Diposkan pada 가족 ♥ Family, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot, 형제 ♥ Brothership

Kyu-Hae (My Forever Hyung)

Cast: KyuHyun, DongHae, EunHyuk, JungSu dikit.. khkh..
Disclaimer: mereka punya Tuhan, SUJU punya SM, dan ceritanya punya saya.. Jadi kalo gaje, ya wajar..
KyuHyun POV
Sudah satu minggu Appa dan Umma pergi ke luar kota untuk menjenguk Halmoeni yang sedang sakit. Aku tinggal di rumah bersama kakakku, DongHae. Hubungan kami tidak begitu dekat, kami hanya berbicara seperlunya, dan segalanya serba seperlunya. Bukan karena aku tidak menyayangi DongHae, hanya saja aku sedikit tidak suka dengan perlakuannya yang terlalu memanjakanku.
Aku tidak pernah terlalu memperhatikan DongHae. Yang aku tau hanyalah dia selalu merepotkan Appa dan Umma. Dia selalu saja sakit, seringkali dia mimisan atau bahkan pingsan tanpa sebab. Dia bahkan juga tidak pernah ikut kegiatan olahraga di sekolah. DongHae selalu saja terlihat pucat dan lemah, berbeda denganku. Aku adalah bintang sepakbola. Bahkan di tahun pertamaku di Sekolah menengah aku sudah menjabat sebagai kapten. Tapi DongHae selalu bisa mengalahkanku dalam prestasi akademik. Dia pintar, bahkan tanpa harus sekolah.
Dibalik semua sikap tidak acuhku pada DongHae, dia tetap saja berlaku sebagai kakak bagiku. Dia selalu mengurusiku, menasehatiku, baik padaku. Dia tidak peduli pada sikapku yang dingin padanya. Tapi tingkah lakunya yang seperti ini yang aku tidak suka, aku tidak suka diperlakukan seperti adik.
Umma mengatakan pada kami bahwa Halmoeni harus dirawat di rumah sakit. Mereka belum bisa pulang ke rumah dalam waktu dekat, jadi aku harus tinggal berdua dengan DongHae dalam waktu yang lebih lama. Kami tidak pernah benar-benar berinteraksi secara langsung. Hanya pagi-pagi saat sarapan, DongHae akan bertanya-tanya tentang pelajaranku, atau dia bertanya bagaimana rasa nasi goreng yang dibuatnya. Malam harinya aku ada di kamarku dan dia juga ada dalam kamarnya.
Malam ini cukup dingin. Aku hanya membaca majalah otomotif sambil berbaring di kamarku. DongHae mungkin sudah tidur, karena dari tadi dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Lama-lama aku bosan juga di dalam kamar. Aku akhirnya memutuskan untuk keluar dan menuju ruang keluarga untuk menonton televisi.
Saat aku melewati kamar DongHae, pintunya sedikit terbuka. Akupun menlihat sedikit ke dalamnya. DongHae membelakangiku, dia sedang berbicara di telepon.

Lanjutkan membaca “Kyu-Hae (My Forever Hyung)”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, 불안감 ♥ angst, Fanfiction

Ye-Won (Your Maid) Part 4

Anyeongg… Ini lanjutannya.. Kalo pada bosen sama ceritanya bilang aja ya…

Ye-Won (Your Maid) Part 4

*********

YeSung sudah kembali ke rutinitasnya semula, kuliah sambil menjadi pelayan pribadi untuk SiWon. Dan SiWon juga sudah kembali menjadi dirinya yang semula, angkuh, dingin, sombong, dan tukang perintah.

“Ya! Cepat sedikit.. Aku bisa telat masuk ke klub Taekwondo.” Kata SiWon ketus. Seperti biasa, yeSung selalu menuruti apa yang diperintahkan SiWon. Dia membawakan semua perlengkapan SiWon, dan setelah itu baru kembali ke kelasnya.

Aku pikir dia sudah berubah.. ternyata masih sama saja.. Aish.. Orang sepertinya mana mungkin bisa berubah?’ pikir YeSung.

Dua jam kemudian YeSung keluar dari kelasnya dan mendapati SiWon sudah menunggu di depan pintu. Tanpa berkata apapun SiWon menarik tangan Yesung dan menuju kantin. Dia menyuruh Yesung duduk di salah satu kursi, dan Siwon duduk di kursi sebelahnya. Yesung hanya menuruttinya tanpa membantah. Siwon kemudian membuka tasnya dan mengambil kotak bekal yang dibawanya dari rumah, membukanya kemudian menyodorkannya ke dekat Yesung.

“Cepat makan.” Perintahnya. Yesung hanya bengong tidak percaya akan apa yang barusaja didengarnya.

“Aish.. Lama sekali orang ini..” Siwon mengambil kotak bekal itu lalu mulai menyuapi Yesung. Yesung benar-benar terkejut melihat aksi Siwon, dia menatap Siwon heran sebelum Siwon memberi isyarat untuk membuka mulut. Dia patuh saja, dia mulai makan dengan tenang dengan disuapi Siwon. Semua mahasiswi-mahasiswi yang melihatnya terheran-heran, ada yang menatap cemburu, ada juga yang men-death-glare Yesung karena merebut pangeran mereka.

Yesung mulai terlihat makan dengan terpaksa. Tiba-tiba dia tersedak, dan Siwon segera memberikan—tepatnya, meminumkan—segelas air padanya.

“Gwenchana?” tanya Siwon khawatir. Yesung mengangguk sambil mengatur napasnya. “Sudah kenyang?” tanya Siwon lagi. Yesungpun mengangguk lagi. Siwon lalu menghentikan suapannya. Dia lalu memanggil pelayan, kemudian pelayan itu datang dengan segelas besar susu. Siwon menyodorkannya juga pada Yesung.

Lanjutkan membaca “Ye-Won (Your Maid) Part 4”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, 불안감 ♥ angst, Fanfiction

Ye-Won (Your Maid) Part 3

Anyeongg lagi… Mianhae tadi aku salah post… Ini yang benernyah..

Aku mau lanjutin ceritanya yah…

Pada mau baca kan….

**********

Ye-Won (Your Maid) Part 3

***********

Sekitar jam tiga pagi Yesung terbangun dan kaget mendapati dirinya tertidur di kasur Siwon sedangkan Tuan Mudanya itu tertidur di sofa. Yesung bangkit dari posisi tidurnya dan kain kompres terjatuh ke pangkuannya.

‘Apa ini kerjaan Tuan Muda? Aku hanya ingat dia menggendongku, dan mengataiku merepotkan. Bukankah dia sangat sombong dan dingin? Kenapa bisa berubah 180 derajat seperti ini?’ pikir Yesung. Dia lalu memutuskan untuk keluar dari kamar Siwon sebelum dia bangun dan memarahinya lagi. Kondisinya sekarang sedang tidak baik untuk mendapatkan hal-hal buruk seperti itu.

Yesung masuk ke kamarnya dan segera berbaring di tempat tidur sambil menarik selimutnya sampai batas leher. Yesung masih belum tertidur saat appanya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Appanya mungkin tau kalau Yesung belum tidur. Tidak seperti biasa, appanya tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan.

“Aku melihat apa yang dilakukan tuan muda padamu tadi.” Kata appanya. Yesung hanya diam dengan posisi membelakangi appanya. “Tuan muda sepertinya sangat perhatian padamu.” Lanjutnya.

Yesung kemudian duduk dan menatap appanya. “Baru kali ini dia seperti itu. Memangnya kenapa?” tanya Yesung. Tidak biasanya appanya berbicara dengan nada biasa seperti itu.

“Ini bisa menjadi kesempatan. Kau harus bisa menggunakannya.” Kata appanya dengan senyuman licik di wajahnya. Yesung mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti maksud appanya.

“Aku tidak mengerti.” Kata Yesung datar. Appanya menghembuskan napas berat.

Lanjutkan membaca “Ye-Won (Your Maid) Part 3”

Diposkan pada Uncategorized

Kyu-Min (Meant to be Together) One Shoot

Cast       : KyuHyun, SungMin, EeTeuk, KangIn

Warnings: Yaoi, Cheesy lines. (DON’T READ if you don’t like, and no bashing please..)

Disclaimer: Kyumin punya Tuhan, dan Suju punya SM, tapi ceritanya punyaku. Jadi kalo gaje, maklum aja. Authornya kan juga gaje. Khkhkhkh.. Semuanya fiktif, kecuali eksistensi tokohnya.

——————–

SungMin POV

Namaku Lee SungMin. Umurku 18 tahun. Ini adalah tahun pertamaku di Universitas. Aku bukan orang yang populer, bahkan orang yang mengenalku di kampus ini tidak lebih dari penghuni kelasku. Invisibel. Tapi terkadang menjadi invisibel itu baik, tidak ada yang terlalu peduli akan apa yang kau kerjakan. Tapi yang paling mengganggu dari profesi ini adalah, kau akan menjadi sasaran yang empuk untuk di-bully. Dan itu terjadi padaku hampir setiap hari. Semakin lama semakin parah. Dan bodohnya aku tidak bisa membela diriku sendiri. Aku tidak takut, hanya saja aku tidak menyukai kekerasan.

Hari ini aku pulang agak larut setelah menyelesaikan kerja part time-ku. Aku berjalan sendiri, namun aku menemukan seseorang yang sangat familiar bagiku tidak jauh dari rumahku. Dia adalah Cho KyuHyun. Bullier paling terkenal di kampusku. Tapi kali ini aku melihatnya dalam keadaan yang berbeda. Dia duduk di lantai bersandar ke tembok sambil memegangi mukanya. Ada memar di sana, darah juga keluar dari sudut bibirnya. Kenapa dia? Karma itu benar-benar ada kah?

Entah kenapa aku malah mendekatinya. Dia memejamkan matanya terlihat kesakitan. Jarak mukaku dengannya hanya beberapa sentimeter saja, apa dia tidak merasakan kedatanganku?

Tiba-tiba dia memegang pergelangan tanganku erat, hampir saja aku berteriak karena kaget.

“Lee SungMin..” panggilnya lemah. Kenapa dia bisa tau kalau ini aku? “Kenapa melihatku begitu hah? Kau kasihan melihatku?” tanyanya tanpa membuka matanya. Orang ini,, kenapa dia bisa tau tanpa melihat?

“Lepaskan tanganku. Aku mau pulang.” Aku menarik tanganku tapi dia menahannya.

“Temani aku SungMin-ah.. Badanku sakit semua..” apa ini? Cho KyuHyun, orang yang paling jahil sejagat raya sekarang malah memintaku untuk menemaninya. Anehnya, aku malah duduk di sebelahnya, dia tetap tidak melepaskan tanganku. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku. Napasnya cepat, dan badannya agak panas.

“KyuHyun-ssi..” genggamannya di tanganku terlepas, dia sepertinya sudah tertidur. “Ya! KyuHyun-ssi, jangan tidur di sini..” aku menepuk pipinya pelan. Aku baru bisa melihat mukanya dengan jelas, penuh memar seperti habis dipukuli. Tidak lama kemudian dia terbatuk, lalu dari mulutnya keluar darah. Aku panik seketika. Yang terpikir olehku adalah membawanya ke rumahku yang tidak jauh dari sini.

Setiba di depan pintu aku memanggil kakak sepupuku. Kami tinggal berdua saja di rumah ini, orang tua kami sedang bekerja di luar kota. Aku memapah KyuHyun dengan susah payah, karena ukuran badanku yang lebih kecil darinya tidak mungkin aku menggendongnya. Tidak lama kemudian EeTeuk hyung membukakan pintu dan matanya membulat melihat orang yang kubawa.

“Siapa?” tanyanya.

“Bolehkah kita bawa dia masuk dulu? Berat hyung..” lalu EeTeuk hyung membantuku memapahnya dan membaringkannya di kamarku.

“Parah sekali keadaannya. Kau yang memukulinya?” tanya EeTeuk hyung. Aku menggeleng cepat dan dia tersenyum jahil.

“Aku tidak mungkin melakukan itu.” Kataku. Aku lalu duduk di tepi tempat tidur, sedangkan EeTeuk hyung mengambilkan kompres dan kotak P3K. Untung saja dia seorang dokter, jadi dia bisa menolong KyuHyun. Aku memandangi wajah KyuHyun yang penuh luka dan memar. Dia pasti dipukuli oleh banyak orang.

EeTeuk POV

SungMin membawa seorang laki-laki ke rumah. Kondisinya sangat memprihatinkan. Entah kenapa sejak pertama aku melihatnya aku merasa sangat simpati padanya. Aku masuk ke kamar SungMin sambil membawa kompres dan kotak P3K. Aku mulai mengompres memar dimukanya, badannya juga agak panas. Aku lalu menyuruh SungMin membuatkan bubur untuknya sedangkan aku melanjutkan pekerjaanku mengobati lukanya.

Aku membuka kemejanya, dan aku terkejut melihat bekas luka besar di dadanya. Apa ini luka bekas operasi? Perlahan dia membuka matanya dan terlihat heran melihatku. Dia berusaha bangkit dari tempat tidur tapi aku menahannya.

“Berbaring saja dulu. Aku kakak sepupunya SungMin, EeTeuk. Kau tadi pingsan dan dibawa SungMin ke sini. Ini rumahku dan SungMin.” Jelasku tanpa perlu mendengar pertanyaannya.

“Maaf sudah merepotkanmu hyung..” katanya. Ada rasa damai dalam hatiku saat mendengarnya memanggilku hyung. Dia memegang luka di mukanya lalu dia menyadari aku yang tengah menatap bekas luka di dadanya.

“Itu bekas luka operasi. Aku mendapatkan transplantasi jantung dua tahun yang lalu. Lukanya sangat besar ya?” tanyanya. Transplantasi jantung? Dua tahun yang lalu?

“Transplantasi untuk apa?” tanyaku.

“Sejak kecil aku menderita lemah jantung, dua tahun yang lalu aku hampir mati, untungnya ada orang berhati malaikat yang bersedia mendonorkan jantungnya padaku.” Dia tersenyum kecil, aku juga. Tak lama kemudian SungMin datang dengan semangkuk bubur dan segelas susu.

“KyuHyun-ssi, kau sudah sadar..” tanya SungMin sambil memberikan bubur itu padaku. KyuHyun mengangguk kecil. “Aku tidak tau bubur apa yang kau suka, jadi ku buatkan saja bubur labu kesukaanku.” Kata SungMin. Aku segera menyuapkan bubur itu padanya setelah membantunya untuk duduk di tempat tidur.

“Jadi, apa yang terjadi sampai kau babak belur begini?” tanyaku. SungMin sekarang duduk di sisi lain tempat tidurnya yang bercover pink ini.

“Ada segerombolan anak nakal menghajarku karena aku mengerjai salah satu diantara mereka. Mereka ingin balas dendam, tapi untungnya aku bisa menyelamatkan diri.”

“Anak nakal? Bukannya yang cari masalah itu awalnya kau? Kau kan yang mengerjai mereka duluan?” kata SungMin memojokkan.

“Dia menghina kakakku. Aku tidak bisa tinggal diam untuk itu.” Kata KyuHyun. Anak ini ternyata sangat menyayangi kakaknya.

“Kau punya kakak?” tanyaku. Dia lalu mengangguk.

“Seharusnya berumur 23 sekarang. Kalau umur hyung sekarang berapa?” tanyanya.

“24.” Jawabku singkat. “Seharusnya 23? Maksudnya?” tanyaku.

“Kakakku meninggal dua tahun yang lalu.” Jawab KyuHyun. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Aku dan SungMin hanya terdiam melihatnya.

“Mi..mianhae..” kata SungMin terbata-bata. Dua tahun yang lalu?

“Tidak apa-apa, lagipula bagiku dia masih tetap hidup dalam diriku. Karena jantungnya sekarang ada di dalam dadaku.” Kata KyuHyun sambil tersenyum. Jadi yang ditransplantasikan padanya itu adalah jantung kakaknya?

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku memberikan mangkuk bubur pada SungMin agar dia bisa melanjutkan kegiatanku tadi. Ternyata ada telepon dari rumah sakit yang memintaku untuk segera ke sana. Ada pasien gawat yang harus aku tangani.

“SungMin-ah, aku mau ke rumah sakit sebentar. Ada panggilan darurat. Kau jaga KyuHyun-ssi di sini ya. KyuHyun-ssi, kalau SungMin melakukan apa-apa padamu langsung saja pukul kepalanya dengan kunci inggris. Oke??” kataku disambut tawa KyuHyun dan omelan kecil SungMin.

 

KyuHyun POV

Kakak SungMin sungguh baik, sama sepertinya. SungMin memiliki wajah putih yang imut dan polos, dia bahkan lebih manis dari perempuan. EeTeuk hyung memiliki wajah cantik seperti malaikat dengan lesung pipi kecil menghiasi setiap senyumannya. Mereka berdua bisa membuat laki-laki maupun perempuan jatuh hati dengan mudah. Laki-laki? Ya, laki-laki. Aku juga laki-laki dan aku menyukai SungMin. Setiap hari aku mengganggunya di kampus, dan wajah kesalnya semakin membuatku menyukainya.

“Kenapa memandangiku seperti itu?” tanyanya salah tingkah.

“Kau manis sekali SungMin..” kataku, seketika mukanya berubah merah. Benar-benar polos.

“A..aku mau mandi..” katanya sebelum berdiri. Aku memegang pergelangan tangannya dengan kuat sehingga langkahnya tertahan.

“Gomawo, SungMin-ah..” kataku tulus, dia mengangguk kecil sebelum berlari ke luar kamar. Anak itu, aku bisa gila dibuatnya.

Kakak beradik itu sangat baik. Bahkan SungMin yang sering kuganggu saja bersedia menolongku. EeTeuk hyung yang bahkan tidak pernah melihatku sebelumnya mau merawatku. Aku tau EeTeuk hyung adalah seorang dokter. Tapi mengapa saat dia melihat luka bekas operasi di dadaku dia terlihat kaget? Bukankah seorang dokter seharusnya sudah sangat familiar dengan hal seperti ini? Ditambah lagi saat aku bercerita tentang kakakku, matanya terlihat meredup, ada kesedihan di sana. Kesedihan yang sepertinya sudah lama dia tahan. Tapi mengapa? Ah, lebih baik aku tidur. Luka dan memar yang ada di tubuhku sudah mulai terasa sakit. Ah, kenapa SungMin harus mandi segala? Melihatnya saja sudah sama seperti painkiller bagiku.

 

Author POV

EeTeuk pulang ke rumah sudah agak larut. Dia lalu pergi ke kamar SungMin seperti rutinitasnya, namun dia lupa kalau yang ada di sana adalah KyuHyun. Dia memandangi KyuHyun yang sedang tertidur dari pintu. Luka memar pada wajahnya, caranya memejamkan mata, caranya memanggil ‘hyung’, bekas luka di dadanya.. Semuanya mengingatkan EeTeuk pada seseorang yang selama ini berusaha keras untuk dia lepaskan. Seseorang yang sangat dia cintai. Perlahan wajahnya basah karena airmata. Mengingatnya kembali sama saja seperti membuka luka yang bahkan tidak punya kemungkinan untuk sembuh.

EeTeuk memutuskan untuk kembali ke kamarnya mencegah agar dia tidak memeluk sosok KyuHyun yang ada di tempat tidur. Di dalam kamarnya sudah ada SungMin yang tidur dalam balutan piyama pink bermotif kotak-kotak. Dia lalu naik ke tempat tidur setelah mengganti bajunya dengan piyama putih bergaris-garis. Dia membawa SungMin ke dalam pelukannya, bagaimanapun dia butuh seseorang untuk dipeluk sekarang. Dia meluapkan seluruh emosinya dengan menangis dalam diam.

“Hyung kenapa menangis?” tanya SungMin pelan.

“Tidur saja SungMin-ah.. Besok saja hyung ceritakan.” Kata EeTeuk disela tangisannya. SungMin lalu menempelkan wajahnya ke dada EeTeuk dan mulai tidur lagi. EeTeuk memeluk SungMin lebih erat dan mencoba untuk melupakan kesedihannya.

 

Pagi hari saat EeTeuk turun dari kamarnya ke ruang makan, sudah ada SungMin dan KyuHyun yang sudah bersiap untuk pergi. Di meja makan sudah ada makanan yang dimasak SungMin. EeTeuk lalu bergabung dengan mereka di meja makan.

“KyuHyun-ssi, bagaimana dengan lukamu? Jangan lupa minum obat yang sudah aku berikan kemaren.”

“Baik hyung. Terimakasih.” EeTeuk lalu membetulkan letak kacamatanya. Dia harus memakai kacamata untuk menyembunyikan matanya yang bengkak setelah menangis semalaman. “Hyung, mata hyung bengkak. Hyung tidak apa-apa? Hyung habis menangis ya?” tanya KyuHyun khawatir. Jantung EeTeuk berdetak lebih kencang. Kalimat yang sudah sangat lama tidak dia dengar lagi. Kalimat yang penuh dengan nada khawatir sekaligus rasa sayang.

EeTeuk menghela napasnya. “Tidak apa-apa.” Jawabnya tenang. KyuHyun melemparkan tatapan aku-bukan-orang-bodoh-yang-bisa-ditipu.

“Bohong ya?” tanyanya lagi. EeTeuk hanya tersenyum lalu menggeleng. SungMin memandang EeTeuk dengan pandangan penasaran. Dia berjanji akan menceritakan apa yang terjadi pada SungMin. Tapi SungMin hanya diam seolah mengetahui kalu EeTeuk sedang tidak ingin membahas masalah itu.

SungMin lalu menuangkan susu ke dalam tiga buah gelas. Saat dia menuangkan ke gelas yang ketiga, KyuHyun menyuruhnya untuk berhenti setelah gelas itu berisi setengahnya.

“Setengah gelas saja.” Kata KyuHyun. SungMin memberikan tatapan pertanyaan. “Biasanya aku hanya minum setengan gelas di pagi hari, aku tidak terlalu suka susu.” Jelas KyuHyun. Mata EeTeuk kembali melebar, satu kesamaan lagi.

“Hyung, gwaenchanayo?” tanya SungMin menyadarkan EeTeuk dari lamunannya. Dia lalu mengangguk dan meminum susu yang ada di gelasnya. Sungmin tau kalau hyungnya sedang berusaha keras menahan tangisnya.

“Aku pergi dulu. KyuHyun-ssi, jaga kesehatanmu baik-baik. Jangan  berkelahi lagi dan jangan lupa minum obatmu. SungMin-ah.. Hyung pergi dulu. Nanti datang saja ke rumah sakit.” Lalu EeTeuk berlalu. Sebelum dia membuka pintu, KyuHyun memanggilnya.

“EeTeuk hyung.. Gamshahamnida.” KyuHyun sedikit membungkukkan badannya. EeTeuk hanya tersenyum lalu pergi.

SungMin menatap KyuHyun yang sedang fokus dengan makanannya. Cho KyuHyun.. Apa yang telah kau lakukan padaku? batin

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Kata KyuHyun seolah bisa membaca pikiran SungMin. SungMin terkejut. “Kau menyukaiku kan SungMin?” tanya KyuHyun mendekatkan wajahnya ke wajah SungMin. Otomatis SungMin menjauhkan wajahnya yang sudah memerah.

“Ki..kita sudah terlambat..” SungMin segera mengambil tasnya dan berlari ke luar.

 

 

EeTeuk POV

Flashback, 3 tahun yang lalu.

Aku meletakkan segelas susu di atas meja makanku. Si KangIn ini, pagi-pagi sudah datang ke rumahku minta dibuatkan makanan.

“Minum susunya, aku sudah capek membuatkannya untukmu.” Kataku. KangIn lalu meminum susu itu, tapi setelah dia meminum setengahnya dia meletakkannya di atas meja.

“Ayo habiskan..” suruhku, lalu dia menggeleng.

“Setengah gelas saja. “Biasanya aku hanya minum setengah gelas di pagi hari, aku tidak terlalu suka susu.” Katanya. Ya sudah, aku percaya saja pada si Rakun ini. Tidak lama kemudian, dia minta izin untu segera pergi untuk latihan panjat tebing. Entah apa yang dia sukai dari kegiatan memanjat-manjat itu. Hhh.. Jadi dia ke sini hanya numpang makan saja? Dasar..

 

Flashback, dua tahun yang lalu.

Aku ke kampus mengenakan kacamata pagi ini. Semalaman aku menangis gara-gara merindukan SungMin. Sudah dua minggu dia menghabiskan libur sekolahnya di tempat appa dan ummanya bekerja, sedangkan aku harus tinggal di rumah sendiri. Aku juga merindukan appa dan ummaku!! Ah, seandainya aku murid SMA seperti SungMin.. Belum lagi nilaiku yang hancur belakangan ini. Kalau begini terus aku tidak akan pernah bisa menjadi dokter. alhasil, mataku sekarang jauh lebih parah daripada mata panda. Bengkak, sembap, lingkaran hitam mengelilinginya, .

KangIn memanggilku dari jauh, lalu berlari ke arahku.

“Oh.. Jadi calon dokter kita ini sudah pakai kacamata sekarang?” tanyanya sambil mengangkat daguku, agar bisa melihat mukaku dengan lebih jelas. “OMONA! Hyung, mata hyung bengkak. Hyung tidak apa-apa? Hyung habis menangis ya?” tanyanya. Aku tersenyum lalu menggeleng. Tapi dia kelihatan tidak percaya.

“Bohong ya?” tudingnya, aku kembali menggeleng. Dia lalu berhenti bertanya walaupun sepertinya dia tidak puas dengan jawabanku. Itulah KangIn, selalu mengkhawatirkanku, dan selalu tau jika aku sedang berbohong.

 

Flashback, dua tahun yang lalu.

Malam-malam, saat aku hampir tertidur, ada yang mengetuk pintuku. Aku mengabaikannya saja, malam-malam seperti ini bukan waktunya lagi untuk bertamu.

“Teuk hyung! Ya! Buka pintunya! Aish.. Dingin sekali!!” hah? Suara KangIn? Aku segera turun dari tempat tidurku dan segera membuka pintu. Di dalam saja dingin, apalagi di luar. Kasihan KangIn, tapi kenapa harus bertamu malam-malam begini?

Setelah pintu terbuka, aku terkejut melihat KangIn yang berdiri di depan pintu. Dia terlihat kesal, mungkin karena aku membuka pintu terlalu lama. Tapi mukanya.. apa dia barusaja berkelahi?

“Hampir saja aku mati beku di luar sini!” katanya sambil menyelonong masuk ke dalam rumah.

“Eh, mukamu kenapa?” tanyaku setelah menutup pintu. Dia sekarang duduk di sofa sambil menekan-nekan memar di wajahnya.

“Makanya aku ke sini. Kau kan dokter, jadi tolong obati lukaku.” Katanya santai.

“Calon dokter. Itupun kalau lulus. Tapi kalau aku terus-terusan kau ganggu begini itu tidak akan pernah terjadi.” Kataku sambil mengambil kotak P3K dan kain kompres. Aku mulai mengompres memar di mukanya dengan keras.

“YA! Kau mau membunuhku ya? Hati-hati dengan wajah tampanku!” katanya, aku tertawa kecil. “Aish.. Kau sama saja dengan orang yang memukuliku tadi. Aku benci dengan orang yang mengejekku.” Katanya.

“Aku tidak mengejekmu.”

“Tapi kau tertawa waktu ku bilang wajahku tampan.” Sahutnya. Aku tersenyum sambil melanjutkan pekerjaanku.

End of Flashback.

 

SungMin POV

Jantungku menggila karena kata-kata KyuHyun tadi pagi. Aku bahkan tidak bisa konsentrasi di semua pelajaran yang aku ikuti hari ini. Dulu ketika pertamakali aku bertemu dengan KyuHyun aku sangat tidak menyukainya. Anggapanku adalah KyuHyun itu anak orang kaya yang nakal dan tidak tau apa-apa selain berhura-hura. Tapi ternyata aku salah. KyuHyun memang anak orang kaya, namun dia tidak mau sepenuhnya bergantung pada orang tuanya. KyuHyun kerja part time di dua tempat, dia juga belajar dengan baik. Hanya saja dia sangat jahil, dia juga tidak pernah kulihat berjalan dengan temannya. Atau dia memang tidak punya teman? Ah, SungMin! Kalau kau tidak berhenti memikirkan anak itu kau tidak akan lulus di semua mata kuliah!

Tiba-tiba aku teringat pada EeTeuk hyung. Apa yang membuatnya menangis sesedih itu kemarin? Aku tidak pernah melihatnya menangis sesedih itu lagi sejak dua tahun yang lalu. Ya, sejak KangIn hyung meninggal. KangIn hyung adalah orang yang sangat dicintai EeTeuk hyung. Sudah lebih dua tahun mereka bersama, dan dua tahun yang lalu KangIn hyung meninggal karena kecelakaan. EeTeuk hyung tidak henti-hentinya merindukan KangIn hyung. Setiap malam selama setahun setelah kecelakaan itu EeTeuk hyung hampir tidak pernah tersenyum, bahkan di acara kelulusannya. Namun akhirnya dia sudah mulai bisa melupakan KangIn hyung sedikit demi sedikit. Meskipun aku tau di hati EeTeuk hyung masih ada luka yang belum sembuh, dan mungkin tidak akan sembuh.

Setelah kelasku selesai, aku menelepon YeSung hyung untuk meminta izin bolos kerja. YeSung hyung adalah pemilik cafe tempat aku bekerja, dan untungnya dia sangat baik. Aku segera menuju ke rumah sakit tempat EeTeuk hyung bekerja.

Aku sangat terkejut melihat EeTeuk hyung terduduk di lantai, menangis sambil memegang kertas-kertas dan sebuah medali. Yang aku tahu itu adalah medali yang diberikan KangIn hyung pada EeTeuk hyung sebelum dia meninggal.. Aku segera memeluknya, mencoba menenangkan tangisannya. Dia menangis tersedu-sedu, sepertinya dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.

“SungMin-ah…” EeTeuk hyung mencoba untuk bicara walaupun masih tersedu. “KangIn.. KangIn..” dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, namun dia memberikan kertas-kertas itu padaku. Aku membacanya, dan aku terkejut. Di sana tertulis bahwa KangIn hyung bersedia mendonorkan jantungnya saat dia sudah meninggal.

“Jantung KangIn… KyuHyun..” EeTeuk hyung kesulitan melanjutkan kata-katanya. “KangIn mendonorkan jantungnya pada KyuHyun.. Ternyata adik KangIn itu adalah KyuHyun..” dia memelukku erat dan menangis di dadaku. “KangIn ku.. sekarang dia hidup di raga KyuHyun.. Dia KangIn ku SungMin-ah.. Jantung KangIn berdetak dalam dadanya.. Dia KangIn ku..”

Jadi orang yang mendonorkan jantungnya pada KyuHyun adalah KangIn hyung?

“Sudah sejak aku melihatnya untuk pertama kali, aku melihat KangIn pada dirinya.. Tuhan menggantikan KangIn ku dengannya SungMin..” sekarang nada suara EeTeuk hyung seperti sedang bersyukur dan lega. Tapi perlahan dadaku sakit. Dia itu adalah KyuHyun.. Dia KyuHyun-ku..

“SungMin-ah..” dia mengagetkanku dari lamunanku. “Bisakah kau bawa KyuHyun ke rumah? Aku sangat ingin bersamanya.” Kata EeTeuk hyung sambil menghapus air matanya. Aku tersenyum lalu mengangguk. Apa ini? Jantungku terasa sangat sakit mendengarnya. EeTeuk hyung terlihat bahagia, mana mungkin aku mengambil kebahagiaan ini? Sudah sejak dua tahun yang lalu aku memimpikan senyuman Teuk hyung lagi, dan sekarang saat waktunya tiba haruskah aku menghalanginya demi perasaanku sendiri?

 

KyuHyun selalu datang ke rumahku setiap malam. Terkadang dia akan menonton DVD dengan Teuk hyung, main game, mencicipi masakan Teuk hyung, atau hanya sekedar bercerita tentang segala hal. Mereka selalu mengajakku bergabung, tapi aku selalu menolak. Aku tidak suka melihat KyuHyun bermanja-manja dengan Teuk hyung. Teuk hyung terlihat bahagia akhir-akhir ini, dan hatiku semakin sakit rasanya tiap kali KyuHyun melangkahkan kakinya di rumahku untuk Teuk hyung. Aish! Kenapa aku ini? Apa aku mengaharapkan KyuHyun datang ke sini untukku? Aku pasti sedang bermimpi.

Belakangan ini aku jadi banyak pikiran. Tugas-tugas kuliahku terbengkalai, aku juga tidak fokus saat bekerja. Aku tidak belajar, aku menangis tiap malam sampai mataku bengkak pagi harinya. Aku mulai mengenakan kacamata utuk menyembunyikannya seperti yang dilakukan Teuk hyung. Aku juga menghindari pertemuan dengan Teuk hyung dan KyuHyun  sebisaku.

Dan sekarang, konsekuensi yang harus kubayar adalah begadang untuk menyelesaikan tugasku yang sudah menumpuk. Sudah dua hari penuh aku mengerjakannya tapi belum juga selesai. Aku masih mendengar tawa Teuk hyung dan KyuHyun dari ruang tamu. Aku memutuskan untuk pergi ke dapur membuat secangkir kopi. Namun ketika aku berdiri, kepalaku mulai berputar-putar, ini pasti karena aku kurang tidur belakangan.

Saat akan menuruni tangga, pandanganku berkunang-kunang, badanku terasa sangat berat. Oh tidak, tidak di sini. Tidak sekarang. Seketika aku kehilangan keseimbangan. Aku merasakan punggung dan kepalaku terbentur keras, sakit sekali. Aku menggigit bibir bawahku agar aku tidak berteriak. Ah.. hyung.. tolong aku..

 

KyuHyun POV

Aku mendengar suara gaduh dari arah belakang. Aku dan Teuk hyung segera melihat apa yang terjadi. Dan aku sangat terkejut melihat SungMin tergeletak di dekat tangga tidak bergerak sedikitpun. Aku segera berlari menghampirinya dan mengangkat kepalanya ke pangkuanku. Aku terkejut karena merasakan tanganku basah. Darah?

“Bawa SungMin ke kamarnya Kyu.” Aku segera menggendong tubuh kecil SungMin ke kamarnya di lantai dua dan membaringkannya di tempat tidurnya. Pelipis kanannya mengeluarkan darah. Aku segera mengambil saputanganku dan mengelap darah yang keluar.

“Hh..hyung.. Sakit..” dia mulai mengerang kesakitan. SungMin menggapai tanganku, dan aku menggenggam tangannya erat. Tak lama kemudian Teuk hyung datang membawa peralatannya. Aku hanya bisa melihatnya membersihkan darah dan mengobati luka SungMin kemudian membalutnya dengan perban. SungMin masih mengerang lemah, mukanya pucat dan matanya tertutup. EeTeuk hyung selesai mengobati lukanya.

“Hyung, SungMin gwaenchana?” tanyaku sambil terus memegang tangan SungMin. Aku sangat khawatir melihat SungMin begitu pucat dan kesakitan.

“Dia tidak apa-apa. Lukanya tidak perlu dijahit. Dia hanya phobia dengan darah, makanya sampai pucat seperti ini. Aku sudah memberikannya obat penenang dan dia tertidur sekarang. Sepertinya dia kelelahan.” Jelas Teuk hyung. Aku sedikit lega mendengarnya.

“Hyung..” panggilku saat Teuk hyung mengemasi peralatang dokternya. “Bolehkah aku menunggui SungMin di sini sampai dia sadar?” tanyaku. EeTeuk hyung tersenyum lembut.

“Tentu saja boleh. Dia akan sangat senang melihatmu begitu dia sadar nanti. Kau jangan lupa tidur ya, mungkin dia baru akan sadar besok pagi.” Aku mengangguk kemudian Teuk hyung keluar dari kamar SungMin.

Aku memandangi wajahnya yang sudah tidak sepucat tadi. Dia terlihat sangat cute saat tertidur. Aku menaikkan selimutnya sampai menetupi dadanya, namun tanganku masih mengenggam tangannya.

“SungMin-ah.. Kata EeTeuk hyung kau menyukaiku kan? Kenapa menghindariku? Padahal aku ke sini untuk melihatmu, kau malah sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku juga suka padamu, Minnie.. Aku akan menemanimu di sini, kau jangan takut.. Saranghae, Minnie-ah..” aku lalu tertidur di tepi tempat tidunya, tepat di sebelah tanganku dan tangannya.

 

Aku merasakan tangan SungMin bergerak, lalu aku terbangun.

“Hyung.. Teuk hyung..” panggilnya lemah. Aku membelai lembut kepalanya.

“Ini aku. Kyu.. Aku KyuHyun Minnie..” dia lalu membuka matanya dan terlihat sedikit terkejut.

“KyuHyun-ah? Mana hyung-ku?” dia mencoba untuk duduk, namun tidak bisa. Dia kembali berbaring sambil memegangi kepalanya.

“Ah.. Apa kepalaku pecah? Kenapa sakit sekali?” tanyanya membuatku tersenyum.

“Kau hanya luka sedikit. Teuk hyung sedang memasakkan bubur untukmu. Kau lapar kan?” tanyaku, tapi dia tidak menjawab. Dia hanya memandangiku. “Apa aku setampan itu di pagi hari?” tanyaku. Muka SungMin memerah.

“Teuk hyung sudah mengatakan semuanya padaku. Kau menyukaiku kan Minnie? Ayolah.. mengaku saja..” kataku, dia terlihat salah tingkah.

“Teuk hyung? Apa saja yang dia katakan?” tanyanya.

“Semuanya.” Jawabku singkat.

Tiba-tiba Teuk hyung masuk sambil membawa semangkuk bubur dan segelas susu. “Iya, hyung sudah bilang semuanya pada Kyu. Kalau hyung menunggumu untuk mengatakannya sendiri, entah kapan akan terjadi.”

“Tapi.. Hyung.. Kukira..” SungMin terbata-bata.

“Apa? Kau kira hyung menyukai KyuHyun? Hahaha.. Ayolah Minnie.. KyuHyun adalah KyuHyun. Orang yang hyung cintai adalah KangIn, kakaknya. Selamanya akan tetap KangIn. Apapun yang terjadi, walaupun jantung KangIn sekarang berdetak dalam dada Kyu, dia tetaplah Kyu. Dan Kyu ditakdirkan untukmu, Minnie..” Teuk hyung tersenyum, memperlihatkan wajah malaikatnya.

“Aku menyayangimu Minnie..” kataku. Muka SungMin semakin merah. Lalu dia mengangguk kecil.

“I love you too, kyu..” aku memeluk SungMin yang masih berbaring.

“Hei.. hei.. Nanti saja adegan NC-nya. Ini Minnie, segera habiskan bubur dan susu ini, dan minum obatmu. Hyung akan pergi ke rumah sakit. Kyu, jaga Minnie. Seperti biasa, kalau dia macam-macam..”

“Pukul kepalanya dengan kunci inggris..” aku menyambung kalimat Teuk hyung lalu kami tertawa bersama. Aku melihat tawa SungMin, dia begitu manis, laki-laki manapun akan bersedia jadi gay demi dia.  Dan SungMin ini adalah milikku sekarang, dan akan selalu begitu.

 

******

Mohon komennya… :))

Diposkan pada Uncategorized

Kang-Teuk (Angel’s Missing Wings) One Shoot

Cast       : Park JungSoo as EeTeuk, Kim YoungWoon as KangIn, KyuHyun, SungMin.

Warnings: Death character, Yaoi, Cheesy lines. (DON’T READ if you don’t like, and no bashing please..)

Disclaimer: KangTeuk punya Tuhan, dan Suju punya SM, tapi ceritanya punyaku. Jadi kalo gaje, maklum aja. Authornya kan juga gaje. Khkhkhkh.. Semuanya fiktif, kecuali eksistensi tokohnya.

YoungWoon POV

Hari ini aku harus latihan panjat dinding sampai malam untuk persiapan turnamen. Badanku pegal semua, dan aku hanya ingin tidur dengan pulas malam ini. Pembantuku membukakan pintu gerbang kemudian aku memarkir mobilku. Aku melihat mobil appa sudah terparkir di garasi.

“Appa pulang cepat ya?” tanyaku pada pembantuku. Dia lalu mengangguk. Aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarku di lantai dua. Appa dan KyuHyun pasti berada di kamar mereka.  Rumah yang besar ini selalu begini. Tanda-tanda kehidupanpun hampir tidak ada. Ini sejak umma meninggal saat aku duduk di sekolah menengah, dan sekarang aku sudah berada di semester enam universitas.

Aku melewati kamar KyuHyun, dia adalah dongsaengku satu-satunya. Aku lebih tua lima tahun darinya, dan mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh ini, aku tidak bisa terlalu dekat dengannya.Entah mengapa aku membuka pintu kamarnya, hanya ingin melihat keadaannya. Belakangan ini kondisinya memburuk karena penyakit lemah jantung yang dia derita sejak lahir, penyakit keturunan dari umma.

Lampu yang hidup hanya lampu tidur yang ada di dekat kasurnya. Aku berjalan mendekatinya yang sedang berbaring. Aku bisa mendengar napasnya yang berat dan cepat, tangannya menekan-nekan dada sebelah kirinya. Ya Tuhan, pucat sekali anak ini, keringat dingin membasahi rambutnya.

“KyuHyun-ah..” aku berlutut di samping tempat tidurnya.

“Hyung.. hh.. sakit sekali..” seketika aku panik. Aku langsung berteriak memanggil pembantu-pembantuku dan mereka datang satu persatu. Tidak lama kemudian appa datang memakai baju tidur. Appa pun juga terlihat panik.

“Appa, KyuHyun kesakitan..” kataku.

“YoungWoon, segera bawa adikmu ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.” Kata Appa. Aku segera menggendong KyuHyun di punggung dan membawanya ke mobil. Appa mengemudikan mobil sedangkan aku duduk di kursi belakang dengan KyuHyun berbaring di pangkuanku. Dia menangis sambil masih memegang  dadanya. Aku menghapus air matanya.

“Umma..” panggilnya lemah. Aku terkejut mendengarnya. Kenapa dia tiba-tiba memanggil umma? “Umma.. sakit.. Dadaku sakit umma..”

“Appa..” panggilku.

“Tidak apa-apa, dia hanya merindukan Umma.” Aku tau, aku bisa mendengar jelas suara appa tercekat. Appa sedang menahan tangis sekarang.

“Kyu.. Dengar kata-kataku. Sedikit lagi kita sampai di rumah sakit. Dan berhenti memanggil umma, itu menakutiku.” Kataku. Aku benar takut mendengarnya memanggil umma, seolah-olah dia melihat umma menjemputnya. Bagaimanapun, aku tidak siap kehilangan satu orang lagi dari hidupku. Aku tidak akan pernah siap.

 

Aku berdoa di luar ruangan ICU, berdoa untuk keselamatan KyuHyun. Aku ingin menangis tapi aku sudah tidak bisa meneteskan air mata lagi sejak kepergian umma.

“KyuHyun harus mendapatkan donor jantung secepatnya Tn. Cho..” aku tidak sengaja mendengar percakapan antara appa dan dokter yang menangani KyuHyun saat aku melintasi ruangan dokter itu. Donor jantung?

“Bagaimana bisa saya mendapatkan donor itu dok? Kalau begitu ambil saja jantung saya untuknya. Saya bersedia.” Suara appa terdengar parau. Appa.. Tidak.. Aku tidak akan mengizinkan appa melakukan itu..

“Appa!” aku masuk ke ruangan itu tanpa permisi. “Jangan appa, aku dan KyuHyun membutuhkan appa. Kami tidak punya umma lagi, dan appa mau melakukan ini? Tega sekali appa..” aku berusaha mengatur napasku. Appa sudah mulai menangis.

“Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan adikmu, YoungWoon.. Dimana akan kita temukan donor jantung untuk KyuHyun? Appa tidak mau kehilangannya..”

Dokter lalu memberi tanda bahwa dia akan berbicara. “Lagipula Tn. Cho, orang yang bisa mendonorkan jantungnya hanyalah orang yang sudah meninggal saja. Donor jantung tidak sama dengan donor darah atau ginjal. Jantung adalah organ yang sangat vital, kita tidak bisa mengambil jantung seseorang yang masih hidup untuk menolong orang lain. Itu sama saja dengan membunuh, walaupun ada persetujuan dari orang yang bersangkutan.”

“Lantas,, bagaimana? Apa yang harus kami lakukan dok?” tanya appa terdengar hampir putus asa.

“Kita berdoa saja, semoga ada donor yang cocok untuknya dalam waktu dekat ini.”

Emosiku mulai memuncak. Aku menarik kerah baju dokter itu.

“Kau dokter apa bukan hah? Bagaimana adikku bisa mendapatkan donor itu? Kemana aku harus mencarinya hah?” appa menarik tanganku dan menenangkanku.

“Maaf YoungWoon-ssi.. Tapi memang inilah kenyataannya. Donor jantung itu tidak bisa sembarangan, jantung pendonor harus cocok dengan resipien. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa..”kata-kata itu seketika menyedot semua energi yang tersisa padaku. Setidak punya harapan itukah kami saat ini? Secepat itukah aku harus menyerah untuk adikku? Aku terduduk, pikiranku menerawang. Ummaku, dan sekarang dongsaengku.. Kenapa dunia menjadi setidak adil ini padaku?

 

“YoungWoon-ah.. Ya!” seseorang menyadarkanku dari lamunan. Sunbaeku mulai mencium sesuatu yang tidak beres dariku hari ini. Biasanya aku sangat bersemangat untuk latihan, tapi sekarang semangat dan tenagaku hilang, tidak tersisa samasekali.

“Maaf sunbae.. Aku izin hari ini, pikiranku sedang kacau.” Kataku sambil melepaskan tali tubuh yang sedang kupakai. Aku mengambil tasku dan pergi dari lokasi latihan. Aku merasakan seseorang mengejarku, tapi aku hanya terus berjalan sampai di tempat parkir. Aku tau benar siapa yang sedang mengikutiku itu. Aku membalikkan badanku dan memeluk orang yang tepat berada di belakangku.

“Ada apa KangIn-ah?” suara malaikatnya membuatku merasa nyaman, dia selalu memanggilku KangIn, karena katanya nama itu lebih cocok untukku. Aku lalu menopangkan tubuhku sepenuhnya pada tubuh kecilnya. Otomatis dia terduduk, karena perbedaan ukuran badan yang jauh. Aku tidak peduli, aku menyurukkan wajahku ke dadanya membuatku menghirup aroma harum tubuhnya.

“Ada apa?” tanyanya. Aku tidak peduli dengan pertanyaannya, aku tidak ingin membahas ini.

“Peluk aku.” Kataku, dia lalu menuruti kata-kataku. “Aku ingin.. selamanya ada di pelukan seorang malaikat.. Aku sudah kehilangan malaikatku,, aku kehilangan ummaku.. Hanya denganmu,, aku merasakan lagi pelukan ini.. Sampai mati aku ingin di sini..” entah apa yang sedang aku katakan.

“Kau tidak seperti KangIn yang biasanya.” Katanya. Aku melepaskan pelukanku dan menatap matanya.

“Bagaimana bisa aku tetap menjadi KangIn? Bagaimana bisa aku tetap kuat? Semua ini terlalu banyak untukku Hyung.. Terlalu sakit untuk kutahan sendiri. Aku tidak bisa lagi, aku tidak mau. Buat aku melupakannya hyung, aku takut..” aku kembali memeluknya. Aku bisa merasakan tangannya membelai rambutku.

“Ada aku, kau bisa berbagi denganku.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Sayangnya ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibagi, Teuk hyung.. Tidak bisa..” aku memaksakan diri untuk berdiri, kemudian Teuk hyung juga melakukan hal yang sama. Dia berdiri menatapku yang mungkin kelihatan sangat frustasi. “Bawa aku.. kemanapun.. Asal jangan ke rumahku..” aku ingin melupakan ini untuk sementara. Ini bisa membuatku gila, aku tidak bisa begini..

EeTeuk POV

Aku meneteskan airmata saat mengemudikan mobil KangIn ke rumahku. Dia tertidur di tempat duduknya, dia kelihatan sangat lelah dan.. sedih. Aku tidak pernah bertanya tentang apa yang terjadi padanya. Dia pun juga tidak pernah menceritakannya padaku. Tapi dari matanya aku bisa melihat sesuatu yang sangat menguras energinya.

Dia tidak pernah menangis, hanya menyembunyikan kesedihannya di dalam hati. Atau mengeluarkannya dengan kemarahan. KangIn selalu jadi orang yang kuat, gagah, dan penuh dengan semangat. Tapi KangIn yang sedang aku lihat sekarang adalah KangIn yang lain. Dia rapuh, dia terluka. Melihatnya seperti ini menyakitkan hatiku. Aku tidak ingin melihat orang yang kusayangi menderita seperti ini.

Kami sekarang ada di ruang tamu rumahku. Sudah larut malam sekarang, sepupuku SungMin sudah tertidur di kamarnya, tapi aku dan KangIn tidak tidur. Kami hanya duduk di sofa ruang tamu, aku menatap KangIn sedangkan dia menatap lantai tanpa ada ekspresi.

“Dimana..” ujarnya pelan. “Dimana aku bisa mendapatkannya? Kemana aku harus mencarinya hyung? Tolong aku.. Katakan padaku..” ada nada permohonan dalam suaranya. Aku mengerutkan keningku. Apa maksudnya?

“Apa? Aku akan membantumu mendapatkannya. Aku berjanji..” kataku, aku akan melakukan apapun untuknya. Namun dia menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak bisa hyung.. Tidak ada seorangpun yang bisa.. Kenapa Tuhan seperti ini hyung? Sebegitu jahatkah aku sampai harus dihukum seperti ini?  Aku sudah tidak punya umma lagi.. Apa aku harus merelakan dongsaengku juga? Dengan cara yang sama saat aku kehilangan umma?” dia bicara dengan nada lemah, sambil tetap menatap lantai.

Aku mulai mengerti apa yang terjadi. Aku pernah mendengar dari teman KangIn tentang hal ini. Ummanya meninggal lima tahun yang lalu, dan sekarang adiknya juga sedang berjuang melawan penyakit yang sama dengan ummanya. Sebenarya aku tidak begitu mengetahui tentang keluarga KangIn. Aku hanya seorang sunbae baginya. Dia adalah mahasiswa di universitas yang sama denganku. Aku adalah mahasiswa kedokteran semester akhir, sedangkan dia adalah mahasiswa manajemen bisnis semester enam. Tapi yang aku tau hanyalah.. aku menyayangi KangIn, tanpa perlu tau apapun tentangnya.

Flashback, satu tahun yang lalu.

EeTeuk POV

Aku berjalan di taman kampus setelah menyelesaikan tugas di perpustakan. Sudah malam dan aku memutuskan untuk segera pulang. Seseorang menarik perhatianku ketika melewati tempat yang biasa digunakan klub pecinta alam untuk panjat dinding. Hanya ada satu orang di sana, dan dia sepertinya sedang latihan keras, tanpa memakai pengaman. Aku berhenti di tempat untuk melihatnya lebih lama. Namun kemudian saat orang itu sudah mencapai setengah tinggi dinding, dia seperti kehabisan tenaga lalu terjatuh. Aku segera menghampirinya ketika orang itu mengerang kesakitan.

“Gwaenchana?” tanyaku sambil memegang lengan laki-laki itu. Aku mengenalinya. Dia adalah YoungWoon, anak seorang pengusaha kaya dan atlit panjat dinding yang handal. Kenapa atlit sepertinya bisa terjatuh bahkan sebelum mencapai setengah dari tinggi dinding?

“Ah, punggungku sakit..” erangnya. Dia memang terjatuh dengan posisi punggung menghantam tanah. Salah sendiri, kenapa tidak memakai tali pengaman?

Aku membantunya duduk, ternyata punggungnya tergores. Lagi-lagi itu kesalahannya, dia hanya memakai baju sleeveless. Aku membantunya berdiri, aku harus membawanya ke unit kesehatan. Biasanya unit kesehatan kampus buka 24 jam. Ukuran badannya yang lebih besar dariku sedikit menyulitkanku memapahnya.

Setibanya di unit kesehatan, aku membantunya membuka bajunya. Dia tidak bicara apapun padaku, aku juga tidak. Dia duduk di kasur dan aku mengambil alkohol dan betadine untuk membersihkan dan mengobati luka di punggungnya. Punggungnya tergores batu, itu pasti sakit.

Aku mengobatinya dengan posisiku menghadap punggungnya.

“AH! Perih..” erangnya. Aku tetap melanjutkan pekerjaanku. Tiba-tba dia membalikkan badannya sehingga menghadapku. Dia kemudian menyandarkan kepalanya ke dadaku dan tangannya melingkar di pinggangku. “Izinkan aku memelukmu sebentar, Teuk-sunbae..” katanya sambil membenamkan wajahnya ke dadaku. Dia ternyata tau namaku. Aku melanjutkan kegiatanku mengobati lukanya, pelukannya mengerat setiap kali aku menekan lukanya terlalu keras. Manja juga ternyata anak ini.

Setelah selesai mengobatinya, aku merasakan punggungnya naik turun dengan teratur. Dia tertidur sambil memelukku. Aku membelai kepalanya, entah kenapa sejak dia mulai memelukku tadi hatiku ikut merasakan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dia lalu terbangun, dan melepaskan pelukannya dariku.

“Maaf..” katanya salah tingkah. Aku tersenyum. “..dan terimakasih, sunbae..” katanya sambil sedikit menundukkan kepalanya.

“Cheonmaneyo..” jawabku. “Lain kali pakai pengaman dan baju yang panjang.” Kataku. Dia mengangguk. “Ini bagian dari latihan atau…”

“Aku biasanya kesini kalau hatiku sedang kacau. Sekarang suasana hatiku sedang tidak karuan, dan aku tidak punya waktu untuk memasang pengaman. Terimakasih, sekali lagi..” aku menerti sekarang. Aku lalu berdiri, bermaksud meletakkan obat-obatan yang kuambil tadi ke tempatnya. Tapi YoungWoon kemudian menahan tanganku.

“Aku menyukaimu, Sunbae..” kata-katanya mengagetkanku. Dia menundukkan kepalanya, tidak menatap wajahku.

“M..mwo?”

“Maafkan aku” ujarnya dengan nada bersalah. Aku duduk kembali di sebelahnya. “Untuk pertama kalinya sejak ummaku meninggal,, aku merasakan lagi pelukan seorang malaikat.. Aku tidak menyangka bahwa perasaan itu datang darimu, sunbae.. Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Maafkan aku sunbae..” kepalanya tertunduk dalam.

“Tidak ada yang salah, tidak ada yang harus dimaafkan. Jangan meminta maaf atas perasaanmu, tidak ada yang salah darinya.” Kataku. Aku mengangkat dagunya sampai matanya menatap mataku. “KangIn-ah..” panggilku. “Let’s start protecting each other.” Entah apa yang ada dalam pikiranku sampai aku mengatakan hal ini. Dia tiba tiba memelukku lagi, dan aku membalas pelukannya.

“KangIn?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Iya. Nama itu lebih cocok untukmu. Mulai sekarang aku akan memanggilmu KangIn.” Aku tersenyum, diapun juga. Walaupun dalam senyumannya aku bisa melihat ada sebuah hal yang menyedihkan. Dia pasti sedang ada masalah, namun aku tidak ingin mencampuri urusannya sampai dia sendiri yang bercerita.

Flashback End

 

Author POV

Sudah jam tiga pagi, tapi EeTeuk maupun KangIn tidak mengantuk. Mereka tetap pada posisi mereka sebelumnya, tanpa bicara sedikitpun. KangIn sibuk menatap lantai, sedangkan EeTeuk terlalu takut untuk sekedar membuka pembicaraan.

“Adikku..” KangIn buka suara. “Membutuhkan donor jantung.. secepatnya..” dia lalu menyandarkan kepalanya ke sofa. “Tapi dimana hyung? Bagaimana aku bisa menemukannya? Dia baru enam belas tahun, bagaimana bisa dia pergi secepat itu?” air mata menetes dari mata KangIn. EeTeuk terkejut, dia belum pernah melihat KangIn menangis sebelumnya, seberapapun frustasinya dia. Ini adalah pertama kalinya EeTeuk melihat langsung airmata jatuh di pipi KangIn. Seketika, hati EeTeuk terasa sakit, dan airmatanya pun ikut jatuh.

“Selama ini aku mati-matian melupakan masalah ini. Aku menyibukkan diri dengan semua masalah atlit konyol itu. Setiap kali aku teringat bahwa adikku mungkin juga akan meninggalkanku seperti umma, setiap kali aku melihatnya mengerang kesakitan sambil memegang dada kirinya, aku melampiaskannya pada dinding sialan itu. Setelah badanku lelah dan tenagaku habis, aku bisa tertidur pulas tanpa harus memikirkannya lagi. Aku selalu lari, tapi sekarang semuanya mengejarku hyung. Adikku sekarang terbaring di rumah sakit, bahkan bernapas saja dia sulit. Kemana lagi aku harus lari? Aku seperti pecundang yang hanya pasrah, menunggu donor sialan yang entah kapan datangnya. Aku.. ARRGGHHH…” KangIn mengelap airmatanya, dan EeTeuk juga.  EeTeuk mendekati KangIn dan menarik ke pelukannya.

“Menangislah di pelukan malaikatmu, KangIn..” Lama, KangIn menangis di dada EeTeuk. Kemudian dia mengangkat kepalanya tiba-tiba.

“Aku tidak boleh lari lagi. Aku tau dimana. Aku tau bagaimana caranya hyung..” KangIn tiba-tiba berdiri, bermaksud untuk meninggalkan rumah EeTeuk, tapi EeTeuk menahannya.

“Kau mau kemana?” tanya EeTeuk.

“Adikku sedang butuh aku Hyung.. Dia butuh aku sekarang. Jantungku bisa menggantikan jantungnya kan? Dia adikku, jantungku pasti cocok untuknya.. Aku akan memberikan jantung ini padanya, aku tidak butuh..” EeTeuk terkejut mendengarnya. Dia mengeratkan tangannya pada KangIn.

“Hei, kau pikir jantungmu berapa?” KangIn melepaskan tangannya dari genggaman EeTeuk dengan satu sentakan keras.

“Aku tidak membutuhkannya.”  EeTeuk mendaratkan tamparan yang keras di wajah KangIn. KangIn terdiam, berhenti melawan.

“Ini ide tergila dan terbodoh yang pernah aku dengar seumur hidupku, KangIn. Kau tau apa artinya itu? Kau akan mati! Kau kira adikmu akan senang menerima kenyataan itu? Kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada appamu? Padaku? KangIn, aku tau kau dalam kondisi yang sulit, tapi berpikirlah dengan jernih.. Ini bukan jalan keluar yang terbaik..” KangIn terduduk lemas, dia menutup matanya dengan kedua tangan dan mulai menangis.

“Izinkan aku.. aku.. menolong adikku hyung… Dia harus hidup lebih lama lagi..” KangIn memeluk kedua kakinya dengan tangan, lalu membenamkan wajahnya di sana.

“Tidak dengan cara ini.” EeTeuk memeluk KangIn yang masih terisak, air matanya menetes satu-satu. “Dalam kehidupan ini.. ada kalanya kita menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita hindari. Sometimes, all we can is just leave it to God, KangIn. Dan kau sekarang sedang ada dalam hal seperti ini. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya, percayalah.. Yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik.” Ucap EeTeuk. KangIn hanya diam, berusaha percaya dengan apa yang dikatakan EeTeuk.

KangIn POV

Sudah dua hari sejak kejadian di rumah Teuk hyung, dan aku berusaha percaya dengan kata-katanya. Aku yakin bahwa Tuhan punya jalan sendiri untuk KyuHyun dan aku, aku pasrah karena memang tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain itu.

Hari ini adalah turnamen panjat dinding antar Universitas yang diselenggarakan di kampusku. Aku adalah tim inti atlit kampusku, dan sebelum turnamen dimulai aku menyempatkan diri menjenguk KyuHyun. Sejak dokter memberitahuku tentang donor jantung itu, aku sudah tidak pernah lagi ke rumah sakit. Aku takut, aku tidak bisa melihatnya. Tapi sekarang, sebuah dorongan yang sangat kuat memaksaku untuk datang padanya.

Kondisinya masih sama, masih sangat lemah. Sejak hari pertama dia masuk rumah sakit sampai sekarang, masker oksigen tidak pernah lepas darinya. Bedanya, sekarang dia sudah sadar sepenuhnya, dan sudah bisa diajak bicara. Appa bahkan tidak pergi ke kantor demi menjaganya.

Aku masuk perlahan dan duduk di sebelah ranjangnya. Aku bisa melihat senyuman di bibirnya, namun aku tidak membalas senyuman itu. Bagaimana bisa aku tersenyum saat aku sedang melawan keinginan airmataku untuk jatuh?

“Hyung.. Akhirnya kau datang..” katanya lemah, hampir seperti bisikan. Jelas sekali rona bahagia di wajahnya yang pucat. Dia mengulurkan tangannya yang tidak ditancapi infus kepadaku. “Pegang tanganku hyung..” aku segera menggapainya dan menggenggamnya erat. KyuHyun kembali tersenyum getir, sakit sekali hatiku melihatnya.

“Hyung tau kau akan sehat Kyu. You will make this through. Hyung berjanji, kau akan selamat.” KyuHyun menggeleng lemah. “Kau harus berjuang bersamaku Kyu! Tolong aku.. Tolong..” aku menangis, ini terlalu berat untukku. Kenapa dia harus menyerah sedangkan aku tidak? Aku tidak ingin dia menyerah, tidak akan kuizinkan..

“Maafkan aku hyung.. Untuk hal ini aku tidak bisa membantumu..” aku melepaskan tangannya dengan paksa.

“Dengar ini baik-baik Cho KyuHyun. Aku tidak akan menyerah atasmu. Aku berjanji padamu, pada diriku sendiri, kau akan selamat. Kau akan sehat, kembali sekolah dan meneruskan cita-citamu. Kau pegang janjiku!” aku keluar dari ruangannya, meninggalkan KyuHyun yang kutau sedang menangis. Aku lalu menghapus air mataku. Sekarang aku harus fokus pada turnamen.

 

Giliranku tiba. Aku harus memanjat dinding ini secepat yang aku bisa. Aku sudah memasang tali tubuh dan tali pengaman. Begitu peluit berbunyi, aku mengerahkan seluruh tenagaku. Aku sudah sering melakukan ini, aku adalah juara bertahan selama dua tahun berturut-turut. Aku bisa memenangkan perlombaan ini dengan mudah. Benar saja, akulah yang paling cepat tiba di puncak. Namun tidak seperti biasanya, aku tidak bahagia. Tidak samasekali.

Semua orang bersorak. Dari atas aku melihat Teuk hyung yang tersenyum bangga melihatku. Namun kemudian, kurasakan tali tubuhku merenggang, seketika aku mencengkeram pegangan di dinding dengan erat. Aku berusaha bertahan, tapi kemudian kakiku tergelincir. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, yang kurasakan adalah angin, tubuhku ada di awang-awang. Beberapa detik kemudian, punggung dan kepalaku menghantam sesuatu yang sangat keras. Aku bisa mendengar bunyi ‘bukk’ yang keras dan teriakan panik semua orang. Kepalaku sakit, perutku mual. Aku masih bisa melihat cairan merah yang aku muntahkan. Kemudian seseorang mengangkat kepalaku ke pangkuannya, Teuk Hyung.. Dia terlihat bercahaya bagiku.. Tapi perlahan cahayanya meredup, dan hanya gelap yang tersisa.

EeTeuk POV

Aku melihat ada yang aneh pada KangIn. Dia sudah menang, tapi dia tidak tersenyum sedikitpun. Dia kemudian hilang keseimbangan, kejadiannya terjatuh dari dinding yang sangat tinggi itu terekam jelas di otakku. Suara gaduh dan teriakan itu menggema di telingaku. Seketika, aku serasa kehilangan seluruh tenaga. Aku tidak mau melihat apapun, tapi aku memaksa. Aku berlari ke arah KangIn, meletakkan kepalanya di pangkuanku. Tanganku basah, darah mengalir deras dari kepala belakangnya. Dia memuntahkan darah kehitaman, lalu matanya tertutup. Aku merasa hilang, otakku tidak bisa mencerna ini semua.. Kukira ini mimpi, tapi darah yang mengotori baju dan celana putihku memaksaku untuk percaya bahwa ini adalah.. kenyataan..

 

Sudah tiga hari aku di rumah sakit, tiga hari aku menemani KangIn di ruang rawatnya, tiga hari pula dia tidak pernah sekalipun membuka matanya. Dia menderita gegar otak karena benturan yang keras di kepalanya. Aku bahkan sudah tidak punya energi lagi untuk menangis sekarang. SungMinlah yang setiap hari menyuapiku makanan, aku hanya memakannya dalam diam, sambil memegang erat tangan KangIn. Appa KangIn bergantian menjaganya denganku, karena dia harus merawat adiknya yang dirawat di rumah sakit yang sama. Aku kasihan padanya, di saat yang sama harus menghadapi dua anak yang sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Tapi Tn. Cho adalah lelaki yang tegar. Dia tidak pernah terlihat kehilangan harapan.

Aku merebahkan kepalaku di tepi kasurnya sambil tanganku tetap menggenggam tangannya. Aku tidak tau lagi harus berharap atau tidak. Yang kulihat hanya kosong, tapi rasanya sakit. Aku takut, takut sekali..

“Hyung..” aku mengangkat kepalaku. KangIn sudah sadar, aku tersenyum padanya menunjukkan rasa bahagiaku. Tapi, hatiku kembali mencelos melihat matanya, dia sedang menahan sakit, sedangkan aku tidak bisa sedikitpun mengurangi rasa sakitnya itu.

“Tuhan selalu memiliki jalan-Nya sendiri kan hyung?” katanya lemah, hampir tidak terdengar. “Aku sudah tau hyung.. Aku tau bagaimana cara menolong adikku..”

“Tidak, KangIn.. Jangan bicara lagi..” aku terisak, KangIn menghela napasnya.

“Dengar aku dulu.. Aku harus menepati janjiku pada adikku.. Maaf kalau ini akan sedikit menyakitimu.” aku melepaskan genggaman tanganku lalu aku berlari keluar meninggalkan KangIn. Aku menangis sejadi-jadinya. KangIn bukan tidak bisa sembuh, tapi dia tidak mau sembuh. Dia sudah menyerah, dan dia sudah mengatur rencananya sendiri. Ini melukaiku.. aku tidak bisa menerimanya.. Aku terkulai lemas sebelum SungMin datang lalu membawaku pulang.

Author POV

Sejak hari itu EeTeuk tidak lagi mengunjungi rumah sakit. KangIn semakin parah, terkadang dia memuntahkan darah lalu kolaps. Dalam kondisinya yang parah KangIn sudah mengatur segala hal tentang pendonoran jantungnya. Dia sudah tau bahwa dia tidak mungkin melewati semuanya.

“Tolong aku memenuhi keinginan terakhirku ini appa.. Setidaknya harus ada satu diantara kami yang menemani appa, dan takdir memilih KyuHyun..” appanya tidak punya pilihan lain selain menyetujui kehendak anaknya itu.

KangIn meminta appanya menelepon EeTeuk dan tak lama kemudian EeTeuk tiba di rumah sakit. KangIn meminta EeTeuk memeluknya, dan sekarang dia sudah berada di pangkuan EeTeuk, menyandarkan kepalanya ke dada EeTeuk walaupun sedikit sulit bagi KangIn.

“Aku pernah mengatakannya kan? Aku ingin mati di pelukan seorang malaikat..” KangIn mengulang kata-kata yang pernah diucapkannya.

“Kau tidak akan mati semudah itu kan? Kau bahkan belum melihat medalimu.” kata EeTeuk, KangIn tersenyum getir.

“Seperti ini kau bilang mudah? Ini sudah terlalu sulit bagiku hyung.. Kau ingin aku mati sesulit apa?” tanya kangIn sambil tersenyum getir. Airmata EeTeuk mengalir, menambah perih di setiap kepingan hatinya. “Yang ingin aku katakan hanyalah hal yang telah kau ketahui hyung..” KangIn menghela napas. “Bahwa aku mencintaimu.. Dan bagiku, ada di pelukan malaikat sepertimu di saat ini.. adalah kebahagiaan terbesar seumur hidupku..” mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba KangIn meraih tangan EeTeuk lalu meletakkan di dadanya. “Nyanyikan sebuah lagu untukku.. Endless moment..” pinta KangIn. Seiring dengan suara EeTeuk yang mulai mengalun, KangIn memejamkan matanya.

Ibyeoriran mareul moreuneun, neowa na-igil barae yeongweonttorok..

Neo-ui jageun euseumjocha ireohke nan haengbokhande..

………

My endless moment pray for you..

My shining moment forever…

KyuHyun POV

Aku meletakkan bunga di atas makam ini. Sudah satu bulan sejak meninggalnya kakakku satu-satunya, tapi bagiku dia berada sangat dekat denganku. Bahkan detak jantungnya masih bisa kurasakan, karena dia sekarang berdetak di dalam dadaku. Selamanya dia akan selalu hidup. Selamanya, dalam hatiku..

Aku membuka lipatan surat itu sekali lagi.

Hei Cho KyuHyun! Laki-laki sejati selalu menepati janjinya. Kau lihat kan? Aku menepati janjiku padamu. Kyu, aku titipkan jantungku di dadamu. Jagalah selalu agar dia tetap berdetak di sana. Aku bersenang-senang di sini, jadi tolong jangan ganggu aku. Jangan ikuti aku karena itu akan mengganggu kedamaianku, arasseo?

Mm.. sudah ya Kyu.. By the way.. Saranghae! (itu kan yang selalu ingin kau dengar dariku? Senang kau sekarang hah? XD). Ingat untuk menjaga appa, dan jaga juga semua medaliku. Okay..

Strong Man, KangIn.

 

Aku selalu tersenyum membaca surat ini. Hyung pabo! Aku berdiri setelah berdoa untuk YoungWoon hyung, ah, KangIn hyung maksudku. Semoga dia bahagia di sana. Ah, dia PASTI bahagia, kan ada umma di sana. Ya! Berbahagialah kau di sana dengan umma, aku di sini juga akan bahagia dengan appa.

“Hyung.. Jeongmal gomawo.. Yeongwonhi saranghanda..” aku memakai lagi kacamata hitamku, lalu beranjak dari pemakaman ini.

EeTeuk POV

Sejak hari itu, baru kali ini aku berani ke sini. Ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku masih ingat dengan jelas tangannya yang terkulai lemah seiring dengan selesainya nyanyianku. Aku meletakkan bunga lili putih di atas makamnya. Sepertinya ada seseorang yang datang sebelumku. Aku berdoa sebentar, lalu berdiri. Hari ini adalah hari kelulusanku. Aku akan segera menjadi seorang dokter. Aku merapikan jas putihku lalu berjalan ke arah mobilku terparkir.

Di dalam mobil, aku teringat surat yang aku dapatkan sehari setelah kepergiannya.

Hi Angel.. Aku mencintaimu..

Ini medali terakhirku, jagalah. Aku memang memenangkannya untukmu. Aku sangat bahagia, karena hidup dengan satu malaikat saja sudah sangat menyenangkan. Apalagi dengan segini banyak malaikat di surga? (aku orang baik, aku pasti ke surga) Hehe.. Tapi tenang saja, Teukie,, Kau tetap malaikat yang paling aku cintai..

Hmm.. Sekali lagi, aku hanya ingin mengatakan apa yang telah kau ketahui.. Dan sekali lagi kukatakan.. Hmm.. Aku mencintaimu,, AngelTeuk..

(By the way.. Selamat ya hyung,, jadilah dokter yang baik, dan jangan terlalu banyak menangis. Makan yang banyak, kau itu terlalu kurus.)

Strong Man, KangIn.

Aku memandang medali yang ada di tanganku. Ah, KangIn.. Aku selalu merindukanmu.. Aku akan mencoba bahagia kalau kau bahagia. Walaupun sekarang aku hanya malaikat saja, tanpa sayap. Malaikat telah kehilangan sayapnya. Tapi sebenarnya, sayap itu tetap di sana, walaupun tidak terlihat lagi.

Aku segera menstarter mobilku, melihat sekali lagi ke makam itu.

“Nado saranghae.. Yeongwonhi..” bisikku. Aku melesatkan mobilku sebelum aku terlambat ke acara wisuda. Kini EeTeuk telah berubah jadi Dokter Park, KangIn-ah.. Aku tersenyum, menyimpan surat KangIn di saku kemeja, persis di dekat jantungku.

****

Komen ya…

 

Diposkan pada Uncategorized

Ye-Won (Your Maid) Part 2

Your maid Part 2

******

Siwon kemudian melihat YeSung membawa setumpuk buku dari perpustakaan. Walaupun dia adalah mahasiswa kedokteran, tapi dia termasuk orang bodoh yang mau saja dimintai tolong oleh siapapun. Entah siapa yang menyuruhnya membawa buku tebal sebanyak itu.

 

Aku terus memperhatikannya dari jauh. Dia sepertinya sudah kelelahan, dan seperti orang kesakitan. Mukanya pucat dan napasnya cepat. Dia lalu meletakkan buku-bukunya di salah satu kursi di depan sebuah ruang kelas, dan duduk di samping buku itu.

 

“Kenapa aku malah memperhatikan orang itu?” batinku. Aku segera menepuk-nepuk pipiku agar aku tersadar dari pikiran anehku. Tiba-tiba rasa sakit hatiku langsung menyeruak ketika Yuri datang ke dekatnya dan langsung memeluknya tanpa kata-kata sedikitpun. Kemarahanku sudah memuncak sampai ubun-ubun, dan tanpa sadar aku sudah berjalan ke arah mereka.

 

Kim YeSung POV

Badanku lelah sekali, dosenku minta tolong untuk mengambilkan buku-buku tentang anatomi dari perpustakaan. Buku sebanyak dan setebal ini sangat berat, karena itu aku memutuskan untuk duduk sebentar di salah satu kursi sambil mengumpulkan tenagaku lagi.

 

Tiba-tiba Yuri datang dengan pipi yang basah karena air mata. Apa yang membuatnya sesedih ini? Apa tindakanku kemarin? Apa aku sudah melukainya separah itu? Dia tiba-tiba memelukku dan menangis di dadaku. Tanpa sadar aku membelai punggungnya mencoba untuk menenangkan tangisannya.

 

“Maafkan aku yuri..” kataku, merasa bersalah dengan kondisi gadis ini sekarang. Kurasa ini memang gara-gara aku.

 

“Oppa… Aku~” tiba-tiba seseorang menarik kerah bajuku sampai aku berdiri. Tuan muda Siwon? Tamat sudah riwayatku.

 

“Kau benar-benar idiot atau apa hah?” aku bisa melihat kemarahan yang amat sangat di wajah Tuan Muda. Yuri mulai panik melihat Siwon yang semarah itu, dia mulai berteriak agar Siwon segera melepaskan cengkramannya di kerah bajuku. Tapi Siwon tidak mendengarnya.

 

Dia lalu menarik tanganku sehingga aku harus mengikutinya. Jalannya sangat cepat sehingga badanku yang sudah terasa remuk tidak bisa mengimbanginya. Aku merasa sangat lelah, aku juga takut melihatnya seperti ini.

 

“Tuan Muda.. Hh.. Saya mohon berhenti.. Saya sakit tuan muda.. hentikan..” kataku pelan diantara napasku yang tersengal-sengal. Percuma, SiWon tidak mendengarku. Dia terus saja menarik tanganku entah akan membawaku kemana.

 

Dia lalu menghempaskanku ke dinding di belakang kampus. Sakit sekali rasanya, sampai aku terduduk di tanah sambil mengatur napasku.

 

“Kau akan mendapat pelajaran dariku nanti. Ini yang terakhir kalinya YeSung, jauhi Yuri. Dia milikku.” Dia lalu pergi meninggalkanku yang masih sibuk menormalkan detak jantungku yang tidak beraturan.

 

Author POV

Siwon masuk ke dalam rumahnya, dan mendengar percakapan antara Kim ahjussi dan pelayannya yang lain. Dia berhenti untuk mendengarkan percakapan mereka ketika dia mendengar nama YeSung disebut-sebut.

 

“Jangan terlalu keras terhadap dia. Aku kasihan melihatnya setiap kali kau memukulnya. Kau tidak lihat akhir-akhir ini dia pucat dan tidak bersemangat? Pukulan-pukulanmu padanya sudah terlalu kuat, bahkan tidak seperti seorang ayah lagi. Aku tau dia selalu menangis setiap malam. Kau tidak menyayanginya ya?” tanya pelayan wanita itu pada Kim Ahjussi.

 

“Aku tidak tau. Hanya saja tiap aku melihat wajah anak itu hatiku selau sakit. Pukulan-pukulan itu melayang begitu saja, bahkan tanpa aku sadari.” Jawabnya santai. Siwon terkejut. Jadi selama ini yeSung selalu dipukuli ayahnya? Tiba-tiba Siwon merasa sesuatu dalam hatinya, entah itu kasihan, simpati, atau rasa prihatin pada YeSung. Orang yang selama ini dia aniaya bahkan tanpa campur tangannya telah hidup menderita. Bagaimana mungkin dia tega menambah penderitaan YeSung yang sudah mengalami kondisi yang sedemikian rupa? Mengapa sepertinya dia dangat jahat?

 

“Sudah jam segini dia belum juga pulang. Huhh.. Sepertinya aku harus menghajar anak itu lagi malam ini.” Siwon tersentak dengan apa yang baru saja dia dengar. Dimana YeSung sekarang? Apa dia masih di belakang kampus? YeSung memang hampir setiap hari pulang terlambat, sebagian besar alasannya adalah karena Siwon yang selalu mengerjainya. Apa hampir setiap hari itu pula dia dipukuli? Dan itu gara-gara Siwon? Siwon terpaku di tempatnya.  Tanpa pikir panjang dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah kampus. Dia yakin YeSung masih ada di sana.

 

Siwon mencari sosok YeSung di belakang kampus, namun nihil. Dia kemudian mencarinya di seluruh tempat, di lantai atas, lantai bawah, di semua tempat namun dia juga tidak menemukan YeSung. Dia hampir saja putus asa sampai dia melihat lampu ruang kesehatan masih hidup. Dia segera membuka pintu ruang kesehatan itu dan menemukan YeSung sedang terbaring di ranjang dan seorang laki-laki bertubuh mungil sedang sibuk menyusun obat di kotak obat.

 

Siwon segera berlari ke arah yeSung yang masih tertidur. Dalam hati, Siwon menyalahkan dirinya sendiri karena keadaan yeSung yang seperti ini. Dia langsung memegang tangan YeSung dan membelai rambutnya. Badannya panas, dia sedang demam.

 

“SiWon-ssi?” panggil laki-laki itu. Dia sepertinya mahasiswa semester satu. Badannya kecil dan pendek, wajahnya pun terlihat seperti anak SMA. “Aku menemukan YeSung sunbae di belakang kampus tadi. Ehm.. Dia demam, dan karena aku tidak tau dimana rumahnya, aku bawa saja ke sini sampai dia siuman.” Katanya. Anak ini sungguh baik hati.

 

“Gamsahamnida.” Kata SiWon sambil sedikit menundukkan kepalanya. “Aku akan segera membawanya pulang.” Lanjutnya.

 

Siwon tidak tega membangunkan yeSung yang kelihatan sangat lelah, lalu dia memutuskan untuk menggendong YeSung di punggungnya. Dia membuka jaketnya lalu memakaikannya pada yesung. Sebelum dia pergi, dia sekali lagi berterima kasih pada anak yang telah menolong YeSung tadi.

 

“Cheonmaneyo..” jawabnya.

“Namamu siapa?” tanya Siwon.

“Kim RyeoWook.” Jawabnya. Siwon sungguh menghargai apa yang telah dilakukan RyeoWook pada YeSung. Bila dia tidak ada, mungkin kondisi yeSing bisa bertambah parah. Dia lalu keluar dari gedung kampus dan menuju mobilnya. Namun sebelum keluar dari gerbang, yeSung terbangun dan terlihat kaget saat menyadari dirinya sedang di piggy-back oleh seseorang. Dia malah bertambah kaget saat menyadari bahwa yang menggendongnya itu adalah SiWon.

 

“Tuan muda..” panggilnya lemah. Siwon terus berjalan tanpa merespon YeSung. “Saya bisa jalan sendiri..” kata Yesung. Meskipun tidak yakin, Siwon menurunkan Yesung dari punggungnya, dia masih memasang wajah dingin dan sombongnya. Siwon lalu berjalan mendahului YeSung tanpa melihat ke belakang, sedamgkan yeSung kesulitan berjalan normal.

BRUKK!

SiWon terkejut dan segera menghampiri YeSung yang jatuh terduduk di tanah.

“Kau ini merepotkanku saja.” Kata SiWon sambil kembali menggendong yeSung di punggungnya. YeSung kali ini tidak melawan. “Tidur saja kalau kau lelah.” Kata SiWon, kemudian Yesung menyandarkan kepalanya di punggung Siwon dan tertidur.

 

Setiba di rumah SiWon langsung masuk dan hendak membawa Yesung ke kamarnya, bukan ke kamar Yesung. Dia memutuskan untuk merawat Yesung yang sedang sakit sendiri, takut bila ayahnya kembali memukuli Yesung.

 

Dia mengambil kain kompres dan air dingin, lalu mulai mengompres kening Yesung. Wajahnya masih pucat, kemudian Siwon menyelimutinya dengan selimut tebal yang ada di king-sized bed nya.

 

‘Apa aku terlalu jahat selama ini? Memperlakukanmu seperti pesuruh. Sedangkan kau sendiri selalu menderita karena ayahmu. Maafkan aku yesung, selama ini aku tidak tau.. Heh.. Orang macam apa aku ini? Benar-benar tidak peka lingkungan. Bahkan orang yang selalu mengikutiku saja aku tidak pernah memperhatikannya.’ Pikir Siwon.

 

Siwon kemudian berjalan ke arah sofa yang ada di dalam kamarnya. Dia merebahkan badannya di sana kemudian menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan yesung. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikiran tentang Yesung.

‘Aish..! Apa yang aku pikirkan? Sejak kapan aku menjadi selemah ini?’ pikir Siwon, dan tak lama kemudian dia tertidur.

 

TBC

Komen.. komen…

Diposkan pada Uncategorized

Ye-Won (Your Maid) Part 1

Disclaimer: God own them, SM own SUJU, I own the story.

Your Maid (part 1)

Choi SiWon POV

Aku berjalan di koridor kampus sambil seperti biasa selalu dikerubungi oleh mahasiswi-mahasiswi seuniversitas. Mereka selalu melakukan kegiatan seperti ini setiap hari, aku pun sudah terbiasa. Aku Choi SiWon, anak dari pemilik yayasan universitas. Semua orang di kampus ini segan padaku, bukan hanya karena aku termasuk jajaran pemilik kampus, tapi juga karena prestasi akademik yang aku miliki.

Aku melemparkan tatapan membunuh ke belakangku, pada manusia lelet aneh yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Sebenarnya ini juga bukan kemauan dia, hanya saja ayahku yang memaksa agar dia selalu mengawasiku di mana-mana. Dia pun selalu patuh terhadap ayahku, meski apapun yang aku lakukan padanya, dia tetap saja mengikutiku.

“Kim YeSung! Kau ini manusia apa kura-kura? Lelet sekali.” Kataku ketus. Aku bisa melihatnya kerepotan membawa semua barang-barangku, dan tentu saja barang-barangnya. Haha, aku sengaja membawa sebanyak mungkin perlengkapan agar dia kapok mengikutiku lagi. Dia membawa dua ransel besar, satu tas perlengkapan olahraga, dan satu tas berisi laptop.

“Maaf Tuan Muda.” Selalu saja begitu. Apa orang sepertinya hanya bisa minta maaf saja? Tch.. Dia adalah anak dari kepala pelayan di rumahku. Dia dua tahun lebih tua dariku, dan kuliah di kampus ini jurusan kedokteran. Dia memang memiliki kemampuan di atas rata-rata, bahkan lebih pintar dariku.

Aku masuk ke kelasku sedangkan YeSung kerepotan membawa semua barang-barangku ikut masuk ke kelasnya. Kita lihat saja sampai kapan dia akan bertahan seperti ini.

***

Kim YeSung POV

Aku baru saja keluar dari ruang laboratorium, kemudian aku merasakan ada tangan kecil yang lembut menarik tangan kananku.

“Yuri?” panggilku.

“Oppa..” panggilnya, wajahnya tampak bingung dan gugup.

“Ada apa?” tanyaku. Dia menghela napas berat beberapa kali sebelum mulai bicara. Aneh sekali dia hari ini.

“Aku menyukaimu.” Katanya smbil menundukkan kepalanya. Aku tidak kaget, bahkan aku sudah tau sejak lama. Karena itulah aku berusaha menjauhi Yuri sebisaku. Bukan karena aku tidak suka padanya, tapi karena Yuri adalah gadis yang sangat disukai Tuan Muda SiWon. Merebut gadis yang disukainya artinya bunuh diri bagi orang sepertiku.

“Aku mohon Oppa terima perasaanku..” katanya sambil masih belum berani menatap wajahku. Aku bingung bagaimana cara menolak gadis ini.

“Aku.. Hm.. Maksudku.. kamu adalah gadis yang sangat manis Yuri-ah.. Kenapa.. kenapa harus menyukaiku? Masih banyak di luar sana laki-laki yang rela mengorbankan apa saja demi kamu. Tapi.. maafkan aku.. Aku tidak bisa menerimanya..” jelasku terputus-putus. Aku tau ini akan terjadi, Yuri menangis di depanku. Aku bisa mendengar isakannya meskipun dia menatap tanah. Sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti ini..

“Dimana letak kesalahannya sampai Oppa tidak menerimaku?” tanyanya, hampir seperti bisikan.

“Tidak.. Tidak ada yang salah darimu.. Hanya saja.. aku.. Aku tidak bisa Yuri, hanya itu.” Kataku berusaha untuk tegas. Yuri mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata basahnya.

“Hanya itu?” tanyanya lagi. Aku mengangguk cepat, dan seketika itu juga tamparan dari tangan halus Yuri mendarat di pipi kananku. Rasa sakitnya tidak seberapa, tapi perasaan bersalah karena melukai gadis sebaik dia mulai menggangguku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu Yuri pergi meninggalkanku sendiri. Aku ingin minta maaf, tapi.. aku tidak bisa terus-terusan memberi harapan kosong padanya. Aku lalu berjalan menuju kelasku sambil berusaha melupakan apa yang terjadi antara aku dan Yuri hari ini.

Hari ini sangat melelahkan bagiku. Aku pulang sudah malam, aku lalu meletakkan barang-barang SiWon di kamarnya. Dimana dia? Tidak ada di kamarnya. Ketika aku keluar dari kamar SiWon aku melihat ayahku sedang berdiri di depan kamarku. Aku punya firasat tidak baik, apa lagi salahku?

“Appa..” kataku. Terlambat, pukulan telah melayang ke mukaku sehingga sudut bibirku berdarah. Selalu saja seperti ini, hampir tiap malam aku selalu dipukuli. Tapi sekarang salahku apa? Aku sudah sangat lelah dari kampus, dan sekarang harus menghadapi ini lagi? Ah.. sial sekali hidupku.

“Sudah kukatakan berkali-kali, jangan pernah membuat Tuan Muda marah. Kau tidak mengerti juga ya? Sekali lagi hal ini terulang, kau akan menyesal YeSung..” aku megerutkan keningku.

“Aku salah apa appa? Apa yang aku lakukan?” tanyaku, tapi aku segera menyesalinya karena jawaban yang aku dapat adalah tamparan di pipi kiri.

“Kau pikir sendiri.” Appa lalu pergi meninggalkanku yang mematung di tempat. Appa selalu lebih mementingkan SiWon daripada aku.

“YESUNG!!” Aku mendengar teriakan dari ruangan latihan Tuan Muda. Dia memiliki ruangan tersendiri untuk berlatih taekwondo, yoga, dan semacamnya. Aku segera menuju ke ruangan itu. Baru saja aku masuk, dia sudah memberikan sebuah pelindung padaku, untuk membantunya latihan menendang. Tidak salah lagi. Dia sedang ingin menyakitiku.

“Pakai.” Suruhnya. Aku menurutinya saja. Ini mungkin sudah yang ke sekian puluh kalinya aku seperti ini, dan nantinya aku akan meringkuk di tempat tidur sambil menahan sakit di sekujur tubuhku.

Aku bisa melihat aura pembunuhan dari matanya, dia memang orang yang tidak punya belas kasihan. Dia mulai melepaskan tendangannya, terkadang mengenai anggota tubuhku. Dia akan melakukan ini sampai lelah, sampai kehabisan seluruh tenaganya. Sampai aku kadang-kadang sudah tidak sanggup berdiri lagi.

Sudah tengah malam, mungkin sudah dua jam Tuan Muda ‘berlatih’, dna aku sudah kehilangan seluruh tenagaku. Aku sangat lelah, bahkan aku belum sempat makan dari tadi siang. Kakiku sudah tidak kuat lagi menopang berat badanku, dan aku terjatuh lemas ke lantai yang dingin. Seketika itu juga Tuan Muda SiWon keluar dari ruangan dan meninggalkanku sendiri. Aku masih berusaha untuk tetap sadar dan mengatur napasku sampai aku tertidur di ruang latihan.

Choi SiWon POV

Aku merebahkan badanku ke tempat tidur. Lelah juga rasanya setelah melampiaskan seluruh kemarahanku kepada YeSung. Aku melihatnya dengan Yuri tadi siang. Aku sudah mengatakan bahwa dia harus menjauhi Yuri, tapi dia masih saja keras kepala. Selama dia masih melakukan hal-hal yang aku benci, selama itu juga hidupnya akan terus sengsara seperti sekarang.

***

“CHOI SIWON!!” aku kenal betul suara itu. Aku menoleh ke belakang, namun belum sempurna aku menoleh, sebuah tamparan mendarat di pipiku.

“Yuri? Apa yang kau lakukan?” Yuri tampak sangat marah, aku tidak tau kenapa.

“Aku benci padamu! Kau kan yang melarang YeSung oppa untuk menerima cintaku? Kau kan yang melakukan itu? Kau egois, Choi SiWon! Sampai matipun aku akan membencimu!” air mata Yuri mengalir. Apa ini? YeSung memfitnahku di depan Yuri?

Aku menarik tangan Yuri dengan kasar sampai dia menghadapku. Dia mencoba melawan, tapi aku menggenggam tangannya lebih keras sampai dia meringis kesakitan.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan membuatku marah Yuri..” aku mulai geram.

“Kau menyakitiku..” katanya sambil terus berusaha melepaskan tanganku dari tangannya. Air matanya mengalir deras.

“Aku memang tidak menyukai YeSung, tapi aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Dan kau Yuri.. Kukatakan padamu, bahwa kau jangan bermimpi untuk bersama laki-laki menyedihkan itu. Kau hanya milikku. Pasti akan jadi milikku.” SiWon kemudian melepaskan cengkraman kuatnya sehingga meninggalkan bekas merah di tangan Yuri.

“Aku membencimu, Choi SiWon!” Yuri berlari meninggalkan Siwon sambil menangis. SiWon kemudian meneruskan langkahnya ke kelasnya sambil menunjukkan evil-smirk di wajah tampannya.

TBC