Cake Of Love Part 12

Standar

Title  : Cake Of Love

Characters [Main & Real characters]  : Super Junior, SNSD, After School

Characters [Original]  : Hye Ri [author]

Pairing  : Kyuhyun and Seohyun

Genre  : Romance

—- Seohyun POV —-

Ya ampun !!! Apa tadi ? Apa maksudnya Kyuhyun memegang tanganku tadi ? Aigoo~ kenapa jantungku jadi deg-degan begini sih ? Jantungku jadi serasa berdetak 5 kali lebih kencang dan itu benar-benar membuat dadaku sakit dan sesak.

Apa karena hatiku terlalu berbunga-bunga karena kejadian tadi ? Tatapan matanya tadi juga benar-benar…, ah, aku jadi tersihir. Dia ternyata ganteng banget dan aku baru sadar kalau dia bisa seganteng tadi. Ahaha, Seohyun, Seohyun…, betapa beruntungnya dirimu hari ini.

Aku terus memikirkan kejadian di mobil tadi sambil terus menggengam tanganku yang dipegangnya tadi. Senang sekali rasanya. Aku tidak berhenti tersenyum-senyum sendiri sampai di dekat rumah. Kalau Eomma sampai tau aku senyum-senyum sendiri, bias dikira kenapa-kenapa lagi. Ah, peduli amat. Yang penting hari ini aku SANGAT BAHAGIA.

Kulihat toko Eomma dan Appa ramai dengan pembeli. Ah, aku masuk lewat samping saja ah. Aku sedang malas membantu Eomma dan Appa di toko. Habisnya, siapa yang mengira kalau hari ini aku bisa segembira ini. Aku berbalik dan menuju pintu samping.

Aku segera masuk rumah.

“Aku pulaaaaaaang… !!! Eomma, Appa, Seo capek. Mau langsung tidur ya… ???” Aku berteriak nyaring. Tidak ada jawaban. Ah, sudahlah. Yang penting aku sudah laporan juga kalau aku sudah pulang.

Kulepas sepatuku dan menaruhnya di dalam rak sepatu dan mengganti alas kakiku dengan sandal rumahku yang berbulu dan ada kepala kodoknya.Aku segera menuju kekamarku. Kubuka pintu kamarku dan segara masuk lalu mengunci pintunya. Aku mau istirahat. Aku capek banget tapi juga sangat senang. Aaaaah ~

Kulempar tas slempangku ke meja belajar lalu kuhempaskan badanku ke ranjang. Kutarik guling kesayanganku dan kupeluk, aku mengubah posisiku yang tadinya terlentang menjadi tengkurap. Kubenamkan wajahku ke dalam gulingku dan tersenyum-senyum sendiri. Aku sudah bingung bagaimana mengekspresikan dan menggambarkan kebahagaiaanku hari ini.

Kuangkat kepalaku dan kutarik napas panjang.

“Cho Kyuhyun, kau berhasil membuatku jadi deg-degan terus hari ini.” Gumamku diikuti sebuah senyuman lebar yang terpasang di wajahku. Aku memejamkan mata dan mencoba untuk tidur.

Eh ! Aku belum mandi dan ganti baju juga. Mandi dulu ah, pikirku. Aku bangkit dan menuju ke meja belajar dan mengambil tasku. Aku ingin mengecek handphoneku sebelum mandi. Siapa tau ada sms atau apa. Aku mengambil tasku dan langsung menumpahkan seluruh isinya ke ranjangku. Semua isi tasku berhambur keluar. Hp, dompet, buku kecil, sapu tanganku, dan…, sapu tangan Kyuhyun ?

“Kok bisa sama aku sih ? Oh iya, tadi kan dia memakai sapu tangan ini untuk membersihkan wajahku ya ? Aigoo~ aku kok jadi malu gini sih ? Hmm, sapu tangan ini harus aku cuci dan langsung kukeringkan dan kusetrika malam ini. Dan besok, akan aku kembalikan padanya. Asyik !!!” Aku melonjak kegirangan.

Setelah mengecek Hpku, aku bergegas menuju kamar mandi sambil menggenggam sapu tangan milik Kyuhyun itu. Aku harus membersihkan sapu tangan ini.

Aku masuk lagi kekamarku. Segarnya mandi dengan air hangat. Aku menggosok-gosok rambut panjangku yang kukeramas karena kena krim tadi sore. Sapu tangannya sedang kujemur. Yah, walau sudah malam semoga saja besok bisa kering dan bisa kuberikan padanya.

Aku menaruh handukku begitu saja di kursi meja belajarku. Kujatuhkan tubuhku ke ranjangku yang nyaman itu dan mulai memejamkan mata. Aku lelah sekali. Dan kasurku ini benar-benar membuatku ingin segera tidur. Kupejamkan mataku dan mulai berharap aku bisa bertemu dengannya lagi di mimpi. Semoga saja.

Semoga dia masuk ke mimpiku malam ini. Ya Tuhan, kabulkan. Aku terus berharap hingga aku benar-benar teridur. Entah benar atau tidak, aku merasa aku tidur sambil tersenyum malam ini.

Semoga besok menjadi hari yang baik dan menjadi lebih baik…

Aku merapikan ranjangku. Melipat selimutnya kemudian menata bantal dan gulingnya. Aku menepuk kedua tanganku. Yup, selesai.

Aku bergegas menuju cermin di kamarku dan memastikan kalau keadaanku saat ini sudah rapi dan tidak memalukan. Aku merasa hari ini tidak biasa. Dari awal aku bangun tadi, aku benar-benar merasa berbeda.

Baiklah, cukup aneh menurutku. Aku bangun sangat pagi hari ini. Lebih pagi dari Eomma dan Appa dan aku tidak melanjutkan tidurku lagi seperti biasanya. Terus aku langsung mandi dan benar-benar mandi yang bersih dan lama. Kenapa ya ? Molla, aku ingin saja. Padahal, aku tidak pernah mandi seribet dan selama tadi.

Kupandangi diriku di cermin. Aku sudah berganti baju sekarang. Dan ini lebih aneh lagi. Hari ini aku ingin pakai rok padahal aku akan ke sekolah untuk latihan. Seharusnya aku memakai kaos dan juga celana training untuk latihan. Tapi tidak hari ini. Aku memakai hem berwarna putih tulang dan juga pakai rok warna hitam dengan tali untuk digantungkan dibahu. Tapi, aku sudah menyiapkan baju latihan sih.

Dan hal aneh terjadi lagi. Aku seperti bukan aku hari ini. Aku memakai bedak dan lipgloss ! Padahal biasanya, jangan memakainya, ingat kalau aku punya saja tidak. Kenapa aku semangat banget dandan dan jadi manis begini ? Dan aku juga jadi sangat semangat sekolah. Ya selain karena latihan, aku merasa ada alasan lain kenapa aku semangat masuk.

Aku pasti akan bertemu lagi dengannya.

Setelah cukup lama berkutat di kamarku sendiri, akhirnya aku keluar. Kepalaku menyembul dari balik pintu dan menengok ke sekiling ruangan. Sepi. Sepertinya, Appa dan Eomma belum bangun. Waw ! Ini baru kali ini terjadi padaku, haha.

Aku berjingkat menuju ruang makan. Karena hari ini aku sedang sangat semangat dan senang, aku akan membuatkan sarapan untuk Appa dan Eomma. Yah, hitung-hitung sesekali aku berbuat begini. Bisa jadi kejutan untuk mereka juga kan ?

Aku terdiam sejenak. Memangnya aku mau masak apa ? Aku kan tidak bisa masak.

“Seohyun, paboya ! Sudah tau kau nggak bisa masak masih mau bikinin sarapan buat Appa dan Eomma. Ck ck ck, aku tata meja makan saja deh. Hal yang paling bisa kulakukan sekarang.”

Kutata alat-alat makan di meja. Mangkuk nasi, sumpit, sendok, dan serbet semuanya kuatur dengan rapi. Terdengar suara pintu dibuka dan ternyata itu pintu kamar Eomma dan Appa. Mereka keluar kamar masih dengan piyama. Kulihat mereka agak terkejut melihatku sudah stand by di meja makan.

“Seohyun, mwo hago isseo [apa yang kau lakukan] ?” Eomma bertanya keheranan begitu melihatku. Appa juga terlihat keheranan. Aku nyengir lebar.

“Eomma, Appa, selamat pagi. Seohyun bangun pagi hari ini. Dan sebenarnya Seo juga ingin membuatkan makanan untuk sarapan. Tapi Seo ingat kalau Seo nggak bisa masak. Jadinya cuma bisa rapiin meja makan aja. Gwaenchan-gaji [nggak apa-apa kan] ?” Jelasku sambil menarik sebuah kursi untuk Appa dan Eomma. Mereka mendekat dan masih dalam keadaan bingung melihat sikapku hari ini. Aku tertawa kecil.

“Kalian bingung ya, kenapa Seohyun bisa seperti ini ?” Tanyaku. Mereka bertatapan heran dan masih diam. Aku tersenyum saja.

Eomma duduk di salah satu kursi. Pandangannya menulusuriku dari atas sampai bawah.

“Kau mau kemana sudah rapi begini ?” Tanyanya. Aku memasang tas punggungku dan menjawabnya.

“Seo harus berangkat pagi ke sekolah hari ini. Ada latihan. Seo sarapan roti saja ya, Eomma ?” Aku mengambil 2 lembar roti lalu mengolesinya dengan selai coklat. Aku mendekati Eommaku dan Appa yang berdiri keheranan di belakang Eomma. Kucium pipi Eommaku dan kupeluk Appa.

“Kau latihan dengan pakaian seperti ini ?” Giliran Appa yang bertanya. Aku melepas pelukanku.

“Nanti sampai sekolah ganti, kok. Seohyun berangkat dulu, ya.” Kataku semangat. Meninggalkan Eomma dan Appa yang masih keheranan dengan sikapku yang mendadak berubah ini. Jangankan mereka, aku saja cukup kaget dengan sikapku sendiri. Mana mendadak lagi.

Kubuka pintu rumahku dan kuhirup udara pagi yang segar dalam-dalam. Sinar matahari menyentuh wajahku. Hangat. Wah, aku jadi semakin semangat.

Hari baik, aku datang ………. !!!

Sesampainya di sekolah, aku disambut dengan sambutan heboh kedua sahabatku. Kangen juga nggak ketemu mereka seharian kemarin. Mereka menghampiriku dengan tatapan heran yang sangat kentara. Sunny malah sampai melongo lebar melihatku.

“Ya ! Seohyun ah ! Wae gurae neungeoya [apa yang terjadi denganmu] ? Kenapa kau pakai baju seperti ini ? Kau mau latihan seperti ini ?” Soo Young mencerocos heboh. Aku memasang cengiranku. Sunny memandangiku dari atas hingga bawah.

“Aigoo~ Hyunnie, kau manis banget pakai baju seperti ini. Jarang-jarang lho. Eh, kau beneran mau pakai ini buat latihan ? Sunbaenim dateng semua lho. Kau bisa dimarahin habis-habisan nanti.” Sunny memperingatiku. Aku tertawa kecil.

“Ya ampun, kalian berdua pabo ya ? Ya nggak mungkin lah aku latihan pakai rok seperti ini. Aku bawa ganti kaos kok. Aku cuma lagi ingin pakai baju ini saja.” Jelasku. Mereka berpandangan.

“Tumben juga kau nggak telat ? Kau kenapa sih hari ini ?” Soo Young masih penasaran dengan perubahanku hari ini. Sunny mengangguk setuju. Aku tertawa lagi.

“Mau sampai kapan aku dipanggil putri telat ? Aku harus menghilangkan imej telatku kapan lagi kalau nggak mulai sekarang ? Keureuchi ?” Jawabku santai. Mereka menganggukan kepala bersamaan.

“Bener juga sih.” Sunny komentar.

Aku terkekeh mendengarnya. Soo Young dan Sunny juga ikut tertawa kecil. Pandanganku beralih di sela-sela tawa kami. Kulihat sosok yang sangat ingin kutemui itu di arah gerbang masuk *aku berada di dekat lapangan saat ini sih*. Dia berjalan menuju gedung sekolah. Kyuhyun.

Kalau keadaan saat ini bisa dibuat lebay, mungkin yang kurasakan saat ini adalah waktu seolah berjalan sangat lambat. Angin kencang tiba-tiba datang dan daun-daun bertebangan di sekitarku tertiup angin. Jalannya terlihat gagah di mataku dengan senyum di wajahnya yang tampan. Aku bisa merasakan segarnya angin pagi dan harumnya bunga menyeruak masuk ke dalam hidungku. Membuat paru-paruku mengembang karena senang. Ah, aku tidak bisa lebih menggambarkan bagaimana saat ini ketika melihatnya. Intinya, semua jadi terasa lebih indah.

Jadi begini rasanya orang jatuh cinta ? Hatinya berdebar-debar. Dadanya sesak karena gembira dan semua terlihat dramatis. Ya, aku mengalaminya sekarang. Aku sedang  jatuh cinta. Pada seorang namja bernama Kyuhyun yang sekarang sedang berjalan sangat gagah di mataku. Entah bagaimana, tiba-tiba aku jadi tersenyum sendiri. Malu.

Soo Young membuyarkan lamunan lebayku dengan tepukan keras di bahuku.

“Ya ! Kau ini kenapa lagi sih ? Senyum-senyum sendiri nggak jelas gitu. Ya ! Kau ini benar-benar aneh hari ini ya ? Ya kan, Sun ?” Dia menyenggol lengan Sunny meminta dukungan. Yang ditanya malah telmi.

“Hah ? Mworago ?”

“Aissh ! Jinjja ! Kau ini telmi banget sih ?” Soo Young menjitak kepala Sunny. Sunny mengaduh sambil mengelus-elus kepalanya. Dia mencoba membalas.

Aku melerai mereka.

“Kau tadi lihat tidak ? Namja menyebalkan yang sangat kau benci tadi baru saja lewat lho.” Sunny menunjuk namja yang dimaksudnya. Dan itu Kyuhyun.

Membencinya ? Aigoo~ aku sudah lupa kalau aku pernah membencinya dulu. Sekarang hatiku hanya dipenuhi dengan rasa suka padanya. Sunny terus berceloteh dan sesekali Soo Young menimpali. Aku tidak mendengarkan mereka. Pikiranku beralih dari mereka ke namja yang paling ingin kutemui itu sekarang.

Aku teringat sesuatu ketika melihatnya lagi. Oh iya, sapu tangannya ! Aku langsung berlari ke arahnya dan meninggalkan Soo Young dan Sunny.

“Ya ! Seohyun ! Nan eodiga [mau kemana] ?!” Mereka memanggil. Aku tidak peduli. Aku harus bertemu dengannya sekarang.

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

“Kyuhyun !!!”

Aku berbalik ketika kudengar suara seorang yeoja memanggil namaku. Suaranya tidak asing.

“Kyuhyun !! Oppa !!” Panggilnya. Dia mendekat. Hah ?

“Seohyun ?”

DEG !!!

Aduh ! Kenapa dadaku tiba-tiba jadi sakit dan deg-degan ? Kenapa jadi aneh begini rasanya bertemu dengan gadis ini ? Aku menunduk mencoba menenangkan diriku. Aigoo~

“Oppa, annyeong haseyo.” Dia membungkuk. Aku kembali melihatnya dan sedikit tersenyum. Anak ini, kenapa bersikap formal sih ?

“Kenapa sikapmu formal sekali ? Biasa saja lah kalau denganku. Anggap saja kita teman dekat.” Pintaku. Dia mengembangkan senyum di wajahnya. Ups ?! Kenapa dia jadi terlihat manis. Aku langsung menyadarkan diriku.

“Kau latihan ya ?” Tanyaku dan dijawab dengan anggukan cepat olehnya. Aku memandanginya dari kepala sampai kaki. Aku baru sadar dia pakai rok dan kemeja. Bukannya kaos dan celana untuk latihan.

“Dengan pakaian seperti ini ?” Tanyaku lagi sambil menunjuk dirinya. Dia tertawa kecil.

“Aniyo. Tentu saja tidak. Aku bawa ganti kok. Nanti waktu latihan aku ganti baju. Oppa masuk juga ?”

Aku tersenyum.

“Kau ini, tentu saja aku masuk. Sebentar lagi aku harus ikut kontes dan aku harus berlatih. Lagipula, hari ini beberapa hoobae dan yonbae ku memintaku mengajarkan mereka membuat beberapa cake.”

Dia menganggukan kepalanya mengerti. Aku teringat sesuatu.

“Oh iya, ada apa ? Kenapa kau memanggilku ?” Tanyaku lagi. Dia juga terlihat seperti teringat sesuatu lalu mulai merogoh-rogoh tas slempangnya.

“Yeogi…, aku memanggilmu untuk mengembalikan ini. Sapu tanganmu yang kemarin terbawa olehku.” Dia mengeluarkan sapu tangan berwarna hijau muda milikku dari dalam tasnya.

Seohyun menyodorkan sapu tangan itu tepat di depanku. Aku menatap sapu tanganku kemudian tertawa kecil.

“Kau tidak perlu mengembalikannya. Aku masih punya banyak sapu tangan seperti itu.” Tolakku. Kualihkan pandanganku dari sapu tanganku ke arahnya. Dan kulihat raut wajahnya sedikit berubah.

“Hm, gitu ya ? Padahal aku sudah mencucinya dan ingin kukembalikan padamu.” Katanya kecewa. “Ya sudahlah kalau begitu.” Lanjutnya lagi sambil bersiap memasukkan kembali sapu tanganku ke dalam tasnya. Wajahnya terlihat sedikit murung.

“Chamkanman !” Aku mencengkram pergelangan tangannya. Menahannya yang mau berbalik pergi.

DEG DEG DEG DEG DEG !!!!

Apa ini ? Kenapa aku jadi berdebar ? Apa karena memegang tangannya ?

—- End POV —-

—- Seohyun POV —-

Dia…, melakukannya lagi ?

Jantungku tiba-tiba berdetak 5 kali lebih cepat. Darahku jadi mengalir sangat kencang. Jujur, aku kaget dengan yang ia lakukan. Aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan yang tiba-tiba menahanku dan memegang pergelangan tanganku.

Aku membelalak melihat tangannya yang cukup kencang menggenggam pergelangan tanganku. Aku shok untuk beberapa detik sampai akhirnya kualihkan tatapanku dari tanganku ke arahnya. Mataku makin membesar begitu kulihat dia menatapku dalam.

“Op…, Oppa ?!” Aku tergagap. Dia mengalihkan tatapannya ke arah sapu tangannya yang kugenggam erat di tanganku yang dicengkramnya. Dia menarik sapu tangan itu perlahan.

“Kuambil lagi. Setelah kupikir-pikir, aku membutuhkan sapu tanganku karena aku tidak membawa sapu tangan hari ini. Lagipula, aku  tidak ingin melihatmu kecewa seperti tadi. Mana ?!” Dia berhasil mengambil sapu tangannya dari genggamanku yang melemah setelah kejadian barusan. Dia melepas genggamannya pada tanganku.

Masih dalam keadaan shok, aku melihatnya memasukkan sapu tangan itu ke saku sweaternya. Aku menatapnya lagi. Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat ini. Campuran antara shok, bingung, kaget, tapi bahagia dan berbunga-bunga #seohyun lebay.

Dia tersenyum manis sekali.

“Gomapta. Gomawoyo sudah mencucikan sapu tanganku. Mian tadi sempat membuatmu kecewa. Aku masuk dulu.” Pamitnya sambil berlalu meninggalkan aku yang masih shok.

Aku berdiri terpaku. Jantungku masih berdegup kencang namun sudah agak menenang. Tangan kiriku menggenggam pergelangan tangan kananku yang tadi dicengkramnya. Aku tersenyum malu mengingat kejadian barusan. Rasa bahagia membuncah di dalam hatiku. Membuat dadaku sesak saking senangnya.

Dia mendengar suara jantungku yang berdebar keras tidak ya tadi ? Kalau sampai terdengar aku pasti malu sekali. Tiba-tiba seseorang memegang bahuku dan membuyarkan lamunanku. Ternyata Soo Young.

“Ya ! Seohyun ah ! Kau ini kenapa tiba-tiba lari tadi ? Ya ! Dan apa-apaan tadi ? Ngapain kau sama orang itu ?!” Cerocosnya heboh.

“Kenapa kau bisa ngobrol dengan namja itu ? Ya ! Sejak kapan kalian akrab ?!” Sunny ikutan heboh. Dia mengguncang-guncang diriku yang masih setengah sadar.

“Wae geuraeseyo [ada apa denganmu] ?! Ya ! Seohyunnie ! Ya ! Jawab aku !!” Sunny makin heboh. Aku senyum-senyum misterius sendiri menanggapi kehebohan mereka.

“Kau begitu benci padanya, kenapa sekarang jadi akrab ?! Ada apa dengan kalian ?!” Soo Young juga makin heran. Aku semakin melebarkan senyumanku yang membuat mereka semakin penasaran.

“Waegurae ? Kalian ingin tahu ?” Tanyaku membuat mereka semakin penasaran. Aku memandang langit sambil senyum-senyum.

“Waenhaemhyeon…,” aku melirik dan mendekatkan wajahku ke wajah mereka, “naneun jooooooooooaaaaaaaaaaaaaa ………………… [karena, aku suka] !!!!!!!!!!!!!!” Aku berlari tiba-tiba. Meninggalkan mereka yang keheranan dan kaget melihat tingkahku.

“Ya ! Seohyun ah ! Gidariseyo [tunggu] !!!” Panggil Soo Young dan kini mereka mengejarku.

Aku merentangkan tanganku sambil berlari menuju lapangan. Diikuti kedua sahabat baikku yang juga terus berlari mengejarku sambil memanggil-manggilku. Aku senaaaaaang…….

Soo Young berhasil menghentikan aku sebelum sampai lapangan. Dia menarik tanganku.

“Ya ! Seo Joo Hyun ! Ada apa denganmu sih ? Apa maksudnya tadi kau bilang ‘aku sukaaaaa’ ? Hey !” Soo Young menghadapakan wajahnya padaku dan menatapku lekat. Sunny tersentak.

“Apa jangan-jangan maksudmu kau suka sama Kyuhyun sunbae ya ? Seohyun ah ! Apa itu benar ??!! Jawab aku !” Sunny mengguncang tubuhku lagi.

Aku membelalakan mataku dan bergantian menatap mereka. Akhirnya, mereka tau juga. Kurasa memang harus kukatakan pada mereka tentang perasaanku pada Kyuhyun dan menceritakan kejadian kemarin.

“Kurasa aku harus memberitahukan kalian sesuatu. Tapi tidak di sini, ya ? Kita ke toilet saja sekalian ganti baju.” Ajakku. Mereka sempat bertatapan dan akhirnya setuju.

“Baiklah. Tapi, kau harus ceritakan semuanya ! Tidak ada yang boleh kau sembunyikan lagi !” Soo Young mengajukan syarat. Aku mengangguk mantap.

Aku berjalan beriringan dengan mereka dan terus menutup mulut. Tapi sebuah senyum terkembang diwajahku. Asyik !! Aku mau ke toilet. Berarti aku akan melewati ruang tata boga dong ? Ada kesempatan bertemu lagi dengannya…, haha. =D

Kami sampai di depan ruangan itu. Aku menoleh ke arah sana. Kok aku tidak melihatnya ya ? Tiba-tiba dari belakang Sunny dan Soo Young merangkulku.

“Hayoo ! Kau nyari siapa ya ? Setiap lewat depan ruang tata boga kau pasti melongok kesana. Ehem, ehem !” Sunny berdehem menggoda. Soo Young menimpali.

“Kurasa kau memang menyukainya ya, Hyunnie ? Ya kan ?? Jawab aku !” Soo Young setengah memaksa. Aku membalas rangkulan mereka dan tersenyum.

“Hmmm, kalian penasaran ya ???” Tanyaku retoris. Aih, Seohyun, jelas sekali kalau mereka penasaran.

Aku melepas rangkulanku. “Makanya cepat jalannya. Aku baru memberitahukan ke kalian nanti di toilet.” Aku berjalan lebih cepat.

“Ya ! Gidariseyo !!!” Kata mereka bersamaan.

“MWO ??!!” Soo Young menutup mulutnya tidak percaya.

“OMO !!!!” Sunny histeris.

“JINJJARO ??!!” Mereka berdua bersamaan menudingku.

Aku cuma bisa menunjukan senyumku dan menunduk. Malu juga cerita-cerita seperti ini sama mereka. Aku yakin pasti wajahku memerah sekarang. Sama seperti Soo Young waktu dia cerita dia suka sama Donghae sunbae.

Tidak ada reaksi apapun lagi. Tiba-tiba mereka diam. Aku tidak tahu bagaimana mereka karena aku menunduk terus dari tadi. Jadi kuputuskan untuk melihat mereka lagi. Dan, cukup membuatku kaget.

Mereka membelalakan mata mereka dan mulut mereka menganga tidak percaya. Mereka terlihat shok, kaget, dan bingung mendengar ceritaku barusan.

Baiklah, aku sudah memberitahu mereka tentang perasaanku pada Kyuhyun yang sebenarnya. Mereka juga sudah kuceritakan sedikit tentang kejadian kemarin. Dan itu yang membuat sempurna shok.

“Ya ! Soo Young ! Sunny ! Kalian kenapa ? Hey !” Aku menjentikkan jariku menyadarkan mereka. Seperti tersadar, mereka berdua menatapku kemudian memasang senyum lebar. Giliran aku yang melongo melihat mereka sekarang. Mereka bertatapan.

“SEOHYUUUUN……, CHUKKAAAAEEE … !!!!!!!” Mereka menyerbuku. Memelukku berbarengan. Aku terkejut melihat aksi mereka yang tiba-tiba.

Soo Young mengacak rambutku.

“Seohyun ah ! Chukkae !! Aku tidak menyangka kau dan dia bisa…, maksudku, kau bisa menyukainya. Aku sempat takut kau akan terus membencinya. Tapi, ternyata…”

“Dia tidak sejahat itu kok.” Kataku. Sunny menimpali.

“Ya ! Eotteokheyo ?! Bagaimana ceritanya kau bisa menyukainya ? Jadi, kau menyukainya sesudah atau sebelum kejadian kemarin ?” Sunny penasaran. Aku tertawa kecil melihatnya begitu ingin tahu.

“Sejak setelah aku memakan kuenya di café waktu itu. Saat bolaku tertinggal. Sejak setelah makan kuenya, aku jadi sering memikirkannya. Ternyata, adik Kyuhyun, Hye Ri, aku pernah bilang ke kalian kan ? Dia sempat mengharapkan siapapun yang jadi orang pertama yang makan kue Oppanya itu akan jatuh cinta pada Oppanya. Dan…, itu terjadi padaku. Alasan lain mengapa aku menyukainya…, aku sendiri juga masih bingung.” Jelasku. Kami bertatapan satu sama lain.

“Aaah…, akhirnya…” Soo Young menghela napas lega. Aku menaikan alis mataku.

“Wae ?”

“Eobseo. Aku senang saja karena akhirnya kau jatuh cinta dengan seseorang. Aku sempat takut juga kau tidak bisa suka sama namja karena kau terlalu cuek dengan urusan percintaan seperti itu. Aiiiih…, Seohyun ! Chukkae, chukkae…” Soo Young memelukku lagi. Aku tertawa.

“Seneng deh, berarti kita bertiga udah punya gebetan semua. Soo Young sama Donghae sunbae, Seohyun sama Kyuhyun sunbae, aku sama Kibum Oppa. Hehehehe…” Sambung Sunny. Aku dan Soo Young mengerutkan kening dan bertatapan.

“Ih, nggak pantes banget kamu sama Kibum Oppa. Kecentilan kamunya.” Soo Young protes. Wajah Sunny sudah berubah cemberut. Aku menambahkan.

“Bukannya kau itu sama si sunbae berisik temennya Kyuhyun itu ya ? Siapa namanya ? Sungmin sunbae ya ? Hahaha…, kalian itu cocok sekali. Sama-sama aegyonya.” Aku menggodanya. Sunny memukul bahuku.

“Ya ! Seo Joo Hyun ! Kau benar-benar cari masalah denganku ya ? Aiissh, Kau !” Dia mencoba menjitak kepalaku tapi aku berhasil mengelak. Wajahnya makin kesal dan sangat lucu.

Aku dan Soo Young ngakak melihat ekspresinya yang cemberut lucu itu. Aku menghela napas.

Leganya, bisa cerita pada mereka.

“Geundae…, [tapi]” Lanjutku menghentikan tawa kami. Soo Young dan Sunny menoleh padaku. Ekspresiku berubah menjadi sedikit murung.

“Geundae ? Mwo, Seo ?” Soo Young yang melihat perubahan ekspresiku bertanya dengan  nada khawatir. Aku menghela napas lagi.

“Ada masalah ya ?” Giliran Sunny yang terdengar khawatir. Aku mengangguk.

“Masalah apa lagi, coba ? Kau dan Kyuhyun sunbae kan sudah baikan. Kalian sudah tidak musuhan dan saling benci lagi. Kenapa lagi, Seo ?” Soo Young menatapku lekat. Aku membalas tatapannya.

“Bukan dengan Kyuhyun masalahnya. Hanya saja masih berhubungan dengannya. Masalahnya…”

“Dengan si Yoo Yi itu kan ? Aiissh, dasar nenek sihir itu.” Emosi Soo Young mulai terpancing.

“Hey, dia itu kakak kelas.” Sunny mengingatkan. Soo Young malah sewot.

“So ? Apa aku harus memanggilnya dengan Unnie atau sunbae gitu ? Idih, aku kan nggak suka padanya. Ngapain respek sama orang kaya’ dia.”

“Sudahlah.” Kataku.

“Seandainya saja Kyuhyun sunbae itu tau bagaimana sifat asli Yoo Yi, dia pasti tidak akan suka padanya lagi.” Celetuk Sunny membuatku menaikan alis mata. Bener juga kata Sunny, batinku.

“Kalau begitu, kita harus segera bikin rencana untuk menyakinkan Kyuhyun sunbae kalau Yoo Yi itu bukan yeoja yang baik yang seperti ia pikirkan.” Soo Young mulai menggebu. Aku menghela napas berat dan menunduk.

“Wae ?” Soo Young bertanya karena mendengar desahan napasku.

“Kau tidak tahu sih. Kyuhyun itu sangat membela Yoo Yi. Dia tidak mau kalau Yoo Yi disalahkan. Aku sudah pernah mengalaminya.” Ekspresiku berubah sedikit murung. Soo Young berdecak.

“Kau mau dia terus-terusan membela nenek sihir itu dan membiarkan dia tidak pernah tau bagaimana sifat aslinya ? Kau mau akhirnya Kyuhyun sunbae bersama Yoo Yi itu ?” Suara Soo Young meninggi. Aku mendongak.

“Mworago ? Aku tidak ingin mereka bersama. Kalaupun tidak bersamaku, asal bukan dengan yeoja seperti Yoo Yi, aku masih bisa terima.”

“Berarti maksudmu kau rela kalau Kyuhyun sunbae bersama gadis lain asalkan bukan Yoo Yi ?” Giliran Sunny yang bertanya. Aiissh, pertanyaan telak.

“Aa~ nggak juga sih. Tapi setidaknya lebih baiklah daripada sama nenek sihir itu. Aku jelas tidak terima jika dengannya. Tapi, kurasa itu susah sekali. Kyuhyun sangat membelanya. Aku tidak tahu seberapa besar rasa sukanya terhadap yeoja itu. Dia selalu bersikap sangat baik di depan Kyuhyun dan itu membuatnya menganggap Yoo Yi itu memang baik. Padahal tamparannya keras sekali.” Ceritaku.

“Tamparan ?” Sunny dan Soo Young serempak bertanya. Mataku membulat.

“Ne. Aku belum cerita ya ? Geurae, jadi hari rabu kemarin …………………….” Aku menceritakan kejadian saat itu pada mereka*kalian pasti tau yang mana. Mereka semakin geram.

“Aiissh ! Si Yoo Yi itu ! Jeongmal !” Soo Young *yang agak emosional* mengepalkan kedua tangannya. Sunny cemberut.

“Kalau sudah begini, aku jadi tambah sebal dengannya.” Sunny komentar.

“Ya ! Seohyun ah ! Terus kau mau diam saja ? Aku tidak tega lama-lama namjamu itu dibeginikan terus dengan si nenek sihir bernama Yoo Yi yang bermuka dua itu. Kita harus bikin rencananya.” Soo Young mulai menggebu lagi.

Keningku mengerut. Rencana ya ? Tapi apa ? pikirku. Tiba-tiba sebuah ide berbahaya muncul di kepalaku #duh, lebay ya ?

Aku menjentikkan jariku.

“Mwo ?” Kedua sahabatku serempak bertanya.

“Ara ! Aku punya sebuah ide. Tapi mungkin agak sedikit…, eumm, berbahaya.” Jawabku. Mereka berdua berpandangan kemudian mengangguk.

Mereka mendekatkan telinga mereka. Aku membisikkan rencanaku itu pada mereka dan langsung dijawab dengan anggukan setuju.

“Tidak buruk.” Ujar Soo Young, “Ya kan ?” Dia menyenggol lengan Sunny. Yang ditanya malah telmi.

“Mwo ?” Sunny menaikan alisnya. “Oh, ne.” Lanjutnya begitu melihat tatapan galak Soo Young.

“Tapi sepertinya kita butuh orang lagi untuk melakukan rencana ini.” Kataku. Kami bertiga berpikir.

“Aah !!” Aku, Sunny dan Soo Young menjentikkan jari kami bersama. “Nugu araseoyo [Aku tau siapa] !!”

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

Akhirnya sampai di ruang tata boga juga. Aku meletakkan tasku di meja dekat jendela sambil mendesah cukup keras. Kutarik sebuah bangku lalu aku duduk diatasnya. Aku menopang kepalaku di atas meja. Pikiranku kacau.

Kenapa jantungku masih berdegup kencang ? Kenapa tadi aku berdebar-debar ? Sejak mengantarnya pulang kemarin, aku merasakan sesuatu yang berbeda jika dekat dengannya. Tadi, dia pakai rok ya ? Hmm, manis juga. Aissh ! Apa yang kupikirkan ? Apa mungkin aku…,

“Kyuhyun ssi !” Seseorang memanggilku. Dia menepuk bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Yoo Yi.

“Oh, Yoo Yi ssi, annyeong.” Sapaku sewajar mungkin menutupi pikiranku yang sedang kacau. Aku mencoba menampilkan senyum manis seperti biasanya. Tapi aku merasa wajahku menjadi kaku. “Ada apa ?” Lanjutku.

Dia tersenyum lebar sampai matanya menyipit lalu menggeleng.

“Aniyo. Aku hanya ingin menyapamu. Kangen seharian kemarin kita kan nggak ketemu. Eotteokhe jinasseoyo [bagaimana kabarmu] ?” Dia menanyakan kabarku. Aku membalas senyumnya.

“Baik. Kau ?”

“Seperti biasa. Mwo hago isseoyo [kau sedang apa] ? Mau kutemani ?” Tawarnya. Aku sedikit menunduk. “Jal jinasseoyo [Kau baik-baik saja] ?” Nadanya berubah khawatir. Aku mendongak menatapnya yang berdiri di sampingku.

“Aniyo. Jal jinasseoyo [aku baik-baik saja]. Eumm, sebenarnya Yoo Yi, aku…, sedang ingin sendiri. Bisa tidak kau meninggalkan aku sendirian saja ?” Pintaku. Aku menolak tawarannya.

Ya ! Ada apa denganku ? Seumu-rumur baru kali ini aku menolaknya menemaniku. Aku tidak pernah bilang tidak padanya. Karena aku menyukainya. Tapi kali ini ? Aku menolaknya karena aku memang sedang ingin sendiri. Pikiranku sangat kacau setelah kejadian-kejadian yang membuat perasaanku tiba-tiba berubah. Kejadian bersama gadis bernama Seohyun itu.

Raut wajahnya berubah. Keningnya mengerut seakan bingung dan heran dengan sikapku barusan *hey, aku sendiri saja bingung.

“Waegeradyo [kau kenapa] ? Kenapa tiba-tiba kau tidak ingin kutemani ? Ada masalah apa ? Ceritakan padaku, Kyu…” Dia memegang pundakku. Aku mendesah kemudian memegang tangannya dan menyingkirkannya dari pundakku. Dan, baru kali ini juga aku bersikap seperti ini. Yoo Yi terlihat makin bingung

“Aku…, benar-benar ingin sendiri, Yoo Yi. Jebal [kumohon] …” Aku tidak lagi menatapnya. Aku memang benar-benar ingin sendiri.

Dia mendengus cukup keras.

“Baiklah kalau itu maumu.” Nadanya terdengar agak ketus. Aku mencoba untuk tidak terlalu peduli. Dia berbalik pergi dengan langkah seperti orang kesal.

Yoo Yi ssi, mianhae. Aku tidak bermaksud begini. Aku juga tidak ingin tiba-tiba begini. Tapi, aku memang sedang dalam pikiran yang kacau dan kumohon kau mengerti. Ucapku dalam hati.

Aku menghela napas lagi dan kembali menopang daguku. Pikiranku melayang. Aku melamun.

“Kyuhyun ada apa denganmu ?” Tanyaku pada diriku sendiri. Aiissh, kenapa tanya pada diri sendiri yang jelas-jelas bingung dengan jawabannya ? Pabo kau, Kyu !

Aku teringat sesuatu. Sapu tanganku. Aku merogoh kantong sweaterku dan mengambil sapu tanganku yang sudah dicucinya. Kupandangi sapu tangan itu. Rasanya jadi berbeda. Kenapa ?

Kudekatkan sapu tanganku ke hidung dan mencoba menghirup wanginya. Aromanya bukan aromaku, pikirku. Ini, aromanya.

DEG DEG DEG DEG DEG

Aiissh ! Kenapa mulai lagi ? Kenapa jantungku berdebar lagi begitu mengingatnya ? Hanya karena aromanya saja aku sudah merasa seperti ini. Aaaaargh ! Michigetda !!! [aku gila]

Perasaan ini berbeda. Seperti ingin meloncat keluar dari dadaku. Kalau aku memang menyukainya, kenapa rasanya berbeda dengan rasa sukaku pada Yoo Yi ? Aku menyukai Yoo Yi tapi aku tidak pernah merasa berdebar sehebat ini. Dan jantungku tidak pernah berdetak lebih kencang ketika berdekatan dengannya. Hanya merasa suka. Hanya itu.

Kenapa aku ini ? Apa ini yang dinamakan jatuh cinta ? Apa ini cinta ? Lantas apa bedanya dengan suka ? Apa kalau cinta itu harus berdebar dan merasa napas semakin sesak walau hanya karena selintas memikirkannya ? Ya ! Cho Kyuhyun ! KAU KENAPA ???

Aku menjerit dalam hati. Aku benar-benar bingung. Yoo Yi adalah gadis pertama yang kusukai. Hanya suka atau juga cinta ? Aiissh !! Aaargh !! Aku bingung sekali. Aku mencintai Eommaku tapi aku tidak pernah berdebar ketika dekat dengannya. Tapi, kenapa dengan gadis itu aku berdebar seheboh ini ? Lantas perasaan ini apa namanya ?

Aku memandang keluar. Tak sengaja *atau disengaja* mataku menuju ke arah lapangan bola yang kini sudah ada beberapa gadis yang ikut ekstra sepak bola putri. Mataku awas.

Dia ada di sana tidak ya ? Tanyaku dalam hati. Batinku kembali mengomel.

Ya ! Kyuhyun, kenapa sih kau ini ? Kenapa kau mencarinya ? Aiissh ! Ini semua benar-benar membuatku gila. Aku harus tanya seseorang tentang hal ini. Siapa ? Sungmin ? Ya ampun, Kyu ! Kalau kau cerita pada Sungmin yang ada dia justru akan memarahimu. Dia tahu aku suka dengan Yoo Yi saja sudah over protect seperti itu. Gimana kalau aku tiba-tiba cerita tentang hal ini ? Bisa habis aku diomelin.

Lantas siapa ? Donghae, Eunhyuk, Kibum, Minho ? Chullie Hyung ? Anak-anak di kos ? Aku tidak bisa cerita pada mereka. Mereka semua terlalu ‘tidak normal’. Apalagi Chullie Hyung. Biar dia leader di kos, tapi tetap saja tidak meyakinkan.

Apa sama eomma saja ? Aaa~ malu lah cerita hal beginian sama eomma. Sama Joo Yeon Noona juga sama saja. Taeyon Noona ? Bisa sih. Tapi kan dia sibuk. Ah !

“Apa Hye Ri ? Jiiah, dia kan masih 13 tahun. Mana ngerti. Aiissh ! Urusan seperti ini benar-benar menguras tenaga. Ck ! Mending bikin kue aja.” Aku beranjak dari kursiku dan mencoba menggantungkan dulu masalah ini.

Aiiissh ! Pigon haeyo [aku capek] !! Aaaaa~ Michigetda ! [aku nakal jadi gila]………

—- End POV —-

­­—- Seohyun POV —-

Aku melongok ke dalam ruangan itu. Cukup ramai sih. Pandanganku mengitari seisi ruangan mencari sosok yang kucari. Soo Young menyenggol lenganku.

“Ada tidak ?” Tanyanya. Aku berbalik menatapnya lalu menggeleng.

“Aku tidak melihatnya di dalam.” Jawabku.

“Dia belum datang kali. Bisa saja kan ?” Sunny menebak. Bener juga sih. Siapa tau dia belum datang. Soo Young menghela napas kecewa.

“Aah~ si Yoona itu. Ya sudah deh. Kita tunggu saja di deket gerbang saja.” Sarannya. Sunny jadi heboh.

“Eh, jangan jangan ! Kalau keliatan sunbaenim, kita bisa dihabisi. Di deket pintu gedung aja.”

“Bener kata Sunny. Lebih aman nunggu di deket pintu masuk gedung. Ja ! Kajja !” Aku menarik tangan Soo Young dan Soo Young menarik tangan Sunny.

Sekali lagi, aku sempat menoleh ke dalam ruangan itu dan melihat seseorang yang membuatku berdebar sedang berjalan menuju sebuah meja dengan membawa beberapa bahan kue. Mwo ? Ada Kyuhyun.

Aku langsung melepas genggamanku pada Soo Young dan langsung masuk begitu saja ke dalam ruang tata boga itu. Entah kenapa aku seperti tersihir dan ingin mendekatinya. Soo Young ribut.

“Ya ! Seohyun, apa yang kau lakukan ? Aissssh !” Tanyanya setengah berbisik. Aku tidak memperdulikannya.

Aku sedikit berjingkat menujunya yang membelakangiku dan terlihat sedang bersiap membuat kue. Aku ingin mengejutkannya. Aku sampai tepat di belakangnya. Ku tepuk bahu kirinya dan aku langsung berdiri di samping kanannya #seohyun jail nih.

Dia langsung menengok ke kiri dan aku menyapanya dari sebelah kanan.

“Oppa ! Annyeong !” Sapaku sedikit mengejutkannya.

—- End POV —-

—- Kyuhyun POV —-

Seseorang menyapaku dari samping kananku. Padahal kukira dia berada di samping kiriku. Aku sedikit terkejut. Dan lebih terkejut lagi begitu melihatnya.

“Kau ?”

DEG DEG DEG

Jantungku ? Kenapa berdebar lagi ? Aiissh ! Kenapa dia datang lagi ? Kenapa dia mendekat lagi ? Aku mengalihkan pandangan sejenak untuk menenangkan diriku, kemudian kembali melihatnya sambil memasang senyum yang kurasa sangat kaku.

“Ya ampun, kau membuatku kaget. Kau ini jail banget sih ?” Omelki. Dia cuma cengengesan.

“Hehe ! Memangnya kau saja yang bisa jail padaku. Itu balasan kejailanmu yang kemarin. Tapi, kok rasanya nggak seimbang ya ? Eh ! Oppa mau bikin kue lagi ? Yang kemarin ?” Cerocosnya sambil menatap bahan-bahan kue di meja. Aku mengikuti arah pandangnya. Mencoba menjawabnya walau aku merasa agak terbata.

“Ne. Aku… sedang…”

“Wah ! Aku jadi ingin ikut membuatnya lagi.” Dia memotong kalimatku kemudian kembali menatapku sambil tersenyum manis.

DEG DEG DEG

Aiissh ! Mulai lagi. Hanya karena melihatnya tersenyum saja aku sampai berdebar seperti ini.

“Kau kan… harus latihan. Kau juga sudah ganti baju kan ?” Tanyaku mencoba membuatnya ingat kalau dia tidak seharusnya di sini.

Dia mengangguk dan mengubah ekspresinya menjadi ekspresi kecewa.

“Iya sih. Kau benar.” Dia menunduk melihat ke arah bahan-bahan itu lagi.

“Memangnya…, ada perlu apa kau ke sini ?” Tanyaku. Dia mengangkat wajahnya tapi tidak menatapku. Tatapannya lurus ke depan.

“Aku…, mencari seseorang.” Jawabnya.

Mencari seseorang ? Siapa ? Apa jangan-jangan aku ? Aiisssh, Kyu ! Kau ini GR sekali sih ? Mana mungkin dia mencarimu. Aku perang batin. Kutatap dirinya.

“Nugu ?”

“Yonbaemu,” Dia menatapku sekarang. Membalas tatapanku dengan tatapan yang sangat innocent. “Yoona. Kau pasti tau dia.”

Aku berdebar lagi melihat tatapannya. Kenapa tiba-tiba dia jadi innocent gitu ? Aku membuang muka dan mencoba untuk tidak melihatnya lagi. Dia melanjutkan perkataanya lagi.

“Tapi sepertinya dia tidak ada di sini. Dia belum datang ya ?” Tanyanya retoris. Aku tertawa kecil mendengar pertanyaanya lalu memarahi batinku sendiri yang sempat GR karenanya tadi. Aiissh !

Aku masih berusaha tidak melihatnya lagi. Jangan sampai lagi maksudku. Aku tidak mau tiba-tiba berdebar kencang seperti tadi-tadi karena melihatnya. Sudah cukup.

Dia mendesah cukup keras.

“Kau tunggu saja. Kuyakin sebentar lagi dia pasti datang.” Kataku mencoba menyemangatinya. “Cepat ke lapangan ! San Ji dan Eun Ho ikut latihan kan ? Aku tidak mau mereka mengomel gara-gara kau telat datang latihan. Aku tau sekali bagaimana kalau mereka marah. Sana ! Jangan sampai terlambat !” Aku tersenyum dan menyuruhnya segera pergi.

Dia menatapku lagi. Dan lagi-lagi dengan tatapan innocent seperti tadi. Matanya membulat dan berbinar #iih, kyuhyun lebay juga.

“Kau benar. Sebaiknya aku pergi. Baiklah, Kyu…, maksudku Oppa, aku pergi dulu. Annyeonghi gyeseyo.” Gadis itu berbalik pergi dan tak lupa melambai kecil. Kubalas dengan senyuman.

“Ne, annyeonghi gaseyo. Eh, kalau kau ingin belajar bikin kue lagi, main saja ke sini. Arachi ?” Tawarku. Hey ?! Kenapa aku malah menawarinya seperti ini ?

Dia berhenti dan tersenyum mendengar tawaranku kemudian mengangguk. Dia melambai lagi lalu benar-benar pergi dari pandanganku.

Seperti menahan napas sangat lama, akhirnya aku bisa bernapas lega lagi begitu ia pergi. Aku menghembuskan napas lega. Dari tadi bersamanya membuat dadaku sesak dan susah bernapas. Apalagi ditambah dengan jantungku yang berdetak tidak normal. Maksudku, tidak normal karena detakannya lebih cepat beberapa kali. Dan itu cukup sakit.

Aku kembali ke bahan-bahan cake ku. Pikiranku kacau lagi. Aku semakin penasaran, bingung, heran, dan aneh dengan diriku sendiri. Sepertinya aku memang harus konsultasi.

Tapi dengan siapa ?

—- End POV —-


….To be continued….

 

Tunggu yaaaa……

Mianhada kelamaan publish part ini soalnya banyak banget kendalanya…… Miiiaaan banget….

Jangan lupa buat semua yang baca, PLIIIIISSSSSS !!! JANGAN jadi SILENT READER !!!

Author butuh saran dan masukan…. Gomawooo

Saranghaeyo chinguuu….❤

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s