Changmin Story – Chapter 3

Standar

The Punishment

Cast : Minkyu, Yunjae, Kangteuk, dan other couple.

Author : Shania9ranger

~o~

“Aku pulang!”

“Aigo Kyuhyunie~ akhirnya kau pulang juga, eomma sangat khawatir terjadi apa-apa padamu.” Leeteuk segera memeluk anak satu-satunya dengan sayang.

“Ugggh… Lepaskan, eomma berlebihan.” Namja berperawakan tinggi dan berwajah manis itu mencoba berontak dari pelukan sang eomma. “Aku kan hanya jalan-jalan sebentar.”

“Sebentar apanya? Kau itu pergi dari tadi pagi sampai sore hari.” Ujar Leeteuk gemas. “Memangnya kau pergi kemana saja sayang?”

“Tadi kan aku sudah bilang eomma, seharian ini aku cuma jalan-jalan ke Mall terdekat untuk mencari kaset game.”

“Aish… kau ini hanya kaset game saja yang ada di otakmu itu.”

Mendengar omelan sang eomma Kyuhyun hanya bisa menggaruk-garukkan kepala yang sebenarnya tidak gatal.. “Hehehe… eomma sudah ya marahnya, aku lapar~”

“Dasar anak nakal! Kau tunggu sebentar, biar eomma siapkan makanan untukmu.” Leeteuk melenggang menuju dapur, menyiapkan makanan untuk putra tersayangnya.

Kyuhyun merebahkan dirinya di sebuah sofa panjang yang ada di ruang tengah, dia menyalakan tv lalu menekan-nekan tombol remote dengan malas. Tidak ada channel tv yang dapat membuatnya semangat selain berita-berita tentang tournament games yang sedang hangat diperbincangkan oleh banyak orang.

Jarinya berhenti menekan saat dia melihat sebuah channel yang membahas teknik-teknik para gamers professional menyelesaikan permainan hingga level tertinggi. Matanya sungguh tak berkedip sedikit pun, ada perasaan kagum bercampur obsesi yang menggebu-gebu di dalam hati Kyuhyun.

“Aku ingin jadi seperti mereka.” Gumamnya pelan. Sejak kecil Kyuhyun memang sudah tertarik pada dunia game, namun ia masih di batasi dalam bermain game oleh kedua orang tuanya.

.

x~o~o~o~x

.

“Jagi, appa pulang.” Seorang laki-laki tinggi dan berbadan besar memasuki rumah barunya yang megah. Dialah kepala keluarga di keluarga Cho yang terkenal sebagai pengusaha tersukses dalam bidang industri, Cho Kangin.

Ya, keluarga Cho tidak berbeda jauh dengan keluarga Jung. Kangin dan Leeteuk yang memiliki gendre sama-sama namja, jatuh cinta, sampai akhirnya kedua belah pihak keluarga setuju kemudian menikahkan mereka. 1 tahun pernikahan, mereka di karuniai seorang anak laki-laki berwajah tampan nan rupawan, yaitu Kyuhyun. Dan pagi ini keluarga Cho baru sampai di Korea setelah 2 bulan sebelumnya tinggal di London.

Leeteuk segera menghampiri suaminya, membantu melepaskan dasi dan membawakan tas kantor milik Kangin.

“Yeobo, bagaimana hari pertamamu di kantor?” Tanya Leeteuk sambil melepas Jas yang Kangin kenakan.

“Cukup melelahkan, ada banyak hal yang harus di perbaiki di kantor pusat Korea.” Kangin mengecup singkat bibir Leeteuk.

“Ya! Kalau Kyuhyun melihatnya bagaimana?”

Kangin memutar bola matanya. “Aish… anak itu kan sudah besar sayang. Dia pasti sudah mengerti akan hal-hal seperti ini.” Leeteuk mengerucutkan bibirnya, kesal mendengar ucapan sang suami.

“Ngomong-ngomong, mana dia?”

“Kyuhyunie ada di ruang tengah.”

Kangin menganggukan kepalanya pelan, lalu melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Sedangkan Leeteuk kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan malam bagi suami serta anaknya.

.

“Hei Kyu, kau sedang apa?” Tanya Kangin sambil mengusap-ngusap rambut putranya.

“Appa hentikan, rambutku jadi berantakan.” Kyuhyun menepis tangan besar appanya. “Memangnya appa tidak lihat aku sedang nonton tv.” Dengus Kyuhyun kesal. Kangin hanya terkikik geli melihat tingkah anaknya.

“Anak nakal, sudah berani melawanku ya.” Ucapan Kangin tidak di perdulikan oleh Kyuhyun yang sudah kembali fokus menonton tv. “Oh iya, ini ada beberapa brosur sekolah terbaik yang ada di Korea. Pilihlah satu, appa akan menyekolahkanmu disana.”

Tanpa melirik ke brosur yang di berikan appanya, Kyuhyun berkata “Aku tidak mau sekolah.”

“Mwo?” Sontak ucapan Kyuhyun membuat Kangin kaget. “Apa kau bilang?”

“Aku tidak mau sekolah appa~” Ujar Kyuhyun santai dengan mata yang tetap fokus ke layar televisi.

“Ya! Kalau tidak sekolah, mau jadi apa kau nanti?” Tanya Kangin gusar.

“Tidak perduli mau jadi apa, pokoknya aku tidak mau sekolah.”

Kangin pun tersulut emosi mendengar ucapan Kyuhyun, dia hampir mengerakkan tangannya untuk memukul anak itu, namun segera ia urungkan mengingat betapa dirinya begitu menyayangi Kyuhyun.

“Percuma saja sekolah, toh aku tidak akan bisa mempunyai teman. Mereka justru menjauhiku…” Ucap Kyuhyun lagi. “Aku benci pekerjaan appa dan eomma, AKU BENCI!” Setelah mengatakannya Kyuhyun segera pergi menuju kamarnya yang ada di lantai 2.

‘BLAM’ Terdengar suara bantingan pintu dari arah kamar Kyuhyun.

“Kyuhyun, kembali kau! CHO KYUHYUN!” Teriakan Kangin membahana di seluruh penjuru rumah itu. Sampai-sampai Leeteuk yang sedang menyiapkan makanan pun tersentak kaget. Dia menghentikan aktifitasnya lalu mendekati Kangin.

“Yeobo, ada apa teriak-teriak hah?”

Laki-laki paruh baya itu menghela nafas lelah, kemudian merebahkan diri di sofa berusaha meredam emosinya yang hampir meluap-luap. “Kyuhyun, tidak mau sekolah.”

“Jincha?”

Sebagai jawaban Kangin hanya menganggukan kepalanya pelan.

“Wae?” Tanya Leeteuk lagi.

“Kyuhyun bilang percuma saja sekolah, toh dia tidak bisa memiliki teman. Dia juga bilang kalau dia membenci pekerjaan kita.”

Leeteuk menghela nafas sesaat, kemudian ikut duduk di samping suaminya. “Mungkin memang benar apa yang di katakan Kyuhyun.”

“Jadi menurutmu pekerjaan kita salah?”

“Bukannya begitu… Coba kau ingat, sejak Kyuhyun lahir kita sudah berpindah-pindah tempat tinggal berapa kali? Dan otomatis dia juga harus berpindah-pindah sekolah. Paling lama kita menetap di suatu negara itu hanya 3 bulan. Tentu saja dia tidak bisa memiliki teman di sekolahnya. Aku tidak menyalahkan pekerjaan kita, tidak sama sekali. Karna biar bagaimana pun pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Dulu sewaktu appamu masih hidup, kau sendiri yang meminta tanggung jawab perusahaan sepenuhnya diberikan padamu dan aku berjanji untuk selalu ada disisimu sebagai asistent pribadi, ya kan? Perusahaan-prusahaan yang appamu dirikan di berbagai Negara, membuat kita harus berpindah-pindah dari negara satu ke negara lainnya. Itu tidak salah…” Leeteuk menghentikan ucapannya. Tiba-tiba dia teringat moment dimana Kyuhyun-nya selalu bermain sendirian tanpa teman dan itu membuat hatinya sakit. “Namun kau harus ingat yeobo, uri Kyuhyunie juga tumbuh semakin besar, dia pasti ingin merasakan hidup normal dan memiliki teman.”

“…..” Tidak ada tanggapan dari namja bertubuh gorilla itu.

Namun beberapa saat kemudian Leeteuk menatap Kangin dengan serius. “Kangin-ah, aku mohon kali ini kita menetap di Korea saja ya? Ini demi Kyuhyun.”

“Lalu bagaimana dengan urusan perusahaan?”

“Kita bisa kan pergi beberapa hari untuk urusan perkerjaan, kemudian kembali lagi ke sini.”

“Itu akan merepotkan jagi…”

“Jebal, aku mohon… Demi Kyuhyun.”

“Huft… baiklah, akan aku pikirkan.”

Senyum manis terkembang di wajah Leeteuk. “Gomawo.”

.

x~o~o~o~x

.

Di kediaman keluarga Jung…

Changmin kini tengah berdiri dengan kepala tertunduk sedalam-dalamnya di hadapan meja kerja Yunho, sang appa. Sudah 30 menit appa dan anak itu berada di ruang kerja tanpa sepatah kata apa pun. Yunho sendiri sibuk memperhatikan kertas-kertas yang ada di genggaman tangannya, sedangkan Changmin yang kakinya sudah terasa pegal tidak berani mengganggu sang appa.

Tak lama kemudian Yunho bangkit dari kursi, dan berjalan mendekati Changmin dengan kertas yang masih di pegangnya. Changmin yang menyadari kehadiran Yunho, lebih merundukkan kepalanya lagi. Takut, dia takut dengan apa yang akan Yunho lakukan padanya.

“APA INI, HAH?” Bentak Yunho sambil melemparkan kertas-kertas tersebut tepat di wajah Changmin.

Benar saja, sang appa mengamuk seperti apa yang di takutkan Changmin sejak dirinya pulang dari kantor keamanan tadi.

“YA! JUNG CHANGMIN, KATAKAN PADAKU APA INI SEMUA, HAH?” Bentakan Yunho semakin keras kala melihat sang anak hanya diam saja. Raut wajahnya pun berubah jadi sangat menyeramkan.

“It…i…itu…” Suara Changmin terbata karna rasa takut yang amat sangat. Dia tahu kali ini ia tidak akan mungkin bisa lolos dari amukkan sang appa, bahkan eomma yang biasanya selalu melindunginya pun tidak bisa berbuat apa-apa.

“Membolos…” Tangan Yunho terangkat tinggi lalu mendarat mulus di pipi kiri Changmin dengan keras.

PLAK!

“Berkelahi…” Tangannya terangkat dan kali ini mendarat di pipi kanan Changmin.

PLAK!

“Balapan Motor…?” Yunho mengangkat tangannya kembali menampar pipi kiri anaknya lebih keras dari sebelumnya.

PLAK!

Saking kerasnya hingga Changmin mengeluarkan cairan berbau amis dari sudut bibirnya. Perih. Ya, itu yang Changmin rasakan di kedua pipinya yang sudah memerah.

“Aku menyekolahkanmu bukan untuk menjadi anak nakal, BODOH!” Yunho hendak memukul Changmin lagi, namun di cegah oleh sebuah tangan halus milik Jaejoong.

“Yunnie, aku mohon jangan pukul Mnnie lagi…”

“Lepas Jae, anak ini harus ku hajar! Dia sudah membuatku cukup malu di sekolah tadi siang dan sekarang dia lebih membuatku tidak punya muka setelah kedapatan menguntil di Mall sore ini.” Yunho berusaha melepaskan tangannya yang di pegang erat oleh Jaejoong. Siang ini Yunho memang di panggil ke sekolah karna laporan kenakalan Changmin yang sudah tak terhitung lagi, dan sorenya dia harus menjamin anaknya karna kedapatan mencuri sebuah kaset CD.

“A-appa… bukan aku yang mencuri kaset CD itu…” Ujar Changmin takut-takut.

“Kau dengar kan? Minnie bilang dia tidak mencurinya, Yunnie.” Jaejoong masih berusaha membela Changmin.

“Kalau dia tidak mencurinya, lalu kenapa dia di tangkap petugas keamanan hah?”

Baik Jaejoong maupun Changmin tidak menjawab pertanyaan Yunho. Pikir Changmin percuma saja membela diri di saat sang appa sedang emosi, pasti perkataannya tidak akan di dengar.

“Mi… mianhe… jeongmal mianhe appa…” Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Changmin.

“Kau!” Yunho mengacungkan jari telunjungnya ke arah Changmin yang masih tertunduk. “Kalau kau bukan anakku, aku pasti sudah membunuhmu sejak tadi!” Dia memejamkan mata sesaat, berusaha menetralisir emosi agar tidak kalap dan bertindak keterlaluan kepada anaknya. “Aish… kembali ke kamarmu sekarang! Dan juga kemas seluruh pakaianmu, besok pagi appa akan mengirimmu ke Amerika.”

“Mwo?” Sontak Jaejoong dan Changmin bersamaan.

“A…ap…appa…” Changmin menatap nanar wajah Yunho, tidak percaya bahwa sanga appa akan mengirimnya ke Amerika.

“Kau sudah terlalu nakal Minnie, mungkin pamanmu disana bisa mengubah sifatmu.” Ujar Yunho datar.

“T-tapi yunnie…”

“Tidak ada tapi-tapian Jae, ini mutlak keputusan terakhirku. Aku akan mengirimnya ke tempat Soo Man ajhussi di Amerika besok.”

“Appa… jangan kirim aku kesana, jebal~” Changmin berlutut di lantai sambil memegang kaki appanya. Samar-samar terdengar isakan kecil keluar dari mulut Changmin.

Hati Jaejoong terenyuh melihat Changmin berlutut sambil menangis, tapi ego Yunho tidak luluh sedikit pun mendengar isak tangis anak semata wayangnya tersebut.

“Appa, aku mohon… Aku janji, aku tidak akan nakal lagi. Aku janji…” Mohon Changmin dengan nada memelas.

“Memohon seperti apa pun, appa akan tetap mengirimmu kesana. Kau sendiri yang membuat appa harus mengambil tindakan tegas, Minnie.” Ujar Yunho tanpa menatap Changmin. Setelah itu dia melepaskan kakinya dari pegangan Changmin dan beranjak meninggalkan ruangan itu.

“Aku akan terus berlutut…” Ucap Changmin saat Yunho melangkahkan kakinya menuju pintu. “Aku akan terus berlutut disini, sampai appa mau memaafkanku dan tidak mengirimku ke Amerika.”

“Terserah, lakukan sesukamu.” Nada bicara Yunho terdengar ketus, seolah ia sudah tidak menganggap Changmin adalah anaknya lagi.

Jaejoong yang sebelumnya hanya bisa terdiam ditempat, akhirnya memutuskan untuk menyusul Yunho dan membujuknya perlahan.

“Minnie tenanglah, eomma akan berusaha membujuk appamu. Kau kembalilah ke kamar, biar eomma bicara pada appamu.” Ujar Jaejoong sebelum mengejar Yunho.

Sekarang di ruangan itu hanya ada Changmin yang masih berlutut, ia tidak mau mendengarkan perkataan eommanya. Isakan tangis yang sekuat tenaga ia tahan pun akhirnya pecah. Changmin menangis, menyesali kenakalannya hingga membuat sang appa menghukum berat dirinya. Dia akan menerima hukuman apa pun, tapi tidak jika dia harus di kirim ke Amerika. Baginya tinggal bersama Soo Man ajhussi sama saja mengirimnya ke neraka. Dia lebih memilih di penjara sekalian, daripada harus tinggal dengan lelaki tua bangka tersebut. Lagi pula Changmin tidak bisa hidup tanpa eomma yang begitu ia sayangi.

“Appa… maafkan aku… hiks…”

~o~

Disisi lain Jaejoong sedang berusaha bicara dengan Yunho di kamar mereka.

“Yunnie, dengarkan aku~” Rengek Jaejoong.

“Jika ini menyangkut tentang Changmin, aku tidak akan mendengarkannya.” Yunho meninggalkan Jaejoong begitu saja menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.

“Tunggu!” Jaejoong menahan daun pintu sebelum tertutup.

“Ada apa lagi?”

“Sudah lama kita tidak mandi bersama. Emmm… bagaimana kalau kau memandikanku Yunnie?” Kali ini Jaejoong berusaha menggoda suaminya.

“Maaf, tapi aku tidak akan tergoda oleh mu saat ini.” Lagi-lagi Yunho berbicara ketus pada Jaejoong, dan menutup paksa pintu kamar mandi.

“Cih… sialan kau Jung Yunho!” Desis Jaejoong kesal. Akhirnya dia memilih untuk duduk di tepi ranjang dan menunggu Yunho selesai berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian Yunho keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama bergaris biru. Wajahnya juga terlihat lebih segar.

“Yunnie, tidak bisa kah kau memaafkan Changminnie? Senakal apa pun dia itu anak kesayangan kita.” Ujar Jaejoong membuka pembicaraan.

“Justru karna Changmin anak kita, aku harus mengubah sifat nakalnya.” Yunho berbaring, mengambil sebuah buku lalu membacanya

“Dengan cara mengirimnya ke Amerika?”

“Ne.”

“Kau sungguh appa yang kejam. Bagaimana bisa kau mengubah sifat nakalnya hanya dengan mengirimkan Minnie ke ajhussi pemabukmu itu?”

“Soo Man ajhussi seorang tentara, bukan seorang pemabuk. Aku yakin dia bisa mengubah Changmin jadi lebih baik.”

“Aku tidak yakin Changmin akan lebih baik, dia justru akan menderita disana.” Jaejoong menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan bicaranya lagi. “Anak nakal itu wajar, dan kita sebagai orang tuanya juga harus bisa mendidik dan memberikan arahan yang baik, bukannya malah mengirim dia ke Amerika.”

“Jadi kau pikir aku kurang memberinya pendidikan dan arahan yang baik pada Changmin?” Tanya Yunho.

“Aku tidak beranggapan seperti itu, tapi setidaknya kau bisa menghukumnya dengan hukuman yang dapat mengurangi kenakalan Changmin, Yunnie. Dengan mengurangi uang jajan misalnya.” Ujar Jaejoong lagi.

“Changmin bukan anak kecil lagi Jae. Huft… ini gara-gara kau yang selalu memanjakannya.”

“Mwo? Jadi kau menyalahkanku?”

“Iya, kaulah eommanya. Seharusnya kau bisa memantau tingkah laku Changmin sehari-hari.”

“Kau pikir aku tidak sibuk mengurus rumah, HAH?” Nada bicara Jaejoong mulai meninggi.

“Sudahlah, aku lelah jika harus berdebat denganmu. Aku capek, mau tidur.” Yunho meletakkan buku yang dibacanya lalu berbaring dengan membelakangi Jaejoong.

“Ya! Jung Yunho, aku belum selesai bicara!” Jaejoong mengguncang-guncang bahu Yunho, namun tidak di tanggapi oleh namja itu.

“Arra, kalau kau tetap ingin mengirim Changmin ke Amerika, aku akan ikut dengannya. Bila perlu kita bercerai!” Ancam Jaejoong serius. Tidak perduli Yunho mendengarkannya atau tidak, yang penting dia sudah mengeluarkan jurus terakhirnya. Jaejoong tau betul watak suaminya yang tegas 8ank eras kepala, sekali Yunho mengeluarkan keputusan maka akan sulit untuk di rubah oleh siapa pun.

~to be continue~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s