Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot, 우정 ♥ Friendship, Yaoi

Say It With Flower – It Doesn’t Matter


Normal POV

“Sampai nanti,”

“Ya, sampai besok,”

“Hei, jangan lupa bawa buku yang kau pinjam besok!”

“Nanti kerjakan tugas bersama, yuk?”

“Kau mau ke game center?”

“Ahh, aku malas pulang. Di rumah pun tidak ada siapa-siapa.”

Yah, dan seruan-seruan lain pun terus meluncur dari mulut-mulut yang berbeda. Menggema di gedung dimana para remaja-remaja labil itu menuntu ilmu. Semua terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tak terkecuali pemuda berwajah manis pemilik rambut lembut sewarna madu tersebut. Ia terlihat sibuk merapikan segala barang-barangnya yang berserak di meja ke dalam tas sampir miliknya.

Seseorang menepuk pundaknya, “Kyunie, pulang bersamaku, yuk?”

Ajak salah seorang temannya. Atau mungkin hyung-nya? Yah, mereka memang lebih pantas dipanggil saudara ketimbang teman ataupun sahabat, sih.

“Maaf, Sungmin-hyung. Aku akan pulang dengan Minnie-chagi. Sudah ya, hyung. Sampai besok!” Serunya seraya berlari menuju gerbang sekolahnya. Tempat dimana kekasihnya terlah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.

“Dasar brother-complex. Kau harus melepas adik kesayanganmu, Min,” ledek Donghae.

“Oh, shut up, Hae!”

Di luar sana, terlihat seorang pemuda dengan perawakan tinggi dan wajah tampan mempesona tengah bersandar pada tembok yang membatasi sekolah itu dan dunia luar. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya berusaha mendapatkan kehangatan untuk dirinya. Ini sudah memasuki bulan Desember. Tentu saja temperatur udara sudah mulai turun dan menyebabkan orang-orang harus mengenakan mantel juga syal jika tidak ingin terkena flu.

Puk!

Pemuda jangkung itu menengok saat ia merasakan seseorang menepuk bahunya. Dan ia pun mengembangkan sebuah senyuman lembut untuk seseorang itu. Ah, bukan- untuk kekasihnya untuk lebih tepat. Tanpa satu kata pun yang meluncur dari keduanya, mereka mulai berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam erat. Seolah tak akan melepaskannya.

Lanjutkan membaca “Say It With Flower – It Doesn’t Matter”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot, 우정 ♥ Friendship, Yaoi

Say It With Flower

 

Cring~ Cring~

Bunyi sebuah lonceng yang sengaja digantungkan dibagian kusen pintu sebuah toko menggema ditelinga sanga pemilik. Ya, hanya sang pemilik bukan sang pengunjung. Karena, sang pengunjung adalah seorang yang tuna rungu. Sang pemilik toko berbalik untuk menyambut sang pelanggan. Hanya tersenyum tanpa sapaan yang keluar dari mulutnya. Ia tahu, ia sudah hafal dengan pengunjungnya ini yang memang beberapa hari ini selalu mengunjungi tokonya.

Dengan cekatan, ia merogoh note di saku celananya dan menuliskan sesuatu, (“Kau kemari ingin membeli bunga lagi, Changmin-ssi?”)

Sang pengunjung yang dipanggil Changmin tadi hanya mengangguk dan tersenyum separuh minta maaf. Ya, ia tak bicara. Karena, ia adalah seorang yang tuna wicara.

(“Kenapa tersenyum seperti itu? Kau harus lebih ceria, Changmin-ssi!”) nasihat sang penjual bunga yang sudah dianggap sebagai kakak kandung sendiri oleh Changmin.

Changmin tersenyum. Membuat gerakan yang menandakan kalau ia sedang tertawa. Tertawa… tanpa suara.

Sang penjual bunga kemudian menulis lagi, (“Jadi, kau ingin membeli bunga apa hari ini?”)

Changmin kemudian merogoh saku jeans yang dikenakannya. Menarik keluar sebuah PDA yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi pada seseorang. Tangannya bergerak lincah di atas keypad PDA itu. Menimbulkan suara yang sudah tak asing lagi bagi sang penjual. Ya, sang penjual. Karena sekali lagi, ia tuna rungu.

[“Aku ingin membeli bunga Anemone lagi, Jae-hyung. Seperti biasa, hanya satu tangkai,”]

Jaejoong, sang penjual bunga pun tersenyum dan mengisyaratkan ‘tunggu-sebentar-kuambilkan’ pada Changmin yang masih setia tersenyum. Tak lama, Jaejoong kembali dengan setangkai bunga Anemone di tangannya. Bunga Anemone itu terlihat apa adanya. Segar bagai baru dipetik. Tak ada pita ataupun plastic bening penghias selayaknya yang biasa orang lain minta.

Ini lain, bunga itu tak berhiaskan apapun. Hanya terlihat… sebagaimana bunga itu seharusnya terlihat. Tapi, bukankah bunga itu jadi terlihat lebih cantik?

Changmin tersenyum senang dan kembali mengetik sesuatu di PDA-nya, [“Gomawo, hyung. Aku datang lagi besok,”]

Setelah menyerahkan uang untuk membayar bunga Anemone yang dibelinya, Changmin segera berbalik dan meninggalkan toko itu.

Lanjutkan membaca “Say It With Flower”