My Immortal (SongFic)

Standar

I’m so tired of being here

Suppressed by all my childish fear

And if you have to leave

I wish that you would just leave

Because your presence still lingers here

And it won’t leave me alone

Aku meringkuk didalam kamar. Entah mengapa aku merasa ketakutan. Ku rapatkan kaki ku seraya melirik jam dinding. Rambutku terurai berantakan namun aku tak peduli. Disini, ku menangis. Menangisi seorang namja yang telah meninggalkanku. Namja bodoh yang lebih mementingkan dirinya. Namja bodoh yang tak pernah peka dengan perasaanku.

Park Jungsoo, itu nama namja bodoh itu. Aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku bisa mencintainya? Bahkan setelah kami putus, perasaan itu tetap ada. Aku berusaha membencinya, tapi tak bisa. Justru perasaan benci itu dikalahkan oleh perasaan cintaku padanya.

Cinta buta? Ya, bisa dibilang seperti itulah cintaku saat ini. Aku tahu ini gila, tapi…aku tetap tak bisa melepaskannya. Air mataku mengalir lagi. Aku kembali menangis. Ku peluk guling kesayanganku. Seolah aku sedang memeluk Jungsoo.

Kenapa? Kenapa aku masih merasakan kehadirannya? Aku masih merindukannya. Aku masih menginginkannya. Hati ini telah terikat. Aku tak sanggup melupakannya. Perasaan ini membuatku tertekan. Aku menggigit bibirku, menahan diri untuk tidak berteriak.

Jungsoo…kenapa? Kenapa kau setega ini? Apakah kau tak tahu betapa sakitnya diri ini? Setiap air mata yang mengalir, sama dengan setiap kenangan yang kau goreskan dalam hatiku. Tak bisakah kau bersabar?

Aku menangis….memanggil namanya… Jungsoo…kenapa? Kenapa? Aku…mencintaimu. Aku selalu menerima keadaanmu. Tapi tak begini caranya, Jungsoo.

*********************************

These wounds won’t be seems to heal

This pain is just too real

There’s just too much that time cannot erase

Aku merebahkan diri diatas kasur. Aku berusaha memejamkan mata, melupakan setiap kenangan yang telah kita ukir. Tapi tak bisa. Rasa sakit ini terlalu nyata  bagiku. Dadaku sesak. Rasanya dada ini seperti akan meledak. Jungsoo….apa ini balasanmu atas kenangan kebersamaan kita selama setahun ini?

Ku buka inbox ponselku. Masih banyak pesan darimu yang ku simpan didalamnya. Dan aku tak kuasa menghapusnya. Karena disana, ada kenangan indah di setiap kata yang kau ketik. Jungsoo…Jungsoo…Apa kau tahu? Betapa menyakitkannya kata-katamu saat kau memutuskanku. Aku merasa kosong…..

*********************************

“ Maaf. Tapi aku sudah tak memiliki rasa padamu,”

Aku terdiam.

“ Kenapa?”

“ Sudah ada wanita lain dalam hatiku,”

Deg!

“ Tapi kenapa?”

“ Tak ada pilihan lain,”

“ Apa karena…Kangin yang menyuruhmu?”

“ Tidak. Ini keputusanku sendiri. Aku harap kau mengerti,”

*********************************

Kau tahu, Jungsoo? Sedetik pun aku tak melupakanmu. Meski aku berkali-kali takluk pada pesona lelaki lain, namun pada akhirnya aku kembali teringat padamu. Meski kau berkali-kali menyakitiku, aku tetap bersabar. Tapi kenapa, Jungsoo? Semudah itukah kau ingin melepasku?

Kamar ini terasa gelap. Dingin. Rasanya ada yang hilang. Ada bagian diriku yang hilang dan tak akan kembali. Jariku bergerak, menggoreskan namamu di dinding. Bibirku bergerak, mengucap namamu. Otakku tak lagi berfungsi dengan baik. Aku tahu, aku mulai gila. Gila karenamu, Jungsoo.

Darahku seolah telah habis, jantungku berdetak kencang dan tubuhku lemas seketika. Kehilanganmu seperti kehilangan sebagian nyawa.

*********************************

When you cried I’d wipe away all of your tears

When you’d scream I’d fight away all of your fears

And I’ve held your hand through all of these year

But you still have all of me

Masih membekas dalam ingatanku. Saat kau terpuruk karena ditampar seorang gadis. Kau bilang, harga dirimu runtuh. Apa kau tahu? Saat aku melihatmu termenung, aku merasa jatuh. Ya, seolah sebagian diriku telah hancur. Tapi, aku berusaha menahannya. Aku tak ingin terlihat lemah. Kau membutuhkanku. Karena itu, aku tak boleh terpuruk. Aku harus menjagamu. Menenangkanmu. Melindungimu. Dan membelamu saat kau dipersalahkan. Saat itu, aku hanya berpikir, jika semua orang didunia ini membencimu maka aku akan menjadi pelindungmu satu-satunya.

*********************************

You used to captivate me

By your resonating light

But now I’m bound by the life you left behind

Your face it haunts my once pleasant dreams

Your voice it chased away all the sanity in me

Ku buka folder picture di ponselku. Masih ada foto dirimu. Semua foto yang kau berikan padaku, masih ku simpan.

Ku pejamkan mataku. Tubuhku menegang. Seolah ada yang mendekat. Aku merasa itu adalah dirimu, Jungsoo. Terbayang wajahmu yang tersenyum, membuatku ingin meneteskan air mata lagi. Terngiang jelas suaramu di telingaku. Suara manismu yang tengah memanggilku. Aku tak tahan. Ku tutup wajahku dengan bantal, agar suaramu tak bisa ku dengar. Percuma. Suara itu semakin keras. Tidak…kenapa aku tak bisa mengabaikannya? Kenapa?

**********************************

I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone

But though you’re still with me

I’ve been alone all along

Cukup! Dia sudah tak ada disisimu lagi sekarang! Jangan pikirkan namja bodoh itu! Aku merutuki diriku sendiri. Aku memarahi diriku yang tak bisa melupakannya. Menyesal mengapa aku terlalu mencintainya.

Sekeras apapun aku berusaha, sekuat apapun aku mencoba, tetap saja tak bisa. Aku tak bisa melupakan Jungsoo. Jauh di lubuk hatiku, aku merasakan cinta yang amat dalam. Aku menjambak diriku sendiri. Ku pukul bantal sekeras-kerasnya meski percuma. Kenapa? Kenapa aku tak bisa melupakannya? Kenapa???

Entah sampai kapan aku begini. Aku merasa sendirian. Tubuhku terasa dingin. Sangat dingin. Kehangatan itu telah sirna. Pergi begitu saja. Aku merasa, meski kau masih berpijak di bumi ini, tapi jiwamu telah hilang selamanya. Bibirku kembali bergerak, membisikkan sebuah kalimat permohonan. “ Jangan pergi, Jungsoo…..”

**********************************

Cahaya mentari memasuki kamarku melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Ku buka mataku. Seraya mengerjapkan mata, ku lihat sekelilingku. Berantakan. Mataku terasa basah dan pakaianku acak-acakan. Aku tak peduli. Ku lirik jam di ponselku. Pukul 05.15. Aku harus segera berbenah. Orangtauku tak boleh tahu apa yang terjadi semalam. Kuusap air mata yang tersisa, ku rapikan kaosku dan juga rambutku.

Selama perjalanan menuju sekolah, aku hanya diam dan memandang keluar jendela mobil. Aku masih menata perasaanku. Aku tak tahu harus bersikap apa jika bertemu dengan Jungsoo.

Sesampainya di sekolah, aku turun dari mobil. Sepi. Belum ada yang datang. Seraya menarik nafas, aku menatap ke langit. Hari ini, aku tak boleh terlihat lemah. Cukup aku saja yang tahu betapa perihnya hati ini. Aku berjalan memasuki gedung. Ada guru sedang memeriksa bel sekolah. Ku pasang senyum terbaikku. Aku akan bersikap seolah tak ada apa-apa. “ Selamat pagi, seongsaenim,”

~END~

Created by: Ryuu

PS: FF ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang dialami author sendiri. 100% isi cerita ini diambil dari apa yang dirasakan author sendiri.

4 responses »

  1. Wah.. Aku suka bener lagu ini Thor.. Hehe.. Btw, Kangin itu sapanya Teuki ya? *plak! Digampar cos ga nyambung*
    Kasian bgt kamu Thor.. Pasti rasanya sakit bener.. *mengerti perasaan kamu. Hehe*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s