Charice That Person

Standar

 

Hyera melangkahkan kakinya keluar dari taksi. Dia segera berjalan mendekati pantai.  Dia melihat sekilas pelabuhan itu. Sudah banyak rangka-rangka gedung yang dibuat. Yeosu sedang memersiapkan tempat ini sebagai tuan rumah untuk acara World Expo 2012.

Hyera mengalihkan pandanganya ke area pantai yang tidak dijadikan lahan proyek. Dia berjalan hingga ke bibir pantai. Dia melepas sepatu hak tingginya dan menentengnya. Dia berjalan menyusuri sepanjang jalan di bibir pantai. Sesekali ombak kecil menyentuh kakinya.

Dia berhenti dan memandang sang surya yang hampir tenggelam. Dia memejamkan matanya. Membiarkan desiran angin menerpa wajahnya dengan lembut. Membiarkan rambutya yang panjang menari-nari kecil karena hembusan angin. Membiarkan berkas cahaya matahari menerobos memasuki kelopak matanya. Membiarkan kedamaian senja itu menyelimutinya. Dia tersenyum.

Saat tak ada lagi berkas cahaya menerobos masuk, ia membuka matanya. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi lebih gelap. Malam itu terlihat cerah dengan awan-awan kelabu seperti gumpalan kapas yang lembut. Dengan taburan ribuan bintang dengan cahaya yang gemerlap menghiasi malam. Ditemani sang bulan yang bertengger dengan angkuh dan gagahnya namun tetap memancarkan cahaya kelembutan yang menenangkan hati siapapun yang melihatnya.

Dia beralih melihat lautan biru yang membentang memisahkan daratan dengan ombak gagah sebagai penjaga tesetia dari lautan tersebut. Dia melihat garis cakrawala. Garis pembatas antara langit dan laut.

Memori otaknya terbang menyusuri masa enam tahun silam. Masa dimana dia pertama kali mengenal Lee Sungha, orang yang sangat ia cintai.

Kenangan antara mereka berdua berkelebat diotaknya.  Kenangan dimana pertama kali mereka bertemu. Kenangan saat mereka mulai menarik perhatian satu sama lain. Hingga saat, Sungha meminta Hyera menjadi kekasihnya.

-=.=-

Flashback

Sungha dan Hyera berjalan berdampingan dipinggir pantai Yeosu disaat senja mulai tiba. Mereka berjalan sambil bermain pasir. Hingga Sungha berhenti dihadapan Hyera.

“Hyera-ya!” Panggilnya dengan lembut.

“Ne?”

Sungha meraih kedua tangan Hyera lalu mengenggamnya dengan lembut. “Bolehkah aku jujur?”

“Jujur tentang apa?”

“Tentang perasaanku.” Ujar Sungha. Hyera tercengang. “Saat pertama denganmu, semuanya memang masih berjalan seperti biasa. Tapi setelah beberapa lama, aku merasakan ada yang berbeda. Mulai dari detak jantungku yang meningangkat setiap didekatmu atau entah kenapa aku merasa gugup. Hingga aku merasa ada sesuatu yang hilang dan janggal bila kau tidak ada di dekatmu. Dan rasa nyaman dan damai yang selalu menyelimutiku. Semua itu aku rasakan sekarang.”

Hyera masih diam menunggu kelanjutan perkataan Sungha.

“Dan alasan dari itu semua baru aku ketahui beberapa hari yang lalu. Dan itu semua karena aku mencintaimu.”

Hyera tertegun. Kalau boleh, dia ingin menangis karena terlalu bahagia mengetahui bahwa perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Sungha berlutut dihadapan Hyera. Dia menggenggam tangan kanan Hyera dengan kedua tangannya. “Jigeumeun, nan Lee Sungha-ida, dibawah langit cakrawala dan dihadapan lautan gagah yang terbentang luas, memintamu untuk menjadi kekasihku. Maukah kau menerimaku menjadi kekasihmu?

Airmata Hyera sudah siap untuk ditumpahkan. Tapi Hyera tidak ingin menangis di depan pria yang mencintainya. Tapi Hyera tak sanggup membalas pernyataan Sungha karena ia terlalu bahagia. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Sunghae berdiri lalu langsung memeluknya. “Dihadapan mentari dunia, aku berjanji tidak akan pernah meinggalkanmu kecuali kau sendiri yang memintaku untuk pergi.”

End of Flashback

-=.=-

Flasback

Meingat kenangan itu, airmata Hyera jatuh membuat aliran kecil di pipinya. Dia tak menghapusnya. Dia membiarkan airmata itu menetes. Dia ingin Sungha melihatnya, betapa tersiksanya dirinya tanpa Sungha.

Ditempat inilah Hyera bertemu dengan Sungha. Tapi, ditempat ini juga, Sungha pergi menghilang tanpa jejak tiga tahun silam.

-=.=-

“Oppa, bukankah kita akan pergi ke pantai Yeosu? Kenapa kita malah ada di pelabuhan Yeosu?” Tanya Hyera bingung.

Sungha tersenyum. “Aku ingin mengajakmu ke Jeju.”

“Jeju?” Tanya Hyera tak percaya. “Tapi aku tidak punya persiapan, Oppa!”

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku sudah menyiapkan semuanya.”

Hyera hanya pasrah menghadapi situasi ini. Sungha sudah biasa melakukan ini. Akhirnya dia hanya bisa pasrah. Hingga kini mereka sudah tiba di sebuah taman di dekat pantai di pulau Jeju saat senja.

Sebuah taman yang dipenuhi dengan lampu-lampu kecil. Dibawahnya terdapat lilin yang membentuh inisial S♡H. Ditengah lilin yang berbentuk hati itu ada sebuah kursi kayu dengan ukiran sederhana. Diatas kursi itu terdapat sebuah gitar kesayangan Sungha.

Sungha berjalan mendekati kursi itu. Dia mengambil gitar lalu duduk diatas kursi. Dia mulai memainkan gitar itu. Melody indah segera terdengar setelah Sungha memetik dengan indah gitar tersebut. Keahlian yang sangat dibanggakan oleh Sungha.

Alunan nada indah Love Light dari petikan gitar yang dimainikan oleh Sungha, membuat Hyera terpana. Hyera sangat menikmati permainan gitar Sungha. Hingga lagu itu berakhir, agak tidak rela rasanya Sungha mengakhiri permainannya.

Selesainya, Sungha merogoh mengambi sesuatu dari kantongnya. Dia menunjukan kotak berwarna biru lalu membukanya. Sepasang cincin.

 

Hyera dibuat terpaku untuk yang kesekian kalinya hari ini olehnya.

“Maukah kau berjanji padaku untuk menjadi pendamping hidupku untuk selamanya? Melewati sisa hidup berasamaku?” tanyanya.

“Keuromyo!” Balas Hyera hampir tidak bersuara sama sekali karena terlalu terharu.

Sungha tersenyum puas lalu berjalan mendekati Hyera. Dia memasangkan cincin itu. Di jari manis Hyera.

“Sepulang dari sini, kau tidak perlu repot menyiapkan semuanya. Karena aku sudah menyiapka undangan, gaun, bahkan pestanya.”

“Mwoya? Tapi bagaimana bisa kau melakukannya tanpa aku?”

“Ingatkah kau saat aku menanyaimu semua tentang rencana pernikahan? Itu bukan untuk makalahku. Tapi itu semua memang karena aku ingin menikah denganmu.”

Hyera masih diam membeku antara percaya dan tidak percaya.

“Aku sudah menyiapkan semua sesuai harapanmu. Tidak apa-apa, kan?”

“Kau itu terlalu percaya diri. Bagaimana kalau aku menolakmu tadi?”

“Kenyataannya kau menerimaku.” Ujar Sungha lalu terkekeh.

“Kau ini.”

“Dan yang terpenting, tiga hari dari hari ini adalah tanggal pernikahan kita.”

“Kau memang tidak bisa membuatku terkejut, ya? Aku bisa mati cepat karena kau sering membuatku terkejut.”

“Kau ini. Ayo, sekarang saatnya makan malam.”

Setelah makan malam yang juga membuat Hyera terkejut lagi karena suasana yang diciptakan oleh Sungha. Candle light dinner diiringi suara musik yang entah datang dari mana.

Sekitar jam delapan malam, mereka memutuskan pulang. Mereka ada di kabin kapal, memandangi indahnya malam ditengah laut yang membentang luas.

Tapi tak beberapa lama, ombak yang bergulung-gulung dengan tenang dan lembut diatas lautan berubah ganas. Kapal yang awalnya tenang beruabah menjadi tidak setabil seiring dengan gejolak yang berasal dengan lompatan-lompatan liar dari gulungan ombak.

Hyera hanya bisa berdoa agar mereka semua bisa selamat. Minimal, keadaan laut bisa kembali normal. Tapi bukannya mereda, ombak yang datang makin lama semakin membesar. Tidak menunjukan adanya tanda-tanda ombak itu akan tenang kembali.

Kekuatan alam memang tak tertandingi. Dengan adanya angin kencang dan ombak bagaikan raksasa yang sedang mengamuk, kapal yang mereka tunggangi akhirnya terguling.

Tak bisa dihindari, Hyera jatuh kedalam lautan yang sedang ganas itu. Dengan susah payah, dia berenang mencari bantuan. Tapi sejauh mata memandang, semuanya sama sepertinya, mencari bantuan secepatnya. Tapi dia sadar, bantuan ataupun tim SAR belum datang. Dia berenang memecah arus aut yang dingin itu. Untunglah, ombaknya sudah mulai tenang.

Hyera berenang mendekati sebuah meja yang mengapung tak jauh darinya. Dengan semua usaha dan sisa tenaganya, dia berhasi menaiki meja yang sudah terbalik itu. Dia memeluk salah satu kaki mejanya.

Hyera segera teringat bahwa dia datang dengan Sungha. Dia langsung mengedarkan pandangannya. Tapi dia tidak bisa menemukan Sungha.

“Oppa… Sungha Oppa…” panggilnya dengan suara serak dan masih dengan nafas yang tersenggal karena kehabisan nafas. “Oppa… neo oddieyo?”

Hyera terus mencari Sungha. Tapi nihil. Dia tidak bisa menemukan Sungha. Dalam keadaan laut yang belum tenang dan cahaya yang minim, semakin membuat Hyera sulit untuk menemukan Sungha. Dia hanya bisa berharap bahwa Sungha bisa selamat dan terus mencari Sungha.

Hingga arus laut sudah mulai tenang setelah tiga puluh menit, Hyera masih mencari-cari Sungha. Tapi tak lama, arus laut yang sudah tenang itu kembali bergejolak. Hyera segera mengedarkan pandangannya. Ada beberapa boat penyelamat.

“Dohajoseyo… Jebal dohajoseyo…” Pinta Hyera sedikit memaksa suaranya yang mulai serak. Tapi tim penyelamat itu seakan tak melihatnya dan sibuk menyelamatkan korban yang lain.

Hyera meraih potongan kayu didekatnya lalu memukulkannya ke kaki meja. “Dohajoseyo…” Teriaknya.

“Chankamanyo, ageshi! Kami segera kesana.” Balas salah seorang petugas tersebut. “Ageshi, silahkan masuk kedalam boat.”

Hyera dibantu dengan petugas itu naik kedalam boat. Kemudian boat itu kembali mencari korban selamat yang lainnya. Hyera ikut membantu sekaligus mencari Sungha yang belum ia temukan.

Hingga saat mereka semua sudah ada di pelabuhan Yeosu, Hyera belum juga menemukan Sungha. Dan saat ia bertanya pada petugas, belum ada nama Sungha yang terdaftar.

End of flashback

-=.=-

Dan hingga saat ini. Setalah tiga tahun berlalu, Hyera belum juga menemukan Sungha. Dia yakin bahwa Sungha belum meninggal karena mereka tidak menemukan mayatnya. Dan dari semua daftar penumpang hanya Sungha yang merupakan satu-satunya penumpang yang belum ditemukan.

Airmata Hyera sudah tidak bisa ditahan lagi. “Oppa, neo eodieyo?” Ujarnya.

Hyera melihat kilatan blitz kamera. Dia mendengus kesal. Entah kenapa dia merasa ada orang yang memotretnya terus menerus. Bukan karena dia terlalu percaya diri. Mungkin dua atau tiga kali dia akan berpikir bahwa mungkin objek yang difoto bukan dirinya. Tapi ini sudah entah yang keberapa kalinya dia mendapati kilatan blitz itu memasuki pupil matanya.

“YA!! Orang bodoh dan gila macam apa yang memotretku terus menerus?” Celotehnya kesal.

“Aku tidak bodoh dan gila.” Ujar seorang pria lalu melemparkan sebuah batu ke arah laut lepas. Dengan wajah tanpa dosa, pria itu tersenyum lebar dengan tampang tengil. Ia menggaruk-garuk kepalanya  sejenak, dan berjalan mendekat kearah Hyera.

“Kau!” sepasang mata Hyera menatapnya dengan dingin. “Aku tidak peduli walau kau menganggapku tidak sopan. Tapi bisakah kau berhenti melakukan pekerjaan bodohmu itu?”

“Ini sama sekali bukan hal bodoh!”  sentak pria itu, sedikit tak terima. “Aku hanya sedang menyimpan keindahan tempat ini melalui kameraku ini.”

“Kau fotografer?” Tanyanya dengan malas.

“Kau terkesan?” Tanya pria itu sedikit berharap

“Kalau aku terkesan apa yang akan kau lakukan? Lalu bila aku tidak terkesan kau akan bagaimana?” Tanyanya dingin. “Jadi silahkan pergi dan fotolah apa pun yang kau mau!”

Pria itu tersenyum lebar dan memerlihatkan seluruh gusinya. “Apa pun?”

“Apa pun!”

Ckrek!

Ia hanya meringis tanpa dosa di balik lensa camera saat Hyera melotot tajam kearahnya, “Kalau begitu aku ingin terus memotretmu…”

Hyera shock. Bagaimana bisa ia bertemu dengan seorang pria aneh macam ini? Masalah Sungha sudah membuatnya pusing. Apa lagi dia harus bertemu dengan pria yang ia lebih suka menyebutnya sebagai monyet tak tahu diri.

Hyera memijat-mijat pelipisnya sebentar, kemudian mendengus pasrah, “Terserah.”

Pria itu tersenyum penuh kemenangan. Kemudian dengan sangat santainya, ia mendudukkan diri di sebelah Hyera dengan kedua kaki menyilang.

“Hyukjae. Lee Hyukjae!” Ia menyodorkan tangannya, “Dan kau?”

Hyera diam tidak memberi respon terhadap Hyukjae itu. Dia masih sibuk mengingat kenangannya dengan Sungha.

“Hyera. Jadi namamu Hyera?” Gumam Hyukjae sambil menatap gantungan tas yang dipakai oleh Hyera.

-=.=-

Hyukjae terus berkoar panjang lebar sambil sesekali membersihkan lensa kameranya. Ia bahkan tak peduli walau Hyera terus berjalan mengabaikannya sejak tadi pagi. Mungkin lebih tepatnya, sejak lima hari yang lalu. Ini adalah keenam kalinya mereka bertemu, entah kebetulan atau tidak.

“Hyera~”

Hyera menengok malas, “Hmh?”

‘CKRREKKKK…..’

“LEE HYUKJAE!!!” Hyera berteriak geram menghadapi kelakuakn Hyukjae yang sudah membuat Hyera kehilangan kesabaran.

Hyukjae terkekeh puas. Pria itu dengan sigap menghindar saat Hyera melemparkan botol gelas bekas milkshake yang ia beli kearahnya

“Memangnya sampai kapan kau akan terus menghindar dari kameraku?”

“Selamanya!” ketus Hyera.

Kini Hyukjae tak lagi memotretnya. Tanpa sadar, Hyera terus memandangi gerak-gerik pria itu lewat ekor matanya. Penasaran, “Apa yang kau lakukan?”

“Menulis harapan.” Hyukjae tersenyum lebar, “Jika kau menuliskan harapanmu, harapanmu itu bisa dikabulkan.”

“Jinja? Dengan semudah itu?” Cibir Hyera tak percaya.

“Mungkin tidak…” sahut Hyukjae dengan senyum bodohnya. Ia selesai, dan kembali berjalan mendekat ke arah Hyera.

“Lalu untuk apa kau menulisnya?” cibir Hyera.

“Untuk berharap…” Hyukjae menyodorkan pena ditangannya pada Hyera, “Karena ketika kita memiliki sebuah harapan, kita akan selalu mendapat kekuatan. Tak peduli akan terkabul atau tidak. Tak peduli itu akan menjadi nyata atau tidak. Tapi asal kita percaya, kita akan selalu punya kekuatan.”

Hyukjae tersenyum lagi. Dan dalam pandangan mata Hyera, senyuman Hyukjae kali ini terlihat menenangkan hatinya yang masih gelisah. Untuk sejenak, Hyera merasakan sepasang mata Hyukjae tengah mengunci matanya dan membuat Hyera tidak bisa melihat hal lain. Untuk sejenak, Hyera merasakan darahnya berdesir hangat. Tapi mungkinkah semuanya memang untuk beberapa saat saja?

“Hyera-ya, kau ingin tau apa yang kutulis?” wajah Hyukjae tiba-tiba sudah berada tepat di depan wajahnya.

Hyera tersentak, wajahnya memerah tanpa sadar karena jaraknya yang begitu dekat dengan Hyukjae. Dengan kesal ia buru-buru mendorong wajah Hyukjae menjauh darinya, “Tidak! Terimakasih”

“Tidak apa-apa, Hyera-ya. Aku akan memberitahumu!” santai Hyukjae dengan senyuman bodoh seperti biasanya.

“Aku tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya!”

“Aku menulis agar kita selalu kebetulan bertemu dimana saja dan kapan saja.”

“YA!! Kau itu mengikuti setiap hari! Dan kau sebut itu sebagai kebetulan?”

-=.=-

Hyera menoleh kedalam kamarnya. Dia tersenyum getir memandang sebuah foto berukuran besar yang tergantung diatas meja kerjanya. Fotonya bersama Sungha saat mereka merayakan hari jadi mereka yang kedua.

Dia teringat perkataan Hyukjae tentang harapan. “Oppa…” lirih Hyera dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Adakah kemungkinan untuk harapanku? Kau dimana?”

Masih dengan pikiran yang kacau, Hyera kemudian menutup pintu kamarnya dan beranjak turun dan keluar dari rumah yang dulu ia tinggali sebelum memutuskan untuk pindah ke Seoul. Dan saat berlari kecil menuruni tangga, air matanya tiba-tiba tumpah mengalir perlahan.

Hyera menyekanya berulang kali, tapi air mata itu tak juga mau mengalah. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang.

Ini benar-benar menyakitkan untuknya. Saat ia tengah berusaha melupakan Sungha, dia justru harus berada di suatu tempat yang penuh kenangan tentangnya dan Sungha. Tapi ia juga tak kuasa untuk melupakan dan meninggalkan kenangannya bersama Sungha

Sambil mulai melangkah menyusuri jalan setapak di dekat rumahnya yang selalu terlihat sepi, dia menyeka air matanya lagi. Hyera sadar, semua hal tentang Sungha hanya akan membuatnya menjadi lemah dan sedih. Dia butuh seseorang yang bisa membuat pikirannya teralih dari hal ini. Ia butuh seseorang untuk melampiaskan semua emosinya sekarang juga.

“Hyukjae?” gumamnya tanpa sadar.

Tapi detik berikutnya, Hyera malah mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri sambil mengumpat. Kenapa nama monyet idiot itu tiba-tiba bisa terlintas di otaknya? Dan satu hal yang tak juga disadari Hyera adalah kenapa air matanya berhenti mengalir dan melupakan kesedihannya saat ia mengingat Hyukjae?

-=.=-

“Hyera-ya, kau sudah menunggu lama?” seseorang menepuk pundaknya.

Hyera menoleh. Sosok Lee Hyukjae menyunggingkan sebuah senyum gummy-nya.

“Aku tidak menunggumu!” Ujar Hyera dengan sinis.

Hyukjae mendengus kecewa, “Jadi kau tidak menungguku?”

“Tidak!” Ujarnya singkat dan dingin.

“Berarti kita memang sudah ditakdirkan untuk selalu bertemu!” Ujarnya pelan.

“Kalau itu memang takdirku, aku akan dengan senang hati untuk menolaknya.” Timpal Hyera dengan santai.

Hyukjae tersenyum kecil lalu berdiri. “Ayo!”

“Kemanana?

Alih-alih menjawab, Hyukjae langsung menarik Hyera sambil berlari-lari kecil.

“YA!! LEPASKAN AKU!! AKU TIDAK INGIN PERGI BERSAMAMU!!! DASAR MONYET GILA!! YA!! LEE HYUKJAE~!”

Hyukjae tidak bergeming dan terus menarik Hyera walau Hyera menjerit dan meronta menyuruhnya untuk melepas genggaman tangannya.

“Kenapa kau selalu melakukan sesuatu semaumu?”

“Aku selalu melakukan semua yang aku mau. Aku tak mau orang lain mengontrol diriku. I do what I love.”

-=.=-

Hyukjae dan Hyera duduk di jembatan dipinggir danau. Hyera hanya diam sambil memainkan air dengan kakinya.

Merasa bosan, Hyukjae dengan jahil mendorong tubuh Hyera.

“Jangan mendorongku!” jerit Hyera ketika Hyukjae tiba-tiba mendorongnya pelan disisi danau kecil didekat pantai Yeosu.

Hyukjae mendorong Hyera pelan lagi. Hyera menjerit murka, “Pria bodoh bin idiot! Dasar kau ikan teri beracun! Monyet tak tau diri! Jangan dorong aku lagi!”

“Arraseo!” Dan sekali lagi Hyukjae langsung mendorong Hyera agak kencang berbiat untuk menggodanya. Dia sangat suka melihat eksperis Hyera sanat marah dan kesal. Tapi dia sama sekali tidak berniat untuk menjeburkannya ke dalam danau.

Tapi malangnya Hyera, dia terjatuh dari jembatan itu. Untung dia terjebur di daerah yang dangkal. Beberapa saat kemudian, Hyera berdiri di depan Hyukjae dengan basah kuyup dan menatapnya dengan tajam dan dengan penuh dendam.

“Mianhae…” Pintanya tulus.

Dengan kesal, Hyera menarik kaos Hyukjae dengan sekuat tenaga. Hyukjae limbung dan ikut terjebur dalam danau.

“Dasar kau menyebalkan!” Ucap hyera dengan ketus lalu membuang wajahnya dengan kesal. Dan dia langsung berjalan ke tepi danau.

“Tapi itu mengasikan.” Celetuk Hyukjae lalu tertawa puas.

Hyera mencuri pandang kearah Hyukjae yang masih saja tertawa sambil mencuci mukanya dengan air danau itu. Hyera tersenyum kecil.

Saat aku mendengar suaramu barang sebentar saja, kenapa aku bisa melupakan segala hal sulit dan kembali tersenyum?” Ujar Hyera dalam hati sambil tetap memandangi Hyukjae yang masih senang bermain air.

-=.=-

“Aku tampan tidak?” Tanya Hyukjae setelah mengganti pakaian yang basah dengan baju yang baru ia beli.

Hyera menoleh malas, kemudian menyipitkan matanya. Ia menatap Hyukjae serius dari ujung kaki hingga ujung rambut. Pria ini benar-benar sudah gila ya? Atau dia terkena sydrom percaya diri akut yang sudah tidak bisa disembuhkan?

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Hyukjae. “Apa aku sebegitu tampannya hingga membuatmu terpesona?”

Hyera hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya. Sementara Hyukjae berdecak kecil dan membalik badan.

“Untung kamera ini tidak ikut terjebur. Kalau rusak, matilah diriku ini.”

“Kau sangat suka fotografi?” Tanya Hyera sambil mengangkat kedua alisnya.

“Tidak juga. Aku paling tertarik dengan dance and rapp.”

“Aku juga suka menari.” Ujar Hyera hampir tidak terdengar.

“Kau bilang apa?”

“Lupakan. Kau suka menari dan rapp? Tapi apa kau bisa menari dan rapping dengan baik?” Tanya Hyera dengan nada meremehkan.

“Tentu saja aku bisa melakukannya. I am dancing machine, Hyukjae.”

“Buktikan!” Tantang Hyera.

Hyukjae mengeluarkan iPodnya dan mulai menyalakan sebuah lagu yang sudah diremix. Hyukjae mulai meliukan badannya seirama dengan beat lagu itu.

Hyera terdiam memandang Hyukjae yang sedang asik menari itu. Dia sama sekali tidak bisa melepas pandangannya dari Hyukjae. Dia serasa terhipnotis oleh penampilan Hyukjae itu. Hingga penampilan itu berakhir, Hyera masih ingin melihat Hyukjae menari.

“Bagaimana? Bagus tidak? Lagu ini aku sendiri yang membuat dan meremixnya.” Pamer Hyukjae.

“Biasa saja. Lalu untuk apa kau membawa kamera dan terus menerus memotret?” Tanya Hyera.

“Aku ada tugas untuk melihat perkembangan persiapan World Expo di Yeosu. Dan karena itu juga, aku terpaksa memotret kawasan itu.”

“Jadi, kau membeli kamera hanya untuk mengerjakan tugas ini?”

“Aku meminjamnya dari Siwon, temanku yang memang hobi fotografi. Hitung-hitung pengiritan biaya.”

“Bilang saja kau pelit!” Hardik Hyera.

“Kau mau keatas bukit Yeosu?” ujar Hyukjae mengalihkan pembicaraan.

“Memang disini ada bukit? Sudah bertahun-tahun aku tinggal di sini tapi aku tak pernah melihat adanya bukit disini.”

“Makanya, kalau kau mau melihatnya, ikut aku. Kajja!”

Kemudian dengan sangat seenaknya, pria itu menarik Hyera menuju bukit Yeosu. Saat hendak mencapai puncak, Hyukjae menyuruh Hyera menutup matanya.

“Buka matamu! Saatnya melihat matahari senja yang indah…” Kata Hyukjae dengan lembut, melepaskan rangkulannya di pundak Hyera selama menuntun Hyera.

Hyera mulai membuka matanya perlahan. Hyera tersenyum kecil melihat pemandangan dihadapannya. Semburat nila menyambutnya di cakrawala. Matahari mulai terbenam perlahan, menorehkan garis-garis jingga yang menenangkan dipadukan pantulain cahaya di hamparan laut biru yang membentang luas. Hyera kemudian beralih menatap sosok Hyukjae yang saat ini tengah tersenyum bahagia memainkan kameranya mengabadikan keindahan alam yang hanya bisa diciptakan oleh sang kuasa.

-=.=-

Hyera menggeliat pelan saat merasakan silau sinar matahari menerobos celah kelopak matanya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar bisa beradaptasi dengan cahaya di sekelilingnya. Hyera menguap sebentar, kemudian melirik sosok Hyukjae yang tidur bersandar disampingnya dengan hanya memakai kaos.

Lalu dia menyadari ada sebuah kain hangat yang menutupi tubuhnya. Jaket kulit hitam milik Hyukjae. Hyera tersenyum kecil. Sedetik kemudian dia terlarut dalam pemandangan wajah Hyukjae di matanya. Pria itu masih tidur, beberapa kali menggeliat tak nyaman, tampak begitu lelah.

“Terimakasih.” gumamnya kemudian.

Hyera beralih mengambil kamera DSRL disamping Hyukjae. Dia memuka galerinya. Dia terkejut. Tak seperti bayangannya bahwa memori kamera itu penuh dengan foto-foto proyek di pelabuhan Yeosu, tapi berisi-isi puluhan atau mungkin ratusan foto dengan satu objek yaitu Hyera itu sendiri.

Dan entah untuk alasan apa, tiba-tiba sebuah cairan bening menetes membentuk sebuah alur di pinya. Hyera segera menghapusnya. Kemudian melirik sekilas kearah Hyukjae yang masih tertidur pulas. Kenapa ia bisa menangis haru seperti ini? Memang seberapa penting pria itu untuknya? Lalu perasaan berdebar dan hangat ini, apa namanya?

“Cinta?” gumamnya sendiri. Tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat tidak menyetujui jawabannya sendiri.

Hyera menyelimuti Hyukjae dengan jaket kulit itu. “Kau memang pria yang sangat bodoh” Lalu melangkah meninggalkan Hyukjae yang masih tertidur bersandar pohon.

Ternyata, Hyukjae sudah terbangun namun pura-pura tertidur. Dia mengambil jaketnya lalu tersenyum puas. “Pria bodoh?”

Lalu ia terkekeh sendiri, “Tapi, pria bodoh ini sudah berhasil mencuri hatimu, benarkan?”

-=.=-

Hari in adalah hari terakhr Hyera ada di Yeosu. Entah kenapa dia merasa tidak ingin pergi dari Yeosu.

“Jadi kau akan pulang hari ini?” Tanya Hyukjae. Nada kecewa terdengar jelas dari mulutnya.

“Ne. Dan kau sendiri? Kau tinggal di Yeosu?”

“Aku tinggal di Seoul.”

“Kapan kau juga pulang ke Seoul?

“Aku akan pulang lusa bersama Siwon.”

“Bilang saja kau pelit dan tidak ingin membeli tiket untuk pulang ke Seoul.”

“Hahah… mungkin itu juga benar.”

Hyera berjalan menyusuri pantai Yeosu lagi. Dan setelah puas, dia beralih menuju ke pelabuhan. Hanya sekedar melihat perkembangan proyek disana.

Dia tersentak kaget melihat kerumunan orang yang keluar dari kapal feri yang baru saja merapat. Walau Hyera tidak terlalu jelas melihatnya, dia yakin akan sesosok siluet yang baru saja ia lihat.

Hyera mendekati gerbang keluar untuk penumpang. Dia semakin yakin akan sosok yang ia lihat itu. “Oppa?” tanyannya saat sosok itu mendekat.

Sosok yang ia lihat itu menjatuhkan tas ransel yang ia bawa. Dia sama kagetnya dengan Hyera sekarang. “Hyera-ya?”

“Sungha Oppa!”

Hyera menghambur kedalam pelukan Sungha. Mereka saling melepas kerinduan yang sudah dipendam selama tiga tahun belakangan.

Hyukjae yang melihatnya hanya bisa menatap mereka dengan miris. Mungkin dasarnya dia adalah pria yang cengeng, matanya sudah dipenuhi oleh airmata.

Walau dia tidak tahu apa yang sebenanya terjadi antara Hyera dan Sungha, tapi dari cara Hyera memanggil nama Sungha, cara dia menatap Sungha, Hyukjae tahu kalau Sungha adalah orang yang penting bagi Hyera.

Sejujurnya bohong, bila Hyukjae datang kesini karena tugas yang menantinya. Dia sudah sering bertemu dengan Hyera di pantai Yeosu. Walau secara diam-diam. Hyukjae sudah rutin melakukannya. Dan baru tahun ini, dia berani berdekatan dengan Hyera.

Dan setelah melihat semuanya, antara Hyera dan Sungha, dia memilih untuk mundur. Walau hatinya terus meronta untuk menyuruhnya bertahan disisi Hyera, tapi dia memilih untuk tetap mengalah.

Tapi tidak dipungkiri, paru-parunya sesak hingga ia kesulitan untuk bernafas. Tidak. Bukan paru-parunya yang sesak. Tapi dadanya. Dadanya terasa sesak. Sesak seakan jantungnya ditarik paksa dan dicengkeram kuat. Sesak seakan ulu hatinya direnggut kasar dan dikoyak dalam. Sesak seakan tulang rusuknya merangsek maju dan menusuknya hingga tembus kedepan.

“Keurom aku permisi.” Ujarnya pelan hanya untuk berpamitan dan yang mungkin untuk terakhir kalinnya. Hyukjae sangat berharap bila Hyera akan menoleh dan membalasnya, tapi Hyera serasa tidak mendengarnya sama sekali.

Hyera berjalan meninggalkan pemandangan yang menyakitkan baginya. Dan setelah bebarapa langkah, dia menoleh. Berharap Hyera menyadari kepergiannya. Tapi semua masih sama. Sungha dan Hyera serasa terjebak dalam dunia mereka.

Hyukjae tersenyum kecut lalu megetuk kepalanya pelan. “Dasar pria bodoh. Sudah tahu dia memiliki kekasih, tapi kau masih mengharapkannya. Dasar namja bodoh.”

Hyukjae berjalan sambil tetap mengetuki kepalanya dan merutuki dirinya sendiri. “Nan jinja babo namjaiya. Nan baboya, jinja babo. Nan babo saram.” Rutuknya dengan suara bergetar karena menangis. “Saranghaeyo, Hyera-ya.”

-=.=-

Hyera melepas pelukannya. Dia menoleh, dan mendapati Hyukjae tak lagi ada disitu. Dia beralih mencari Hyukjae.

“Hyera-ya!” panggil Sungha mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Ne?”

“Kau masih berhutang janji padaku. Kau masih ingat, kan?”

Hyera teringat akan hal itu. Dia berjanji akan menikahinya. Hyera mengangguk perlahan. Tapi dia merasa ada yang janggal. Tapi dia segera melupakannya.

“Kau pasti lelah. Kebetulan aku akan pulang ke Seoul.” Ujar Hyera.

“Kau pindah ke Seoul?

“Sejak kecelakan itu, aku pindah ke Seoul. Kebetulan aku mendapat pekerjaan disana.”

“Tapi aku ingin menemui orang tuaku. Kau mau ikut?”

“Ayo.” Hyera mengiyakan walau sebenarnya dia sangat berat mengiyakannya.

Hyera dan Sungha pulang kerumah Sungha dengan taksi. Tapi walau Sungha kini ada disampingnya, tapi di dalam taksi dia terus mencari-cari kalau saja dia melihat Hyukjae. Namun, hingga tiba di rumah Sungha, dia belum juga menemukan Hyukjae.

“S… ss… sung… Sungha-ya…” Ujar pria yang membuka pintu dengan terbata-bata.

“Sungjin Hyung. Oraemaniyeyo.” Sapa Sungha.

“Ini benar-benar kau, Sungha-ya? Neo jinja uri Sungha?”

“Ne.”

“Sungjin-ah, siapa yang datang?” Tanya seseorang wanita paruh baya sambil mendekati pintu.

“Eomma!!” Seru Sungha lalu langsung berhambur memeluk ibunya.

“Sungha-ya…” Ujar Ibunya tak percaya. “Kau pulang?” Tanyanya sekali lagi dengan menangis dan memegang wajah Sungha.

Hyera yang melihatnya ikut bahagia karena Sungha bisa kembali lagi.

“Sungjin-ah, cepat telepon Hyungmu! Suruh dia segera pulang.”

“Ne, eomma!”

Sungjin segera menuju telepon rumah dan menelepon Hyung tertuanya.

“Yoboseo!” Ujar suara diseberang.

“Sungmin Hyung. Bisakah kau pulang sekarang?” Tanya Sungjin dengan sedikit terisak.

“Wae geuraeyo? Kau kenapa menangis?”

“Sungha sudah pulang.”

“JINJA??”

“Ne. Bisakah Hyung pulang?”

“Baiklah. Aku akan menjemput Yonghee lalu segera ke Yeosu.”

“Ne.”

Sungjin kembali ke ruang depan. Kini mereka semua sudah duduk bersama di ruang tengah. Ayah, Ibu, Sungjin, Sungha dan Hyera. Hanya tertinggal Sungmin dan Yonghee.

“Sungha-ya, kau kemana selama ini?” Tanya Ibunya.

“Setelah kecelakaan itu, aku terhuyung ombak hingga kembali ke Jeju. Disana aku diselamatkan oleh keluarga Oh.”

“Kenapa kau tidak pulang?”

“Aku mengalami lumpuh. Aku tidak bisa berjalan dan berbicara sama sekali. Dan juga, aku kehilangan ingatanku selama sekitar dua tahu. Selama disana aku menjalani terapi. Dan aku baru sembuh sekitar minggu lalu.” Sungha menjelaskan.

“Ya tuhan. Tapi disana kau hidup dengan baik, kan?”

“Tentu, Eomma. Keluarga Oh sangat baik padaku. Lain kali, aku ingin mengajak kalian menemui mereka.”

“Tentu kita harus mengunjungi mereka.”

“Syukurlah kalau begitu.” Ayah ikut menghela nafas lega.

“Kenapa setelah kau sembuh tidak menghubungi kami?”

“Aku ingin membuat kejutan.”

“Sudah. Kau pasti lelah. Kebetulan Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu. Ayo semuanya makan malam. Kau juga Hyera!”

“Ye, eommonim.”

Mereka makan malam, masih dengan cerita Sungha selama ada di Jeju. Dan setelah makan malam, mereka kembali berbincang di ruang keluarga.

“Eomma!” Sapa seseorang dengan langkah mendekat.

“Sungmin-ah weoso?”

“Ne, eomma.”

“Mana Yonghee?” Tanya Ayah.

“Dia sedang menaruh mantel. Sedang turun salju di Seoul.”

“Anyeonghaseyo yeorobun!” Sapa Yonghee yang baru datang dari belakang.

“Hyung!” Sapa Sungha lalu berdiri dan langsung memeluk Sungmin.

“Kau sehat, kan!”

“Ne, Hyung. Noona, anyeonghaseyo!”

“Sekarang lebih baik kita istirahat. Kasian Sungha juga. Dia pasti lelah. Yonghee, apa kalian sudah makan?” Tanya Ibu.

“Ne, Eomma. Saat Sungjin telepon tadi, kami sedang ingin makan. Tapi, akhirnya kami makan di dalam mobil karena buru-buru pulang.”

“Kalian ini. Kalau sedang mencari makan, kalian makan saja dulu.”

“Gwaenchana, eommonim. Lagipula, Sungmin Oppa sudah sangat ingin bertemu dengan Sungha.”

“Sudah, ayo istirahat! Saatnya tidur.”

“Tapi, Eomma, aku masih ingin berbincang-bincang.”

“Kau ini. Sudah kecelakaan hingga membuatmu lumpuh masih saja bandel. Kalau Eomma menyuruhmu tidur, berarti kau harus tidur.”

“Semua masih sama, ya?” Canda Sungjin.

“Tapi seiring waktu berjalan, pasti ada yang berubah.” Ujar Sungha pelan sambil melirik Hyera yang sedari tadi hanya diam tidak seperti Hyera yang cerewet seperti biasa.

“Sunjin-ah, untuk hari ini, kau tidur dengan Sungha. Biar Hyera menggunakan kamar Sungha.”

“Aku tidur di rumah saja.” Hyera menolak sopan.

“Tapi ini sudah malam.”

“Gwaenchana. Rumahku dekat dari sini.”

“Sudah. Kau tidur disini saja.”

“Bukankan disini masih ada kamar tamu?” Tanya Sungha.

“Ah iya. Eomma lupa. Hyera tidak apa-apa kau tidur di kamar tamu, kan?”

“Apa tidak merepotkan?”

“Tentu tidak!”

“Ayo semua tidur! Sungha kau juga tidur!”

“Ne Eomma.” Jawab Sungha dengan malas.

Sungjin tanpa disuruh langsung naik keatas. Hyera langsung berjalan ke kamar tamu dengan gontai. Sementara Sungmin dan Yonghee berjalan masuk ke dalam kamar Sungmin.

“Hyung, Noona, kalian tidur sekamar?” tanya Sungha dengan bingung.

“Apa salahnya?” Tanya Sungmin dengan santai.

“Tapi kalian…”

“Makanya, kalau pergi jangan terlalu lama. Sungmin Hyung dan Yonghee Noona sudah menikah lima bulan lalu!” Celetuk Sungjin dari tangga lalu melakukan mehrong ke arah Sungha.

-=.=-

Paginya, Hyera sudah berdiri sambil menatap pantai Yeosu. Entah kenapa, Hyera jatuh cinta dengan pemandangan panti Yeosu.

“Hyera-ya!” Panggil Sungha dari belakang. Hyera menoleh.

“Aku mau menagih janjimu untuk menikah denganku!” Ujar Sungha.

Wajah Hyera memucat. Ia tak tau harus berekspresi seperti apa saat ini. Lidahnya kelu. Matanya kering. Ini menyesakkan baginya.

Sungha membelai rambut Hyera yang masih terlihat shock itu, “Ada yang salah?” Sungha menatap curiga pada reaksi aneh Hyera.“Kau tidak sedang mencintai orang lain, kan, Hyera?”

Hyera hanya diam, mengigit bibir bawahnya. Mencintai seseorang? Ia sendiri tidak tau! Dia saja tak tahu cintanya ada dimana.

Tapi tiba-tiba saja bayangan Lee Hyukjae yang tersenyum bodoh berkelebat dalam otaknya. Pria aneh yang selalu menguntitnya. Pria bodoh yang penuh rasa percaya diri. Pria menyebalkan yang selalu menjahilinya. Pria yang tidak tahu diri dan lancang menerobos masuk dan mencuri hatinya diam-diam.

“Lupakan orang itu!” ujar Sungha kemudian, lebih terdengar sebagai perintah. Hyera menelan ludah.

Sungha menggenggam erat kedua pundak Hyera, kemudian menatapnya dengan tegas. “Kau sudah berjanji padaku.”

-=.=-

Salju turun perlahan, mengguyur Yeosu di malam yang dingin. Butiran salju mulai menutupi jalanan, ranting pohon, atap-atap rumah. Dan titik-titik salju yang mengintip sebuah kisah lewat sela-sela kanopi bening halte bus.

Hyera terduduk diam disana. Hyera merapatkan mantel sebentar, kemudian menoleh ke samping, menatap sosok Hyukjae yang duduk di sebelahnya dengan tatapan nanar. Pria bodoh itu sedang asyik sendiri. Menggeleng-gelengkan kepala, mengetuk-ngetukkan kaki seirama dengan sepasang headphone yang menempel di telinganya. Sesekali dia terlihat membuat koreografi sesuai ritma lagu itu. Hyukjae tenggelam dalam kesibukannya menikmati lagu itu.

“Hyukjae-ah, aku tidak tau harus mulai dari mana” ujarnya dengan gamang, “Aku tidak yakin kau perlu tau ini atau tidak. Yang jelas, aku mencintaimu.” Saat merasakan matanya mulai memanas, Hyera mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Hyera menelan ludah. Akhirnya ia bisa jujur pada dirinya sendiri. Akhirnya ia mampu mengungkapkan rasa itu walau ia sendiri tau bahwa Hyukjae tidak mungkin mendengarnya. Tapi dia bersyukur dengan Hyukjae yang mendengarkan musik keras-keras, ia bisa mengatakan semua hal tanpa perlu membuat pria itu mendengarnya.

“Aku mencintaimu, Hyukjae-ah! Tapi, tapi kenyataannya mungkin kita memang tidak bisa bersama. Karena…” lirihnya lagi, tersendat. Tergantung. Hyera menggigit bibir bawahnya lagi. Tapi semakin kuat ia melakukan itu, semakin kuat pula sekumpulan cairan bening mendesak untuk keluar dari sudut matanya.

“Karena aku harus menikah dengan Sungha. Aku sudah berjanji padanya.” akhirnya kalimat itu berhasil meluncur. Pias. Bersamaan dengan air mata yang kemudian mengalir pelan tanpa bisa dicegahnya lagi.

Hyera mengangkat kakinya keatas kursi panjang halte, kemudian memeluk lututnya erat-erat. Dia membenamkan wajahnya diantara lututnya. Semua terasa sesak, begitu sesak. Air matanya bahkan menolak untuk berhenti. Air mata itu tumpah sejadi-jadinya tanpa bisa diajak berkompromi.

“Kenapa aku terlalu penurut untuk seorang Lee Sungha? Aku bisa saja berontak dan kabur, tapi aku tidak bisa melakukannya!” omelnya kemudian, parau. Ia tidak ragu, setidaknya musik di telinga Hyukjae akan membuat pria di sampingnya itu tidak mungkin mendengar apa pun.

“Dia seolah memegang tali pengekang dan mengendalikanku! Aku tidak mau!” Isaknya, begitu ringkih.

Hyera menoleh sekali lagi kearah Hyukjae, kemudian tersenyum dengan sedikit lega. Pria bodoh itu ternyata masih santai-santai saja sambil menyanyi-nyanyi kecil, beberapa kali memejamkan mata menghayati lagu yang mengalun dari headphone-nya.

“Maafkan aku…” desis Hyera. Dia sudah tidak bisa menahan gejolak dalam hatinya. Dia langsung berlari menerjang derasnya salju dan menyusuri jalan Yeousu. Ia berlari. Berlari meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri kaku di depan halte. Berlari menapaki timbunan salju, berlari menerobos taburan salju yang semakin deras.

Sementara Lee Hyukjae masih terdiam. Ada setitik harapan bahwa Hyera akan menghentikan langkah sebentar lalu menoleh padaya. Tapi nihil. Dan yang sanggup dilakukannya kemudian, adalah menyaksikan punggung rapuh itu yang mulai menghilang di tikungan jalan. Hingga perlahan, butiran hangat itu menerobos keluar dari sepasang matanya.

“Terimakasih telah mencintaiku, Hyera-ya…”

Hyukjae melangkah keluar meninggalkan halte. Membiarkan salju menutupi tubuhnya. Jemarinya melepas headphone yang ternyata tidak tersambung pada apapun. Hyukjae tersenyum miris, “Jadi, kau harus menikahinya?”

Lee Hyukjae tersenyum mengejek untuk dirinya sendiri, “Bodoh! Harusnya sejak awal kau tak perlu berharap pada Hyera, Lee Hyukjae!”

Sambil terus melangkah dan membiarkan air matanya mengalir memecah keheningan jalanan kota Yeosu yang sedang dihujani salju

-=.=-

Sudah seminggu berlalu semenjak hari itu. Dan sekarang, adalah malam sebelum hari pernikahan antara Hyera dan Sungha.

“Nichan-ah… Otthokhaeyo?” tanya Hyera dengan bingung pada Nichan, sahabatnya.

“Itu tergantung padamu. Dan kau sudah memilih Sungha.”

“Tapi aku tidak yakin dengan diriku sendiri.”

“Kau sudah memilih Sungha. Jadi, kau harus berhenti memikirkan pria itu! Belajarlah melupakannya dari sekarang, atau kau akan menyakiti dirimu sendiri.” Nichan memberi saran untuk sahabatnya. “Kau harus meyakinkan dirimu sendiri dulu.”

“Bisakah kau telepon Hyukjae untukku?” Pinta Hyera.

“Untuk apa? Itu akan menyakiti dirimu sendiri.”`

“Aku tahu itu. Tapi setidaknya aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kalinya.”

“Tapi…” Nichan masih enggan.

“Nichan-ah, kumohon, bantu aku.”

“Tapi bagaimana kalau dia tidak mau datang?”

“Dia tidak memiliki perasaan apapun padaku. Jadi kurasa dia tidak masalah untuk datang besok.”

“Arraseo. Berikan nomornya.” Akhirnya Nichan mengalah.

Hyera memberikan ponselnya pada Nichan. Sementara Nichan mengambil ponsel dan segera mengubungi Hyukjae.

“Yoboseo.” Jawab diseberang.

“Yoboseo. Benarkah aku berbicara dengan Lee Hyukjae?”

“Ne. Nuguseyo?”

“Aku Nichan, teman Hyera.”

“Hye… Hyera?”

“Ne. Aku hanya ingin mengatakan bahwa besok Hyera akan menikah dengan Sungha di Gereja Nasional Seoul. Dia memintaku untuk mengundangmu melalui telepon. Kami tidak tahu alamatmu, jadi tidak bisa mengirim undangannya.”

“Hajiman, kurasa aku tidak bisa datang. Bisa kau sampaikan padanya, kalau aku bahagia untuknya. Dan juga…” Ujar Hyukjae menggantung.

“Dan apa?” Tanya Nichan penasaran.  Hyera yang mendengarnya juga ikut penasaran karena Nichan menggunakan mode speaker.

“Bisa katakana kalau aku sangat mencintainya semenjak tiga tahun lalu?”

“Ne?” Tanya Nichan tak percaya. Sementara Hyera menjadi blank karena pernyataan Hyukjae. “Baik. Aku akan menyampaikannya.”

Hyukjae memutuskan sambungannya. Sementara Hyera kini tengah menangis karena semakin bingung untuk memilih. “Hyukjae-ah, nado saranghae!”

-=.=-

Tapi diruangan itu, mereka berdua tidak sendiri. Dibalik dinding, Sungha mendengar semuanya.

Dari awal, Sungha tahu, Hyera sudah berubah. Dia mengintip Hyera dengan marah, sedih, dan juga kecewa. Dia segera keluar dan pergi ke suatu tempat.

Sungha keluar dari mobil. DIa mendekati seorang pria yang sedang menari di sebuah studio tari

“Kau yang bernama Lee Hyukjae?”

-=.=-

“Kau sudah siap?” Tanya Sungha yang sudah siap dengan tuxedonya.

Hyera menoleh, memaksakan sebuah senyum kecil, “Aku sudah siap, Oppa.”

Ya, Hyera siap. Hyera siap untuk membohongi dirinya sendiri. Hyera siap untuk menghancurkan bahkan membunuh hatinya sendiri. Hyera siap untuk bermain dengan ikrar suci di depan Tuhan. Hyera siap kehilangan cinta dalam hidupnya. Tapi ia belum siap akan satu hal. Ia belum siap menghapus semua kenangannya tentang Lee Hyukjae dan juga perasaanya.

Hyera menatap gereja yang ada di depannya. Semua tampak megah, cantik, dan begitu indah. Tapi sayangnya, itu semua sama sekali tak ada di hati Hyera. Bagi Hyera, yang ada saat ini hanya rasa rancu dan gamang.

Hyera dan Sungha sudah ada di depan pintu gereja yang akan menjadi saksi bisu akan kebohongannya. Kini dia hanya menunggu saat pendeta memanggilnya dan beberapa saat kemudian hatinya akan mati untuk selamanya.

-=.=-

Hyukjae sedang ada di taman yang tak jauh dari GNS. Dia sedang sibuk memotret pemandang taman sekitar. Dia sibuk memotert anak-anak yang sedang bermain ditaman itu.

Hyukjae tersenyum getir saat melihat sepasang kekasih yang ada. Terlihat pria itu selalu bertingkah konyol hingga membuat gadis disampingnya itu kesal. Hyukjae merasa, mungkin dia dan Hyera terlihat sama seperti itu.

Hyukjae menoleh kearah geraja yang berdiri dengan megah di ujung jalan yang sejalan dengan taman itu. “Kau pasti sekarang sudah menjadi isterinya. Kau bahagia sekarang, kan, Hyera-ya?”

“Ya, Dongwook-ah, coba lihat aku!” Ujar seorang bocah laki-laki dengan bangga.

“Ada apa, Youngmin-ah?” Balas bocah yang ada dipanggil dengan nama Dongwook.

Bocah yang memanggil Dongwook itu mulai menari. Tarian itu terlihat konyol dan lucu karena ulahnya.

Hyukjae tersenyum lalu mendekati mereka. “Kalian suka menari?”

“Ne.” Sahut mereka kompak.

“Mau Hyung ajari?” Hyukjae menawarkan diri.

“Memangnya, Hyung bisa menari?” Tanya Youngmin menghina.

“Aku akan menunjukan pada kalian.” Hyukjae mengambil iPod miliknya. Dia hendak memutar lagu yang dulu ia tunjukan pada Hyera. Awalnya ia ragu, tapi akhirnya ia memutar lagu itu.

Hyukjae menghela nafasnya, lalu segera menarikan koreografinya. Tapi ditengah penampilannya yang ramai disoraki anak-anak, seseorang memanggil namanya.

“LEE HYUKJAE!!”

Hyukjae tertegun mendengar suara yang baru saja memasuki lubang telinganya. Dia menghentikan tariannya. Perlahan dia menoleh kebelakang. Ia tak mau banyak berharap. Lagi pula banyak orang yang memiliki suara yang sama, bukan?

Hyukjae terpaku. Saat gadis itu langsung berlari dan kemudian memeluknya. Gadis itu kini tengah menangis dalam dekapannya. “Hyera-ya…”

“Hyukjae-ah. Aku tidak bisa menikah dengan Sungha. Aku hanya ingin menikah denganmu.” Ujar Hyera masih dalam pelukan Hyukjae.

Hyukjae mengeratkan pelukannya. “Benarkah itu? Benarkah kau ingin menikah denganku?”

“Hanya denganmu.”

“Tapi, bagaimana bisa kau meninggalkan pernikahanmu?”

-=.=-

Flashback

Hyera dan Sungha berdiri didepan pintu geraja. Menunggu pintu itu terbuka dan memberikan jalan untuknya untuk mengubah status mereka menjadi suami-isteri

“Masih ada waktu.” Ujar Sungha pelan.

Hyera menoleh. Dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Sungha. “Apa maksudmu?”

“Masih ada waktu untuk menyelamatkan hatimu.”

“Apa?”

“Aku tak mau kau membunuh hatimu hanya karena kau pernah berjanji untuk menikah denganku. Lagi pula aku ingin rumah tanggaku didasari oleh cinta, bukan dilandasi hutang!”

Hyera tau maksudnya tapi dia belum berani memercayai apa yang ia pikirkan. “Apa maksudmu?”

“Dasar lamban. Aku membatalkan janji kita! Jadi, kau tidak memiliki hutang lagi padaku.”

Hyera terkejut. “Kau memang bisa membuatku mati karena serangan jantung.”

“Kita bisa membicarakan ini nanti. Sekarang, cepat, kau pergi temui Hyukjae. Dia yang lebih pantas berdiri disini menggantikan aku. Walau mungkin bukan sekarang.”

“Benarkah?”

“Cepat. Waktumu tidak banyak. Mungkin dia sudah pergi kalau kau tidak cepat datang ke taman.”

“Terimakasih. Semoga kau mendapat wanita yang lebih baik dariku.”

“Terimakasih untuk doamu. Dan juga , kuharap pengorbananku tidak sia-sia. Jadi kau harus bahagia bersamanya. Arraseo?” Hyera langsung keluar dari kawasan gereja itu.

End of Flashback

-=.=-

“Benarkah dia melakukan itu?” Tanya Hyukjae tak percaya.

“Ne.”

“Pantas saja Sungha menyuruhku datang kesini.”

“Apa?”

“Semalam, Sungha mendatangiku. Kalau aku masih memiliki harapan akan ada keajaiban. Jadi ini maksudanya.”

“YA!! KALIAN BERDUA!!”

Hyera dan Hyukjae menoleh. Sungha tengah berdiri di pinggir taman. Sungha tersenyum lalu mendekati mereka.

“Hyera-ya, kau tak malu menjadi pusat perhatian orang dengan pakaian pernikahanmu itu?”

Hyera melihat gaunnya yang awalnya putih bersih kini berubah agak kusam.

“Hyukjae-ah, apa kau masih menunggu keajaiban yang sesungguhnya?”

-=.=-

Hyukjae dan Hyera kini berada di depan altar gereja. Pendeta kini tengah memberikan doa untuk memberkati mereka. Kini Hyukjae dan Hyera menjadi pasangan suami-isteri.

Pada malam sebelumnya, Sungha sudah menyiapkan semuanya. Dia tidak mau melihat gadis yang dicintainya karena nafsunya untuk memiliki Hyera. Dia sudah merelakan Hyera bersama Hyukjae.

Sungha tahu mungkin banyak orang akan mengatainya bodoh karena melepaskan cintanya yang tinggal selangkah lagi akan ia dapatkan seutuhnya. Bahkan beberapa temannya yang datang mengatainya bodoh dan gila. Tapi ia tahu, bahwa dibalik pengorbanan besar akan datang sebuah kemenangan yang besar pula.

END

Author by : Nirwana (www.nichanpark.wordpress.com)

3 responses »

  1. hueee…

    happy ending bwt hyera and hyukjae, tp gk bwt sungha,malangnya,3 thun terdampar,mlh hrus ngadepi kenyataan pahit,klu kekasihnya sdh pindah kelain hati…

    hhhh…takdir memang kejam…Y.Y

    tp,bahagia melihat orang yg dicintai bahagia itu termasuk happy enfing jg kok..

    cinta tak harus saling memiliki judulnya..*plakk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s