A Love to Kill

Standar


TIN…

Byulhyun tak sengaja memencet klakson mobil dengan kepalanya karena menginjak rem dengan mendadak. Hampir saja dia menabrak seseorang.

Dia berjalan keluar. Tampak seorang pria dengan pakian jas serba hitam sedang duduk di jalan di depan mobilnya. “Gwaenchanaseumnida?”

“Aniyo. Gwaenchana.” Jawab pria itu.

“Apa ada yang terluka?”

“Obsoseumnida”

“Kalau tiba-tiba ada yang terasa sakit, kau bisa hubungi aku.” Ujar Byulhyun sambil memberikannya kartu nama.

“Kim Byulhyun? Kau masih seorang mahasiswa.”

“Ne.”

“Keurom saya permisi. Saya terburu-buru.”

-=.=-

Byulhyun memasukan mobil ke dalam basement, lalu beranjak memasuki lift. Dia menekan tombol 10. Setelah tiba di lantainya, dia segera keluar dan masuk ke dalam apartemennya. Setelah masuk, dia segera melepas blazer merahnya dan membasuh mukanya di wastafel kamar mandi.

Setelahnya, Byulhyun duduk di sofa. Dia teringat pada namja yang hampir ia tabrak tadi siang. “Apa dia baik-baik saja?”

Memikirkan namja tadi saja, Byulhyun menjadi senang dan senyum senyum tidak jelas. “Aish, kenapa aku jadi memikirkannya?” Katanya sambil menepuk kepalanya pelan.

“Ah, keundae, geu namjaga jinja moshissoyo. Neomu neomu mojyeo.” Ujarnya dengan senyuman. Rasanya dia sedang kasmaran. “Aish, kenapa aku tak menanyakan namanya? Bodohnya aku.”

-=.=-

Byulhyun sedang pergi ke sebuah restoran. Dia melihat pria tempo hari disana. Seketika senyumnya mengembang. Dan dia berjalan mendekati pria tadi.

“Chogi…”

Pria itu mengangkat kepalanya. “O?? Kim Byulhyun-sshi?”

“Ne. Bagaimana keadaanmu? Tidak ada yang sakit, kan?”

“Eobsoyo. Neo…” Pria itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya. “Kau mau bergabung?” Ujarnya pada akhirnya.

“Jinja? Gomawo.” Byulhyun lalu duduk dihadapan pria itu. “Kalau boleh kutahu, siapa namamu?”

Pria yang sedang minum itu mejadi tersedak. Byulhyun jadi panik. “Kalau aku tak boleh tahu, juga tidak apa-apa.”

“Gui Xian imnida.” Jelas pria itu, tapi wajahnya penuh dengan rasa kekhwatiran.

“Gui Xian? Kau bukan orang Korea?”

“Eomma yang orang Korea. Sementara Appa orang Taipe.”

“Aa, araseo! Kau punya nama Korea?”

“Eobsoyo. Mungkin kau mau memeberikan nama Korea untukku?”

“Jinja. Ayo kita cari…” Byulhyun terlihat dalam pemikirannya. “Kyuhyun. Otthe? Kyuhyun?”

Gui Xian terlihat terkejut. “Kyuhyun? Kenapa kau berpikir nama itu cocok untukku?”

“O. Itu terdengar mirip dengan namamu. Dan terdengar bagus. Otthe?”

“Baiklah.”

“Kau mau aku panggil Gui Xian atau Kyuhyun?”

“Terserah padamu. Kau bebas memilih.”

“Mm.. aku panggil Gui Xian saja. Nama Kyuhyun masih tidak resmi. Gwaenchana?”

“Ne.”

“Kau mau pesan makanan?”

“Mm..”

-=.=-

Byulhyun pulang dengan perasaan bahagia. Hingga dia sudah tidak lagi merasa sedih akan kematian ayahnya. Karena Gui Xian sudah menghiburnya. Dia juga sudah melupakan masalahnya bersama Kimmie, mantan pacarnya. Sakit hatinya benar-benar sembuh.

Byulhyun merasakan bahwa dia sedang jatuh cinta dengan Gui Xian. Walau khawatir bahwa Kimmie mungkin akan memaksanya untuk kembali menjadi kekasihnya, dia tak lagi memedulikannya. Yang ia pedulikan bagaimana dia bisa bertemu lagi dengan Gui Xian.

Tapi dia merasa aneh bila ada di dekat Gui Xian. Byulhyun merasa bahwa Gui Xian selalu waspada terhadap sekelilingnya. Dia juga terlihat misterius. Hal itu membuat Byulhyun tidak berani bertanya banyak pada Gui Xian tadi. Tapi ke-miserius-an Gui Xian yang membuat Byulhyun menyukainya.

“Aish… Kim Byulhyun tugas kuliahmu masih banyak. Ayo! Acha acha fighting!!”

Byulhyun mulai membuka buku dan mengerjakan tugas kuliahnya.

-=.=-

Di kampus, setelah mengumpulkan tugasnya, dia berjalan ke kantin. Setelah mengambil pesanannya dan duduk, dia segera memakannya. Tapi tak sengaja dilihatnya Gui Xian berjalan keluar dengan tergesa dari fakultas seni.

Byulhyun segera menghabiskan makanannya. Setelah itu dia berjalan memasuki kelas musik. Dia bertemu dengan Nichan disana, diapun langsung mendekati Nichan.

“Nichan-ya, apa kau kenal di jurusan ini ada mahasiswa bernama Gui Xian?” Tanyanya langsung.

“Byulhyun-ah, kau tahu aku bukan anak seni, kan?”

“Tapi kau sering datang kesini, Chan-ah!!”

“Gui Xian?” Nichan memastikan. “Kurasa tidak ada. Waeyo?”

“Jinja eobso?” Tanya Byulhyun sekali lagi dengan kecewa. “Lalu apa yang ia lakukan disini?”

Nichan melihat jam di tangannya. “Byulhyun-ah, aku harus pergi! Jongwoon Oppa sudah menungguku. Anyeong!!”

Byulhyun menghela nafasnya kecewa. Lalu berjalan keluar. Dia berjalan menuju tempat parkir untuk menaiki mobilnya yang akan membawanya pulang ke rumah. Byulhyun membuka pintunya dan saat melihat kearah depannya, seorang namja tinggi yang sedang ia cari ada di hadapannya. “Gui Xian-sshi!”

Namja itu terlihat menegang sedikit lalu membalikan tubuhnya. Wajah lega terpampang jelas di wajahnya saat mengenali yang memanggilnya adalah Byulhyun. “Anyeonghaseyo, Byulhyun-sshi!”

“Anyeonghaseyo! Sedang apa kau disini?”

Gui Xian terlihat bingung. “Mencari informasi.”

“Informasi apa?”

Gui Xian tampak tegang. Kemudian dia berhasil menguasainya. “Adikku ingin masuk ke Seoul University tahun depan. Jadi aku mencari informasi.”

“Ah, arraso!”

“Keurom, saya permisi. Aku sedang terburu-buru.” Gui Xian permisi kepada Byulhyun.

“Ah baiklah! Aku juga ingin pulang. Sampai jumpa lagi, Gui Xian-sshi!” Ujar Byulhyun dengan senyum.

Gui Xian sedikit terpaku melihat Byulhyun yang tersenyum lebar. “Ne. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Balas Gui Xian dengan senyum yang lebar juga.

Byulhyun sedikit terpesona melihat Gui Xian tersenyum seperti itu. Hingga mobil Gui Xian pergi dari arena lapangan, baru dia tersadar dari lamunannya. Diapun segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya menuju apartemennya.

“Ah!! Senyumnya bisa membuatku gila!!” Ujarnya pada dirinya sendiri setelah masuk ke dalam apartemennya. “Tuhan, kenapa kau bisa menciptakan manusia sempurna seperti dia? A.. dula boli gettne.”

-=.=-

“Ya!! Byulhyun-ah! Kau mendengarkanku tidak?” Tanya Nichan emosi. Sementara Byulhyun masih saja menatap ponselnya. “KIM BYULHYUN!!!”

Byulhyun tersadar. “Mwohaeyo??! Kenapa kau berteriak? Aku tidak tuli!!”

“Salah siapa?? Aku sudah memanggilmu dari tadi. Kau kenapa?”

“Aniya. Aku bingung.”

“Bingung kenapa?” tanya Jongwoon sambil mencomot kentang goreng milik Nichan.

“YA!!” Protes Nichan tak terima.

“Hi babe!!” serunya sambil mengangkat alisnya dan terus mengambili kentang goreng milik Nichan.

“Diamlah! Aku sedang bingung!!” Ujar Byulhyun.

“Wae?” Tanya Nichan sambil menyuapi Jongwoon dengan kentang goreng.

“Bimilyeyo!” ujar Byulhyun penuh teka teki.

“Ayolah Byulhyun-ah. Ceritakan padaku. Ayo cerita!!” Pinta Nichan membujuk Byulhyun.

“Shireo!”

“Shireo wae?”

“Aku tak mau cerita, kalau orang aneh nan gila ini masih ada dihadapanku!” Ujar Byulhyun sambil menunjuk Jongwoon.

“YA!! Kau harus beruntung bisa mengenal, King of Art of Voice Seoul University ini!!”

“Mengenalmu tidak memberi efek apapun padaku.”

“Arrayo. Na ga. Jagiya, aku ke tempat latihan, ya!! Kau mau berlatih tidak, Jagi?”

“Ne. Nanti aku menyusulmu. Materi lagunya sudah kau bawa, kan?”

“Ne. Aku latihan dulu, ya!” Jongwoon berdiri lalu mencium pipi Nichan lalu pergi menggunakan motor sport hitam miliknya.

“Baik. Sekarang dia sudah pergi. Ayo, ceritakan padaku!!”

“Aku baru berkenalan dengan seseorang. Sudah tiga kali aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Aku bingung bagaimana untuk menemuinya lagi.”

“Telepon saja!” Nichan memberi saran.

“Aku tak punya nomor teleponnya. Aku hanya tahu wajah dan namanya saja.”

“Keurom, nuguji?”

“Gui Xian.”

“Ah, namja yang kau cari-cari waktu itu. Keundae, Gui Xian bukan nama Korea. Dia orang cina?”

“Taipe.”

“Ah, keurom nan mollayo, Byulhyun-ah!” ujar Nichan pasrah.

“Aku tau kalau kau tak akan bisa membantuku. Na ga!!”

“Ya! Baiklah! Aku akan pergi latihan menyanyi dengan Jongwoon Oppa!”

“Ya sudah! Sana pergi!! Aku mau ke toko buku. Bye!”

Byulhyun melangkahkan kakinya menjauh dari arena kantin lalu berjalan mendekati mobilnya. Diapun segera melajukan mobilnya menuju toko buku yang biasa ia kunjungi.

Byulhyun memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam toko buku itu.  Dia segera menuju rak buku bagian matematika. Dia mencari buku yang cocok untuk tugas kuliahnya. Setelah mendapat bukunya, dia berjalan melihat buku-buka yang ada.

Tapi di bagian rak fiksi dia melihat sosok yang sangat ingin ia temui. Gui Xian. Dia langsung mendekati Gui Xian.

“Gui Xian-sshi…” Panggil Byulhyun sedikit berbesik.

Gui Xian menoleh. Dia tersenyum setelah melihat bahwa gadis yang memanggilnya adalah Byulhyun. “Ah, senang bisa bertemu denganmu lagi, Byulhyun-sshi!”

“Kau sedang mencari buku?”

“Mm.. Aku hanya ingin mencari buku untuk pengalamanku dan sumber latihanku.”

“Oh. Boleh aku lihat bukunya?”

Gui Xian menunjukan buku-buku yang ia pilih. Byulhyun melihatnya. Buku-buku itu bergenre misteri, penyamaran, detektif, dan pembunuhan dari sisi penjahatnya.

“Kau suka membaca buku-buku seperti ini?”

“Mm… untuk menambah pengetahuanku sekaligus untuk bahan uji coba. Lumayan untuk rencanaku selanjutnya.” Terang Gui Xian.

“Maksudmu?” Tanya Byulhyun tak mengerti. “Rencana apa?”

“Mwo?” Tanya Gui Xian balik. “Dwaesso.”

“Huh?” Byulhyun semakin tak mengerti.

“Jangan dengarkan apa yang aku katakan. Otakku sedang banyak pikiran. Jadi, banyak sikapku yang lepas kendali bahkan hingga aku sendiri tidak mengerti.”

“Aa… Pemaksaan kinerja otak? Jangan terlalu memforsir diri.”

“Ne. Aku juga sedang mencoba menurunkan kinerja otakku. Kau sudah selesai? Aku mau ke kasir.”

“O. Aku cukup membeli buku ini saja.”

Gui Xian dan Byulhyun berjalan berdampingan menuju kasir. Selesai membayar Byulhyun mengajak Gui Xian untuk mampir di restoran kecil yang ada di sebelah toko buku.

“Gui Xian-sshi, bisakah aku meminta nomor ponselmu?” Pinta Byulhyun.

“Aku sering ganti nomor. Dan mungkin kau akan sulit untuk menghubungiku.” Elaknya.

Byulhyun mendesah kecewa lalu meminum jus jeruknya. Byulhyun memakan makanannya agak cepat. Gui Xian hanya melihat Byulhyun sambil tersenyum kecil. Entah kenapa, untuk dirinya, berada di sebelah Byulhyun menghadirkan rasa kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Dia juga merasakan kenyamanan saat ada di samping Byulhyun.

Sudah lama ia tak merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam hatinya. Tapi saat ia berada disamping Byulhyun, dia bisa merasakan kenyamanan dan kedamaian itu. Walau dia sadar berdekatan dengan Byulhyun akan membawanya dalam bahaya..

-=.=-

Byulhyun sedang berbaring. Dia melihat sebuah buku yang ada ditangannya. ‘Cinta sang Pembunuh’. Buku itu adalah pemberian Gui Xian tadi sore.

‘Buku ini bercerita tentang pembunuh yang jatuh cinta dengan anak orang yang ia bunuh.’

Itu adalah inti cerita buku ini kata Gui Xian. Byulhyun membuka buku itu dan mulai membacanya.

Tak lama, dia merasakan getar dari ponselnya. Byulhyun meraih ponsel itu dan membuka pesan yang baru saja masuk.

From          : 010-653XXXX

Bagaimana buku yang baru saja aku berikan? Apakah kau sudah membacanya?

Byulhyun mengernyitkan dahinya heran. “Buku? Apa ini Gui Xian?” Byulhyun langsung semangat mengetikan beberapa kata di layar datar ponselnya.

From          : Byulhyun

Apa ini Gui Xian? Aku baru saja membacanya. Sepertinya jalan cerita novel ini sangat menarik. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Gomawo atas bukunya. J

Byulhyun menunggu balasan Gui Xian. Dan setelahnya mereka melanjutkan bertukar sms satu sama lain. Dari membicarakan buku hingga ke masalah sepele. Hingga pagi menjelang, Byulhyun tidak lelah ber-sms-an dengan Gui Xian.

From          : Byulhyun.

Sudah dulu, ya! Aku harus bersiap untuk kuliah hari ini.

Byulhyun meninggalkan ponselnya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Byulhyun langsung mengambil ponselnya.

From          : Gui Xian.

Baiklah. Semoga lancar kuliah hari ini. Fighting!!  JJ

Byulhyun semakin semangat mengikuti kuliah. Dia tak henti-hentinya tersenyum. Nichan menjadi heran dengan sikap Byulhyun itu.

“YA!! Kau kenapa, huh? Senyum-senyum terus. Kau tak kasihan pada urat senyummu?”

“Aniya…” Jawab Byulhyun lalu tersenyum lagi.

“Aku bisa gila menghadapimu!!” Ujar Nichan

“Byulhyun-ah! Kau gila, huh? Makanya! Jangan masuk jurusan matematika! Gila, kan, jadinya!!” Jongwoon ikut menimbrung.

“Apa hubungannya dengan jurusanku?” Protes Byulhyun.

“Lalu apa lagi??” Jongwoon dan Nichan bertanya bersamaan.

“Bimilyeyo.” Ujar Byulhyun lalu mengambil ponselnya dan mengetikan sms.

From          : Gui Xian.

Anyeong, Gui Xian!! Bagaimana harimu? Apa aktifitasmu lancar?

Byulhyun menaruh ponselnya. Ditunggunya balasan dari Gui Xian. Tapi tak juga ponsel itu menandakan akan mendapat balasan sms dari Gui Xian. Byulhyun menghela nafas dan menggerutu pelan.

“Byulhyun-ah, kukira kau benar-benar gila sekarang. Tadi kau sanyam-senyum sekarang kau menggerutu. Kkoma-ya, kau jangan dekat-dekat dengan Byulhyun. Nanti kau ikut gila!”

Byulhyun menjitak kepala Jongwoon cukup keras. “Yang ada, Nichan akan gila bila terus bersamamu!”

“Tapi Jongwoon Oppa benar.” Nichan membenarkan Jongwoon.

“YA!! Kenapa sekarang kau membelanya?” Protes Byulhyun.

“Sebenarnya kau kenapa?”

“Gui Xian.”

“Gui Xian? Apa itu?” Tanya Jongwoon tak mengerti.

“Ah, Oppa. Rupanya Byulhyun sedang jatuh cinta.” Ujar Nichan.

“Mwo? Gui Xian nama seorang namja?”

“Neo jinja babo gateun saram!” Hardik Nichan. “Tentu saja nama namja.”

“Kalian ini berisik sekali? Lebih baik kalian ke studio menyanyi dan menyanyi sesuka kalian.” Ujar Byulhyun.

“Ah… membicarakan menyanyi, bagaimana kalau kau melihat kolaborasi lagu kami yang baru? Kau mau tidak?” Tawar Nichan.

“Shireo. Aku mau pulang saja!” ujar Byulhyun lalu melangkah menjauhi singing couple itu.

“Sinis sekali dia.” Komentar Jongwoon yang melihat Byulhyun berjalan menjauh. Tak sengaja dia melihat ponsel Byulhyun yang masih ada di atas meja.

“Dia pakai Galaxy S2? Kenapa aku tidak tahu, ya?”

Nichan memukul kepala Jongwoon pelan. “Itu karena kau tidak pernah memperhatikan sekitarmu!”

Setelah mengambil ponsel Byulhyun dari tangan Jongwoon, Nichan berjalan mendekati Byulhyun dengan sedikit berlari. “Byulhyun-ah! Ponselmu ketinggalan!!”

“Oh? Gomapta!” Ujar Byulhyun

-=.=-

Dirumah Byulhyun masih saja menantikan balasan sms dari Gui Xian. Tapi Gui Xian tak juga memberikan balasan sms.

Hingga esok harinya, balasan dari Gui Xian juga belum Byulhyun dapatkan. Hingga membuat Byulhyun menjadi tidak semangat selama mengikuti kuliah hari ini.

“Byulhyun-ah, kau kenapa lagi hari ini? Tidak semangat sekali.” Nichan memberi komentar.

“Molla.” Jawab Byulhyun singkat lalu berjalan menjauh. Meninggalkan Nichan bingung menghadapi sikapnya.

-=.=-

Sudah delapan hari Gui Xian tidak mengirimi Byulhyun sms. Byulhyun merasa khawatir. Dia sering mengirim sms pada Gui Xian. Byulhyun juga pernah memberanikan diri untuk meneleponnya, tapi nomor Gui Xian tidak aktif.

“Sebenarnya dia kemana?” Tanya Byulhyun bingung pada dirinya sendiri.

Tak lama ponselnya bordering. Dengan malas diambilnya ponsel miliknya. Di lihat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Byulhyun membuka pesan itu.

From          : 010-378XXXX

Anyeong!! Maaf tidak menghubungimu selama ini. Aku sedang sibuk. Bagaimana kabarmu, Byulhyun-ah?

Byulhyun mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu siapa yang mengiriminya. Tapi tak lama, Byulhyun berpikir bahwa dia adalah Gui Xian.

From          : Byulhyun.

Apa ini Gui Xian? Kalau iya, kabarku baik sekali. Bagaimana denganmu?

Byulhyun menekan tombol kirim di layar ponselnya. Dia merasa senang karena Gui Xian mengiriminya sms. Tak berapa lama, sebuh pesan baru masuk di ponselnya lagi.

From          : 010-378XXXX

Ne. Aku Gui Xian. Kabarku baik sekali. Sudah lama tidak bertemu, ya? Mau bertemu denganku besok?

Byulhyun langsung berteriak histeris karena senang. Dia segera membalas sms itu.

From          : Byulhyun.

Keuromyo. Kita bertemu dimana?

Byulhyun memandangi layar ponselnya. Tak sabar menunggu balasan dari Gui Xian. Ponselnya berdering, dia langsung membukanya. Betapa kesalnya dia, melihat pesan masuk yang dia dapat adalah dari Nichan. Tak dihiraukan pesan dari Nichan. Dan terus menunggu pesan balasan dari Gui Xian.

Lagu Super Junior – Good Friends mulai terdengar. Byulhyun melihat ponselnya. Gui Xian menelepon. Dia langsung mengangkatnya.

“Yoboseo.” Ujar Byulhyun dengan menahan senyum bahagia.

“Yoboseo, Byulhyun-ah. Besok kau mau bertemu?” Tawar Gui Xian langsung.

“Ne. Eodiyeyo? Eonje?”

“Bagaimana kalau besok siang di restoran kecil di sebelah toko buku waktu itu? Otthae?”

“Mm… Aku hanya bisa sekitar jam empat hingga setengah enam sore.”

“Arraseo. Bisa jam setengah lima, kan?”

“O.”

“Keurom, kita bertemu jam setengah lima besok di restoran kecil itu. Deal?”

“Ok.”

Byulhyun mengakhiri teleponnya dengan Gui Xian. Dia berteriak histeris. Tapi kemudian Byulhyun sadar bila ‘aktifitas’-nya itu menganggu para tetangganya. Byulhyun mulai membayangkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Gui Xian nanti

-=.=-

“Maaf aku terlambat. Sudah lama menunggu?” Tanya Gui Xian.

“Lumayan. Silahkan duduk.” Byulhyun membalas.

“Gomapta.”

“Kau membawa apa saja itu?” Tanya Byulhyun heran dengan tas Gui Xian yang sangat besar.

“Um.. Hanya beberapa barang bekas.” Jelasnya singkat.

“Oh. Kau mau pesan apa?”

“Sama sepertimu saja.”

“Chankaman.” Byulhyun memesankan makanannya. “Tumben, ya, kita bertemu dengan janji. Biasanya tidak pernah. Hanya kebetulan saja.”

“Ne.” Ujar Gui Xian dengan sedikit senyuman.

“Untuk apa kau meminta bertemu seperti ini?” Tanya Byulhyun.

Gui Xian kaget. “Kau bertanya seperti itu seperti kau tidak suka dengan pertemuan ini.”

“Animida. Bukan maksudku bertanya karena aku tidak suka. Aku hanya heran saja. Untuk pertama kalinya kau mengajaku bertemu. Padahal waktu itu, kau menolak untuk memberi nomor ponselmu. Itu saja.” Jelas Byulhyun.

“Oh… Aku hanya ingin meminta maaf karena tidak membalas smsmu selama beberapa hari ini.”

“Oh.”

“Kyuhyun-ah!!” Panggil seorang gadis.

Gui Xian terpaku diam membeku. Byulhyun yang melihatnya jadi khawatir. “Gui Xian, gwaenchanayo?”

“Gui Xian?” Tanya gadis itu pada Byulhyun.

“Mm… Dia adalah Gui Xian.”

Gadis itu menatap Gui Xian tak percaya. Gadis itu mengambil tangan kiri Gui Xian dan mengamati pergelangan tangan itu. Ada sebuah tato kecil di situ. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya gadis itu marah.

“Neo nuguya? Kenapa kau datang dan marah-marah?” Tanya Byulhyun setelah berdiri menghadapi gadis itu.

Gui Xia menarik tangan Byulhyun agar duduk kembali di kursinya. “Hyera-ya, kumohon tenanglah!”

“Kau mengenal gadis itu?” Tanya Byulhyun.

“Aku mantan kekasihnya. Shin Hyera imnida.” Ujar gadis itu lalu duduk berhadap-hadapan dengan Gui Xian.

Byulhyun menatap Gui Xian menuntut penjelasan. Tapi Gui Xian hanya mengangguk-angguk kecil. Byulhyun melirik kesal ke arah Hyera.

“Untuk apa kau di sini? Bukankah kau ada di Luxemburg?” Tanya Gui Xian.

“Kau lupa kalau aku adalah anggota terbaik?” katanya sambil menunjukan tato yang sama dengan milik Gui Xian. Yang membuat berbeda adalah jumlah bintangnya. Milik Hyera berbintang lima. Semantara Gui Xian hanya berbintang empat. “Tugasku sudah selesai. Dengan cepat dan bersih.”

“Arraseo.”

“Lalu siapa nona manis ini, Kyuhyun-ah?” Tanya Hyera sambil menatap Byulhyun sinis. “Apa hubunganmu dengannya? Apa dia apel diatas kepala?”

“Kyuhyun? Apa maksudnya?” Tanya Byulhyun tak mengerti.

“Hoho. Jadi kau tak tahu kalau nama namja yang kau panggil Gui Xian adalah Cho Kyuhyun?”

Byulhyun menatap Gui Xian tak percaya. Gui Xian hanya menundukan kepalanya dalam-dalam. Byulhyun menghela nafas lalu berjalan pergi.

Gui Xian berdiri dan hendak menyusul Byulhyun. Hyera ikut berdiri dan mencegah Gui Xian. “Kau tahu, akan sangat berbahaya kalau kau berhubungan dengan orang lain. Ini bisa membahayakanmu dan juga membahayakan gadis itu.”

Gui Xian menatap Hyera tajam. “Aku tak peduli!” Ujarnya dingin lalu berjalan mengejar Byulhyun.

“Byulhyun-ah! Chankaman!” Ujar Gui Xian.

Byulhyun berhenti dan menoleh menatap Gui Xian. Matanya merah dan penuh airmata. “Mau apa lagi? Kau mau berbohong soal apa lagi, Gui Xian? Atau aku perlu memanggilmu dengan Kyuhyun?”

Gui Xian berjalan mendekati Byulhyun dan langsung memeluk Byulhyun. “Mianhae. Bukan maksudku untuk membohongimu!”

Byulhyun meronta ingin melepas pelukannya dari dia. Tapi Gui Xian tetap memeluk Byulhyun dengan erat. “Mianhae.”

“Kau mau apa lagi? Tak cukup kau membohongiku? Kau datang seenaknya dalam hidupku. Kau membuat aku mencintaimu. Dan setelah itu, seseorang datang dan memberitahuku yang sebenarnya. Dan kau kini dengan mudahnya ingin meminta maaf?” Tanya Byulhyun dengan terisak.

“Kau mencintaiku?” Tanya Gui Xian tak percaya.

“Aku mencintaimu dalam kebohongan.” Ujar Byulhyun sambil mengangis dan memukuli punggung Gui Xian.

“Kau benar-benar mencintaiku?” tanya Gui Xian lagi sambil menitikan airmata.

“Aku mencitaimu dasar kau laki-laki kejam. Neo jinja nappeun namja.” Ujar Byulhyun sambil tetap memukuli punggung Gui Xian.

“Nado saranghaeyo, Kim Byulhyun.” Ujar Gui Xian. Byulhyun langsung diam membeku.

Gui Xian menggerakan kepalanya agar bisa melihat wajah Byulhyun. Dia langusng mencium Byulhyun lembut. Awalnya, Byulhyun hanya diam saja. Namun, akhirnya Byulhyun membalas ciuman Gui Xian.

Di belakang mereka, Hyera melihat adegan itu. Hyera yang masih mencintai Gui Xian menjadi cemburu melihat Gui Xian berciuman dengan gadis lain.

“Kim Byulhyun? Kita lihat seberapa tangguh gadis itu. Apa kau akan tetap bertahan dengan apa yang akan aku lakukan?”

-=.=-

Mobil Kyuhyun berhenti di depan gedung apartemen Byulhyun. Mereka saling diam. “Byulhyun-ah, kalau waktunya tepat, aku akan memberitahumu semuanya.”

“Arraseo.”

“Byulhyun-ah…”

“Ne?”

“Kita ini berpacaran tidak?” tanya Kyuhyun.

“Molla.” Jawab Byulhyun singkat.

“Nado molla.” Timpal Kyuhyun. “Kita mengungkapkan perasaan masing-masing dan kita berciuman. Keurom, kita ini memiliki hubungan apa?”

“Mollayo. Aku saja tak tahu harus memanggilmu Kyuhyun atau Gui Xian.”

“Panggil saja Kyuhyun. Gui Xian nama yang tidak resmi.”

Byulhyun terkekeh mendengarnya. “Terserah kau menyebut hubungan kita dengan apa. Aku sendiri tak tahu.”

Kyuhyun terdiam. Lalu mencium kening Byulhyun. “Tak penting sebutan untuk hubungan kita. Yang terpenting kau dan aku adalah orang yang ditakdirkan untuk bersama karena saling mencintai. Arraseo?”

“Arreta!!”

“Sudah. Sana masuk!!”

“Mm… Aku pulang dulu!”

“Jaljayo…”

“Neodo. Anyeong!”

-=.=-

Byulhyun duduk di kantin sendiri. Dia melihat Nichan berjalan mendekatinya dengan merangkul tangan kiri Jongwoon. Tapi Nichan terlihat sesekali mencubit perut dan pipi Jongwoon karena kesal. Jongwoon yang sedang membawa nampan pesanan terlihat menjaga agar nampan itu tidak jatuh dengan susah payah. Byulhyun yang melihatnya hanya tersenyum.

“Kalian kenapa?” Tanya Byulhyun setelah mereka berdua duduk dihadapannya.

“Kenapa apanya?” Tanya Nichan tak mengerti sambil memasukan sesendok eskrim ke dalam mulutnya. Lalu menyuapi sesendok untuk Jongwoon.

“Dwaesso!” Ujar Byulhyun jengah melihat Nichan menyuapi dak gang jung untuk Jongwoon, sementara Jongwoon menyuapi eskrim vanilla pada Nichan.

Byulhyun mengambil ponsel dan memainkan angry birds. Tak lama dia merasakan pipinya dicium seseorang. Byulhyun memegangi pipinya. Dia melihat Nichan dan Jongwoon menatapnya tak percaya. Dia menoleh ke samping.

“Kyuhyun-ah!”

“Anyeong!” Kyuhyun menyapa Byulhyun.

“Byulhyun-ah, nuguji?” Tanya Nichan berbisik.

“Ah… Chosohamnida. Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun memperkenalkan diri.

“Kalian berpacaran?” Tanya Nichan bingung.

“Bisa dibilang begitu.” Ujar Byulhyun.

“Keurom, Gui Xian otthe? Bukankah kau menyukai Gui Xian?”

Byulhyun dan Kyuhyun saling pandang lalu mereka tertawa. Sementara Nichan dan Jongwoon menatap mereka bingung.

“Mwohaeyo? Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa?” Tanya Nichan bingung.

“Gui Xian itu nama samaran. Nama aslinya adalah Cho Kyuhyun.”

“Bukankah namja ini Cho Kyuhyun?” Tanya Yesung sambil menunjuk Kyuhyun dengan bingung.

Byulhyun tersenyum. “Dia itu Cho Kyuhyun sekaligus Gui Xian.”

“Oh.” Ujar Nichan dan Jongwoon singkat.

Ponsel Jongwoon berdering. Dia segera membuka ponselnya. Sebuah pesan masuk baru dia dapatkan. Jongwoon segera membacanya dan membalas pesan itu dengan cepat.

“Kkoma-ya, Dongwook Hyung menyuruh kita untuk datang. Katanya ada masalah dengan lagu rekaman kita kemarin.”

“Jinja? Masalah apa? Kemarin kita sudah mendengar hasilnya dan hasilnya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Dan saat aku memberikan hasilnya pada Dongwook Hyung, dia sudah mendengarnya dan mengatakan hasilnya sangat baik.”

“Mollayo. Dongwook Hyung hanya menyuruh datang karena ada masalah dengan lagunya. Lebih baik kita bergegas. Kajja!” Jongwoon berdiri memberikan uluran tangan pada Nichan. Dan Nichan mengambil uluran tangan Jongwoon. Mereka berlari kecil sambil bergandengan tangan.

“Mereka berpacaran?”

“Mm…”  Byulhyun bergumam lalu mengangguk.

“Mereka sangat berbeda.”

“Tidak juga. Lima puluh persen mereka berbeda. Dan lima puluh persennya lagi mereka itu sama.”

“Nama gadis itu Kkoma?”

“Aniya. Jongwoon Oppa memanggilnya Kkoma karena Nichan itu sangat kekanak-kanakan.” Byulhyun menjelaskan.

“Tapi, yang aku lihat tadi, Nichan terlihat lebih dewasa. Justru Jongwoon yang kekanak-kanakan. Lihta saja, dia memesan eskrim.”

“Eskrim itu Nichan yang pesan. Mereka itu berkepribadian ganda. Butuh waktu lama agar bisa mengenal mereka dengan baik. Kalau baru lima kali atau enam kali, kau baru melihat sebagian kecil dari kepribadian mereka. Sudahlah, jangan bicarakan mereka lagi. Tak akan ada habisnya.”

“Hahaha. Arraseo. Arraseo.”

“Kau mau?” Tanya Byulhyun sambil menunjukan daging dengan sumpit. Kyuhyun mengangguk lalu membuka mulutnya. Byulhyun memasukan daging itu ke dalam mulut Kyuhyun.

“ Makanan disini enak juga. Apa jajangmyun disini enak?”

“Tentu saja. Walau ini hanya kantin, tapi rasanya setara dengan restoran.”

“Arraseo. Ayo, sekarang gantian aku yang menyuapimu.” Kyuhyun mengambil sumpit itu dan menyuapi daging untuk Byulhyun.

“Hyunie-ah!” Panggil seseorang.

Byulhyun dan Kyuhyun menoleh ke arah orang yang memanggil Byulhyun itu. Melihat siapa yang memanggil, wajah Byulhyun berubah kesal.

“Kau bersama siapa?” Tanya dia.

“Apa urusanmu?” Tanya Byulhyun sinis. Byulhyun berdiri lalu menggandeng Kyuhyun untuk berjalan menjauh.

“YA!! Kim Byulhyun!” Pria itu menarik lengan Byulhyun dengan kasar hingga Byulhyun merintih kesakitan.

Kyuhyun menarik pria itu dengan kasar untuk menjauh. “YA!! Jangan main kasar!”

“Kau siapa, huh?”

“Aku kekasihnya!” Tegas Kyuhyun.

“Jadi kau berselingkuh?” Tanya pria itu. Kyuhyun mengernyitkan dahinya dan menatap Byulhyun menuntut penjelasan.

“Kimmie-ya, hubungan kita sudah berakhir dua bulan yang lalu!”

“Mwo? Tapi aku sudah memintamu untuk kembali menjadi kekasihku!!”

“Dan aku menolakmu! Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi! Aku membencimu!” Ujar Byulhyun lalu menarik Kyuhyun menjauh.

“Tadi itu mantan kekasihmu yang kau ceritakan padamu dulu?” Tanya Kyuhyun setelah mereka duduk di dalam mobil milik Kyuhyun.

Byulhyun mengangguk. “Kuharap dia akan berhenti mengangguku.”

“Dia akan berhenti. Tenang saja.”

-=.=-

Kimmie masih ada di dalam kampus. Saat dia berjalan menuju tempat parkir, dia tidak menemukan mobilnya. Dia berkeliling kampus mencari mobilnya. Dan dia menemukan mobilnya ada di dekat gudang kampus.

Kimmie membuka pintu mobilnya. Bau amis khas darah langsung tercium dari dalam mobilnya. Kimmie menyalakan lampu. Dia terkejut melihat jok mobilnya dipenuhi bercak darah. Ada sebuah mayat di jok belakang mobilnya.

Kimmie beralih membuka pintu belakang. Di lihatnya wajah Dongju sangat pucat. Dia sedikit senang melihat Dongju terbujur tak berdaya. Memang Dongju adalah musuh terbesarnya saat ini.

Dia mengambil sebilah pisau yang masih tertancap di perutnya. Dia menusukan pisau itu lagi di leher Dongju. Kimmie tertawa puas.

“Jatuhkan pisau itu! Dan taruh tanganku di belakang kepala!”

Kimmie tercengang. Dia melepas pisau itu. Dia keluar dari mobil. Dia memutar badannya perlahan. Dan pemandangan segeromobolan polisi menodongkan pistol ke arahnya.

Dua orang polisi maju dan memborgol Kimmie. “Kau ditahan karena masalah pembunuhan atas mahasiswa bernama Moon Dongju.” Kemudian Kimmie diseret masuk ke dalam mobil polisi

Di belakang itu semua, seorang pria bertubuh tinggi bersembunyi di balik kegelapan. Dia mengeluarkan smirk melihat Kimmie diborgol dan dibawa pergi menggunakan mobil polisi.

-=.=-

“Byulhyun-ah, kau sudah tahu?” Tanya Nichan setelah melihat Byulhyun duduk di hadapannya di dalam perpustakaan.

“Tahu tentang apa?”

“Kimmie.”

“Sudahlah. Aku tak ingin membicarakannya lagi.” Ujarnya jengah.

“Aniya. Ini beda. Kau tak akan percaya.”

“Kimmie wae?”

“Dia di bawa ke kantor polisi karena membunuh Dongju.”

“Dia membunuh Dongju?” Tanya Byulhyun tak percaya.

“Ne.”

“ Tak kusangka dia tega membunuh Dongju.”

“Nado. Tapi melihat hubungannya dengan Dongju kurasa hal itu bisa saja terjadi.”

“Ya, setidaknya tidak akan ada yang mengangguku lagi. Oh ya, tumben kau tidak bersama Jongwoon Oppa. Dia kemana?”

“Rekaman untuk iklan.”

-=.=-

Sudah lima bulan Byulhyun dan Kyuhyun menjadi pasangan kekasih. Mereka juga sering melakukan double date bersama Nichan dan Jongwoon. Seperti yang mereka lakukan saat ini. Melakukan double date disebuah restoran kecil di mall seperti yang biasa mereka lakukan.

“Setelah ini, apa acara kita?” Tanya Byulhyun.

“Nonton bioskop!” Seru Nichan dan Jongwoon bersamaan.

“Kalian saja! Setiap kita bertemu pasti makan disini, kemudian membeli es krim dan dilanjutkan  menonton film. Kalian tidak bosan?” Tanya Byulhyun jengah.

Nichan dan Jongwoon kompak menggelengkan kepala mereka. “Ayolah. Aku dan Jongwoon Oppa sudah sering melakukannya.”

“Shirende. Aku sudah bosan dengan bioskop.”

“Kyuhyun-ah kau mau ikut tidak? Sedang ada film bagus.” Tanya Jongwoon.

“Lebih baik pulang dan bertanding game.”

“Ya sudah! Oppa, ayo kita ke bioskop saja sendiri!” Pinta Nichan manja.

“Ayo.”

“Beli eskrim dulu, ya!”

“Ya! Nichan-ah, kau tak punya menu lain selain eskrim, huh?” Tanya Kyuhyun.

Nichan hanya terkekeh. Selesai Jongwoon membayar, Nichan dan Jongwoon pergi berdua. Kini tinggal Byulhyun dan Kyuhyun yang masih ada di restoran itu.

“Lalu, kita mau apa?” Tanya Byulhyun bingung. Kyuhyun hanya mengangkat bahunya. Tak lama ponsel Kyuhyun bordering. Kyuhyun langsung mengangkat telepon itu.

“Hyun-ah, aku harus pergi sekarang.”

“Neo eoddiga?”

“Sunbaenim meneleponku untuk segera datang menemuinya.”

“Arraseo! Jalga!”

“O. Kau ikut dengan Nichan saja.”

“Aniya. Kau mau aku jadi nyamuk? Lagi pula bosan juga nonton di bioskop. Aku pulang saja.” Jelas Byulhyun.

“Arraseo. Aku antar kau pulang dulu. Ayo!”

-=.=-

Sudah satu minggu berlalu semenjak hari itu, Kyuhyun tak lagi mengabari Byulhyun. Kyuhyun bak menghilang di telan bumi.

“Byulhyun-ah, jangan sedih lagi.”

“Dia tidak berniat meninggalkanku, kan, Nichan-ah?” Tanya Byulhyun pasrah.

Nichan beranjak memeluk Byulhyun. “Dia sangat mencitaimu. Dia tidak mungkin meninggalkanmu. Mungkin dia ada urusan penting.”

“Kkoma, kita sudah di tunggu Kang Saem di studio.” Ujar Jongwoon.

“Ya sudah. Byulhyun-ah, kau jangan sedih lagi!” Ujar Nichan. Byulhyun mengangguk. Nichan dan Jongwoon langsung pergi ke studio, tampat mereka berlatih menyanyi.

Byulhyun melangkahkan kakinya menuju halte bus di dekat kampusnya. Saat menunggu bus, dia mencoba mengirim Kyuhyun sms lagi. Tapi Byulhyun juga tetap tidak mendapat balasan.

Byulhyun hanya menghela nafas lalu naik ke dalam bus. Setelah berhenti di halte berikutnya, Byulhyun turun. Dia menunggu bus yang kedua yang akan mengantar ke apartemennya.

Tapi saat dia melihat di seberang, dia melihat Kyuhyun sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Byulhyun hendak menyeberang, tapi lempu penyebrangan belum hijau.

Tak lama, sebuah mobil berhenti di samping Kyuhyun. Seorang gadis keluar dari mobil itu, yang Byulhyun kenali sebagai Hyera.

Dapat dilihat, Hyera memegang lengan Kyuhyun. Byulhyun mendengus kesal karena cemburu. Tapi setelah melihat Kyuhyun menepis tangan Hyera, Byulhyun tersenyum kecil.

Byulhyun melihat mereka sedikit berargumen. Dan akhirnya Kyuhyun masuk  ke dalam mobil Hyera. Dan sedetik kemudian, mobil Hyera melaju di tengah jalanan Seoul.

Byulhyun memanggil sebuah taksi. Dan segera masuk ke dalam taksi itu. “Tolong ikuti mobil sedan merah di depan.”

-=.=-

“Kyuhyun-ah!” Panggil Hyera.

Kyuhyun merasa jengah dan meninggalkan Hyera. Tapi Hyera menarik lengan Kyuhyun, memaksanya untuk tetap tinggal.

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Dan aku tidak. Permisi.”

“Dengarkan aku dulu!”

“Kalau kau tidak keberatan, aku menolaknya. Aku sedang sibuk.” Ujar Kyuhyun lalu melangkah menjauh.

“Ini tentang Byulhyun.”

Kyuhyun langsung berhenti dan menoleh kembali menatap Hyera. “Apa yang ingin kau katakan? Kenapa ada sangkut pautnya dengan Byulhyun?” Tanya Kyuhyun dingin.

“Aku akan mengatakannya di tempat bekas basecamp kita.” Jawab Hyera.

Hyera dan Kyuhyun masuk kedalam mobil. Hyera langsung menjalankan mobilnya menuju basecamp. Basecamp itu cukup jauh dan terletak di daerah yang sepi. Hyera memakirkan mobilnya di depan lapangan kosong dan melanjutkan dengan jalan kaki.

-=.=-

Sementara di belakang mereka, Byulhyun masih mengikuti mereka. Byulhyun mengikuti mereka hingga tiba di sebuah bangunan bekas terbakar. “Untuk apa mereka kesini?”

Byulhyun memasuki gedung itu. Saat mereka menaiki tangga, Byulhyun melepas sepatunya supaya tidak menimbulkan suara.

Setelah di lantai lima, Byulhyun bersembunyi untuk mencuri dengar pembicaraan antara Kyuhyun dan Hyera.

-=.=-

“Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!” Perintah Kyuhyun.

“Kenapa kau menjalin hubungan dengan orang lain?”

“Tersarah padaku! Apa hakmu melarangku?”

“Kau tahu, kan, bila ketua tidak mengijinkan kita menjalin hubungan dengan orang lain?”

“Apa pedulimu? Itu urusanku!”

“Kau tak memikirkan perasaanya kalau dia tahu, kau anggota pembunuh bayaran?” Tanya Hyera dingin.

Kyuhyun terdiam.

“Lalu apa alasan kau membunuh Moon Dongju dan membuat situasi seolah-olah Kimmie yang sudah membunuh Moon Dongju juga karena Kimmie yang terlalu sering mengganggu Byulhyun?”

“Sekali tepuk dua nyamuk mati di tangan. Moon Dongju mati seperti yang ketua perintahkan dan Kimmie bisa berhenti menganggu Byulhyun.”

“Tapi bukan kau yang diperintahkan oleh Ketua untuk membunuh Moon Dongju. Tapi sekarang itu tidak penting. Apa kau masih ingat pria saingan ayahmu yang kau bunuh delapan bulan lalu?”

“Keuromyo.”

“Kau membunuhnya untuk mendapat pengakuan dari ayahmu karena berhasil menyingkirkan saingannya. Tapi apa kau mendapat pengakuan dari ayahmu?”

Kyuhyun terdiam.

“Aniyo? Kasihan sekali kau.”

“Itu semua tak ada hubungannya denganmu!”

“Memang tidak. Tapi ada hubungannya dengan Byulhyun.”

“Mwo?”

“Neo. Lebih baik kau tak membunuh saingan ayahmu itu. Dan kau seharusnya memeriksa keluarga sasaranmu juga.”

“Wae?”

“Karena kau sudah membuat Byulhyun sedih.”

“Wae? Apa hubungannya?”

“Karena membunuh pria itu berarti kau membunuh ayah Byulhyun. Pria yang kau bunuh itu, Lee Jaeshim, dia adalah ayah Byulhyun.”

“Mwo?” Kyuhyun shock.

PRAK…

Kyuhyun dan Hyera sama-sama menoleh. Betapa terkejutnya Kyuhyun melihat Byulhyun berdiri dengan wajah shock.

“Byulhyun-ah?”

“Benarkah itu? Benarkah kau yang membunuh ayahku?”

“Biarkan aku jelaskan dulu…” Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekat dan memegang lengan Byulhyun.

“Manchijima! Menjauh dariku!” Ujar Byulhyun dingin. Kyuhyun mundur menjauhi Byulhyun. “Malhaeyo!! Apa kau yang membunuh ayahku?”

“Aku memang membunuh Lee Jaeshim, tapi aku tak tahu…” Ucapan Kyuhyun  terhenti karena Byulhyun sudah beranjak menjauh.

“Byulhyun-ah!!” Kyuhyun hendak mengejar Byulhyun tapi dicegah oleh Hyera.

“Kenapa kau tidak membiarkan dia pergi? Apa dia mau menerimamu lagi setelah dia tahu semuanya?”

“Aku tak peduli!”

“Kenapa kau lebih memilihnya dari pada aku?”

“Dengar! Kita tak pernah memiliki hubungan apapun. Kau saja yang menganggap kita ada hubungan. Lebih baik kau urusi Hyukjae yang sudah mengejarmu sejak lama!”

“Aku tak menginginkan Hyukjae. Yang kuinginkan adalah kau!”

“Nado. Aku tak menginginkanmu. Yang aku inginkan adalah Byulhyun!” Kyuhyun menepis kasar lengan Hyera. Lalu beranjak menuruni tangga.

BRUK…

Kyuhyun pingsan. Hyera memukul tengkuk Kyuhyun dengan balok kayu. Dia melihat kearah luar. “Byulhyun-ah, tak akan membiarkanmu lepas begitu saja!”

-=.=-

Byulhyun menghentikan langkahnya dalam menuruni tangga. Dia menghapus airmatanya. Dia menoleh keatas. Sedikit berharap bahwa Kyuhyun akan menyusulnya. Tapi segera dia menepis pikirannya. “Untuk apa memikirkannya lagi?”

Byulhyun meneruskan langkahnya menuruni tangga. Di lantai dua, dia mendengar suara gadis yang sedang berdeham. Dia menoleh. Dia kaget sekaligus ketakutan melihat Hyera yang sudah berdiri bersandar di dinding dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

Byulhyun hendak meneruskan langkahnya tapi Hyera mencegahnya. “Kau mau kemana? Kemarilah!”

Byulhyun berjalan dan berhenti di tengah ruangan itu. Hyera maju selangkah. Mengeluarkan sebuah senjata pistol jenis dessert eagle dan memainkannya dihadapan Byulhyun. “Kau pikir aku akan melepasmu begitu saja membawa rahasia kami?”

“Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

“Aku percaya itu. Tapi…” Ucapnya menggantung.

“Tapi apa?” Kata Byulhyun ketakutan sambil mengawasi gerak gerik Hyera.

“Kau sudah mengambil Kyuhyun dariku!” Balas Hyera geram.

“Kalau kau mau mengambilnya lagi, ambil saja!”

“Tapi dia tidak menginganku!” kata Hyera setengah berteriak. Dia berjalan mengitari Byulhyun dan memainkan rambut Byulhyun. “Yang dia ingingkan adalah kau! Aku tak tahu dengan jalan pikirannya. Kenapa dia memilihmu dari pada aku?”

“Tapi kalau kau berusaha, kau akan berhasil mendapatkannya lagi.” Ujar Byulhyun sedikit tidak rela.

Hyera berhenti dan menatap Byulhyun marah. “Sudah lebih dari lima tahun aku berusaha! Tapi tak ada hasilnya. Di tambah kau datang. Aku semakin susah!”

“Kalau begitu maafkan aku!” Kata Byulhyun sedikit takut.

“Maaf tak akan membawa Kyuhyun kepadaku!”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau tahu, agar singa melepas mangsanya adalah mangsa itu harus hilang.” Ujar Hyera sambil berjalan memunggungi Byulhyun.

“Lalu kau menyuruhku untuk pergi dari hidup Kyuhyun?”

Hyera menoleh menatap Byulhyun lalu menggelengkan kepalanya. Membuat rambut hitam panjangnya bergerak sama angkuhnya. “Tentu saja tidak. Kalau kau pergi, kau bisa kembali lagi. Aku tak mau itu.”

“Keurom otthe?”

“Kau harus hilang.”

“Mwo?”

“Hilang. Lenyap. Pergi dari muka bumi ini.”

“Apa maksudmu? Apa aku harus mati?”

“Kau memang gadis pintar.”

Byulhyun menatap Hyera tak percaya juga ketakutan.

“Kau tak perlu takut. Aku akan melakukannya dengan cepat. Jadi kau tak akan merasa sakit. Aku adalah agen terbaik, kau ingat itu?”

“Apa waktu kau Luxemburg itu juga untuk membunuh?”

“Tentu saja. Memang apa lagi yang aku lakukan disana?

“Berlibur mungkin. Mencari hiburan di hari yang sibuk.”

“Benar juga. Membunuh merupakan hiburan tersendiri untukku. Sudahlah. Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau katakan? Dan pastikan kau tidak menyesal.”

Byulhyun mengangguk yakin.

“Ppali malhaeyo!”

“Kyuhyun tak akan pernah mencintaimu!”

Senyum Hyera langsung menghilang. Dia menodongkan pistol ke arah Byulhyun. Byulhyun sudah pasrah dan memejamkan matanya erat. “Tuhan tolong selamatkan aku. Kyuhyun-ah, saranghaeyo yongwonhi.”

“Selamat tinggal, Byulhyun-sshi!”

DOR…

Sedetik kemudian, seorang gadis dengan sebuah peluru tertancap di bawah tulang selangka sebelah kanan terkapar tak berdaya di lantai. Dan keluar banyak darah dari lubang yang diakibatkan peluru itu.

Byulhyun membuka matanya. Badannya bergetar hebat. Tapi saat melihat tubuh Hyera terkapar tidak berdaya dan banyak darah keluar dari dadanya, badannya langsung lemas. Hingga ia sendiri tidak sanggup menopang badannya sendiri. Badannya sudah mulai limbung, tapi detik berikutnya, dia merasa ada tangan yang menopang tubuhnya agar tidak menghantam lantai.

Gwaenchana?” Tanya suara lembut yang berhasil membuat perasaan Byulhyun menjadi lebih tenang.

Byulhyun membalikan tubuhnya ke belakang. Dia langsung memeluk tubuh Kyuhyun dan menangis dalam dekapannya.

Gwaenchana?” tanya Kyuhyun mengulangi pertanyaannya sambil mengusap punggung Byulhyun lembut. Byulhyun mengangguk sambil masih terisak.

Tapi tiba-tiba Kyuhyun meraih lengan Byulhyun dan menariknya agar berdiri disampingnya. Dan sedetik kemudian, terdengar suara mengerikan itu lagi.

DOR!!

Kyuhyun menembak Hyera tepat di jantungnya. Karena Hyera belum mati dan berusaha menembak Byulhyun. Tapi tak terelakan, sebuah peluru melukai betisnya.

Kyuhyun mengangkat celananya keatas lalu memeriksa lukanya. Dan dengan hati-hati, Kyuhyun menarik peluru yang menusuk betisnya. Sementara Byulhyun hanya bisa terdiam membeku melihat apa yang kini ia saksikan.

Setelah membalut lukanya dengan sapu tangannya dan merapikan celananya, dia mendekai Byulhyun dengan langkah sedikit pincang. “Kau pergilah!”

Byulhyun menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya.

“Pergilah! Aku sudah menelepon Hyukjae. Dia sangat mencintai Hyera. Dan bila dia melihat Hyera seperti ini, kau tidak akan selamat.”

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Byulhyun khawatir.

“Aku bisa menghadapi Hyukjae sendiri. Dia tidak pernah menang melawanku. Tenanglah.” Jawabnya gampang. “Pergilah. Sebelum Hyukjae melihatmu! Bawa ini juga. Kalau kau sudah sampai bawah buang saja. Lalu terus pergi dan jangan kembali kesini apapun yang terjadi.”

Byulhyun mengangguk. Dan dengan sedikit takut, dia menerima pistol yang diberikan Kyuhyun. Setelah mengambil tasnya yang sempat terjatuh dia berjalan mendekati tangga.

“Dan Byulhyun-ah!” Kyuhyun mencegah Byulhyun yang baru saja akan melangkahkan kakinya. “Aku tak tahu apa kita akan bertemu lagi tau tidak. Tapi sebelum kau pergi aku hanya ingin mengatakan bila aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun di dunia ini.” Ujarnya tulus. Lalu langsung membalikan badannya. Air matanya mulai tergenang karena harus menghadapi kenyataan bila dia harus berpisah dengan Byulhyun.

Byulhyun menatap punggung Kyuhyun. Dia menggigit bibi bawahnya menahan genangan air mata yang berontak untuk ditumpahkan. “Nado saranghae” Bisiknya dengan nada bergetar dan hampir tidak terdengar oleh Kyuhyun. Byulhyun melangkahkan kakinya mendekati tangga. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria kurus agak berotot dan bertinggi sedang berdiri dihadapannya. Karena terlalu terkejut, dia menjatuhkan tasnya.

Kyuhyun menoleh dan cukup terkejut mendapati Hyukjae yang berdiri di depan tangga dengan tangan yang mengenggam keras menahan emosi. “Hyukjae-ah?” kyuhyun beralih menatap Byulhyun yang masih diam di depan tangga. “Byulhyun-ah, lari!”

Byulhyun menoleh menatap Kyuhyun. “Mwo?”

“LARI!!” Seruanya. Dan tanpa berpikir lagi, Byulhyun menaiki tangga dengan tergesa. Hanya dengan menaiki tangga dia bisa lolos dari Hyukjae.

“Kau apakan Hyeraku?!” Tanya Hyukjae geram.

“Hyuk-ah, dengarkan aku dulu.” Ujar Kyuhyun lalu mendekati Hyukjae.

“KAU APAKAN HYERA??!”

“Dia berusaha membunuhku dan Byulhyun. Aku tidak punya pilihan.”

Tapi Hyukjae tidak menggubris jawaban Kyuhyun dan langsung berlari menaiki tangga.

HAJIMA!! HYUKJAE-AH!!” Kyuhyun ikut berlari menaiki tangga. Menghiraukan seluruh rasa sakit di bekas lukanya, Kyuhyun terus memaksakan dirinya untuk berlari menaiki tangga itu. Bagaimanapun juga, ini menyangkut keselamatan Byulhyun. Keselamatan hidup dan matinya.

-=.=-

Byulhyun sudah tiba di lantai 13. Atap gedung tua itu. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tapi tidak ada jalan yang bisa membawanya pergi dari gedung itu. Melompatpun juga tidak bisa. Dia ada di lantai teratas.

“BYULHYUN!!” Hanya selang beberapa detik, Hyukjae sudah berhasil menyusul Byulhyun. Dia menyeringai kejam. “Kau mau kemana? Sudah tidak ada jalan untuk kabur.” Ujarnya lalu berjalan mendekati Byulhyun.

“Jangan mendekat!” Ujar Byulhyun lalu menodongkan pistol yang Kyuhyun berikan.

“Ooow…” Hyukjae berpura-pura memasang wajah terkejut. Lalu dia terkekeh melihat Byulhyun yang terlihat kurang lihai dalam memengang pistol. “Kau tahu itu bukan mainan, bukan? Jadi taruh saja.” Ucapnya sambil terus berjalan mendekati Byulhyun.

Byulhyun melangkah mundur perlahan. “Jangan men…”

DOR…

Byulhyun tidak sengaja menekan pelatuk pistol itu. Karena tekanannya yang kuat, Byulhyun terdorong kebelakang dan melempar pistol dessert angel itu.

“HAHA… lebih baik kau menyerah saja.” Ucapnya meremehkan. Hyukjae berjalan mendekati Byulhyun. Tapi Byulhyun sudah berdiri di tepi atap itu.

“Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu!”

“KIM BYULHYUN!!” Seru Kyuhyun yang baru saja tiba dan langsung berlari mendekati Byulhyun.

“Mendekatlah!” Hyukjae mengulurkan tangannya dan mendekati Byulhyun. Tapi karena takut, Byulhyun mundur dan tubuhnya oleng karena berada di tepi gedung. Dan tepat saat tangan Kyuhyun meraih tangan Byulhyun, Byulhyun jatuh dari gedung itu.

“Byulhyun-ah, bertahanlah!” Ujar Kyuhyun di atas gedung dengan Byulhyun yang melayang dengan bergantung pada tangan Kyuhyun. “Ya!! Hyukjae-ah!! Cepat bantu aku!!”

Hyukjae diam. Dia tidak menjawab Kyuhyun. Dia mengambil sesuatu dari balik jasnya. Kemudian dia menodongkan sebuah pistol mengarah pada Byulhyun. “Kurasa, ini akan impas!”

Kyuhyun tahu apa niatan Hyukjae. Dengan kakinya, dia menendang kuat kaki Hyukjae menyebabkan pria berambut pirang itu oleng dan jatuh terpungkur. Tapi karena hal itu badan Kyuhyun menjadi tidak seimbang dan tidak terlalu kuat menahan Byulhyun, hingga akhirnya Byulhyun dan Kyuhyun terjatuh bersama dari atap gedung.

Kyuhyun memeluk Byulhyun lalu memutar tubuhnya hingga dia yang berada dibawah Byulhyun. Menjadikan dirinya sendiri sebagai pelindung Byulhyun bila nantinya badan mereka akan menghantam tanah.

BUG!!

Badan Kyuhyun menghantam tumpukan futon bekas di atas tanah. Walau jatuh diatas futon, tapi tetap saja jatuh dari ketinggian 50 meter tetap saja dia merasakan sakit.

Byulhyun membuka matanya dan mendongakan kepalanya. Dia melihat wajah Kyuhyun yangs sedang menahan sakit. “Oppa?!” Byulhyun langsung beranjak dari atas tubuh Kyuhyun yang melindunginya. “Gwaenchana?”

“O.. Gwaenchana.” Ujarnya sedikit merintih. “Sudah, kau pergilah. Dari pada nanti Hyukjae menangkapmu. Aku akan mengurusnya.”

Byulhyun masih diam ditempatnya. Dalam keadaan seperti ini, Kyuhyun masih saja peduli dengan keselamatan Byulhyun. Dia memandang Kyuhyun dengan perasaan campur aduk. “Tapi…”

“Sudah. Selamatkan dirimu sendiri dulu.” Kyuhyun mendorong Byulhyun dengan pelan karena tidak memiliki tenaga yang tersisa. “Aku akan baik-baik saja.”

Dengan terpaksa Byulhyun berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih terbaring lemah di atas tumpukan futon bekas itu.

Sebelum benar-benar pergi dari area gedung itu, dia menoleh memandang kyuhyun yang berbaring. Air matanya jatuh begitu saja. Tapi saat melihat Hyukjae, dia langsung berlari secepat mungkin.

Dan saat merasa sudah jauh, dia mulai melambatkan kecepatannya. Dia berjalan lunglai menyusuri jalan besar nan sepi itu.

Saat tiba di tengah kota, langit cerah mulai tertutupi oleh awan mendung. Tak lama hujan mulai turun membasahi Seoul. Dan dalam hujan, Byulhyun masih saja berjalan sambil menangis. Berbanding terbalik dengan keadaan orang-orang yang berjalan cepat atu bahkan berlarian menghindari hujan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatainya gila.

-=.=-

Byulhyun berjalan keluar dari lift dengan gontai. Dia menekan kombinasi angka di pintu lalu membuka pintunya.

“Byulhyun-ah?!” Tanya Nichan yang sudah ada di dalam apartemen Byulhyun.

Tapi byulhyun tidak menanggapi Nichan dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Nichan mengikuti masuk kedalam kamar Byulhyun.

“Kau kenapa? Kau sangat berantakan.”

Ya. Penampilan Byulhyun memang sangat berantakan. Tapi perasaannya jauh lebih berantakan dari pada penampilan luarnya.

“Bisa kau tinggal aku sendiri? Aku ingin sendiri.” Ujarnya pelan.

Nichan mengangguk mengerti. “Arra. Kalau kau butuh bantuan telepon aku.”

Byulhyun mengangguk pelan. Dan setelahnya dia masuk ke dalam kamar mandi.

-=.=-

Byulhyun merebahkan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya kacau. Walau setelah mandi, dia tidak bisa merasa lebih segar. Sedikit membaikpun tidak.

Dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih bimbang. Semua ini terlalu cepat baginya. Kenyataan bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh Kyuhyun, seorang pembunuh bayaran yang merupakan kekasihnya yang mungkin kini adalah mantan kekasihnya.

Seharusnya dia membenci Kyuhyun karena sudah membunuh orang tuanya. Tapi setiap mencoba untuk melupakan ataupun membenci Kyuhyun dadanya langsung sesak dan rasanya sangat menyakitkan.

Jujur ia akui, ia sangat mencintai Kyuhyun. Tapi sayangnya dia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Tak pernah sekalipun ia membayangkan bila perjalanan cintanya akan menjadi rumit dan menyedihkan seperti sekarang ini.

-=.=-

“Byulhyun-ah, apa kau mau berangkat kuliah bersama kami?”

“O. Kebetulan mobilku masih di bengkel. Tapi tidak merepotkanmu, kan, Nichan-ah?”

“Aninde. Aku sedang ada di daerah Myeongdong. Kau tunggu didepan gedung, ya?! Aku sedang malas naik.”

“Arra.”

Byulhyun memutuskan sambungan teleponnya. Dia menatap bayangan dirinya dalam cermin. Ia menghela nafas berat. Mulai sekarang dia harus berusaha menjalani hidupnya tanpa Kyuhyun. Walau sangat berat baginya, tapi ini adalah kenyataan dari hidup yang harus ia jalani.

Byulhyun mengambil tas tangannya. Dan segera berjalan keluar dari pintu apartemennya. Saat menutup pintu, kakinya tersandung oleh sesuatu. Dia menunduk. Ternyata tas tangan yang kemarin tertinggal di gedung itu.

Byulhyun memungut tas itu. Ada sepucuk surat disana. Byulhyun mulai membaca rentetan tulisan tangan itu.

 

Tasmu tertinggal. Sekarang aku kembalikan padamu. Dan kalung ini adalah hadiah terakhir dariku. Semoga kau menyukainya. Semoga hidupmu menyenangkan dan lebih baik dari sebelumnya

Monster yang selalu menicntai Bintangnya,

Kyuhyun

 

Baru saja Byulhyun berusaha melupakan Kyuhyun. Tapi takdir seolah memermainkannya. Air matanya menetes begitu saja tanpa sempat ia tahan.

Byulhyun kembali masuk kedalam apartemennya. Dia menyimpan kertas dari Kyuhyun di sebuah kotak yang berisikan barang-barang berharga miliknya.

Walau berat, akhirnya Byulhyun menutup kotak itu dan meninggalkannya. Sebelumnya dia menimang-nimang kalung pemberia Kyuhyun. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan kalung dengan bandul bintang itu. Kemudian segera menuju basement.

-=.=-

“Byulhyun-ah, kau kenapa? Matamu merah. Habis menangis? Apa ada sangkut pautnya dengan kemarin? Atau Kyuhyun mungkin?” Tanya Nichan khawatir.

Byulhyun terpaku mendengar nama Kyuhyun. Lalu dia menggeleng lemah.

“Aku tidak memaksa bila kau tidak mau cerita.”

“Ah Nichan-ah, kau suka menonton film, kan?” Tanya Byulhyun.

Nado cohahae!” Seru Jongwoon dibalik kemudi mobil.

“Aku baru menonton film.” Ujar Byulhyun pelan.

“Tentang apa?” Tanya Nichan dan Jongwoon kompak dan sangat penasaran.

“Mm.. Seorang pembunuh bayaran. Dia mendapat tugas untuk membunuh sepasang suami isteri. Tapi akhirnya dia mencintai putri dari pasangan yang ia bunuh. Dan dia merelakan dirinya sendiri agar gadis itu selamat sambil membawa rahasia terdalamnya.”

“Film apa itu? Aku belum pernah dengar. Apa judulnya?” Tanya Jongwoon yang terlihat tertarik dengan film yang Byulhyun ceritakan.

Byulhyun panik. Jujur saja yang ia maksudkan adalah kisahnya sendiri. Dan dia juga tidak terlalu banyak menonton film. “Molla. Aku tidak tahu.”

“Ah, apa pembunuh itu mengetahui dia itu putri korbannya setelah membunuh atau sebelumnya?”

“Setelahnya. Dari mantan kekasihnya. Lebih tepatnya dari rekan kerjanya yang juga mencintainya.”

“Cerita klasik. Tidak seru.” Ujar Nichan.

Sementara Jongwoon menagangguk-angguk. “Majja, Kkoma-ya!”

Kalian tidak akan mentakannya klasik bila merasakannya sendiri. Rutuk Byulhyun dalam hati.

“Lalu bagaimana akhir ceritanya?”

Aish, kalian bilang klasik. Tapi masih saja menanyakan ceritanya. Umpat Byulhyun lagi. “Molla. Aku baru setengahnya saja. Sisanya tidak bisa diputar.”

“Kkoma, menurutmu bagaimana akhirnya?”

Sad ending. Dengan salah satunya mati. Pembunuh itu atau gadis itu.” Ujar Nichan tanpa rasa bersalah.

MWO??!” Dari belakang Byulhyun berteriak tidak terima.

“Menurutku bagus juga idemu, Kkoma. Atau dibuat menggantung saja.” Ujar Jongwoon yakin.

Byulhyun menghempaskan badannya ke jok mobil Jongwoon. Bisakah mereka serius menanggapi ini? Inikan menyangkut hidupku juga. Dasar tidak peka!!Kyuhyun-ah, aku harus bagaimana sekarang?

-=.=-

One Year Latter…

Byulhyun duduk di salah satu bangku taman Namsan. Byulhyun memandang puncak Namsan Tower sambil memainkan toga miliknya. Hari ini adalah kelulusannya. Dia menghela nafas berat. “Sudah satu tahun berlalu…”

Byulhyun meraih liontin bintangnya. Kemudian digenggamnya erat liontin itu. “Oppa, kapan kau kembali? Apa kau berniat meninggalkanku disini?”

“Jadi, kau masih menunggunya?” Tanya seseorang tiba-tiba.

Byulhyun menoleh. Dia sangat terkejut melihat siapa yang tengah duduk di sampingnya. “Hyukjae-ah?” Suaranya tercekat. Byulhyun langsung bangkit.

Tapi Hyukjae, menarik tangannya. Byulhyun sedikit meronta. “Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Duduklah!”

Entah kenapa, Byulhyun menuruti perkataan Hyukjae. Dia kembali duduk disamping Hyukjae. “Tentang Hyera… Maaf atas kejadian waktu itu.”

Hyukjae tersenyum miris. “Gwaenchana. Aku sudah melupakan masalah itu.” Ujarnya lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Byulhyun menunduk merasa bersalah pada Hyukjae.

“Sudah. Jadi, kau masih menunggunya?”

“Eh?” Byulhyun mendongak.

“Kyuhyun.” Ujarnya singkat sementara matanya memandang menara Namsan.

Byulhyun tertegun lalu mengikuti arah pandang Hyukjae. “Tentu saja. Sampai kapanpun.” Jujur, dia tidak pernah bisa melupakan Kyuhyun sedetikpun. Sedetik dia mencoba melupakan pria itu, detik itu juga dia merindukan dekapan pria itu. Dia sadar bila dia tidak mampu melepas Kyuhyun begitu saja. Hantinya menolak untuk melakukan itu.

“Kau mencintainya?”

“Tentu. Untuk apa aku rela menunggunya bila aku tidak mencintainya.”

“Begitukah?” Byulhyun menangguk yakin dengan senyum penuh. “Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari.”

“Apa maksudmu?” Tanya Byulhyun tidak mengerti dengan apa yang Hyukjae katakan. Tapi saat ia menoleh, Hyukjae tak lagi duduk di sampingnya. Dia menoleh ke sekelilingnya, tapi ia tidak bisa menemukan Hyukjae.

Namun, Byulhyun menemukan secari kertas di tempat yang Hyukjae duduki. Diambilnya kertas itu. Dia membuka untuk melihat apa yang ada dalam kertas itu.

Air mata Byulhyun mulai tergenang melihat lukisan yang ada ditangannya. Lukisan dirinya saat bertemu di restoran. Lukisan itu ditanda tangani langsung oleh Kyuhyun, jadi Byulhyun semakin yakin, bila itu memang lukisan dari Kyuhyun. Byulhyun langsung memeluk lukisan itu.

-=.=-

Byulhyun masuk kedalam apartemen. Dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Kata-kata Hyukjae terus terngiang di otaknya. Itu pastilah bukan kata-kata tanpa makna.

Byulhyun mengambil remote TV lalu menyalakannya bermaksud menghilangkan stress. TV itu menyiarkan acara Invincible Youth 2.

Cha! Sekarang kalian harus menebak nama bunga yang aku sebutkan cirinya!” Ujar Boom.

“OK!!” Seru Sunny dan Hyoyeon yang ikut dalam permainan itu secara antusias.

Ilbon! Yang berwarna merah berarti menunjukkan soal rasa kagum dan menandakan bahwa kita selalu menginginkan orang itu untuk terus berada di samping itu.” Ujar Shinyoung. G8 yang ikut dalam permainan itu terlihat berpikir untuk menemukan jawabannya.

“Anyelir, kah?” Tanya Amber. Semua mata langsung menatap Amber.

Jongdam!!” Shinyoung berseru. Semua yang ada di regu Amber bersorak.

Cha ije, ibon!! Bunga yang kehilangan panutannya saat malam?” Boom beralih memberi pertanyan.

HAEBARAGI!!” Sunny berteriak yakin.

Byulhyun yang mendengar langsung terdiam. Dia kembali teringat dengan kalimat Hyukjae.

ketika bunga kehilangan panutannya.

“Ketika bunga kehilangan panutannya. Bunga matahari.” Ujarnya pada dirinya sendiri. “Malam?”

Dia langsung berlari menuju mejanya. Dia menuliskan semua yang dikatakan Hyukjae.

“Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari. Apa maksudnya?” Tanyanya sambil melihat tulisannya sendiri.

“Ketika bunga kehilangan panutannya. Bunga matahari kehilangan matahari di saat malam.” Dia mulai berpikir dengan semua kemungkinan. “Sebuah taman dengan payung biru? Bulan tersenyum?”

Byulhyun melihat keluar jendela. Malam ini sedang malam bulan sabit. Dan berbentuk seperti sebuah senyuman. Byulhyun langsung tersenyum.

“Malam dengan bulan sabit. Berarti malam ini. Lalu taman dengan payung biru?”

Byulhyun menyalakan komputernya lalu membuka aplikasi peta. Dia mencari taman yang memiliki payung biru. Tapi dia tidak menemukannya.

Byulhyun berdecak kesal. “Payung biru?” dia menggerakan pointer mouse-nya membentuk payung. Tapi yang kemudian ia sadari, aliran sungai han di Tosandaero berbentuk melengkung seperti payung. “Inikah maksudnya?”

Dia meneliti daerah Tosandaero, tapi tidak ada taman. Dia mencoba meneliti seluruh aliran sungai han yang mirip di Tosandaero. Dan ia menemukannya di Yeouido. Sungai Han terlihat memayungi Sport Park Yeouido.

Senyum Byulhyun terkembang sempurna. “Malam ini di Sport Park Yeouido. Kau akan temukan apa yang kau cari.” Byulhyun kembali berpikir. “Yang kucari?”

“Kyuhyun…” Lirihnya. Dan sedetik kemudian, Byulhyun langsung mengambil kuncinya dan segera menuju Sport Park Yeouido.

-=.=-

Byulhyun memarkirkan mobilnya ke tepi taman. Dia keluar dari mobil dan melihat sekeliling. Sepi. Tidak ada orang sama sekali.

Byulhyun terus melangkahkan kakinya masuk ke wilayah sport park itu. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada orang yang ada disana.

“Kyuhyun Oppa, eoddiya?” Ucapnya lirih lalu sebulir cairan bening jatuh membasahi pipinya.

Byulhyun berjalan menuju timur kearah Mapodaegyo. Matanya terus menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Kyuhyun.

Dan saat dia berada dalam jarak seratus meter dari jembatan Mapo, dia menangkap siluet dari seorang pria yang berdiri angkuh sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Dan Byulhyun cukup yakin, bila yang ia lihat adalah Kyuhyun.

“KYUHYUN OPPA!!” Byulhyun berteriak memanggil namanya dan langsung berlari mendekati pria itu.

Pria itu menoleh dan terkejut mendapati Byulhyun berlari kearahnya. Byulhyun yang melihat wajahnya langsung mempercepat larinya. Dan saat tinggal selangkah, Byulhyun langsung memeluk Kyuhyun.

“Kenapa kau pergi lama sekali?” Tanyanya sambil terisak. Dia menumpahkan semuanya dalam dekapan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya diam. Bahkan tidak membalas pelukannya. “Byulhyun-ah…”

“Kau tahu seberapa lama aku menunggumu?”

“Kupikir kau membenciku karena masalah waktu itu.”

Babo!!” hardiknya sambil memukul punggung Kyuhyun kesal beberapa kali. “Kau tahu aku mencintaimu. Aku tidak pernah membencimu walau satu detik.”

Kyuhyun langsung membalas pelukan Byulhyun. Dia memeluk Byulhyun sangat erat seakan mengekang gadis itu agar tidak pergi dari sisinya. “Mianhae. Keurom, mulai sekarang aku tidak akan pernah melepasmu dan meninggalkanmu.”

Yakshokaeyo?”

Yakshokae.”

“Bagaimana dengan organisasimu itu? Mereka tidak menyakitimu atau menghukummu, kan?”

Kyuhyun melepas pelukannya. Dia memutar tubuhnya hingga memunggungi Byulhyun. Dia menghela nafas berat.

Byulhyun berjalan mendekati Kyuhyun dan berdiri di sampingnya. “Waeyo?” Tanyanya khawatir.

“Aku mendapat hukuman seumur hidupku.” Ujarnya lirih.

Byulhyun terkejut. Dadanya langsung sesak. “Jinjayo?”

Kyuhyun mengangguk lalu menundukan wajahnya dalam-dalam. Dan dia menghembuskan nafas berat lagi.

“Memang kau mendapat hukuman apa?” Tanya Byulhyun benar-benar khawatir.

Kyuhyun menatap Byulhyun dengan tampang memelas. Lalu dia merangkul Byulhyun dan mengecup bibirnya singkat. “Aku mendapatkan hukuman tidak boleh mencintai gadis lain selain kau dan harus selalu mencintaimu selamanya.”

END

Author by : Nirwana (www.nichanpark.wordpress.com)

Yang mau baca apalagi kasih komen… Gomaptaseumnida!! J JJ

*BOW*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s