih sering diam daripada bicara, yang mereka anggap adalah nerd yang tidak perlu ada di muka bumi.

Aku sabar saja, aku tidak mau lagi terlibat dalam urusan seperti ini. Urusan yang pernah membuatku pindah sekolah sampai lima kali. Di SMA ku dulu, aku pernah terlibat belasan bahkan puluhan perkelahian, baik sesama perempuan ataupun dengan anak laki-laki. Kali ini, di tempat yang baru ini aku memutuskan untuk berubah. Jadi Raein yang lemah, yang tidak bisa membela dirinya sendiri.

Dan ditengah kelemahanku, datang sosok Lee Sungmin. Orang yang sebenarnya merupakan cerminan dari diriku yang dulu. Kami bahkan tidak mengenal satu sama lain, tapi dia mau menolong gadis bodoh sepertiku—yang hanya bisa menangis saat dikerjai. Aku mulai suka menjadi orang yang lemah, dan entah kenapa.. Aku juga mulai menyukai Lee Sungmin. Semudah itukah aku menyukainya? Tidak, tentu saja tidak. Aku sudah memperhatikannya sejak lama, bahkan kepindahanku ke kampusku yang sekarang adalah karena dia. Lee Sungmin..

Saat aku akan menaruh jaketnya dalam lemariku, sesuatu terjatuh dari dalam saku jaket itu. Ternyata dompet. Aku mengambil lalu membukanya. Ada foto Sungmin di dalamnya, dengan seorang anak laki-laki yang lumayan mirip dengannya. Pasti ini adalah saudaranya. Aku mengeluarkan foto itu, dan menyadari ada tulisan di belakangnya.

I hate you Ryeowookie..

I hate you too-fucking-much..

Maksudnya? Apa ini bukan saudaranya? Kenapa dia membenci orang yang ada dalam foto ini? Ah.. Bukan urusanku. Aku memutuskan untuk mandi dengan air hangat, aku butuh istirahat sekarang..

Next Day

—Sungmin POV—

Aku berjalan ke kelasku yang ada di lantai tiga. Setiba di depan kelas, aku melihat Raein berdiri di dekat pintu masuk. Aku segera menghampirinya.

“Raein-ah.. Annyeong..” sapaku. Dia tersenyum ramah. Aigoo.. Manis juga yeoja ini..

“Annyeong sunbae-nim.. Terima kasih untuk yang kemarin.. Ini jaketmu..” dia memberikan sebuah tas plastik kecil padaku. “Oh iya.. ini juga..” dia lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu dompetku. Aku lalu menerimanya sambil tersenyum.

“Gomawo yo Raein-ah..” kataku.

“Seharusnya aku yang berterimakasih..”

“Oh iya.. Kau sudah tidak takut lagi padaku?” dia lalu tersenyum lagi.

“Ani.. Hmm… Setelah aku pikir-pikir sunbae tidak menakutkan..”

“Oh ya? Tapi semua orang berpendapat begitu. Hahaha..” kataku. Bagaimana mungkin perempuan seperti dia akan takut padaku? Aku tau dia siapa.

“Aku pengecualian.” Katanya. Dia lalu berjalan menjauhiku, lalu aku memanggilnya. Dia berbalik sambil memasang tampang bertanya.

“Kau lihat foto dalam dompetku?” tanyaku. Dia mengangguk. Ah.. seharusnya aku tidak meletakkannya di situ.

“Sebenarnya aku ingin menanyakan itu padamu.” Katanya ringan.

“Masih ingin tau ceritanya?” tanyaku, dia lalu mengangguk setelah berpikir sebentar. “Kau tidak keberatan kan kalau kita tidak bicara di sini?”

Dan di sinilah kami sekarang. Di pinggir sebuah danau kecil, dimana aku sering meluapkan kekesalan hatiku. Kami hanya diam, sambil meminum minuman dari kaleng masing-masing. Aku lalu memutuskan untuk buka suara.

“Dia itu adik kandungku. Saudaraku satu-satunya.” Kataku sambil mengingat-ingat wajah Ryeowook. Hatiku berdecit, sakit rasanya. Sudah lama hatiku tidak sesakit ini.

“Oh ya? Pantas kalian mirip. Bagaimana dia? Apa sepertimu juga? Nakal, suka bolos, jago berkelahi?”tanyanya. Aku menatapnya sinis. Hahaha, ternyata seperti itu bayanganku di mata orang lain.

“Aku dan dia seperti angel dan devil. Dia angel-nya dan aku devil-nya. Dia sangat baik, patuh, lembut, pintar pula. Semua orang menyayanginya. Tapi aku? Seumur hidup dicap bodoh oleh semua orang. Berandal, Cuma bisa bikin onar dan membuat ayahku malu. Kami bagaikan lagit dan bumi. Tapi karena itu juga kami selalu bisa bersama, karena kami berbeda. Ryeowook yang lemah ada, karena ada Sungmin yang kuat. Sungmin yang pembangkang ada, karena ada Ryeowook yang patuh. Kami hanya bisa saling melengkapi dan menjaga satu sama lain, karena tidak ada lagi yang bisa melakukan itu untuk kami. Kenyataannya adalah, kami memang hanya memiliki satu sama lain. Mau tidak mau kami harus berpegang teguh dengan satu-satunya kepunyaan kami itu…”  Haaah.. Aku menghela napas panjang. Sakit ini kembali menjalar di dadaku. Entah kenapa di depan gadis ini aku ingin sekali menumpahkan segala yang menghimpit dadaku.

“Kau pasti sangat mencintainya ya?” tanyanya. Aku menyeringai lemah.

“Sebaliknya.” Jawabku agak sedikit mengagetkannya. “Aku sangat membencinya.” Semua masa laluku seolah-olah berputar lagi bagaikan film layar lebar dalam ingatanku. Aku melihat Raein mengerutkan keningnya. “Hahaha.. Kau bingung? Tentu saja aku membencinya.. Bagaimana bisa aku tidak membenci saudaraku sendiri yang kebaikannya seolah-olah tercipta untuk menunjukkan pada dunia segala keburukanku? Dia tercipa untuk disayangi, sedangkan aku untuk dibenci. Apa setelah menyadari itu semua itu aku masih punya alasan untuk tidak membencinya?”

Raein menunduk, entah apa yang dia pikirkan.

“Dimana dia sekarang?” tanyanya. Ah.. pertanyaan ini lagi. Pertanyaan yang paling menyakitiku.Aku menarik napas panjang lagi untuk yang ke seratus kalinya.

“Di surga.” Kataku datar. Raein terlihat tidak percaya, lalu aku tersenyum padanya. “Kenapa kaget begitu? Semua orang nantinya juga akan ke sana.. Ah.. Maksudku orang BAIK, yang akan ke surga itu orang BAIK. Hahaha..” kataku, menyadari betapa jauhnya tempat itu dari jangkauanku.

“Kenapa?” tanyanya lagi. Demi Tuhan, kalau yang bertanya ini bukan Choi Rae-In, aku akan menghajar orang itu. Ini adalah bagian paling sensitif dari masa laluku yang haram hukumnya untuk diungkit.

“Aku bunuh.” Jawabku santai. Aku hampir saja tidak bisa bernapas lagi. Aku harus menahan tangisku. Ah.. Kenapa harus menangis? Aku tidak pernah cengeng sejak dulu. Raein ternganga tidak percaya. Oh c’mon.. “Killing somone is just as simple as you smile to them. That’s not a big deal, Raein, so stop that glare.” Kataku.

“Aku tidak percaya.” Kata Raein.. Terserah.. Apa mukaku kurang meyakinkan sebagai pembunuh? Terlalu baikkah?

“Lebih baik kau percaya.” Aku menyeringai. “Kenapa tidak?”

“Aku hanya merasa orang sepertimu tidak mungkin melakukan hal seperti itu”

“Apa yang kau tau tentang orang sepertiku? Aku bahkan tidak tau aku ini orang yang seperti apa.”

—Raein POV—

Hatiku berkata bahwa Sungmin sedang berbohong. Mana mungkin dia membenci adiknya itu sedangkan waktu dia bercerita tentangnya saja dia hampir menangis. Sungmin sedang membohongi orang lain, dan yang lebih parahnya dia membohongi dirinya sendiri. Dan usaha untuk point yang kedua sepertinya tidak berhasil.

“Aku ingin mendengar ceritamu.” Katanya. Aku kaget. Ceritaku? Cerita apa?

“Hah?” tanyaku heran. Dia menyeringai sedikit. Aku mulai curiga, apa yang dia tau tentang hidupku?

“Ceritakan saja, RaeIn-ah.. Aku sudah tau garis besarnya, tapi aku ingin mendengar cerita versi kamu.” Oke. Sungmin sudah tau aku siapa. Aku tidak tau harus senang atau sedih atau marah..

“Okay then.. Ayahku..”

“Choi Jun-Young.” Potongnya. Okay, ayahku memang seterkenal itu.

“Aku memiliki dua orang kakak laki-laki..”

“Choi Si-Won dan Choi Min-Ho.” Sambungnya lagi. Tapi aku rasa kedua kakakku itu tidak terkenal. “C’mon Raein.. Ceritakan yang lebih spesifik. Aku sudah tau masalah itu.” Sungmin sudah menyelidiki kehidupanku. Untuk apa dia melakukannya?

“Baiklah kalau kau memang ingin tau.. Aku bukan anak baik. Aku pindah ke sini karena aku di DO dari kampusku yang lama. Mereka semua sudah bosan dengan keributan yang aku timbulkan. Disamping itu, aku diasingkan ke sini oleh ayahku agar musuh ayahku tidak bisa menemukan kami—aku dan ibuku. Ayahku adalah kepala mafia yang memiliki lebih banyak musuh daripada teman. Kedua kakakku sekarang membantu ayahku memimpin organisasinya itu. Siwon di China dan Minho di Korea. Sedangkan anak perempuan sepertiku tidak boleh terlibat dalam organisasi, dan untuk itu aku dilarang bergaul dengan sembarang orang. Awalnya aku protes, tapi sekarang aku sadar kalau itu tidak berguna.” Aku melirik Sungmin, sepertinya dia mendengarkan ceritaku dengan seksama.

“Aku dengar kau pernah membuat kaki anak kepala sekolah di SMA mu yang dulu patah?” tanyanya. Haha.. Insiden itu memang sangat terkenal dan menghebohkan.

“Itu kecelakaan.” Kataku lalu aku tertawa. Dia kemudian ikut tertawa bersamaku. “Sunbae-nim.. Kau sudah tau banyak tentangku ya?” tanyaku. Dia lalu mengangguk.

“Sudah lama aku tertarik denganmu. Maksudku dengan Choi Raein. Sudah lama aku mencari Choi Raein. Kau tau kenapa? Karena aku merasa kita sama. Aku merasa melihat diriku dalam dirimu. Aku.. Ah, mungkin kita tidak semirip itu, tapi aku rasa auraku sama dengan auramu. Aku awalnya kaget ketika mengetahui Choi Raein selemah itu. Dan setelah ku cari tau, ternyata kau hanya berpura-pura. Aku juga tau apa yang kau lakukan pada mobil Jessica sampai dia kecelakaan dan masuk rumah sakit. Kau.. You are really really a bad girl.” Sungmin mengacak-acak rambutku, sepertinya dia sudah mengenalku sangat lama. Dan entah kenapa.. aku merasa senang dan nyaman..

Ternyata dia tau apa yang kulakukan pada mobil Jessica. Sebenarnya tidak banyak.. Hanya mengutak-atik sedikit remnya, dan voila.. Sekarang dia terkapar di rumah sakit. Aku senang sekali mendengar berita itu. Dan ajaibnya Sungmin tidak terkejut dengan apa yang kulakukan. Dia malah merasa hal itu adalah hal yang wajar. Dia benar. Aku merasa aku sama dengannya. Dengan orang yang dengan sengaja membunuh saudara kandungnya sendiri.

“Choi Raein..” panggilnya. Aku menoleh sedikit. “Aku menyukaimu..” aku lalu tertawa. Hal itu adalah hal terlucu yang kudengar dalam sehari ini.

“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain..” kataku, masih tertawa. Sungminpun ikut tertawa. “Lagipula, kenapa malah menyukai gadis psycho sepertiku hah?” tanyaku.

“Karena aku pun psycho. Bahkan lebih darimu.” Aku berhenti tertawa melihat tatapannya yang berubah serius.

“Tapi kenapa aku?” tanyaku.

“Tidak tau. Hanya karena kamu Choi Raein. Orang yang sudah membuatku penasaran bertahun-tahun. Dan karena.. Hanya kau satu-satunya gadis yang kemungkinan besar bisa bertahan dengan kegilaanku.” Dia tertawa lagi. Hahh.. selucu itukah sampai dia tertawa dari tadi?

Aku diam sebentar. Diapun juga. Entah apa yang aku pikirkan. Yang jelas aku senang dengan kenyataan bahwa dia menyukaiku.

“Baiklah. Mulai sekarang kita pacaran.” Kataku tiba-tiba. Dia memandangku tidak percaya.

“Hahaha.. Kau juga suka pada laki-laki freak sepertiku ya? Tanyanya.

“Karena sepertinya hanya kau yang bisa mengimbangi hasrat kriminalitasku. Kau bisa mengkoverku, dan pura-pura menyelamatkanku.” Kami tertawa lagi. Dan mulai hari ini, kami adalah pasangan paling ajaib di dunia. Alasannya simpel saja. Karena dia psycho, dan aku pun juga. Lee Sungmin dan Choi Raein..

“Kau harus hati-hati kalau suatu hari kau membuatku kesal, nasibmu bisa sama dengan Jessica.” Kataku. Sungmin tersenyum tenang.

“Kalau hanya seperti itu, aku tidak takut. Kau yang harus waspada kalau suatu hari aku ingin membunuhmu.” Hahaha.. kami tertawa lagi. Saat ini aku bahagia. Namun mungkin suatu hari hubungan kami akan berakhir dengan saling membunuh. Tapi siapa yang peduli dengan ‘akhir’ itu? Karena kisahku dan Sungmin tidak akan pernah berakhir..

=FIN=

Sangat gaje dan sangat dipaksakan. Yah, aku tau. Aku Cuma keinget film MARS-nya Vic Zhou, dan beberapa adegan di fic ini mengopi adegan film itu. Aku sih kurang puas gimana… gitu. Idenyapun muncul toiba-tiba waktu aku lagi mandi. Jadi kalau gaje, aku minta maap ya.. Tapi tetep aja RCL-nya jangan lupa… Makasih ya FF gaje ini udah mau dibaca.. Lain kali aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi.. *bow 90 derajat. Maap ya..

14 responses »

  1. Sama saeng.. *sok akrap juga*

    seolah2 menyalurkan hasrat hati akan kriminalitas. Hakhakhak.. Kirain ga bakal ado yang suka..

    Btw, umur km brapa si? Hehe *klarifikasi panggilan*

  2. psycho!!!
    ran, ran, ada ada aja… hahaha
    tapi oke kok, psycho couple…

    cb bikin series ttg mreka… dengan karakter yang sama tapi scene yang beda ^_^

    ayo hwaiting!!! ^_^

  3. omo~
    serius ini ga umin bgt
    psycho?
    tampang umin terlalu imut buat jd pembunuh
    wkwkwk
    keren2, ga kepkran dia dibikin gini
    daebak~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s