Black Heart . . . Part 4

Standar

“Ommo~ Kyuhyun-ssi!!!” Rika menjerit histeris saat menemukan tubuh Kyuhyun yang tergeletak menggigil kedinginan dan membiru di lantai. “Kyu, gwaenchana??? Ya! Kau bisa mendengar suaraku kan?” Rika mengguncang-guncang pelan tubuh Kyuhyun, tapi tidak ada reaksi apa-apa dari Kyuhyun. Rika memegang tangan Kyuhyun untuk mengangkat tubuh yang tergeletak itu. ‘Dingin sekali tangannya…’ Gadis itu berusaha menarik tubuh Kyuhyun dan memindahkannya ke atas ranjang. Namun apa daya Rika tidak berhasil menggesernya sedikit pun, tubuh Kyuhyun 2x lebih berat dari tubuhnya yang mungil. Rika menghentikan aksinya mengangkat tubuh Kyuhyun. Dia berfikir sejenak, kemudian dengan sigap Rika mengambil bantal serta selimut yang ada diatas ranjang lalu segera menyelimuti tubuh Kyuhyun dan meletakkan bantal untuk menyangga kepala namja itu.

“Aku harus menghangatkannya.” Ujar Rika setenang mungkin. Hal pertama yang Rika lakukan untuk menghangatkan Kyuhyun adalah mengusap-ngusap wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya yang hangat, setelah itu berpindah pada kedua tangan dan kaki Kyuhyun. Dia terus mengusap-ngusapkan tangannya selama beberapa menit, tapi sepertinya apa yang Rika lakukan tidak memberikan perubahan sedikit pun pada tubuh Kyuhyun. Kyuhyun tetap menggigil kedinginan dan wajahnya semakin pucat.

Rika berlari menuju kamarnya, dia mengambil selimut miliknya dan membawanya kembali ke kamar Kyuhyun untuk menambahkan kehangatan pada tubuh Kyuhyun. Beberapa saat kemudian Rika berinisiatif menghubungi dokter agar kondisi Kyuhyun tidak semakin parah, dia bangkit hendak melangkahkan kakinya keluar untuk mengambil ponsel ada di dalam tasnya.

Namun langkah kaki Rika terhenti seketika saat mengdengarkan igauan Kyuhyun. “Di… ngin… jangan tinggalkan aku sendirian… aku takut…” Igauan Kyuhyun terdengar sangat pelan. “Uhuk…uhuk…”

 

Rika mengurungkan niatnya dan duduk kembali disamping Kyuhyun. Tidak tau apalagi yang harus dia perbuat agar Kyuhyun tidak kedinginan, otaknya sudah tidak dapat berpikir dengan baik. “Terpaksa aku harus melakukannya.” Rika segera masuk kedalam selimut lalu dia memeluk erat tubuh kyuhyun untuk memberikan kehangatan tubuhnya. Perlahan tubuh Kyuhyun berhenti menggigil dan Rika tertidur karna sudah merasa sangat lelah.

~~~~~~~~~

Keesokkan paginya . . .

“Enghh…” Aku terbangun, perlahan ku buka mata sambil mengerjap-ngerjapkannya pelan agar mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Pertama yang ku lihat adalah dinding kamar ini yang terlihat putih bersih. ‘Hangat…’ Batinku saat menyadari ada selimut yang membungkus tubuhku, dan seperti ada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang memelukku. Benar saja, ketika aku memiringkan kepala ternyata gadis itu yang ada disampingku. Ya, Rika tertidur sambil memeluk tubuhku. Aku hendak mendorong tubuhnya agar menjauh, tapi tidak jadi ku lakukan karena merasa sedikit kasihan terhadapnya. Aku yakin pasti semalam dia yang berusaha menghangatkanku.

Tanpa sadar aku terus memperhatikan wajahnya secara keseluruhan. Sebenarnya dia cantik, bentuk wajahnya sungguh sempurna, membuatku sangat terpesona akan kecantikannya. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. ‘Babo… kenapa jantungku rasanya ingin meledak.’

Rika menggeliat pelan lalu membuka matanya. Wajahku memanas saat mata bulat yang indah itu langsung menatap mataku. Dengan cepat ku palingkan wajahku dari tatapannya, takut jika dia tau kalau sejak tadi aku mengamati wajahnya.

“Kyuhyun-ssi, kau sudah bangun?” Tanyanya lembut.

Aku diam tidak menjawab pertanyaannya. Kurasa tanpa menjawabnya pun dia sudah mengetahui jawabannya. Lagi pula aku masih marah karna dia sudah menampar pipiku seenaknya tanpa mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

“Ehmm… Mianhe Kyuhyun-ssi, semalam aku menemukanmu tergeletak dilantai dan menggigil kedinginan, itu sebabnya aku menyelimutimu. Tapi tubuhmu tak kunjung menghangat, jadi aku memelukmu…” Ujarnya pelan terdengar takut jika aku akan memarahinya lagi.

Aku tetap diam, malas berbicara dengannya. ‘Aish… jarak antara tubuhnya dengan tubuhku sangat dekat, membuat nafasku agak sesak. Jantungku terus berdetak kencang, aku takut jika semakin lama kami berposisi seperti ini jantungku akan keluar dari rongganya.’ Aku mencoba bangkit dan berusaha untuk duduk. Tapi…

“Akh!” Spontan ku pegang kepalaku yang terasa sangat pusing dan berat, semua benda yang ada disekitarku seolah berputar. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Entah kenapa kali ini nafasku benar-benar terasa sesak.

“Kyuhyun-ssi gwaenchanayo???” Tanya Rika yang terlihat sangat khawatir kepadaku. Dia bangun lalu duduk tepat dihadapanku.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku tidak menjawabnya karna masih terus terbatuk.

Rika mengulurkan tangannya menyentuh dahiku. “Aigo~ Kyuhyun-ssi, kau demam. Badanmu panas sekali!” Rika terlihat sangat panik. Gadis itu segera mengambil kursi rodaku, kemudian mengulurkan tangannya hendak memapah tubuhku yang lemas naik keatas kursi roda.

“Kau mau apa…?” Tanyaku dengan suara parau sebelum dia mengangkat tubuhku.

“Aku akan memindahkanmu keranjang. Tubuhmu panas seperti ini pasti karna semalaman kau tidur dilantai.”

Aku tidak bertanya lagi dan menurut saja. Rika memindahkanku ke ranjang yang empuk serta lebih hangat daripada lantai. Aku tergeletak tidak berdaya diatas ranjang. Ku lihat rika mengambil selimut dan bantalku dari lantai, lalu meletakkan bantal itu menyengga kepalaku sambil menyelimuti tubuhku.

“Istirahatlah, aku akan turun mengambil termometer dan kompresan.” Kata Rika menenangkanku.

Tidak lama kemudian Rika kembali dengan sebaskom air es serta handuk kecil dan kotak obat di tangannya. “Buka mulutmu aaaaaa…” Rika menjulurkan termometer kearah mulutku. Setelah itu dengan sangat lembut Rika mulai mengompres keningku. Rasanya sejuk….

‘Piip’ Rika mengambil termometer yang berada dimulutku tadi. “39 derajat… panas sekali…” Dia bergumam pelan hampir seperti sebuah bisikkan, namun aku masih dapat mendengarnya dengan jelas. “Aku akan buatkan bubur untukmu.” Ujarnya singkat lalu gadis itu meninggalkan kamarku.

Suhu tubuhku yang terbilang cukup panas membuat kepalaku sangat pusing, akhirnya ku putuskan untuk memejamkan mata.

“Jagi…”

“Jagi…” Suara itu.

“Jagiya…” Su…suara Yu…ri…

“Jagiya bangunlah… ini aku, cintamu…” Ku buka mata perlahan. Samar-samar ku lihat sesosok gadis yang sangat familiar dalam ingatanku. Dia… cantik. Sangat cantik. “Yuri… benarkah itu kau…?”

“Ne jagi…” Yuri mendekatiku dengan senyuman manisnya yang tidak berubah sedikit pun sejak dulu. “Aku datang untuk membunuhmu!” Aku membelalakkan mata saat melihat tangan kanannya yang terangkat keatas dengan sebilah pisau dapur dalam genggamannya.

“Yu… Yuri… ja… jangan… ku mohon.” Aku berusaha bangkit, namun tidak bisa. Tubuhku terlalu lemah untuk bergerak. Tanpa mendengarkan uncapanku, Yuri menggerakkan tangannya menghujamkan pisau itu di perutku.

“AAAAKKKKHHH ! ! !” Aku sontak bangun dalam tidurku. Host… host… host… nafasku memburu sangat cepat. Segera ku lihat keseluruh penjuru kamarku mencari sosok Yuri, namun tidak ada. ‘Ternyata tadi itu hanya minpi, syukurlah…’ Batinku dalam hati. Tapi rasa takut itu muncul menyeruak kembali dalam batinku saat pandanganku teralihkan kearah jendela, ku lihat ada seseorang gadis yang berdiri dibawah sana memakai mantel hitam. Dia tersenyum kearahku. Yu…Yuri…! “ANDWAE ! ! ! PERGI ! ! ! PERGI ! ! !”” Ku tutup kedua telingan dengan sangat kencang. Suara itu… suara Yuri terus menggema di telingaku.

“Kyu… Kyu… Kyuhyun-ssi… gwaenchanayo???” Seseorang mengguncang bahuku pelan. Aku masih menutup mata dan telingaku karna ketakutan. “Ya! Kyuhyun-ssi ini aku, Rika. Gwaenchanayo…?” Rika… iya itu suara Rika. Ku beranikan diri untuk membuka mata, ku lihat wajah Rika yang sangat khawatir menatapku. Segera ku peluk tubuhnya dan menenggelamkan wajahku di bahunya.

Tubuhku bergetar ketakutan. “Jangan pergi… aku mohon, jangan tinggalkan aku sendirian… aku takut…” Rika membalas pelukanku dan mengusap-ngusap punggung serta kepalaku dengan lembut. ‘Mungkin tadi itu hanya halusinasiku saja. Ya, halusinasi!’

Rika memelukku sampai perasaanku lebih tenang, nafasku juga sudah tidak memburu lagi. Setelah itu Rika melepaskan pelukanku. “Berbaringlah, tubuhmu masih demam.” Ujar Rika sambil membaringkan tubuhku.

Ketika Rika hendak bangkit dari ranjangku, aku genggam tangannya dengan cepat. “Jangan pergi… tetaplah berada disisiku…” Kataku tanpa memperdulikan harga diriku lagi.

“Kyuhyun-ssi, aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin mengambil semangkuk bubur itu.” Rika menunjuk semangkuk bubur dan segelas air putih yang diletakan diatas meja belajarku. “Kau harus makan dan minum obat supaya demammu cepat turun.” Kemudian gadis itu menyuapiku sesendok demi sesendok dengan sabar. Sesaat ruangan ini hening, suara yang terdengar hanyalah bunyi dentuman pelan ketika sendok bersentuhan dengan mangkuk. Sampai terdengar suara yang keluar dari mulutnya memecahkan keheningan. “Mianhe…” Ujar Rika dengan lirih. “Gara-gara aku, kau jadi sakit seperti ini. Jeongmal mianhe, Kyuhyun-ssi.”

“Babo…” Kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Kita baikkan ya?” Rika menjulurkan jari kelingkinnya sambil tersenyum.

Ku palingkan wajahku kearah yang lain. ‘Cih…kekanak-kanakan sekali dia.’ Gerutuku dalam hati. Tanpa seizinku Rika meraih tangan kananku dan menautkan kelingkingnya dengan kelingkingku. Entah kenapa aku tidak bisa menolak tingkah kekanak-kanakannya itu.

Rika kembali menyuapiku hingga bubur yang ada di mangkuk itu habis tak tersisa. “Sekarang kau minum obat penurun demam ini.” Dia membantuku duduk untuk meminum obat tersebut lalu merebahkannya lagi. Obat yang Rika berikan bereaksi sangat cepat, dalam sekejap tubuhku dihujam oleh rasa kantuk yang tak bisa ku tahan.

“Tidurlah…” Ujar Rika membenarkan selimutku dan mengopresku lagi. Aku pun memejamkan mataku untuk tidur.

~~~~~~~~~

“Syukurlah, akhirnya dia tertidur juga.” Rika menatap wajah Kyuhyun yang sudah tidak sepucat tadi malam. Dia merapihkan mangkuk serta gelas yang dipakai Kyuhyun untuk makan, dan memindahkannya keatas meja belajar.

Saat hendak kembali kesisi ranjang Kyuhyun, tidak sengaja mata Rika menangkap sesosok wanita dari jendela. Wanita itu berdiri terpaku menatap kearah kamar Kyuhyun, namun tidak lama wanita itu pergi meninggalkan tempatnya berdiri. “Siapa dia…?”

 

. . . . to be countinue . . .


NB: Nama Yuri disini bukanlah nama member dari GB tertentu. Aku pake nama Yuri karna gadis ini memang berketurunan Jepang-Korea.

Fb: Shania De Granger

Twitter: @shania9ranger

3 responses »

  1. Yaaaa… Eonniiee… aku udah hampir jenggotan nunggu postingannya.. hehe
    Ditunggu buangettt lanjutannya..

    Eonnie, semua penggemar PB udah pada nungguin berabad-abad.. T.T

  2. akhirnya yg d’tunggu” keluar jg
    dah kya nunggu Film Harpot aja
    hehehehe

    wahhh…
    siapa toeh perempuan yang diliat Rika eonn ?????

    kasian ya ampun kyu oppa pasti sangat terauma…..
    ya ampun sini” manggil” kyu biar aku peluk..
    hehehehehheh

    lanjoot eonn jgn lama” ywh
    heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s