I Wanna Love You (part 3)

Standar

Author: Haedie Luph Donghaegaeul

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gaeul’s POV

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Perutku sungguh lapar. Sudah tak sabar memakan masakan Ahra eonnie yang tak ada tandingannya. Tapi tiba-tiba ada sepasang tangan yang memeluk pinggangku dari belakang. Tangan itu mengangkat tubuhku dan memutar-mutarnya.

”Hoahhhh Gaeul-ah!!!!!!” Teriaknya masih memutar-mutar tubuhku.

Aissshhh dari suaranya aku tau suara ini milik siapa.

”Ya, Oppa!!!!!!! Apa yang kau lakukan?????????? Onnie!!!!!!!!!!” Teriakku.

Hyuk oppa menurunkan tubuhku kemudian langsung memelukku. Dan samar-samar kudengar suara Ahra Onnie yang terkekeh pelan.

Apa-apan ini??? Oppa, aku mohon bantu aku membunuh perasaanku padamu. Jangan bersikap seperti ini padaku…

Kulihat tawa bahagianya menghiasi wajah tampannya.

”Kau tau??? Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ahjumma.”

DARRRRR..

Aku terperangah mendengarnya. Ahjumma??? Itu berarti…

Perasaanku mulai berkecamuk.

”Maksud oppa, Ahra onnie sedang mengandung???” tanyaku memastikan.

Hyuk oppa mengangguk cepat. ”Dan itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi seorang appa.”

Lagi-lagi hatiku terasa seperti di tusuk oleh anak panah. Apa yang aku rasakan??? Seharusnya aku ikut bahagia tapi kenapa perasaanku seperti ini???

”Gaeul-ah,” panggil Hyuk oppa. ”Kenapa kau diam saja, apa kau tidak senang akan menjadi ahjumma???” tanyanya.

Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum. ”Tentu saja aku senang oppa,”  jawabku kemudian langsung berlari ke pelukan onnieku.

”Chukae onnie, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu. Kuharap anak ini,” ucapku sembari mengelus pelan perut onnieku. ”Akan lebih banyak mewarisi sifat eommanya daripada appanya,” lanjutku lagi sembari mengerling nakal pada Hyuk oppa.

”Ya!!!! Kenapa aku memiliki adik yang tidak sopan seperti dirimu!!!!” ucapnya kesal.

Aku berpura-pura tertawa mendengar ucapannya. Sebenarnya hatiku sudah tak sanggup lagi untuk bersandiwara seperti ini. Tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan pria mesum itu yang tak kusadari sejak tadi menatapku. Ntah apa arti tatapannya itu, tapi seperti sedang mengorek isi hatiku.

Tidak mungkin… Dia tidak mungkin tau perasaanku yang sebenarnya.

”Jagi, sebaiknya kita pergi sekarang,” ucap Hyuk oppa yang membuatku mengalihkan tatapanku dari pria mesum itu.

Kulihat Ahra Onnie menganggukkan kepalanya kemudian mengecup pipiku. Sepertinya Ahra onnie bisa mengerti pertanyaan yang ada di hatiku tanpa harus aku ucapkan.

”Kami akan pergi ke rumah orang tua oppa mu, memberikan kabar gembira ini,” ucap Ahra Onnie dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Sepertinya keluarga kecil ini begitu bahagia. Haruskah aku merusak kebahagiaan mereka karena perasaanku???

”Mungkin kami akan pulang sedikit larut,” sambung Hyuk Oppa. ”Hae, tolong jaga Gaeul.”

Aku melirik ke arah pria mesum itu dan kulihat dia menganggukkan kepalanya. Apa-apaan mereka??? Kenapa mereka begitu percaya meninggalkanku bersama pria mesum itu???

Hyuk oppa menggenggam tangan Ahra Onnie dan kemudian tersenyum dengan penuh cinta pada Ahra Onnie. Melihat ini sungguh sangat meyakitkan.

”Onnie, Oppa,” panggilku ketika mereka mulai berjalan ke arah pintu.

Mereka membalikkan tubuh mereka dan memandangku.

”Bolehkah nanti malam aku pergi bersama temanku??” tanyaku.

”Yeoja atau namja???” Tanya Hyuk oppa protective.

”Namja,” jawabku singkat.

Lagi lagi kulihat senyum Ahra Onnie mengembang di wajahnya. ”Ternyata adik kecilku mulai mengerti cinta, tentu saja boleh,” ucap Ahra Onnie.

”Tapi kau harus hati-hati, jangan biarkan dia bertindak yang tidak-tidak padamu

,” sambung Hyuk oppa.

Aku memanyunkan bibirku, berpura-pura kesal mendengar ucapannya. Dan di balasnya dengan tawa yang sangat kukenal.

Punggung mereka semakin menjauh dariku. Aku menghela napas pelan, menundukkan kepalaku. Aku benar-benar lelah harus berpura-pura bahagia, sedangkan hatiku menderita.

Aku membalikkan tubuhku dan betapa terkejutnya diriku ketika melihat pria mesum itu sudah berdiri di belakangku.

”Apa kau akan pergi bersama Henry???” tanyanya.

Aku mengerutkan dahiku mendengar pertanyaannya. ”Aku tak perlu kan meminta izin padamu akan pergi dengan siapa??? Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, kau hanya tamu,” balasku.

”Apa kau berpacaran dengan Henry???” tanyanya lagi yang sepertinya tak menghiraukan ucapanku tadi.

Kutatap matanya tajam. ”Itu bukan urusanmu!!!!!”

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Aku tak mau berdebat dengan pria itu saat ini. Perasaanku sungguh kacau balau dan aku tak mau memperburuk suasana hatiku dengan semua perilakunya.

 

*****

 

Aku duduk di taman belakang rumahku menunggu Henry. Sinar matahari yang mulai meredup membuatku sedikit terasa nyaman. Ntahlah kenapa aku begitu menyukai suasana senja seperti ini. Mungkin ini seperti hatiku yang semakin lama akan diselimuti kegelapan, sama seperti senja yang akhirnya akan berganti malam. Kuharap akan ada seseorang yang akan menjadi bintang di malamku. Membuat malamku sedikit bercahaya. Dan kuharap bintang itu adalah Henry. Bintang yang akan menggantikan matahari yang selama ini menyinari hidupku. Bintang yang akan menghapus nama Hyuk jae dari hati dan pikiranku.

”Apa yang sedang kau lakukan di sini??” ucap seseorang.

Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara itu dan kulihat pria mesum itu duduk di sampingku. Cihhh…

”Melihat sunset,” jawabku malas.

”Mana bisa melihat sunset dari sini.”

Dia menggenggam tanganku dan menarikku. ”Biar kutunjukkan padamu tempat yang bagus untuk melihat sunset,” ucapnya.

Kutepis tangannya yang masih melingkar di pergelangan tanganku.

”Aku tak mau,” ucapku sinis.

Aku melangkahkan kakiku, namun beberapa saat kemudian sebuah tangan lagi-lagi mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku tepat ke hadapannya.

”Terkadang manusia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Terkadang manusia benar-benar tak memahami perasaannya dan terkadang manusia salah mengartikan perasaannya sendiri,” ucapnya tajam.

”Apa maksudmu???” Tanyaku tak mengerti.

Dia tak menjawab pertanyaanku tetapi menatap dalam ke mataku. Baru kali ini aku melihat tatapannya yang menakutkan seperti ini.

Tiba-tiba bel rumahku berbunyi yang membuatku mengalihkan pandanganku darinya. Aku menoleh ke arah pintu sejenak kemudian memandang wajahnya kembali. Kulepaskan tangannya yang masih mencengkeram pergelangan tanganku. Kemudian aku berbalik dan berjalan ke arah pintu.

Kubuka pintu rumahku dan kudapati Henry yang sudah berdiri di hadapanku. Dia memberikan senyumannya padaku dan kubalas senyumannya.

”Kau sudah siap???”

Terkadang manusia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Terkadang manusia benar-benar tak memahami perasaannya dan terkadang manusia salah mengartikan perasaannya sendiri.

Ucapannya masih berkelebatan di kepalaku.

Aku menolehkan kepalaku kembali ke arahnya. Kulihat dia masih berdiri di tempatnya tadi dan membelakangiku.

Apa maksud ucapannya???

”Jagi,” panggil seseorang yang membuyarkan lamunanku.

”De???”

Henry menatapku jahil. ”Apa kau begitu terpesona dengan ketampananku hingga melamun seperti itu???” godanya.

Aku tertawa pelan mendengarnya.

”Apa kita bisa pergi sekarang???” tanyanya lagi dan kujawab dengan anggukkan kepalaku.

 

*****

 

”Ayo, kau pasti bisa,” ucapnya memberi semangat.

Henry membawaku ke tempat bermain ice skating, padahal aku tak pernah mencoba permainan ini. Aku sungguh tidak bisa tapi Henry terus memaksaku untuk mencoba.

Dengan sabar dia membantuku berjalan selangkah demi selangkah. Perlahan aku mulai bisa menyeimbangkan tubuhku dan berjalan tanpa pegangan dari dirinya. Kulihat senyum sumringah dari wajahnya..

Lalu tiba-tiba dia meluncur cepat ke tengah arena. Dia menoleh ke arahku sejenak dan tersenyum kemudian berbalik memunggungiku.

“Cho Gaeul saranghae….!!!!!!!!!” teriaknya kemudian mengacungkan telunjuknya kepadaku yang membuat para pengunjung  menoleh ke arahku.

Aku terperangah mendengarnya. Aku tak menyangka dia akan bertindak seperti ini. Kurasakan pipiku memanas. Aku tersenyum ke arahnya.

Inikah rasanya dicintai??? Mungkin keputusanku untuk menerima Henry sebagai kekasihku adalah keputusan yang tepat. Mungkin Henry bisa menghapus nama Hyukjae dari hatiku.

 

*****

 

Henry menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Kemudian dia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkanku untuk turun dari kereta kudanya.

”Gomawo,” ucapku.

Henry mengernyitkan dahinya. ”Terima kasih untuk apa??? Sang pangeran hanya membantu sang putri untuk turun dari kereta kudanya,” balasnya.

Lagi-lagi aku terkekeh mendengarnya. Dia benar-benar pintar menghangatkan hatiku. Semoga saja aku bisa membunuh perasaanku pada Hyuk oppa dan membalas cintanya dengan utuh.

”Tidurlah yang nyenyak dan jangan lupa mimpikan aku,” ucapnya sembari mengelus kepalaku pelan.

Aku tersenyum padanya. Kemudian dia kembali manaikki kereta kudanya dan pergi berlalu dari hadapanku.

Aku melangkah menuju pintu rumahku, namun baru beberapa langkah, kakiku terhenti. Aku memukul keningku pelan. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan tas dan ponselku di mobil Henry.

Aku kembali mencari mobil Henry yang sudah melaju, tapi sayang aku tak bisa melihatnya lagi.

 

*****

 

Aku terus melangkah menuju rumah Henry. Sebenarnya aku merasa takut berkeliaran malam-malam begini. Tapi tak ada jalan lain, aku harus mengambil barang-barangku di mobil Henry.

”Ya!!! Cepat berikan uang kalian padaku.” samar-samar Kudengar teriakan Henry dari dalam rumahnya.

Sepertinya dia sedang bersama teman-temannya. Aku sungguh tak ingin mengganggu mereka, tapi tas dan ponselku ada di dalam mobil Henry. Aku tak ingin Onnie dan oppa khawatir karna tak bisa menghubungiku, terlebih lagi jika henry yang mengangkat ponselku ketika mereka meneleponku. Itu akan membuat mereka cemas dan berpikir yang bukan-bukan. Aku tak mau itu terjadi.

Aku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu rumahnya yang masih terbuka lebar padahal jam tanganku sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Waktu yang sudah cukup larut bagiku.

”Ayo cepat berikan uang kalian padaku!!! Aku sudah mendapatkan Gaeul, itu berarti aku yang menjadi pemenangnya.”

JEGERRRR…

Aku merasa seperti di sambar petir. Pemenang??? Jadi selama ini dia tak pernah mencintaiku. Dia hanya menjadikanku sebagai lelucon dengan teman-temannya.

Kulihat teman-temannya menyodorkan beberapa lembar uang ke arahnya.

”Ne, kami akui kau hebat. Tak ada wanita yang bisa menolak pesonamu, bahkan Cho Gaeul sekalipun yang selalu bersikap dingin pada pria-pria di sekolah. Tapi lihat dirimu, kau berhasil membuatnya menerima pernyataan cintamu bahkan pergi berkencan denganmu,” ucap salah satu temannya dan di balas dengan senyum kemenangan di bibirnya.

Jantungku melemas mendengar kenyataan ini. Tak kusangka kau setega ini padaku.

Aku membalikkan tubuhku dan berusaha melangkahkan kaki menjauh dari rumah ini, meskipun kakiku terasa kaku. Aku tak ingin berada lagi di sini. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi.

”Gaeul-ah,” panggil seseorang yang membuat langkahku terhenti. Sepertinya dia sudah menyadari kehadiranku.

Namun sesaat kemudian, aku kembali melangkahkan kakiku. Tapi cengkeraman di pergelangan tanganku kembali menghentikan langkahku.

”Dengarkan aku,” pintanya.

Aku menepis tangannya kasar, tapi dia kembali mencengkeram kedua lenganku dan memaksaku untuk melihatnya.

”Kumohon dengarkan aku, Gaeul-ah,” ucapnya lagi.

Kutatap dengan nanar matanya. Aku tak bisa menyembunyikan amarahku lagi. Meskipun aku belum mencintainya, tapi hatiku terasa sangat sakit dipermainkan seperti ini. Kupikir dia adalah pria yang baik. Pria yang akan menghapus nama Hyuk jae dari dalam hatiku dengan cinta yang dia berikan. Tapi kenyataannya, dia menggoreskan pecahan kaca di hatiku.

”Jangan pernah menyebut namaku lagi!!!! Ucapku tajam.

Matanya melebar mendengar ucapanku. ”Jangan Pernah menyebut namaku lagi,” ulangku dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutku.

 

*****

 

Mungkin benar apa yang dikatakan pria mesum itu. Saat setan menguasai pikiranmu, kau tak akan pernah bisa berpikir jernih. Dan inilah aku sekarang. Ntah aku tak tau setan apa yang telah merasuki diriku sehingga membuatku berani menginjakkan kakiku ke tempat seperti ini. Ini bukan tempatku, seharusnya aku tak berada di sini.

Suasana ruang yang remang-remang dan bau alkohol yang menusuk hidungku, membuat kepalaku pusing. Tapi aku tak peduli. Aku butuh ini sekarang untuk melupakan sakit hatiku.

Aku merasa dunia begitu kejam padaku. Semua orang berbahagia di atas penderitaanku. Onnie, Hyuk oppa, Henry, semuanya tak ada yang mengerti perasaanku. Tak ada yang memikirkan perasaanku. AKU BENCI MEREKA!!!

Kuteguk lagi minuman yang ada di hadapanku. Ketika minuman itu mengaliri tenggorokanku, perutku seakan memberontak dan ingin memuntahkannya kembali, tapi aku menahannya. Baru beberapa gelas aku meminumnya, dan sekarang semuanya tampak buram di mataku. Aku merasa semua orang berputar-putar di hadapanku. Kepalaku benar-benar terasa berat.

Aku kembali menuangkan isi botol itu ke dalam gelasku dan siap untuk meneguknya kembali. Tapi tiba-tiba ada yang merebut gelas itu dari tanganku.

 

*****

 

Donghae’s POV

Jalanan Seoul mulai sepi. Awan tebal juga mulai menyelimuti langit Seoul. Cuaca begitu buruk.

Aku terus melajukan mobilku. Akhirnya urusanku selesai juga hari ini. Sebenarnya aku memilih menyelesaikan pekerjaanku karna aku juga tak ingin sendirian di rumah dan melihat bocah itu mengantarnya pulang. Sudah cukup aku melihat bocah itu menjemputnya tadi sore.

Aku terus mengedarkan pandanganku ke jalan. Tapi mataku menangkap sosok seseorang yang tengah berdiri di depan pintu sebuah club malam dan sepertinya aku mengenal sosoknya. Aku menajamkan penglihatanku, dan benar saja, aku sangat mengenal gadis mungil itu.

”Sedang apa dia di sana???”

Kulihat gadis itu berjalan menuju pintu masuk. Langkah kakinya terlihat gontai. Dengan cepat kutepikan mobilku dan berlari-lari kecil mengejarnya. Aku masuk ke dalam ruangan itu. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan mencari sosoknya. Tapi cahaya ruangan yang remang membuat penglihatanku terbatas. Aku terus berusaha mencari sosoknya, hingga akhirnya aku menemukannya.

Kulihat dia menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Andwae!!! Dia tak boleh meminum minuman seperti itu. Ada apa dengan gadis ini??? Kenapa dia berani sekali ke tempat seperti ini???

Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat ke arahnya. Kemudian kurebut minuman itu dari tangannya.

Dia menolehkan kepalanya gusar ke arahku. Dia menyipitkan matanya, berusaha mengenali wajahku. Sesaat kemudian dia menyeringai padaku.

”Ya, Pria mesum!!! Kenapa kau ada di sini???” ucapnya.

Kulihat matanya sudah tak fokus. Aku juga mencium bau alkohol dari mulutnya. Sepertinya gadis kecil ini sudah mabuk.

Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipiku.

”Kenapa kau seperti hantu, muncul dimana-mana??? Apa kau sengaja mengikutiku???” ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan pipiku.

Aku hanya diam mendengar ocehannya. Aku sungguh tidak tau kenapa dia seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi padanya???

”Apa kau kemari juga ingin mengatakan kau mencintaiku??? Dan setelah itu kau akan bilang bahwa ini hanyalah sebuah permainan???” ucapnya lagi tetap dengan seringaiannya.

Aku semakin tak mengerti ucapannya. Dia menurunkan tangannya dari pipiku ke bajuku kemudian meremasnya kuat.

”Apa kau juga ingin mempermainkanku??”

Dia mendorong tubuhku kemudian dengan sempoyongan berjalan menuju pintu keluar. Aku menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan bar kemudian berlari menyusulnya.

Kulihat jalanan Seoul mulai dibasahi air hujan yang mengguyur dengan derasnya.

Dia terus berjalan menerobos air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

”Gaeul-ah!!!!!!!” Teriakku.

Tapi dia tak menghiraukan panggilanku. Kupercepat langkahku mengejarnya yang semakin berjalan menjauh dariku.

”Gaeul-ah kau mau kemana???” teriakku di tengah hujan deras ini.

Tiba-tiba kulihat dia tersungkur dan dengan cepat aku berlari ke arahnya. Kucengkeram kedua lengannya dan membantunya berdiri. Tapi kakinya menolak untuk berdiri dan membuatnya kembali terduduk di aspal. Aku berlutut di hadapannya dan menyanggah tubuhnya yang terkulai lemas.

Kusingkirkan rambutnya yang menutupi wajahnya. Tak ada lagi seringaian di wajahnya. Dia memejamkan matanya.

”AKU BENCI KALIAN SEMUA!!!!!!!!!!!” Teriaknya tanpa membuka matanya.

Aku terbelalak mendengar ucapannya.

”Aku benci kalian!!!” ucapnya terisak. Tubuhnya bergetar pelan di pelukanku.

”Gaeul-ah,” panggilku pelan tapi sepertinya dia benar-benar mabuk berat.

”Kenapa tak ada yang mencintaiku dengan tulus??? Kenapa tak ada yang mengerti perasaanku??? Kenapa tak ada yang mempedulikan perasaanku??? Kenapa semua orang mempermainkan perasaanku??? Semua orang berbahagia di atas penderitaanku!!!!!”

Suara tangisnya pecah, tapi aku tak bisa membedakan air hujan dan air mata yang membasahi wajahnya.

”Kenapa aku mencintai orang yang mencintai onnieku sendiri?? Dan saat aku berusaha membuka hatiku untuk pria lain, tapi dia hanya mempermainkanku. Kupikir dia bisa menjadi bintang untukku dan perlahan akan membuatku melupakan matahari yang menyinari siangku. Kenapa tak ada yang mencintaiku dengan tulus???”

Dia membenamkan wajahnya ke dadaku dan perlahan tubuhnya tak bergerak sama sekali.

”Gaeul-ah,” panggilku sembari menepuk-nepuk pelan pipinya. Tapi lagi-lagi tak ada respon darinya.

 

*****

 

Kurasakan aroma segar menusuk hidungku. Aroma ini tak pernah kuhirup di pagi hariku.

Dengan berat kubuka mataku dan menggeliat pelan. Kepalaku masih terasa pusing.

”Selamat pagi,” ucap seseorang.

”Pagi,” jawabku.

Tapi sesaat kemudian tubuhku membeku. Siapa pagi-pagi begini berada di kamarku?? Kubuka mataku lebar-lebar dan aku mendapati suasana ruangan yang berbeda dengan kamarku. Ini bukan kamarku. Mataku melebar. Kemudianku kutolehkan kepalaku ke samping dan kudapati seorang namja berbaring di sampingku dengan tangan yang menyanggah kepalanya. Wajah mesumnya berada tepat di samping kepalaku dan tersenyum menjijikkan kepadaku.

Aku langsung bangkit dari tidurku dan duduk di tepi ranjang sembari menutupi seluruh tubuhku.

”Ya!!! Apa yang sedang kau lakukan??” Teriakku.

Dia menguap dan meregangkan kedua tangannya. ”Hoammmm, sama seperti dirimu. Bangun tidur,” jawabnya.

”Mwo???” ucapku tak percaya. ”Sebenarnya apa yang terjadi?? Katakan apa yang kau lakukan padaku??? Kenapa kau ada di sini???”

Dia menatapku tajam. Lagi-lagi tatapan seperti ini membuatku takut padanya.

”Kau sungguh tak mengingat apa yang terjadi semalam???” tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku.

”Kau sungguh tak mengingat apa yang kita lakukan tadi malam???” tanyanya lagi.

Mendengar pertanyaan ini, membuat jentungku melemas. Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku lemah.

Kumohon jangan katakan hal yang tak ingin kudengar.

Kulihat tangannya turun ke piyama biru yang dikenakannya. Beberapa kancing atas piyama itu terbuka. Kemudian dia memperlihatkan beberapa bekas lipstik di dadanya dari balik kancing piyama yang terbuka itu.

Jantungku seakan berhenti berdetak melihatnya. Air mataku mulai menetes di pipiku. Aku tak bisa menahan tangisku. Tubuhku melemas. Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan terisak di baliknya.

”Ya, Ya!!!” ucapnya.

Aku tak merespon ucapannya. Aku masih terisak di balik telapak tanganku. Aku benci pada diriku sendiri.

Tiba-tiba sepasang tangan mencengkeram tanganku dan berusaha menyingkirkan kedua tanganku dari wajahku.

“Lepaskan aku!!!!!!!!!! Jangan sentuh aku!!!!!!!!! Aku benci padamu!!!!!!!!!” Teriakku di sela isak tangisku.

Aku mencoba memberontak tapi cengkeraman tangannya sangat kuat di pergelangan tanganku.

Aku menundukkan kepalaku lemas. Aku tak mau melihat wajahnya.

”Katakan padaku, apa kau memakai lipstick???” tanyanya dan aku menggeleng lemah.

”Lalu untuk apa kau bersikap seperti ini??” Ucapnya lagi sembari melepaskan cengkeramannya. Aku tak mengerti dengan ucapannya.

Kuangkat kepalaku dan memandang wajahnya. Kulihat senyum jahilnya kembali tersungging di bibirnya dan kemudian dia mengeluarkan sebuah lipstick dari sakunya.

”Hahahaha…. Sudah lama tak mengerjaimu seperti ini,” ucapnya di sela tawanya. ”Kenapa kau begitu suka membenci orang???” lanjutnya tanpa bisa menghentikan tawanya. Tawanya membuat tempat tidur ini bergerak pelan.

Aku menghapus air mataku kasar kemudian menatapnya garang. ”Neo,” ucapku pelan. ”Ya!!!!!!!!!!!” teriakku kemudian kuhujani tubuhnya dengan tinjuanku.

Dia terus berusaha mengelak tapi tak pernah berhasil. Kulancarkan seranganku. Kupukuli terus tubuhnya hingga akhirnya dia berhasil menangkap kedua tanganku dan membuatnya berada di hadapanku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya. Dan aku bisa mencium aroma segar tadi yang kembali menusuk hidungku. Apakah ini aroma tubuhnya???

Aku langsung melepaskan tanganku dari cengkeramannya kemudian kembali duduk di tepi ranjang. Begitu pula dengan dirinya yang kembali duduk di tempatnya semula.

Kulihat dia menggaruk-garuk rambutnya. Sepertinya dia juga salah tingkah, seperti yang kurasakan.

”Ini rumah siapa???” tanyaku berusaha bersikap biasa. ”Orang kaya mana lagi yang kau rampok???”

”Ya, Cho Gaeul!!!” ucapnya kesal. ”Ini rumahku.”

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan mencibir padanya.

“Jika kau memiliki rumah sebesar dan senyaman ini, lalu kenapa kau tinggal di rumah orang lain,” balasku.

“Karna di sini tak ada yang bisa kujadikan korbanku,” jawabnya enteng.

Mulutku menganga mendengarnya. Pria ini sungguh menyebalkan. Kulempar wajahnya dengan bantal.

”Akh,” jeritku tertahan.

”Wae???”

”Onnie dan oppa,” jawabku. Mereka pasti sangat khawatir karna aku tidak pulang ke rumah.

”Tenanglah,” ucapnya. ”Aku sudah memberitahu mereka kau tidur di rumahku. Kubilang semalam aku mengajakmu makan di luar tapi di perjalanan pulang kita kehujanan dan aku tidak membawa mobil. Kau dan aku basah kuyub. Karena rumahku lebih dekat, makanya kau kubawa pulang ke rumahku,” jelasnya.

Aku menatapnya tak percaya. Ternyata ada juga hal yang bisa dilakukannya dengan benar.

”Ternyata kau ahli juga dalam hal berbohong,” ejekku.

Dia menjitak kepalaku.

”Ya, setidaknya berterima kasihlah padaku!!! Kau ini sudah tau tidak bisa minum, lalu kenapa kau mencoba minuman yang seperti itu??? Bagaimana jika pihak sekolah tau??” Ucapnya lagi.

Mendengar ucapannya, kembali mengingatkanku pada kejadian semalam.

”Mungkin aku akan dikeluarkan. Dan jika aku dikeluarkan, maka aku akan angkat kaki dari super senior high school,” jawabku.

Dia menoyor kepalaku pelan. Kemudian turun dari ranjang.

”Tak akan ada yang mendepakmu dari sekolah tanpa seizinku,” ucapnya sembari berlalu.

”Mwo???” ucapku kaget.

Dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

”Karna ayahku pemilik sekolah itu,” jawabnya enteng.

Lagi-lagi aku hanya bisa terperanjat mendengar ucapannya. Begitu banyak kejutan dalam hidup namja ini. Bisa-bisanya dia merahasiakan hal ini padaku.

Aku menundukkan kepalaku dan kulihat tubuhku yang sudah mengenakan pakaian yang berbeda dari yang kupakai semalam. Aku memakai piyama berwarna sama dengan pria mesum itu dan tentunya membuat tubuhku tenggelam.

”Chakkaman,” teriakku sesaat sebelum dia menutup pintu kamar.

”Waeyo???”

Aku menelan ludahku. ”Ummmm, Siapa yang menggantikan pakaianku???” tanyaku takut-takut.

”Menurutmu???” tanyanya balik. Aku hanya membisu menunggu jawabannya yang pasti. ”Sudah kubilang aku tak tertarik melihat tubuhmu,” lanjutnya.

Kulempar bantal ke arahnya tapi sayang bantal itu tak mengenai target.

Aisssss pria itu!!!!!!!!!!!

 

To be Continue….

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s