Author Archives: Ryuu

About Ryuu

Writer

Raven

Standar

Mereka menyebutnya Raven.

Assassin terhebat sepanjang masa.

Tak seorang pun mengetahui namanya.

Bahkan tak seorang pun pernah bertemu dengannya.

Hanya satu yang mereka ketahui.

Dia adalah pembunuh.

Jika kau berurusan dengannya.

Bersiaplah bertaruh nyawa.

Pilihanmu hanya dua.

Mematuhi perkataannya atau mati.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Siwon mengernyitkan dahi saat membaca laporan yang diberikan kepadanya. Hampir seluruhnya laporan orang hilang. Dalam kurun waktu tiga bulan, terjadi 50 kasus orang hilang. Tak satupun dari 50 orang itu berhasil ditemukan. Siwon menaruh laporan itu, menghela nafas panjang. Belum pernah ia menemui kasus sesulit ini. Tak ada petunjuk ciri-ciri pelaku seperti apa. Sidik jari tak ditemukan. Sangat rapi. Menurut Kibum, hanya profesional yang bisa melakukannya.

Tok, tok! “ Masuk,” perintah Siwon. Pintu terbuka, tampak sosok Kibum berdiri disana. “ Ah, kau. Ada apa?” tanya Siwon. Kibum menaruh map hijau diatas meja. Tanpa membukanya, Siwon sudah bisa menebak isi map itu. “ Haissh…lagi?” Siwon mengacak-acak rambutnya, frustasi. “ Tenanglah. Yang ini berhasil ditemukan dua hari yang lalu,” ujar Kibum. Ekspresi wajah Siwon menjadi cerah. Buru-buru ia membuka map hijau itu, namun sedetik kemudian wajahnya memucat. “ Ma…mati?” pekik Siwon tak percaya. Kibum mengangguk, menaruh setumpuk foto. “ Tim forensik memberikanku foto-foto autopsi dan hasil olah TKP. Hasilnya…yah…kau pasti tak akan percaya,” Siwon menatap Kibum, seolah memaksa Kibum menjelaskan apa yang baru saja ia ketahui. “ Hmm…menurut tim forensik, penyebab tewasnya adalah racun Tetrodoxin.Ada bekas suntikan di lehernya. Kemungkinan besar racun langsung menyerang syaraf korban,” jelas Kibum. Siwon tercengang, otaknya berusaha mencerna kata-kata Kibum. “ Ah, ada lagi,” tambah Kibum. Siwon melirik Kibum, “ Apa lagi?” Kibum menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakannya. “ Apa, Bummie? Katakan!” desak Siwon. Kibum menghela nafas berat, “ Kemungkinan yang membunuhnya adalah Raven,”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Angin malam berhembus pelan, seirama dengan suara ombak laut. Menyibakkan rambut seseorang yang sedang duduk diatas mobil Ferrari. Sebatang rokok ia hisap sampai habis. Baru saja ia mau mengambil batang rokok kedua, terdengar suara klakson mobil lain. Mobil itu berhenti didekatnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria separuh baya keluar dari mobil itu. Ia melirik pria itu tanpa ekspresi. Tanpa memperdulikan pria itu, ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya. “ Hebat kau. Aku tak menyangka kau akan membunuhnya dengan cepat. Kau benar-benar luar biasa,” puji pria itu. Namun yang disanjung tak merasa senang. Ia terus menghisap rokoknya, tak merespon ucapan pria itu. “ Oh iya, ini bayaranmu. 20 juta won. Sesuai perjanjian,” kata pria itu sambil menaruh sekoper uang. Ia melirik sekilas, mematikan rokoknya. “ Ya. Sesuai perjanjian, setelah aku melakukan tugas darimu, maka kita tak akan berhubungan lagi,” ujarnya. Pria itu terlihat bingung. “ Apa maksudmu? Itu tak ada dalam perjanjian…”

DOR!

Pria itu roboh seketika. Tembakan mengenai kepalanya dan ia tewas seketika. Orang itu tersenyum licik saat ia mengetahui siapa yang menembaknya. Ia menghampiri penembak itu, menepuk bahunya. “ Kau memang penembak jitu, Raven,”

Read the rest of this entry

The Leader Part 2

Standar

PerpustakaanRosemaryAcademy…

Salah satu tempat dimana buku-buku berjejer rapi dan disusun berdasarkan abjad. Dan juga tempat favorit Alex. Ia terbiasa duduk disalah satu meja yang menempel di dinding. Setiap hari, ia selalu membaca buku kesukaannya sambil mengerjakan tugas sekolah. Terkadang ia bisa lupa waktu jika sudah asyik membaca.

“ Enjoy the books, eh? I wonder why you never feel boring in this place,”  Alex menutup bukunya. Ia melirik kesamping, tersenyum saat mengetahui pemilik suara itu. “ Memang kenapa? Aku suka berada disini. Sangat menyenangkan bisa membaca buku yang ada disini,” ujar Alex. Pemuda itu hanya menghela nafas, menarik kursi disamping Alex. “ Kenapa kau tidak bermain dengan mereka?” tanya pemuda itu. Alex terdiam, lalu menggeleng. “ Jordan dimarahi Claudia, Marcus diganggu Taylor lagi, lalu Bryan…”, “ Sibuk latihan drama?” Alex mengangguk. “ Andrew?” Nama terakhir membuat Alex sedikit tersentak. Joshua buru-buru meralat ucapannya. “ Maaf. Aku tak bermaksud…” Alex menggeleng, tersenyum pada kakak tirinya itu. “ Tak apa-apa. Lagipula, Andrew memang sedang disibukkan dengan urusan keluarganya,” ucap Alex. Joshua melirik sesuatu berkilauan yang melingkar di jari adiknya. Digenggamnya tangan adik kesayangannya itu. “ Jo…please. It’s okay. You know his Daddy’s habbit. Always made him busy,” Ucapan Alex malah membuat Joshua semakin sedih. “ Apa tidak bisa Tuan Choi berhenti menganggunya?” tanya Joshua. Alex mengedikkan bahu. “ Jika bisa, mungkin Andrew tak akan terus menerus berkutat dikamarnya,”

*********************************

Read the rest of this entry

My Immortal (SongFic)

Standar

I’m so tired of being here

Suppressed by all my childish fear

And if you have to leave

I wish that you would just leave

Because your presence still lingers here

And it won’t leave me alone

Aku meringkuk didalam kamar. Entah mengapa aku merasa ketakutan. Ku rapatkan kaki ku seraya melirik jam dinding. Rambutku terurai berantakan namun aku tak peduli. Disini, ku menangis. Menangisi seorang namja yang telah meninggalkanku. Namja bodoh yang lebih mementingkan dirinya. Namja bodoh yang tak pernah peka dengan perasaanku.

Read the rest of this entry

The Leader File 1

Standar

Main Cast:

Male:

-Park Jungsoo as Dennis Park

-Kim Heechul as Casey Kim

-Hangeng        as Joshua

-Kim Jongwoon as Jeremy Kim

-Kim Youngwoon as Jordan Kim

-Shindong       as Matthew

-Lee Sungmin  as Vincent Lee

-Lee Hyukjae  as Spencer Lee

-Lee Donghae  as Aiden Lee

-Choi Siwon     as Andrew Choi

-Kim Ryeowook as Nathan Kim

-Kim Kibum     as Bryan Kim

-Cho Kyuhyun  as Marcus Cho

Female:

Alexandra Hwang, member of The Leader and also Joshua’s half-sister

-Hera Lee as Aiden’s sister and Jeremy’s girlfriend

-Aprodhite Shim as Nathan’s bestfriend

-Angela Park as Dennis’s twins and also Casey’s girlfriend

-Claudia Kim as Jordan’s manager

-Grace Shin as Vincent’s partner

-Taylor Cho as Marcus’s cousin

 

Enjoy it and happy reading fellas ^^

 

TENGG!! TEENGG!!

Suara bel berdentang menandakan waktu pelajaran pagi akan segera dimulai. Murid-murid bergegas memasuki kelas masing-masing sesuai jurusannya. Begitu juga Aiden. Pagi ini ia harus mengikuti kelas Seni Rupa. Karena ia merupakan siswa Jurusan Seni, maka setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at, ia wajib hadir di kelas yang berhubungan dengan Seni. Selain ketiga hari itu, kurikulum diisi dengan pelajaran umum seperti Eksak, Sosial dan Olahraga. Namun, kurikulum tersebut tidak selengkap yang diajarkan di Jurusan. Hanya untuk penambahan wawasan.

Aiden memasuki kelas, mendapati Spencer dan Nathan sedang duduk berdiskusi sesuatu. “ Morning, guys,” sapa Aiden. “ Morning, Mr. Lee,” balas Nathan. Tangannya memegang buku partitur. Nathan adalah siswa Jurusan Seni yang mengambil mata pelajaran Musik. Setiap Jurusan memiliki beberapa mata pelajaran yang bisa dipilih. Setiap murid diperbolehkan mengambil dua mata pelajaran di setiap Jurusan. Seperti Nathan. Ia memilih mengambil kelas Seni Rupa dan Seni Musik, sedangkan Aiden dan Spencer mengambil Seni Rupa dan Seni Tari. “ Apa ada kabar menarik hari ini?” tanya Aiden sambil menaruh tas. Spencer melirik Nathan sambil tersenyum. “ Well, there’s a lot of rumors in our academy. Did you heard about The Leader?” ucap Spencer. Aiden mencoba mengingat-ingat. “ You mean five student who selected for Student Leader?” Aiden balik bertanya. “ Exactly. And one of them is…a beautiful girl in this academy,” bisik Spencer bergairah. Aiden menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ku pikir apa, ternyata hanya soal perempuan,” ujar Aiden. DUK! “ Aw! That’s hurt!” jerit Aiden. Spencer mengacuhkannya. “ Aduh…kalian ini. Maksud Spencer, gadis ini sedikit berbeda. Dia cantik, pintar dan…yaa berbeda dengan siswi lainnya,” sahut Nathan. Aiden tertegun. “ Benarkah?”

Tok, Tok. Suara ketukan itu mengagetkan mereka bertiga. Rupanya Mr. Matthew sudah berdiri didepan kelas. Mereka bertiga menghentikan obrolan mereka dan kembali ke kursi masing-masing. Aiden masih mencerna ucapan Spencer dan Nathan tadi. Satu-satunya calon ketua murid dari kalangan perempuan? Siapa?

 

*********************************

 

“ Itu dia orangnya,” Aiden dan Spencer menoleh kearah yang dimaksud Nathan. Seorang gadis duduk bersama keempat siswa laki-laki. Matanya sipit dan berambut hitam lurus. Bando kuning bertengger di atas kepalanya. Jas putih dan kemeja biru dikancing rapi, bahkan dasi kuningnya diikat rapi. Tak heran jika gadis itu dicalonkan sebagai Ketua Murid. “ Namanya Alexandra Hwang. Tapi dia lebih sering dipanggil Alex,” lanjut Nathan. Sepertinya Nathan sudah mencari informasi tentang Alex. “ Lalu? Siapa empat laki-laki itu?” tanya Aiden. Nathan membuka-buka notesnya, menemukan informasi yang dimaksud. “ Yang badannya besar namanya Jordan Kim. Ia dari Jurusan Olahraga. Kelas yang ia ambil adalah kelas Tinju dan Wrestling,” Siswa yang bernama Jordan itu terlihat besar dan kekar. Pakaiannya juga rapi seperti Alex. “ Lalu, yang sedang berbicara dengan Alex itu namanya Bryan Kim. Dari Jurusan Akting. Ia mengambil kelas Musikal dan Film,” lanjut Nathan. Sekilas penampilan Bryan seperti dari kalangan terhormat. Rambut hitamnya dibuat model spike dan senyumnya sangat menawan. “ Nah, yang sedang sibuk memainkan PSP itu namanya Marcus Cho. Murid Jurusan Eksakta. Ia mengambil kelas Matematika dan Kimia,” Aiden melirik kearah Marcus. Ia terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar. “ Dan terakhir, Andrew Choi dari Jurusan Manajemen. Kelas yang dia ambil ada 3. Kelas Manajemen Produksi, Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan,” Andrew satu-satunya yang terlihat paling berwibawa. Tampan dan gagah. Cukup memenuhi kriteria lelaki idaman bagi para siswi Rosemary Academy. “ Oh iya. Alex mengambil Jurusan apa?” tanya Spencer. “ Jurusan Sastra. Kelas yang ia ambil adalah kelas yang tergolong jarang muridnya,” jawab Nathan. “ Apa itu?” tanya Aiden dan Spencer serempak. “ Kelas Sastra Klasik dan Filsafat,”

 

*********************************

 

Rosemary Academy adalah satu-satunya sekolah berasrama yang membuka Jurusan Sastra. Jurusan ini tergolong minim peminatnya dikarenakan kurikulumnya yang terlalu berat. Hanya sekitar 15 anak yang sanggup bertahan menghadapi kurikulum di Jurusan ini.

Selain kurikulumnya yang beragam, Rosemary Academy juga memiliki fasilitas yang bagus dan bermutu. Salah satunya adalah Ruang Serba Guna di lantai 2. Hampir semua kegiatan sekolah diselenggarakan disini. Termasuk kompetis-kompetisi bergengsi. Rosemary Academy termasuk sekolah yang menjadi unggulan disetiap kompetisi.

Asrama Rosemary dibagi menjadi 3 gedung. Asrama untuk wanita, asrama untuk pria dan asrama khusus anak-anak berprestasi. Dengan adanya asrama khusus anak-anak berprestasi, diharapkan anak-anak tersebut mampu meningkatkan kemampuan akademisnya tanpa ada gangguan. Disinilah asrama tempat The Leader tinggal.

 

********************************

 

Asrama khusus pria, kamar 309….

Nathan sibuk membereskan partitur-partitur untuk kelas Musik. Karena kelas Musik akan dimulai 1 jam lagi, Nathan memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak dari pelajaran. “ NATHAN!” Teriakan itu sukses memekakkan telinga Nathan. “ Aduuh….Aprodhite! Bisa tidak mengetuk pintu dulu?” protes Nathan. Yang diprotes malah tertawa. “ Aku ingin memberi kejutan, Mr. Nathan,” ledek Aprodhite. “ Ya sudahlah. Kenapa kau kesini? Ini kan asrama putra,” Aprodhite mengacuhkan ucapannya Nathan, mengobrak-abrik lemari pakaian Nathan. “ Hey! What are you doing? That’s my closet!” Nathan yang panik, bergegas melindungi lemarinya. Aprodhite cemberut melihat sikap Nathan. “ Nathan jahat! Aku kan hanya ingin membantu memilih pakaian untuk recital bulan depan,” protes Aprodhite. Pipinya menggembung, membuat dirinya tampak menggemaskan. “ Aprodhite….dengar ya. Yang akan mengikuti recital itu aku, bukan kamu. Kenapa kamu mesti repot?” ucap Nathan. Ucapan Nathan membuat Aprodhite semakin sebal dan pergi meninggalkan Nathan. “ Aprodhite! Tunggu dulu!”

 

*********************************

 

Kolam Renang Rosemary Academy…

“ Jordaaaannn……dimana kau???” teriak seseorang. Ia celingukan mencari Jordan. Di ceknya notes miliknya, menelurusi daftar yang ia buat. “ Padahal, ini kan jadwal dia untuk latihan tinju,” gumamnya. Tiba-tiba saja, ada orang lain mencipratkan air kearahnya. “ KYAAA!!!! JORDAAAANNN!!!!!” jeritnya. Jordan malah tertawa dan kembali masuk kedalam air. “ Jordan Kim! Keluar kau!!” teriak orang itu. “ Ahahahahaha!!” Gadis itu kesal dengan perlakuan Jordan, meneriakinya, “ KELUAR KAU DARI KOLAM ATAU KU ADUKAN PADA TUAN KIM!!” Teriakannya cukup ampuh membuat Jordan bergegas keluar dari kolam. “ Jangan adukan hal ini pada ayah. Bisa-bisa dia memarahiku karena menyalahi jadwal,” pinta Jordan. Claudia mendengus kesal. “ Kau memang menyalahi jadwal. Kau hanya boleh latihan renang di hari Kamis!” omel Claudia. Jordan pura-pura tak dengar. Ia bosan harus mendengarkan ocehan Claudia tentang jadwal hariannya. Seolah-olah hidupnya tergantung pada jadwal. “ Jadwal kau hari ini adalah latihan tinju. Tepat di jam pelajaran Kelas Tinju. Masih ada waktu 15 menit untuk bersiap-siap,” ucap Claudia. Selesai memberitahu jadwal, gadis berambut pendek itu beranjak pergi. “ Claudia,” panggil Jordan. Langkah Claudia terhenti, ia menoleh kearah Jordan. “ Apa?” tanya Claudia. Raut wajah Jordan berubah menjadi serius. “ Kau masih sanggup bertahan dengan pekerjaan ini?” Jordan balik bertanya. Claudia menghela nafas. “ Iya. Ayahmu sudah mempercayakanku untuk menjadi managermu. Aku hanya tak ingin melepas tanggung jawab,” jawabnya seraya melangkah pergi. Jordan tak membalas. Ia hanya menatap datar punggung gadis itu. “ How stupid,”

 

*********************************

 

Taman bunga Rosemary Academy….

Taman bunga di Rosemary merupakan taman favorit bagi siswa-siswi Rosemary untuk berkumpul. Entah hanya sekedar menikmati makan siang atau belajar kelompok. Seperti biasa, hari ini para siswa dan siswi berkumpul di taman. Sebagian membicarakan pelajaran, sebagian asyik bercanda dan sebagian sibuk menyendiri. Marcus, salah satu yang sibuk menyendiri, asyik memainkan PSP nya. Ia sering menghabiskan waktu di taman sembari menunggu jam pelajaran berikutnya.

“ Hi, Marcus,” Marcus tak menjawab. Matanya tetap fokus pada PSP nya. “ Marcus Cho,” Lagi-lagi Marcus tak menjawab. Seolah ia tak mendengar ada yang memanggilnya. “ Hey! If someone call you, you have to respond it!” seru orang itu. Dirampasnya PSP dari tangan Marcus, sontak membuat Marcus kaget. “ Hey! Give me back! That’s mine!!” protes Marcus. Yang diprotes malah mencibir. Membalas perlakuan Marcus. “ Stop being anti-social, my lovely cousin. You’re the future leader, you’ve to gain relationship with people,” ceramah orang itu. Orang itu melirik PSP Marcus, menghela nafas. “ And stop playing games,” tambahnya. Marcus berdiri, menepuk kepala orang itu. “ Okay, Miss Taylor Cho. I understand…and please give me back my PSP. Just wanna finish one level,” Taylor menyerahkan kembali PSP itu pada Marcus. Ia duduk di kursi, menyilangkan kakinya yang jenjang. “ What do you want?” tanya Marcus. Taylor menggeleng. “ Nope. Just thinking how can you selected as Student Leader’s candidate,” jawab Taylor. Marcus meringis, ia tahu berita tentang dirinya yang dipilih menjadi kandidat sangatlah mengejutkan. Karena menurutnya, keempat kandidat lainnya lebih pantas ketimbang dirinya. “ Yang lebih mengejutkan, kelima kandidat kali ini semuanya….” “ Yeah, I know. It’s really surprising but it’s okay. Now, we’re rival,” potong Marcus. Ia pun beranjak dari kursinya, melambaikan tangan tanda salam perpisahan pada Taylor. Gadis berambut pirang itu terlihat sedih. Tak ia sangka harus berjalan seperti ini. “ No. They’re not rival…Never…”

 

*********************************

 

Cafetaria Rosemary Academy….

Aiden mengetuk meja seraya melirik temannya yang terlihat gelisah. “ Where’s she?” gumamnya. Aiden menghela nafas. “ Tenang. Mungkin dia tersesat, seperti biasa,” ujar Aiden. Duk! “ Aw! Hei, kenapa?” protes Aiden. “ Dia itu adikmu! Seharusnya kau khawatir kalau terjadi sesuatu padanya,” Aiden melengos. Ia merasa tak perlu khawatir berlebihan, mengingat sifat keras kepala adiknya. “ Hera baik-baik saja. Jangan khawatir, Jeremy,” ucap Aiden seraya menenangkan Jeremy.

Tak lama kemudian, seorang gadis mungil datang menghampiri mereka. “ Sorry, babe. Lost direction, as usual,” ujar gadis itu nyengir. “ It’s okay, my little Hera,” balas Jeremy. Aiden berdehem keras, menyadarkan kedua sejoli itu. “ Tugasku sudah selesai kan? Aku mau kembali ke kamar,” kata Aiden. Hera terkikik, memeluk erat kakaknya. “ Jangan ngambek begitu. Tadi kan kakak sendiri yang bilang mau bertemu denganku,” ucap Hera seraya melepas pelukannya. Aiden tak menjawab, namun ekspresinya terlihat seperti anak kecil.

“ Oh ya, tadi kalian berdua menanyakan soal kandidat Ketua Murid ya?” tanya Hera. Jeremy dan Aiden mengangguk bersamaan. “ Tentang kandidat itu ya….sebenarnya cukup mengejutkan juga. Waktu itu beritanya belum resmi, jadi hanya sekedar desas-desus,” sambung Hera. “ Desas-desus apa?” tanya Jeremy. Hera mengeluarkan selembar kliping koran. Tertulis ‘BIGGEST NEWS: FIVE STUDENT ARE SELECTED AS STUDENT LEADER’S CANDIDATE!’. “ Awalnya, banyak siswa mengira mereka yang terpilih adalah anak-anak yang berasal dari golongan atas yang tak berotak. Tapi seminggu kemudian, muncul berita resmi dari Kepala Sekolah bahwa yang terpilih adalah lima siswa terbaik di Rosemary Academy. Semua siswa terkejut. Apalagi yang terpilih benar-benar elit diantara yang terelit,” jelas Hera. Aiden menerawang, mengingat perkataan Nathan. “ Andrew, Alex, Bryan, Jordan dan Marcus. Lima siswa yang berhasil mengangkat reputasi Rosemary Academy di bidang masing-masing,” sambung Jeremy. Hera mengangguk. “ Tak heran jika mereka dipilih menjadi kandidat Ketua Murid. Marcus Cho, juara olimpiade Matematika dan Sains. Andrew Choi, berhasil menjadi pengusaha muda seperti ayahnya. Alexandra Hwang, penulis terkenal dan dia baru saja memenangkan Best-Seller Award untuk karya terbarunya. Jordan Kim juga baru saja memenangkan kejuaraan renang dan tinju. Dan yang terakhir, Bryan Kim baru memulai karir aktingnya,” tambah Hera. Aiden menelan ludah. Ia tak menyangka kelima kandidat itu benar-benar unggul di bidang yang mereka geluti. “ Satu lagi,” Aiden dan Hera menatap Jeremy. Masih ada satu rahasia yang belum kami ketahui? batin Aiden. Jeremy menarik nafas. “ Kudengar….Alexandra Hwang bertunangan dengan Andrew Choi,”

TBC~

 

The Leader {Introduction}

Standar

Rosemary Academy

Sekolah elite tempat anak-anak jenius, berbakat dan berprestasi. Masing-masing anak menempati jurusan yang sesuai dengan bakat mereka. Namun, ada lima anak istimewa di Academy ini. Mereka adalah calon ketua Murid Rosemary Academy.

Jabatan Ketua Murid Rosemary setingkat dibawah Kepala Sekolah. Ketua Murid bertanggung jawab atas aspirasi murid-murid Rosemary. Aspirasi ataupun usul ditampung, lalu satu persatu direalisasikan. Bahkan, Ketua Murid boleh mengajukan ide untuk jurusannya sendiri. Misal, jika seorang Ketua Murid berasal dari Jurusan Desain, maka ia berhak mengajukan serta merealisasikan usulnya untuk kepentingan Jurusannya. Hak Ketua Murid ini disebut Exclusive Right.

Sejak Rosemary dibangun, calon ketua Murid hanya dipilih dua orang setiap angkatan. Akan tetapi, untuk pertama kalinya dalam sejarah Rosemary, calon ketua Murid berjumlah lima orang. Kelima anak ini dipilih berdasarkan kemampuan akademis, non akademis, serta kedisiplinan mereka. Sejak mereka berlima terpilih sebagai calon ketua Murid, murid-murid lain menjuluki mereka sebagai “The Leader”

*********************************

Read the rest of this entry

20 Minutes (Drabble)

Standar

Aku berdiri di halte bus, menanti kedatangan bus. Aku termenung, mengingat peristiwa sepuluh menit yang lalu. Mantan pacarku, Kim Kibum, datang menyapa temanku tapi aku diabaikan. Aku masih merasa sakit hati dengan sikapnya. Sudahlah. Lupakan. Dia memang tak pernah menganggapku ada sejak kami putus.

Ah, bus nya sudah datang. Sepi sekali. Biarlah. Aku memilih bagian tengah dan dekat jendela. Mungkin dengan melihat pemandangan, aku bisa merasa lebih baik.

 

10 menit kemudian…

 

Bus berhenti di halte berikutnya. Ada sekelompok siswa SMA yang naik. Sepertinya mereka seumuran denganku. Aku memutuskan untuk cuek saja. Tapi, saat anak yang terakhir naik, mataku terpaku padanya. Waw….dia tampan sekali. Putih, tinggi dan…ehem, manis. Eh, tunggu dulu. Aku tak boleh jatuh cinta pada orang lain pada orang lain. Cukup Kibum saja! Titik!

 

5 menit kemudian…

 

Anak itu terlihat asyik mengobrol dengan teman-temannya. Pasti pacarnya. Tapi masa iya?

Mataku melirik kearah buku yang dipangkunya. Ada tulisan namanya. Hmm….Cho…Kyuhyun… Namanya bagus. Cocok dengan orangnya. Eh! Apa-apaan sih? Tak boleh! Jangan terpikat pada orang lain! *geleng-geleng kepala*

 

5 menit kemudian…

 

Satu persatu temannya turun di halte yang berbeda. Tinggal kami berdua didalam bus. Sesekali aku meliriknya. Ada perasaan yang tumbuh dalam hatiku. Aku tak tahu, tapi aku senang. Ada yang membuatku tersenyum lagi. Entahlah. Tapi anak ini…memberiku semangat. Ah, dia turun. Untuk terakhir kalinya, aku melihatnya. Dan mata kami berpapasan. Aku tersenyum. Aku merasa senang.

Aku tak tahu kenapa, tapi Kyuhyun membuatku kembali bersemangat. Aku akan menata kembali kehidupanku dan membuka lembaran baru.

Kamsahamnida, Cho Kyuhyun~

END

 

PS: FF ini 100% kisah nyata author! XD. Tapi, nama namjanya ku ganti hehe. Dan settingnya bukan di bus, melainkan di angkot. LOL ^^

Black Rose

Standar

Annyeonghaseo, aku author baru disini. Di blog ini, aku memakai nama Jepangku, Hiragawa Seiryuu. Jadi, jangan heran jika ada ID Ryuu muncul di blog ini. Karena Ryuu merupakan kependekan dari Seiryuu ^^

Well, this is my first FF in here. So, enjoy it and happy reading, fellas! ^^

Hujan deras menguyur bumi. Awan hitam menutupi bulan. Gelap dan dingin. Dan disinilah aku, bersama mayat laki-laki yang menjadi targetku. Aku, Hwang Sung Ki, si pembunuh bayaran. Aku mengenggam pistolku seraya menatap kosong mayat itu. Hujan telah membersihkan darah dan sidik jariku. Disini aman, tidak akan ada yang tahu perbuatanku.

Ku seret mayat laki-laki yang baru saja ku bunuh, ku buang ke jurang yang dalam. Lalu ku lemparkan pematik api. Aku mendengar suara ledakan. Beberapa detik kemudian, aku melihat api berkobar. Ledakan yang indah. Lebih indah dari kembang api.

*************************************

Ku berhentikan mobilku di basement gedung markas. Setelah ku kunci, aku masuk kedalam gedung. Beberapa orang melihatku dengan tatapan aneh. Maklum, bajuku basah kuyup terkena hujan. Aku malas membawa pakaian ganti.

“ Selamat datang, Black Rose. Kau memang hebat,” Aku menoleh, mencari tahu siapa yang bersuara. “ Deacon, rupanya kau,” sahutku sinis. Pemuda yang ku panggil Deacon itu menyeringai, berjalan mendekatiku. “ Jangan panggil aku Deacon. Kita kan partner,” Dasar namja aneh. Bukankah aturannya kita harus saling memanggil code name? “ Baiklah, Kyuhyun, jika itu yang kau mau,” balasku. Kyuhyun memamerkan evil smirk nya sambil mengacak-acak rambutku. “ Nah, begitu,dong. Kita kan partner, boleh dong panggil nama asli,” ujar Kyuhyun. Aku tak membalasnya. Hanya melempar pandangan dingin.

Cho Kyuhyun. Dia partnerku, dengan code name Deacon. Hanya dia lah yang mau mendekatiku. Tapi aku tak peduli dengan orang-orang sekitarnya. Bagiku, mereka hanya bakteri penganggu.

“ Mau kopi?” tawar Kyuhyun. Aku hanya mengangguk. Ia mengambil sekaleng kopi dari vending machine, memberikannya padaku. Aku mengambilnya tanpa mengatakan apa-apa. “ Kau ini benar-benar pelit bicara ya,” komentar Kyuhyun. Lagi-lagi dia membahas ini. “ Bukan urusanmu,” balasku. Raut wajahnya seperti orang kecewa. Dia benar-benar aneh. Sekaligus memuakkan.

Aku membuang kaleng kopi ke tong sampah, dan meninggalkan Kyuhyun sendirian. Aku takkan betah berlama-lama di tempat yang banyak orang, meskipun hanya 1-2 orang. Ada perasaan tidak nyaman saat aku berada di keramaian. Yah, mungkin aku memang tidak cocok dengan keramaian. Aku lebih menyukai sendirian.

*************************************

Kyuhyun’s POV

Dingin dan menusuk. Hanya itu yang muncul di benakku saat melihat tatapan dan ekspresi wajah Sung Ki. Seolah ia telah membeku. Aku tak habis pikir, kenapa ia seperti itu? Sikapnya, ekspresi wajahnya dan tatapan matanya seolah mengisyaratkan ia adalah patung es. Hanya akan mencair jika berada dalam suhu yang tinggi. Tapi sayang, Sung Ki bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan.

Kemampuannya sebagai pembunuh nomor satu di organisasi kami tidak diragukan lagi. Cantik, cekatan dan profesional. Sword Cutlass dan Berreta M76 adalah pistol andalannya. Jika ia sedang dalam mood yang tidak bagus, ia tidak akan memakai jaket anti peluru. Pasti ia akan memakai tank top dan short pants. Hebatnya, ia jarang sekali terluka.

Pantas saja Boss sangat menyukainya. Aku tak heran jika ada beberapa orang yang iri pada Sung Ki. Bahkan mereka mengatakan padaku bahwa aku sedang bernasib sial karena harus menjadi partner dari gadis pembunuh terdingin di dunia. Tapi aku tak peduli. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku ingin membuatnya menjadi gadis ‘normal’.

*************************************

Read the rest of this entry