I Wanna Love You (Part 4)

Standar

Author: Author: Haedie Luph Donghaegaeul

Hai hai smuanya aQ kmbali lg.. lg kerajinan bkn ff nie, stlah sekian lm mati ide… mian y nyita waktu xan lg bwt bc ff gila Q ini.. drpd bnyak ngemeng, lgsg bc aj y.. ^_^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Gaeul’s POV

Aku masih memakai handuk yang melilit di tubuhku. Aku bingung harus memakai baju apa. Di kamar ini semuanya pakaian pria. Dan aku juga tak menemukan pakaianku kemarin. Aku tidak mungkin menemui pria mesum itu dengan menggunakan handuk seperti ini. Itu sama saja dengan membangunkan singa yang sedang tidur.

Tiba-tiba kudengar suara ketukan dari balik pintu kamar. Dengan segera aku berlari ke belakang pintu kamar.

”Nugu???”

”Naneun Jung ahjumma, agaesshi,” jawabnya.

Aku membukakan pintu kamar itu sedikit dan membiarkan wanita paruh baya itu masuk. Ahjumma itu membungkukkan badannya kepadaku.

Kulihat dia berjalan ke arah ranjang dan meletakkan pakaian di atas ranjang itu. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.

”Pakaian ini dari tuan muda untuk anda agaesshi,” ucapnya.

”Ehmmmm, gomawo ahjumma,” jawabku salah tingkah.

Dia tersenyum padaku. ”Tuan muda sudah menunggu anda di bawah untuk sarapan,” ucapnya lagi.

Aku menganggukkan kepalaku.

Ahjumma itu membungkukkan badannya lagi kepadaku kemudian berjalan menuju pintu.

”Ahjumma,” panggilku.

”Ne, agaesshi,” jawabnya.

”Boleh aku tanya sesuatu???” Ahjumma itu menganggukkan kepalanya. ”Boleh aku tau, siapa yang menggantikan pakaianku tadi malam??? Benarkah bukan dia???” tanyaku.

Lagi-lagi ahjumma itu tersenyum ramah padaku. ”Tuan muda memang sangat suka bercanda dan terkadang sedikit keterlaluan tapi tuan muda tidak sekurang ajar itu, agaesshi. Tuan memerintahkanku untuk mengganti pakaian anda yang basah, tuan muda takut anda sakit, agaesshi,” jelasnya.

Aku sedikit malu mendengar ucapan ahjumma ini. Benarkah aku terlalu buruk menilainya??? Jika dia memang tak seburuk itu, lalu kenapa dia selalu bersikap menyebalkan.

 

*****

 

Pria ini memarkirkan mobilnya di garasi rumahku. Aku masih duduk di dalam mobilnya. Ntah kenapa aku tak mau pulang ke rumah. Aku sungguh tak mampu untuk bersandiwara lagi tapi Aku juga tak mau onnie dan oppa menyadari isi hatiku, terutama kejadian tadi malam.

”Ya!! Kenapa tidak turun???” ucapnya.

Aku hanya diam di tempatku.

”Ya!!! Jangan tunjukkan wajahmu yang seperti itu dihadapan Hyukjae dan onnie mu. Kau ingin membuat kebohonganku terbongkar ya???”

Aku menoleh ke arahnya. ”Aku tak bisa berpura-pura bahagia saat ini,” jawabku.

”Kau tidak perlu berpura-pura,” balasnya. Aku berdecak kesal ke arahnya. ”Karna aku yakin, tanpa kau sadari jauh di dalam hatimu, kau juga ikut merasakan kebahagiaan mereka,” lanjutnya lagi.

Aku menatapnya bingung tapi dia tak berusaha menjelaskannya lagi. Sesaat kemudian, senyum jahilnya kembali terlihat di wajahnya.

”Jangan bilang, sebenarnya kau ingin menghabiskan waktu yang lebih banyak bersamaku. Ayo mengaku saja,” ucapnya.

”Ya!!! Dasar Pria Mesum!!!” teriakku kesal.

Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia menatap dalam ke mataku.

“Kenapa kau tak pernah mau memanggil namaku???” ucapnya yang membuatku tersentak.

Aku memutar bola mataku mencari alasan.

“Aku tak tau namamu,” jawabku asal. Sungguh alasan yang bodoh. Tapi aku juga tak tau kenapa mulutku berat sekali menyebut namanya.

“Namaku Lee Donghae dan jangan gunakan alasan itu untuk membodohiku,” balasnya.

Aku menggembungkan pipiku kesal. “Shiruhhh!!” Teriakku kemudian aku turun dari mobilnya.

Aku berjalan masuk ke dalam rumahku. Kulihat Hyuk oppa sedang mengelus pelan perut Ahra Onnie. Mereka terlihat sangat bahagia.

Aku masih berdiri di tempatku sampai akhirnya ada seseorang yang mendorong tubuhku hingga membuatku hampir terjatuh.

”Ya, pria gila!!!!!!!” teriakku yang membuat Ahra onnie dan Hyuk oppa menoleh ke arahku.

”Gaeul-ah kau sudah pulang???” ucap Ahra onnie.

Aku menolehkan kepalaku pada mereka dan mengangguk pelan. Kemudian aku berlari ke pelukan Ahra onnie. Ahra onnie membelai wajahku dengan lembut.

“Ya kenapa wajahmu terlihat pucat??? Kau tidak sedang sakit kan???” ucapnya khawatir.

Aku menggeleng pelan. ”Gwaenchana onnie,” jawabku.

”Ya Lee Donghae!!! Kau tidak berbuat macam-macam kan pada adik kecilku???” selidik Hyuk oppa.

Pria itu lagi-lagi mengeluarkan seringaiannya. Aku merasakan firasat buruk melihat wajahnya itu. Apa yang akan dikatakannya??

”Apa pun yang aku lakukan, aku pasti akan bertanggung jawab,” ucapnya.

Apa maksudnya berkata seperti itu??? Jangan membuat orang berpikiran yang tidak-tidak.

”Apa maksudmu ikan???”

”Kau tanyakan saja pada adik kecilmu itu. Dia pasti sangat menikmatinya,” jawabnya lagi sembari mengedipkan sebelah matanya padaku.

Hyuk oppa dan Ahra onnie saling berpandangan, kemudian mereka langsung menatapku.

”Oppa, onnie jangan percaya dengan pria pembohong besar seperti dia. Kalian jangan berpikir macam-macam,” jelasku kemudian kulemparkan tatapan tajamku padanya yang lagi-lagi dibalas dengan senyumnya.

 

*****

 

You are my everything

Nothing you’re love won’t bring

My Life is your alone

The Only love I’ve ever known

Your spirit pulls me trough

When nothing else will do

Every night I pray on bended knee

That you will always be

My everything…

 

Suara dentingan piano ikut berhenti dengan berhentinya suara merdu itu. Suara yang bisa memmbuat orang merasa tenang dan nyaman.

”Wooaaaaa.. Oppa kau membawakannya dengan penuh perasaan,” Ucap Ga Eun kagum pada dirinya.

Pria itu tersenyum kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah kelas. ”Ne, karna lagu itu mencerminkan isi hatiku,” ucapnya.

Kupertajam pendengaranku. Apa dia sedang jatuh cinta???

”Apa kau sedang jatuh cinta, Hyung???” tanya temanku yang lain. Pertanyaan sama yang ada di benakku.

Dia menggeleng pelan. Senyum kecil tersungging di bibirnya, tapi aku merasa ini bukan senyumnya yang seperti biasa. Tersirat rasa lelah dan putus asa.

”Annie, tapi aku masih bertahan dengan rasa cintaku,” jawabnya.

Aku mencoba mencerna semua ucapannya. Tapi kenapa sangat sulit untuk mengerti ucapannya saat ini. Apa dia sedang berusaha membodohi semua orang di kelas ini???

”Satu-satunya alasan aku berada di Korea karena dirinya,” ucapnya mulai bercerita. Suasana kelas berubah menjadi sunyi. Semua teman-temanku serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tak kupungkiri aku juga penasaran dengan ceritanya. Ntahlah itu benar-benar terjadi dalam hidupnya atau hanya skenario yang dia buat.

”Aku kembali hanya untuk meyakinkannya bahwa ada aku yang selalu menunggunya. Selalu mencintainya,” lanjutnya lagi. ”Aku pulang ke Korea untuk mengambil hatiku kembali yang sudah kutitipkan padanya sejak satu tahun yang lalu, dan kuharap dia bisa mengembalikannya dan mendapat bonus hatinya.”

Dia terkekeh pelan ketika mengucapkan kata ’Bonus’ tapi aku tetap merasa kesedihan dari pancaran matanya. Apakah dia benar-benar mencintai gadis itu???

”Apa wanita itu sekarang sudah menerima oppa kembali?? Apa dia sudah percaya dengan ketulusan hati oppa???” tanya Ga Eun.

Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum.

”Belum,” jawabnya. ”Aku hanya memerlukan waktu sedikit lagi untuk membuatnya yakin ada cintaku yang akan menerangi hidupnya,” lanjutnya dengan yakin.

Tiba-tiba Ga Eun berdiri dengan tangan terkepal yang mengacung ke atas kepalanya. Kulihat raut wajahnya yang menyiratkan emosi dan juga semangat.

”Aku akan mendukungmu, Oppa!!!” teriak Ga Eun yang membuatku terkejut.

Aissss anak ini sungguh memalukan.

Ku alihkan pandanganku ke arah pria mesum itu. Kenapa aku merasa kasihan padanya. Ada apa dengan diriku??? Untuk apa aku mengasihani pria itu?? Bukankah kisah cintaku lebih menyedihkan???

 

*****

 

Bel pulang sekolah telah berbunyi dan semua siswa berhamburan ke luar kelas. Aku masih mengemasi barangku ditemani Ga Eun yang masih duduk di sampingku. Setelah mengemasi barang-barangku, Ga Eun langsung menggandeng tanganku dan berjalan ke luar kelas. Betapa terkejutnya diriku ketika kudapati seorang namja sedang bersandar pada pintu kelas dan menatapku.

Aku mengalihkan pandanganku, berpura-pura tak melihat dirinya. Aku menarik tangan Ga Eun dan memperlebar langkahku. Tapi Henry berhasil menyusul langkahku dan berdiri tegak di hadapanku. Aku mencoba tak menghiraukannya dan melewatinya tapi Henry terus menghadangku. Akhirnya aku menyerah. Kutatap matanya dengan garang.

”Mau apa lagi kau???” bentakku.

Ga Eun menatapku bingung. Ga Eun menarik-narik baju bagian belakangku, meminta penjelasan.

”Aku mohon, dengarkan aku kali ini saja, Gaeul-ah” ucapnya dengan memelas.

Aku tertunduk mendengar ucapannya. Ntah kata-kata kasar apa lagi yang harus keluar dari mulutku agar dia berhenti menggangguku. Aku sungguh tak ingin mendengar suaranya apalagi mendengar namaku keluar dari mulutnya.

”Aku bisa menjelaskan semuanya,” ucapnya lagi.

Aku menutup kupingku dengan kedua tanganku. Aku sungguh tak ingin mendengarnya. Hatiku semakin sakit mengingat dia dan teman-temannya menyebut namaku dengan tawa kemenangan.

Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan melingkar di bahuku. Kuangkat kepalaku, dan kulihat pria itu berdiri di sampingku sembari tersenyum. Aku terperangah melihatnya. Apa lagi ini??

”Bisa kita pulang sekarang??? Hyuk dan Onniemu bisa menghajarku jika setengah jam lagi mereka belum melihatmu menginjakkan kaki di rumah,” ucapnya.

Aku bisa melihat dengan ekor mataku Ga Eun dan Henry terbelalak mendengarnya. Bukan saja mereka, tapi juga aku. Sudah kubilang, pria ini memang seperti hantu.

Kutatap matanya, mencoba mencari tau apa maksudnya semua ini. Tapi sedetik kemudian aku mengerti.

Aku menganggukkan kepalaku pelan dan mengikuti langkahnya ketika tangan kanannya menarik pergelangan tanganku dengan lembut.

 

*****

 

”Gaeul-ah, ada telepon untukmu,” panggil onnieku. Tentu saja, ponselku tak ada sekarang.

”Yoboseyo,” ucapku.

”Gaeul-ahhhhhh!!!!!” Teriaknya ketika mendengar suaraku. Dari suara cemprengnya aku sudah tau siapa yang ada di seberang sana. Sudah kutebak dia pasti akan segera memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Aku menjauhkan gagang telepon dari telingaku. Aku masih sayang pada pendengaranku.

”Waeyo???” Tanyaku tak antusias.

Kudengar helaan napasnya sedikit memburu. Kurasa itu akibat dia berteriak tadi.

”Ayo jelaskan padaku apa hubunganmu dengan Donghae oppa???? Kenapa dia bisa tau rumahmu bahkan berani mengantarmu pulang??? Kenapa dia bisa mengenal Hyuk Jae oppa dan Ahra Onnie?? Bahkan dia berani merangkul dan menggenggam tanganmu???” tanyanya beruntun membuat napasku ikut terhenti mendengarnya.

Aku menghembuskan napasku lega ketika mendengarnya berhenti mengoceh. ”Dia teman oppaku dan dia tinggal bersama kami,” jawabku. Kuharap ini bisa mengakhiri semua pertanyaannya karna kurasa jawabanku bisa mewakili semua rasa ingin tahunya.

”Mwo???” Teriaknya lagi.

Sepertinya harapanku benar-benar Cuma sebuah harapan belaka. Ternyata jawaban itu tak bisa membungkam mulut yeoja berisik ini.

”Bagaimana mungkin kau tidak bilang padaku, namja setampan Donghae oppa tinggal bersamamu. Aigooo beruntungnya dirimu Cho Gaeul.”

Lidahku langsung mencibir ketika dia mengatakan kata ’beruntung’. Yang benar saja.

”Ayo ceritakan padaku, bagaimana Donghae Oppa jika di rumah?? Apa makanan kesukaannya??? Apa merk parfumnya?? Bagaimana tampangnya saat bangun tidur?? Apa ada kebiasaan aneh sebelum dia tertidur???”

Kali ini emosiku sudah memuncak. Meskipun kau sahabatku bukan berarti aku tak berani menghajarmu Park Ga Eun, malah aku akan dengan senang hati menjitak kepalamu.

”Ya!!! Apa kau pikir aku istrinya yang tidur sekamar dan seranjang dengan dirinya???”

Kemudian kuputuskan teleponnya.

Aisss gadis itu…

Aku berbalik menuju kamarku, betapa terkejutnya diriku ketika melihat dirinya yang sudah berdiri di belakangku.

”Istri siapa???” Tanyanya ingin tau.

”Aissss…” geramku.

Kutinggalkan dirinya begitu saja kemudian kembali ke kamarku. Kulirik jam dindingku, jarumnya sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tiba-tiba mataku melebar, aku lupa tas dan ponselku masih tertinggal di mobil Henry. Meskipun isinya tak seberapa, tapi seluruh kartu identitasku ada di sana.

Aku harus mengambilnya, tapi…

Kuraba kalung yang melingkar di leherku. Dia memang pernah menyelamatkan hartaku yang paling berharga, aku memang sangat berterimakasih padanya, tapi bukan berarti aku bisa memaafkannya dengan mudah. Satu hal yang paling kubenci di dunia ini, perasaanku dipermainkan seorang pria. Aku lebih memilih tak dicintai pria manapun, jika hanya menjadi leluconnya.

Kulangkahkan kakiku menuju kamarnya. Aisss bagaimana mungkin aku mencarinya???

Kuketuk pelan pintu kamarnya. Kuharap dia tak mendengarnya dan membuatku mengurungkan niatku. Tapi tiba-tiba pintu itu terbuka dengan perlahan. Dia berdiri di hadapanku dan lagi-lagi dengan tersenyum. Apakah dia begitu bangga dengan senyumannya??

“Bisa temaniku ke rumah Henry??” ucapku pelan.

Ahhh Gaeul-ah baboya. Kenapa kau menjatuhkan harga dirimu di hadapan namja ini. Tapi aku bisa apa, Hyuk oppa baru saja pulang dari bekerja, aku tidak mau mengganggu waktu istirahatnya. Lagi pula aku yakin saat ini dia lagi bermesraan dengan onnieku.

”Tas dan ponselku masih tertinggal di mobilnya,” lanjutku lagi.

Tak ada jawaban darinya. Dia hanya menatapku dengan sebelah alis yang terangkat. Apa-apaan ini??? Aku tak suka di tatap seperti ini.

“Jika kau tak mau menemaniku, ya sudah,” ucapku dengan ketus. Enak saja, jangan harap aku akan mengemis-ngemis padamu pria mesum.

Aku memeletkan lidahku padanya kemudian berbalik tapi suaranya menghentikan langkahku.

”Apa begini caramu meminta tolong pada orang??” ucapnya.

Aku mengembungkan pipiku ketika mendengar ucapannya. Dia hanya tersenyum tipis melihat ekspresiku.

”Tunggu aku di mobil,” ucapnya lagi.

 

*****

 

”Di sini rumahnya??” tanyanya ketika kusuruh dia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah.

Aku mengangguk pelan dan melepas seat belt yang melilit tubuhku. ”kau di sini saja,” ucapku kemudian turun dari mobilnya.

Aku memencet bel rumahnya, dan tak lama kemudian kulihat dia berdiri di hadapanku. Dia sedikit shock melihat kehadiranku, tapi juga tersirat rasa bahagia dari matanya.

”Gaeul-ah.”

”Aku hanya ingin mengambil tas dan ponselku,” ucapku ketus sembari menjulurkan tanganku di depan dadanya.

Terpancar sedikit rasa kecewa dari wajahnya. ”Mianhae, Jeongmal Mianhae, Gaeul-ah. Aku sungguh-sungguh merasa bersalah padamu dan kumohon kau memaafkanku,” ucapnya dengan nada putus asa.

”Aku sudah memaafkanmu,” ucapku, meskipun hatiku belum ikhlas 100%. ”Lupakan semuanya, dan kumohon jangan menyebut namaku lagi. Anggap semuanya tak pernah terjadi, anggap saja kau tak pernah mengenal gadis bodoh seperti diriku. Biarkan semuanya kembali seperti dulu, saat aku tak mengenal seseorang yang bernama Henry Lau, dan kau tak mengenal Cho Gaeul,” ucapku datar.

Matanya melebar mendengar ucapanku.

”Tapi..” dia mencoba memprotesku ketika sebuah suara memotong ucapannya.

”Gaeul-ah, sudah malam,” ucapnya sembari bersandar di mobil Audinya.

Kulihat henry memandang ke arah pria itu sejenak, kemudian kembali memandang wajahku.

“Aku harus pulang, tolong kembalikan barangku sekarang.”

Henry tak mengeluarkan suaranya lagi. Dia berjalan masuk ke rumahnya dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa tas dan ponselku di tangannya.

”Gomawo,” ucapku singkat.

Aku langsung berbalik dan menyusul pria itu yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Saat di dalam mobil aku menghembuskan napasku lega. Berkali-kali aku menahan napasku saat berbicara dengan Henry tadi.

”Kau harus mentraktirku makan,” ucap seseorang yang kembali membuatku menahan napas. Rasanya baru saja aku bisa bernapas bebas tapi kenapa ada lagi yang memencet hidungku hingga tak bisa bernapas. Sepertinya mereka tak suka aku menghirup oksigen dengan gratis di dunia ini.

”Mwo???”

Pria itu menyeringai padaku. ”Sepertinya hari ini aku sudah dua kali menyelamatkan hidupmu dari pria berpipi bakpao-mu itu,” ucapnya dengan penekanan pada kata ’pipi bakpao’. ”Annie di tambah kemarin menjadi tiga kali, bukankah aku juga  menyelamatkanmu dari pertanyaan-pertanyaan onnie dan oppamu,” lanjutnya lagi.

Kutatap matanya garang. Apakah dia ingin mengatakan bahwa dia malaikat penolongku???

”Jadi maumu apa??” teriakku kesal.

”Traktir aku makan,” jawabnya.

”Bukankah tadi kau sudah makan bersama oppa dan onnie???”

Dia mengangguk pelan. ”Tapi perutku lapar kembali,” jawabnya enteng.

Aisss…

Kulipat kedua tanganku di depan dadaku dan memalingkan wajahku darinya. Memandangi jalanan Seoul yang masih lumayan ramai.

Pria ini menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran seafood dan yang kutahu ini salah satu restoran mahal di Seoul. Jadi, dia tidak bercanda dengan ucapannya tadi?? Aku hanyalah seorang pelajar dan kondisi dompetku saat ini tak bisa membantu apa-apa. Habislah kau Cho Gaeul..

”Ya!!! Kenapa kau masih berdiri seperti patung di sana??? Ayo cepat, perutku sudah lapar,” ucapnya kemudian melangkah masuk ke dalam restoran.

Aku hanya mendengus kesal melihatnya. Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku mengikutinya. Dia memilih meja yang berada di pojok ruangan. Ketika pesanannya tiba, dia langsung menyantapnya dengan lahap. Dasar perut karet!!!

”Aku ke toilet sebentar,” ucapnya

Ketika dia pergi aku langsung mengambil dompetku dan memeriksa isinya. Ingin sekali menangis rasanya melihat isi dompetku. Aku lupa terakhir kali aku membawa dompet ini, aku menghambur-hamburkan uangku dengan membeli komik dan sekarang hanya tersisa beberapa lembar saja.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Kupanggil pelayan restoran ini.

”Berapa total semuanya??” tanyaku ketika pelayan itu berdiri di sampingku.

”Semuanya sudah dibayar agaesshi,” jawabnya sopan.

”Mwo???” ucapku tak percaya.

”Ne, pria bersama anda yang sudah melunasinya,” lanjutnya lagi.

Aku mengerutkan dahiku mendengarnya. Kemudian lewatlah pria mesum itu di hadapanku. Sekilas bisa kulihat senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Dia tak menoleh kepadaku dan terus berjalan menuju pintu keluar.

Aku segera menyusulnya dan membantingkan tubuhku sedikit kasar di jock mobilnya. Dia tak mempedulikanku tapi aku tau saat ini dia sangat bahagia. Lagi-lagi dia berhasil mengerjaiku. Kenapa Tuhan menciptakan namja yang begitu menyebalkan seperti ini???

 

*****

 

Aku segera berlari masuk ke dalam rumah ketika namja itu memarkirkan mobilnya. Kulihat Hyuk oppa dan Ahra Onnie sedang menonton televisi. Aku menghempaskan tubuhku di sofa yang sama dengan mereka dan menyelip di antara mereka. Sengaja membuat jarak diantara keduanya. Hahahaha tak bosankah kalian membuatku sakit hati???

Kurebut camilan yang ada di tangan Hyuk oppa, dan memakannya tanpa rasa bersalah. Dari ekor mataku aku bisa melihat mereka menatapku bingung. Mianhae, untuk saat ini tak akan kubiarkan kalian menyakiti mataku. Hatiku sedang kesal dan jangan sampai jiwa iblisku muncul yang membuatku melakukan hal bodoh karena melihat kemesraan kalian.

Tak lama kemudian pria itu juga bergabung dengan kami. Dia duduk di sofa samping Hyuk oppa.

”Gaeul-ah, sebaiknya kau pergi tidur,” ucap Ahra Onnie sembari membelai rambutku pelan.

”Waeyo???” sungutku. ”Bilang saja Onnie dan oppa ingin bermesraan, makanya ingin menyingkirkanku dengan menyuruhku tidur.”

Kudengar tawa pelan dari pria mesum itu.

”Diam kau!!!” hardikku.

Aku memanyunkan bibirku. Kesal sekali rasanya jika mengetahui onniemu menganggapmu hanyalah seorang pengganggu.

”Aisss kau ini,” desis Hyuk oppa kemudian mengalungkan tangannya di leherku dan mengacak-acak rambutku pelan.

”Besok hari apa???” tanyanya.

”Sabtu,” jawabku ketus.

Hyuk oppa mencubit pipiku gemas.

”Oppa,” protesku tak terima diperlakukan seperti itu.

”Besok tepat 1 tahun sudah onnie menjadi istri oppamu itu,” jelas Ahra Onnie.

”Ne, Anniversary,” sambung Hyuk Oppa dengan girang.

Aku terdiam mendengar ucapan mereka. Satu tahun sudah aku membiarkan hatiku terluka seperti ini. Akankah aku menambahnya lagi???

”Lalu apa hubungannya dengan menyuruhku tidur cepat???” tanyaku pelan dan tentunya tak semangat.

”Tentu saja kita akan merayakannya,” jawab Hyuk oppa antusias.

”Donghae mengajak kita ke villanya. Katanya di sana sangat indah,” ucap Ahra onnie.

Aku menatap pria itu sejenak dan dia membalasnya dengan menaik-naikkan alisnya. Ingin sekali rasanya kulempar dia dengan sepatu.

Lebih baik aku tak usah ikut. ”Tapi onnie..” aku berusaha menolak ajakan mereka.

”Wae??? Bukankah besok kau tidak bersekolah??? Kau tidak ingin merayakan anniversary kami???” kudengar nada kecewa dari Ahra Onnie.

Lagi-lagi aku menyakiti hatinya.

Kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Senyum yang bahagia. Kucium pipi onnieku.

”Tentu saja aku akan ikut. Mana mungkin kubiarkan kalian bersenang-senang sendiri tanpa diriku,” ucapku dengan semangat.

Sepertinya aku berbakat menjadi seorang aktris. Beribu-ribu kali sudah aku berakting bahagia di depan mereka.

”Sebaiknya aku tidur sekarang. Aku tak mau kalian meninggalkanku besok pagi,” ucapku lagi kemudian melangkah ke kamarku.

Aku melewati setiap anak tangga tapi aku tak hanya mendengar derap langkahku, tapi juga derap langkah lain. Tepat di anak tangga terakhir aku membalikkan tubuhku dan benar saja pria mesum itu berdiri di belakangku.

”Ya!!! Kenapa kau mengikutiku???” ucapnya gusar.

”Siapa yang mengikutimu??? Aku ingin kembali ke kamarku,” jawabnya kemudian berjalan mendahuluiku.

Kupukul pelan kepalaku. Bodohnya aku. Tentu saja dia akan berjalan di belakangku karena kamarnya ada di sisi kiri lantai atas dan kamarku di sisi kanan. Baboya.

Tapi sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku belum mengucapkan terima kasih padanya. Aku memang bukan gadis yang lemah lembut dan bukan manusia berhati malaikat, tapi aku juga bukan wanita tak tau terima kasih. Meskipun dia sangat menyebalkan, tapi benar apa yang dia katakan, dia sudah tiga kali menyelamatkan diriku.

”Ya!!!” panggilku yang membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik memandangku.

”Gomawo,” ucapku pelan.

”Hanya terima kasih??” ucapnya dengan nada mengejek.

”Memangnya kau mau apa lagi?? Apa kau selalu mengharapkan imbalan dari setiap jasamu??” hardikku.

Dia mengangkat bahunya kemudian menunjuk-nunjuk pipinya.

Aku mencoba membaca maksud isyarat yang diberikannya. Omooo jangan bilang dia ingin aku mencium pipinya.

”Ku rasa kiri dan kanan sudah bisa membuat semua utang budi-mu lunas.”

Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan kasar sembari terus melangkah mendekatinya. Kukepalkan tanganku dan langsung melayangkannya ke wajah tampannya itu. Dan untung saja dia menghindar, jika tidak kujamin tak ada yang bisa di banggakannya lagi dari wajah mesumnya itu.

”Apa kau ingin merasakan tongkat baseball itu di kepalamu???” gertakku sembari menunjuk tongkat baseball Hyuk oppa yang berada di sudut ruangan.

Tanpa merespon ucapanku, dia tetap tersenyum padaku.

Tuhan kumohon jangan hadirkan 1 namja seperti ini lagi di hidupku. Sudah cukup pria gila ini mengobrak-abrik hidupku. Aku bisa gila jika ada dua namja seperti dia dalam hidupku.

 

 

To Be Continue..

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s