Cake Of Love part 14

Standar

Author  : Hye Ri

~~~~~~~~~~~~~

 

—- Kyuhyun POV —-

 

Aku duduk terpekur ditepi ranjang Hye Ri sambil menatap keping CD ditanganku yang terus kubolak-balik dari tadi. Hye Ri juga ikut duduk dan diam disampingku. Hanya suara napasnya yang kudengar.

Aku masih tidak percaya Yoo Yi melakukan itu semua. Yang aku lihat di video itu tidak benar kan ? Kulirik adikku yang tertunduk dengan wajah ditekuk dan muram. Dia pasti sangat kesal melihat video tadi.

 

Flashback

“Ya ampun Oppa !” Pekik Hye Ri begitu melihat adegan Yoo Yi menampar Seohyun untuk kedua kalinya. Dia jelas terlihat shok sekali. Akupun sama. Aku juga sangat shok melihatnya. Tidak mungkin !

Hye Ri mendengus kesal dan menggerutu sendiri. Dia memutuskan untuk tidak melihat video itu lagi. Aku masih melanjutkan menontonnya dan sekarang aku tahu akar permasalahan mereka. Dan masalah mereka sebenarnya ternyata adalah…, aku ?!

Aku menghela napas begitu video itu berakhir. Perasaanku bercampur. Antara heran, shok, kaget, bingung, percaya-tidak percaya, dan marah ?! Iya. Entah kenapa aku marah melihat perlakuan Yoo Yi tadi pada Seohyun. Kenapa aku marah ? Ini bisa saja kan rekayasa ?

Teringat dengan jelas di otakku apa yang mereka bicarakan di video itu tentang masalah mereka. Seohyun jelas-jelas menyuruh Yoo Yi menjauhiku dan bilang kalau dia punya niat jahat padaku. Yoo Yi membantah dan justru malah mulai mendorong dan menampar Seohyun. Dan di video itu jugalah aku tahu kenapa Yoo Yi begitu perhatian dan memberiku begitu banyak harapan. Ada alasan lain yang jelas-jelas tidak bisa kuterima.

Tapi, masa iya sih ? Aissh, aku masih bingung. Michigetda !!! Kala uterus-terusan seperti ini aku bisa gila. Sebenarnya siapa yang benar sih ? Aku masih tidak percaya sepenuhnya Yoo Yi melakukan tadi semua. Tapi mengingat begitu ngototnya Seohyun disitu, aku jadi menyadari sesuatu. Kemungkinan besar dia juga benar.

 

DEG !

 

Kenapa jadi kepikiran Seohyun ? Aissh !

End Flashback

“Oppa sudahh lihat kan ? Yoo Yi Unnie itu tidak baik. Oppa masih mau menyukainya ?” Tanya Hye Ri telak. Aku menatap tajam padanya. Tiba-tiba, ada perasaan ingin membela yang tersisa di diriku yang membuatku malah membela Yoo Yi.

“Itu tadi pasti bukan dia, Hye ah ~! Ini semua pasti rekayasa !” Aku membanting keping CD itu ke kasur lalu menatapnya. Dia berdecak.

“Cih, Oppa ! Sadarlah ! Itu tidak mungkin rekayasa. Mana bisa video direkayasa ? Jelas-jelas disitu Yoo Yi Unnie menampar Seohyun Unnie. Oppa lihat kan ? Yoo Yi Unnie itu memang punya niat nggak baik sama Oppa. Maksudku, ada lasan lain kenapa dia ingin begitu dekat dengan Oppa. Oppa, sadar ! Oppa udah dimainin sama Yoo Yi Unnie. Aku nggak mau lebih jauh lagi, Opp. Sudah cukup.” Suara Hye Ri meninggi dan diakhiri dengan dengusan napas kesal. Aku terdiam lagi mendengar penjelasannya. Sia-sia juga aku menyangkal dan membela Yoo Yi.

Sebenarnya, setelah menonton video tadi, hampir seluruh perasaan simpati pada Yoo Yi hilang. Aku mendadak tidak bisa percaya lagi dengannya. Benar kata Hye Ri. Mungkin aku memang dipermainkan.

“Lupakan saja, Oppa…” Lanjut Hye Ri lagi dengan suara lebih pelan. Aku menoleh dan menatap bingung.

“Ne ? Mworago ?”

Dia menatap balik padaku.

“Lupakan saja Oppa. Lupakan saja Unnie itu. Aku…, nggak suka sama dia. Dia udah jahat sama Seohyun Unnie. Dan itu berarti dia sudah jahat jug apadaku karena berani mempermainkanmu dan Seohyun Unnie. Mian, Oppa.” Hye Ri beranjak dari sampingku dan pergi menuju pintu. Aku memandangi dirinya dengan tatapan bingung dan agak shok. Apa mungkin ini artinya…?

Dia berhenti sebentar di dekat pintu dan berkata lagi tanpa berbalik melihatku.

“Oppa, kau tidak lupa janjimu padaku, pada Taeyon Unnie dan juga pada Joo Yeon Unnie kan ? Janji lama kita berempat ? Aku harap kau masih ingat.” Tanyanya lalu kembali berjalan keluar dan turun ke bawah.

Aku membelalakan mataku shok mendengar pertanyaannya. Janji itu. Tentu saja aku masih ingat. Mana mungkin aku lupa. Hye Ri yang saat itu berumur 6 tahun saja masih ingat. Aku tidak mungkin lupa. Janjiku pada mereka 8 tahun lalu.

 

Aku teringat kembali memori 8 tahun lalu bersama kedua noonaku dan Hye Ri. Saat itu aku masih 10 tahun dan Hye Ri baru saja berumur 6 tahun. Ada Taeyon noona juga yang saat itu berumur 15 tahun dan Joo Yeon Unnie yang berumur 17 tahun.

Kami membuat janji itu di bawah sebuah pohon maple di halaman depan rumah kami. Janji tentang masalah seperti ini. Tentang cinta, pasangan hidup, dan persaudaraan kami.

 

Flashback

“Kyu, berjanjilah pada kami. Jika nanti kau menyukai seorang gadis, dan kau ingin jadi pacarnya, kau harus membawa gadis itu pada kami dan kau baru boleh bersamanya atas ijin kami. Arachi ?” Joo Yeon noona memegang kedua bahuku dan menatapku lekat. Aku membalas tatapannya dengan tatapan bingung.

“Geundae, wae ? Kenapa harus atas ijin noona-noona dulu ? Apa urusannya sama noona ?”

Taeyon noona tersenyum, “Wanita itu makhluk yang sensitive. Kau tahu kan, kau satu-satunya adeul [anak laki-laki] di keluarga ini. Kau punya kami dan Hye Ri sebagai saudaramu. Dan kami semua perempuan. Kami mau nanti gadis yang kau sukai sesuai dengan kami, kau boleh suka sama banyak gadis, tapi, setiap gadis yang mau kau jadikan pacar, harus atas persetujuan kami bertiga.”

“Lalu eomma ?”

“Eomma menyerahkan pada kami. Tapi, kami mau menyerahkan persetujuan kami pada uri yeodongsaeng. Kalau dia bilang tidak, kami juga tidak. Kalau dia bilang iya, kami juga akan bilang iya. Semua kami berikan pada Hye Ri.” Jelas Joo Yeon noona lagi. Pandanganku beralih ke Hye Ri yang saat ini sedang bermain dengan boneka kokinya. Aku tidak yakin dia mendengarkan.

“Wae noona ? Kenapa keputusan ada padanya ? Dia kan masih sangat kecil.” Aku mencari alasan. Joo Yeon noona cuma tersenyum dan merangkulku.

“Dia pasti sudah cukup besar dan cukup bisa membedakan mana yang baik dan tidak untuknya ketika kau mengalaminya nanti. Alasan kami begini adalah kami ingin ada yang menjaganya ketika kami sudah tidak bisa menjaganya seperti sekarang. Saat kau mengalaminya nanti pun kami juga sudah tambah besar dan kami akan punya kehidupan sendiri dan tidak bisa seperti menjadi unnie yang sepenuhnya menjaganya seperti sekarang lagi. Ketika nanti dia butuh unnie, pacarmulah yang akan menggantikan kami. Jadi, carilah gadis yang bisa dan sesuai dengannya. Yang bisa menjadi unnie baginya, dan menggantikan kami.”

“Kami menganggapmu sudah besar, Kyu. Kau sudah dewasa dimata kami. Selain karena perilakumu selama ini, kami selalu merasa kau memang sudah bisa diajak berpikir seperti ini. Kau sanggup kan ? Syaratnya hanya jika gadis itu bisa seperti kami dan menjadi unnie baginya. Itu saja.”

Taeyon noona dan Joo Yeon noona bergiliran berkata padaku. Aku tidak tahu bagaimana tapi tiba-tiba saja aku sudah mengangguk dan menyanggupi.

“Kalau begitu, unnienya oppa harus baik sama aku.” Hye Ri tiba-tiba buka mulut dan membuatku tersenyum. Ini janji kan ?

End Flashback

 

Sudah tidak ada harapan, Kyu. Aku berkata dalam hati. Memang. Hye Ri sudah bilang dia tidak suka dan itu terlihat sekali dari ekspresinya kalau dia benar-benar tidak suka Yoo Yi. Aku menunduk dan mencengkram kepalaku. Pusing.

Saat ini aku dihadapkan oleh berbagai macam sisi. Sisi yang membela Yoo Yi, sisi yang mulai tidak percaya pada Yoo Yi, sisi aku mulai kehilangan rasa sukaku pada Yoo Yi, tapi ada juga sisi aku mulai percaya pada gadis itu, Seohyun. Bahkan entah kenapa aku merasa ada sisi yang disitu aku mulai mengakui kalau aku menyukainya. Ya Tuhan, aku bingung.

Sejak terjebak bersamanya di sekolah waktu itu, entah kenapa aku seperti memiliki perasaan lain jika bersamanya. Sebenarnya sejak mengantarnya pulang ke rumah saat itu. Jujur, aku belum pernah satu mobil dengan seorang yeoja sendirian dan sampai mengantarnya pulang. Awalnya aku hanya merasa dia seperti teman, tapi lama-lama, kenapa berbeda ??

Aissh !

 

Tiba-tiba aku teringat seseorang yang diceritakan Hye Ri tadi yang punya permasalahan hati yang sama denganku. Entah darimana rasa penasaranku tiba-tiba muncul lagi dan kali ini lebih kuat. Aku harus tahu dari Hye Ri siapa orang itu.

Segera ku bergegas menemuinya di bawah. Kutinggalkan CD itu diranjangnya. Aku harus menemuinya sekarang.

 

Awalnya kukira dia sedang ikut nonton TV di ruang TV dengan hyung-hyung yang lain. Ternyata dia tidak ada disana. Akupun ke dapur karena kuyakin dia pasti disana. Melakukan ritual sebelum tidurnya.

Tuh kan, dia memang ada di dapur. Aku melihatnya berdiri membelakangiku sambil seperti mengaduk sesuatu. Dia pasti sedang bikin susu sebelum tidur seperti biasanya. Dia berbalik sambil membawa sebuah gelas besar dan penuh berisi susu coklat. Aku menghampirinya dan langsung menarik lengannya. Aku menyuruhnya duduk di kursi meja makan.

“Aiish, Oppa ! Apa yang kau lakukan ?! Susuku tumpah nih !” Protesnya. Aku tidak peduli.

“Bukan urusanku. Cepat duduk !” Suruhku. Dia menurut walau sedikit terpaksa dan sambil memasang wajah cemberut.

“Apa ?!” Dia melotot padaku galak ketika sudah duduk. Aku menatap tajam padanya.

“Aku mau bertanya padamu dan kau harus jawab !” Pintaku. Sebenarnya lebih ke memaksa sih. Alisnya bertaut.

“Mwo ?” Tanyanya sambil meneguk sedikit susunya. Aku menghirup napas panjang.

“Aku…, ingin tau siapa yang bertanya padamu tentang masalah seperti ini dan pertanyaanya sama denganku.”

Dia tersedak dan batuk-batuk.

“Ehoookg ! Mwo ?! Oppa, aku kan sudah bilang kalau itu rahasia. Nggak usah ditanya-tanyain lagi kenapa ? Ya, Opp, aku udah janji sama unnie itu nggak akan bilang siapa-siapa.”

“Unnie ?” Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. Ternyata yang bertanya padanya seorang yeoja. “Nugu ?”

Dia kelihatan kaget dan bingung. Pasti dia tadi keceplosan.

“Bu…, bukan siapa-siapa kok. Ah, nggak penting juga lagian. Emang kenapa Oppa pingin tau ?” Tanyanya telak. Aduh, aku kan cuma penasaran saja tadi. Aku mencoba mencari jawaban yang pas.

“Aku…,” Aku agak tergagap. Hye Ri tersenyum simpul.

“Penasaran ya, Opp ? Aku akan kasih tau Oppa kalau Oppa jujur padaku tentang satu hal.”

Aku membulatkan mataku ingin tahu. “Apa ?”

“Oppa harus jujur padaku tentang perasaan Oppa sekarang. Oppa sedang jatuh cinta kan ?”

Mataku membelalak. Aissh ! Kenapa dia bertanya ini lagi ?!

“Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa. Aku juga nggak akan kasih tau siapa yang bertanya padaku itu ke Oppa.” Dia beranjak sambil membawa gelasnya. Aku langsung menarik tangannya.

“Hajima. Aissh ! Baiklah, aku akan menceritakan padamu sedikit tentang…”

“Iya, iya, Oppa, cerita saja.” Potongnya setelah kembali duduk.

“Jangan ketawa !” Larangku. Dia mengangguk setuju. “Baiklah…” Aku menarik napas panjang.

“Jujur, Hye ah ~, mollaseo…” Kalimatku menggantung.

“Hm ?” Dia menaikan alisnya. Ake melanjutkan

“Aku sendiri sebenarnya tidak yakin apakah saat ini aku sedang jatuh cinta atau tidak. Aku sendiri bingung. Aku seperti diberi pilihan yang sulit yang aku tidak bisa memilihnya langsung sekarang. Aku kaget, Hye ah~. Aku sempat membencinya karena kami punya masalah dulu. Lalu entah kenapa, rasa benciku padanya hilang dan begitu tau dia tidak seburuk yang kupikirkan. Awalnya perasaanku padanya biasa saja, hanya kuanggap teman. Tapi entah sejak kapan dan bagaimana, perasaanku jadi berbeda jika bertemu lagi dengannya. Ya, seperti yang kau bilang soal cirri-ciri orang jatuh cinta. Aku…, serasa berdebar dan…, ah, aku tidak bisa cerita lagi. Aku…, masih belum yakin, saeng.” Aku menunduk menahan malu yang tiba-tiba masuk dalam diriku setelah aku cerita. Menurutku itu tadi memalukan dan cengeng. Aissh ! Aku kan namja.

Aku tidak mendengar respon apapun darinya. Hanya helaan napas yang terdengar.

“Kenapa Oppa nggak yakin sama perasaan Oppa sendiri ?” Akhirnya dia buka mulut. Aku mendongak menatapnya. Dia balas menatapku. Aku menghela napas panjang.

“Mollass…..”

“Yakin dong Oppa.” Potongnya. “Perasaan itu tidak bisa kita buat sendiri. Pasti ada pemicunya. Kalau Oppa jatuh cinta, Oppa juga harus yakin kalau Oppa emang jatuh cinta. Jangan galau gitu, dong, Oppa. Kalau Oppa galau gitu, justru Oppa yang bakal dipermainkan sama perasaan Oppa sendiri dan itu bikin Oppa jadi parno. Aissh ! Bahasaku lebay ya ?” Lanjutnya.

Aku membenarkan penjelasannya barusan.

“Geundae, ada satu hal yang bikin aku tetep ragu…”

“Apa ? Yoo Yi Unnie ? Rasa suka Oppa sama dia ? Oppa kan udah aku kasih tau soal suka dan cinta. Kalau yang Oppa rasakan ke Yoo Yi Unnie itu cuma sekedar simpati dan kagum, Oppa nggak bener-bener jatuh cinta. Lagian lupain aja Unnie itu, Oppa. Mungkin aku agak makasa perasaan Oppa tapi melihat perilakunya tadi aku jadi nggak suka, padahal aku belum bertemu dengannya.”

“Terus aku harus gimana ? Ya ! Eotteokhaji ?” Tanyaku bingung.

“Ya yakinin diri Oppa kalau Oppa lagi jatuh cinta sama Unnie itu. Bukan Yoo Yi Unnie maksudku. Oppa, kubilangin ya…” Dia menarik napas sejenak lalu melanjutkan,

“Cinta itu anugerah. Bisa datang ke siapa aja, kapan aja, di mana aja, gimanapun caranya. Cinta itu bebas memilih siapa yang akan dia hinggapi, kepada siapa saja yang ingin dia datangi. Mau awalannya saling benci, saling suka, biasa aja, cinta itu tetep bisa dateng, Oppa. Jangan ditolak ! Apa masalah Oppa itu karena gengsi ngakuin kalau Oppa cinta karena dulu pernah saling benci ? Oppa, benci itu bisa jadi awal dari cinta, karena benci itu…, Oppa taulah lanjutannya. Dan kekuatan cinta itu lebih besar daripada benci. Jadi, terima Oppa ! Jangan ditolak ! Jangan malu, jangan gengsi, jangan takut ! Takut karena cinta itu cuma buat mereka yang nggak paham arti mencintai dan jatuh cinta yang sebenarnya.” Jelasnya lagi berapi-api.

Aku sedikit shok melihatnya begini. Jarang-jarang sekali aku melihatnya seperti ini *walau dia paling normal di dorm*. Aku menunduk lagi, mencerna kalimatnya. Entah kenapa saat itu hanya wajahnya yang tergambar di pikiranku. Wajah yeoja itu, Seo Joo Hyun. Wajahnya saat tersenyum, tertawa, saat menatapku dengan tatapan innocentnya. Ya Tuhan, apa aku harus benar-benar yakin perasaan ini adalah untuknya ?

“Pikirin lagi Oppa. Yakinin diri Oppa sendiri, arachi ? Mana Kyu Oppa yang aku kenal selalu bisa menyelesaikan masalah-masalahnya yang ribet-ribet ? Masa kalah cuma sama masalah seperti ini ?”

“Ini kan masalah hati, Hye.” Gumamku tapi mungkin cukup keras untuk sampai didengarnya. Kurasakan sentuhan tangan hangat di bahuku dan ternyata itu tangannya. Aku menatap tangannya lalu beralih padanya. Kulihat dia tersenyum meyakinkan.

“Oppa tau tidak ? Unnie yang punya masalah yang sama kaya’ Oppa awalnya juga susah. Tapi dia terima. Dia terima kalau dia memang suka dan jatuh cinta sama orang itu. Dan sekarang, hidupnya lebih bahagia karenannya. Aku saksinya sendiri.” Katanya lagi. Aku menautkan alisku. Aku jadi teringat kalau aku penasaran tadi  dengan gadis yang bertanya pada Hye Ri juga tentang ini.

Dia bisa terima. Apa aku juga bisa ? Entah kenapa tiba-tiba dadaku jadi sesak. Tidak sakit. Seperti sesak saking senangnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku seperti ini. Apa aku memang harus menerimanya ?

 

Terima, Kyu. Terima saja. Terima kalau kau memang menyukai Seohyun sekarang.

 

Entah suara darimana yang memenuhi pikiranku dan memintaku untuk menerimanya. Seperti sebuah dorongan untukku. Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk lebih tenang.

Tiba-tiba Hye Ri berdiri dan beranjak pergi.

“Kau mau kemana ?” Tanyaku. Dia berbalik.

“Ke kamar lah. Aku mau tidur, Oppa. Udah malem dan aku ngantuk.” Dia bersiap pergi lagi tapi kutahan.

“Chamkanman ! Err…, jangan tidur dulu ! Kau belum bilang siapa yeoja yang cerita padamu tadi.”

“Oppa tau kan syaratnya ?” Dia malah menampakan senyuman simpul di wajahnya. Iya, aku tahu. Tapi apa aku harus katakan sekarang ?

Lagi-lagi dia bersiap pergi lagi ke kamarnya. Ya ! eotte ?

“Ya ! Kalau…” Aku menggantungkan kalimatku. Dia berbalik menghadapku lagi.

“Ne ?”

Aku perang batin. Dan akhirnya kuputuskan,

“Kalau…, aku bilang aku memang jatuh cinta gimana ? Kau mau memberitahukanku sekarang ?”

Akhirnya kukatakan. Walau sebenarnya aku tak yakin.

Dia mendekat. Aku menunduk karena kurasakan wajahku memanas. Setelah menggeser kursinya mendekatiku, aku mencoba menatapnya lagi. Dia memegang tanganku yang berada di atas meja. Sentuhannya terasa hangat.

“Oppa…, chukkae…” Ia berbisik dengan nada riang. Sebuah senyum lebar terpampang diwajahnya. “Arasaeoyo, Oppa. Aku udah tau dari tadi-tadi kalau Oppa emang lagi jatuh cinta. Cuma, Oppa nggak mau ngakuin aja.” Lanjutnya.

Aku terpana. Memang segitu kelihatannya ya ?

“Kelihatan sekali ya ?” Tanyaku yang dijawab dengan anggukan mantap darinya. Aku berdecak menyesal.

“Sesuai janjiku, aku akan ngasih tau Oppa siapa Unnie yang pernah nanya sama aku soal seperti ini. Geundae…, aku jadi penasaran siapa Unnie yang beruntung bisa dapet cinta Oppa. Siapa, Opp ?”

Aku menggeleng. “Kau belum boleh tahu. Beritahu dulu padaku baru kuberitahu padamu.” Aku member syarat. Dia mengerucutkan mulutnya.

“Geurae, aku akan ngasih tau Oppa. Tapi sedikit cerita ya ? Jadi…” Dia berhenti. Mungkin mencari kata-kata yang pas. Aku menunggunya.

“… Unnie itu…, pernah punya masalah dengan seorang. Dan sejak saat itu, dia membencinya. Sampai suatu hari, tidak sengaja, Unnie itu memakan kue buatan namja itu…”

 

DEG ! Kue ?!

 

Aku merasa tidak asing. Ada apa ini ?

“Sejak saat itu, Unnie itu jadi kepikiran namja itu terus dan mulai punya perasaan padanya. Tapi, sama seperti Oppa, karena terlalu gengsi mengakuinya, dia jadi bingung sendiri. Galau. Seperti Oppa. Terus, Unnie itu bertanya hal yang sama seperti Oppa dan kujawab sama seperti jawaban yang kuberikan pada Oppa. Awalnya, sama seperti Oppa, dia belum bisa menerimannya. Tapi, akhirnya dia mau melepaskan kebimbangannya dan memilih untuk mengakui kalau Unnie itu memang jatuh cinta pada namja itu. Dan kau tahu, Oppa ? Unnie itu sangat beruntung.” Ceritanya berakhir.

Beruntung ?

“Beruntung bagaimana maksudmu ?” Aku mendekatkan badanku karena penasaran. Dia tersenyum misterius.

“Ne. Unnie itu sangat beruntung karena aku tahu kalau cintanya nggak bertepuk sebelah tangan. Oppa…, gomawo.”

“Hah ?” Aku makin bingung. “Gomawo untuk…”

“Untuk cinta Oppa yang Oppa berikan buat Unnie itu.” Hye Ri kembali tersenyum misterius. Apa maksudnya ?!

“Hah ?! Aku semakin tidak mengerti, Hye ah~ apa maksudmu ? Kita sedang membicarakan siapa sebenarnya ? Kenapa ada hubungannya denganku ?” Aku sedikit memaksanya menjawab.

“Ada lah, Oppa. Ada hubungannya karena Unnie itu yeoja yang Oppa sukai sekarang. Bukan Yoo Yi Unnie maksudku.” Dia terkekeh kemudian dengan sekejap dia sudah merubah ekspresinya menjadi ekspresi serius. “Ya kan ?”

“Nugu ?” Tanyaku semakin penasaran. Aiissh ! Anak ini hobi sekali main teka-teki seperti sekarang. Siapa maksudnya ? Apa jangan-jangan… ? Masa dia sudah tahu ?

Aku galau. Kulihat dia diam, tapi sebuah senyum misterius kembali muncul di wajahnya.

“Oppa…,” Dia mulai menjawab, “yeoja itu Seohyun Unnie kan ? Yang sedang Oppa risaukan itu, tentang Seo Unnie kan ? Jujur aja Oppa…, ya kan ?” Tanyanya dengan nada pelan misterius yang membuatku sempurna terkejut.

 

DEG !

 

Dia tahu ?! Bagaimana dia bisa tahu ?!

Jujur aku sangat terkejut mendengar pertanyaanya. Seketika itu juga aku merasa seperti sesuatu yang besar jatuh menimpaku dan itu sakit sekali. Pertanyaan telak.

Baiklah. Dia benar. Memang Seohyun yang saat ini terus mengisi pikiranku dan membuatku mengalihkan perasaanku dari Yoo Yi padanya. Tapi, bagaimana dia bisa tahu ?!

“Oppa…, iya kan ? Oppa pasti heran kenapa aku bisa menebaknya Seohyun Unnie ?” Dia bertanya lagi sebelum aku sempat menjawab sepetah katapun. Aku menatapnya dalam dan mengangguk namun agak terbata.

“Ba…, bagaimana kau…, bisa…, tau ?” Tanyaku tergagap saking shoknya. Dadaku mendadak sakit karena sebuah desakan dari dalam yang aku tidak tahu itu apa. Dia malah tertawa.

“Oppa, oppa…” Dia geleng-geleng heran, “Ya tentu saja aku tahu. Kan Seohyun Unnie yang punya masalah yang sama kaya’ Oppa. Dari pertama Oppa cerita dan “tiba-tiba” tanya soal tadi padaku, aku langsung ambil kesimpulan kalau Unnie yang Oppa maksud itu, Seohyun Unnie. Cerita Oppa, masalah Oppa, sampai pertanyaan Oppa itu sama persis sama yang Seohyun Unnie tanyakan dan ceritakan ke aku. Bahkan jawaban yang akau kasih ke Oppa juga sama. Dan Oppa nggak pernah “tiba-tiba” tanya soal begituan dan curhat masalah seperti itu padaku. Makanya aku langsung nebaknya Seo Unnie. Eh, tapi bener kan ?”

 

Aku tertunduk. Ternyata…, Seohyun ? Sejak kapan ?

“Hh, jadi Seohyun ya ? Sejak kapan dia cerita padamu ?” Akhirnya kuberanikan diri bertanya padanya.

“Beberapa hari yang lalu. Hari selasa kaya’nya ? Seingatku pokoknya hari waktu Oppa nyanyi Shining Star. Dan saat itu, Seo Unnie sampai nangis lho gara-gara denger Oppa nyanyi. Dia suka banget sama lagu itu katanya. Eh, Oppa…, iya kan Oppa suka sama Seohyun Unnie ?” Dia mendesakku.

Aku mendongak memandangnya. Ekspresinya benar-benar terlihat ingin tahu.

“Aku…, bingung, saeng. Aku masih belum bisa ya…”

“Yakin dong, Oppa ! Seohyun Unnie itu gadis yang baik. Manis dan ramah pula. Ah, pokoknya keren lah, Opp. Oppa tau ? Awalnya Seo Unnie juga ngerasa susah kaya’ gini, tapi dia bisa kok yakin dan terima. Dan akhirnya, Seo Unnie ngakuin kalau dia suka sama Oppa. Oppa, kau beruntung sudah tahu bagaimana perasaan Unnie yang kau sukai sekarang padamu dan ternyata kebalas. Oppa…, chukkae ya !” Dia menepuk-nepuk bahuku dan tersenyum.

Aku mengalihkan pandangku sejenak setelah kubalas senyumnya. Entah kenapa tiba-tiba semua ingatan tentangku bersamanya semua terlintas seperti sebuah film di kepalaku. Wajahnya terus mengisi pikiranku. Senyumnya, tawanya, cara bicaranya, bahkan ketika dia kesal dan marah padaku pun terlintas semua. Aku jadi memikirkannya.

Aku merasa tiba-tiba aku jadi lebih menyukainya saat ini. Perasaan itu seperti tumbuh dengan cepat sekarang setelah menumpahkan semuanya pada Hye Ri. Semakin besar, semakin besar, dan akhirnya kurasa hanya perasaan padanya itu yang memenuhi hatiku saat ini. Tidak ada lagi Yoo Yi.

 

Aku melepas semuanya. Aku terima. Aku terima aku memang mencintainya saat ini. Lega sekali. Seperti melepas ribuan ton beban di punggungku dan aku bisa benar-benar lega sekarang. Jadi begini rasanya ? Rasa leganya bisa menerima kalau aku memang suka padanya ? Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti ini ?

Aku bisa merasakan kalau aku tersenyum saat ini. Aku tidak tau senyum apa. Antara lega, bahagia, dan malu. Ya, aku malu. Aku malu karena aku merasa sebegitu cengengnya aku sampai harus Hye Ri tau dan membantuku menyelesaikan masalah seperti ini.

Kulihat dia. Dia tersenyum lebar melihat aku tersenyum. Kurasa dia tahu.

“Oppa…,”

“Ne, Hye ah~ jadi begini rasanya ?”

Dia tersenyum manis sambil mengankat bahunya sedikit. “Aku belum pernah ngerasain, Oppa. Tapi kurasa memang seperti itu rasanya. Chukkahada, Kyu Oppa. Aku ikut seneng lihat Oppa sekarang seperti ini.”

“Kau janji tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun kan ? Aku bisa malu banget kalau sampai ada yang tahu. Aku bisa dianggap cengeng nanti.”

“Ara, Oppa. Yaksogachi. Oppa tenang aja kalau sama aku semua rahasia aman. Kecuali yang barusan. Aigoo~ aku baru aja ngelanggar janjiku sama Seo Unnie dong. Aku kan ngasih tau Oppa.” Dia cemberut sedih. Aku tertawa.

“Gwaencahana, naui saengi. Kau membantuku, tau ?” Aku mengacak rambut sebahunya. Dia mengerang.

“Nggak usah ngacak rambutku juga dong.” Protesnya.

“Iya, mian.”

 

Aku belajar satu hal kali ini. Perasaan itu datang bukan karena kita sendiri, tapi ada pemicunya. Dan aku juga tau satu hal, kalau ternyata adikku memang berbakat jadi cupid. Dia bisa berubah sedewasa itu saat ini. Mungkin, hanya saat seperti ini.

“Eh, Oppa.” Panggilannya membuyarkan pikiranku.

“Ne ?”

Dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan membisikan sesuatu.

“Oppa…, aku saranin ke Oppa buat segera bilang ke Seo Unnie tentang perasaan Oppa padanya. Jangan dipendam-pendam lagi kaya’ yang sebelumnya. Oppa tau ? Berat rasanya menyimpan rasa itu sendiri. Apalagi Oppa juga sudah tahu bagaimana Seohyun Unnie ke Oppa, kan ? Cepet bilang ya, Oppa……… HWAITING !!!” Dia berteriak di telingaku dan membuat telingaku merasa nyeri. Tawa senangnya keluar begitu dia berhasil mengerjaiku.

“Aiissh ! Awas kau !” Aku mencoba menjitak kepalanya tapi dia berhasil pergi menjauhiku sambil membawa gelas susunya. Dia tertawa mengejek.

“Udah ah, Oppa. Aku mau tidur dari tadi jadi nggak jadi gara-gara Oppa. Annyeonghi jumuseyo, Opp.” Dia berbalik pergi.

“Ne, jaljayo. Ya ! Hye Ri !” Panggilku lagi. Aku lupa bertanya satu hal.

“Apa lagi, Oppa ?” Tanyanya sedikit protes.

“Aku cengeng ya ?” Tanyaku. Dia terkekeh.

“Nggaklah, Oppa. Manusiawi kok. Udah ya, Opp. Udah malem nih, aku udah ngantuk juga. Dadah~” Dia pergi lagi. Aku tersenyum melihatnya pergi dari hadapanku. Aku jadi tidak yakin kalau tadi itu adalah Hye Ri, yeodongsaengku. Apa mungkin saja dia benar-benar seorang cupid yang menyamar jadi Hye Ri ? Ya, Kyu ! Dia itu adikmu. Tidak mungkin jadi siapa-siapa.

Aku sedikit tertawa mengingat kejadian barusan dan semua percakapanku dengannya. Jadi serasa melankolis. Aku jadi penasaran bagaimana ekspresiku tadi. Haiish !!! Memalukan !

 

“Ya ! Cho Kyuhyun ! Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu ? Kau gila ya ?” Suara nyaring khas Heechul Hyung membuyarkan pikiranku. Oh ? Aku baru sadar kalau Heechul Hyung sudah ada di dapur.

“Aniyo, hyung.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Lha terus kenapa kau senyum-senyum sendiri ? Haaiiish ! kau menakutkanku, tau.” Katanya sambil menuangkan air putih ke gelasnya. Aku sedikit tertawa.

“Kurasa aku memang gila sekarang.”

“Kau bilang kau tidak gila tadi. Ya ! Kyu, kau kenapa sih ? Aneh banget hari ini ?” Komentarnya. Aku berjalan mendekatinya.

“Hyung…” Aku melingkarkan kedua lenganku ke lehernya. Dia bingung.

“Ya ! Kau mau apa ?!” Dia heboh. Aku tertawa.

“Saranghae, hyuuuuuuuung………… !!!!!!!” Aku berteriak di telinganya dan langsung berlari meninggalkannya yang mencak-mencak.

“Heh !! Dongsaeng gila ! Awas kau ya !! Aiissshh ! Kupingku sakit tau !!!!” Teriak Chullie Hyung. Aku hanya tertawa kesenangan karena berhasil mengerjainya.

 

Aku memang sedang bahagia. Dan rasanya lebih menyenangkan dari bahagia-bahagiaku yang lain. Naneun joahae…

 

—- End POV —-

 

—- Soo Young POV —-

 

“Haiissh ! Kenapa sih Seohyun harus nggak masuk hari ini ? Aku jadi males latihan kalau begini.” Keluhku pada Sunny yang asyik foto-foto dengan Hp barunya. Dasar anak ini. Kujitak kepalanya.

“Auuuw ! Soo Young, sakit tau !” Protesnya. Aku mendengus.

“Ya ! Kau ini mendengarkanku tidak sih ? Malah asyik kecentilan sama Hp barumu. Aku jadi males latihan nih nggak ada Seoro…” Kalimatku terhenti ketika tidak sengaja mataku menangkap sesosok namja yang berjalan mendekati kami.

“Omo ! Kyuhyun sunbae !” Aku menyenggol lengan Sunny.

“Mwo ?! Mau apa dia kesini ? Aiissh !” Wajah Sunny yang tadi ceria-ceria saja sekarang berubah 180 derajat begitu melihatnya datang. Aku tahu dia pasti sebal sekali dengannya. Untuk alasan yang tidak penting sebenarnya. Aku menghela napas.

“Sudahlah, Sun. Kita tanya saja dia kesini mau ngapain.” Aku menenangkan Sunny yang sudah ribut sendiri. Namja itu semakin dekat dan sekarang dia sudah berdiri disampingku. Dia jadi kelihatan tidak terlalu tinggi. Apa karena dia berdiri di dekatku yang hitungannya lumayan tinggi ya ? #hue, mbak soo young PD juga…

“Oh ? Sunbae, annyeong haseyo.” Aku memberinya salam sambil sedikit menganggukkan kepalaku. Ih, males banget kalau harus sampai membungkuk. Sunny malah tidak menyapa sama sekali. Ekspresinya terlihat sangat judes menanggapi kedatangannya. Ck, Sunny, sunny…

“Ne, annyeong haseyo. Eumm, kau temannya Seohyun kan ?” Tanyanya dengan bahasa yang sopan. Aku terpana.

Hah ? Kenapa dia mesti pakai bahasa sopan padaku ? Aku kan yonbaenya. Pikirku dalam hati. Aku mengangguk menjawab pertanyaanya.

“N-ne, sunbae. Ada apa ya ?” Tanyaku heran.

“Iya ! Ngapain kau kesini ? Tempatmu bukan di sini. Sana ! Ke ruang tata bogamu saja !” Sunny malah menimpali dengan nada sengit. Aku menyenggol lengannya.

“Sunny, apaan sih kau ini ? Hentikan !” Suruhku dengan sedikit berbisik. Aku beralih ke Kyuhyun sunbae lagi. Dia sedikit menunduk. Sepertinya dia tidak terlalu menggubris perlakuan Sunny barusan.

“Eumm, aku…, aku ingin bertemu dengan Seohyun. Bisa kau panggilkan dia ?”

Aku sedikit mendengung karena bingung. Seo kan nggak masuk. Aku baru mau menjawab ketika Sunny sudah menjawabnya dengan nada menyolot.

“Ngapain kau cari-cari Seohyunnie kami ? Dia nggak ikut latihan hari ini. Dia nggak masuk.” Jawab Sunny sewot. Aku geleng-geleng melihat tingkahnya.

“D-dia tidak ikut latihan ?” Kyuhyun sunbae menautkan alisnya. Aku mengangguk. Sunny kembali menyolot.

“Iya ! Dia nggak masuk karena sakit dan itu semua gara-gara kau ! Masih berani nyari-nyari Seo lagi. Udah, sana ! Nggak ada gunanya kau nyari Seo sekarang.”

Aku menabok bahu Sunny sekarang. Haissh ! Anak ini sudah keterlaluan. Aku tersenyum tidak enak pada Kyuhyun sunbae yang kelihatannya sedikit terkejut mendengar perkataan Sunny.

“Aniyo, sunbae. Dia memang sakit tapi bukan karena…” Kalimatku terpotong oleh Sunny. Dia tetap dengan nada kesalnya.

“Iya ! Itu semua karena kau ! Jangan dipungkiri lah, Soo Young. Itu semua kan karena dia. Ya ! Kyuhyun…, kau…”

Aku menyenggol lengannya. “ Sunbae, Sunny.” Aku mengingatkannya. Dia mendengus dan terpaksa mengikuti suruhanku. Dia melanjutkan lagi.

“Sun…, bae, kau sudah membuat Seohyun sakit karena perlakuanmu kemarin. Gara-gara kau Seohyun menangis kemarin dan jadi sakit hari ini. Kau ini tidak sadar apa gimana sih ? Masih berani nyari-nyari Seohyun. Kalau kau mau bertemu dengannya, hadapi dulu kami ! Kami nggak akan membiarkanmu menyakiti Seohyun lagi. Sudah cukup !!!” Dia agak menjerit. Sunny sangat kesal sepertinya.

Aku menjitak kepalanya untuk kedua kali. Dia mengaduh. Aku menyuruhnya pergi dengan sedikit membentak. Habis, dia sudah sangat keterlaluan sih sekarang.

“Ya ! Lee Soon Kyu ! Kau sudah sangat keterlaluan ! Sana ! Latihan saja ! Ja, ja !” Aku mendorongnya pergi. Dia sempat menggerutu tapi akhirnya dia memilih untuk pergi saja mengikuti perintahku.

Aku kembali melihat ke arah Kyuhyun sunbae yang tatapannya mulai meredup. Aku tidak tahu kenapa.

“Jangan didengarkan, sunbae. D-dia…, err, sedang bad mood hari ini.” Jelasku. Aku bisa mendengar helaan napas darinya.

“Dia bilang, Seohyun sakit karenaku. Apa maksudnya ? M-memangnya, Seohyun kenapa ?” Tanyanya. Aku merasa ada sedikit nada khawatir dari nada dia bicara. Masa sih tapi ? Mereka kan…

“Err, molla, sunbae. Kurasa, memang ada hubungannya denganmu. Eumm, kemarin, kau dan Seohyun bertengkar lagi ya ? Hh, aku melihatnya menangis kemarin setelah menemuimu.” Tanyaku. Kulihat dia mengangkat alisnya.

“eot…tokhe a..a ra [bagaimana kau tahu] ?” Dia balik bertanya. Suaranya bergetar. Heh ? Kenapa ?

“Tau lah. Aku tau semua, sunbae. Iya kan, sunbae ? Apa masalahnya karena…, video itu ?” Aku menebak. Kyuhyun sunbae terlihat lebih kaget lagi.

“Kau tau darimana soal video itu ? Apa kau…”

“Ne, sunbae. Aku ikut dalam pembuatan video itu. Aigoo~ Seohyunnie, mian, aku harus melanggar janji…” Aku berbisik ragu. Kyuhyun sunbae menatapku dengan tatapan ingin tahu yang sangat. Aku melanjutkan. “Aku, Seohyun, Sunny, dan Yoona lah yang sengaja membuat video itu. Ini semua ide Seo. Dia…, err, dia…, dia ingin kau tahu bagaimana sikap Yoo Yi sunbae di belakangmu. Seo…, hanya, err, ingin kau tau. Itu saja.” Jelasku dengan sedikit rasa ragu. Aku menunduk, tidak berani melihatnya lagi.

“Dia keterlaluan.” Ucapnya tiba-tiba. Aku kaget. Hah ? Maksudnya ? Seo keteraluan gimana ?

“Hah ? Aigoo~ sunbae, jebal. Maafkan kami. Kami sudah lancang tapi maksud kami baik kok. Maafkan Seo, sunbae. Aku tahu dia tidak ingin hubungannya buruk lagi denganmu. Lagian kan kalian juga sudah jadi teman. Seo sudah cerita semua padaku…” Aku mencoba menjelaskan lagi, tapi Kyuhyun sunbae sudah diam dan berbalik pergi.

“Sunbae, jebal~” Aku memohon lagi. Aduh~ Soo Young ! Kenapa malah kau yang memohon-mohon begini ? Ini kan masalah mereka. Ck, tapi aku kan ikut andil juga. Haassh ! Rumit banget sih ngurusin masalah salah paham seperti ini ?

 

Aku menghela napas panjang. “Seo, lihat nih ! Aku begitu berjuang memperbaiki hubungan kalian.” Aku bicara sendiri sambil menatap langit. Kulirik arah perginya dan menggumam.

“Coba kau tahu perasaan Seohyun padamu.” Kataku sambil terus melihatnya pergi menjauh. “Coba Seohyun ada di sini. Haaah~” Aku mengerang. “Kau memang seharusnya di sini, Seo !”

—- End POV —-

TBC

 

 

Huuuuuuaaaaaa………😄

Akhirnya bisa publish juga ini part…

Mian banget kalau kelamaan, soalnya author lagi sibuk banget sekolah..

3 responses »

  1. Huaaaaaaaaa makin penasaraaaaaaaaaaaaannn…..

    Eh ngomong” udah sampe 14 part, blum kenalan ama authornya… *apa aye yang lupa ya?* PLAKK!!!

    intro dun tor…
    choneun Cece imnida… 23yo (soo old =.=)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s