FF/ FLOWERS / CHAPTER 1

Standar

Annyeong yorobuunnn… Author yang paling disayang ama Yesung oppa balik lagii…. *plaks! Digampar clouds*.. Kali ini nyeretin Heechul sama Jaejoong—dua cowok yang ditakdirkan punya muka lebih cantik dari cewek—.. Sebelumnya aku mau ngingetin lagi,, kalo ini FF gengerswitch.. Bagi yang gak berkenan, lebih baik mundur secara teratur sebelum terlambat *apaan sih*.. Ini FF mengadaptasi film My Sister Keeper *bener itu ga sih judulnya?*,, but don’t worry.. Alurnya beda, semuanya beda, Cuma ide ceritanya aja yang rada sama. Dan buat semua medical error di FF ini saya minta maap ya.. Secara saya masii SMA, jadi ga terlalu tau masalah beginian.. Udah deh, daripada author gajeh ini kebanyakan bacot, capcuss ke ceritus.. Enjoy readinggg…. 

CHAPTER 1

Jaejoong menarik-narik baju appanya merengek menagih janji appanya untuk membawanya ke taman bermain pada hari libur. Appanya yang sedang menyusun berkas-berkas penting perusahaan di ruang kerjanya hanya bisa membujuk Jaejoong pelan sambil terus meneruskan pekerjaannya.

“Appa.. Ayolah.. Appa sudah berjanji padaku kan? Ayolah appa.. Ajak umma dan Chullie juga..” Jaejoong terus-terusan menarik baju appanya. Kangin lalu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu berlutut di dekat anak itu agar muka mereka sejajar. Dia meletekkan kedua tangan besarnya di bahu kecil anak perempuannya yang sedikit tomboy itu.

“Iya Joongie sayang.. Appa masih menyelesaikan pekerjaan appa.. Sebentar lagi kita pergi, okay? Tunggu appa di kamarmu ya..” bujuk Kangin. Jaejoong terlonjak bahagia lalu memeluk appanya erat. Dia dengan cepat berlari ke luar ruang kerja appanya. Kangin hanya tersenyum melihat perilaku putri bungsunya yang baru berusia sepuluh tahun itu. Dia lalu meneruskan pekerjaannya.

Jaejoong pergi ke kamarnya dan Heechul untuk menyuruhnya berkemas-kemas. Dia sangat bersemangat untuk pergi ke taman bermain, karena sudah lama dia memimpikan untuk pergi ke sana dengan keluarganya. Dia membuka pintu kamar, dan menemukan Heechul masih tidur di atas kasurnya. Jaejoong langsung naik ke kasur Heechul sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.

“Chullie.. Ayo bangun.. Cepat mandi, kita akan pergi ke taman bermain.. Chullie..” Jaejoong terus menggoyangkan tubuhnya. Heechul menggeliat sedikit lalu membuka matanya. Dia terlihat pucat dan sedikit menggigil di bawah selimutnya.

“Joongie.. Aku capek.. Kamu saja yang pergi dengan appa dan umma ya..” kata Heechul lalu kembali tidur. Jaejoong yang heran melihat kakaknya pucat seperti itu menaruh tangannya di kening dan leher Heechul.

“Omona.. Chullie demam..” Jaejoong melompat turun dari kasur Heechul lalu berlari ke kamar umma dan appanya. “Ummaaaa.. Appaaaaa…” dia langsung menerobos masuk ke kamar orang tuanya dan mendapati Eeteuk sedang merapikan tempat tidurnya.

“Kenapa Joongie?” tanya Eeteuk.

“Umma.. hosh.. hosh.. Chullie demam umma.. Badannya panas sekali..” kata Jaejoong sambil ngos-ngosan. Eeteuk terlihat sedikit terkejut.

“Jinjja yo?” tanya Eeteuk. Jaejoong mengangguk, lalu mereka berdua segera menuju kamar Heechul dan Jaejoong. Setibanya di sana, Eeteuk langsung mengecek suhu badan Heechul.

“Badanmu panas sekali nak..” kata Eeteuk, sedangkan Heechul masih menggigil di bawah selimutnya.

“Kangin-ah.. Kangin-ah..” panggil Eeteuk. Tak lama kemudian suaminya itu datang dengan tergopoh-gopoh. Jaejoong hanya bisa duduk di kasurnya yang berseberangan dengan kasur Heechul. Dia hanya diam saja, sambil melihat kepanikan kedua orang tuanya. Dia sama sekali lupa dengan taman bermain, baginya lebih penting kakaknya dibandingkan apapun.

Ketika dokter datang pun Jaejoong juga hanya terdiam di kasurnya sambil melihat pemandangan yang sudah tidak asing lagi baginya itu. Dia hanya meringis melihat sebuah jarum ditusukkan ke lengan putih pucat milik Heechul. Tanpa dia sadari, airmatanya jatuh. Seolah-olah dialah yang merasakan sakit, bukan kakaknya.

Sejak kecil, Heechul sering sekali sakit. Setiap kali Heechul diobati atau disuntik, dialah yang jadi saksi matnya. Jaejoong sangat menyayangi kakaknya itu, begitupun sebaliknya. Walaupun tubuhnya lemah, Heechul selalu menemani Jaejoong bermain dengan senang hati. Ada kalanya Jaejoong harus tidur sendiri di kamar mereka karena Heechul tidur bersama orang tuanya. Mereka sangat protektif terhadap Heechul, sampai dia harus home-schooling. Eeteuk lebih suka seperti itu agar dia bisa mengawasi putri kesayangannya dua puluh empat jam.

Berbeda dengan Heechul, Jaejoong adalah anak yang sehat dan enerjik. Dia selalu bersemangat dan sangat aktif. Dia bersekolah di sekolah umum seperti kebanyakan anak lainnya. Jaejoong adalah anak yang rajin dan sangat cerdas, dia ingin sekali menjadi dokter agar nanti dia sendiri yang akan merawat dan menjaga kakaknya, dan kakaknya tidak perlu kesakitan lagi.

Jaejoong yang masih kecil itu hanya sibuk dengan dunia anak-anaknya, dia belum bisa memikirkan hal apa yang sedang terjadi pada kakak kandungnya, kenapa kedua orangtuanya sangat memperhatikan Heechul, bahkan terkadang sampai melupakan dirinya. Jaejoong hanya mengira itu hal biasa, tapi seiring waktu berjalan Jaejoong mulai merasakan sesuatu yang ganjil.

=7 tahun kemudian=

Jaejoong meringis saat benda kecil yang tajam itu menembus kulitnya. Perlahan dari sebuah selang dia dapat melihat darahnya sendiri sedang mengalir ke dalam sebuah kantong. Entah berapa banyak darah yang dia keluarkan. Jarum itu baru dikeluarkan saat pandangannya mulai berkunang-kunang dan bibirnya memucat. Tenaganya seperti tersedot tidak bersisa. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya itu. Seperti biasanya, sesudah darahnya diambil dia akan diberi susu dan sebuah tablet penambah darah. Hal ini sudah sering kali dia alami, dia sudah terbiasa.

“Jaejoong-ssi, jangan lupa minum susu dan obatnya..” kata dokter pribadi keluarganya. Jaejoong hanya mengangguk. Dokter itu lalu keluar meninggalkan Jaejoong sendiri di kamarnya yang luas itu.

Jaejoong memandang langit-langit kamarnya lekat-lekat. Matanya sudah sayu, seperti memaksa untuk terpejam. Kalau bukan karena yang membutuhkan darahnya adalah Heechul, dia tidak akan pernah mau melakukan hal yang menyiksa fisiknya itu. Diambil darahnya dengan jumlah yang berlebihan akan membuatnya kehilangan seluruh tenaganya. Jaejoong biasanya harus terkapar di kamarnya paling sedikit dua hari untuk mengumpulkan kemballi tenaganya itu. Dan hal itu pulalah yang akan terjadi sekarang.

Meskipun begitu Jaejoong tidak pernah menyesal. Apa yang dia lakukan semata-mata karena dia teramat mencintai kakaknya, bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Kalau seandainya dia boleh memilih, dia rela menggantikan Heechul yang sering sakit itu agar Heechul terbebas dari segala alat-alat medis menakutkan yang selalu menggerogotinya. Dia bahkan juga tidak lagi merasakan perhatian appa dan ummanya, karena sepertinya untuk merawat Heechul saja mereka sudah kesusahan. Dan Jaejoong tidak pernah keberatan dengan hal itu. Tidak pernah.

Kenapa? Karena sudah cukup semua penderitaan yang harus dialami Heechul. Sudah cukup semua rasa sakit yang harus dia derita. Dan Jaejoong yang lebih beruntung daripada kakaknya harus merelakan orang tuanya untuk Heechul kalau memang itu bisa membuatnya sedikit bahagia. Jaejoong tidak boleh egois, dia harus mengerti posisinya.

Jaejoong melangkahkan kakinya ke kamar Heechul yang ada di lantai satu, tepat di sebelah kamar kedua orang tuanya. Kakinya terasa sangat berat karena badannya yang masih lemah, dia harus berjalan dengan berpegangan ke dinding. Sudah payah dia menuruni tangga satu-satu dan sebelum sampai ke kamar Heechul, dia berhenti karena melihat sebuah pemandangan yang meremas-remas hatinya.

Umma-nya da di sana, di dalam kamar itu, sedang membelai kepala Heechul yang ada di pangkuannya. Mereka seperti menceritakan sesuatu, lalu tertawa bersama. Walaupun wajah Heechul masih pucat, tapi Jaejoong bisa melihat kebahagiaan tersirat dari kakaknya itu. Air matanya jatuh, mengingat kenyataan bahwa dia belum pernah merasakan hal itu..

Entah perasaannya saja atau apa, tapi Jaejoong bisa merasakan sejak dulu umma-nya tidak pernah menganggapnya benar-benar ada. Bagi ummanya anak yang ahrus dijaga dan disayangi hanyalah Heechul,tidak ada yang lain. Bagi Jaejoong lebih baik dibenci daripada dianggap tidak ada samasekali. Hal ini pula lah yang menjadi alasan lain kenapa Jaejoong mau mendonorkan darahnya pada Heechul. Agar umma melihatnya. Agar umma menyadari keberadaannya. Tapi sejauh ini, masih sia-sia. Namun Jaejoong tidak pernah putus asa, dia akan memberikan apa saja pada Heechul, agar umma bisa menyayanginya, atau setidaknya berterima kasih padanya.

Jaejoong ingat kejadian lima tahun yang lalu, kejadian yang membuatnya menyadari betapa Heechul lebih penting bagi umma-nya dibandingkan dirinya.

=Flashback=

Sepulang sekolah, Jaejoong segera masuk ke kamarnya dan Heechul. Badannya sangat lelah. Setiba di kamar, dia langsung merebahkan badannya di kasur dan memakai selimut tebalnya. Heechul yang melihat hal itu sedikit heran. Di siang hari yang panas, Jaejoong malah tidur dengan selimut setebal itu, biasanya kalau malam saja dia tidak pernah memakainya.

“Joongie, siang-siang begini kok pakai selimut setebal itu? Gwaenchana yo?” tanya Heechul khawatir pada adiknya. Jaejoong yang mulai menggigil di balik selimut menjawab hampir seperti bisikan.

“Aku dingin Chullie.. Panggilkan umma..” kata Jaejoong. Mendengar hal itu, Heechul segera menuju ke kasur adiknya yang berada di seberang kasurnya itu. Dia meraba kening Jaejoong, dan terkejut saat menyadari betapa panasnya badan adiknya itu.

“Panas sekali.. Aku panggikan umma dulu..” namun sebelum Heechul bergerak untuk memanggil ummanya, Leeteuk sudah datang dengan membawa sebuah tray yang berisi makan siang dan obat-obatan untuk Heechul.

“Umma.. Joongie sakit..” kata Heechul. Umma-nya meletakkan tray itu lalu menuju ke kasur Jaejoong. Dia lalu mengecek suhu tubuhnya.

“Benar Chullie, dia demam.”kata Leeteuk. “Jung ahjumma… Ahjumma..” Leeteuk sedikit berteriak memanggil pembantu rumah tangganya itu. Tidak lama kemudian orang yang dipanggil ahjumma itu datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa nyonya?” tanyanya.

“Tolong rawat Jaejoong ya. Saya harus mengurus Heechul.” Kata Leeteuk. Jaejoong yang mendengar itu segera menolak.

“Andwae yo.. Aku ingin sama umma.. Aku mau umma..” kata Jaejoong hampir menangis. Dia segera duduk dan memeluk pinggang ummanya yang duduk di tepi tempat tidurnya. Leeteuk lalu melepaskan pelukan itu.

“Joongie, jangan suka membantah. Umma harus merawat Heechul.” Sekarang air mata Jaejoong benar-benar tumpah.

“Tapi umma.. Aku kan sedang sakit.. Aku juga mau umma peluk seperti Chullie.. Aku mau tidur di dekat umma seperti Chullie.. Jebal yo umma.. hiks..”

“Gwaenchana yo, umma. Aku bisa makan dan minum obat sendiri.” Kata Heechul yang menyaksikan adegan itu. Ummanya menggeleng.

“Tidak bisa. Umma harus memastikan kamu makan dan minum obat. Harus umma yang menyuapinya. Dan Joongie, sekarang sama Ahjumma ya. Jangan suka membantah.” Jejoong tidak punya pilihan lain selain patuh pada perintah ummanya. Dia lalu makan dengan disuapi ahjumma, sedangkan Heechul disuapi ummanya. Jaejoong hanya makan sambil menangis dalam diam. Dia iri melihat ummanya menyuapi Heechul. Dia juga ingin merasakan hal itu.

Heechul memandang adiknya dengan tatapan sedih. Sesekali Jaejoong menghapus airmatanya dengan sweater yang sedang dipakainya. Isakannya bisa terdengar dengan jelas. Heechul hanya bisa diam saat ummanya memaksa untuk menyuapinya dan meminumkan obat padanya. Sedangkan ahjumma melakukan hal yang sama pada Jaejoong.

Jaejoong sudah tertidur saat ummanya meninggalkan kamar mereka. Ummanya mengecup kening Heechul lalu mematikan lampu dan keluar dari kamar itu. Setelah ummanya keluar, Heechul memandang wajah adiknya yang cantik itu. Pipinya masih basah karena air mata. Dia merasa sangat kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia lalu mendengar adiknya menangis lagi. Ternyata Jaejoong belum tidur. Heechul segera turun dari tempat tidurnya dan naik ke tempat tidur Jaejoong.

“Joongie.. Mana yang sakit?” tanyanya sambil membelai kepala adiknya. Jaejoong lalu membuka matanya yang terpejam.

“Chullie.. Kepalaku sakit.. Aku ingin tidur bersama umma tapi umma pergi begitu saja.. Umma juga tidak mencium keningku.. hiks.. hiks..” Heechul baru sadar kalau umma memang tidak mencium Jaejoong, dan Jaejoong tau itu.

“Sudahlah, jangan menangis.. Umma hanya tidak mau mengganggu tidurmu..” jawab Heechul berusaha menenangkan Jaejoong.

“Bohong.. Chullie bohong kan? Umma tidak sayang padaku. Buktinya umma tidak mau merawatku saat sakit, tapi dia mau merawat Chullie.. Aku juga mau tidur sambiil dipeluk umma, seperti Chullie..” Heechul serasa mau menangis mendengar perkataan adiknya. Benar, yang dirasakan Jjaejoong juga dirasakan oleh Heechul.

“Umma sudah lelah hari ini.. Mungkin besok umma akan tidur dengan Joongie.. Sekarang tidur bersamaku saja ya.. Joongie boleh memelukku, tidak jauh berbeda kok dengan rasanya memeluk umma..” Jaejoong mengangguk. Heechul tersenum lalu masuk ke dalam selimut Jaejoong. Dia bisa merasakan panas dari tubuh adiknya itu. Dia lalu memeuk Jaejoong dan Jaejoong memeluknya balik.

“Chullie..” panggil Jaejoong.

“Hmm?” jawab Heechul dengan mata tertutup.

“Seperti ini ya rasanya dipeluk umma?” tanya Jaejoong. Heechul lau mengangguk.

“Memangnya Joongie merasa berbeda ya?” tanya heechul.

“Aniyo.. Aku tidak tau rasanya dipeluk umma.. Karena umma belum pernah memelukku seperti ini…” Heechul kaget. Belum pernah? Kenapa dia bisa tidak menyadari hal itu?

“Nah,, Mulai sekarang Joongie sudah tau kan rasanya? Rasanya sama kok seperti aku peluk.. Jadi anggap saja aku umma ya.. Joongie jangan menangis lagi..” Heechul menghapus airmata di pipi adiknya. Mereka berdua lalu tertidur sambil berpelukan.

Pagi harinya saat Leeteuk masuk ke kamar kakak beradik itu, dia terkejut bukan main mendapati Heechul tidur di kasur Jaejoong. Dia lalu membangunkan anaknya itu.

“Chullie.. Bangun..” Heechul menggeliat sedikit, dan Leetek terkejut melihat muka Heechul yang memerah. Dia memegang wajah anaknya, ternyata panas. Dia pasti tertuar demamnya Jaejoong. Dia sudah mendunga, karena daya tahan tubuh Heechul sangat lemah. Leeteuk lalu memarahi Jaejoong karena membiarkan Heechul tidur bersamanya, walaapun Heechul sudah mengatakan kalau itu kesalahannya. Jaejoog kembali menangis, lebih sedih daripada sebelumnya. Sejak itu kamar Heechul dan Jaejoong dipisahkan. Heechul menempati ruangan itu sendiri, sedangkan kamarnya dipindahkan ke lantai dua. Dan sejak saat itu pula Jaejoong sadar, bahwa Heechul adalaah segalanya bagi umma-nya. Heechul lah pemeran utama dalam kehidupannya, dan dia sendiri hanyalah tokoh pendukung. Dia tidak bisa mengalahkan Heechul, tidak bisa memenangkan ummanya.

Sejak saat itu pula Umma-nya semakin jauh darinya. Appanya yang lebih sering sibuk bekerja sepertinya tidak menyadari ha itu. Ditambah lagi dengan appanya yang jarang pulang. Jaejoongpun juga tidak berani melakukan usaha sekedar untuk menarik perhatian ummanya karena dia sadar betapapun dia berusaha, akan sia-sia. Sampai dia menemukan cara baru yang dia anggap akan berhasil; mengorbankan dirinya sendiri untuk Heechul.

Heechul yang sebagian organ tubuhnya tidak berfungsi dengan baik harus menerima transfusi darah secara berkala karena produksi sel darah merah oleh tubuhnya tidak mencukupi. Untuk itu Jaejoonglah yang mendonorkan darahnya, sambil berharap suatu saat ummanya juga akan menyayangi dirinya seperti dia menyayangi Heechul.

=End of Flashback=

Jaejoong menghapus airmatanya. Mengingat cerita-cerita itu membuatnya sedih bukan main.

“Umma.. Aku juga sedang sakit.. Badanku lemas umma.. Mataku berkunang-kunang.. Aku ingin bersama umma.. Aku~ah..” tubuh ramping Jaejoong terjatuh ke lantai seiring dengan hilangnya kesadarannya. Tapi sebelum tubuhnya terhempas keras ke lantai, sepasang tangan kekar menahannya.

TBC ah… hoho..

Gimana yorobun? Maap yah kalo karakter2 di sini lemah2 semua… Tinggalkan komentarnya ya.. Karena dengan komen kalianlah aku bisa tetep semangat bikin FF walaupun UAN di sepan mataku. Hahaha.. *anak kelas 3 SMA emang suka ababil gini Abaikan.*

4 responses »

  1. hiks hiks hiks….
    akhirnya bisa komen….
    bacanya udah lama saeng… :p

    masih inget banget movienya… sedih… =.=
    tapi agak beda dikit ya dsni… ntu jatoh jaejong nya, kasian… =.=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s