The Leader Part 2

Standar

PerpustakaanRosemaryAcademy…

Salah satu tempat dimana buku-buku berjejer rapi dan disusun berdasarkan abjad. Dan juga tempat favorit Alex. Ia terbiasa duduk disalah satu meja yang menempel di dinding. Setiap hari, ia selalu membaca buku kesukaannya sambil mengerjakan tugas sekolah. Terkadang ia bisa lupa waktu jika sudah asyik membaca.

“ Enjoy the books, eh? I wonder why you never feel boring in this place,”  Alex menutup bukunya. Ia melirik kesamping, tersenyum saat mengetahui pemilik suara itu. “ Memang kenapa? Aku suka berada disini. Sangat menyenangkan bisa membaca buku yang ada disini,” ujar Alex. Pemuda itu hanya menghela nafas, menarik kursi disamping Alex. “ Kenapa kau tidak bermain dengan mereka?” tanya pemuda itu. Alex terdiam, lalu menggeleng. “ Jordan dimarahi Claudia, Marcus diganggu Taylor lagi, lalu Bryan…”, “ Sibuk latihan drama?” Alex mengangguk. “ Andrew?” Nama terakhir membuat Alex sedikit tersentak. Joshua buru-buru meralat ucapannya. “ Maaf. Aku tak bermaksud…” Alex menggeleng, tersenyum pada kakak tirinya itu. “ Tak apa-apa. Lagipula, Andrew memang sedang disibukkan dengan urusan keluarganya,” ucap Alex. Joshua melirik sesuatu berkilauan yang melingkar di jari adiknya. Digenggamnya tangan adik kesayangannya itu. “ Jo…please. It’s okay. You know his Daddy’s habbit. Always made him busy,” Ucapan Alex malah membuat Joshua semakin sedih. “ Apa tidak bisa Tuan Choi berhenti menganggunya?” tanya Joshua. Alex mengedikkan bahu. “ Jika bisa, mungkin Andrew tak akan terus menerus berkutat dikamarnya,”

*********************************

19.30,RuangMakanRosemaryAcademy….

Disinilah para siswa dan siswiRosemaryAcademymakan malam dan sarapan bersama. Meja-meja tersusun rapi seperti di restoran kelas atas. Setiap murid boleh memesan lebih dari satu menu, mulai dari appetizer, main course sampai dessert.

Di meja panjang khusus guru, ada tiga kursi istimewa yang disediakan untuk Ketua Murid, Wakil Ketua Murid dan Sekretaris. “ Itu dia. Our Student Leader,” bisik Nathan pada Aiden, Spencer dan Jeremy. Seorang pemuda berambut pirang dan berkacamata berjalan menuju kursi khusus Ketua Murid. “ Dennis Park dari Jurusan Medis,” sambung Jeremy. Dibelakangnya, seorang gadis berambut pirang sebahu yang mirip dengan Dennis. “ Itu…Angela Parkkan? Kembarannya Dennis?” tanya Spencer. Nathan mengangguk. “ Iya. Sekaligus sekretaris Dennis,” Tepat setelah Nathan berkata demikian, muncul seorang pemuda berambut hitam dan memakai aviator. Ia terlihat fashionable dari siswa Rosemary lainnya. “ Casey Kim, Wakil Ketua Murid. Fashionholic, itulah julukannya,”. Ketiga murid itu duduk di kursi masing-masing. Beberapa menit kemudian, The Leader datang. Mula-mula Andrew danBryan yang memasuki ruangan, kemudian diikuti Marcus danJordan, lalu yang paling terakhir datang adalah Alex. “ Kalau mereka yang datang, auranya berbeda sekali,” komentar Spencer. “ Tentu saja. Mereka sangat berwibawa di Academy ini, terutama Andrew,” sahut Nathan.

Setelah semuanya lengkap, para pelayan bergerak mendekati meja-meja, membawa nampan besar. Spencer dan Jeremy terlihat tak sabar menanti hidangan datang. Apalagi makanan pembuka kali ini cukup menggiurkan. Cream soup buatan Chef nomor satu di Rosemary. “ Hmmm…sepertinya lezat,” ucap Spencer. Semangkuk cream soup diletakkan dihadapannya. Tak perlu menunggu lama, mereka berempat segera menyantap makanan pembuka mereka.

Sementara itu, Alex mengaduk soupnya tanpa minat. Matanya terpaku pada buku yang sedang dibacanya. Andrew merasa kesal, mengambil buku itu dari tangan tunangannya. “ Hey, wait!” protes Alex. Andrew menggeleng. “ Don’t ever read or hold book when dinner time,” larang Andrew. Alex cemberut. Ia tak suka jika ia dilarang membaca buku kesukaannya. “ Kau bisa membacanya nanti. Makanlah dulu, baru kau boleh membaca,” ujar Andrew. Alex tersenyum tipis, menyendok soupnya dan memakannya. “ Aw, it’s still hot,” gumam Alex. “ Hati-hati. Makan perlahan-lahan, jangan tergesa-gesa,” kataBryan.

Selesai menyantap appetizer, para pelayan membereskan mangkuk-mangkuk dan dibawa ke dapur. Inilah saatnya para siswa boleh memesan menu kesukaan mereka.Jordanmenelusuri daftar menu dengan jarinya. Ia melirik Claudia yang duduk didekat meja panjang. Sebenarnya, posisi Claudia danJordanberbeda tiga meja, tapi terkadang gadis itu terlalu memperhatikanJordanterutama jika ia sudah berkumpul dengan teman-temannya. “ Aku pesan sirloin steak dan segelas soda,”Bryanterkejut mendengar pesananJordan. “ Memang kau tidak dilarang Claudia?” tanyaBryan.Jordanmemberi isyarat padaBryanagar dia diam.Bryanpaham. Sudah lamaJordaningin bebas dari jadwal diet hariannya yang diatur Claudia. Maklum, Claudia adalah managerJordanyang ditunjuk langsung oleh AyahJordan. “ Kalian pesan apa?” tanyaJordan. Marcus mengangkat tangan, memanggil pelayan. “ Aku mau beef burger dan strawberry juice,”Bryanmenoleh kearah pelayan, meminta pesanan yang sama tetapi minumannya berbeda, yakni es kopi. “ Aku dan Alex pesan medium sandwich dan segelas lemon tea,” ujar Andrew. Alex mengangguk, mengiyakan perkataan Andrew. Setelah memesan, mereka kembali sibuk pada kegiatan masing-masing. Marcus memainkan PSP, Alex membaca buku sastra klasik,Bryanmenghafal dialog drama, Andrew mengalungkan tangannya pada Alex agar gadis itu bersandar kearahnya, danJordansibuk mencorat-coret notes jadwal yang ia curi dari Claudia.

Dennis melihat pemandangan ganjil itu. Ia seperti pasrah saat tahu apa yang dilakukan kelima kandidat itu. Angela menuang wine ke gelas Dennis, menyodorkannya pada saudara kembarnya itu. “ Kau pasti kecewa ya?” tebak Angela. Dennis menggeleng. “ Aku hanya tak menyangka jika keputusan Kepala Sekolah membuat mereka seperti itu,” ujar Dennis mengambil gelasnya. Casey menggoyangkan gelas champagne nya, sama pasrahnya dengan Dennis. “ Pada dasarnya, mereka bukan rival. Tapi, entah apa maksud Kepala Sekolah membuat kelima orang itu bersaing,” komentar Casey. Angela mengedikkan bahu, menyuapkan spaghetti kearah mulutnya. Dennis meneguk wine nya, melirik kearah kelima murid elit itu. Apa mungkin mereka bisa bersaing selayaknya rival? batin Dennis.

*********************************

Pukul 21.00, Auditorium Rosemary….

Auditorium yang terletak 5 km dari gedung utama, biasa digunakan untuk pertunjukan musikal atau pelajaran drama. Namun, jarang ada yang menggunakan auditorium diatas jam 8 malam. Vincent sengaja memilih jam 9 untuk berlatih karena ia tak ingin ada yang melihatnya. Perlahan ia menarik nafas, menengadahkan kepalanya dan memejamkan mata. Tiga detik kemudian, ia membuka matanya dan mulai mengucapkan berbagai dialog. Tangannya menggenggam tongkat kayu dan mengacungkannya kedepan. Seolah saat itu ia sedang melawan seseorang. Tak lama kemudian, Vincent terjatuh dan meringis kesakitan. “ Oh, aku kalah. Berbaikhatilah, tolong…bukakan makam…dan baringkan aku bersama Juliet…” Tangan Vincent yang semula mengacung keatas, kini jatuh seolah tubuhnya tak lagi bernyawa. Tepat saat itu pula, suara tepuk tangan membahana dalam auditorium itu. Vincent bangun, memicingkan mata, melihat siapa yang sedang bertepuk tangan. “ Grace,” gumamnya. Grace menyalakan lampu auditorium, tersenyum melihat Vincent. “ Kenapa lampunya kau matikan?” tanya Grace. “ Supaya aku bisa konsentrasi,” jawab Vincent singkat. Grace memungut naskah yang tergeletak di lantai, membaca judulnya. “ Romeo&Juliet, Babak IV. Kau sedang berlatih adegan akhir ya?” tebak Grace. Vincent mengangguk, mengambil handuk yang ia letakkan didekatnya. “ Pertunjukan akan diadakan sebulan lagi. Pelatih menunjukku menjadiParis,” ujar Vincent. Grace tertegun mendengarnya. “ Kira-kira siapa yang menjadi Juliet ya? Aku penasaran,” Ucapan Vincent membuat Grace berkeringat dingin. “ A..aku tak tahu,” bisik Grace. Vincent menyadari perubahan ekspresi wajah Grace. Mendadak Grace pucat pasi. “ Kau kenapa? Sakit?” tanya Vincent khawatir. Grace menggeleng, menghindari kontak mata dengan Vincent.

“ Grace!” Suara teriakan itu mengagetkan mereka berdua. Vincent melambaikan tangan pada orang itu. “ Hi, Bryan,”  sapa Vincent. “ Wah, ternyata ada Vincent disini,” celetukBryan heran. Melihat kedatangan Bryan, Grace memalingkan muka. “ Grace, aku mencarimu kemana-mana. Ku kira kau tadi di asrama,” ujar Bryan. Grace melirik Bryan, mencoba menyembunyikan perasaan gelisahnya. “ Kenapa mencariku?” tanya Grace. “ Itu, lho. Untuk pertunjukan bulan depan,” jawab Bryan. Vincent mendadak senang mendengar ucapan Bryan. “ Wah, kenapa kau tidak bilang kalau kau ikut pertunjukan? Kau akan bermain apa?” tanya Vincent pada Grace. “ Juliet,” jawab Bryan. Senyum di wajah Vincent menghilang. “ Ju-Juliet?” ulang Vincent. Bryan mengangguk. Grace tak bergeming meski ia sempat melirik Vincent untuk melihat reaksinya. “ Lalu siapa yang menjadi Romeo?” tanya Vincent. Bryan menunjuk dirinya sendiri. “ Aku juga kaget saat tahu pelatih menunjukku. Setahuku, Vincent dan Grace adalah partner sejati. Ya kan?” Vincent mengangguk, namun hatinya seperti terbakar. Belum pernah sekali pun ia berpisah dengan Grace. Sejak mereka bergabung Klub Drama, mereka selalu berakting bersama. Tapi sekarang, posisi itu harus digantikan oleh Bryan.

“ Ayo, Grace. Kita latihan lagi adegan balkon. Aku selalu lupa dialog di bagian itu,” ajak Bryan. “ Ah, i-iya. Baiklah,” Grace melirik Vincent yang sedari tadi diam. Tanpa berkata apapun, Grace pergi mengikuti Bryan, meninggalkan Vincent sendirian. Vincent yang mulai marah, memukul dinding auditorium. “ Kurang ajar kau, Bryan!”

*********************************

Keesokan harinya…..

Jam dinding di asrama pria berdentang keras. Pertanda waktunya untuk early morning tea. Aiden mengambil pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia sudah berpenampilan rapi. Jas dikancing rapat, dasi diikat rapi dan rambut juga disisir rapi. Tak lupa Aiden menyemprotkan parfum agar wangi sepanjang hari. “ Wanginya seperti cewek,” Aiden terlonjak mendengar suara itu. Ia menoleh kebelakang, mendapati Spencer sedang asyik membaca majalah diatas ranjang Aiden. “ Apa yang kau lakukan disini?” tanya Aiden kesal. Spencer menutup majalahnya, mengambil botol parfum milik Aiden. “ Hanya ingin main saja. Ngomong-ngomong, kenapa kau memakai parfum cewek?” Spencer mengamati botol parfum itu dengan seksama. “ Bukan urusanmu. Ayo, nanti bagian kita dihabiskan Jeremy,”

Aiden dan Spencer berjalan menuju ruang makan. Ditengah jalan mereka berpapasan dengan Aprodhite. Aprodhite terlihat kesal dan cemberut bahkan saat mereka sudah sampai di ruang makan. “ Pasti gara-gara Nathan,” bisik Spencer. “ Ehem,” Suara deheman itu menyadarkan Spencer. Spencer nyengir, mengacungkan jari tanda damai pada Nathan. “ Itu karena kesalahan dia sendiri, bukan aku,” tandas Nathan. “ Memang dia kenapa?” tanya Aiden. Nathan menunduk, berbisik pada Aiden dan Spencer, “ Aprodhite memaksaku memakai jas hitam beludru yang baru ia beli, tapi aku menolaknya,”. Spencer menahan tawa, Aiden menyikutnya dengan keras.

Early morning tea pun dimulai. Spencer mengambil kue sebanyak yang ia bisa makan, sementara Aiden mengaduk tehnya sambil memperhatikan sekeliling. Tatapannya terhenti pada spanduk yang terpasang di langit-langit ruangan. ” Spencer,” panggil Aiden. ” Ya?” balas Spencer. Aiden menunjuk spanduk itu, wajahnya terlihat kaget. ” Apa aku tak salah baca?” tanya Aiden. Spencer memiringkan kepalanya, membaca tulisan di spanduk. ” PEMILIHAN KETUA MURID KE-22…TANGGAL 16 Desember….VOTE YOUR CANDIDATE!!” Spencer tertegun, menyadari sesuatu yang janggal. ” Tanggal 16 Desember?” bisiknya tak percaya. ” Itu artinya…satu bulan dari sekarang…”

To be Continued~

PS: Huwaaa….mianhae atas keterlambatan posting >.< author baru bebas dari neraka yang bernama UN TT___TT karena sekarang author libur, jadi bisa nulis tanpa gangguan (Yeah!). Anyway, happy reading fellas! ^3^

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s