The Leader File 1

Standar

Main Cast:

Male:

-Park Jungsoo as Dennis Park

-Kim Heechul as Casey Kim

-Hangeng        as Joshua

-Kim Jongwoon as Jeremy Kim

-Kim Youngwoon as Jordan Kim

-Shindong       as Matthew

-Lee Sungmin  as Vincent Lee

-Lee Hyukjae  as Spencer Lee

-Lee Donghae  as Aiden Lee

-Choi Siwon     as Andrew Choi

-Kim Ryeowook as Nathan Kim

-Kim Kibum     as Bryan Kim

-Cho Kyuhyun  as Marcus Cho

Female:

Alexandra Hwang, member of The Leader and also Joshua’s half-sister

-Hera Lee as Aiden’s sister and Jeremy’s girlfriend

-Aprodhite Shim as Nathan’s bestfriend

-Angela Park as Dennis’s twins and also Casey’s girlfriend

-Claudia Kim as Jordan’s manager

-Grace Shin as Vincent’s partner

-Taylor Cho as Marcus’s cousin

 

Enjoy it and happy reading fellas ^^

 

TENGG!! TEENGG!!

Suara bel berdentang menandakan waktu pelajaran pagi akan segera dimulai. Murid-murid bergegas memasuki kelas masing-masing sesuai jurusannya. Begitu juga Aiden. Pagi ini ia harus mengikuti kelas Seni Rupa. Karena ia merupakan siswa Jurusan Seni, maka setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at, ia wajib hadir di kelas yang berhubungan dengan Seni. Selain ketiga hari itu, kurikulum diisi dengan pelajaran umum seperti Eksak, Sosial dan Olahraga. Namun, kurikulum tersebut tidak selengkap yang diajarkan di Jurusan. Hanya untuk penambahan wawasan.

Aiden memasuki kelas, mendapati Spencer dan Nathan sedang duduk berdiskusi sesuatu. “ Morning, guys,” sapa Aiden. “ Morning, Mr. Lee,” balas Nathan. Tangannya memegang buku partitur. Nathan adalah siswa Jurusan Seni yang mengambil mata pelajaran Musik. Setiap Jurusan memiliki beberapa mata pelajaran yang bisa dipilih. Setiap murid diperbolehkan mengambil dua mata pelajaran di setiap Jurusan. Seperti Nathan. Ia memilih mengambil kelas Seni Rupa dan Seni Musik, sedangkan Aiden dan Spencer mengambil Seni Rupa dan Seni Tari. “ Apa ada kabar menarik hari ini?” tanya Aiden sambil menaruh tas. Spencer melirik Nathan sambil tersenyum. “ Well, there’s a lot of rumors in our academy. Did you heard about The Leader?” ucap Spencer. Aiden mencoba mengingat-ingat. “ You mean five student who selected for Student Leader?” Aiden balik bertanya. “ Exactly. And one of them is…a beautiful girl in this academy,” bisik Spencer bergairah. Aiden menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ku pikir apa, ternyata hanya soal perempuan,” ujar Aiden. DUK! “ Aw! That’s hurt!” jerit Aiden. Spencer mengacuhkannya. “ Aduh…kalian ini. Maksud Spencer, gadis ini sedikit berbeda. Dia cantik, pintar dan…yaa berbeda dengan siswi lainnya,” sahut Nathan. Aiden tertegun. “ Benarkah?”

Tok, Tok. Suara ketukan itu mengagetkan mereka bertiga. Rupanya Mr. Matthew sudah berdiri didepan kelas. Mereka bertiga menghentikan obrolan mereka dan kembali ke kursi masing-masing. Aiden masih mencerna ucapan Spencer dan Nathan tadi. Satu-satunya calon ketua murid dari kalangan perempuan? Siapa?

 

*********************************

 

“ Itu dia orangnya,” Aiden dan Spencer menoleh kearah yang dimaksud Nathan. Seorang gadis duduk bersama keempat siswa laki-laki. Matanya sipit dan berambut hitam lurus. Bando kuning bertengger di atas kepalanya. Jas putih dan kemeja biru dikancing rapi, bahkan dasi kuningnya diikat rapi. Tak heran jika gadis itu dicalonkan sebagai Ketua Murid. “ Namanya Alexandra Hwang. Tapi dia lebih sering dipanggil Alex,” lanjut Nathan. Sepertinya Nathan sudah mencari informasi tentang Alex. “ Lalu? Siapa empat laki-laki itu?” tanya Aiden. Nathan membuka-buka notesnya, menemukan informasi yang dimaksud. “ Yang badannya besar namanya Jordan Kim. Ia dari Jurusan Olahraga. Kelas yang ia ambil adalah kelas Tinju dan Wrestling,” Siswa yang bernama Jordan itu terlihat besar dan kekar. Pakaiannya juga rapi seperti Alex. “ Lalu, yang sedang berbicara dengan Alex itu namanya Bryan Kim. Dari Jurusan Akting. Ia mengambil kelas Musikal dan Film,” lanjut Nathan. Sekilas penampilan Bryan seperti dari kalangan terhormat. Rambut hitamnya dibuat model spike dan senyumnya sangat menawan. “ Nah, yang sedang sibuk memainkan PSP itu namanya Marcus Cho. Murid Jurusan Eksakta. Ia mengambil kelas Matematika dan Kimia,” Aiden melirik kearah Marcus. Ia terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar. “ Dan terakhir, Andrew Choi dari Jurusan Manajemen. Kelas yang dia ambil ada 3. Kelas Manajemen Produksi, Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan,” Andrew satu-satunya yang terlihat paling berwibawa. Tampan dan gagah. Cukup memenuhi kriteria lelaki idaman bagi para siswi Rosemary Academy. “ Oh iya. Alex mengambil Jurusan apa?” tanya Spencer. “ Jurusan Sastra. Kelas yang ia ambil adalah kelas yang tergolong jarang muridnya,” jawab Nathan. “ Apa itu?” tanya Aiden dan Spencer serempak. “ Kelas Sastra Klasik dan Filsafat,”

 

*********************************

 

Rosemary Academy adalah satu-satunya sekolah berasrama yang membuka Jurusan Sastra. Jurusan ini tergolong minim peminatnya dikarenakan kurikulumnya yang terlalu berat. Hanya sekitar 15 anak yang sanggup bertahan menghadapi kurikulum di Jurusan ini.

Selain kurikulumnya yang beragam, Rosemary Academy juga memiliki fasilitas yang bagus dan bermutu. Salah satunya adalah Ruang Serba Guna di lantai 2. Hampir semua kegiatan sekolah diselenggarakan disini. Termasuk kompetis-kompetisi bergengsi. Rosemary Academy termasuk sekolah yang menjadi unggulan disetiap kompetisi.

Asrama Rosemary dibagi menjadi 3 gedung. Asrama untuk wanita, asrama untuk pria dan asrama khusus anak-anak berprestasi. Dengan adanya asrama khusus anak-anak berprestasi, diharapkan anak-anak tersebut mampu meningkatkan kemampuan akademisnya tanpa ada gangguan. Disinilah asrama tempat The Leader tinggal.

 

********************************

 

Asrama khusus pria, kamar 309….

Nathan sibuk membereskan partitur-partitur untuk kelas Musik. Karena kelas Musik akan dimulai 1 jam lagi, Nathan memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak dari pelajaran. “ NATHAN!” Teriakan itu sukses memekakkan telinga Nathan. “ Aduuh….Aprodhite! Bisa tidak mengetuk pintu dulu?” protes Nathan. Yang diprotes malah tertawa. “ Aku ingin memberi kejutan, Mr. Nathan,” ledek Aprodhite. “ Ya sudahlah. Kenapa kau kesini? Ini kan asrama putra,” Aprodhite mengacuhkan ucapannya Nathan, mengobrak-abrik lemari pakaian Nathan. “ Hey! What are you doing? That’s my closet!” Nathan yang panik, bergegas melindungi lemarinya. Aprodhite cemberut melihat sikap Nathan. “ Nathan jahat! Aku kan hanya ingin membantu memilih pakaian untuk recital bulan depan,” protes Aprodhite. Pipinya menggembung, membuat dirinya tampak menggemaskan. “ Aprodhite….dengar ya. Yang akan mengikuti recital itu aku, bukan kamu. Kenapa kamu mesti repot?” ucap Nathan. Ucapan Nathan membuat Aprodhite semakin sebal dan pergi meninggalkan Nathan. “ Aprodhite! Tunggu dulu!”

 

*********************************

 

Kolam Renang Rosemary Academy…

“ Jordaaaannn……dimana kau???” teriak seseorang. Ia celingukan mencari Jordan. Di ceknya notes miliknya, menelurusi daftar yang ia buat. “ Padahal, ini kan jadwal dia untuk latihan tinju,” gumamnya. Tiba-tiba saja, ada orang lain mencipratkan air kearahnya. “ KYAAA!!!! JORDAAAANNN!!!!!” jeritnya. Jordan malah tertawa dan kembali masuk kedalam air. “ Jordan Kim! Keluar kau!!” teriak orang itu. “ Ahahahahaha!!” Gadis itu kesal dengan perlakuan Jordan, meneriakinya, “ KELUAR KAU DARI KOLAM ATAU KU ADUKAN PADA TUAN KIM!!” Teriakannya cukup ampuh membuat Jordan bergegas keluar dari kolam. “ Jangan adukan hal ini pada ayah. Bisa-bisa dia memarahiku karena menyalahi jadwal,” pinta Jordan. Claudia mendengus kesal. “ Kau memang menyalahi jadwal. Kau hanya boleh latihan renang di hari Kamis!” omel Claudia. Jordan pura-pura tak dengar. Ia bosan harus mendengarkan ocehan Claudia tentang jadwal hariannya. Seolah-olah hidupnya tergantung pada jadwal. “ Jadwal kau hari ini adalah latihan tinju. Tepat di jam pelajaran Kelas Tinju. Masih ada waktu 15 menit untuk bersiap-siap,” ucap Claudia. Selesai memberitahu jadwal, gadis berambut pendek itu beranjak pergi. “ Claudia,” panggil Jordan. Langkah Claudia terhenti, ia menoleh kearah Jordan. “ Apa?” tanya Claudia. Raut wajah Jordan berubah menjadi serius. “ Kau masih sanggup bertahan dengan pekerjaan ini?” Jordan balik bertanya. Claudia menghela nafas. “ Iya. Ayahmu sudah mempercayakanku untuk menjadi managermu. Aku hanya tak ingin melepas tanggung jawab,” jawabnya seraya melangkah pergi. Jordan tak membalas. Ia hanya menatap datar punggung gadis itu. “ How stupid,”

 

*********************************

 

Taman bunga Rosemary Academy….

Taman bunga di Rosemary merupakan taman favorit bagi siswa-siswi Rosemary untuk berkumpul. Entah hanya sekedar menikmati makan siang atau belajar kelompok. Seperti biasa, hari ini para siswa dan siswi berkumpul di taman. Sebagian membicarakan pelajaran, sebagian asyik bercanda dan sebagian sibuk menyendiri. Marcus, salah satu yang sibuk menyendiri, asyik memainkan PSP nya. Ia sering menghabiskan waktu di taman sembari menunggu jam pelajaran berikutnya.

“ Hi, Marcus,” Marcus tak menjawab. Matanya tetap fokus pada PSP nya. “ Marcus Cho,” Lagi-lagi Marcus tak menjawab. Seolah ia tak mendengar ada yang memanggilnya. “ Hey! If someone call you, you have to respond it!” seru orang itu. Dirampasnya PSP dari tangan Marcus, sontak membuat Marcus kaget. “ Hey! Give me back! That’s mine!!” protes Marcus. Yang diprotes malah mencibir. Membalas perlakuan Marcus. “ Stop being anti-social, my lovely cousin. You’re the future leader, you’ve to gain relationship with people,” ceramah orang itu. Orang itu melirik PSP Marcus, menghela nafas. “ And stop playing games,” tambahnya. Marcus berdiri, menepuk kepala orang itu. “ Okay, Miss Taylor Cho. I understand…and please give me back my PSP. Just wanna finish one level,” Taylor menyerahkan kembali PSP itu pada Marcus. Ia duduk di kursi, menyilangkan kakinya yang jenjang. “ What do you want?” tanya Marcus. Taylor menggeleng. “ Nope. Just thinking how can you selected as Student Leader’s candidate,” jawab Taylor. Marcus meringis, ia tahu berita tentang dirinya yang dipilih menjadi kandidat sangatlah mengejutkan. Karena menurutnya, keempat kandidat lainnya lebih pantas ketimbang dirinya. “ Yang lebih mengejutkan, kelima kandidat kali ini semuanya….” “ Yeah, I know. It’s really surprising but it’s okay. Now, we’re rival,” potong Marcus. Ia pun beranjak dari kursinya, melambaikan tangan tanda salam perpisahan pada Taylor. Gadis berambut pirang itu terlihat sedih. Tak ia sangka harus berjalan seperti ini. “ No. They’re not rival…Never…”

 

*********************************

 

Cafetaria Rosemary Academy….

Aiden mengetuk meja seraya melirik temannya yang terlihat gelisah. “ Where’s she?” gumamnya. Aiden menghela nafas. “ Tenang. Mungkin dia tersesat, seperti biasa,” ujar Aiden. Duk! “ Aw! Hei, kenapa?” protes Aiden. “ Dia itu adikmu! Seharusnya kau khawatir kalau terjadi sesuatu padanya,” Aiden melengos. Ia merasa tak perlu khawatir berlebihan, mengingat sifat keras kepala adiknya. “ Hera baik-baik saja. Jangan khawatir, Jeremy,” ucap Aiden seraya menenangkan Jeremy.

Tak lama kemudian, seorang gadis mungil datang menghampiri mereka. “ Sorry, babe. Lost direction, as usual,” ujar gadis itu nyengir. “ It’s okay, my little Hera,” balas Jeremy. Aiden berdehem keras, menyadarkan kedua sejoli itu. “ Tugasku sudah selesai kan? Aku mau kembali ke kamar,” kata Aiden. Hera terkikik, memeluk erat kakaknya. “ Jangan ngambek begitu. Tadi kan kakak sendiri yang bilang mau bertemu denganku,” ucap Hera seraya melepas pelukannya. Aiden tak menjawab, namun ekspresinya terlihat seperti anak kecil.

“ Oh ya, tadi kalian berdua menanyakan soal kandidat Ketua Murid ya?” tanya Hera. Jeremy dan Aiden mengangguk bersamaan. “ Tentang kandidat itu ya….sebenarnya cukup mengejutkan juga. Waktu itu beritanya belum resmi, jadi hanya sekedar desas-desus,” sambung Hera. “ Desas-desus apa?” tanya Jeremy. Hera mengeluarkan selembar kliping koran. Tertulis ‘BIGGEST NEWS: FIVE STUDENT ARE SELECTED AS STUDENT LEADER’S CANDIDATE!’. “ Awalnya, banyak siswa mengira mereka yang terpilih adalah anak-anak yang berasal dari golongan atas yang tak berotak. Tapi seminggu kemudian, muncul berita resmi dari Kepala Sekolah bahwa yang terpilih adalah lima siswa terbaik di Rosemary Academy. Semua siswa terkejut. Apalagi yang terpilih benar-benar elit diantara yang terelit,” jelas Hera. Aiden menerawang, mengingat perkataan Nathan. “ Andrew, Alex, Bryan, Jordan dan Marcus. Lima siswa yang berhasil mengangkat reputasi Rosemary Academy di bidang masing-masing,” sambung Jeremy. Hera mengangguk. “ Tak heran jika mereka dipilih menjadi kandidat Ketua Murid. Marcus Cho, juara olimpiade Matematika dan Sains. Andrew Choi, berhasil menjadi pengusaha muda seperti ayahnya. Alexandra Hwang, penulis terkenal dan dia baru saja memenangkan Best-Seller Award untuk karya terbarunya. Jordan Kim juga baru saja memenangkan kejuaraan renang dan tinju. Dan yang terakhir, Bryan Kim baru memulai karir aktingnya,” tambah Hera. Aiden menelan ludah. Ia tak menyangka kelima kandidat itu benar-benar unggul di bidang yang mereka geluti. “ Satu lagi,” Aiden dan Hera menatap Jeremy. Masih ada satu rahasia yang belum kami ketahui? batin Aiden. Jeremy menarik nafas. “ Kudengar….Alexandra Hwang bertunangan dengan Andrew Choi,”

TBC~

 

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s