Cake Of Love part 15

Standar

Author  : Hye Ri

~~~~~~~~~~~~~

—- Kyuhyun POV —-

Dia nggak masuk. Aissh, padahal aku ingin minta maaf padanya hari ini. Ya ! Ijen eojjeo… [bagaimana sekarang]

Aku mengerucutkan bibirku kecewa. Padahal sudah semalaman aku menyiapkan kata-kata untuk minta maaf padanya. Untuk menyatakan perasaanku ? Mungkin bukan sekarang. Aku masih belum siap. Mencari cara minta maaf saja susah, apalagi menyatakan cinta. Haassh~

Aku menghela napas. Kumasukkan kedua tanganku ke saku celanaku. Sebuah ingatan terlintas di kepalaku.

“Tadi, Soo Young bilang kalau Seohyun sakit. Dan temannya bilang kalau itu gara-gara aku. Memang kemarin aku sekejam apa sih, sampai membuat Seohyun sakit ? Haasssh ! Kyu ! Kau ini pabo banget sih !” Aku mengetuk kepalaku sedikit.

Apa aku menjenguknya saja ? Tapi nanti dia mau menemuiku tidak ya ? Haash ! Bingung sekali. Apa tanya Hye Ri saja ya ? Aah~ cengeng banget sih aku dikit-dikit konsultasi sama anak satu itu ? Bisa ke-PD-an dia nanti.

Setelah berkutat lama dengan perdebatan batin dan pikiran, akhirnya kuputuskan untuk ke rumahnya besok dan meminta maaf padanya.

“Mungkin sebaiknya aku bawa cake untuknya. Geurae, aku akan ke rumahnya besok.” Tekadku.

Seohyun, gidareseo…

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

Di rumah Seohyun…

Gelisah. Galau. Dilema. Bingung.

Semuanya bercampur jadi satu. Aku mondar-mandir sendiri di kamarku yang tidak seberapa besar ini. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku merasa tidak nyaman sendiri kalau begini terus. Aku harus minta maaf.

Aku sudah berpikir ulang. Mungkin memang aku yang salah. Aku juga terlalu lancang dan nekat memberikannya video itu. Aissh ! Pabogachi !!

Bukan akhir seperti ini yang aku inginkan atau yang aku rencanakan. Bukannya malah aku dan Kyuhyun jadi berantem seperti kemarin yang kumau. Haaah~ padahal baru sehari kami jadi teman, sekarang sudah musuhan lagi. Lama-lama, aku jadi sakit sendiri.

Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasurku dan mencoba menenangkan diri. Kupejamkan mata dan mulai memikirkannya lagi.

Setelah berdebat cukup lama di dalam hati, akhirnya kuputuskan untuk meminta maaf duluan. Ah, peduli amat, mau gengsi, jaim, aku tidak peduli. Kalau aku bisa memperbaiki hubunganku dengannya dengan seperti ini, kenapa mesti gengsi ?

Tapi, sepertinya kurang berkesan banget kalau akau minta maaf begitu saja padanya. Apa aku kasih dia kue ya ? Aku minta diajarin bikin kue lagi sama Hye Ri, terus kue itu nanti kuberikan padanya sebagai permintaan maaf. Wah ! Ide bagus. Hye Ri pasti mau membantuku.

Kusambar Hpku yang tergeletak di meja belajar. Aku langsung menelponnya. Tak lama, suaranya terdengar menjawab telponku.

“Yeoboseo ? Unnie ah~”

“Annyeong, saeng.” Sapaku.

“Ne, annyeong, unnie. Ada apa menelponku ?”

“Eumm, besok minggu kau sibuk nggak ? Ada kerjaan nggak ?” Tanyaku tanpa bas-basi. Terdengar suara dengungan dari seberang sana.

     “Euungg…, kaya’nya nggak ada deh, Unn. Kenapa memangnya ?”

“Aah~ eopseo. Aku hanya ingin main ke rumahmu saja.” Jawabku ngasal. Hassh ! Kenapa tidak bilang saja langsung, Seo ? Aissh, paboya !

Aku memukul kepalaku sendiri pelan.

“Yang bener ???” Tanyanya menggoda.  Eh ? Apa maksudnya anak ini ?

“B-beneran, kok. Jinjja !” Aku mengelak. Dia malah tertawa.

“Ya udah, Unnie main aja. Nanti kuajarin bikin kue lagi deh. Oh iya, Unn. Aku punya kabar bagus.”

Aku menautkan alisku. “Oh ya ? Mwo ?”

“Aku udah berhasil dapet resep first snownya Oppa. Kemarin, aku mbuka-mbuka agendanya Oppa dan nemuin resep itu. Udah kusalin kok. Aku malah udah beli bahan-bahannya. Besok Unnie mau kesini jam berapa ?”

Aku nyaris melonjak kegirangan. Yeeee, aku akan bikin first snow.

“Jam berapa ya kira-kira ? Yang nggak ketemu Oppamu kira-kira jam berapa ?”

“Kenapa Unnie nggak mau ketemu Oppa ? Takut ketauan ya ? Cieeeee~” Godanya. Dia tertawa sendiri. Aku mendengung.

“Euuung…, aniyo. A-aku…, sedang ada masalah dengan Oppamu. Ah~ besok kuceritakan saja padamu.”

     “Sip, Unn. Besok jam 10an aja gimana, Unn ? Oppa mau pergi deh kaya’nya besok.” Dia menawari. Aku langsung mengangguk dan menjawab setuju.

“Baiklah. Eh, sudah ya. Nanti kuhubungi lagi. Annyeong.”

“Annyeong, Unnie.”

KLIK

Kumatikan Hpku dan kuletakkan lagi di meja. Kulirik jam dinding keroroku yang kini sudah jam 8 malam. Masih terlalu awal untuk tidur sekarang. Aku merebahkan tubuhku di kasurku yang empuk. Kupasang headset yang terhubung dari ipod biruku ke telinga.

First Snow. Lagunya Super Junior waktu SMTown Winter tahun 2007 kemarin lah yang pertama terdengar. Aku memang memasang mode shuffle ke ipodku ini. Ya ampun ! Pas sekali !

Aku memejamkan mataku dan mencoba meresapi isi lagu itu. Indahnya…

Tidak sabar menunggu besok. Nanti kalau aku sudah bisa membuat first snow sendiri, akan kuberikan padanya sebagai tanda ucapan minta maaf. Bagaimana ya responnya ?

Aiiih~ aku benar-benar tidak sabar menunggu besok. Seohyun, Hwaiting !!! \^o^/

Aku sudah rapi sekarang. Kupandangi pantulan diriku dari cermin. Lumayan lah penampilanku hari ini. Aku menyambar tas slempang kesayanganku dan keluar kamar.

Aku menemui eomma di toko. Sepertinya sedang tidak terlalu sibuk. Kurasa eomma sedang menulis catatan keuangan keluarga deh. Aku mendekatinya.

“Eomma, Seo mau pergi main ke rumah temen dulu ya ? Boleh kan ?” Pamitku. Eomma mendongak melihatku. Dia tersenyum.

“Boleh. Tapi jangan pulang malam-malam, araseo ?!” Eomma member syarat. Aku menunjukan cengiran khasku.

“Ne, saranghaneun eomma. Seo janji sebelum makan malam Seo sudah pulang. Jinjja ! Sudah ya, eomma. Seo berangkat dulu.” Aku mencium pipi eommaku dan langsung berlari keluar toko sambil melambai pada eomma. Eomma hanya geleng-geleng melihatku.

Kajja !!!

Sebuah bis menuju rumah Hye Ri tiba. Aku segera naik dan memilih tempat duduk di bangku paling belakang. Tempat yang sama seperti saat aku pulang bersama Kyuhyun waktu itu. Aah~ jadi teringat lagi.

Kuhempaskan tubuhku dan kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi. Aku membuka jendelanya cukup lebar dan membiarkan hembusan angin yang masuk menerpa wajahku. Tidur ah. Daripada bosan. Lagian masih jauh juga rumahnya.

Kupenjamkan mataku dan mencoba tidur.

Aku sudah sampai di depan rumahnya yang besar. Kupencet bel yang berada didekat pintu gerbangnya. Tak lama, sebuah intercome terdengar.

“Ne ? Nuguseoyo ?” Suara anak perempuan yang sangat familiar di telingaku. Aku tersenyum.

“Ya ! Hye Ri ah~ aku sudah didepan rumahmu.”

“Oo ? Unnie ah ?! Chamkanman ! Aku buka dulu gerbangnya. Tunggu ya !” Nada suaranya terdengar girang.

Tak lama, pintu kecil di gerbang itu terbuka dan seorang gadis keluar dari dalamnya. Dia memanggilku.

“Seo Unnie ! Ayo masuk !” Ajaknya. Dia menarik tanganku. Aku menurut.

“Rumahmu sepi banget, Hye Ri ?” Tanyaku ketika kami sudah masuk ke dalam rumahnya. Dia cuma mengedikkan bahunya.

“Ah, biasa aja, Unn. Udah sering kok kaya’ gini. Langsung ke dapur aja yuk, Unn. Bikinnya agak lama soalnya. Yoayoayo… Kajja !!!” Hye Ri menarik tanganku lagi. Kali ini lebih kencang.

“Ya ! Hye Ri~”

Dia membuka pintu dapur.

“Tasnya Unnie taruh di sini aja.” Suruhnya sambil menunjuk sebuah meja kecil di dekat pintu. Aku menurut. Dia berlari duluan menuju meja masak yang kulihat sudah ada banyak bahan untuk membuat kue di atasnya.

“Unn ! Palli yeogi !” Dia melambaikan tangan padaku dan menyuruhku cepat ke sana. Aku berjalan menuju meja masak di tengah ruangan super luas itu #bagian terluas rumah keluarga Cho, selain ruang keluarga ya dapur.

“Jangan jalan, Unn ! Lari aja biar cepet !” Protesnya. Ya ampun, anak ini. Mentang-mentang dapurnya seluas lapangan sepak bola, maunya lari-lari. # mbak Seo lebay, hehe ^^

“Iya, iya, Hye Ri. Ini aku juga lagi mau ke sana. Dapurmu luas banget sih, jadinya aku nggak sampai-sampai.” Keluhku sedikit bercanda. Dia tertawa mendengar kalimatku.

“Hahaha ! Unnie lebay banget.” Komentarnya.

Aku sampai di sampingnya. Dia menggulung lengan kaosnya lalu menggeser bahan-bahan  kue itu mendekat padanya.

“Unnie, ayo cuci tangan dulu !” Ajaknya lagi. Dia berbalik menuju wastafel. Aku mengikutinya. “Aku ambil celemeknya dulu ya, Unn.” Katanya sambil mengeringkan kedua tangannya di handdryer di dekat wastafel. Aku mengangguk. Ah, menurut saja lah padanya. Dia kan yang lebih tau.

“Unnie, yeogi.” Dia menyodorkan celemek berwarna biru muda dengan rajutan bunga-bunga itu padaku. Aku memandangi celemek itu sebelum memakainya.

“Celemeknya heboh ya, Unn ? Hehehe, ini kerjaan Tae Unnie. Kalau nggak ada kerjaan, Tae Unnie hobi banget ngerajut-ngerajut. Apa-apa yang ada di deketnya pasti langsung di rajut kalo lagi nggak ada kerjaan.” Ceritanya. Aku tersenyum saja mendengarnya cerita. Ternyata keluarganya memang unik-unik. Apalagi anak ini.

Kulihat dia memakai sebuah topi koki panjang di kepalanya. Aku nyaris tertawa melihatnya.

“Mulai aja sekarang yuk, Unn. Dipakai dulu celemeknya.” Suruhnya lagi. Aku menurut masih sambil menahan tawa melihatnya memakai topi itu. Sepertinya dia sadar aku sedang menahan tawa karenanya.

“Kenapa, Unn ? Aku keliatan pabo ya pakai topi kaya’ gini ?” Tanyanya dengan wajah polos. Aku tidak bisa menahan tawa. Dia mengerucutkan mulutnya lucu.

“Haha…, eh, mian. Aniyo.., kau itu lucu pakai topi itu. Makanya aku ketawa. Kau nggak pabo kok.” Aku merasa tidak enak padanya walaupun masih ada rasa ingin ketawa melihatnya. Dia nyengir.

“Ehehehe, nggak apa-apa kok, Unn. Aku kan pakai topi kaya’ gini juga gara-gara ikut-ikutan Kyu Oppa aja. Kyu Oppa suka pakai topi kalau lagi masak.” Jelasnya.

Rasa geli tiba-tiba hilang. Aku merasa seperti habis tertimpa sesuatu yang berat begitu mendengarnya menyebut nama Oppanya. Ekspresiku langsung berubah.

Aku menunduk. Pandangan mataku meredup. Senyuman getir muncul di wajahku.

“Kalian bermasalah lagi ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya yang menatapku dengan tatapan ingin tahu.

“Ne ?” Aku berpura-pura tidak mendengar pertanyaannya tadi. Padahal pertanyaannya sempurna membuatku terkejut. Dia menghela napas.

“Hhh, ternyata benar kalian memang sedang bermasalah. Oh iya, katanya, Unnie sedang ada masalah sama Oppa. Berarti benar kan kalian bermasalah ? Tebakanku tidak keliru kan ?” Dia bertanya lagi. Kali ini tidak sambil melihatku. Dia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk kuenya.

Aku menunduk lagi. Rasanya agak sakit mengingat kejadian kemarin. Dan gadis ini mengingatkanku kembali soal kejadian sore itu. Haah~

“Benar, Hye.” Jawabku. Dia menghentikan aktifitasnya. Aku mengangkat wajahku lagi dan memandangnya. Ada ekspresi kaget dari raut wajahnya. “Aku…, memang punya masalah dengannya.” Lanjutku.

“Masalah apa, Unn ? Oppa nakal lagi sama Unnie ?” Suaranya sedikit meninggi.

“Aniyo. Oppamu nggak nakal padaku. Justru aku yang sudah salah padanya.” Aku meremas celemekku. Menahan air mata yang sudah mendesak keluar di mataku. Hye Ri mengajakku duduk di tangga kecil meja masak itu # sudah pernah dijelasin kan di part 9 ?

“Ada apa sih sebenarnya ?”

Aku menatapnya. Setetes air mata jatuh. Mungkin aku memang harus cerita…

—- End POV —-

 

—- Hye Ri POV —-

Unnie ini, yeoja yang sudah kuanggap Unnie sendiri ini, menangis. Terisak diantara ceritanya. Dia menangisi sikapnya dan juga sikap Oppaku padanya kemarin. Dia menceritakan semuanya. Sambil menangis.

Aku mendengarkan semuanya sambil terus menenangkan Unnieku ini. Walaupun dia seorang pemain sepak bola putri di sekolahnya, ternyata dia rapuh juga perasaannya. Ya ampun, aku jadi nggak tega.

“Jadi, Unnie yang bikin video itu ?” Tanyaku begitu Seohyun Unnie selesai cerita. Ia masih sedikit terisak.

Dia mengangguk lemah. Aku mendengung.

“Euuung…, unn, sebenernya aku udah nonton video itu juga. Kemaren malem sama Kyu Oppa.” Kataku jujur. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku.

“K-kau sudah n-nonton ?” Tanyanya agak terbata. Aku mengangguk cepat.

“Dan aku langsung nggak suka sama yang namanya Yoo Yi Unnie itu. Dia udah jahat. Sama Unnie, temen Unnie, bahkan sama Kyu Oppa.” Alasanku. Aku memainkan ujung celemekku. “Dan aku udah bilang ke Oppa kalau…, kalau aku nggak suka sama Unnie itu.”

“D-dan Op-oppamu ?”

Aku menelan ludah. Kalau aku boleh jujur, aku bisa aja bilang kalau setelah itu Oppa jadi suka sama Seo Unnie. Tapi masa mau aku bilangin ? Nanti kalau Oppa mau nembak Seo Unnie jadi nggak surprise dong ?

Ah, mending nggak usah diceritain deh. Batinku.

“Euum, oppa…, aah…, oppa…” Aku terbata. Ya iyalah, aku kan mikir alasannya juga. “Op-oppa…, yaa…, ya gitu deh, unn. Susah dijelasin.” Akhirnya aku menyerah. Susah banget cari alasan yang bagus. Seo Unnie menunduk lagi sambil menyeka airmatanya yang mengalir.

“Sudah kuduga. Oppamu…, pasti…, hiks, pasti nggak suka…” Dia menangis lagi. Tapi dalam diam. Aku mengelus punggungnya.

“Yang sabar, Unnie. Ini semua bakalan cepet berakhir, kok.” Aku tersenyum menyemangati.

“Gomaptagu, saeng. Aku…, aku…, ahaha, aku cengeng sekali ya ?” Dia menyeka airmatanya dan terlihat lebih lega dari sebelumnya. Aku menggeleng sambil menunjukan cengiranku.

Tiba-tiba wajah Kyu Oppa terlintas di pikiranku. Aku sedikit terkikik. Teringat sesuatu. Haha ! Kyu Oppa malah jauh lebih cengeng, Unn, batinku.

“Ani, Unnie. Ada kok orang yang lebih cengeng daripada Unnie. Cuma gara-gara masalah hati saja sampai heboh seperti itu. Orang itu maksudku. Haha ! Aku jadi geli sendiri mengingatnya.” Tawaku semakin menjadi karena wajah Kyu Oppa semakin jelas melintas di otakku.

Seo Unnie mengerutkan dahinya.

“Siapa emangnya, Hye ?” Tanyanya penasaran. Aduh !

“Euuung…, rahasia dong, Unn. Ini privasi. Hehe..” Elakku. Ya masa mau kuberitahu kalau orang yang kumaksud itu Oppa ? Bisa dibantai Oppa kalau sampai tau aku ngasih tau Seo Unnie. Kulihat dia dan kupikir Unnie ini bisa mengerti.

“Oh, gitu. Ya udah, aku ngerti kok. Itu memang privasi.” Seo Unnie menyeka sisa air matanya lagi. Tuh kan ?

“Unn, kita lanjutin bikin first snow-nya yuk ?” Ajakku. Aku beranjak dari dudukku.

“Memang kita sudah mulai ?” Tanyanya mengejek. Aku cuma bisa nyengir. Iya sih. Kapan coba tadi aku mulai ?

“Hehe…, iya ding Unn. Kita kan belom bikin. Ya udah, yok kita bikin. Nih resepnya. Aku udah nyalin semuanya lengkap. Penuh perjuangan lho, Unn, nyalinnya. Kalau Oppa sampai tau aku buka-buka agendanya, bheee, aku bisa dibantai, Unn. Yaah, Oppaku orangnya privasi tinggi sih.” Curhatku. Seo Unnie *yang udah mulai baikan* cuma bisa ketawa mendengar ceritaku.

Aku senang melihatnya sudah lebih baik. Coba Unnie tau apa yang sebenarnya terjadi. Ah, jangan dulu dong. Nggak bakal seru nanti.

“Tepungnya ditaroh di baskom ini. Terus putih telor dipisah sama kuningnya. Aku ambil whipe cream dulu ya.” Aku berbalik menuju lemari penyimpanan di samping kulkas. Kuserahkan semua sama Seo Unnie. Hitung-hitung biar dia belajar juga.

Kubuka lemari itu. Lho ? Ada kotak kue ? Ada isinya juga ? Hmmm, kue siapa nih ? Aku mencoba berpikir. Seingatku tadi pagi waktu aku ambil bahan kue, aku belum lihat ada kotak kue itu. Apa memang sudah ada tapi aku-nya saja yang nggak sadar ? Ah, molla ah. Nggak peduli.

Aku kembali lagi ke Seo Unnie yang keliatan mulai mahir memisahkan kuning telor dan putihnya. Hmm, Unnie ini cepet tanggap juga. Baguslah, hehe ^^

“Nanti dicampur di sini ya, Unn. Oiya, Unnie tolong ambilin………” Kalimatku terhenti ketika sebuah suara berat seorang namja yang sangat familiar di telingaku terdengar memanggil namaku berkali-kali.

Hah ? Kyu Oppa ?

Aku sedikit terkejut. Seo Unnie juga terlihat membelalakan matanya dan melirik ke arahku. Tatapannya seperti mengatakan, itu Oppamu ! Gimana nih ? Seperti itu kira-kira.

“Unnie ! Kyu Oppa, Unn ! Cepet ngumpet, Unn ! Palli, palli !” AKu heboh. Seo Unnie juga. Kami saling heboh dalam bisikan-bisikan.

Seo Unnie keliatan panik. Dia berkeliling mencari tempat sembunyi. Aku juga panik dan ikut mencarikannya tempat sembunyi. Intinya,saat ini keadaanku dan Seo Unnie benar-benar penuh kepanikan dan kehebohan dalam diam.

“Hye Ri ah ! Eodieyeo ?!” Panggil Kyu Oppa lagi. Aigoo~ suaranya makin deket dapur lagi. Kami makin panik. Kutemukan satu tempat bagus. Di samping lemari yang menghadap dinding. Lumayan ketutupan lah.

“Situ aja, Unn ! Aman, aman !” Aku menunjuk samping lemari penyimpanan itu. Seo Unnie langsung berlari dan bersembunyi di situ. Dia bersandar di samping lemari itu. Aku mengamati dari tempatku berdiri sekarang. Nggak keliatan kok.

Kudengar pintu dapur terbuka dan seorang namja cakep *yang biasa kupanggil Kyu Oppa itu masuk. Ada ekspresi kesal tapi lega di wajahnya. Aku mencoba bersikap sewajar mungkin dan sebiasa mungkin.

Kyu Oppa agak bergegas mendekatiku dan langsung menjitak kepalaku begitu sampai di dekatku.

“Auuw ! Oppa sakit tau ! Dasar gila ! Dateng-dateng njitak ! Aduuh~” Aku mengaduh sambil mengelus-elus kepalaku yang kena jitakannya. Dia berdecak.

“Siapa suruh dipanggil nggak nyaut-nyaut ?! Kau ini sudah kupanggil dari depan dari tadi, kau tau ? Kupingmu dimana sih ?” Kyu Oppa sewot. Aku menarik telingaku.

“Nih ! Aku tadi pakai headset. Mana denger Oppa manggil-manggil.” Aku menunjukan ipodku yang masih terpasang headset di saku celemekku. Untung aku sempat membawa ini. Syukur~

Oppa mendengus.

“Lagian ngapain juga Oppa nyariin aku ? Katanya mau pergi ? Udah sana ! Pergi aja !” Desakku. Kalau Oppa lama-lama disini, bisa gawat juga. Kan nggak selamanya Seo Unnie aman di sana.

“Aku mau ngambil sesuatu, saeng. Kau lagi bikin kue ya ?” Tanyanya. Pabo !

Ekspresiku berubah datar. “Ya iya lah, Opp. Masa kaya’ gini lagi nonton tv ? Pabo !”

“Ya siapa tau kau memang lagi nonton tv.” Balasnya datar. Jiah ! Gampang banget ini Oppa ngomongnya.

“Kau…, sedang bikin kue sama teman-temanmu ya ?” Tanyanya lagi. Aduh~ makin panjang aja nih urusannya. Aku menelan ludah dan berdecap.

“A-aniyo, Oppa. Aku masak sendiri kok. Kok Oppa bisa nebak gitu ?”

Kyu Oppa terlihat agak berpikir.

“Kenapa ya ? Aku ngerasa kau tidak sendirian saja di sini. Apa jangan-jangan…” Nada suaranya berubah. Kaya’nya mau nggodain nih.

“Mwo ?!” Bentakku. “Nggak usah ngomong macem-macem lah, Opp. Udah ! Cepetan pergi aja sana ! Butuh privasi nih.” Aku mulai protes. Oppa malah makin gencar mengerjaiku. Sepertinya dia sengaja berlama-lama disini. Haaassh !

“Lagakmu tuh, saeng. Sok-sok privasi segala. Memang kau buat cake apa ? Eh, ini resepnya ya ? Lihat dong.” Kyu Oppa hampir mengambil kertas resep first snow yang masih tergeletak di meja masak. Aku segera mengambilnya dan memasukkannya ke saku celemek.

“Bukan kok, Opp. Bukan, bukan.” Elakku. Kyu Oppa menatapku dengan tatapan tidak yakin. Aku membuang muka. Dia bisa tau kalau aku bohong kalau dia bisa melihat mataku. Oppaku memang bisa tahu kapan aku bohong dan tidak dengan hanya melihat mataku saja.

“Hmm, gwaenchana. Aku lihat saja sini.” Dia meminta kertas itu. Aku keukeuh mempertahankannya agar tidak sampai dilihat dan dibaca olehnya kalau aku tidak mau mati dibantai. “Shireo, Oppa. Nggak boleh !”

“Oh, gitu. Ya sudah deh. Eh ? Sepertinya aku kenal bahan-bahannya. Tidak asing.” Tangannya mulai mengutak-atik bahan-bahan setengah jadi itu dan melihatnya satu-satu. Aku menggigit bibir.

“Aah~ haha, Oppa. Ini kan bahan-bahan bikin cake. Ya pasti lah Oppa kenal. Semua cake kan bahannya ini semua.” Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan jawaban seadaanya. “Oh iya, Oppa mau ngambil apa sih ?”

Kyu Oppa berhenti mengutak-atik bahan itu dan menjawab pertanyaanku.

“Aku mau ambil kotak kue yang kusimpan di lemari. Chamkanman…” Oppa berbalik dan mendekati lemari itu.

AIGOO ~

Seo Unnie kan sembunyi disitu !! Hya ! Eotteo…  ?!

Aku bergegas menarik lengan Oppa sebelum benar-benar sampai.

“Ya, Opp ! Aku aja yang ambilin.” Aku menarik Oppaku hingga terdorong ke meja dan berlari ke lemari. “Yang kotak warna merah kan ?”

“Ya ! Eotteokhe arayo ?” Tanyanya bingung. Aku menunjukan cengiranku sebentar dan kembali berjinjit mencoba mengambil kotak itu. Baiklah, aku memang pendek.

“Hehe~ tadi aku menemukannya ketika sedang mencari whipe cream untuk cake-ku. Nah ! Akhirnya. Nih, Oppa ! Aku bisa ngambilin buat Oppa.” Kataku girang dan kembali ke dekat Oppa.

Kulihat Oppa seperti sedang memperhatikan sesuatu. Aduh ! Apa jangan-jangan Oppa curiga kalau ada orang di dekat lemari ? Hwaaa !!! Aku buru-buru menyadarkannya.

“Ya ! Oppa lihat apa ?! Nih cake-nya.” Aku memberikan kue itu. Oppa terlihat seperti menyadari sesuatu.

“Oh iya. Gomawo, saeng.” Oppa menerima kotak kue yang kusodorkan itu. Tiba-tiba kulihat dia seperti orang linglung dan bingung.

“Oppa, gwaenchana ? Kok linglung kaya’nya ?” Tanyaku. Dia tersenyum dan menggeleng.

“Aniyo, Hye ah. Aku hanya… Sudahlah.”

Aku menganggukkan kepalaku mengerti lalu melirik kotak kue yang dipegangnya sekarang. Aku jadi penasaran, kapan, untuk siapa, dan kenapa Oppa membuat kue itu.

“Oppa, kapan Oppa bikin kue itu ? Buat siapa ? Itu…, kue baru ya ? Aku kok belum pernah lihat sepertinya.” Aku menunjuk kotak kue itu. Oppa menaikan alis matanya mendengar pertanyaanku kemudian tersenyum.

“Aku membuat kue ini semalam. Kue ini mau kuberikan pada seseorang. Dan, ya, ini memang kue terbaruku. Spesial kan ?” Jawab Oppa singkat. Aku mengangguk mengerti *atau sok mengerti ?

“Jadi, semalam Oppa tidak tidur di dorm dan menginap di rumah karena bikin cake ini ? Buat siapa sih ? Kasih tau, Oppa… Jebaaaal !” Aku memohon. Oppa sedikit tertawa.

“Rahasia. Ini privasi. Oh iya, kau yakin kau benar-benar sendirian ? tidak bersama teman-teman se-geng mu ? Tidak bersama So Ra, Hye Sang, Song Hye, dan Taemin ? # ini semua temen-temen Hye Ri a.k.a author, except Taemin.

GULP !

Aku menelan ludah lagi. Ya ! Kenapa Oppa tanya seperti ini ?

“Euuung…, ani, Oppa. A-aku sendirian aja, kok.” Jawabku bohong. Nggak apalah, yang penting selamat.

Oppa menautkan alisnya dan melihatku dengan tatapan tidak percaya.

“Jinjja ? Geurae, kau bisa jelaskan tas siapa yang ada di dekat pintu dapur itu ?” Oppa menunjuk tas Seo Unnie yang tergeletak di meja kecil dekat pintu.

Tamat riwayatku. Mau jawab apa kalau begini ?!

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

Aku mohon !

Jangan sampai ketahuan !

Hye Ri, jawablah sesuatu yang menyelamatkan kita !

Aku terus membekap mulut agar suara napasku teredam. Jangan sampai Kyuhyun tau aku di sini. Jangan sampai !!!

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

“Euuung…” Dia mendengung. Matanya bergerak ke kanan-kiri seperti orang kebingungan. Sudah kuduga. Ternyata dia memang tidak jujur. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku tahu itu.

“Saeng, jawab aku !” Suruhku sedikit memaksa. Dia membuang muka agar wajahnya tidak terlihat olehku. Cih ! Ternyata kau benar-benar menyembunyikan sesuatu ya, adik kecil ?

“I-itu…, itu.., itu tasku, Oppa. Iya, itu tasku.” Jawabnya sedikit terbata. Aku semakin curiga. Aku melirik ke arah tas itu lagi.

Seingatku, dia tidak punya tas seperti itu dan…, tas itu sepertinya familiar dimataku. Aku pernah lihat tas itu.

Tiba-tiba sebuah memori terlintas di pikiranku yang berhubungan dengan tas itu.

DEG !

Tas itu ?! Tas yang dipakai Seohyun untuk menimpukku saat aku menggodanya dengan cerita seram. Aku masih ingat jelas kalau tas itu yang kuberikan padanya begitu dia berhasil mengenai kepalaku dengan tas itu.

Aku melihat ke arah tas itu lagi dan menajamkan penglihatanku. Sama persis !

Aku beralih ke Hye Ri yang menunduk memainkan ujung celemeknya.

“Sejak kapan kau punya tas seperti itu ? Aku tidak pernah melihatmu memakainya ?” Tanyaku dengan nada serius.

“A-aku…, aku sudah lama punya tas itu. Baru kali ini aku pakai saja. Kenapa sih, Oppa curiga banget ? Aku nggak ngapa-ngapain kok. Aku sendirian di sini dan itu tasku, Oppa.” Alasannya.

“Baiklah,” Aku membiarkannya walau sebenarnya rasa penasaran itu masih ada. Dia begitu keukeuh bilang kalau dia sendirian disini. Tapi aku merasa ada orang lain. Dia bersembunyi di suatu tempat.

Aku yakin itu bukan tasnya. Aku yakin ada orang lain. Dan instingku sangat kuat mengatakan itu. Di tambah bukti-bukti yang  kutemukan.

Pertama, tas itu. Kedua, sepatu seseorang di rak sepatu. Ketiga, celemek berwarna biru yang biasa kupakai kalau aku memasak disini yang tergeletak di meja. Keempat, bayangan seseorang yang sedang berjongkok di dekat lemari. Dan kelima, sikap Hye Ri yang aneh dari tadi. Seperti menyembunyikan sesuatu. Aku tahu, dia bukan orang yang pintar berbohong. Semua sudah terbukti, Hye Ri. Kau tidak mungkin sendirian.

Baik, aku tidak akan membahas bukti yang lain dengan adikku ini. Aku tahu dia kebingungan. Biar saja aku menyimpannya sendiri. Toh, aku juga sudah yakin.

Dan aku yakin, orang itu adalah gadis yang membuatku berdebar akhir-akhir ini. Unnie kesayangan adikku. Gadis yang bernama Seohyun itu. Aku yakin.

“Oppa percaya padamu.” Aku mengacak rambutnya. Dan dia tidak menepis tanganku seperti biasanya saat aku mengacak rambutnya. Tumben ?

Aku berbalik dan siap pergi meninggalkan dapur ketika aku teringat sesuatu. Aku sedikit tertawa memikirkan ke-paboan-ku saat ini. Aku kan membuat kue ini untu Seohyun. Kalau orangnya ada di sini, kenapa aku harus mengantar kerumahnya ? Haassh !

“Oh ya, Hye Ri. Tolong berikan kue ini untuk ‘temanmu’, ya ? Aku pikir, tidak ada gunanya juga kuberikan pada orang yang kumaksud itu sekarang. Tolong ya ?” Aku menyerahkan kotak itu pada Hye Ri yang terlihat kebingungan melihat tingkahku.

“Kenapa nggak jadi, Oppa ? Terus, kukasih ke temanku siapa ? Temanku kan banyak.” Tanyanya polos. Kupasang senyum evil diwajahku. Kudekatkan wajahku ke telinganya.

“Terserah kau, saeng. Kau bahkan boleh memberikannya ke temanmu yang-sedang-berada-disini.” Bisikku.

Dia melongo dan mengerutkan dahinya. Aku tersenyum dan berbalik pergi. Meninggalkannya dalam kebingungan.

“Hah ?”

Kata terkahir yang kudengar darinya sebelum aku keluar. Aku melirik tas itu lagi dan tersenyum. Untung tadi aku agak curiga dengan Hye Ri. Jadinya, aku tidak membeberkan semua rencanaku. Padahal, dia ada disini.

Andai saja aku bisa menemuimu sekarang. Tapi, kurasa memang belum saatnya. Hmmm…

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

“Unnie, keluar sekarang saja. Sudah aman kok. Oppa sudah pergi.” Kudengar suara kecil Hye Ri memanggilku. Aku keluar dari tempat persembunyianku dan menghembuskan napas lega. Aku mengelus dadaku. Jantungku berdetak sangat kencang tadi sampai-sampai dadaku sakit saking khawatirnya ketauan.

“Sudah, Unnie. Tenang saja, sudah aman.” Hye Ri mencoba menenangkanku. Aku tersenyum menanggapinya.

“Oppamu…, tau tidak ya ?” Aku bertanya dengan nada khawatir. Hye Ri kelihatan tidak yakin.

“Molla, Unnie. Ah, sepertinya enggak, deh. Oh iya, Unn. Tadi Oppa nitip kue ini buat temenku. Kukasih ke Unnie aja ya ? Nih, Unn.” Dia menyerahkan kotak kue berwarna merah dan berpita dengan warna yang senada dengan kotaknya itu padaku.

Aku menerimanya dengan tangan sedikit bergetar. Kubuka kotak itu dan menemukan sesuatu yang membuatku terkejut. Sebuah kue yang sangat kukenal betul bentuk dan hiasannya. Kue-ku ?

Ada sebuah tulisan diatas kue itu yang ditulis dengan huruf alphabet dengan selai stroberi. Dan tulisan itu adalah nama kue itu. Nama pemberiannya. SeoKyu…

“Seo…, Kyu ?” Hye Ri menatap kue itu dengan tatapan kaget.”A-apa maksudnya, Unn ?” Sepertinya dia terlihat kaget melihat tulisan itu.

Aku menelan ludah. Aku harus bilang apa sama anak ini ?

“Ini…, kue…, yang kubuat bersama Oppamu…, saat kami…, t-terjebak hujan kamis kemarin.” Jelasku.

“Arayo,Unnie. Aku tau. Maksudku, apa maksud Oppa bikin kue ini ? Untuk siapa juga ? Kenapa ada nama Unnie sama Oppa ? Apa jangan-jangan tadi Oppa tau Unnie di sini ?” Hye Ri menebak.

Aku tersentak. Bisa saja.

Apa jangan-jangan Kyuhyun memang tau aku di sini ? Dari tadi dia seperti kelihatan curiga terus sama Hye Ri. Aissh !

Kutemukan secarik kertas yang ditempel dibawah kotak itu. Seperti kartu ucapan. Dan isi kartu itu adalah…

Untuk Seohyun,

     Mianhada aku sudah tidak percaya padamu.

–          Kyuhyun       –

Sebuah catatan yang sangat singkat tapi membuatku lemas seketika. Hh…, ternyata dia memang tau aku disini.

Aku tersenyum getir. Perasaanku bercampur. Aku bingung harus bagaimana menanggapi ini. Aku kaget, aku shok, aku deg-degan, aku khawatir, tapi aku juga senang. Kue ini untukku. Sebuah permintaan maaf darinya.

Berarti dia memang ingin meminta maaf padaku. Tapi kenapa dia memberikan kue ini pada Hye Ri ? Kenapa tidak langsung padaku seperti seharusnya ? Apa karena dia tau aku di sini ? Aah~ Aku tidak terlalu peduli. Aku terlalu bahagia mengetahui kebenaran ini.

Terima kasih, Tuhan. Kau kabulkan doaku secepat ini. Aku tersenyum lega. Saking  bahagiannya aku sampai tidak sadar kalau kotak kue itu kupeluk dan Hye Ri melihatku dengan tatapan heran.

“Aku senang, saeng.”

Hye Ri tersenyum padaku. “Benar kan, Unn. Semuanya bakal cepet berakhir, kok.”

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

Aku tersenyum mengingat kejadian di dapur tadi dan semua bukti yang kutemukan kalau memang ada Seohyun disini. Seharusnya, aku menemuinya dan meminta maaf padanya secara langsung.

Ya sudahlah. Sudah kuberikan juga. Lagipula, Seohyun pasti mengerti maksudku memberikan kue itu padanya.

Dia mau memaafkanku tidak ya ? Oh iya, aku jadi ingin tahu apa yang dia lakukan di rumahku bersama Hye Ri hari ini. Mereka sedang bikin kue apa sih ? Ada satu bahan yang sangat familiar bagiku dan jarang kupakai untuk membuat cake. Serbuk gula atau biasa kubilang Snow sugar. Aku memakainya hanya untuk first snow akhir-akhir ini. Jangan-jangan mereka sedang membuat first snow ?!

Aku menghentikan langkahku.Mobilku tinggal beberapa langkah lagi. Aku tersentak.

Mereka membuat first snow ? Bagaimana bisa ? Aku bahkan belum pernah memberitahu siapapun tentang resepnya. Apa jangan-jangan Hye Ri…

Ya ! Kyu ! Kenapa kau malah jadi curiga sama adikmu sendiri ?! Haassh ! Sudahlah, itu juga tidak penting, untuk apa dibahas lagi.

Aku mengedikkan bahuku dan berjalan lagi menuju mobilku.

Kuharap dengan ini hubunganku dengannya bisa membaik kembali.

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

“Gomapta ya, Hye Ri.” Aku berbalik sebelum benar-benar keluar gerbang. Hye Ri tersenyum lebar menaggapiku. Dia mengangguk.

“Makasih juga bahan-bahannya.” Aku mengangkat kantong plastic berwarna putih yang berisi bahan-bahan membuat kue darinya.

“Ne, cheonmaneyo, gwaenchana. Unnie bener-bener jadi bikin kue juga buat Oppa ?” Tanyanya lagi dengan nada meyakinkan. Ini pertanyaannya yang sama untuk keempat kali. Aih, aku jadi gemes lama-lama.

“Iya, saeng.” Aku menarik pipinya sampai lebar. Habis gemas sih. “Kau kan sudah tanya tadi dan ini pertanyaanmu yang sama untuk keempat kalinya. Kau ini tidak yakin ya ?” Aku melepas cubitanku dan berkacak pinggang sekarang.

Dia mengaduh sambil mengelus-elus pipinya yang kutarik lebar barusan.

“Jujur sih, Unn, ehmmmmm, sedikit. Unnie kan beginner banget. First snow itu susah lho. Liat kan tadi gimana kita bikin ? Nggak ada perfek-perfeknya. Jauh banget sama punya Oppa.” Dia memandangku dengan tatapan tidak yakin.

Aku tersenyum optimis.

“Bisa, Hye Ri. Aku bisa kok bikinnya. Masalah perfek-nggak perfek, kalau standarnya kaya’ punya Oppamu, ya susah perfeknya. Tapi kan yang penting aku sudah usaha. Lagian, niatku juga baik, kan ? Oppamu saja ngasih aku kue, kenapa aku nggak balas ngasih dia sesuatu ? Ya kan ?”

Dia mengangguk mengiyakan.

“Iya juga sih, Unn. Dan Unnie mau ngasih Oppaku first snow gitu ? Eumm, kalau gitu…” Dia menghentikan kalimatnya. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu. Secarik kertas. “… Ini, kukasih resepnya. Ini kan langung aku salin dari agenda Oppa. Kurasa lebih lengkap dari catatannya Unnie.” Dia tesenyum dan menyodorkan kertas itu padaku.

Aku menerimanya dan membalas senyumnya juga. Anak ini pengertian sekali, sih ?

“Gomawo, saeng.”

“Biasa aja lah, Unn. Anggap aja ini kan bentuk dukunganku buat Unnie dan Oppa.”  Dia tersenyum lagi.

“Maksudmu ?” Aku mengerutkan dahiku bingung. Dia menggeleng cepat.

“Aniyo, Unnie. Udah sana, pulang ! Habis itu latihan lagi bikin kue di rumah. Oppa juga bentar lagi pulang kaya’nya. Udah sore sih.” Suruhnya. Dia sedikit mendorongku. Aku tertawa.

“Aku diusir nih ceritanya ? Iya, iya aku pulang.” Aku menyerah akhirnya. Dan berjalan pelan meninggalkannya.

“Dah, Unnie. Josimhaseyo !” Dia melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya sambil berjalan mundur.

“Ne. Annyeong !!” Kataku. Dia terus melambai sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.

Aku berbalik dan kembali berjalan dengan normal menuju halte bus. Aku tersenyum sendiri teringa kue yang Kyuhyun berikan itu. Walau tidak langsung, tapi kue itu sangat berharga bagiku. Aku harus memberinya juga. Hitung-hitung sebagai tanda penerimaan maaf dan permintaan maaf juga. Bagaimanapun juga, aku sudah sala padanya.

Jadi nggak sabar. Ingin segera sampai rumah, mencoba membuat kuenya, dan memberikannya pada Kyuhyun besok.

Oh ya ? Besok Senin kan ? Berarti ada latihan dong ? Haassh !

Aku baru saja sampai rumah. Sudah hampir jam 7 malam sekarang. Kurasa lebih baik aku membuat kue-nya sekarang. Kalau kemalaman, nanti eomma bisa marah-marah karena aku pakai dapur malam-malam.

Kubuka bungkusan berisi bahan-bahan dari Hye Ri itu dan mengeluarkannya satu-satu. Aku merogoh saku bajuku dan mengambil kertas resep dari dalamnya.

Aku siap membuatnya !!!

—- End POV —-

 

—- Kyuhyun POV —-

Kenapa sih gadis itu ? Memintaku datang pagi-pagi. Ini kan masih libur sekolah. Lagipula, aku tidak berniat masuk hari ini karena Eomma memintaku untuk mengantarnya belanja. Haasssh !

Hari ini, Yoo Yi menyuruhku datang lebih awal. Katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dan kurasa ini ada sangkut pautnya dengan Seohyun. Awalnya aku malas, tapi begitu tau apa yang ingin dia bicarakan, aku jadi penasaran dan datang. Aku juga harus mengklarifikasi masalah adegan di video itu padanya.

Baiklah, sekarang dimana dia ?

Aku mencarinya di dalam ruang tata boga dan tidak menemukan siapapun. Lihat ? Bahkan yonbae dan hobaeku belum ada yang datang. Aku menaruh tasku di meja tengah ruangan dan menemukan secarik kertas di atasnya.

Ada tulisan ‘untuk Kyuhyun’ di kertas itu. Aku menaikan alisku karena agak kaget melihat kertas itu apalagi ada tulisan namaku di atasnya.

“Dari siapa ?” Gumamku. Aku mengedikkan bahu menyerah setelah membolak-balik kertas itu dan tidak menemukan sebuah namapun tentang pengirimnya di sana.

Aku malah menemukan sebuah kalimat di balik kertas itu.

Cepat ke atap sekarang !

“Eh ? Kenapa aku harus sekarang ? Ini siapa sih pengirimnya ?” Aku jadi gemas sendiri. Penasaran tapi juga kesal karena belum bisa menemukan siapa pengirimnya.

Karena rasa penasaranku yang tinggi, aku pun mengikuti suruhan orang itu untuk ke atap sekarang. Aku meletakkan lagi kertas itu dan bergegas ke atap gedung sekolah.

Aku benar-benar penasaran siapa yang menyuruhku ke atas.

Aku sampai di atap. Napasku terengah. Tentu saja. Aku berlari menaiki tangga menuju atap ini dan itu cukup melelahkan. Kuedarkan pandanganku.

Tidak ada siapapun di atas sini. Hassh ! Sudah kuduga.

“Sudah kuduga pasti tidak ada siapapun di atas sini. Haassh ! Aku memang benar-benar sedang dikerjai. Sial !” Gerutuku. Tangan kananku mengepal lalu kutepukkan ke tangan kiriku.

“Haaasshh ! Jinjjaji ! Pagi-pagi sudah bikin rep…” Kalimat omelanku terputus ketika sebuah suara yang sangat tidak asing di telingaku terdengar dari belakangku.

“Aku tau kau pasti akan datang, Kyu. Aku sudah menunggumu dari tadi.”

Kubalikkan badanku saat itu juga dan dibuat terkejut dengan si pemilik suara itu.

Yoo Yi ? Apa yang dia lakukan di atas sini ? Apa maksudnya dia sudah menungguku ? Tunggu…, tunggu..

“Yoo… Yoo Yi ? Apa yang kau… ?” Kalimatku terhenti, “Kau yang menyuruhku ke sini ?” Tanyaku kaget.

Dia tersenyum. Senyum yang dulu selalu kurasa manis sekarang hanya bisa kurasakan sedikit berbeda. Sedikit aneh di mataku. Seperti ada sesuatu di balik senyumnya. Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak ?

“Ne. Memang aku yang menyuruhmu ke sini. Kau tidak lupa kan, kalau ada sesuatu yang kubicarakan ? Dan, aku memang mau membicarakannya disini.” Jawabnya. Aku semakin waspada.

“Kenapa harus di sini ? Kenapa harus di atap ? Apa kau tidak bisa membicarakannya di ruang tata boga saja ?” Tanyaku dingin. Aku sedikit kesal karena sikapnya yang misterius dan egois seperti ini. Kau pikir mudah naik kesini, hey nona Park Yoo Yi ??

Dia malah tertawa.

“Aku butuh tempat yang tenang dan ruang tata boga tidak masuk kategori sama sekali, Kyu. Kali ini aku membutuhkan privasi.” Dia menjawab dengan suara yang misterius kedengarannya di telingaku. Mau apa sebenarnya gadis ini ?

Aku menghela napas.

“Privasi apa ? Kau tidak lihat sekolah masih sepi seperti ini ? Bahkan tidak ada siapapun di ruang tata boga.”

“Aku tidak peduli, Kyu.” Dia mulai ngotot, “Aku ingin benar-benar berdua denganmu karena yang akan kubicarakan denganmu ini…” Dia berhenti.

“Apa ?” Aku mendesaknya. Dia membuatku penasaran lagi.

“Ini tentang perasaan, Kyu. Tentang hati.” Lanjutnya.

Aku tersentak. Benar-benar kaget mendengar permasalahannya yang sebenarnya. Ada apa ini ? Kenapa dia ingin membicarakan sesuatu yang sesensitif ini denganku ?

“Apa maksudmu ?” Kali ini aku benar-benar tidak mengerti maksud omongannya.

Dia melangkah mendekat dan berhenti ketika jarak kami tidak sampai satu meter. Dekat sekali malah. Dia menatapku dengan mata berbinar. Jujur, aku masih mengakui kalau matanya bagus. Tapi, itu tidak mengubah perasaanku padanya sekarang.

Aku sudah tidak lagi menyukainya. Dan mungkin itu tidak akan berubah karena hatiku sudah berpaling ke gadis lain yang lebih baik. Dan aku merasa tidak akan kembali menyukainya mengingat apa yang sudah dia lakukan di video yang Seohyun berikan padaku itu.

Dia menatap mataku dalam. Mau bagaimana lagi ? Mau tidak mau aku harus balas menatapnya karena bagaimanapun dia masih temanku. Aku tidak perlu menunduk dan dia juga tidak perlu mendongak untuk bisa menatap mataku karena badannya yang cukup tinggi.

“Kyuhyun ah~” Panggilnya. Dia semakin mendekatkan diri dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Ya ! Kau mau apa ?” Aku nyaris mendorongnya agar menjauhiku sampai aku sadar ternyata dia hanya mau membisikiku sesuatu.

“Saranghae.”

DEG !

MWO ??!!

—- End POV —-

 

—- Seohyun POV —-

Senangnya… ^^

Aku akan memberikan kue ini padanya hari ini. Sekalian membicarakan tentang kejadian kemarin dan juga minta maaf. Kata Hye Ri, Kyuhyun sudah berangkat dari tadi. Katanya ada sesuatau yang membuatnya datang pagi. Karena itu aku juga mau datang pagi dan segera memberikan kue ini padanya.

Kupandangai kotak kue itu dan membayangkan bagaimana ekspresi Kyuhyun ketika memakannya. Dia sadar tidak ya kalau ini first snow ? Aku harus jujur nanti dan menceritakan padanya kegiatanku kemarin dan Hye Ri agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kami.

Aku turun dari bis dengan sedikit melompat. Bawaan lagi senang mungkin jadi aku agak bertingkah berbeda. Dan lagi-lagi, hari ini aku datang pagi. Jam 8 nanti latihan dimulai dan ini masih sekitar 10 menit lagi. Cukup lah untuk cuma berjalan sampai sekolah.

Akhirnya, gerbang sekolah kelihatan juga. Aku sedikit berlari menuju sekolah yang sudah tinggal beberapa meter lagi dan terus berlanjut berlari ke lapangan. Hitung-hitung pemanasan lah.

Aku mengedarkan pandangan. Eh ? Belum ada siapa-siapa ?

“Ya !” Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku terlonjak dan segera berbalik. Ya ampun !! Ternyata Eun Ho sunbae.

“Sunbae ? Ya ampun, aku kaget banget !!” Aku mengelus dadaku. Napasku sedikit tersenggal. Eun Ho sunbae tertawa.

“Hahaha… Salah siapa bengong di sini ? Pagi-pagi lagi. Waah ! Kau bisa juga ya datang pagi-pagi ? Mau menghilangkan imej putri telatmu itu ya ?” Godanya. Aku nyengir lebar.

“Hehehe, aniyo, sunbae. Aku ada urusan dulu sebelum latihan nanti, makannya datang pagi.” Elakku.

“Urusan apa ? Sebentar lagi latihannya dimulai lho. Eh ? Pada belum datang ternyata. Ya ampun !! Males-males banget sih mereka ? Kau saja sudah bisa nggak telat, kenapa yang lain malah jadi pada suka telat sih ?” Omelnya. Aku cuma bisa tersenyum geli. Sunbae, sunbae.

“Biasanya juga molor kan, sunbae ?”

Eun Ho sunbae menganggukan kepalanya mengiyakan. Wajahnya lucu sekali. Tiba-tiba dia melirik kotak berisi kue yang kubawa. Matanya langsung menyiratkan rasa penasaran.

“Eh ? Kau bawa apa tuh ? Bekal ? Oo ?! Woow ! Kue ya ?” Eun Ho sunbae langsung heboh begitu tau isi kotak yang kubawa. Dia mencoba mengambilnya dariku tapi aku dengan gesit menghindar.

“Ya ! Sunbae ! Ini mau aku berikan ke orang. Nanti rusak isinya.” Protesku. Eun Ho sunbae cuma bisa cemberut dan memasang ekspresi kesal yang lucu.

“Iya deh, mian. Udah yuk, ke lapangan sekarang aja gimana ? Daripada ngalangin jalan berdiri di sini.” Ajaknya. Aku mengangguk menurutinya. Dia sunbaeku, mau gimana lagi ?

“Eumm, sunbae ?” Panggilku. Eun Ho sunbae menoleh kearahku. Kami sedang menuju lapangan sekarang.

“Ne ?”

“Euumm, boleh tidak kalau aku mengurusi urusanku sambil menunggu yang lain pada dateng ? Daripada bengong lagi ? Boleh ya sunbae ? Jebal… ~” Aku menelungkupkan kedua tanganku dan memohon padanya.

Awalnya, Eun Ho sunbae menatapku dengan tatapan berpikir. Aku sempat khawatir juga kalau tidak dibolehkan. Aku mau memberikan kue ini ke Kyuhyun sesegera mungkin sebelum semakin banyak yang datang. Apalagi kalau sampai kedua sahabat hebohku itu tau apa yang mau kulakukan. Bisa heboh duluan sebelum aku bisa melakukan rencanaku. Haassh !

“Boleh ya, sunbae ?” Aku lebih memohon lagi. Bahkan sampai memejamkan mataku erat saking benar-benar ingin dibolehkan. Eun Ho sunbae tertawa melihat sikapku.

“Kau ini ? Ya udah sana ! Pakai memohon sampai segininya lagi. Sudah sana ! Tapi cepat ya !” Ijinnya. Aku mengangguk senang dan berlari meninggalkannya setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Ya, Kyu ! Aku datang… ^^

Aku melongok ke dalam ruangan itu dan tidak menemukan siapapun di dalamnya. Aku mengerutkan dahiku. Katanya Kyuhyun sudah berangkat dari tadi kan ? Dia tidak mungkin kemana-mana selain ke tempat ini, pikirku.

Karena penasaran, akhirnya aku memberanikan diri masuk ke dalamnya. Ternyata memang tidak ada siapapun. Aku berjalan perlahan dan mataku menemukan sesuatu.

“Lho ? Ada tas-nya Kyuhyun ? Tapi orangnya mana ya ?” Tanyaku heran pada diriku sendiri. Aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain dan lagi-lagi menemukan sesuatu. Ada secarik kertas dengan namanya tertera di atas kertas itu.

Aku mengambilnya dan membacanya dengan gumaman.

“Untuk Kyuhyun. Apa isinya ya ?” Aku membalik kertas itu dan menemukan sebuah kalimat yang menyuruh Kyuhyun untuk ke atap sekarang.

“Cepat ke atap sekarang ? Ngapain ? Siapa sih pengirimnya ? Kok tidak ada nama pengirimnya ? Lagian kenapa tidak pakai sms saja sih ? Jaman sekarang masih pakai kertas seperti ini.” Aku mengomentari pembuat memo itu. Kuletakkan kembali kertas itu.

“Eh ? Kenapa aku tidak ke atap saja sekarang ? Siapa tau Kyuhyun memang di sana.” Aku berbalik sambil kembali menenteng kotak kue yang sempat kuletakkan tadi dan sedikit berlari menuju tangga ke atap.

Aku membungkuk mencengkram lututku karena kelelahan. Napasku sedikit memberat. Phufh ! Ternyata capek juga naik ke atap.

“Benar-benar bagus buat pemanasan tangga ini. Phufh ! Capeknyaa…” Aku duduk di salah satu anak tangga dan bersandar di dinding. Tinggal 4 anak tangga lagi sebenarnya untuk sampai ke pintu dan tinggal keluar saja aku sudah di atap. Tapi, jujur, naik lewat tangga ini benar-benar melelahkan. *mau naik lewat mana lagi mbak seo ? adanya cuma tangga ini doang.

Kukerahkan sisa tenagaku dan kembali menaiki anak tangga yang tersisa satu-satu. Akhirnya sampai juga. Aku membuka sedikit pintu itu dan sedikit menyipitkan mataku ketika sinar matahari pagi menerobos masuk. Silau sekali.

Aku menaruh telapak tangan kiriku di atas pelipis untuk menghalangi sinar mataharinya sampai mataku benar-benar bisa beradaptasi dari ruang yang tadi agak gelap ke tempat yang terang seperti ini.

Kudengar ada suara seseorang. Dan aku juga melihat sosok seseorang diantara silaunya sinar matahari. Eh, kurasa dua orang. Aku jadi penasaran siapa saja mereka. Kyuhyun dan… ?

Mataku akhirnya bisa beradaptasi dan bisa melihat cukup jelas siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Dan seketika itu juga aku tersentak. Nyaris saja aku mengeluarkan suara melihat mereka.

Itu…, Kyuhyun dan Yoo Yi ? Apa yang mereka lakukan ? Kenapa Yoo Yi memeluk Kyuhyun ? Ada apa ini ?!

“Saranghaeyo, Kyu. Sudah sejak lama…” Yoo Yi masih memeluk Kyuhyun dari belakang dan menyandarkan kepalannya di punggung Kyuhyun.

Kyuhyun diam. Dia memegang kedua tangan Yoo Yi yang melingkar di pinggangnya. Aku tidak bisa begitu jelas melihat mereka dari sini selain karena silau juga karena mereka sedikit membelakangiku.

MWO ?!!

Pernyataan cinta ? Yoo Yi menyatakan cinta ke Kyuhyun ?!

Hatiku sakit. Sangat perih dan sangat menyakitkan. Aku menutup mulutku dan menahan agar suara erangan kesakitanku tidak keluar. Air mataku sudah berkumpul di pelupuk mataku dan siap jatuh. Satu pernyataan lagi, mungkin aku bisa menangis.

Aku menunggu. Yoo Yi menunggu. Menunggu jawaban apa yang akan Kyuhyun berikan.

“Nna do…” Kyuhyun akhirnya memberI jawaban.

DEG !

Dia bilang ‘nna do’ ?

Tes !! Airmataku sempurna menetes. Ini peryataan yang sangat menyakitkan. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan dari ini.

Aku segera masuk lagi ke dalam dan bersandar di dinding sambil terus membekap mulutku dengan tanganku agar suara tangisku tidak terdengar. Lama-lama aku merosot dan terduduk masih sambil menbekap mulutku. Air mataku terus mengalir.

Ini terlalu menyakitkan !!!

Aku berlari turun dan meninggalkan kotak kue-ku di sana. Lebih tepatnya tertinggal. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk mengambilnya kembali. Aku benci. Aku benci semuanya. Buat apa aku susah-susah membuatnya kalau akhirnya harus begini ?

Sudah kuduga. Aku tidak akan mungkin bersamanya. Dia sangat menyukai Yoo Yi. Walaupun kemarin sudah keberikan video itu, kalau memang Kyuhyun tidak bisa menghilangkan perasaanya, apa gunanya lagi ? Ya ! Seohyun ! Kau ini pabo sekali. Kau mengharapkan seseorang yang tidak bisa kau harapkan. Hatinya sudah terpaut di Yoo Yi. Dan otomatis dia akan bilang ya untuk Yoo Yi.

Napasku tersengal. Susah sekali bernapas saat menangis ditambah aku harus berlari-lari seperti ini. Aku lelah. Akhirnya kuputuskan duduk di ujung tangga dan menenggelamkan wajaku di antara kedua lutuku yang kulipat. Aku menangis lebih keras. Bahkan sampai sesenggukan.

Jadi begini rasanya patah hati ? Ternyata lebih menyakitkan daripada yang kuduga. Aku berharap untuk tidak pernah sama sekali mengalami hal ini. Dari awal. Semuanya. Aku berharap tidak pernah bertemu dengan Kyuhyun. Berharap tidak pernah membencinya dan tidak pernah menyukainya. Kalau akhirnya harus sesakit ini.

Aku menghapus airmataku yang masih mengalir sebersih-bersihnya. Kurasakan mataku menyipit karena bengkak. Aku sudah bertekad. Aku tau kalau akan begini. Maksudku, bisa saja akhirnya begini. Kenapa aku harus merasa sebegini sakit ? Aku harus melupakan semuanya. Aku harus bisa. Aku tidak mau terpuruk karena masalah seperti ini. Tapi…

“Nna do…”

Kata itu terngiang lagi di telingaku. Dan itu sangat menyakitkan…

Aku kembali menangis…

—- End POV —-

~TBC~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s