Raven

Standar

Mereka menyebutnya Raven.

Assassin terhebat sepanjang masa.

Tak seorang pun mengetahui namanya.

Bahkan tak seorang pun pernah bertemu dengannya.

Hanya satu yang mereka ketahui.

Dia adalah pembunuh.

Jika kau berurusan dengannya.

Bersiaplah bertaruh nyawa.

Pilihanmu hanya dua.

Mematuhi perkataannya atau mati.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Siwon mengernyitkan dahi saat membaca laporan yang diberikan kepadanya. Hampir seluruhnya laporan orang hilang. Dalam kurun waktu tiga bulan, terjadi 50 kasus orang hilang. Tak satupun dari 50 orang itu berhasil ditemukan. Siwon menaruh laporan itu, menghela nafas panjang. Belum pernah ia menemui kasus sesulit ini. Tak ada petunjuk ciri-ciri pelaku seperti apa. Sidik jari tak ditemukan. Sangat rapi. Menurut Kibum, hanya profesional yang bisa melakukannya.

Tok, tok! “ Masuk,” perintah Siwon. Pintu terbuka, tampak sosok Kibum berdiri disana. “ Ah, kau. Ada apa?” tanya Siwon. Kibum menaruh map hijau diatas meja. Tanpa membukanya, Siwon sudah bisa menebak isi map itu. “ Haissh…lagi?” Siwon mengacak-acak rambutnya, frustasi. “ Tenanglah. Yang ini berhasil ditemukan dua hari yang lalu,” ujar Kibum. Ekspresi wajah Siwon menjadi cerah. Buru-buru ia membuka map hijau itu, namun sedetik kemudian wajahnya memucat. “ Ma…mati?” pekik Siwon tak percaya. Kibum mengangguk, menaruh setumpuk foto. “ Tim forensik memberikanku foto-foto autopsi dan hasil olah TKP. Hasilnya…yah…kau pasti tak akan percaya,” Siwon menatap Kibum, seolah memaksa Kibum menjelaskan apa yang baru saja ia ketahui. “ Hmm…menurut tim forensik, penyebab tewasnya adalah racun Tetrodoxin.Ada bekas suntikan di lehernya. Kemungkinan besar racun langsung menyerang syaraf korban,” jelas Kibum. Siwon tercengang, otaknya berusaha mencerna kata-kata Kibum. “ Ah, ada lagi,” tambah Kibum. Siwon melirik Kibum, “ Apa lagi?” Kibum menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakannya. “ Apa, Bummie? Katakan!” desak Siwon. Kibum menghela nafas berat, “ Kemungkinan yang membunuhnya adalah Raven,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Angin malam berhembus pelan, seirama dengan suara ombak laut. Menyibakkan rambut seseorang yang sedang duduk diatas mobil Ferrari. Sebatang rokok ia hisap sampai habis. Baru saja ia mau mengambil batang rokok kedua, terdengar suara klakson mobil lain. Mobil itu berhenti didekatnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria separuh baya keluar dari mobil itu. Ia melirik pria itu tanpa ekspresi. Tanpa memperdulikan pria itu, ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya. “ Hebat kau. Aku tak menyangka kau akan membunuhnya dengan cepat. Kau benar-benar luar biasa,” puji pria itu. Namun yang disanjung tak merasa senang. Ia terus menghisap rokoknya, tak merespon ucapan pria itu. “ Oh iya, ini bayaranmu. 20 juta won. Sesuai perjanjian,” kata pria itu sambil menaruh sekoper uang. Ia melirik sekilas, mematikan rokoknya. “ Ya. Sesuai perjanjian, setelah aku melakukan tugas darimu, maka kita tak akan berhubungan lagi,” ujarnya. Pria itu terlihat bingung. “ Apa maksudmu? Itu tak ada dalam perjanjian…”

DOR!

Pria itu roboh seketika. Tembakan mengenai kepalanya dan ia tewas seketika. Orang itu tersenyum licik saat ia mengetahui siapa yang menembaknya. Ia menghampiri penembak itu, menepuk bahunya. “ Kau memang penembak jitu, Raven,”

 ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“ Sekitar pukul 8 malam, ditemukan mayat seorang pria mengapung di Sungai Han. Diperkirakan ia tewas seketika akibat tembakan di kepalanya. Polisi menduga pelakunya adalah orang yang melakukan pembunuhan tiga hari lalu. Dari tubuh korban, ditemukan sehelai bulu gagak dan huruf ‘R’ yang ditulis dengan darah…”

Kibum mematikan TV, kesal melihat berita yang baru saja ditayangkan. “ Lagi-lagi dia…” gerutunya. Siwon menyeruput secangkir kopi, heran melihat raut wajah Kibum yang terlihat kesal. “ Kenapa kau?” tanya Siwon. “Ada pembunuhan lagi. Pasti Raven yang melakukannya,” duga Kibum seraya bangkit dari kursinya. Siwon mendelik heran, bagaimana bisa Kibum tahu? “ Dia selalu meninggalkan tanda ‘R’ di tubuh korbannya dan sehelai bulu gagak,” jawab Kibum melihat keheranan di wajah Siwon. Mendengar ucapan Kibum, Siwon semakin bingung. Diambilnya laporan Kibum kemarin, dibacanya dengan seksama. “ Mmm….tapi sepertinya tidak ada tuh di jasad korban yang kemarin kau laporkan,” komentar Siwon. “ Ah, itu sudah diamankan tim forensik. Darah itu bukan darah manusia, melainkan darah gagak,” ujar Kibum.

Kibum beranjak dari sofa, mengambil berkas-berkas. “ Sebaiknya aku pergi ke TKP sekarang. Kau mau ikut?” tawar Kibum. Siwon menaruh cangkirnya, merapikan jasnya. “ Tentu saja. Aku ingin tahu siapa itu Raven dan motif pembunuhannya,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Sungai Han, pukul 09.00…

Siwon bergidik melihat mayat yang baru saja diangkut. Bekas tembakan tepat berada dibelakang kepala pria itu. “ Pembunuhnya benar-benar gila. Tanpa ragu ia menembak kepala korban,” ujar Kibum. Siwon membelakangi Kibum, ia tak kuat melihat jasad itu lama-lama. Membuatnya mual.

Siwon berjalan menjauhi TKP, mencari udara segar. Belum pernah ia merasa mual saat memeriksa TKP. Bayangan bekas tembakan di kepala korban terlihat jelas dalam pikiran Siwon. Buru-buru Siwon menepisnya, mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Pandangannya jatuh pada seorang gadis yang tengah berdiri tidak jauh dari posisinya. Siwon melihat gadis itu, mengamatinya dari atas hingga bawah. Kelihatannya ia mahasiswi, batinnya. Gadis itu menoleh, menyadari dirinya diperhatikan Siwon. “ Hai,” sapa Siwon. Gadis itu membalas dengan senyuman. “ Sedang apa?” tanya Siwon. Gadis itu merapikan rambut cokelatnya yang berkibar, “ Hanya melihat-lihat,”. Siwon mengangguk kecil. “ Sepertinya…polisi kesulitan ya,” gumam gadis itu. “ Yah, begitulah. Pembunuhan ini sangat rapi, tak ada sidik jari yang mencurigakan,” jawab Siwon. Gadis itu hanya mengangguk. Matanya menatap kebawah, dimana Kibum sedang sibuk menyisir TKP. “ Kau tidak membantu temanmu?” tanya gadis itu. Siwon melihat kearah yang dilihat gadis itu, tertawa pelan. “ Ah…bukannya aku tidak mau membantu, tapi…ini pertama kalinya aku merasa….yah…aneh dengan mayat itu,” ucap Siwon. Gadis itu mengangguk paham, lalu ia terdiam seraya menatap langit.

“ Siwon! Cepat kemari!” seru Kibum. Siwon tersentak, lalu balas berteriak, “ Ya! Aku segera kesana!” Ia menoleh kearah gadis itu. Gadis itu menatapnya seraya tersenyum seolah memberi isyarat pada Siwon untuk segera turun. “ Pergilah,” ucapnya. Siwon mengangguk, lalu bergegas turun. Namun langkahnya terhenti. Ia kembali menoleh pada gadis itu. “ Agasshi, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Siwon. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. “ Kaori. Nakajima Kaori,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“ Kaori…Kaori…Kaori…” Siwon mengulang nama itu berkali-kali. Wajahnya terlihat sumringah setiap kali ia menyebut nama itu. Kibum yang baru saja kembali dari ruang interogasi, terheran-heran melihat partnernya senyum sendirian. “ Ya! Siwon!” panggil Kibum. Siwon terkejut, nyaris terjungkal dari kursinya. “ Apa-apaan sih?” protes Siwon. “ Kau sendiri bersikap aneh. Dari tadi menyebut nama ‘Kaori’,” balas Kibum. Siwon menutup mulutnya, menyadari sikapnya memang sedikit aneh. Terutama setelah ia bertemu dengan Kaori. “ Siapa dia?” tanya Kibum. “ Bukan siapa-siapa,” Siwon tersenyum, ia teringat saat bertemu dengan Kaori. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat menjuntai kebawah, tubuhnya langsing dan kulitnya putih bersih. Ditambah lagi mata cokelatnya cemerlang. Entah mengapa, Siwon terus-menerus memikirkan gadis itu. Kibum yang merasa jengah, membiarkan Siwon berada dalam alam mimpinya.

Kibum kembali menekuni pekerjaannya, memeriksa hasil otopsi. Dibacanya berulang kali, namun tetap saja tak menemukan petunjuk. “ Nihil ya?” tanya Siwon. Kibum melirik Siwon, mengangguk. “ Sudah sadar dari alam mimpi?” ledek Kibum. Siwon menggembungkan pipinya, cemberut mendengar ucapan Kibum. “ Jangan begitu. Aku kan partnermu. Sudah seharusnya aku membantu,” ujar Siwon. Kibum mencibir, “ Membantu? Bukannya dari tadi kau memikirkan Kaori?” “ Ya, ya, ya. Aku mengerti. Aku salah. Nah, apa yang harus ku lakukan,” Siwon menghampiri Kibum. Ia melihat hasil otopsi yang sedang diperiksa Kibum. “ Perkiraan kematian: 3 jam dari waktu ditemukan. Penyebab kematian: tembakan di tempurung otak,” Siwon membaca hasil otopsi. “ Tak ada yang aneh, tuh,” komentar Siwon. Kibum berdecak kesal, malas menanggapi komentar Siwon.

BRAK! “ Detektif Kibum! Detektif Siwon!” Kibum dan Siwon tersentak, terkejut mendengar suara pintu dibuka. “ A..ada apa,Minho?” tanya Siwon tergagap. Minho mengatur nafas, raut wajahnya pucat. “ I..itu…” Minho menunjuk keluar, tangannya gemetar. “Ada rumah terbakar! Kalian harus segera kesana!”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Suasana disekitar rumah itu sangat kacau. Orang-orang berlarian, menyelamatkan diri masing-masing. Namun diantara orang-orang itu, seorang pemuda menatap rumah itu tanpa rasa takut. Ia justru tersenyum.

Suara sirine menghapus senyuman pemuda itu. Ia berdecak kesal, pergi dari tempat itu.

Siwon keluar dari mobil, berlari menuju lokasi kebakaran. Sementara Kibum memerintahkan para petugas pemadam kebakaran untuk bergegas memadamkan api. “ Apa masih ada orang didalam?” tanya Siwon pada salah satu petugas. “ Entahlah. Kita tidak bisa mengetahuinya sampai api bisa dipadamkan,” jawab petugas itu. Siwon berbalik menangani penduduk yang tengah mengungsi. Sebagian yang mengungsi adalah para wanita yang bekerja di pabrik dekat rumah yang terbakar itu. Mata Siwon menangkap seseorang yang tak asing baginya. Orang itu memberikan cardigannya pada salah satu pengungsi. “ Kaori!” seru Siwon. Kaori menoleh, terkejut dengan kehadiran Siwon. “ Kau…” Siwon menghampiri Kaori, raut wajahnya terlihat cemas. “ Apa yang kau lakukan disini? Disini berbahaya!” Ditariknya Kaori menjauh dari kerumunan. Membawanya ke tempat aman. “ Tunggulah disini,” pinta Siwon. Kaori bingung dengan sikap Siwon, “ Tunggu!” Langkah Siwon terhenti. Kaori berjalan mendekat, “ Aku..belum tahu namamu..Jangan pergi, sebelum kau memberitahu siapa kau,” Siwon tersenyum, mengelus pipi Kaori. “ Aku Choi Siwon, detektif polisi,”

Siwon berlari kembali menuju lokasi kebakaran. Api sudah bisa dipadamkan seluruhnya. Namun beberapa sudut rumah terlihat hancur, tak bersisa apapun. Siwon dan Kibum mendekati TKP, mulai mencari barang bukti. Kibum menemukan selembar foto yang sudah terbakar setengah. “ Ternyata ini rumah korban,” gumam Kibum. Siwon mengintip dari balik bahu Kibum, “ Korban? Siapa?” Kibum menyimpan foto itu dalam plastik untuk diperiksa. “ Pria yang tadi pagi kita temukan di sungai Han. Rupanya ini rumahnya,” jawab Kibum. Siwon menatap kearah ruangan sebelah timur. Didekatinya ruangan itu. Setengah isi dari ruangan itu habis terbakar. Namun mata tajam Siwon menemukan sesuatu. Selembar kertas tergeletak di lantai. Setengahnya sudah terbakar, tapi bagi Siwon, kertas itu pasti termasuk petunjuk penting. Diambilnya kertas itu, diperhatikannya dengan teliti.Ada tulisan kanji tertera di kertas itu. Siwon mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti isi kertas itu. “ Kibum!” panggil Siwon. Kibum berlari menghampiri Siwon, “Ada apa? Apa yang kau temukan?” Siwon menunjukkan selembar kertas yang setengah terbakar itu. “ Apa ini?” tanya Kibum bingung. Siwon menggeleng. “ Aku menduga…kertas ini akan menjadi petunjuk terkuat kita. Bisa saja pelaku tidak sadar bahwa ada barang penting yang tidak berhasil ia musnahkan,” duga Siwon. “ Baiklah. Aku akan menanyakannya pada Sungmin. Dia pasti tahu arti tulisan ini,”

Selesai memeriksa TKP, Siwon bergegas kembali menemui Kaori. Namun gadis itu tak ada. Padahal Siwon hanya meninggalkannya sebentar. “ Kemana dia?” tanyanya. “ Siwon! Ayo pulang!” seru Kibum. Dengan berat, Siwon pergi meninggalkan tempat itu. Dalam hati ia berharap, semoga Kaori baik-baik saja.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Seorang pemuda duduk diatas meja reot. Tangan kirinya menggenggam rokok sedangkan tangan kanannya mengetuk meja berulang-ulang. Terdengar suara pintu dibuka, sesosok tak dikenal masuk kedalamnya. “ Oh, kau, Raven,” Raven bersandar di dinding, melirik sinis pemuda itu. “ Kenapa kau membakar rumahnya?” tanya Raven. Pemuda itu tertawa sinis. “ Pria bodoh itu menyimpan surat dariku. Jadi ku putuskan untuk membakar rumahnya,” jawab pemuda itu tanpa merasa bersalah. Raven terdiam. Ia memutuskan begitu karena ia tahu, percuma membalas ucapan rekannya itu. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan nyawa orang lain.

“ Lalu? Kenapa kau meneleponku? Ada pekerjaan lagi?” tanya Raven beruntun. Pemuda itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan dua lembar foto. “ Ini,” Pemuda itu memberikan foto-foto itu pada Raven. Wajahnya memucat saat ia melihat siapa yang ada dalam foto itu. “ Mereka targetmu berikutnya,” ujar pemuda itu singkat. “ Kenapa mereka?” tanya Raven. Pemuda itu tersenyum dingin kearah Raven. “ Mereka itu ancaman bagi kita. Aku bisa merasakannya,” Raven mengenggam erat foto-foto itu, melipatnya dan memasukkannya kedalam saku kemejanya. “ Bunuh kedua detektif itu. Bila perlu, gunakan pancingan. Mengerti?” Raven mengangguk. “ Yes, sir,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Markas Kepolisian Pusat…

“ Bagaimana? Sudah diketahui arti tulisan kanji itu?” tanya Siwon. “ Belum. Sungmin bilang, besok dia baru bisa memberitahu kita,” jawab Kibum sambil memeriksa laporan. Siwon membaca salah satu laporan tim penyidik, memeriksa apakah ada petunjuk baru atau tidak. “ Menurut tim penyidik, penyebab kebakaran berasal dari peledak yang ditanam di halaman belakang. Kemungkinan besar peledak tersebut dinyalakan dari jarak jauh,” jelas Kibum. Siwon menaruh laporan itu, mengambil laporan yang lain. “ Sepertinya korban hanya tinggal sendirian,” ujar Siwon. “ Hmm…” Kibum mengambil sekaleng kopi, mengocoknya perlahan. “ Haish..ternyata kosong. Oi, belikan kopi, dong. Untuk begadang malam ini,” perintah Kibum. Dipukulnya kepala Kibum dengan koran. Kontan Kibum menjerit kesakitan. “ Apa-apaan kau?” protes Kibum. “ Seenaknya nyuruh orang. Kau saja yang beli,” balas Siwon. “ Jangan begitulah. Kita kan partner,” Kibum mengeluarkan dua lembar uang 10.000 won. “ Sisanya boleh kau pakai,” bujuk Kibum. Siwon mengambil uang itu, melambaikannya dihadapan Kibum. “ Thankyou, bro,” ucapnya berlari keluar ruangan. “ Dasar…”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Sesampainya di minimarket, Siwon berjalan menuju barisan rak minuman. Beberapa kaleng kopi dan minuman ringan ia beli untuk kerja lembur malam ini. Tak lupa ia membeli makanan ringan. Saat ia mengambil snack, tangannya tak sengaja menyentuh tangan seseorang. “ Kaori?” Siwon tak percaya melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. “ Annyeong,” sapa Kaori. “ Ah, annyeong. Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Siwon masih dalam keadaan terkejut. “ Berbelanja. Kau sendiri?” Kaori balik bertanya. “ Aku juga berbelanja. Oh ya, tadi siang kau kemana? Aku khawatir, jangan-jangan kau terkena musibah,” Kaori tertawa pelan mendengar ucapan Siwon. Siwon tersipu malu melihat Kaori tertawa. “ Aku ada urusan mendadak. Maaf ya, sepertinya aku membuat tuan detektif pusing tujuh keliling,” Ucapan Kaori membuat Siwon semakin salah tingkah.

Setelah membayar belanjaan di kasir, mereka pun berjalan bersama. Selama perjalanan, Siwon tak henti-hentinya tersenyum saat menatap Kaori. Terutama saat Kaori tertawa. “ Ah, aku jadi teringat sesuatu,” ujar Kaori tiba-tiba berhenti. “ Ingat apa?” tanya Siwon. Kaori berbalik, menatap Siwon. “ Besok kau ada waktu?” Siwon mengingat-ingat jadwalnya. “ Sepertinya ada. Memangnya kenapa?” Siwon balik bertanya. Kaori tersenyum misterius, “ Besok…aku ingin bertemu denganmu. Di taman. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kaori. Siwon melongo sesaat, tak percaya dengan ucapan Kaori. “ Te..tentu saja! Jam berapa?” tanya Siwon. Kaori melirik jamnya, tersenyum penuh arti. “ Jam 10 pagi,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Keesokan harinya….

Siwon meminta izin pada Kibum untuk pergi sebentar. “ Boleh, tapi jangan matikan ponselmu. Sungmin akan memberitahu hasilnya hari ini,” kata Kibum saat Siwon meminta izin. Tepat jam 10 Siwon tiba di taman. Namun sepertinya Kaori sedikit terlambat. “ Siwon!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. “ Kaori!” Siwon melambaikan tangannya. Kaori berlari menghampirinya. Rambut coklatnya diikat keatas. Blazer coklat dan sepatu boots hitam membalut tubuhnya. Ia tampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. “ Sudah siap?” tanya Kaori. Siwon tampak bingung mendengarnya. “ Siap kemana?” Siwon balas bertanya. Kaori tak menjawab, menarik tangan Siwon. Bibirnya mengulas senyuman, matanya menatap Siwon. Membuat Siwon salah tingkah. Kaori menarik Siwon masuk kedalam bus. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan menusuk dan nafsu membunuh yang besar…..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Markas Kepolisian Pusat…

Kibum sibuk merapikan berkas-berkas kedalam lemari sambil mengerjakan laporan terbaru. Ia agak kerepotan karena ia harus melakukan semua pekerjaan ini sendirian. Saat ia menutup lemari, terdengar suara ketukan pintu. “ Masuk. Pintunya tak ku kunci,” perintah Kibum. Pintu terbuka, tampak sesosok pemuda berambut coklat dan bermata sipit berdiri disana. “ Ah, Sungmin. Bagaimana? Sudah ketahuan arti tulisan itu?” tanya Kibum sambil memberi isyarat pada Sungmin untuk duduk. “ Ya, aku sudah tahu. Awalnya ku pikir itu hanya nama satu orang, ternyata dua orang,” jawab Sungmin seraya duduk dihadapan Kibum. Ia membuka notesnya, memberikannya pada Kibum. “ Kamsahamnida…” Kibum tertegun membaca notes itu. Wajahnya memucat dan tegang. “ Oh tidak…” bisiknya. “Ada apa?” tanya Sungmin. Kibum mendongak, menatap Sungmin dengan tatapan panik. “ Aku harus memberitahu Siwon!”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Siwon heran melihat pemandangan sekelilingnya. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. “ Tempat apa ini?” gumam Siwon. Kaori tersenyum, mendadak ia berlari menuju bangunan reot yang tampak dari kejauhan. “ Kaori!” panggil Siwon. Ia mengejar Kaori sampai masuk kedalam bangunan. Tak terlihat sosok Kaori dimana pun. “ Kaori, dimana kau?” Percuma. Kaori tak menjawab sama sekali.

Mendadak terdengar suara pintu berdecit. Siwon menoleh, tampak seorang pemuda berdiri dengan mengenggam shotgun Browning A-5. “ Siapa kau?” tanya Siwon. Tangan kirinya mengambil Revolver Nagant M1895 perlahan. “ Jangan bergerak,” perintah pemuda itu. “ Jika kau bergerak, peluru rekanku akan menembus kepalamu,” Siwon memutar kepalanya perlahan, betapa terkejutnya ia mengetahui siapa yang berada di belakangnya. “ Kaori?” desis Siwon. Penampilan Kaori berbeda 180 derajat. Ia mengenakan tanktop hitam, shortpants dan boots hitam. Tangannya memegang Colt Anaconda. Wajahnya terlihat dingin. Berbeda dengan Kaori yang biasa Siwon lihat. “ Kau melakukan tugasmu dengan baik, Raven,” ucap pemuda itu. Siwon terbelalak mendengar ucapan pemuda itu. “ Ra..Raven? Kau pasti bercanda!” Pemuda itu menggeleng, tersenyum sinis. “ Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya, Tuan,” Pemuda itu maju, mengarahkan shotgunnya pada Siwon. “ Letakkan pistolmu dibawah, Tuan. Jika kau ingin selamat, turuti perkataanku,” Siwon mengambil revolvernya, menaruhnya di lantai. Pemuda itu tersenyum sinis lagi. “ Bagus. Kau memang anak pintar,”

DOR!

“ Siapa itu?!” bentak pemuda itu.

“ Keluar kalian semua! Kalian sudah terkepung!”

Siwon mengenali suara itu. Kibum, pikirnya. Ia pun berpikir keras bagaimana caranya kabur dari dua pembunuh gila ini. Perhatian mereka saat ini teralihkan oleh kehadiran Kibum dan para polisi lainnya. Siwon melirik ke belakang, tempat Raven muncul.Ada pintu terbuka lebar. Ini kesempatan, pikir Siwon. Cepat-cepat ia ambil revolvernya, lalu ia bergegas lari. “ Sial! Raven, kejar dia!” perintah pemuda itu. Siwon berlari mencari jalan keluar. Suara tembakan beruntun mengiringi pelariannya. Raven mengejarnya sambil terus menembaki Siwon. Namun Siwon lebih gesit. Ia menghindari setiap peluru yang ditembakkan dengan tepat.

DOR! DOR! DOR!

“ Leo!!” Siwon mendengar Raven menjerit, memanggil rekannya. Siwon menduga suara tembakan itu berasal dari Kibum atau polisi lainnya.

“ Berhenti kau!!!” raung Raven. Entah apa yang mendorong Siwon, mendadak tubuhnya membeku. Aura membunuh terasa dari tubuh Raven. Siwon bisa merasakan Colt Anaconda milik Raven mengacung kearahnya. “ Maaf…” Siwon terperangah mendengarnya. Suara itu terdengar gemetar. “ Kaori..” bisik Siwon. Ia memberanikan diri menoleh ke belakang. Kaori menurunkan pistolnya, air matanya mengalir. “ Aku terpaksa melakukan ini…” bisiknya. Kaori mengangkat pistolnya, mengarahkannya pada Siwon. Siwon memejamkan matanya. Ia sudah pasrah akan dibunuh oleh Kaori. “ Mianhamnida….Saranghaeyo, Choi Siwon,”

DOR!

Siwon membuka matanya, tak terjadi apa-apa. Ia berbalik badan, mendapati Kaori tergeletak berlumuran darah. “ Mianhae….” ucap Kibum sambil menurunkan pistolnya. “ Seharusnya aku memberitahumu lebih cepat…” Siwon menggeleng. Ia menghampiri Kaori yang terkapar. Memeluknya dengan erat. “ Gwenchana, Kibum…” Ditatapnya wajah Kaori yang mulai memucat. Dibelainya rambut Kaori dengan lembut. “ Nado saranghae…Kaori…”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Hujan turun membasahi bumi beserta isinya. Membasahi batu nisan yang berdiri kokoh disana. Siwon menaruh setangkai bunga di batu nisan itu, begitu juga Kibum. Siwon menghela nafas berat. Ia melirik orang yang berada didepannya. Orang itu menangis seraya mengelus batu nisan itu. “ Well…goodbye, my friend. Thanks for all,” gumamnya. Siwon merangkul orang itu, menyandarkannya di bahunya. “ Mulai hari ini, aku tak akan lagi memakai nama pemberianmu. Aku akan menjalani hidup baru sebagai Nakajima Kaori,” Siwon tersenyum mendengarnya. Sejak peristiwa penangkapan itu, Kaori yang berhasil selamat dari masa kritisnya, memutuskan untuk menyerahkan diri. Namun belakangan diketahui, bahwa pembunuh sebenarnya adalah Leo. Kaori hanya sebagai cadangan jika Leo tidak bisa menuntaskan tugasnya. Leo sengaja memberi nama Raven pada Kaori. Karena dengan nama sandi itu, Kaori tak akan dikenali oleh siapapun. Hal itu dilakukan Leo untuk melindungi Kaori. Bahkan ia sengaja menyuruh Kaori yang mengejar Siwon karena ia tahu, terlalu berbahaya bagi Kaori menghadapi para polisi. Bahkan sampai akhir hayatnya, Leo tetap melindungi Kaori.

“ Aku senang ini semua sudah berakhir,” ujar Kibum. Siwon mengangguk, “ Aku juga merasa demikian,” Kibum menengadahkan kepalanya ke langit, “ Ah, sepertinya hujan akan semakin deras. Ayo, kita pulang,” Siwon merangkul erat Kaori, “ Ayo, Kaori. Kau masih harus beristirahat,” Kaori mengangguk. Mereka pun berjalan menuju mobil. Kaori menoleh kebelakang, menatap sedih batu nisan itu. “ Tenang saja. Leo pasti sudah berada ditempat yang lebih baik untuknya,” hibur Siwon. Ucapan Siwon membuat Kaori lega. Sebelum ia masuk kedalam mobil, ia menatap sekali lagi kearah batu nisan. Tapi kali ini, ia tersenyum manis. Seolah ia melihat Leo sedang melambaikan tangan kearahnya. Ia pun masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan pemakaman. Dibukanya jendela mobil, lalu ia tersenyum kearah batu nisan untuk terakhir kalinya.

~FIN~

PS: Mian kalo rada gak jelas. FF ini terinspirasi dari k-drama Athena.

Happy reading fellas ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s