[T.A.L.E.S.] ♥ I Just Want To Married With You ♥

Standar

“Ingat, kamu itu sudah hampir kepala tiga. Eomma malu melihat teman-teman sebayamu sudah pada menikah, apalagi ada yang sudah punya dua anak..” celoteh eommaku saat aku sedang pulang kerumah untuk liburan Chuseok.

“Apa perlu eomma carikan pasangan dari anak teman-teman eomma?” tanya eomma kemudian.

“Andwae… aku sudah memiliki kekasih eomma..” tolakku.
“Mana? Bawa calon menantu eomma kerumah.. eomma ingin bertemu dengannya Jeongsu-ya..” pinta eomma
“Dia seorang mahasiswi yang sangat sibuk di kampus.. Kami saja jarang bisa bertemu karena sulit untuk menemukan waktu senggang bersama…” keluh ku sambil menengadahkan kepala.

“Lalu bagaimana kamu bisa lebih dekat dengan kekasihmu kalau kalian jarang bertemu seperti itu?” tanya eomma khawatir.
“Saat ada waktu senggang, aku selalu datang kerumahnya..” jawabku sambil tersenyum sendiri.
“Berdua saja?” tanya eomma selidik.
“Ani… para member yang lain juga selalu datang kerumahnya untuk beristirahat..” jawabku.
“Bagaimana bisa kalian lebih dekat kalau kau selalu dikelilingi oleh yang lainnya saat bersama kekasihmu itu?!” bentak eomma kesal sambil memukul kepalaku.

Aish.. benar-benar sakit rasanya. Aku hanya menggerutu kesal dan langsung masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan eomma yang masih saja mengomentari kisah cintaku.

Di dalam kamar, aku langsung menghempaskan diri ke atas ranjang dan membuka folder pesan di handphone. Sebenarnya aku sudah mengajak Yuki untuk datang kerumahku. Namun Yuki malah membalas pesanku dengan sedikit membentak.

Mwo? ke rumahmu? Apa kau lupa kalau hari ini aku ada ujian untuk skripsi?! Sireo!

Seharusnya dia tidak perlu semarah itu saat membalas pesanku. Aku jadi sedikit kesal padanya. Tetapi jika boleh jujur, aku ingin sekali berdua saja dengannya untuk menghabiskan waktu dirumahku, tempatku dibesarkan.

***

Fiuuh… akhirnya ujian skripsi selesai juga. Aku melangkah keluar kampus menuju mobilku yang terletak diparkiran. Sebelum menyalakan mobil, aku menghidupkan kembali handphoneku dan melihat ada satu pesan yang masuk dan pesan itu dari Eeteuk.

Bagaimana ujiannya? sukses? ^^ Aku merindukanmu jagi-ya.. :*

Aku hanya tersenyum ketika membaca pesan itu. Ah.. aku jadi merasa bersalah karena sudah membalas pesan dia tadi pagi dengan marah-marah. Aku segera menyalakan mesin mobil dan meluncur menuju pinggiran kota Seoul, tempat rumah Eeteuk berada.

***

“Jeongsu-ya.. ada yeoja yang mencarimu!” seru eommaku sambil mengetuk pintu kamarku. Aku terbangun mendengarnya. Dengan malas aku keluar kamar dan aku melihat Yuki sedang duduk diruang tengah.

“Annyeong oppa…” sapa Yuki sambil melambaikan tangan padaku. Entah kenapa aku sangat senang sekali melihat Yuki datang.

“Oh… ini toh yeojachingu dongsaeng kesayanganku..” ucap Inyoung nuna tiba-tiba. Ia langsung menghampiri Yuki dan duduk disampingnya. Yuki terlihat malu karena nuna duduk disampingnya.

“Aigoo.. nuna, kau membuat Yuki malu….” seruku sambil menarik tangan Yuki keluar rumah.
“Oh.. namanya Yuki…” seru eomma tiba-tiba sambil membawakan minuman dari dapur.
“Eomma….” rengekku agar eomma berhenti menggodaku.

Eomma dan Inyoung nuna tertawa melihat tingkah laku ku yang seperti anak kecil. Yuki yang berada disampingku hanya tertawa kecil. Aku mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas dan Yuki langsung merengut kesal sambil merapikan rambutnya.

***

Aku mengajak Yuki ke taman kecil disamping rumahku. Udara di lingkungan rumahku masih bersih karena jauh dari kota. Yuki sepertinya menikmati pemandangan sekitar rumahku.

“Jagiya….” panggilku sambil mengusap lembut kepalanya.
“Mianhae oppa tadi pagi aku marah-marah saat membalas pesanku..” ucap Yuki dengan nada menyesal.
“Gwaenchana.. kau telah menebus kesalahanmu dengan datang kemari..” ucapku sambil merangkul pundaknya.

***

Setelah cukup lama berkeliling, kami kembali ke rumah untuk makan malam. Kami duduk bersama di meja makan. Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Kulihat Yuki sudah bisa menyesuaikan diri dengan keluargaku. Sekarang ia sedang asyik mengobrol dengan Inyoung nuna.

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya appa tiba-tiba.

“Uhuk-uhuk!” Yuki tiba-tiba tersedak. Aku langsung sigap menawarkan segelas air putih kepadanya lalu aku mengelus lembut pundaknya. Aigoo.. appa langsung to the point seperti ini.

“Appa.. Yuki masih terlalu muda untuk menikah…” jawabku.
“Ah.. appa saja menikah saat eomma mu berumur 19 tahun.. ingat umurmu Jeongsu..” kata appaku.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan appa. Kulirik Yuki yang juga langsung terdiam. Suasana rumah menjadi hening. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk mencairkan suasana yang kaku ini.

“Secepatnya pasti kami akan menikah aboji… bukan begitu oppa?” tanya Yuki tiba-tiba yang meminta persetujuanku atas ucapannya.
“Apakah itu benar Jeongsu?” tanya appa memastikan.
“Ah, keurae… sekarang Yuki sedang menyelesaikan skripsinya.. setelah Yuki lulus, kami akan menikah..” jawabku spontan.

“Kalau begitu, kalian harus menikah seminggu setelah hari kelulusan Yuki.. kalian tidak punya pilihan untuk membantahku..” ucap appa yang bagaikan palu yang dipukul oleh hakim.

Aku terdiam mendengar keputusan appa. Yuki hanya diam saja dan tidak menanggapi apa-apa. Kutarik tangan Yuki dan membawanya ke kamarku yang terletak jauh dari ruang makan.

“Kenapa kau mengatakan sesuatu yang tidak pernah kita bicarakan sebelumnya?!” bentakku padanya saat kami didalam kamar.
“Karena memang hanya itulah jawaban yang diharapkan oleh appamu..” jelas Yuki sambil duduk diatas kasurku.

“Tapi seharusnya tidak perlu mengatakan hal seperti tadi.. kau membuat appaku memutuskan pernikahan kita seenaknya.. kau ini benar-benar..” ucapku geram mendengar penjelasan Yuki.
“Appamu memutuskan itu untuk kebaikanmu.. kau harus sadar bahwa kau sudah tidak muda lagi.. bahagiakanlah orang tuamu..” ucap Yuki sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Yuki menangis. Aku langsung menghampirinya dan mendekapnya dalam pelukanku.

“Uljima.. aku hanya mengkhawatirkan masa depanmu..” ucapku untuk menghiburnya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku karena bukan aku yang akan kau nikahi..” ucap Yuki yang langsung membuatku terkejut.

***

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku karena bukan aku yang akan kau nikahi..” ucapku yang langsung membuat Eeteuk terkejut.

“Mu.. museun marya?” tanya Eeteuk tidak percaya.
“Aku tidak bisa menikah denganmu saat ini karena masih banyak impian yang harus kugapai sebelum menikah..” ucapku sambil mengusap air mata.

“Hah! Kalau bukan dengan kau, aku harus menikah dengan siapa?!” bentak Eeteuk putus asa.
“Kau tampan, malaikat bodoh.. banyak yeoja yang mengantri dibelakang sana hanya untuk menjadi istrimu..” ucap Yuki dengan nada sedikit membujuk.

“Tapi aku hanya mencintai setan kecilku ini…. aku hanya ingin menikah denganmu..” ucap Eeteuk sambil memelukku, membuat hatiku menjadi lebih sakit.

***

“Tapi aku hanya mencintai setan kecilku ini…. aku hanya ingin menikah denganmu..” ucapku sambil memeluk Yuki.

Yuki terdiam di pelukanku. Aku tahu semua ini terlalu cepat baginya. Walau sudah dua tahun lebih berpacaran, kami belum pernah sekalipun membicarakan pernikahan. Dan hari ini appa langsung memutuskan hari pernikahan kami begitu saja.

“Berjanjilah kau akan menjadi wanita yang akan aku nikahi, Yuki..” ucapku sambil tetap memeluknya.
“Andwae oppa, aku takut.. aku belum sanggup untuk memasuki dunia baru itu..” ucap Yuki pelan.

Aku melepas pelukanku dan menatap mata Yuki dengan sungguh-sungguh.

“Bukan hanya kau yang akan menikah.. tapi aku.. kita yang akan menikah, Yuki.. Kau tidak akan sendiri dalam dunia baru itu.. Aku akan selalu ada disampingmu..” ucapku sungguh-sungguh.

“Tapi…” ucap Yuki ragu.

“Sst.. aku tidak ingin mendengar apapun darimu selain jawaban bahwa kau bersedia menikah denganku.. arra?” ucapku sambil menutup bibirnya dengan telunjukku.

Yuki tersenyum dan memelukku erat.

“Tidak bisa kupercaya sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dari malaikat bodoh ini..” ejek Yuki.
“Dan aku akan menjadi suami dari setan kecil ini..” balasku sambil mengacak-acak gemas rambutnya.

“Keureom oppa.. bagaimana dengan management dan ELF?” tanya Yuki khawatir.
“Geokjeongma.. management pasti akan menyetujuinya.. dan saat ini ELF sudah dewasa untuk membiarkanku memiliki pendamping hidup..” ucapku menghilangkan kekhawatirannya.

***

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Seoul malam ini juga. Setelah berpamitan dengan appa, eomma, dan Inyoung eonni, kami berdua masuk ke mobil Yuki. Aku yang menyetir sementara Yuki duduk disampingku sambil mendengarkan lagu dari Ipodku.

“Oppa.. kau akan menginap di rumahku kan?” tanya Yuki saat kami hampir sampai di rumahnya.
“Jika itu maumu, aku akan menginap malam ini…” ucapku yang membuat Yuki tersenyum senang.

Akhirnya kami pun sampai dirumah Yuki dan segera masuk ke dalam untuk beristirahat karena esok dan beberapa hari kedepan masih banyak yang harus diselesaikan sebelum kami menikah.

Lets we get married jagiya..😀

~FIN~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s