Changmin Story – Chapter 2

Standar

Bad Incident”

Cast : Minkyu, Yunjae, Kangteuk, dan other couple.

Author : Shania9ranger

~o~

“Hosh…hosh…hosh… untung belum terlambat.” Seorang namja yang bernama Yoochun memasuki kelas 2-A, dan langsung bergegas menuju bangkunya yang ada di sudut ruangan paling belakang.

“Yoochun-ah, kau pasti sudah mengerjakan PR Matematika kan?” Tanya Donghae, teman sebangku Yoochun.

“Tentu saja, aku ini kan anak yang rajin.” Yoochun mengeluarkan buku Matematika dan memamerkannya di depan Donghae.

“Aku pinjam ya?”

“Eits… tunggu dulu! Kau tau kan, di dunia ini tidak ada yang gratis selain udara.”

“Ara-ara, aku akan mentraktirmu makan sepuasnya di kantin nanti.”

“Baguslah kalau kau mengerti, ini.” Yoochun memberikan bukunya kepada Donghae. Secepat kilat Donghae menyambar buku itu lalu menyalinnya dengan cepat.

“Ngomong-ngomong, tumben jam segini Changmin belum datang.” Kata Yoochun melihat ke arah bangku Changmin yang masih kosong. Changmin memang terkenal sangat nakal di sekolah, tapi dia tidak pernah telat datang ke sekolah. Yoochun memandang Donghae yang sibuk menulis, barang kali Donghae akan membalas ucapannya.

“Molla..” Jawab Donghae singkat. “Junsu juga belum datang.” Sambungnya lagi tanpa memandang ke arah Yoochun.

“Ah si ikan lumba-lumba itu kan memang tukang terlambat, aku sudah tidak heran jika dia terlambat.” Ujar Yoochun sambil memainkan ponselnya. Dan Donghae hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.

“SELESAI! Tak percuma aku sering menyalin PR di sekolah, tanganku kini sudah terlatih.” Donghae mengelus-ngelus tangan kanannya bangga. “Eh… itu kan Changmin dan Junsu.” Mata Donghae tidak sengaja menangkap sosok 2 orang sahabatnya yang sedang berlari di lapangan dari jendela tempanya duduk.

“Mana?”

“Itu di lapangan.”

“Ngapain mereka lari mengitari lapangan?” Tanya Yoochun penasaran.

“Entahlah…”

“Selamat pagi anak-anak!” Suara itu sontak membuat seluruh siswa dan siswi kembali kebangkunya masing-masing. Namja paruh baya yang memasuki ruangan itu adalah Shindong seonsaengnim, guru yang mengajarkan bahasa sastra. “Sekarang buka buku kalian, halaman 43.”

“Huh~ membosankan!” Gumam Donghae sambil merebahkan kepalanya diatas meja.

“Ya! Hae, jangan begitu. Kalau Shindong seonsaengnim lihat, dia pasti akan melemparmu dengan penghapus papan tulis.” Yoochun mengguncang-guncang pelan bahu Donghae. ‘Aish… anak ini.’

Sementara itu dilapangan Changmin dan Junsu tengah menyelesaikan hukuman yang Heechul seonsaengnim berikan kepada mereka dengan berat hati dan saling sikut-menyikut menyalahkan satu sama lain.

.

x~o~o~o~x

.

“Capeeeee…” Keluh Junsu yang enggan mengangkat sebelah kakinya. “Panaaaass…”

Saat ini mereka sedang menjalankan hukuman kedua yang di berikan oleh Heechul seonsaengnim, yaitu berdiri dengan satu kaki di tengah lapangan sampai jam istirahat usai. Betapa tersiksanya mereka setelah berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali, dan sekarang mereka harus berjemur di bawah teriknya sinar matahari.

Krucuuuuuuk~

Junsu menoleh kearah Changmin dengan tatapan iba.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Ani, aku hanya kasihan pada perutmu itu.” Junsu menunjuk perut Changmin yang ada di sebelahnya. “Memangnya kau belum sarapan?”

“Aish… sudah. Tapi gara-gara hukuman menyebalkan ini, aku jadi lapar lagi…” Changmin memanyunkan bibirnya.

“Huh… dasar perut monster!”

“Ahh, lebih baik aku pergi saja dari sini.”

“Eh, kau mau kemana?”

“Aku mau bolos, percuma terus berada disini toh kita tidak di izinkan masuk ke kelas kan?”

“Iya, tapi kalau Heechul seonsaengnim sampai tau, dia akan menghukummu lebih berat.”

“Emmm… terserah!”

“Yak! Kau tidak akan bisa keluar dari sini Changmin.”

“Loncat pagar, babo. Kau mau ikut tidak?”

Junsu berpikir sebentar sambil menatap Changmin, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Kau saja, aku tidak berani ambil resiko berhadapan dengan Heechul seonsaengnim lebih dari ini.”

Changmin menganggukkan kepalanya mengerti. “Arraseo, kalau begitu aku pergi dulu. Bye~” Changmin mengambil tas ransel yang di letakkannya di bawah pohon sambil melihat ke kanan dan ke kiri, sepi. Tentu saja halaman sekolah terlihat sepi karna seluruh penghuni sekolah saat ini sedang melakukan aktivitas ngajar-mengajarnya di dalam kelas. Dengan santai ia berjalan menuju tembok yang tidak terlalu tinggi lalu melompatinya.

‘Hup!’

.

x~o~o~o~x

.

Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Tek!

“Hiyaaaa, ayo terus pukul! Sedikit lagi! Aaaah…”

“Kalian masih harus belajar 5 tahun lagi untuk dapat mengalahkanku.” Ujar Changmin sombong. “Mana uang taruhannya? Kalian sudah kalah 10 kali berturut-turut melawanku.”

Ya, disinilah Changmin berada sekarang, Game Center yang terletak di sebuah Mall besar yang ada di pusat kota Seoul.

“Ini!” Salah satu dari mereka maju dan memberikan sejumlah uang kepada Changmin.

“50.000 won, sesuai dengan perjanjian.” Changmin bangkit dari tempat yang ia duduki, lalu melangkah pergi meninggalkan kelima namja yang uangnya habis terkuras oleh dirinya.

“Sial, bagaimana bisa dia mengalahkan kita dengan semudah itu?” Satu diantara mereka mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Siapa namanya tadi?” Tanya yang lain.

“Kalau tidak salah namanya Changmin, Jung Changmin dari SM high school.”

“Kau tenang saja, nanti kita rebut uang itu kembali.”

‘Awas saja kau Jung Changmin.’

.

“Ah… pegal~” Changmin merenggangkan otot-otot tangannya. Bagaimana tidak pegal, dia seharian bermain game tanpa ingat waktu. Changmin melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. “Ommo, sudah jam 4. Aku harus cepat pulang sebelum eomma memarahiku, bisa-bisa dia mengurangi jatah makan malam.”

Changmin segera berlari meninggal tempat tersebut dengan tergesa-gesa. Saat mendekati lift tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang.

BRUUUUUGGGH!

“Auw…” Saking kencangnya, kedua tubuh tersebut saling terpental kesisi yang berlawanan.

“Yak! Kau jalan tidak pakai ma…” Cecar Changmin terputus ketika melihat betapa mempesonanya sosok yang menabrak dirinya tadi. Sesosok namja manis sedang meringis kesakitan dihadapannya. Changmin tanpa sadar terus memperhatikan lekuk wajah namja tersebut. Kulit namja itu berwarna putih pucat namun memberikan kesan halus pada wajahnya. Bulu matanya yang lentik, Hidungnya yang mancung, Rambut ikal kecoklatan, dan yang terakhir serta yang paling membuat dirinya kagum adalah bibir yang semerah buah cherry dan seranum delima. Sungguh sangat menggoda.

‘Ingat Changmin dia itu namja, kau pasti gila jika terpesona dengan seorang namja. Kau masih normal! Kau masih normal! Kau masih normal!’ Batin Changmin di dalam hati.

“G-gwae…gwaenchana?” Ujar Changmin terbata. Entah mengapa ia merasa sangat gugup.

“Ne.” Kemudian namja itu buru-buru membereskan barang belanjaannya yang berhamburan di lantai. Changmin pun tergerak untuk membantunya. Dia meraih sebuah kaset CD yang terlempar cukup jauh.

“Kemana perginya pencuri itu? Kau cari disebelah sana, dan aku akan mencari disebelah sini.”

“Siap Pak!”

Samar-samar Changmin mendengar teriakan pencuri, namun ia tidak menghiraukannya sama sekali. Changmin kembali mendekati namja yang di tabraknya tadi.

“Ini kaset CD milikmu kan.” Changmin mengulurkan tangannya untuk memberikan kaset CD yang di pegangnya. Namja itu menatap tidak percaya. Dia tampak berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba namja itu tersenyum mengerikan atau lebih tepatnya menyeringai jahat.

“Pak Satpam, pencurinya ada disini!” Teriak namja itu kepada salah satu Satpam. Changmin mengerutkan dahinya tanda tak mengerti dengan apa yang di lakukan namja tersebut.

“Mana pencurinya nak?” Tanya Satpam yang sudah mendekat.

“Ini dia Pak pencurinya!” Tunjuk namja itu ke arah Changmin. “Lihat, kaset CD itu ada ditangannya.”

“Mwo?” Changmin terkejut dengan tuduhan namja yang tak dikenalnya itu.

“Oh… jadi ini pencurinya. Ternyata kau masih SMA. Dasar anak nakal, kecil-kecil sudah berani menguntit ya. Ayo cepat ikut denganku!”

“Ta…tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian, kau bisa menjelaskannya nanti di kantor keamanan.”

“Tapi Pak bukan saya yang mencurinya!” Ujar Changmin beruhasa membela diri.

“Mana ada pencuri yang mau mengaku, sudah tangkap saja Pak!” Namja itu berkata dengan sinis.

“Yak! Kau memfitnahku?”

“Sudah-sudah, ayo cepat ikut denganku!”

“Pak sungguh bukan saya yang memcurinya.” Perkataan Changmin tidak dihiraukan olah Pak Satpam dan dia tetap di seret paksa ke kantor keamanan untuk diperiksa.

Changmin sempat berbalik, dia melihat namja itu sedang tersenyum puas sambil mengacungkan jempol ke arahnya.

‘Sialan, jadi dia mengerjaiku. Lihat saja kalau bertemu lagi, akan ku siksa dia!’ Rutuk Changmin di dalam hati.

.

x~o~o~o~x

.

Drrrrt… Drrrrt… Drrrrt…

“Yeoboseo.”

“Kyuhyunnie, kau ada dimana sayang?”

“Aku masih di Mall eomma.”

“Ini sudah sore, ayo cepat pulang!”

“Aku masih mau main~”

“Yak! Hari pertama di Korea, kau langsung keluyuran begini. Bagaimana nanti? Pokoknya kau harus segera pulang sebelum appamu marah, arraseo!”

“Ne…ne…ne…”

Namja itu menghela nafas berat. Baginya repot juga punya orang tua yang terlalu protective, dia jadi merasa tidak bebas karna selalu merasa diawasi setiap saat. Padahal dia masih ingin bermain-main lebih lama di Mall ini, tapi sang eomma yang menurutnya sangat cerewet itu sudah menyuruhnya pulang.

Tidak lama seorang laki-laki berseragam serba hitam datang mendekatinya. “Maaf Tuan muda, nyonya menyuruh kami untuk segera membawa anda lekas pulang.” Ujarnya sambil membungkukan setengah badan.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban dan berjalan mendahului bodyguardnya.

Saat mobil Kyuhyun keluar dari arena parkiran, tidak sengaja matanya menangkap sosok lelaki yang sudah di kerjainya tadi sedang beradu mulut dengan beberapa Satpam.

“Hahahahahaha… namja babo.”

Senang. Ya, Kyuhyun senang karna hari ini ada seseorang yang bisa di jadikan korban atas kenakalannya, yaitu mengutil.

~to be continue~

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s