Say It With Flower

Standar

 

Cring~ Cring~

Bunyi sebuah lonceng yang sengaja digantungkan dibagian kusen pintu sebuah toko menggema ditelinga sanga pemilik. Ya, hanya sang pemilik bukan sang pengunjung. Karena, sang pengunjung adalah seorang yang tuna rungu. Sang pemilik toko berbalik untuk menyambut sang pelanggan. Hanya tersenyum tanpa sapaan yang keluar dari mulutnya. Ia tahu, ia sudah hafal dengan pengunjungnya ini yang memang beberapa hari ini selalu mengunjungi tokonya.

Dengan cekatan, ia merogoh note di saku celananya dan menuliskan sesuatu, (“Kau kemari ingin membeli bunga lagi, Changmin-ssi?”)

Sang pengunjung yang dipanggil Changmin tadi hanya mengangguk dan tersenyum separuh minta maaf. Ya, ia tak bicara. Karena, ia adalah seorang yang tuna wicara.

(“Kenapa tersenyum seperti itu? Kau harus lebih ceria, Changmin-ssi!”) nasihat sang penjual bunga yang sudah dianggap sebagai kakak kandung sendiri oleh Changmin.

Changmin tersenyum. Membuat gerakan yang menandakan kalau ia sedang tertawa. Tertawa… tanpa suara.

Sang penjual bunga kemudian menulis lagi, (“Jadi, kau ingin membeli bunga apa hari ini?”)

Changmin kemudian merogoh saku jeans yang dikenakannya. Menarik keluar sebuah PDA yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi pada seseorang. Tangannya bergerak lincah di atas keypad PDA itu. Menimbulkan suara yang sudah tak asing lagi bagi sang penjual. Ya, sang penjual. Karena sekali lagi, ia tuna rungu.

[“Aku ingin membeli bunga Anemone lagi, Jae-hyung. Seperti biasa, hanya satu tangkai,”]

Jaejoong, sang penjual bunga pun tersenyum dan mengisyaratkan ‘tunggu-sebentar-kuambilkan’ pada Changmin yang masih setia tersenyum. Tak lama, Jaejoong kembali dengan setangkai bunga Anemone di tangannya. Bunga Anemone itu terlihat apa adanya. Segar bagai baru dipetik. Tak ada pita ataupun plastic bening penghias selayaknya yang biasa orang lain minta.

Ini lain, bunga itu tak berhiaskan apapun. Hanya terlihat… sebagaimana bunga itu seharusnya terlihat. Tapi, bukankah bunga itu jadi terlihat lebih cantik?

Changmin tersenyum senang dan kembali mengetik sesuatu di PDA-nya, [“Gomawo, hyung. Aku datang lagi besok,”]

Setelah menyerahkan uang untuk membayar bunga Anemone yang dibelinya, Changmin segera berbalik dan meninggalkan toko itu.

Cring~ Cring~

Lonceng itu kembali terdengar setelahnya.

“Pelanggan itu lagi, Boo?” panggil seseorang pada Jaejoong.

“Hmm, begitulah Yunnie. Aku kadang kasihan melihatnya yang kesulitan berkomunikasi dengan yang lain,” sahutnya pada seseorang itu.

“Jangan begitu, Joongie. Kalau seperti itu, kau sama saja sedang menghinanya. Ia punya harga diri,” nasihat Yunho, sosok yang sejak tadi dipanggil ‘Yunnie’ melingkarkan tanganya pada pinggang ramping Jaejoong.

Mwo? Ah- aku tidak bermaksud menghinanya!” sahut Jaejoong panic.

“Ahahahaha~ Kau ini manis sekali, Boo. Sudah, yang penting jangan seperti itu lagi, ya?” ujar Yunho menenangkan seraya mencubit pelan hidung ‘Boojae’nya.

“Ngomong-ngomong… tiap hari beli satu tangkai bunga itu, untuk apa ya?” lanjut Yunho penasaran dengan tingkah pelanggan baru toko kekasihnya.

“Ya! Yunnie, kau pabbo sekali, sih? Kau tidak pernah dengan istilah ‘Katakanlah dengan bunga’, ya? Dia menggunaka bunga sebagai ganti kalimat yang seharusnya keluar dari mulutnya,” terang Jaejoong gemas.

“Ohh… lalu, arti bunga yang selalu dibelinya itu apa, Boo?” tanya Yunho masih dengan wajah bingungnya.

“Bunga Anemone. Artinya… Ketulusan,”

===%%%%===%%%%===%%%%===

Pik! Pik! Pik! Pik!

Bunyi PSP yang sedang dimainkan oleh pemuda dengan rambut madu lembut itu terdengar begitu mengganggu telinga orang yang berjalan di sampingnya. Tak urung membuat sosok itu jegah juga, “Kyunie, bisa kau berhenti memainkan PSP-mu itu? Kita ‘kan sedang berjalan. Nanti jatuh,” nasihat sosok tersebut berusaha untuk tetap sabar.

“Tidak bisa, hyung. Ini sedang krisis,” sahut pemuda ‘Kyunie’ itu tak mengindahkan nasihat sosok di sebalahnya.

“Terserah kau saja. Ah, aku duluan ya, Kyunie. Rumahku ‘kan belok ke sini,” ujarnya melambaikan tangan yang tentu saja tak dilihat oleh kyuhyun karena pandangannya tak juga beralih dari PSP miliknya.

“Sampai besok, Sungmin-hyung,” sahutnya pelan. Entah niat atau tidak.

Tak terasa, pemuda itu telah sampai di depan rumahnya, “Aku pulang,” serunya pada penghuni lain rumah itu.

“Selamat datang, Kyunie. Ah, bisa tolong ambilkan surat-surat?” Sahut sang Umma lembut menyambut anak bungsunya.

Tanpa membalas ucapan sang Umma, Kyuhyun berjalan keluar menghampiri kotak suratnya. Dibukanya penutup kotak itu dan mengambil semua kiriman yang ditujukan pada alamat rumahnya.

“Hmm? Lagi-lagi…” Gumamnya pada diri sendiri seraya mengamati bunga Anemone yang sekarang telah berpindah tangan padanya.

“Maksud sebenarnya apa sih? Kenapa mengirimi satu tangkai bunga yang sama tiap hari? Tak ada nama pengirimnya pula. Ah, sudahlah,” lirihnya tersenyum simpul menghirup aroma bunga yang diterimanya.

Dengan senyum tulus dan pipi yang agak merona, ia mendongak, “Hei, tuan pengirim bunga! Bungamu kuterima! Terima kasih ya!” Serunya entah pada siapa.

Tanpa Kyuhyun sadari, seseorang tengah memperhatikannya diujung tikungan dengan senyum tulus, ‘Sama-sama, Kyuhyun-ssi. Aku senang kau menyukai bunga Anemone itu,’ batin sosok itu dalam hati dan melangkah pergi dari tempatnya.

Setelah mengucapkan terima kasih, Kyuhyun kembali masuk ke dalam rumahnya. Meletakkan surat-surat di atas meja dan menaruh bunga yang ia dapatkan ke dalan vas yang telah diisinya dengan air.

“Kau dapat bunga lagi, Kyunie?” Tanya sang Umma melihat kesibukan anaknya yang tengah memperhatikan satu tangkai bunga Anemone dalam vas porselen cantik.

“Iya, Umma,” sahut Kyuhyun seadanya.

“Wahh, Anemone ya?” Ucap sang Umma terdengar senang di telinganya.

‘Bunga Anemone namanya?’ Batin Kyuhyun agak senang karena mengetahui bunga jenis apa yang diberikan padanya.

“Kau dapat bunga itu dari siapa, Kyunie?” Tanya sang Umma dengan wajah err- berbinar senang?

“Eh? Tidak tahu. Aku hanya selalu menemukannya di kotak pos. Cuma tertulis ‘Untuk Cho Kyuhyun’ saja di kertas yang dililitkan di bunga ini,” terang Kyuhyun jadi penasaran dengan tingkah Umma-nya.

“Hahh, sayang sekali. Tapi, Kyunie, kau harus senang karena menerima bunga ini. Terlebih, pengirim bunga ini orang yang baik,” ujar sang Umma tersenyum mengelus puncak kepala putranya.

Umma tahu pengirim bunga ini? Kenapa tidak memberitahuku?” Kyuhyun menggembungkan kedua pipinya tanda ia kesal.

Umma tidak tahu, Kyunie,” jelas sang Umma sabar.

“Kok Umma tahu pengirimnya orang baik?” Tanya Kyuhyun tidak mengerti dengan tingkah Umma-nya.

Umma tahu karakter pengirim bunga itu, dari bunga yang dikirimnya, sayang,” terang sang Umma lagi.

“Hah?”

Sang Umma tak lagi menyahut namun mengambil sebuah buku di rak dan menyerahkannya pada Kyuhyun, “Anemone, sayang. Bunga itu memiliki arti ‘Ketulusan’,”

===%%%%===%%%%===%%%%===

Cring~ Cring~

Lonceng itu kembali berbunyi. Menandakan masuknya seorang pemuda berperawakan tinggi tampan ke sebuah toko bunga. Dengan sekejap, hidung sang pemuda menangkap wangi manis berbagai bunga di dalam toko itu.

Sang pemilik toko tersenyum lembut dan mulai menulis, (“Anemone lagi, Changmin-ssi?”)

Pemuda yang dipanggil Changmin tadi merogoh saku celananya dan mulai mengetik sesuatu di PDA miliknya, [“Aku minta bunga Carnation putih untuk hari ini, hyung. Dan tolong seperti biasa saja, tanpa penghias,”]

Jaejoong tersenyum dan mulai mencarikan bunga yang diminta Changmin. Masih dengan senyumnya, Jaejoong menyerahkan bunga yang diminta Changmin dan mengiringi kepergian pelanggannya dengan tawa geli.

“Apa bunga yang dimintanya kali ini, Boo?” Tanya Yunho penasaran.

“Carnation putih,”

===%%%%===%%%%===%%%%===

“Kyunie?” Panggil Sungmin pada sosok pemuda yang lebih muda darinya itu seolah pemuda itu melakukan sesuatu yang bisa membuat kiamat langsung terjadi saat itu juga.

“Hmm?” Sahut Kyuhyun asal-asalan.

“Kyunie!” Panggil Sungmin lagi lebih keras pada ‘adik’nya itu.

“Hmm?” Sahut Kyuhyun lagi-lagi tak begitu mengindahkan panggilan Sungmin.

“Kyunie! Kyunie! Kyunie! Kyunie! Kyun-”

Hyung berisik!” Sahut Kyuhyun kesal.

“Habis, dari tadi Kyunie cuek,” balas Sungmin tidak mau kalah.

“Hyung mau bicara apa? Aku jadi tidak konsetrasi membaca nih,” ujar Kyuhyun kesal karena

“Itu dia, Kyunie! Sejak kapan kau mencampakkan PSP-mu itu dan malah membaca buku?” Tanya Sungmin horror.

“Sejak kemarin malam kurasa,” Jawab Kyuhyun kembali fokus pada bukunya.

“Aku akan minta Siwon-hyung mengajariku bertobat,” gumam Sungmin mengelus dada.

Dan setelahnya, mereka pun kembali berpisah jalan. Sepanjang jalan sejak berpisah dengan hyung-nya, Kyuhyun terus saja tersenyum kecil.

‘Ketulusan, cinta yang tidak akan pudar… Manis sekali,’ batinnya senang agak merona. Dalam hati, sedikit banyak ia berharap kalau ia akan mendapatkan kiriman bunga lagi untuk hari ini. Sesampainya di depan rumahnya, Kyuhyun tak langsung memasuki rumahnya melainkan mengecek kotak surat rumahnya. Mengecek apakah ada bunga lagi untuknya. Dan benar saja, setangkai bunga tergeletak di sana. Dengan lembut, Kyuhyun mengambil bunga itu dan melepaskan kertas kecil yang terikat di sana. Membuka dan membaca apa yang tertulis di sana,

‘Jika kau diibaratkan bunga, maka bunga inilah yang pantas’

Sama halnya seperti kemarin, Kyuhyun pun kembali berteriak, “Tuan pengirim bunga, terima kasih bunganya!”

Ia pun memasuki rumahnya.

“Bunga lagi, Kyunie?” Tanya sang Umma tersenyum jahil.

“Yahh…” Sahut Kyuhyun seadanya karena malu digoda.

Umma, ini bunga mawar putih ya?” Tanyanya sulit mengenali bunga dalam genggamannya.

“Coba Umma lihat,” pinta sang Umma mendekat pada anaknya.

“Ini bunga Carnation, sayang,” jawab sang Umma akhirnya.

“Artinya?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Kenapa tidak cari sendiri?” Goda Umma-nya lagi berlalu meninggalkannya dengan wajah sedikit merona.

Dengan tergesa, dibukanya buku pemberian Umma-nya kemarin, “Carnation putih. Artinya… Sosok yang cantik, manis dan lugu,”

“Kau mau merayuku ya, tuan pemberi bunga?” Gumamnya tersipu menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.

===%%%%===%%%%===%%%%===

Cring~ Cring~

‘Pasti Changmin-ssi  lagi,’ batin sang penjual bunga, Jaejoong menyiapkan note dan pulpennya untuk berkomunikasi dengan Changmin.

“Permisi,” diluar perkiraannya, sosok yang memasuki tokonya bukanlah Changmin melainkan pemuda lain dengan wajah manis dan rambut sewarna madu yang terlihat lembut.

Jaejoong memasukkan kembali note di tangannya ke dalam saku, “Ya? Kau butuh bunga apa?”

“Uhm…tolong rangkaian bunga untuk altar nya,” pinta sosok itu agak kaku.

“Ahahaha, kenapa kaku begitu? Hei, siapa namamu?” tanya Jaejoong beramah tamah dengan pelanggannya selama ia sibuk merangkai bunga yang diminta.

“A-ah, Cho Kyuhyun imnida,” ucapnya memperkenalkan diri.

“Panggil saja aku Jaejoong, ya? Oh, kau boleh menambahkan ‘hyung’ jika kau mau,” balas Jaejoong sedikit bercanda.

Cring~ Cring~

Suara lonceng itu bergema untuk kedua kalinya di sore itu. Namun, tak kunjung ada suara yang keluar dari mulut sang pengunjung. Pengunjung yang sudah beberapa hari belakangan menjadi pelanggan tetap toko bunga itu. Sosok pemilik nama Shim Changmin. Jaejoong meninggalkan kesibukannya sebentar dan tersenyum pada Changmin. Mengisyaratkan kesibukannya sementara sebelum bisa melayani kebutuhan sang pemuda jangkung itu.

Iseng, Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada pengunjung lain toko itu dan kesan pertamanya adalah-

‘Tinggi…’

Merasa diperhatikan, Changmin pun mengalihkan pandangan matanya dan mendapat seorang pemuda manis dengan rambut sewarna madu tengah memperhatikannya dengan wajah sedikit merona karena tertangkap basah tengah memperhatikannya. Mata Changmin sedikit melebar tak percaya. Tentu saja ia tak percaya dengan kebetulan ini. Yah, ia memang tak pernah menyangka akan bisa dalam jarak sedekat ini dengan pemuda impiannya itu. Pemuda manis yang sudah cukup lama mengambil perhatiannya.

Merasa masih diperhatikan, Kyuhyun kembali berbalik menatap Changmin, “Apa? Tadi aku cuma heran kenapa ada namja seperti tiang listrik tahu!” ketusnya.

Ia pikir, ia akan mendapatkan balasan sama ketusnya dengan ucapannya tadi. Namun, apa yang didapatkannya justru sebuah…

Senyuman minta maaf?

Namja ini kenapa sih?’ batin Kyuhyun tak habis pikir. Bingung juga, pasalnya, baru kali ini ada orang yang membalas ucapan tajamnya dengan sebuah senyuma  minta maaf.

“Ini rangkaian bungamu, Kyuhyun-ssi,” ujar Jaejoong membuyarkan lamunan Kyuhyun.

Gomawo,” sahut Kyuhyun menyerahkan sejumlah uang dan berjalan pulang.

Jaejoong melambaikan tangannya, “Datang lagi, ya?”

Ia pun mengeluarkan note-nya dan mulai menulis hingga-

BRUK!

Changmin berjongkok tanpa sebab.

Dengan panic, Jaejoong ikut berjongkok dan memeriksa keadaan Changmin, “Changmin-ah? Changmin-ah? Kau baik-baik saja?” serunya yang tentu saja tidak akan terdengar oleh Changmin.

Wajah Changmin memerah dan terlihat tengah tertawa. Jaejoong terdiam. Baru kali ini dia melihat pelanggannya itu terlihat begitu bahagia. Oh! Jangan-jangan pemuda manis tadilah sosok yang selalu dikirimi bunga oleh pelanggannya itu? Siapa tahu?

Changmin menghentikan tawanya dan kembali berdiri, meraih PDA-nya dan mulai mengetik, [“Aku tidak apa, hyung. Aku hanya merasa sangaaatt senang tadi,”]

Jaejoong tersenyum ganjil dan merebut PDA Changmin tiba-tiba. Ia mengetik sesuatu di sana, (“Hyung tahu. Pasti karena pemuda manis tadi kan~”)

Changmin tersenyum makin lebar dan berusaha merebut kembali PDA miliknya. Jaejoong menjauhkan PDA Changmin dari jangkauan dan kembali mengetik, (“Jangan pelit Changmin-ah, ceritakan padaku,”)

Changmin terlihat berpikir sebentar kemudian mengangguk. Jaejoong mengembalikan PDA milik Changmin dan Changmin pun mulai mengetikkan sesuatu di sana.

[“Aku tidak kenal dia pada waktu pertama kali melihatnya, hyung. Aku tak pernah berhadapan langsung dengannya. Aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Saat itu aku sedang berkeliling kota dan ak-“]

Batas karakter pada PDA-nya habis. Setelah memperlihatkannya pada Jaejoong, Changmin menghapus semuanya dan mulai melanjutkan, [“Aku melihatnya di taman dengan seorang anak kecil. Kupikir awalnya ia baru saja membuat anak itu menangis. Karena –dia terlihat sangat cuek saat itu. Ia memilih memaika-“]

Changmin menghapus dan kembali mengetik, [“Ia memilih memainkan PSP ditangannya ketimbang memperhatikan anak kecil di sebelahnya. Namun ternyata aku salah hyung. Sebenarnya ia sedang menunggui anak itu hingga Umma anak itu menemukan mereka.”]

[“Hyung tahu? Saat itu dia berwajah sangat menggemaskan. Tampangnya agak cemberut dan sedikit merona. Aku yakin sebenarnya dia hanya canggung dengan anak kecil itu. Manis sekali, bukan?”]

Changmin kembali mengetik namun Jaejoong menghentikannya. Jaejoong mengambil note-nya dan menulis, (“Aku mengerti Changmin-ah. Kau ingin bilang, kalau kau jatuh cinta pada kepribadiannya ‘kan? Kau cukup simpan sebagai harta berhargamu sendiri saja, Changmin-ah. Sulit berbagi tentang si manis itu, ‘kan?”) goda Jaejoong.

Changmin hanya membalasnya dengan cengiran lebar dan mengetik, [“Aku minta bunga Alyssum, hyung! Aku akan mengantarnya malam ini juga,”]

===%%%%===%%%%===%%%%===

Sepanjang perjalanannya pulang dari toko bunga, Kyuhyun terus saja menghela napas. Terbersit rasa kecewa di hatinya mendapati kotak surat rumahnya kosong saat memeriksanya tadi. Padahal beberapa hari belakangan, kotak suratnya seolah tak pernah absen untuk diisi oleh setangkai bunga. Apa orang itu Cuma main-main dengannya?, pikir Kyuhyun kecewa. Yah, sedikit banyak ia memang menaruh harapan kalau ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang- ah, sudahlah. Kyuhyun sudah memerah membayangkannya.

Umma, ini bunganya,” ujarnya pada sang Umma.

“Terima kasih, Kyunie,” sahut sang Umma dan berjalan meninggalkan Kyuhyun. Kyuhyun mengambil PSP yang sudah dicampakkannya sejak kemarin dan mulai memainkannya lagi.

Ting! Tong!

Bel rumahnya berbunyi cukup nyaring.

“Kyunie, coba lihat siapa yang datang,” pinta sang Umma.

Tanpa membalas ucapan Umma-nya, Kyuhyun membuka pintu rumahnya, “Ya?” sapanya tanpa nada ramah sama sekali dalam suaranya. Namun, tak ada seorangpun di sana. Kontan, hal itu membuat Kyuhyun makin kesal.

“Orang iseng,” gerutunya menghampiri pagar rumahnya dan berusaha mencari pelaku perbuatan iseng tersebut. Saat hendak kembali ke dalam rumah, matanya menangkap sesuatu yang menyembul dari dalam kotak suratnya, menarik perhatiannya.

Ia pun membuka kotak surat itu dan mendapati setangkai bunga di sana. Seperti biasa, ada kertas yang terikat di tangkainya.

‘Maaf terlambat’

Begitulah yang tertulis.

Kyuhyun tersenyum kecil dan kembali mengedarkan pandangannya. Berharap dapat melihat sosok yang selalu mengiriminya bunga. Matanya menangkap sosok tinggi di tikungan ujung jalan. Ia mengamati sosok itu dengan seksama. Menyipitkan matanya agar bisa melihat sosok itu lebih jelas.

‘Itu namja di toko bunga tadi, ‘kan?’ batinnya. Merasa ragu dengan penglihatannya, Kyuhyun mengucek matanya dan kembali mefokuskan matanya pada tikungan itu. Namun ia tak mendapati siapapun di sana. Hanya udara kosong yang ditangkap matanya.

“Sudahlah, yang penting dia tetap mengirimiku bunga hari ini,” gumam Kyuhyun tak ambil pusing.

“Bunganya kuterima! Kalau terlambat lagi, tidak akan kumaafkan!” Serunya. Ia pun mulai melangkah memasuki rumahnya.

“Hari ini Alyssum, ya? Kecantikan yang berharga, huh? Dasar tukang gombal,” lirihnya sedikit merona merah.

Katakan saja kau senang, Kyuhyun-ah~

===%%%%===%%%%===%%%%===

[“Terima kasih, hyung. Aku akan datang lagi besok,”]

Cring~ Cring~

Dan lonceng toko itu pun kembali berbunyi.

Narcissus. Itulah bunga pilihannya untuk hari ini. Dengan langkah lebar, ia menyusuri jalan kota tempatnya tinggal. Melangkah riang dengan rumah sang pemuda impian sebagai tujuannya. Oh ya, jangan lupakan setangkai bunga yang tergenggam halus di tangannya. Langkahnya terhenti di hadapan sebuah rumah yang terlihat cukup mewah namun tetap berkesan sederhana. Dirogohnya saku jaketnya dan mengambil sebuah kertas kecil dari sana. Digigitnya tangkai bunga itu dan mulai menulis sesuatu di kertas tersebut.

‘Hari ini tidak terlambat, ‘kan?’

Itulah yang ditulisnya.

Setelah mengikat kertas itu pada tangkai bunga, dibukanya penutup kotak pos rumah itu dan meletakkan bunga yang digenggamnya sejak tadi di sana. Senyuman di wajahnya melebar dan ia pun melangkah pergi tanpa menyadari bahwa sepasang mata indah mengawasinya sejak tadi.

===%%%%===%%%%===%%%%===

“Hahh… Hahh… Hahh…”

Entah sudah berapa lama pemuda itu berlari. Terlihat sekali kalau pemuda itu sedang diburu oleh waktu.

‘Pokoknya, hari ini aku harus mengetahui pengirim bunga-bunga itu!’ Tekadnya dalam hati.

Tanpa memperdulikan napasnya yang semakin lama semakin pendek, Kyuhyun mempercepat larinya. Berusaha sesegera mungkin mencapai rumahnya dan mengamati. Yah, atau setidaknya ia bisa sedikit mengintip untuk mengetahui siapa gerangankah si pengirim bunga-bunga yang diterimanya.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti, “Namja itu?” Bisiknya tak percaya.

Dirinya kini telah berdiri di tikungan mengarah rumahnya. Sedikit bersembunyi dan mengintai apa saja yang dilakukan namja yang cukup familiar baginya di depan rumahnya. Tepatnya, di hadapan kotak suratnya. Dengan dada yang berdebar tegang, Kyuhyun terus mengamati apa yang dilakukan namja tersebut. Dari tempatnya mengintai kini, terlihat Changmin tengan menggigit lembut tangkai bunga dengan kedua tangannya yang sibuk menuliskan sesuatu pada sebuah kertas kecil. Setalah selesai dengan kesibukannya menulis, Changmin terlihat mengikatkan kertas itu pada tangkai buka yang sedari tadi digigitnya.

Setelahnya, ia memasukkan bunga itu ke dalam kotak pos dan melangkah pergi. Menunggu sesaat dan memastika bahwa Changmin tidak akan berbalik, Khyuhyun keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menghampiri rumahnya. Tergesa, ia buka kotak surat itu dan mendapati setangkai bunga tepat seperti yang ia perkirakan.

Sebuah bunga cantik berwarna putih dengan pusat yang berwarna kuning. Anggun dan menawan, bunga Narcissus.

“Jadi, dia orang yang suka mengirimiku bunga?” Tanyanya pada diri sendiri.

Tak melupakan kebiasaannya, ia kembali berseru, “Bunganya cantik! Terima kasih!”

Dengan langkah senang, ia memasuki rumahnya. Mengganti air dalam vas dan menaruh bunga yang baru saja di dapatnya hari ini. Membuat bunga Narcissus itu bergabung dengan bunga lainnya yang didapatnya kemarin.

“Kenapa senyum-senyum sendiri, Kyunie?” Tanya sang Umma iseng.

Umma! Jangan mengagetkanku!” Seru Kyuhyun tersentak kaget karena suara Umma-nya.

Sang Umma hanya tersenyum lembut melihat tingkah anaknya, “Sudah tau siapa yang mengirim bunga, Kyunie?”

“Rahasia. Sekarang ada yang mau aku tanyakan sama Umma!”

“Apa, Kyunie?”

Umma ‘kan selalu di rumah. Jadi, Umma pasti sebenarnya sudah tadi dari jauh-jauh hari siapa yang mengirimiku bunga, ‘kan?” Tuntut Kyuhyun.

“Kau memang cerdas, Kyunie!” Seru sang Umma senang.

“Kenapa Umma tidak beri tahu aku?” Ujar Kyuhyun sebal dan mem-pout-kan bibirnya.

“Karena, Umma ingin kau sendiri yang mengenali dan memahami sosok pengirim bunga itu,”

===%%%%===%%%%===%%%%===

Dan di sinilah Kyuhyun berdiri, di depan sebuah toko bunga yang kemarin dikunjunginya. Hari ini sekolah libur dan ia bisa menyelidiki tentang si tuan pengirim bunganya itu.

Cring~ Cring~

Loceng itu berbunyi saat dirinya memasuki toko itu.

“Selamat datang,” suara ramah sang pemilik menyambut pendengarannya.

“Ah, kau datang lagi rupanya, Kyunie-ah?” Ucap Jaejoong ramah.

“Kyunie?”

“Ah, maaf kalau aku lancang. Tapi, aku bolehkan memanggilmu begitu? Habis, kau manis sih,” ujar Jaejoong dengan lancang mencubit kedua pipi Kyuhyun hingga memerah.

“Aww!”

“Boo, apa yang kau lakukan pada anak itu?” Tanya Yunho geli melihat tingkah kekasihnya.

“Dia lucu sekali sih, Yunnie. Jadi, Kyunie-ah mau beli bunga apa?” Tanya Jaejoong seolah tengah melayani anak kecil.

Hyung, jangan perlakukan aku seperti anak lima tahun begitu dong!” Kyuhyun merungut kesal.

“Iya… Iya… Maaf ya,”

“Aku ke sini bukan ingin membeli bunga, hyung. Aku cuma ingin mencari tahu soal namja tiang listrik itu,” terangnya melepaskan diri dari ‘cengkraman’ Jaejoong.

Namja tiang listrik?” Ulang Jaejoong bingung.

“Mungkin yang dimaksudnya itu Changmin, Boo. Anak itu ‘kan memang kelewat tinggi,” ujar Yunho mengerti akan maksud Kyuhyun.

“Namanya Changmin, hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Iya, namanya Shim Changmin. Kenapa kau ingin tahu soalnya, Kyuhyun-ah?” Jawab Yunho ramah pada pelanggan toko kekasihnya itu.

“Umm, itu… Belakangan ini aku selalu mendapat kiriman bunga. Lalu, kemarin aku mengetahui kalau pengirim bunga itu adalah si namja kelewat tinggi itu,” terangnya sesingkat mungkin dan seketus mungkin seolah ia sebal dengan tingkah Changmin yang mengiriminya bunga.

“Tuh kan, Yunnie! Apa kubilang!” Seruan semangat Jaejoong tiba-tiba bergema.

“Ya, Boo. Kau benar. Lebih baik kau segera jawab permintaan Kyuhyun-ah,” sahut Yunho tertawa kecil dan meninggalkan mereka berdua.

“Sebenarnya, aku tidak enak membicarakan ini denganmu, Kyunie. Tapi, karena kau kelihatannya anak baik dan tidak akan memandang Changmin sebelah mata… jadi, apa boleh buat. Ayo, kuseduhkan teh untukmu,” ujar Jaejoong menarik tangan Kyuhyun ke bagian dalam toko.

Setelah mempersilahkan Kyuhyun duduk, Jaejoong segera beranjak untuk menyediakan teh untuk Kyuhyun. Tak lama, ia kembali dengan sebuah nampan dengan teh dan beberapa kue kering di atasnya.

“Maaf merepotkanmu, hyung,” ujar Kyuhyun.

“Tidak kok. Oh ya, yang membuat kue ini aku lho,” sahut Jaejoong memamerkan keahliannya.

“Baiklah, Kyunie-ah. Jadi, kau ingin tahu tentang apa saja soal Changmin?” tanya Jaejoong akhirnya.

“Yahh, misalnya seperti dia itu seperti apa orangnya dan lain-lain.” Sahut Kyuhyun asal.

“Baiklah, akan kujelaskan semua. Tapi, kau harus jawab pertnyaanku dulu. Deal?”

Deal!”

“Kyunie-ah, apa kau suka pada Changmin?” pertanyaan itu meluncur mulus dari belahan bibir Jaejoong.

Keduanya terdiam sejenak. Jaejoong terdiam menunggu jawaban Kyuhyun sedangkan Kyuhyun diam karena shock dengan wajah memerah sempurna atas pertanyaan Jaejoong. Tak lama, Kyuhyun mulai bereaksi, “H-hyung tanya apaan, sih?! K-kalau soal itu- aku-”

“Baik… Baik… aku mengerti. Bagaimana kalau pertanyaannya kubuat sederhana? Jadi, apa motif-mu ingin mengenal Changmin lebih jauh, Kyunie-ah?”

“Tidak tahu, hyung,”

“Apa kau menaruh hati padanya hanya karena dia memberimu banyak perhatian dalam bentuk yang unik?”

“Tidak tahu, hyung,”

“Atau kau hanya ingin mengetahui sosok pengirim bunga itu? Kau hanya menyukai sisi ini dari Changmin?”

“Aku tidak tahu, hyung. Aku tidak begitu mengerti. Aku bahkan belum mengenalnya. Tapi, kenapa aku bisa begitu tertarik? Dan aku, mungkin punya jawabannya, hyung. Mungkin… karena dia Changmin,” sahut Kyuhyun tersenyum lembut.

“Lucu. Boleh juga. Baiklah, akan kuberitahu kau tentang Changmin,” ujar Jaejoong menyesap teh miliknya.

“Hehehe, ternyata aku memang jenius,” kekeh Kyuhyun berbangga.

“Kyunie-ah, Changmin itu tuna rungu dan tuna wicara,” jelas Jaejoong menatap Kyuhyun santai.

“…” tak ada respon dari Kyuhyun.

“Kau bilang kau jenius, ‘kan? Kau pasti mengerti istilah semacam itu,” lanjut Jaejoong.

“…” masih tak respon dari Kyuhyun.

“Jadi, kau masih menaruh hati padanya?” tanya Jaejoong lagi.

“Ahahahahaha~” tiba-tiba Kyuhyun tertawa keras membuat Jaejoong terkaget.

“Aku mengerti sekarang, hyung. Aku mengerti kenapa dia malah tersenyum minta maaf saat aku berbicara ketus padanya. Kenapa tidak mengaku sejak awal saja? Benar-benar namja aneh,” komentar Kyuhyun pedas.

“Dia tidak ingin kau memandangnya sebelah mata, Kyunie-ah,”

“Nyatanya ‘kan tidak hyung,”

“Kebanyakan orang akan melakukannya, Kyunie-ah,” ingat Jaejoong.

“Jadi, kau akan melakukan apa sekarang, Kyunie-ah? Memacarinya?” tanya Jaejoong dengan wajah berbinar layaknya seorang Umma yang mendengar bahwa putranya akan segera mendapat seorang kekasih.

“Tidak,”

“Lho?”

“Aku masih ingin mendapat perhatiannya, hyung~” seru Kyuhyun jahil berlari pulang.

“Dasar evil,” gerutu Jaejoong.

“Sudah bicaranya, Boo?” tanya Yunho menghampiri ‘Boojae’nya.

“Mereka berdua itu, masa’ mau seperti itu terus?” gerutu Jaejoong lagi.

“Hahahaha, itu ‘kan terserah pada mereka, Boo. Itu hubungan di antara mereka…” ujar Yunho mengingatkan.

“Hubungan seperti ini harus sedikit di provokasi, Yunnie!” seru Jaejoong mengabaikan perkataan Yunho.

“Boo…” panggil Yunho berusaha menghentikan.

“Sip! Aku ada ide. Yunnie, kau HARUS mau jadi team support-ku!” serunya lagi.

‘Tak bisa menolak…’ batin Yunho kasihan pada dirinya sendiri.

===%%%%===%%%%===%%%%===

[“Aku datang lagi besok, hyung,”]

Cring~ Cring~

“Yunnie, waktunya bergerak,” ujar Jaejoong serius seolah tengah menjalankan misi penting dan entah dari mana lagu mission impossible bisa terdengar.

“Pastikan Changmin pergi sebelum kau menukar bunganya!”

Dan Yunho pun hanya bisa pasrah dan berjalan keluar membawa bunga Periwinkle putih di tangannya. Berjalan pelan menuju rumah Kyuhyun, dan mengganti bunga yang di letakkan Changmin di sana dengan bunga yang dibawanya. Melepaskan kertas yang Changmin ikatkan pada bunganya dan membacanya.

‘Ini bunga untuk hari ini’

Sip, tidak ada kalimat yang harus diganti. Sebaiknya ia cepat mengikatkan kertas itu pada bunga Periwikle yang dibawanya dan segera pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kelakuannya. Mau ditaruh mana mukanya nanti?

Yunho pun melangkah pulang pada kekasihnya.

Hari semakin sore. Sudah waktunya Kyuhyun sampai di rumahnya dan benar saja. Bayangannya sudah ada di tikungan itu. Cahaya kemerahan matahari sore menimpa kulitya membuatnya terlihat makin mempesona. Terlebih dengan senyuman tulus nan manis yang terkembang sempurna di bibir kemerahannya. Sungguh, ia tampak bagai malaikat tanpa sayap saat itu.

Tak langsung memasuki rumah, ia memeriksa kotak suratnya terlebih dahulu, “Periwinkle?”

Tampaknya ia sudah terbiasa membedakan bunga-bunga.

Memori yang membahagiakan?”

Sama halnya dengan kemarin, hari ini pun Yunho menukar bunga Changmin dengan bunga yang dibawanya atas perintah Jaejoong. Ditukarnya bunga Orchid yang seharusnya sampai ke tangan Kyuhyun dengan bunga Sweet William di tangannya.

Dan seperti yang sudah seharusnya terjadi, bunga itu sampai pada Kyuhyun, “’Berikan aku satu senyuman’?”

Lagi dan lagi, hal itu terus berulang, “Hydrangea‘Terima kasih sudah memahamiku’,”

Esoknya pun begitu, “Lily putih, ‘Sangat menyenangkan bisa bersamamu/mengenalmu’. Apa maksudmu, tuan pengirim bunga?”

Hari berikutnya pun begitu, “Sweat pea, ‘Terima kasih untuk saat-saat yang menyenangkan’ dan.. Carnation pink, ‘Aku takkan melupakanmu’. Kenapa kau mengirimiku bunga seperti ini, Changmin?” cicitannya terdengar diantara hembusan angin.

Hari ke hari, bunga yang di terima Kyuhyun bagai menyiratkan sebuah perpisahan.

“Maksudnya apa? Apa Changmin akan pergi?” lirihnya memainkan bunga Lily putih indah di tangannya dengan pandangan sedih. Dirinya banyak tak focus belakangan ini. Ia sering kedapatan tengah terbengong dengan PSP di tangannya tanpa memainkannya. Ia terlihat makin kacau dari hari ke hari. Membuat Changmin yang memperhatikannya dari jauh pun ikut khawatir akan keadaannya. Membulatkan keputusannya untuk menemui Kyuhyun secara langsung. Menanyakan keadaannya sekaligus memastikan, apakah Kyuhyun jadi berbeda karena pernyataan suka –tak langsungnya dengan bunga.

Cring~ Cring~

Dengan tergesa Changmin memasuki toko bunga milik Jaejoong. Sungguh, ia harus segera bersiap. Dengan cepat, ia menarik PDA-nya dan mengetik sesuatu untuk jaejoong.

[“Hyung, pesananku bagaimana?”]

Jaejoong tersenyum dan menulis, (“108 tangkai Mawar, ‘kan? Siap kau bawa, Tuan Shim Changmin,”)

[“Gomawo, hyung. Doakan aku,”] ketiknya lagi, menyambar rangkaian 108 tangkai Mawar itu dan berlari tergesa.

Jaejoong berbalik menghadap Yunho yang sedag menikmati kudapan buatannya dan tersenyum senang, “Mission; accomplished,”

Yunho hanya menggeleng lelah.

Di sisi lain, Kyuhyun tengah berjalan lesu menuju rumahnya. Berharap-harap dalam hati kalau Changmin tetap mengirimkannya bunga-bunga itu. Bukan dengan bunga ucapan perpisahan. Tapi, bunga pernyataan cinta seperti biasanya. Kyuhyun yang sedari tadi berjalan sambil menunduk segera mendongakkan kepalanya saat ia menabrak pelan seseorang di hadapannya. Dan betapa terkejutnya ia.

Di hadapannya kini berdiri sosok yang sedari ada di pikirannya.

Shim Changmin.

Kyuhyun membatu. Tak sedikit pun keluar dari mulutnya.

Changmin tersenyum canggung kemudian menyerahkan rangkaian 108 tangkai Mawar di tangannya pada Kyuhyun. Refleks, Kyuhyun menerimanya.

‘Mawar artinya aku cinta kamu. Tapi, bukankah jumlah tangkai akan mempengaruhi arti dari bunga mawar ini? J-jangan-jangan…’ batin Kyuhyun panic.

“Kenapa sebanyak ini? Apa artinya?” ia lupa bahwa Changmin takkan pernah bisa mendengar suaranya. Seberapa indahpun suaranya, Changmin takkan pernah bisa mendengarnya.

Changmin tersenyum minta maaf dan mulai mengetik sesuatu pada PDA miliknya, [“108 tangkai Mawar –Menikahlah denganku?”]

Kyuhyun kembali membatu. Tak menyangka kalau Changmin akan- akan-

Puk!

Ah, seseorang menepuk bahunya. Menyadarkannya dari lamunan. Dan orang itu adalah Changmin sendiri. Kyuhyun mengeluarkan senyum evil andalannya dan melayangkan sebuah tonjokan tiba-tiba ke perut Changmin juga merebut PDA milik Changmin. Ah, ia ingat tentang Changmin ternyata.

{“Persetan dengan bunga-bunga laknat itu, aku mau! Aku mau menikah denganmu!”}

Ia melempar PDA itu kembali pada Changmin. Membiarkan namja tinggi itu membaca sejenak apa yang ditulisnya di sana dan langsung melemparkah tubuhnya pada pelukan Changmin. Memeluk Changmin erat. Sangat erat.

Changmin turut tersenyum lembut. Tak habis pikir akan kekuasaan Tuhan yang bisa membuatnya memiliki namja nyaris sempurna dipelukannya ini.

Keduanya saling berbagi kehangatan sampai seseorang menepuk pundak keduanya dan memperlihatkan sebuah kertas bertuliskan, “Kalau mau menentukan tanggal pernikahan, diskusikan dengan Umma dulu, ya?”

Keduanya memerah hebat.

UMMA!” seru Kyuhyun gemas dengan tingkah Umma-nya sementara Changmin terlihat sedang tertawa.

Tawa khasnya.

Tawa tanpa suaranya.

.

.

…………………………………………………………………………………………………………………….

Katakan apa yang ingin kau katakan padaku dengan bunga ya, Minnie?

……………………………………………………………………………………………………………………. 

.

.

FIN

.

.

Author by: Takaishi Hiroki

Akhirnya~ selesai~

Ini saya buatkan sesuai request.

Semoga kalian senang dan tidak bosan ^^

Sign,

TAKAISHI HIROKI — TAMA HUTAMA

8 responses »

  1. hoaaaaaa…

    aq suka changmin dan kyuhun disini;duo magnae ini bner2 bkin gemas,

    dr awal senyum gaje bayangin ekspresi kyuhyun and changmin,

    changmin ROMANTIZ bow,ngungkapin perasaan dgn bunga,dan arti bunga itu bkin kyuhyun flying to moon. ..lol

    aq yg bca ajj senyam senyum gaje..xDD

    hahahaha…misi yunjae daebak,akhirnya duo magnae bertemu jg,
    kyaaaaaa! lucu cara kyuhyun nerima permintaan changmin bwt nikah sm dia…xDDD

    kyuhyun menikah dgn tiang listrik…kkkkk~

    titip jempol bwt authornya! j

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s