Cake Of Love Part 11

Standar

Author  : Hye Ri

~~~~~~~~~~~~

Cerita sebelumnya :

Aku membereskan meja itu. Menyingkirkankan tasku, tasnya, dan juga majalah-majalahnya. Setelah itu aku membersihkan tanganku dan wajahku diwastafel dan langsung kembali ke meja. Pas sekali dengan Kyuhyun yang baru kembali sambil membawa bahan-bahan.

“Pakai celemekmu. Kita tetap harus bersih saat memasak.” Suruhnya. Dengan senyum mengembang, aku melakukan perintahnya.

“Bisa tidak ?” Tanyanya remeh. Aku cemberut. Meremahkanku sekali…

“Bisa.” Jawabku agak ketus.

“Kau, harus melakukan apa yang aku perintahkan, arachi ?”

Aku menganggukan kepalaku.

“Sekarang, kau harus pisahkan kuning telur dengan putih telurnya. Cepat ya !”

“Siap…, eumm, aku memanggilmu apa nih ? Sunbae ? Apa Oppa ? Apa namamu saja.”

“Kalau panggil namaku itu tidak sopan. Aku kan sunbae mu.”

“Berarti kupanggil sunbae saja ?”

Dia menggeleng pelan. Sebuah senyum manis terpasang di wajahnya.

“Pamggil aku…, Oppa saja. Cukup. Sekarang, kerjakan tugasmu ! Palli (cepat) !”

 

Aku terperangah lagi. Dia tersenyum padaku ? Manis sekali.

Dan itu, pertama kalinya dia tersenyum padaku. Jantungku serasa mau meloncat dari dadaku saking senangnya.

Dan yang membuatku sangatsenang adalah, hari ini kami akan menghabiskan waktu berdua. Dan harapanku terkabul untuk bisa dekat dengannya.

 

Aku mencintainya……, akankah hubungan kami membaik ?

 

 

 

 

Cake of Love

 

 

—- Seohyun POV —-

Hujan masih deras di luar sana. Petir masih menyambar beberapa kali. Tapi, derasnya hujan dan kerasnya petir tidak bisa membuatku sedih sekarang. Tidak seperti biasanya. Jelas saja ! Aku sedang bersama seseorang yang-sangat-ingin-kutemui itu sekarang. Dan yang lebih menyenangkan lagi, kami…, MEMASAK BERSAMA !!!

Aiiih, haengbokhe !!!

 

Aku masih tidak percaya hari ini aku menghabiskan waktuku bersamanya. Aku juga masih tidak percaya dengan kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Awalnya, aku berpikir sudah tidak bisa dekat dengannya, ternyata harapanku justru terkabul. Kenapa bisa secepat ini ya ? Apa karena…

Ah ! Hye Ri. Dia kan kemarin berharap agar aku dan Kyuhyun bisa lebih dekat. Bisa berteman. Apa ini karena harapannya ? Apa ini mantranya ? Aku harus memberitahunya tentang hal ini. Oh iya, handphoneku kan mati. Apa pinjam HPnya ya ? Aah jangan, jangan ! Malu dong. Nanti aku ke café aja deh.

 

Dia baru kembali dari wastafel dan langsung memakai celemeknya yang berwarna putih. Aku menatapnya dalam. Memandanginya dari awal dia kembali sampai sekarang.

“Ja ! Kau siap ? Aku akan mengajarimu membuat kue ini. Ini agak susah jadi kuminta kau memperhatikannya baik-baik, araseo ? Pertama kau harus……………….”

Dia terus menjelaskan bagaimana membuat cake barunya itu secara mendetail. Yang harus ini lah, harus itu lah. Semuanya dia jabarkan satu-satu. Aku malah memandanginya berbicara dan tidak begitu memperhatikan penjelasannya tentang cara membuat kue itu.

Kyuhyun terlihat berbeda lagi saat ini. Bukan sikap dinginnya atau sikap hangat mendadaknya yang suka tiba-tiba muncul. Melebur. Kedua sikap itu melebur dan menghasilkan sikap hangat namun tegas. Jadi begini rasanya jadi yonbae-nya Kyuhyun. Pantas banyak yang suka minta diajarkan olehnya. Pantas saja.

“Algesseoyo ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku tergagap. “Kau mengerti, kan, Seohyun ?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk saja.

“Joa, sekarang kocok telurnya ! Palli !” Suruhnya. Aku menurut. Kuambil mangkuk berisi kuning telur dan kocokannya. Tanpa perlu bertanya lagi, aku langsung melakukan perintahnya. Ia pun mulai mencapur adonan cakenya.

 

Cokcokcokcokcokcokcokcokcok…

 

Suara kocokan telur yang kulakukan terdengar berirama. Menurutku, kocokannya sudah cukup tercampur. Aku tanyakan saja pada Kyuhyun ah.

“Ya, Op……”

“YA ! Apa yang kau lakukan ?!” Kyuhyun memekik sambil menunjuk mangkok berisi kocokan telur yang ku kocok itu. Aku kaget.

“Wae…, waeyo ? Apa aku salah ?” Tanyaku polos. Memangnya aku salah ?

“Sangat ! Kenapa kau kocok kuning telurnya ?! Harusnya kau kocok putih telurnya. Aiiissshh !! Kau…”

“Mian, Oppa. Aku nggak tau. Jinjja molla…”

“Kenapa kau tidak tanya dulu ? Saat kutanya mengerti, kenapa kau tidak tanya lagi kalau kau memang tidak mengerti ? Kenapa kau mengangguk saja ? Ya! Aku sudah hampir selesai membuat adonannya. Kau malah…, aiiisshh !!!” Dia mengusap wajahnya dan rambutnya kesal. Sebenarnya, aku agak kesal dengan sikapnya ini. Kenapa mesti aku yang disalahkan ? Dia juga salah kok.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku kalau aku harus mengocok yang putih ? Kau hanya bilang ‘kocok telurnya’. Ya kukira maksudmu telur itu yang kuning telurnya. Ini semua juga bukan salahku, tau !” Aku mulai membela diri. Ngotot. Dia malah melototiku.

“Ini salahmu !” Tuduhnya. Aku membalas.

“Kau juga salah !”

“Harusnya kau tanya dulu.”

“Kenapa aku ?!” Suaraku meninggi. Dia berdecak.

“Cih, kau harusnya bisa inisiatif tanya padaku yang benar. Kau ini…

“Kenapa aku yang harus inisiatif ? Kau kan juga bisa…”

“APA AKU HARUS MEMBERITAHUMU TERUS ??!!” Tanyanya setengah membentak. Bukan setengah lagi kurasa. Aku terkejut mendengarnya. Kocokan telur yang kubawa sampai terjatuh.

 

Kami terdiam setelah kejadian barusan. Aku masih terpana. Hembusan angin menderu melewati kami. Ada jendela yang tidak ditutup ternyata. Pantas saja angin sebesar ini bisa masuk. Tapi aku bisa mendengar helaan napas darinya.

Aku memungut kocokan telur yang terjatuh dari tanganku itu. Jujur, aku agak shok dengan kejadian barusan. Kok bisa ? Masa dia sampai segitunya ? pikirku. Apa setiap apatissier yang sudah canggih sepertinya bersikap begini ?

Kami berada dalam pikiran masing-masing. Setelah kupikir, ini memang salahku. Memang seharusnya aku memperhatikannya tadi dan memang seharusnya aku bertanya padanya. Dia yang lebih tahu. Aigoo~ kenapa kedekatan kami hanya berdurasi sebentar ? Aku tidak mau kami musuhan lagi. Baiklah, aku akan meminta maaf padanya.

“Kyuhyun…, Oppa.” Panggilku. Tidak ada reaksi darinya. Aku meliriknya dan ternyata dia sedang mencampur adonan kuenya dengan mixer. Kurasa dia tidak dengar panggilanku. Aku menunduk.

“Mwo ?” Tanyanya lirih. Suaranya nyaris kalah bersaing dengan suara deru mixer dan hujan di luar. Aku menoleh ke arahnya begitu ia bertanya. Ternyata dia mendengar panggilanku.

“Eobseo. Mian, Oppa. Aku memang salah. Memang seharusnya aku tanya padamu. Kau yang lebih tahu. Mianhamnida.” Aku membungkuk. Dia mematikan mixernya lalu mengelap tangannya.

“Ani. Aku juga salah. Aku memang tidak memberitahumu kalau yang seharusnya kau kocok itu yang putih telurnya. Maafkan aku.” Jelasnya tanpa menoleh ke arahku. Aku kembali tegak dan tersenyum mendengarnya.

“Gwaenchanayo. Kita berdua yang salah.” Kataku.

“Lagipula aku juga lupa kalau aku sedang mengajarimu. Kau kan pemula. Seharusnya aku lebih sabar.”

“Tapi aku gampang diajari kok. Memangnya kenapa harus sabar padaku ?”

Dia diam. Bukan diam memikirkan sesuatu. Lebih seperti tidak mendengarku malah.

“Ya ! Kyuhyun !”

“Waenhaemhyeon…, paboya [karena, kau bodoh].” Jawabnya meremehkan. Aku tersentak. Bisa-bisanya dia… ? Hah ?! Aiissh !!

“Pa…, boya ?” Gumamku tidak percaya. Dia mengatakan aku bodoh ? Aiishh ! Dia benar-benar ngajak berantem lagi ya ?!

“YA ! Maksudmu apa bilang aku pabo ?! Kau ngajak berantem lagi denganku ? Baik. Kalau itu maumu.” Aku menaruh kocokan telur yang masih kubawa ke meja dengan sedikit dibanting. Aku mengelap kedua tanganku.

Perasaanku bercampur. Maunya apa sih manusia satu ini ? Aku tahu dia kejam, dingin, menyebalkan, aneh, dan susah ditebak. Aissh, padahal sebenarnya aku juga tahu kalau sifatnya memang seperti ini. Dia pernah menunjukannya padaku beberapa hari yang lalu di café.

“Kau ingin kita bermusuhan lagi ?” Tanyanya dengan suara lirih. Pelan namun aku dapat mendegarnya jelas karena pertanyaan itu yang membuatku sempurna terkejut. Mataku membelalak dan mulutku sedikit menganga. Apa dia barusan bilang…

“Uriga chingu, keureuchi ?” Dia menoleh. Tersenyum. Senyuman manis yang membuat semua rasa kesalku hilang entah kemana. Senyuman yang jarang-jarang dia tunjukkan. Aku terpaku.

Aku tidak percaya. Dia yang mulai bilang kalau kami teman. Dia yang kemarin bilang kalau membenciku justru sekarang duluan yang bilang kami itu teman. Aku bingung harus apa. Senang, kesal, atau apa.

“Aku lelah musuhan terus denganmu. Kemarin memang aku membencimu. Tapi tidak sekarang.” Alasannya. Dia kembali menghadap wadah adonan yang sudah tercampur setengah itu. Namun wajahnya masih tersenyum. “Kau ingin kita berantem lagi ?”

Aku menggeleng cepat.

“Ani. Na shireo. Aku tidak mau kita saling benci lagi. Aku juga tidak mau kita saling bentak tiap kali bertemu. Kuharap kita bisa jadi teman. Mian, Kyu…, hyun.” Jawabku lirih. Senyum Kyuhyun melebar walau tidak terlalu kentara. Aku ikut tersenyum. Bahagia sekali hari ini.

“Kalau begitu, kau kocok putih telurnya sana ! Cepat !” Suruh Kyuhyun kembali ke sikap awalnya. Aku tertawa kecil dan melakukan lagi perintahnya. Kali ini pasti benar.

 

 

Kyuhyun menuangkan adonan cakenya ke loyang. Aku terus memperhatikannya. Sekarang, dia mengangkat loyang itu dan membawanya ke oven untuk di-bake. Aku melihatnya berjalan memunggungiku dan membuat hatiku berdebar. Dadaku sesak tiba-tiba. Punggung yang gagah.

“Tinggal tunggu 20 menit lagi.” Katanya dari sebelah oven. Dia menoleh ke arah oven lagi lalu berjalan mendekatiku. Maksudku, kembali ke meja masak. Sesampainya dia di hadapanku, tangannya menjulur ke arahku tiba-tiba. Aku melebarkan mata.

“Mwo ?”

“Kesinikan mangkok telur yang kau kocok tadi ! Palli ! Yeogi !” Pintanya.

“Ne ?”

Dia mengambil mangkok telur yang berada di balik tubuhku. Jantungku berdebar lebih keras. Dia dekat sekali denganku. Bahkan aku bisa merasakan rambutnya menyentuh wajahku ketika dia mengambil mangkok itu. Apa kami memang berada di jarak sedekat ini ?

“Ja ! Aku akan mengajarimu membuat krimnya. Aku juga akan mengajarimu memakai mixer untuk membuatnya menjadi krim. Pertama, telur kocokanmu ini kita beri gula. Lalu…………………..” Jelasnya. Ya ampun, kenapa harus berdebar sekencang ini sih ? Dia memang tidak sedekat tadi, tapi saat ini pun kami dalam jarak yang *hitungannya menurutku* cukup dekat. Kami sudah berdekatan beberapa kali hari ini. Tapi, jantungku terus saja berdebar kencang. Aku tidak kuat lama-lama dekat dengannya.

Aku memejamkan mataku agar sedikit bisa mengendalikan perasaan ini. Susah ! Aku masih bisa merasakannya berdiri di sebelahku.

“Chamkanman, aku ambil sendok dulu.” Dia menjauh dariku sebentar. Tapi itu sudah cukup memberiku ruang untuk menghirup napas lagi.

“Kita kumpulkan krim yang dipinggir mangkoknya ke tengah. Kau mau coba ?”

“Ne ?” Aku kaget tiba-tiba dia sudah ada di sebelahku lagi. Sambil menyodorkan sendok penuh krim lagi.

“Krimnya, kau mau coba ?”

Aku mengerutkan kening. Dia semakin mendekatkan sendok krim itu kemulutku. Mau tidak mau aku membuka mulutku sedikit. Dan ketika tinggal sedikit lagi, tiba-tiba Kyuhyun menabrakan sendoknya ke hidungku. Seketika itu seluruh hidungku tertutup krim. Dia ngakak.

“Ya ! Oppa ! Jahat banget sih ?! Hidungku kena krim semua nih !!!” Keluhku sambil mengusap-usap hidungku yang putih dan penuh krim.

“Lihat wajahmu !! Ahahahahaha…” Dia menunjuk mukaku sambil terus tertawa kesenangan. Aku cemberut. Bisa-bisanya ini orang ngerjain aku, pikirku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menyolek sedikit krim yang ada di mangkok itu dan mengusapkannya di wajah Kyuhyun yang masih ngakak. Sekarang, giliran aku yang ngakak.

“Ahahahahahaa…, rasakan ! Kau pikir kau saja yang bisa mengerjaiku.”

Dia mengelap wajahnya sambil membelalakan matanya lebar.

“Aiiisshh !! Awas kau ya !!” Dia ikut-ikutan mencolek sedikit krim dari mangkok krim itu dan mencoba mengenaiku lagi dengan krim. Sigap aku menghindarinya. Dia mengumpat lagi sambil terus berusaha mengenaiku. Aku meleletkan lidah mengejek dan itu sebuah kesalahan, karena Kyuhyun semakin berusaha mengenai krim itu padaku.

Jadilah kami kejar-kejaran seperti anjing dan kucing.

 

Kami sudah selesai dengan kegiatan kejar-kejaran kami. Dan sekarang kami terduduk sambil ngos-ngosan. Kyuhyun malah batuk-batuk.

“Kau sih ! Rambutku jadi kusut, nih. Pakai ngenain krim di rambutku segala. Aiisshh !!” Aku mengomel sambil terus menyisir rambutku dengan jari. Aigoo~ lengket. Padahal baru saja aku keramas, sekarang sudah kotor lagi.

“Salahmu punya rambut panjang. Gampang kukenai deh.” Belanya tanpa melihat ke arahku. Aku gemas.

“Ini imej tau.” Kataku dengan nada agak kesal. “Terus gimana dong rambutku ? Masa kusut sama lengket gini ? Nggak banget, Oppa.” Keluhku lagi. Kyuhyun malah cuma angkat bahu tidak peduli. Aiissh, salah besar bertanya padanya.

 

 

 

Bosan sekali. Masih sekitar beberapa menit lagi sampai kueku jadi. Aku melirik ke arah Kyuhyun. Dia sedang mendengarkan lagu dari ipod yang dibawanya. Matanya memejam seakan sangat menikmati lagu yang didengarnya itu. Sebuah senyuman hadir di wajahnya.

Memandanginya yang sedang seperti ini sangat menyenangkan. Wajahnya teduh. Aku jadi ikut-ikutan tersenyum melihatnya. Tapi malu juga sih melihatnya.

 

TING…

 

Suara yang datang dari arah oven itu mengejutkanku. Kurasa kue yang di bake sama Kyuhyun sudah matang. Kaya’nya Kyuhyun nggak denger bunyinya deh, pikirku.

Aku berdiri dan mendekatinya. Kutepuk bahunya. Dia membuka mata dan melihat ke arahku.

“Mwo ?”

“Cake-nya udah matang.” Kataku.

“Mworagoyo ?”

“Lepas dulu earphonemu !” Aku menarik earphonenya. “Kuenya udah matang.” Kuulangi lagi perkataanku. Dia melihat ke arah oven lalu beranjak meninggalkanku untuk mengambil cake yang kami buat tadi.

 

“Yeogi… [Ini…] !!!” Nadanya riang. Dia menaruh cake itu di atas meja yang sudah sempat kubereskan sedikit. Asap mengepul dari cake itu. Dia melepas sarung tangannya yang tebal dan menaruhnya di bangku.

“Hmmm…, aromanya enak banget. Aroma khas kuemu buatanmu banget ya ?” Kataku memuji. Dia tersenyum kecil.

“Hati-hati, masih panas. Kita tunggu agak dingin baru kita oleskan krim yang kita buat tadi. Kau, jangan lakukan apapun sebelum kusuruh, araseo ?!” Perintahnya yang langsung kujawab dengan anggukan kepala. Dia berbalik dan entah melakukan apa. Aku kembali duduk dan menatap kue yang berwarna krem dengan sedikit asap yang mengepul dari dalamnya itu. Aku tersenyum.

“Kau saksi kalau hari ini aku dan dia baikan. Kau bukti kalau hubunganku dan dia sudah membaik. Aku jadi merasa sayang untuk memakanmu.” Aku berkata pada kue itu.

“Kau gadis aneh. Ngapain ngomong sama kue ?” Tanya Kyuhyun yang sudah berada di sampingku. Aku tergagap.

“Aa~ eobseoyo,” jawabku.

“Oh.” Dia beralih ke kue di hadapanku itu. ” Kurasa kuenya sudah bisa kuolesi krim. Akan kuajari kau caranya mengolesi krim di kue yang benar. Pertama kau harus ……………………………………………” Dia menjelaskan sambil mempraktekan caranya. Aku cuma bisa berkata ‘oh, begitu’ sambil mengangguk-anggukan kepala mengerti atau tidak. Mudah sebenarnya.

 

“Ja, sudah jadi.” Katanya sambil memberikan sentuhan terakhir pada cake buatannya itu. Aku yang sedang menyanggah kepalaku menunggunya, langsung berdiri dan melihat kuenya.

“Wah, neomu yeppeo. Aku jadi tidak tega memakannya.” Kataku begitu melihat kue itu.

“Untuk apa dibuat susah kalau akhirnya tidak di makan ?” Katanya sambil mengambil sebuah pisau kue dan memotong satu potongan lalu menaruhnya disebuah piring kue kecil dengan gambar bunga di pinggirnya. Dia menyodorkan pirin kue itu kepadaku.

“Makan.” Suruhnya. Aku membelalakan mataku lebar. Eh, kaya’ de javu ya ?

“Aku seperti pernah berada dalam keadaan kaya’ gini. Kapan ya ? Oh ! Waktu pertama kali aku bertemu denganmu, kau pernah seperti ini juga. Aigoo~ jadi keinget deh.” Pekikku. Dia menghela napas.

“Joa, joa, aku makan.” Aku langsung menurutinya begitu kulihat dia menatapku dengan tatapan tegas.

 

Aku menyendok sedikit kue itu dan memasukkannya ke dalam mulutku.

“Emmmm… !!! Jeongmal masisseoyo. Bener-bener enak, Oppa. Kau mau namakan kue ini apa ?” Tanyaku sambil kembali menyendok kue itu. Dia diam.

“Ya ! Aku bertanya padamu. Kau mau namakan kuemu apa ?” Tanyaku lagi dengan nada setengah memaksa.

Dia mendengus.

“Harus ?”

“Ya iyalah harus. Namapun juga menentukan. Kalau namanya unik kan banyak orang yang penasaran mau nyoba.”

Jelasku. Dia malah menyanggah kepalanya.

“Ada atau tidak ada namanya juga tetap saja itu cake kan ? Aku sedang tidak kepikiran apapun untuk namanya.” Jawabnya enteng sekali. Aku menghela napas. Sebuah ide muncul di kepalaku.

“Aku usul ya ? Karena rasa, tekstur, dan warnanya agak mirip first snow, gimana kalau namanya second snow ?” Usulku. Dia berdecak.

“Ck, plagiat. Tidak kreatif.” Dia berkomentar. Aku mengelus tengkukku sambil agak nyengir.

“Ya habis, mirip sih. Kalau gitu, eummm, gimana kalau gabungan nama kita saja ? Oh iya, nama belakang kita kan sama. Aku usul kalau namanya hyun-hyun atau double hyun, atau…, hyun kuadrat !!!”

“Mwo ?” Dia mengerutkan keningnya dan duduk tegak lagi.

“Wae ?”

“Aku tidak mau pakai nama itu. Aneh banget sih ?” Dengan gelengan tegas, dia menolak usulku. Aku menghembuskan napas kecewa.

“Yaaaah, wae ? Terus mau nama apa ? Aku ingin yang ada nama kita. Tapi, terserah kau saja sih. Kan kue itu punyamu.” Aku menyerah akhirnya. Agak kesal dan kecewa juga sih sebenarnya.Habis,

 

“Seokyu.” Katanya tiba-tiba. Aku yang sedang membenamkan wajahku di kedua tanganku langsung menoleh.

“Ne ?”

“Kau mau namanya ada namamu dan namaku kan ?” Dia menatapku sebentar kemudian beralih ke majalah masak di hadapannya, “Namanya Seokyu saja. Terima tidak ? Kalau nggak mau ya sudah. Tidak usah ada namanya saja.”

“Andwae. Ya sudah, pakai itu saja. Lagian bagus kok. Seo…, Kyu. Namaku Seo, dan kau Kyu. Joa, jadi nama kuemu ini sekarang Seokyu. Eh, kenapa namaku yang di depan ?”

Dia menghela napas.

“Kau itu cerewet juga ya ternyata. Wae ? Kau mau protes ?”

Aku menggeleng. “Aniyo. Aku cuma tanya kok. Kenapa namanya nggak Kyuseo aja ? Kan 99% kue ini kau yang bikin. Aku cuma bantu bikin krimnya doang. Itupun salah. Kenapa nggak Kyuseo aja ?” Tanyaku. Dia menghela napas.

“Seokyu, Kyuseo, apa bedanya ? Keduanya ada namaku dan namamu. Lagipula aku bukan orang seperti itu. Kesannya seperti terlalu bangga dengan karyanya sendiri. Padahal itu biasa saja.” Jawabnya singkat namun sangat mengena.

Benar juga sih apa katanya.

 

“Kau tidak makan kuenya ? Aku sudah hampir habis lho.” Kataku sambil menunjuk piringku. Kyuhyun yang sedang membuka-buka lembaran majalah masak menghentikan aktifitasnya. Ia melihat kepadaku, tersenyum lalu menggeleng.

“Tidak. Kuenya enak kan ?” Tanyanya dan kujawab dengan anggukan pelan. Dia tersenyum lagi.

“Kalau kau bilang enak, aku percaya kalau kuenya memang enak. Jadi, aku tidak perlu memakannya.”

“Tapi kan seleraku dan seleramu bisa saja beda. Aku bilang enak karena memang enak dan aku suka kue. Aku cuma orang biasa. Kau kan apatissier. Biasanya lidahmu lebih peka.”

“Aku juga suka kue. Kalau kau bilang enak karena kau suka, apa bedanya denganku ? Aku juga suka, otomatis aku juga akan bilang enak. Lagipula aku selalu mengorentasikan kueku untuk orang lain.” Jawaban yang bagus keluar darinya. Aku tersenyum lebar mendengar jawabannya. Simpel juga pemikirannya.

Aku melahap lagi potongan kue di depanku itu lagi. Memang tidak ada duanya cake buatannya itu. Luar biasa.

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

Makannya lahap juga. Sudah berkali-kali dan setiap dia memasukan potongan kuenya dia selalu bilang padaku kalau kue buatanku enak. Sampai bosan *terkesan agak sombong ya ?*.

“Aku punya pertanyaan untukmu.” Kataku tiba-tiba. Nggak tiba-tiba juga sih. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Dia mengemut sendok kuenya.

“Oh iya, mwo ?”

“Tapi kau harus jawab dengan jujur. Harus jujur !” Aku memaksa. Dia mengerutkan keningnya.

“Tergantung pertanyaanmu. Tapi, ah, lupakan.” Katanya. Aku menarik napas.

“Jawab pertanyaanku ya, kau dan Yoo Yi ada masalah apa ? Kenapa sampai kemarin kau…”

“Mendorong Yoo Yi ?” Dia menginterupsi. Aku menaikkan alis mataku. Bukan ! Bukan mendorongnya, maksudku. Kataku dalam  hati.

Memang maksudku bukan saat dia mendorong Yoo Yi, tapi saat Yoo Yi menamparnya. Dia melanjutkan lagi.

“Dia menyakiti temanku.” Jawabnya. Wajahnya datar dan nada suaranya teerdengar lirih dan sedih.

“Menyakiti temanmu ? Siapa ?” Aku menggeser bangkuku lebih dekat dengannya. Dia memasukan sepotong kue lagi ke mulutnya. Aku menunggu.

“Kau kenal dengannya kok. Sangat kenal dengannya mungkin. Dia yonbaemu, Yoona.” Jawabnya lagi dengan nada sedih. “Seperti kau, aku merasa dia juga menyakitiku kalau dia menyakiti temanku. Dan dia salah sudah melakukannya.” Lanjutnya kini dengan nada kesal.

Ada rasa sedikit tidak terima dalam diriku. Aku ingin menyangkalnya. Yoo Yi tidak seperti itu.

“Yoo Yi tidak seperti itu. Dia baik sama Yoona.” Sangkalku. Dia menatapku dengan pandangan bingung tapai kesal.

“Cih,Tidak seperti itu ? Ya kalau di depanmu. Kalau di belakangmu ? Kau hanya melihatnya dari depan. Kau tidak tahu bagaimana dia di belakangmu. Kau salah selama ini menilainya.” Dia mulai menaikan volume suaranya.

Dia mulai kehilangan kontrol lagi. Maunya pa sih gadis ini ?

“Memang kau tahu seperti apa Yoo Yi ? Ya ! Kau baru bertemu dengannya sekali tapi kau sudah menilainya buruk seperti itu. Dia tidak seperti itu !” Aku juga mulai meninggikan suaraku.

“Kau salah ! Kau harus tau dia seperti apa. Kau tidak pernah melihatnya bagaimana jika dibelakangmu. Dia jahat ! Dia selalu berbuat jahat pada semua orang yang mendekatimu. Dia akan memusuhi semua yang dekat denganmu. Termasuk Yoona. Dan Yoona adalah temanku. KAU TIDAK TAHU DIA SEBENARNYA BAGAIMANA !!!!” Seohyun menggebrak meja, berdiri dan menjerit. Memekik dan membuatku sempurna membelalakkan mata lebar.

Bagaimana dia bisa… ???

 

Aku terpaku. Memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Napasnya terengah sekarang. Wajahnya terlihat kesal walau semakin lama kekesalannya semakin memudar. Aku masih menatapnya. Tidak kusangka ada sifat lain yang tidak kuketahui darinya dan baru aku tahu sekarang. Dia begitu membenci Yoo Yi dan dia sangat membela teman-temannya. Itu yang dapat aku simpulkan dari kejadian kali ini.

Dia mulai menenang dan perlahan kembali duduk. Aku menatapnya terus sampai dia terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kami terdiam. Hening lagi. Hanya suara angin dan tetesan air di luar.

Hujan sudah berhenti. Tapi masih gerimis. Aku mendesah.

“Kau sangat menyukainya ya ? Sampai-sampai kau tidak terima dia kusalahkan.” Ucapnya tiba-tiba. Aku tertegun. Apa maksudnya ????

“Iya kan ? Kau sangat menyukai Yoo Yi itu kan ?” Tanyanya lagi. Aku masih terdiam.

“Bukan urusanmu.” Jawabku singkat. Dia menghela napas.

“Kau tidak mau jawab ? Ya sudah, berarti kuanggap utang jawabanku lunas. Kau tidak mau menjawab pertanyaanku, kan ? Aku juga tidak akan menjawab pertanyaanmu yang tadi. Geunde [tapi]…” Dia diam. Aku menajamkan pendengaranku dan menunggunya melanjutkan kalimatnya.

“Tanpa kau jawabpun aku juga sudah tahu jawabannya.” Lanjutnya. Aku mengerutkan keningku.

“Lalu untuk apa kau tanyakan padaku ?” Refleks aku bertanya. Dia memperlihatkan senyum sinis.

“Hanya ingin memastikan jawaban yang kau jawab langsung itu sama dengan jawaban yang kutahu.”

Aku tersentak. Kalau dia tahu jawaban pertanyaanya padaku, berarti dia tahu kalau aku suka sama Yoo Yi ? Aissh, Kyu pabo ! Tentu saja lah. Terdengar suara sendok yang di dentangan ke piring dari arahnya. Dia mulai makan lagi.

 

“Sudah kuhabiskan.” Katanya. Aku menoleh. Benar, piringnya sudah kosong.

“Taruh saja piringnya di tempat cuci piring.” Suruhku. Agak canggung juga setelah kejadian tadi. Dia beranjak. Masih diam. Tidak ada ekspresi apa-apa. Aku menghela napas.

“Mian yang tadi.” Kata Seohyun sekembalinya dia dari temapt cuci piring. Aku menoleh ke arahnya. Akhirnya.

“Nna do. Aku juga minta maaf sudah membuatmu kesal.” Aku tersenyum. Dia juga tersenyum. Suasana tidak enak diantara kami mulai mencair.

“Nggak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Mian, tadi aku kebawa emosi.” Katanya lagi. Aku tersenyum lagi.

“Sudahlah. Lupakan saja.” Kataku. Dia mengangkat bahu menurut.

 

Aku membereskan peralatan yang tadi dipakai untuk membuat kue. Dia membawa beberapa dan ditaruhnya di tempat cuci piring.

“Sudah beres. Ayo Pulang ! Hujannya juga sudah reda.” Ajakku sambil mengambil tasku dan menggantungnya dipunggungku.

“Kita tidak mencuci peralatannya dulu ?” Tanyanya sambil mengalungkan tasnya ke bahu. Aku menggeleng.

“Tidak usah. Besok saja kukerjakan. Kau tidak tahu bagaimana sekolah kalau malam hari.” Kataku sambil berjalan menuju pintu. Dia menjajari langkahku.

“Sekolah kalau malam ? Memangnya ada apa ?” Tanyanya. Nadanya terdengar dia mulai takut. Aku nyengir.

“Mau kuberi tahu ?” Kami sampai di depan pintu. “Baiklah. Di sekolah kalau malam itu kan banyak …. HWAAAAA !!!!” Aku berteriak sambil mematikan lampu lalu langsung berlari keluar. Seohyun ikut berteriak ketakutan dan terbirit-birit lari keluar. Aku ngakak.

“Hahahahahahaha…… !!! Kau takut ya ?! Ahahahahaha…” Aku meneruskan tawaku. Saking gelinya melihat tingkahnya dan ekspresi kagetnya. Aku kan cuma bercanda. Haha, dia lucu sekali.

Dia memukulku dengan tasnya. Aku mengaduh.

“Aduh ! Kok mukul ?”

“Kau mengerjaiku ya ? Jahat banget sih. Kaget tau.” Dia memukulku lagi. “Tutup pintunya ! Sana cepat !” Dia mendorongku ke pintu. Aku hanya tertawa. Dia benar-benar kaget ya ? Haha, lucu lucu. Aku pun menutu pintu ruang tata boga lalu menguncinya.

“Ayo pulang !” Dia berjalan mendahuluiku. Wajahnya masih cemberut lucu. Mungkin masih kesal karena ku kerjai. Jalannya cepat sekali.

“Ya !” Panggilku. Dia masih berjalan. Aku mengejarnya.

“Gidariseo [tunggu aku] !”

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

Aku berjalan meninggalkannya. Kesal. Habis siapa suruh mengerjaiku seperti tadi. Aku tidak suka hal-hal begituan. Aku mendengarnya memanggilku dan memintaku menunggunya. Aku mempercepat langkahku.

“Ya ! Jangan cepat-cepat jalannya !” Katanya begitu berhasil menjajariku. Aku memasang wajah cemberut. Dia malah terkekeh.

“Hehehe…, sebel ya ? Mian. Aku cuma bercanda tadi.” Katanya lagi. Aku masih memasang wajah cemberut. Padahal dalam hati aku udah ngakak.

“Hey ! Ngomong dong ! Mianhada tadi aku mengerjaimu. Jangan kesal lagi.” Dia mulai merengek *menurutku sih, hehe*. Aku menahan tawaku melihat ekspresinya.

“Hahahahaha…… !!!” Akhirnya aku keluarkan ketawa yang sudah kutahan dari tadi. Dia melongo.

“Heh ! Ngapain ketawa ?! Apa yang lucu ?!” Tanyanya. Lihat ekspresinya ! Lucu banget. Aku ngakak lebih keras.

“Kau…, hahahahahahahaha…. !!!” Aku menunjuk wajahnya. Dia berdecak.

“Hey, kau mengerjaiku juga ya ? Baiklah, kita impas.” Katanya. Aku mengangguk-angguk sambil mencoba menghentikan tawaku. Akhirnya berhenti juga sih. Walau agak susah.

 

Kami keluar gedung sekolah. Ternyata ada beberapa anak yang kulihat keluar dari gedung sekolah yang lain. SMA ku memang punya beberapa gedung. Sepertinya mereka juga terjebak hujan sepertiku dan Kyuhyun. Tapi kujamin tidak ada yang kejadiannya seperti aku dan Kyuyhun.

“Beruntung aku mengeluarkanmu dari gudang tadi. Kau tau cerita tentang gudang itu, kan ? Tentang gadis itu ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku langsung menegak dan menoleh cepat ke arahnya.

“Jangan mulai lagi !” Aku menghela napas. “Ne, araseoyo.” Lanjutku.

Tiba-tiba, dia merangkulku. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jujur, aku kaget. Jantungku berdetak lebih cepat. Dadaku menjadi sesak dan aku berdebar-debar. Mau apa dia ? Kenapa dia tiba-tiba…? Aku mulai berpikir macam-macam.

Dia membisikan sesuatu padaku. *fiuh, ternyata.

“Gadis itu…, mengikutimu.” Dan dia berlari meninggalkanku yang langsung lemas.

“AAAAAAAAAAAAA ….. !!!” Aku menjerit. Dia terbahak jauh di depanku sambil menunjuk-nunjukku.

“Ahahahahaha… !!! Kau takut. Kena kau !” Dia berjalan mundur sambil terus terbahak. Aku cemberut. Bisa-bisanya orang ini…

Aku mengejarnya dan siap melayangkan tasku untuk memukulnya. Dia langsung berlari begitu melihatku mengejarnya.

“AWAS KAAAAUUU !!!” Teriakku kencang.

Kami berkejaran sampai depan pintu gerbang. Aku tidak peduli anak-anak lain melihat kami seperti apa. Yang penting saat ini aku sedang melakukan hal konyol dengannya. Dengan dia yang sangat kusukai. Denga Kyuhyun.

 

 

Aku berjalan di belakangnya. Dia tidak terlalu jauh di depanku. Sebentar lagi kami sampai ke halte bis. Aku terus memandangnya.

Aku melihat punggungnya. Ingin kupeluk jadinya. Nyaman juga bersamanya. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Tidak akan pernah sampai aku tua nanti. Aku akan mengingatnya terus, terus, dan terus.

Hari ini aku menemukan banyak hal baru tentangnya. Tentang sifat-sifatnya yang baru kuketahui hari ini. Dari semua kejadian hari ini. Aku tidak sanggup menghitung berapa kali kami berdekatan. Berapa kami tertawa bersama. Berapa kali kami mengucapkan kata maaf. Aku tidak peduli. Yang penting, aku sudah bisa bersamanya hari ini. Walau awalnya tidak sengaja.

Tapi kok bisa ya ? Aku sedang berharap bisa dekat dengannya, dan sekarang harapanku terkabul. Mungkin nggak sih aku berjodoh dengannya ? Semoga saja, hihi. Aku tersenyum sendiri.

“Ya ! Ngapain kau senyum-senyum sendiri ? Jangan-jangan kau kerasukan gadis yang di gudang itu tadi ya ?” Tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia menghentikan langkahnya. Ekspresiku langsung berubah 180 derajat.

“Mau kutimpuk pakai tasku lagi ?” Aku siap-siap mengangkat tasku. Tadi, dia berhasil kena tasku yang kulempar. Dia langsung menolak.

“Andwae ! Hajima [jangan lakukan] ! Aku kan cuma tanya.”

Aku sampai di sampingnya dan kami berjalan lagi. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

“Kau mau langsung pulang ?” Tanyaku. Dia menggeleng.

“Aku mau ke café dulu. Aku shift mala mini. Harusnya sih tadi sore. Tapi gara-gara kejadian kejebak hujan yang tidak terduga seperti tadi, aku jadi harus mengganti shiftku. Lagian, kalau aku nggak ke café, Hye Ri mau pulang sama siapa ? Aku sudah janji akan pulang bersamanya.” Jelasnya tanpa menoleh padaku. Aku membulatkan mulutku dan mengangguk-angguk mengerti.

“Oooh, kau bertanggung jawab juga ya ?” Pujiku *sebenarnya memuji bukan sih ?*. Dia hanya tersenyum.

“Kau sendiri ?” Dia balik bertanya. Aku menoleh.

“Hm ? Aku juga mau ke café.” Jawabku. Dia berhenti tiba-tiba.

“Ngapain kau ke café ? Ini sudah malam. Kau langsung pulang saja. Pulang saja sana !” Dia menyuruhku. Aku ikut berhenti dan berbalik menghadapnya karena dia di belakangku.

“Aku mau ketemu Hye Ri kok. Lagian justru bagus dong kalau aku mengunjungi cafému. Aku kan jadi pelanggan. Hitung-hitung kan bikin laris. Aku juga sudah sering pulang jam 8an. Aku nggak akan lama kok di cafému.” Jawabku membela diri.

Aku kan memang mau ke sana. Ya selain ingin bertemu adiknya, aku juga ada alas an lain sih. Aku ingin lebih lama bersamanya saja. Hehehe, boleh kan ?

“Tidak baik seorang yeoja sepertimu pulang malam-malam. Sudahlah, kau langsung pulang saja !” Dia ngotot. Akupun tidak mau kalah

“Aku yang mau ke sana kenapa jadi kau yang repot ? Itu semua urusanku nanti. Harusnya kau berterima kasih karena aku mau main ke cafému. Kok kau malah maksa gitu ? Aku kan bukan siapa-siapamu.” Sergahku.

Bukan siapa-siapanya ? Memang sih. Kapan aku bisa jadi ‘siapa-siapa’ nya ya ? Haah, jadi temannya saja sudah bagus. Sabar Seohyun, jangan minta macam-macam dulu.

“Terserah kau saja lah.” Dia menyerah akhirnya. Aku kegirangan.

 

“Lama banget sih bis ke cafému ? Bisk e rumahku saja sudah ada 3 yang lewat.” Keluhku sambil bersandar di tiang pinggiran halte. Dia yang berdiri di pinggir trotoar membelakangiku, berbalik ke arahku.

“Makanya kau pulang saja.” Sarannya. Aku menggeleng.

“Na shireo. Aku mau ke café dulu pokoknya. Eh, itu bisnya !” Aku memekik sambil menunjuk sebuah bis berwarna hijau yang mendekat dari arah kiriku. Aku beranjak berdiri dan segera mengikuti Kyuhyun yang sedang masuk ke bis. Aku mengeluarkan kartu langgananku.

“Tidak usah.” Kyuhyun melarang.

“Eh, wae ?”

“Sudah kubayar sekalian denganmu.” Jawabnya. Dia berbalik dan berjalan menuju bangku paling belakang.

Aku tersenyum melihatnya. Tersentuh walaupun dari halte tadi sikapnya kembali dingin. Tapi aku suka sikapnya yang seperti itu. Dingin tapi peduli.

Aku mengikutinya. Keadaan bis ini setengah penuh dan nyaris semua bangku yang dekat jendela sudah di pakai. Yah, jam pulang seperti ini. Tinggal bangku paling belakang yang ada jendelanya. Dan yang sebelah kiri sudah diduduki Kyuhyun. Yaah…

Aku ke sisi seberangnya. Bangku di situ juga dekat dengan jendela dan belum ada yang menduduki. Aku menjatuhkan tubuhku yang cukup capek di situ. Kyuhyun memanggilku.

“Ya, Seohyun ah ! Kenapa kau duduk di situ ? Sini saja !” Dia menepuk bangku di sampingnya. Aku menelan ludah. Aduh, pilihan sulit. Aku ingin duduk di dekatnya, tapi aku juga ingin duduk dekat jendela.

“Kalau aku duduk di situ, kau harus tukeran denganku.” Aku memberi syarat. Dia mengerutkan dahi.

“Wae ? Kenapa harus ?” Tanyanya.

“Aku ingin duduk dekat jendela.” Jawabku. Dia menghela napas.

“Ya sudah deh…” Nadanya menyerah.

“Mwo ? Kau mau bertukar denganku ?” Tanyaku dengan nada girang.

“Tidak jadi saja.” Dia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Aku tertegun.

“Eh, mwo ? Wae ?”

Dia berbalik lagi. “Aku juga mau duduk dekat jendela. Kalau kau pindah ke sini tapi kau minta aku duduknya tidak dengan jendela, mending nggak jadi.” Alasannya. Aku melongo. Ternyata dia juga suka duduk dekat jendela ? Wah, sama ! *girang dalam hati*

Aku tersenyum geli. Kalau seperti tadi, dia malah jadi seperti anak kecil saja. Lucu. Aku mengikutinya. Mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela. Melihat Seoul waktu malam dan mobil-mobil yang berseliweran.

 

Biar tidak bisa di dekatnya, yang penting saat ini aku bersamanya.

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

Aku dan Seohyun turun dari bis. Kami langsung menyeberang jalan dan menuju café. Cukup ramai juga malam ini. Wah, Appa pasti sudah rebut sendiri nih aku nggak shift tadi sore. Mana pakai kejadian handphoneku nggak kubawa lagi. Aku menuju pintu samping, pintu karyawan.

Aku melihat Hye Ri yang sedang menarik sekantong besar sampah. Aku kerjain ah. Aku berjinjit mendekatinya dan bersiap menggelitikinya. Ini kelemahan paling besarnya. Aku sudah berada persis di belakangnya.

“Hye Ri ah !” Seohyun memanggilnya. Dia langsung berbalik dan melihatku yang ingin menggelitikinya. Yaah, ketahuan. Gara-gara Seohyun nih aku jadi ketahuan. Dasar Seohyun !

“Unnie !” Hye Ri memekik girang. “Eh, Oppa mau apa ? Mau nggelitikin aku ya ???” Tudingnya. Aku mengelus tengkukku.

“Ketahuan deh.” Gumamku. Hye Ri berlari ke arah Seohyun. Dia memeluknya. Kaya’ nggak ketemu bertahun-tahun aja. Aku menggeleng-nggelengkan kepala melihat mereka.

Mereka heboh sendiri. Persis seperti orang yang sudah lama tidak bertemu. Aku merasa seperti tidak diperhatikan kedatangannya. Apa setiap gadis kalau bertemu akan seperti itu ya ? Ah, molla. Aku masuk saja ah. Appa pasti akan memotong gajiku kalau aku semakin lama di sini.

Aku membuka pintu samping dan bermaksud meninggalkan dua gadis heboh di sebelah sana. Begitu kubuka pintu, seseorang keluar dan kami bertabrakan.

“Ya ! Pakai matamu kalau jalan, Kyu !” Sentak orang itu. Oh, Noona.

“Di mana-mana kalau jalan itu pakainya kaki, Joo Yeon Noona.” Sergahku sambil langsung berlari ke dalam. Bisa kena semprot kalau berurusan sama Noonaku satu ini.

“Aiisshh, jeongmal ! Awas kau ya, Kyu !” Teriaknya mengancam. Aku berlari mundur dan meleletkan lidahku padanya. Noona makin mencak-mencak. Hahaha…, lebih parah dari eomma ternyata. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku.

Harus cepat-cepat nih kalau tidak mau kena ceramahnya Appa.

 

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

 

Aku terperangah melihat tingkahnya Kyuhyun dengan gadis yang berdiri di depan pintu itu. Ternyata, Kyuhyun sifatnya begitu ya kalau sama keluarganya. Beda sekali sama biasanya yang dingin tapi keren itu.

Hye Ri memanggil gadis itu.

“Joo Yeon Unnie ! Sini !” Hye Ri menyuruhnya mendekat.

“Ada apa, Hye ? Ooh ~” Gadis yang dipanggil Joo Yeon itu menunjukku. “Kau temannya Hye Ri yang itu ya ? Siapa namamu ? Seohyun ya kalau tidak salah ?”

Aku mengangguk saja. Tapi jujur aku bingung kenapa Joo Yeon ini bisa mengenalku.

“Ne, annyeong haseyo. Seohyun imnida.” Aku memperkenalkan diri.

“Hye Ri dan Taeyon pernah menceritakanmu padaku. Kau kan yang dipersembahkan lagu sama Kyuhyun hari selasa kemarin kan ? Oh iya, sampai lupa. Joo Yeon imnida. Unnienya Hye Ri.” Giliran gadis itu memperkenalkan diri. Ooh, Unnienya ternyata. Pantas mirip. Wah, pas sekali. Dia menjelaskan sesuatu yang sebenarnya ingin kutanyakan.

“Iya,Unnie. Ini Seohyun Unnie yang sering kuceritakan ke Unnie.” Hye Ri menimpali.

“Eh, aku masuk dulu ya. Ada sesuatu yang harus kuurus. Sebentar saja kok. Nanti aku ke sini lagi. Aku ingin ngobrol lebih banyak denganmu, Seohyun. Tunggu ya.” Joo Yeon Unnie kembali masuk. Hye Ri mengajakku duduk di salah satu kursi taman yang ada di dekat situ.

 

“Ada apa ?” Tanyaku begitu kami duduk.

“Unnie kenapa pulang bareng sama Oppa ? Maksudku kok bisa bareng sama Oppa sih ?” Dia memandangku dengan tatapan penasaran. Aku tersenyum malu-malu. Dia merengek.

“Ayo, Unnie ! Ceritakan !”

Aku menarik napas panjang dan mulai bercerita. Mulai dari awal. Dari aku dikerjai oleh para anak buahnya Yoo Yi, terus saat dikurung di gudang, diselamatin Kyuhyun, dipeluk *bagian ini Hye Ri jadi heboh, dan semuanya. Dan nggak ketinggalan juga waktu kami kejebak hujan dan berdua bikin cake *bagian ini dia juga heboh lagi, ckckck.

“Unnie, jeongmal ??! Jinjja ? Kejadiannya beneran gitu ?” Dia bertanya heboh. Aku Cuma manggut-manggut.

“Aigoo~ neomu joa. Unnie pasti seneng banget ya ? Unnie chukae…” Dia mengguncang tubuhku.

“Aduh, aduh, Hye Ri, sudah. Kau ini heboh sekali sih ? Oh iya, gomawoyo.”

“Gomawo untuk apa ?”

“Karena kau sudah berharap aku dan Kyuhyun bisa jadi teman. Ternyata benar ya, setiap apa yang kau harapkan akhirnya bisa terkabul. Kau hebat.” Aku memujinya. Dia nyengir.

“Cheonmaneyo, Unnie. Unnie orang keseribu yang bilang begitu padaku.”

Joo Yeon Unnie tiba-tiba datang dan langsung mengambil tempat duduk di samping Hye Ri.

“Annyeong. Maaf lama nunggu. Kalian ngobrolin apa sih ? Kok sepertinya seru banget ? Kau sampai heboh begitu, Hye.” Joo Yeon Unnie merangkul Hye Ri sayang. Aku tersenyum melihat mereka. Hye Ri bercerita sedikit apa yang kami obrolkan tadi. Joo Yeon Unnie hanya ber’oh-oh’ saja.

“Oh iya, Seohyun ah, kau itu temannya Kyuhyun ya ? Kyuhyun di sekolah bagaimana ? Dia menyebalkan ya ? Pasti jahil banget. Hobinya kan nge-game seharian dan menjahili orang. Kasian ni yeodongsaengku ini sering dikerjai sama namdongsaengku satu-satunya itu. Eh, kau kalau diperhatikan ternyata cantik ya, Seohyun. Ya nggak, Hye ?” Cerocosnya. Wah, ternyata nggak kalah hebohnya sama adiknya. Aku Cuma nyengir lebar.

“Kan aku udah pernah bilang sama Unnie kalau Seohyun Unnie itu cantik.”

“Cocok ya sama Kyuhyun. Kenapa kalian nggak jadian saja ? Pasti pas sekali. Aku mendukungmu lho.” Lanjut Joo Yeon Unnie lagi. Aku tertegun. Ups? Mendukung ?

“Emang Unnie. Nna do.” Ini lagi si Hye Ri pakai nimpalin. Wajahku memerah menahan malu. Ya ampun, hawa-hawanya.

“Oh iya, Seohyun ah pulangnya gimana ? Ini sudah malam lho. Masa kau pulang sendirian ?” Tanya Joo Yeon Unnie padaku. Aku terperangah.

“Aah ? Aku biasa pulang jam segini kok, Unnie. Nggak apa-apa.” Jawabku setenang mungkin.

“Eh, andwae ! Kau tidak boleh pulang sendiri. Seram ah. Kau di…”

“Noona ! Bajuku mana ?!” Tiba-tiba terdengar suara Kyuhyun dari depan pintu. Memutus kalimat Noonanya. Kami bertiga menengok bersamaan.

“Baju apa ?” Joo Yeon Unnie mengerutkan keningnya.

“Baju shiftku lah. Aku mau ngganti shiftku yang tadi sore jadi malam ini. Aku sudah bilang Appa kok. Bajuku mana ?” Teriaknya lagi. Unnie terdiam. Sepertinya berpikir.

“Ah ! Kau sini dulu ! Yeogi palli [sini cepat] !” Suruh Joo Yeon Unnie. Walau dengan agak malas, Kyuhyun akhirnya memenuhi panggilan Noonanya.

“Mwo ? Ayolah, Unnie ! Aku harus cepat-cepat.” Kyuhyun mulai merengek.

“Kau antar Seohyun pulang !” Suruhnya lagi. Aku membelalak, Kyuhyun melotot.

“MWO ???”

“NE ?!”

Aku dan Kyuhyun terkejut. Kyuhyun reflex menolak.

“Apa, Unnie ? Aku mesti kerja. Aku nggak bisa.” Kyuhyun menyanggah. Aku Cuma bisa diam terpaku di kursi. Joo Yeon Unnie berdiri dan mengambil tangan kanan Kyuhyun.

“Sekarang bisa. Aku yang akan bilang dan minta ijin Appa. Pasti boleh, tenang saja. Yang penting kau antar Seohyun pulang dan pastikan dia selamat. Sana pergi ! Cepat !” Joo Yeon menyerahkan kunci mobilnya lalu mendorong Kyuhyun mendekatiku.

“Aku ikuuuut…” Hye Ri berteriak girang. Namun lengannya langsung ditarik Joo yeon Unnie.

“Nggak usah. Kau nanti pulang bareng aku saja. Sekarang kau bantu aku ijin ke Appa. Kalian berdua, sana cepat pergi ! Ayo adik kecilku !” Joo Yeon meninggalkan kami sambil menyeret Hye Ri yang merengut. Aku memandangi mereka dengan tatapan shok. Kyuhyun juga.

“Unnie, Oppa, Hwaiting !!!” Hye Ri sempat meng-hwaiting-ku dan Kyuhyun sebelum masuk. Aku dan Kyuhyun menghela napas bersamaan.

“Noonaku…, memang begitu. Jadi jangan kaget. Nggak cuma Joo Yeon Noona, tapi semua keluargaku. Bahkan Appaku.” Jelas Kyuhyun. Suaranya agak terbata. Aku terdiam.

“Ayo pulang ! Kuantar kau sampai rumahmu.” Dia berjalan mendahuluiku menuju mobilnya. Aku masih diam terduduk akhirnya sadar dan beranjak mengikutinya. Aigoo~ kenapa jadi berdebar begini ??

 

Kyuhyun membukakan pintu untukku. Lalu dia masuk ke mobil juga. Aku memasang seat belt.

“Rumahmu…, ke arah mana ?”

 

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

 

Joo Yeon Noona itu, aissshh, dasar nenek sihir. Hobinya nyuruh-nyuruh. Kenapa sih dia mesti menyuruhku mengantarnya pulang segala ? Maunya apa sih itu noonaku itu ? Aku mengumpat dalam hati.

Aku ingin fokus menyetir. Tapi pikiranku terpecah. Entah kenapa keadaanku dan Seohyun jadi canggung. Kami terus diam selama perjalanan. Hanya beberapa kali berbicara. Itupun hanya untuk menunjukan arah. Tiba-tiba aku merasakan hawa yang lain dari biasanya.

Duh, kenapa ini ? Kenapa aku jadi berdebar-debar satu mobil dengannya ? Padahal aku sudah bersamanya dari tadi. Aku kenapa ?

 

Aku perang batin. Kulirik Seohyun yang diam menghadap jendela. Kenapa dia juga jadi diam ? Padahal dari tadi aku dan dia sudah bercanda. Sudah tertawa bersama. Sudah Kyuhyun ! Kau harus berhenti ! Fokus menyetir ! Fokus !

Aku mencoba fokus.

 

 

“Berhenti di sini saja, Oppa.” Pinta Seohyun. Aku menghentikan mobilku. Kami sampai di daerah rumahnya. Aku berhenti tepat di depan pertigaan yang menanjak jalannya.

“Mana rumahmu ?” Tanyaku sambil mengedarkan pandanganku. Dia menunjuk ke atas pertigaan yang menanjak itu.

“Rumahku agak ke atas. Makannya kusuruh Oppa berhenti di sini aja. Sudah dekat kok. Jeongmal gomawo, Oppa. Udah nganterin aku pulang. Mian juga jadi ngerepotin Oppa.” Ucapnya pelan. Aku tersenyum.

“Gwaenchana. Aku melakukan ini juga karena tidak ingin berurusan dengan nenek sihir satu itu.”

“Nenek sihir ?”

“Joo Yeon noona. Mentang-mentang dia anak pertama, dia jadi suka berkuasa. Sikapnya masih seperti anak kecil padahal sebentar lagi dia menikah.”

“Oh ya ?! Wah, aku diundang ya waktu pernikahannya. Hehe, aku suka sama pesta pernikahan. Eh, aku kok jadi curhat ? Sudah ya, Oppa. Aku pulang dulu. Sekali lagi gomawoyo.” Dia melepas seat beltnya dan bersiap keluar.

“Chamkanman…”Aku menarik tangannya. Entah keinginan darimana. Tiba-tiba saja aku lakukan.

Dia terlihat terkejut melihat perlakuanku. Dia menatap genggamanku dengan mata membelalak. Aku juga kaget melihatnya. Segera kulepaskan peganganku. Tiba-tiba jantungku jadi berdebar-debar. Ada perasaan aneh yang memasuki hatiku. Aku tidak tahu.

“Wae, Oppa ?” Tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng dan tersenyum padanya.

“Josimhae…”

“Ani, Oppa. Harusnya aku yang bilang gitu sama Oppa. Josimhaseyo. Aku pulang dulu.” Dia tersenyum lalu keluar dari mobilku. Dia menutup pintu.

Aku terpaku. Entah kenapa, senyumnya jadi terlihat manis di mataku barusan. Dia melambai padaku, tersenyum, dan berbalik pergi. Aku menunggunya sampai benar-benar hilang dari pandanganku.

Ternyata dia memang manis. Hye Ri dan Taeyon Unnie selalu bilang begitu padaku. Ternyata setelah kuamati dia memang manis. Kenapa aku baru sadar ya ? Padahal aku sudah bersamanya sejak tadi.

Aku baru sadar juga ternyata aku sudah cukup lama bersamanya. Kenapa tiba-tiba aku jadi berdebar ketika di dekatnya ? Apa mungkin aku menyukainya ? Ah ! Aniyo Kyuhyun ! Kau tidak menyuakinya. Kau kan suka Yoo Yi. Sudahlah ! Jangan bahas lagi. Biar saja hari ini jadi salah satu kenanganku.

Aku melihat ke jalan itu lagi memastikan dia sudah tidak berada dalam jarak pandangku. Kunyalakan mesin mobil dan aku segera kembali ke café. Aduh, jadi keinget nenek sihir dan bayi heboh yang menunggu. *nenek sihir = Joo Yeon, bayi heboh = Hye Ri.

 

 

Aku masih terus berpikir.

Tapi, bagaimana kalau aku benar-benar menyukainya ???

 

…..to be countinue…..

 

 

Chingu…, akhirnya rilis juga part 11 nya…

Mian ya udah nunggu sekian lama…

Banyak banget masalahnya waktu bikin part ini. Ada yang datanya ilang lah, laptop rusak kesiram es teh lah, internet mendadak rusak lah, rebutan sama adek author waktu kerja bikin part 11 ini lah, yang UAS lah, yang apalah…

Jeongmal mian yaaaa………….

Authornya mau digebukin juga nggak apa-apa kok kalopada kesel #plak,bakg,bigk,bugk,begk,bokg.., *ampe bonyok

5 responses »

  1. wuo wuo wuo..
    Kyuuu cepatlah sadarrr., Yooyi tdk sbaik yg kau pikirkaaann >.<

    yeay kyu udh mulai MIKIR..ayo udah suka itu…

    lanjut lanjut lanjut ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s