Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot, 유머 ♥ Humor

FF / PSYCHO LOVE SERIES / WHEN WE HAVE A WAR

Annyeong yorobun… Aku datang lagi.. Kali ini sambil meluk-meluk Lee Sungmin *dikuliti ELF sedunia*.. Ini ceritanya Sungmin selama pacaran sama Raein.. Pasangan PSYCHO itu.. Kalau gaje maap ya.. Kan yang bikin PSYCHO.. Hehehe..

Enjoyy reading….

~~*~~
“Lee Sungmin! Datang ke hadapanku dalam tiga menit atau kubunuh!” seruku keras-keras, lalu menekan tombol akhiri panggilan di ponselku. Aku yakin di seberang sana telinganya berdengung karena suara melengking parah seperti milikku. Sudah lebih dari tiga jam aku terlantar di halte bis menunggunya mengembalikan peralatan melukisku. Entah untuk apa dia meminjamnya dan selama lebih dari dua minggu dia tidak menyentuh alat-alat itu, tapi juga tidak mengembalikannya padaku.

Ya, bagus sekali. Waktunya sudah habis. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kalau dia sampai di sini nanti. Lima menit berlalu, batang hidungnya belum juga kelihatan. Kupastikan hari ini adalah hari tersial bagi Lee Sungmin. Dia akan menyesal karen telah bangun tadi pagi.

“Raein-ah.. Mianhae.. hosh.. hosh..” apa-apaan dia? Dia tidak membawa apapun selain badannya sendiri. Dia menantangku ya? Hm…

“YAAA!!! AISHH!!” aku melangkah pergi dari halte bus dengan langkah dihentak-hentakkan setelah sekuat tenaga menginjak kaki kanan Sungmin dengan kakiku. Dia terlonjak sambil berteriak-teriak kesakitan. Masih untung aku tidak memakai high heels, kalau aku memakainya aku akan menginjakkan bagian tumit di jempol kakinya.

“YA!! RAEIN-AH!!!!” awas saja kalau kau tidak mengejarku, Sungmin.. Hanya Tuhan yang tau apa yang akan aku lakukan. Dan benar saja, dia entah dimana saat aku membalikkan badanku. Sebenarnya aku berharap dia akan mengikutiku dan mohon-mohon maaf karena sudah membuatku kesal. Aish.. Sepertinya aku lupa kalau nama pacarku itu adalah Lee Sungmin, dan pikiran seorang Lee Sungmin gak bakal nyampe ke bagian situ.

“Idiot!, pabo!, autis! Aish.. Jinjja..” makiku sambil tetap melihat ke belakang. Saat aku mengalihkan pandanganku ke depan lagi, tiba-tiba saja orang itu sudah ada di hadapanku sampai aku hampir saja menabraknya.

“Annyeonghaseyo.. Lee Sungmin imnida.. Mannaseo bangapseumnida.. Oh.. neomu yeppeo yo..” Aku mengalihkan pandanganku dari wajah innocentnya. Dia kira jurus murahan seperti itu mempan untukku? Jangankan terlihat cute, dia malah terlihat semakin pabo di mataku.

“MENYINGKIR DARI JALANKU ATAU BESOK PAGI KAKIMU BENGKAK!” teriakku, tapi bukan Sungmin namanya kalau seperti itu saja dia takut.

“Oh.. Aku takut sekali..” katanya dengan nada dibuat-buat. “JAGI-YA MIANHAE YO.. AKU MENCINTAIMUUUUU…… Hmpphh… hmph…” aku membekap mulutnya sebelum lebih banyak lagi orang memandang aneh ke arah kami. Lelaki memang tidak punya malu.

“Lee Sungmin, kau benar-benar suka bikin malu!” kataku sambil menyeretnya jauh-jauh dari orang-orang yang melemparkan tatapan hei-cewek-aneh-dan-kekasihnya-yang-gak-kalah-aneh-enyahlah!. Aku membungkuk-bungkukkan badanku seolah-olah bilang maafkan-lelaki-bodoh-ini-dia-tidak-gila-kok. Sungmin tertawa-tawa dalam bekapanku. Kan? Dia memang tidak ada malu.

“AAAWWWW!!!” dia menggigit tanganku. Gila! Cowok ini sudah gila! Aku segera melepaskan bekapanku, takutnya ada rencana lain selain gigitan maut untuk mengerjaiku.

“Haaaahh.. Gitu dong,, kan lega.. Kalau aku mati dalam bekapanmu kan gak lucu, mati dalam dekapanmu, nah.. itu baru keren..” oke, oke.. Dengan kalimat itu Sungmin memberitau semua reader kalau dirinya se-pabo itu.

“Aku menunggumu lebih dari tiga jam!” kataku ketus.

“Aku tertidur lebih dari tiga jam.” Jawabnya santai. Aishh.. mengesalkaaaannnn..

“Kau meminjam alat melukisku lebih dari dua minggu!” ketusku lagi.

“Dan aku belum mengembalikannya sampai sekarang.” Santainya lagi. Aku mengepalkan tangan kananku, mengumpulkan cakra agar pukulanku nantinya kan mematikan.

“Kau berjanji mengembalikannya hari ini!!”

“Dan aku lupa…” dia ber-aegyo di depanku. Kalau namaku adalah Lilin, aku pasti sudah meleleh. Tapi namaku adalah Raein, dan itu tidak akan pernah terjadi.

Bugh! Satu pukulan melayang ke mukanya. Oke, tidak keras kok. Aku hanya menggunakan seperempat cakraku saja.

“ARGGHH… Raein-ah!! Kau gila!” dia memegangi hidungnya yang sekarang sudah memerah. Aku menahan tawaku, puass.. aku puas…

“Memang! Kan dulu sudah aku peringatkan! Siapa suruh pacaran sama cewek gila sepertiku!” aku memeletkan lidahku lalu meninggalkannya di tempat itu. Diam-diam aku tertawa mengingat ekspresinya.

“Ya! Raein-ah.. Aku kan sudah minta maaf.. Ayolah..” aku berbalik tiba-tiba membuatnya sedikit terkejut. Aku melemparkan deathglare padanya.

“Tatapan macam apa itu?” tanyanya. Demi Tuhan, ada gak sih yang lebih konyol daripada dia di dunia ini?

“Ini namanya death-glare!” kataku, dia terkikik geli. Ya ya.. Aku memang selucu itu.

“Jangan lakukan itu lagi. Matamu itu besar Raein, kau seharusnya sadar itu!!” dia tertawa sambil memegangi perutnya. Sabar Raein, sabar.. Kau bisa membunuhnya nanti kalau dia sudah mengembalikan alat lukismu.

“Kau yang seharusnya sadar kalau kata-katamu barusan akan mempersulitmu memperoleh maaf dariku.” Kataku dingin. Tawanya seketika hilang berganti dengan suasana horor. Haha.. Aku memang seseram itu.

“Mianhae.. Kau mau aku melakukan apa? Bilang saja.” Katanya. Oke..

“Lakukan sesuatu yang keren.” Kataku. Dia berpikir sebentar, lalu tiba-tiba lampu hemat energi lima watt muncul di atas kepalanya. Pertanda ide cemerlang baru saja terlintas di otaknya.

Sorry sorry sorry sorry nega nega nega monjeo nege nege nege pajyeo pajyeo pajyeo boryeo baby..

Hahaha.. Sekarang dia dance sorry-sorry di hadapanku. Aku memalingkan mukaku walaupun dancenya agak bagus juga.. Tetap gak cukup

“Gak bagus. Kau pikir kau itu anggota Super Junior apa?” kataku ketus. Dia langsung berhenti.

Baby baby baby ooohh… my baby baby baby ooohhh….

“Tambah hancur!” kataku lagi. Dia berpikir lagi.

Almost paradise.. taeyang boda to nunbushi.. Neol hyanghan naui sarangi..

“Aku benci Gu Junpyo.” Kataku setelah melihatnya berlagak seperti kochboda namja.

Dokbareohae nea jeongmal badboy, saramputan yeogi shippun..

“Oh.. sekarang jadi anggota So Nyuh Shi Dae?” dia berhenti lagi dan lagi.

Semua yang kau lakukan, it’s magic.. Semua yang kau berikan it’s magic..

“Apa tuh?” tanyaku tidak mengerti *ceritanya kan akuh orang Korea gitu mana kenal ama Lyla. Hehehe*

“Ini lagunya Lyla tau! *loh, Sungmin kok bisa tau? Sungmin memang wawasan internasional.* “Jadi kau maunya apa? Aku capek nih.. Ntar aku nge-dance kayak SM*SH baru tau rasa kamu!” *oh.. Jangaaaannn Miinnn…* kata Sungmin sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya terserah sih.. Kalau capek ya berhenti aja..” kataku. Dia seperti berpikir lagi. Kali ini dia sedikit menundukkan kepalanya. Dia menatapku lembut, menarik napas dan memejamkan sebentar matanya.

“Mianhae.. My love.. Dorasoneun neoreul bumyeon sarangi gochyeogado.. Shigani ijeya negedo boigo itjimaann.. Sarangiran ireomuro oneungora saenggakhaeji.. Nege ireeohke seumyeodeulgo isseotda neungeol.. Mollaseoso…” oh… Suara Sungmin enak banget.. Lumayan lah, daripada dia ngedance kayak boyband abal yang lain. Aku tersenyum sedikit menandakan hatiku sudah luluh. *jiahh*. Dia memang tau lagu kesukaanku.

“Kau tertawa chagi?” tanyanya dengan wajah takut-takut. Aku sudah hampir tertawa keras melihatnya begitu.

“Iya pabo!” kataku, dia tertawa sambil menghembuskan napas lega. “Jadi chagi, aku sudah dimaafkan?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk kecil.

“Iyyeesss……” dia melompat kegirangan ke arahku.

Chu~~

Mataku melebar saat merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Sesuatu terasa menjalar di bawah kulitku, akupun jadi merinding, pikiranku blank sama sekali, otakku kosong tiba-tiba. Sensasinya gila-gilaan.. Sungmin menyusupkan tangannya ke rambut hitamku, memperkuat tekanan bibirnya di bibirku. Aku lumpuh tiba-tiba, perasaanku jadi aneh. Aku menggerakkan bibirku sedikit, menyadari reaksi itu Sungmin menurunkan tangannya ke punggungku lalu mendekapku erat. Aku tidak membuka mulutku, tidak ingin Sungmin bertindak lebih jauh dari ini. Tapi sepertinya Sungmin tidak keberatan, dia cukup puas dengan bibirku saja. Pelan dan sangat lembut, tanpa sadar aku menutup mataku, menikmatinya juga. Setelah agak lama Sungmin melepaskan ciumannya dan menatapku lembut dengan kedua tangannya memegang pipiku seolah-olah tidak ingin aku melihat ke arah lain selain ke matanya. Dia mengelap bibirku dengan ibu jari tangan kanannya, lalu menatapku lembut.

“Demi Tuhan, Raein.. Aku cinta padamu. Saranghae.. saranghae..” dia menempelkan keningnya di keningku.

“Saranghae..” bisiknya sekali lagi. Aku merasa bunga-bunga bermekaran di sekelilingku, kupu-kupu beterbangan.. Ah.. Sungmin.. Bagaimana bisa kau membuatku seperti ini..

Dia mengecup bibirku sekali lagi, hanya sebentar saja.

“Na do saranghae..” kataku lalu mengecup bibirnya cepat seperti yang dia lakukan barusan. Seketika mukaku memanas.

“Aigoo.. muka merahmu manis sekali chagi..” katanya sambil membelai pipiku.

Aku merasa mukaku semakin panas. Dengan satu gerakan cepat aku menginjak kakinya yang kiri. Dia mengerang kesakitan sambil terlonjak-lonjak dengan satu kaki. Pemandangan itu lucu sekali.

“Ya! Kukira kau sudah memaafkanku!” katanya sambil meniup-niup sepatunya. (?) Maksudnya mungkin ingin meniup jempol kakinya.

“Itu untuk mencuri ciuman pertamaku!” kataku. Seenaknya saja dia mencuri keperawanan bibirku yang sudah aku jaga sejak lama. Kurang ajar.

“Kukira kau memberikannya dengan ikhlas padaku..” dia mengerucutkan bibirnya lagi, aish.. aku tidak percaya lelaki imut seperti dia ini seorang psycho.

“Enak saja! Bibirku ini mahal tau!” kataku, “kalau besok kau tidak mengembalikan alat lukisku aku akan mengahajarmu!” lalu aku berlari meninggalkannya.

“YA!! Kalau aku bisa menangkapmu kau akan merasakan yang lebih daripada sekedar ciuman seperti tadi!!!” dia mulai mengejarku. Omonaaa… Tidakkk….

“Coba saja kejar kalau bisa!” Aku mehrong ke arahnya.

“Jangan menyesal Raein!!!” dia benar-benar mengejarku. Omonaaa…. Siapa saja selamatkan akuu….

*FIN*

Oke yorobun.. Ini FF tergaje yang pernah ada, gak punya inti cerita, gak punya klimaks, pokoknya gaje segaje gajenya.. Aku Cuma terlalu stres karena Ujian yang gak ada habisnya. Mind to leave any comment? Kita terbuka kok untuk komentar.. Kalau gak komen aku bakal nikah sama LEE SUNGMIN, hayooo… masih gak rela kan?? Oh ya, mian karena banyak sekali kata-kata yang ngebodoh-bodohin Umin.. Kepala aku pun udah benjol nih ditimpukin batu sama istri2 Umin.. Hehe.. Kayak gini lah kalau pasangan PSYCHO cekcok, untung aja main castnya Sungmin, coba kalau Kangin? Huah.. Bisa abis author.. Khkhkh..

Mind to comment? Komen donk..

Diposkan pada 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, 불안감 ♥ angst, Fanfiction

FF/ FLOWERS / CHAPTER 1

Annyeong yorobuunnn… Author yang paling disayang ama Yesung oppa balik lagii…. *plaks! Digampar clouds*.. Kali ini nyeretin Heechul sama Jaejoong—dua cowok yang ditakdirkan punya muka lebih cantik dari cewek—.. Sebelumnya aku mau ngingetin lagi,, kalo ini FF gengerswitch.. Bagi yang gak berkenan, lebih baik mundur secara teratur sebelum terlambat *apaan sih*.. Ini FF mengadaptasi film My Sister Keeper *bener itu ga sih judulnya?*,, but don’t worry.. Alurnya beda, semuanya beda, Cuma ide ceritanya aja yang rada sama. Dan buat semua medical error di FF ini saya minta maap ya.. Secara saya masii SMA, jadi ga terlalu tau masalah beginian.. Udah deh, daripada author gajeh ini kebanyakan bacot, capcuss ke ceritus.. Enjoy readinggg…. 

CHAPTER 1

Jaejoong menarik-narik baju appanya merengek menagih janji appanya untuk membawanya ke taman bermain pada hari libur. Appanya yang sedang menyusun berkas-berkas penting perusahaan di ruang kerjanya hanya bisa membujuk Jaejoong pelan sambil terus meneruskan pekerjaannya.

“Appa.. Ayolah.. Appa sudah berjanji padaku kan? Ayolah appa.. Ajak umma dan Chullie juga..” Jaejoong terus-terusan menarik baju appanya. Kangin lalu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu berlutut di dekat anak itu agar muka mereka sejajar. Dia meletekkan kedua tangan besarnya di bahu kecil anak perempuannya yang sedikit tomboy itu.

“Iya Joongie sayang.. Appa masih menyelesaikan pekerjaan appa.. Sebentar lagi kita pergi, okay? Tunggu appa di kamarmu ya..” bujuk Kangin. Jaejoong terlonjak bahagia lalu memeluk appanya erat. Dia dengan cepat berlari ke luar ruang kerja appanya. Kangin hanya tersenyum melihat perilaku putri bungsunya yang baru berusia sepuluh tahun itu. Dia lalu meneruskan pekerjaannya.

Jaejoong pergi ke kamarnya dan Heechul untuk menyuruhnya berkemas-kemas. Dia sangat bersemangat untuk pergi ke taman bermain, karena sudah lama dia memimpikan untuk pergi ke sana dengan keluarganya. Dia membuka pintu kamar, dan menemukan Heechul masih tidur di atas kasurnya. Jaejoong langsung naik ke kasur Heechul sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.

“Chullie.. Ayo bangun.. Cepat mandi, kita akan pergi ke taman bermain.. Chullie..” Jaejoong terus menggoyangkan tubuhnya. Heechul menggeliat sedikit lalu membuka matanya. Dia terlihat pucat dan sedikit menggigil di bawah selimutnya.

“Joongie.. Aku capek.. Kamu saja yang pergi dengan appa dan umma ya..” kata Heechul lalu kembali tidur. Jaejoong yang heran melihat kakaknya pucat seperti itu menaruh tangannya di kening dan leher Heechul.

“Omona.. Chullie demam..” Jaejoong melompat turun dari kasur Heechul lalu berlari ke kamar umma dan appanya. “Ummaaaa.. Appaaaaa…” dia langsung menerobos masuk ke kamar orang tuanya dan mendapati Eeteuk sedang merapikan tempat tidurnya.

“Kenapa Joongie?” tanya Eeteuk.

“Umma.. hosh.. hosh.. Chullie demam umma.. Badannya panas sekali..” kata Jaejoong sambil ngos-ngosan. Eeteuk terlihat sedikit terkejut.

Lanjutkan membaca “FF/ FLOWERS / CHAPTER 1”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 계속 ♥ Countinue, Fanfiction

Ye-Won (Your Maid) Part 7

Annyeong yorobunn..
Aku narik-narik dua orang ganteng lagi nih..
FF ini Shounen Ai, dibaca ya..
Komen donkk,, sedih nih kalo FF aku sepi mulu..
Enjoy ya..

*******

Disclaimer: Capek bikinnya. Haha.. Mereka punya diri mereka sendiri kali.

PART 7

Sudah sehari penuh aku menunggui Yesung di ruangannya namun dia belum juga sadar. Dalam hati aku terus berdoa agar Yesung tidak apa-apa dan segera membuka matanya lagi. Hatiku sakit hanya dengan melihat Yesung terbaring lemah dengan wajah pucat seperti orang kesakitan. Padahal aku sudah berjanji akan melindungi Yesung, tapi semakin aku berusaha melindunginya malah semakin banyak hal buruk yang terjadi padanya.

Aku ingat perkataan dokter yang menangani Yesung tadi. Dia keracunan. Keracunan? Bahkan kemungkinannya saja hampir tidak ada menurutku. Bagaimana bisa dia keracunan sedangkan yang menyiapkan makanan itu adalah dia sendiri? Atau dia diracuni? Tapi siapa yang tega meracuninya? Ah.. ini pasti kerjaan salah satu koki di rumahku. Aish.. Apa sih yang mereka masak sampai membahayakan nyawa orang lain begini? Lihat saja. Mereka semua akan aku pecat.

“Emmh..” aku mendengar lenguhan Yesung. Dia mengerjapkan matanya sejenak,lalu menatapku setelah dia benar-benar sadar. Tiba-tiba dia duduk, lalu dengan sekali gerakan dia melepaskan selang infus yang tertancap di tangan kirinya secara paksa. Dia merintih sedikit, lalu mengambil ancang-ancang untuk berdiri.

“Hyung, kau mau apa?” tanyaku khawatir melihatnya yang sepertinya masih sangat lemah.

“Kita pulang sekarang.” Katanya. Aku kaget mendengarnya. Untuk bicara saja sepertinya dia tidak punya tenaga, sekarang dia malah mau pulang. Tidak puas dengan reaksiku, dia langsung berdiri sambil terhuyung dan berjalan menuju pintu. Hampir saja dia terjatuh kalau aku tidak menahan bahunya.

“Hyung, jangan sok kuat begitu, kau masih perlu istirahat. Kau baru saja memuntahkan semua isi perutmu, kau harus mengumpulkan tenagamu lagi sebelum pulang. Aku akan menemanimu di sini hyung.. Jangan khawatir..” kataku, tapi Yesung masih tetap berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. Tenaganya sudah hampir tidak tersisa lagi, tapi dia masih saja bersikeras untuk pulang. Akhirnya terpaksa aku membopongnya untuk membaringkannya kembali di tempat tidurnya. Dalam boponganku dia tidak melawan lagi, tapi dia menyurukkan wajahnya ke dadaku dan menangis di sana. Ada apa sebenarnya hyung? Ah.. Aku membuatnya menangis lagi.. Aku yang jahat atau dia yang cengeng?

“Aku mohon.. kita pulang..” bisiknya lemah karena tidak punya tenaga untuk melawan lagi. Kenapa sebenarnya? Aku tidak tega juga melihatnya menangis seperti ini.. tapi..

“Hyung..” kataku mulai putus asa. Aku bisa melihat airmatanya jatuh satu-satu dan aku tidak tahan lagi. Dia terlihat sangat menderita, tertekan.. Aku semakin tidak tega..

“Baiklah, kita pulang…” aku mengaku kalah sekarang. Dia tersenyum sedikit lalu berterimakasih padaku. Aku lalu membelakanginya dan memberi isyarat agar dia naik ke punggungku.

“Aku.. aku bisa jalan sendiri..” katanya gugup. Orang ini memang keras kepala ya..

“Kalau begitu kita tidak akan pulang.” kataku lalu kembali duduk di kursi sebelah tempat tidurnya.

“Baiklah..” katanya pasrah. Kali ini dia yang kalah. Dia akhirnya naik ke punggungku dan aku menggendongnya ke mobilku. Sepanjang perjalanan pulang dia tertidur, jelas sekali kalau dia masih sangat lemah. Aku menggendongnya lagi ke kamarku. Aku akan menjaganya sendiri, bahkan Kim Ahjussi saja tidak akan aku izinkan menyentuhnya. Mukanya hanya akan memperburuk keadaan orang yang sedang sakit.

“Yesungie kenapa Tuan Muda?” tuh kan? Bahkan sebelum aku selesai berandai-andai saja dia sudah datang. Aku tau Kim Ahjussi ini hanya berpura-pura di depanku.

“Dia keracunan.” Jawabku sekenanya lalu segera meninggalkan Kim Ahjussi yang entah sedang memikirkan apa sekarang. Dia bahkan tidak terlihat terkejut atau apapun. Kalau aku yang ada di posisi Yesung, appaku pasti sudah kalang kabut, bahkan aku yakin dia akan segera membawaku berobat ke Amerika.

Aku menidurkan Yesung di kasurku, lalu memandanginya sebentar. Kenapa Kim Ajhussi bersikap seperti itu pada anak sebaik Yesung? He’s the best kind of son that anyone could ever wish. Dan menyia-nyiakan anak sepertinya? Benar-benar sebuah kesalahan.

Atau malah Kim Ajhussi yang meracuni Yesung? Ah.. Tidak mungkin.. Sebenci-bencinya seorang ayah pada anaknya dia tidak akan membunuhnya.. Tidak mungkin.. Choi Siwon,, singkirkan pikiran itu dari kepalamu.. Ah, benar, lebih baik aku bertanya langsung pada orang-orang yang sepatutnya aku curigai.

Aku segera menuju ke dapur, dan tidak lama kemudian semua pelayanku sudah berkumpul di tempat itu. Aku memandangi mereka berlima satu persatu. Mereka terlihat bingung dengan tindakanku yang tiba-tiba ini.

“Yesung keracunan.” Kataku. Aku bisa melihat ekspresi kaget di wajah mereka. “Dia keracunan setelah memakan bekal yang kalian siapkan. Sekarang, siapapun yang melakukannya mengakulah. Sebelum aku marah dan melaporkan kalian semua pada polisi.” Ancamku, namun tidak ada yang angkat suara.

“Aku tidak bercanda. Siapapun yang melakukan itu akan membusuk di penjara. Sekarang mengakulah daripada semua kalian akan kukirim ke polisi malam ini juga!” masih hening. Mereka benar-benar mengira aku bercanda ternyata.

“Aishh!!! AYO MENGAKU!!! ATAU SEMUANYA AKAN AKU PECAT!!!” teriakku. Mereka semua terlihat takut, tapi tetap saja tidak ada yang berani bicara.

“Tuan muda.. Saya..” Oh Ahjumma mulai bicara. Dia adalah koki utama di rumah kami, dialah yang punya kesempatan terbesar untuk melakukan itu pada Yesung.

“AHJUMMA!! PASTI AHJUMMA ORANGNYA!!” teriakku emosi. Emosiku memuncak saat bayangan Yesung kesakitan muncul di otakku.

“Siwon..” tiba-tiba aku mendengar suara Yesung memanggilku. Aku melihat ke belakang, mendapatinya sedang berdiri dengan tangan kanan berpegangan di dinding dan tangan kiri di dadanya. Aishh.. Orang ini.. Sudah tau sakit malah sok-sok jadi pahlawan pembela kebenaran.

“Siwon.. itu bukan salah ahjumma.. Aku~..” dia hampir saja jatuh kalau aku tidak segera berlari ke arahnya dan menopang tubuhnya. “Jangan salahkan ahjumma.. Aku tidak apa-apa..” katanya lagi. Oke, karena dia sudah seperti orang mau mati begini lebih baik aku turuti saja kemauannya. “Jebal yo…” sambungnya lagi, kali ini dengan nada sangat memelas.

“Aish.. Oke. Oke! Kita lupakan semuanya! Kalian boleh kembali bekerja lagi. Tapi kalau sampai hal buruk terjadi lagi pada Yesung, hanya Tuhan yang tau apa yang aku lakukan pada kalian.” Aku lalu memapah Yesung kembali ke kamarku.

Yesung POV

Perasaanku kacau sekali, ditambah lagi dengan kekhawatiran kalau appa menghajarku lagi karena tidak berhasil mencelakai Tuan Muda. Aku takut sekali appa akan melakukan hal yang buruk pada Siwon. Appaku bukanlah orang yang suka main-main dengan apa yang dikatakannya. Aku tidak bisa menempatkan Siwon dalam bahaya seperti itu. Bagaimanapun caranya, walaupun aku harus mengorbankan diriku sendiri, aku tetap akan melindunginya.

Siwon kembali membawaku ke kamarnya, dan aku menurut saja. Dia sangat baik padaku, bahkan untuk hari ini saja entah sudah berapa kali dia menggendongku. Aku penasaran, apa aku ini tidak berat? Perlakuannya yang seperti ini yang membuatku merasa bersalah telah berniat jahat—melaksanakan niat jahat appaku—padanya.

Dia membaringkanku di king-sized bed nya lalu menyelimutiku. Aku bahkan masih kurang percaya orang sesombong Choi Siwon bisa bersikap begitu lembut padaku yang notabene bukan siapa-siapanya—malahan aku adalah pembantunya—

“Sleep!.” perintahnya, lalu dia beranjak dari tempat tidur. Mau kemana dia? Oh, dia lalu menuju sofa yang tidak jauh dari tempat tidur, dan mulai membaringkan tubuhnya di sana.

“Siwon-ah.. Lebih baik aku ke kamarku saja..” kataku, tapi dia bertindak seolah-olah dia tidak mendengar apapun. Dia lalu menutup matanya seperti sudah tertidur pulas.

“Siwon-ah..” panggilku lagi. “Si~..”

“Shut up and sleep.” Katanya singkat. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya. Aku lalu memandangi wajahnya, dia terlihat polos saat tertidur begitu. Aku harus berterimakasih padanya karena telah menyelamatkan hidupku. Dan untuk selanjutnya adalah tugasku melindunginya dari ayah kandungku sendiri.

=3 days later=

Hari ini Siwon baru mengizinkanku untuk pergi ke kampus. Selama tiga hari dia melarangku pergi ke manapun dan dia pun juga tidak pergi ke mana-mana. Reaksi anak ini terlalu berlebihan dalam hal apapun.

Aku berjalan di sampingnya yang sedang asik dengan ponselnya. Kami sekarang menuju perpustakaan untuk menunggu kelas selanjutnya. Tiba-tiba ada seseorang memanggil nama Siwon. Dia segera berhenti memainkan ponselnya dan berbalik ke arah suara lembut itu. Ah, jelas saja reaksinya pasti begitu. Biasanya Siwon tidak akan mengacuhkan siapapun yang memanggil namanya, tapi yang memanggilnya kali ini adalah Yuri. Orang yang selama ini dia cintai.

Yuri berlari kecil ke arah kami dan segera meraih tangan Siwon. Apa-apaan dia? Bukankah dia sendiri yang bilang kalau dia tidak menyukai Choi Siwon? Apa mugkin perasaannya berubah secepat itu?

“Oppa..” panggilnya manja. Kuakui dia memang manis, laki-laki mana yang tidak bisa melihat itu. Dia sekarang bergelayut di tangan Siwon, sedangkan Siwon masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dia hadapi. Pasti karena Yuri tiba-tiba memanggilnya Oppa, padahal biasanya Yuri memanggil namanya dengan kasar.

Siwon tersenyum padanya. Dia pasti bahagia sekarang, orang yang selama ini dia kejar-kejar sekarang malah menunjukkan respon yang bahkan lebih dari yang dia harapkan.

“Yuri-ya.. Ada apa?” tanyanya dengan nada lembut. Entah kenapa hatiku kesal sekali melihat apa yang sedang terjadi, apalagi Yuri tidak henti-hentinya memasang puppy-eyes yang dibuat-buatnya itu.

“Oppa.. Aku merindukanmu..” katanya manja. Aish.. Aku tidak percaya padanya. Dia menatapku dengan pandangan aneh. Entah apa yang sedang dia rencanakan. Tapi sialnya, Siwon sepertinya percaya dan sekarang dia tersenyum lebar. Tuan Muda bodoh, bisa saja tertipu dengan masalah yang seperti ini.

“Aku.. aku pun juga..” what? Aku tidak bisa menahannya lagi. Lama-lama di sini aku yang akan muntah. Aku berjalan sendiri ke perpustakaan, sedangkan Siwon sibuk dengan Yuri-nya itu. Dia bahkan tidak sadar kalau aku sudah meninggalkannya? Yah, benar. Aku hanya pembantunya, memang sudah seharusnya dia tidak mempedulikanku.

Aku masuk ke perpustakaan dengan langkah gontai. Ada perasaan aneh menusuk-nusuk hatiku setelah kejadian tadi. Lebih baik aku menenangkan pikiranku di sini dulu. Aku mengambil sebuah kursi di tempat yang paling pojok dan duduk di sana. Tidak begitu ramai, sekarang ini perpustakaan sudah tidak tren lagi.

Tiba-tiba aku teringat tentang kejadian kemarin. Sebenarnya aku sudah tau sejak lama kalau ayahku itu adalah seorang psikopat, tapi aku tidak menyangka akan separah itu. Baru saja anaknya keluar dari rumah sakit karena ulahnya, besoknya dia langsung menyuruhku melakukan hal yang sama lagi. Ah.. Otakku sakit memikirkannya.

“Sunbae-nim?” suara seseorang mengejutkanku dari lamunan. Aku menoleh ke belakang. Ah, Kim Ryeowook. Anak ini sedang bicara padaku kan?

“Annyeong Ryeowook-ssi..” balasku ramah. Dia tersenyum, ah.. imut sekali dia.

“Mind if I join?” tanyanya. Aku mengangguk lalu dia duduk di sebelahku. “Sunbae sedang memikirkan apa? Serius sekali?” tanyanya. Begitukah?

“It’s ‘hyung’ for you, Wookie. Jangan bicara terlalu formal padaku.”

“Aku akan memanggilmu Yesungie hyung kalau begitu.”

“Hm.. Terdengar lebih baik.” Kami lalu membicarakan banyak hal. Mulai dari masalah kuliah sampai masalah tidak penting seperti makanan kesukaanku, kenapa aku memilih jurusan kedokteran, dan bahkan dia juga bercerita tentang kegemarannya memasak. Dia juga berjanji suatu hari akan membuatkan makanan untukku. Anak ini sangat baik dan ceria, aku menyukainya. Berbeda 180 derajat dengan Choi Siwon yang pemarah dan egois. Taunya Cuma memerintah dan marah-marah saja.

“KIM YESUNG!” baru saja dibahas sudah langsung memanggil-manggil. Aku menoleh ke arah pintu perpustakaan dan mendapatinya seperti sedang menahan marah. Kenapa dia? Tadi dia baik-baik saja dengan ‘Yuri-nya’ itu. Dia dengan segera menghampiriku dan Ryeowook, lalu menarik tanganku kasar sampai aku berdiri. Apa-apaan dia ini. Berubah lagi jadi seperti dulu. Orang ini memang sangat aneh.

“Kau, anak kecil,” dia menunjuk Ryeowook. “Kau, aish.. siapa namamu? Pokoknya kau jangan mendekati dia lagi. Dia ini memiliki penyakit menular, lebih baik kau jaga jarak dengannya. Arra?” Siwon menarikku menjauh. Penyakit menular? Sejak kapan aku terinfeksi HIV? Haish.. Aku melemparkan tatapan maafkan-orang-bodoh-yang-sedang-menarikku-ini kepada Ryeowook dan dia membalas dengan tatapan gwaenchana-aku-tau-seberapa-bodohnya-dia.

Di luar perpustakaan dia melepaskan tanganku dengan sekali hentak. Aku diam saja, sudah terbiasa dengan aksi-aksi anehnya.

“Kenapa kau tinggalkan aku tadi?” tanyanya ketus. Hah? Tidak salah?

“Bukannya kau yang sibuk dengan wanita impianmu itu?” kataku tak kalah ketus.

“Wanita impian apa maksudmu?” tanyanya. Oke, sekarang dia pura-pura lupa ingatan.

“Yuri lah, memangnya kau pikir siapa? Marilyn Monroe?” aku meninggalkannya sambil berjalan dengan memnghentak-hentakkan kakiku. Awas saja kalau dia tidak mengejarku, aku tidak akan mau mengikutinya lagi.

“YA!! KIM YESUNG!! TUNGGU!!” bagus, seperti itu. Kejar aku cepat. Dan akhirnya dia sejajar denganku.

“Heh.. Bahkan sekarang kau sudah jadi lebih tua daripada aku.” Sindirku. Biasanya dia memanggilku hyung,. Dia sendiri yang minta begitu.

“AISH! YESUNG! Aku ini MAJIKANmu, sudah seharusnya kau menurutiku! Bukan aku yang malah mengejar-ngejarmu seperti ini!” great, Choi Siwon. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku.

“Justru karena aku adalah PEMBANTUmu, maka kaulah yang harus berhenti mengejar-ngejar aku!” darahku mulai mendidih. Aku kesal, bayangan Yuri bergelayut di tangannya membuatku mau muntah.

“Aku bisa memecatmu sekarang juga!” tambahnya. Oh, jadi dia ingin memutuskan hubungan kerja denganku? FINE!

“OKE!! KAU DAPAT APA YANG KAU MAU!!” aku berjalan dengan cepat, setengah berlari. Ingin rasanya kutinju muka Siwon yang ada di dekatku ini, atau muka Yuri saja? Aish.. Tidak biasanya aku begini. Biasanya aku adalah orang yang sabar dan tidak mudah meledak. Tapi sekarang? Ah. Jinjja..

”YESUNG!!” bersamaan dengan aku mendengar namaku, tanganku disentakkan dengan kuat sehingga aku tertarik ke belakang.

“CHOI SI~..” aku mematung, mendadak jantungku tidak bisa diajak kompromi. Mataku membulat, tidak percaya bahwa sesuatu tengah menekan bibirku. Bibirku terkunci, dan butuh waktu beberapa detik untukku menyadari kalau yang mengunci nya adalah.. CHOI SIWON!

TBC

Gimana? Sengaja aku panjangin karena udah berapa taun gitu aku gak apdet.
Dikomen yah.. kalo gak dikomen aku nagis guling2 di jalan tol loh *emang ada yang peduli gitu?*

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 불안감 ♥ angst, 비극 ♥ Tragedy, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot, Uncategorized

DEAR GOD / SONGFICT / KYUMIN / 1SHOT

Yeah.. This is my first song-fic..
I don’t own Super Junior, but in GOD’s name I really wish I do.
Please read,, and leave marks..
And this is it..

DEAR GOD
Ala Author RUN DEPIL RUN RUN *upsss*
RUN12 maksudnya..

Enjoy..

***

A lonely road crossed another cold state line..
Miles away from those I love purpose hard to find..

Aku berjalan sendiri. Sepi, sunyi, dingin.. Aku kembali memikirkan namja itu.. Ah, siapa aku? Hanya seorang namja bodoh yang dengan brengseknya bisa mempermainkan namja sebaik dia. Aku menyesal,, tapi apa ini sudah terlalu terlambat?

While I recall all the words you spoke to me..
Can’t help but wish that I was there where I’d love to be..

Semua kata-kata tulusnya terulang lagi dalam ingatanku. Caranya berbicara, caranya tertawa, suara seraknya saat dia menahan tangis.. Semuanya terdengar seperti alunan musik pilu yang semakin merobek-robek hatiku. Seandainya aku bisa kembali lagi ke saat itu.. Saat dimana dia tertawa karena ulahku, saat dia marah karena candaanku, saat dia menangis karena mengkhawatirkanku. Tapi sayangnya.. tidak bisa lagi..

Lanjutkan membaca “DEAR GOD / SONGFICT / KYUMIN / 1SHOT”

Diposkan pada 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, 불안감 ♥ angst, Fanfiction, 프롤로그 ♥ Prolog

FF / FLOWERS / PROLOG

Ini FF ku yang lainnya.. Sengaja FF ini kubuat genderswitch karena menurutku memang yang cocok memerankan ini adalah perempuan.. FF ini mengambil alur cerita salah satu film hebat (yang maaf, saya lupa judulnya), ceritanya sama, dengan plot dan cast yang berbeda. Sangat banyak Medical Error dalam FF ini, yang dibuat semata-mata untuk mendukung alur cerita.. Jadi sebelumnya saya minta maap, karena saya notabene hanyalah murid SMA biasa yang buta sama sekali tentang masalah medis rumit seperti ini. Bagi yang tidak suka genderswitch saya minta maap ya.. Cuma imajinasi aja kok.. I don’t own anything in this fict except the words and plot. The casts belong to SMEt and the story belongs to a Film—and I dont know the title—.. Enjoy reading ya.. RCL donk.. Sedih banget kalo FF aku sepi mulu.. hehehehe..

Prolog

Aku memiliki setangkai bunga kecil yang sangat cantik. Tapi sayang.. dia sangat rapuh.. Sepanjang hidupnya dia harus berusaha keras untuk tetap bertahan.. Aku takut.. Aku sangat takut kehilangannya.. Bunga kecilku tidak boleh layu dalam usia yang begitu muda. Sampai suatu saat aku mengetahui bahwa bungaku bisa tetap hidup dengan dibantu oleh bungaku yang lain yang sama cantiknya.. Bungaku yang lain itu ternyata bisa menopang kehidupan bungaku.. Lalu suatu saat aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri.. Apa keputusan ini benar? Aku dengan egoisnya ingin bunga kecil rapuhku tetap hidup dengan menyiksa bunga cantikku yang lainnya? Aku bahkan tidak pernah merawat dan memperhatikan bungaku yang lain itu karena terlalu sibuk dengan bunga kecil rapuhku.. Aku tidak pernah peduli akan rasa sakit dan penderitaannya,, dengan pengorbanannya,, dan dengan cintanya padaku.. Sampai suatu saat, aku begitu takut untuk kehilangan bungaku yang lain itu.. Di saat aku hampir kehilangan kedua bunga itu karena keegoisanku.. Apa aku memang harus merelakan salah satu diantaranya? Atukah aku terpaksa harus hidup tanpa keduanya?

Keluarga Kim, keluarga kaya raya yang memiliki satu orang putri kecil cantik jelita bernama Kim HeeChul. Tapi saat dia berumur satu tahun, dokter memvonisnya menderita penyakit yang bisa menyebabkan sebagian organ tubuhnya tidak berfungsi dengan baik. Park Eeteuk, istri dari Kim Kangin sang pengusaha kaya itu bahkan sudah pasrah dengan keadaan putri kecilnya. Sampai suatu saat kemajuan teknologi kedokteran memberikan alternatif untuk bisa memperpanjang umur Heechul. Dengan jalan mencari donor yang tepat untuk setiap kebutuhan organ Heechul. Orang itu tidak lain adalah adiknya sendiri, Kim JaeJoong, yang secara kebetulan memiliki struktur tubuh dan organ yang sangat cocok dengan Heechul. Dari kecil sampai dewasa Jaejoong-lah yang membantu Heechul untuk tetap hidup. Tapi sayang perhatian Mr. Dan Mrs Kim terlalu tersedot untuk Heechul, sehingga Jaejoong tidak sengaja diabaikan. Sampai suatu saat peristiwa yang membuat Mr. Dan Mrs. Kim menyesali keegoisan mereka.. Sampai suatu saat mereka diharuskan memilih salah satu diantara putri mereka.. Atau malah kehilangan keduanya..

Gimana? Kalau reader mau aku ngelanjutin FF ini, aku bakal lanjutin.. Tapi kalo nggak,, yah kita liat nanti deh.. Hehehe.. Ini karena aku lagi buntu banget mikirin kelanjutan YeWon.. Maklum lah author amatiran, satu FF belum kelar udak berani-beraninya bikin yang lain.. mohon maklum ya.. Gomapseumnida.. 

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot

Psycho’s Love

Annyeong.. Kali ini saya bawa FF gaje pertama saya yang Straight.. ( I dont know why, but I just love Shounen Ai so much.. hehe).. Kali ini dengan nyeret-nyeret suami saya yang namanya Lee Sungmin.. Hahaha.. Dibaca ya..

Cast: Lee Sungmin,, Choi Raein.

Disc: Sungmin punya emaknya.. hehe.. Kalau Raein itu ya saya. Hahaha..

Happy reading…

Sungmin berjalan ke lantai teratas kampus sambil membawa minuman kaleng di tangannya. Setibanya di atas, dia meregangkan badannya dan berteriak keras seolah-olah melepaskan sesak di hatinya. Dia lalu tersenyum puas, dan menenggak minuman yang sedari tadi dipegangnya.

Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut, dan di salah satu sudut itu dia melihat seorang gadis sedang duduk memeluk kaki dengan kedua tangannya sambil membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Dia sepertinya habis menangis. Entah apa yang menggerakkan Sungmin sehingga dia menghampiri gadis itu, dan berlutut di sebelahnya. Sungmin lalu merengkuh kepala gadis itu dengan lembut, dan meletakkan di dadanya. Udara di sana sangat dingin, tapi gadis itu hanya memakai tank-top dan celana pendek. Otomatis, gadis itu terkejut dengan perlakuan Sungmin lalu dia mengangkat wajahnya.

Sungmin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah gadis itu yang basah dengan airmata. Dia baru sadar bahwa gadis itu baru saja dikerjai. Pasti yang melakukan itu Jessica dan kawan-kawannya. Ketika melihat wajah Sungmin, gadis itu kembali menundukkan kepalanya sambil beringsut menjauh. Ketakutan jelas tergambar dari wajahnya.

Lanjutkan membaca “Psycho’s Love”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 불안감 ♥ angst, 비극 ♥ Tragedy, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot

Eun-Hae (Life Couldn’t Get Better)

Anyyeonggg readerrr… Kali ini aku narik-narik simpanan suami ke dua aku, Lee DongHae..

 

This is originally Jong-Key fic made by me, but since our blog post SUJU fanfic only, I replace my cast and the choosen members are…

Cast: Eunhyuk (clapping hands.. Finally I MADE it!! Finally Hyukkie become my MAIN CAST),, Donghae,, Siwon,, Kibum

Disclaimer: I don’t own them. If I do, you will not read this, cos I will be so busy taking care of them. Kekeke..

 

So sorry if this is so LAME, but I tried my best.. Kekeke..

Happy readingg…

 

 

Eunhyuk POV

 

Darah.. Aku selama ini selalu takut dengan darah. Tapi sekarang tidak lagi. Aku menikmati rasanya darah mengalir dari tubuhku, juga bau darah itu sendiri. Sakit.. Rasanya sakit.. Tapi ringan.. Aku sudah tidak ingin apa-apa lagi. Hanya menantikan orang yang kucintai menemukan tubuh bersimbah darahku ini, dan aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya untuk yang terakhir kali.

 

Kenapa aku memilih mati dengan cara seperti ini? Mengiris urat nadi dan mati perlahan kehabisan darah. Sakitnya akan lebih lama.. Tapi itu yang ingin aku rasakan.. Rasa sakit.. Alasannya? Simpel saja. Karena ini nyawaku, dan aku berhak menentukan bagaimana caraku mati. Agar orang yang kucintai itu nantinya akan selalu mengingatku.

 

Pandangan mataku mulai mengabur. Sakit di pergelangan tanganku menjalar sampai ke jantung. Tapi dia belum juga datang.. Siwon.. Jangan sampai aku mati sebelum melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Sebelum dia tau betapa aku mencintainya..

 

Senyum getir sengaja kusunggingkan. Aku teringat semua kenangan yang telah aku lalui bersamanya. Indahnya suaranya,, tatapan matanya,, caranya tertawa,, tampannya wajahnya.. Ah.. Sesuatu yang tidak akan aku temukan lagi setelah aku mati.. Di surga apa aku masih bisa melihatnya tertawa?  Hahaha.. Aku pasti bermimpi.. Bukannya orang yang mati bunuh diri itu akan masuk neraka?

 

Aaarrgghhh…. Sakit sekali ternyata.. Choi Siwon… Hahaha.. Bukankah aku menyedihkan? Aku mencintainya, bahkan lebih dari apapun. Tapi karena aku seorang Lee Eunhyuk yang pengecut,, seseorang yang tidak mampu untuk sekedar menunjukkan rasa cintanya, aku harus mati di sini sendiri.. Aku begitu sangat mencintainya, dan aku tidak bisa menghadapi kenyataan kalau dia memilih Kim Kibum, orang yang selama ini kuperlakukan seperti adik kandungku sendiri.

 

Uhuk.. Darah kental kehitaman keluar dari mulutku. Rasanya.. parah. Rasa darah ternyata tidak enak. Darah keluar dari mana-mana.. Bagus,, kematianku hanya menghitung menit saja. Dan dia belum juga datang. Tuhan.. Ah, masih berhakkah aku memohon pada Tuhan untuk melihat wajahnya sekali lagi? Aku.. sejujurnya.. ingin mati di pelukan orang itu..

 

Air mataku menetes satu-satu dari mataku yang terpejam. Sakit menghujam di sekujur tubuhku. Darahku tinggal berapa? Setengahnya? Sepertiganya? Oksigen sepertinya sudah berhenti dialirkan ke seluruh tubuhku. Aku takut penglihatanku menghilang.. Napasku tinggal satu-satu.. Hhh.. Siwon.. Aku melihat Siwon tersenyum dalam pejaman mataku.. Kenapa?? Kenapa harus Kim Kibum, Siwon????

 

Aku masih mendengar suara pintu dibuka, derap langkah kaki.. Ada berapa orang? Aku juga tidak tau.. Tapi suara itu.. Bukan.. Suara itu bukan suara Siwon, tapi.. Donghae ??

 

“Eunhyuk-ssi!!” Ya Tuhan, haruskah dia berteriak sekeras itu? Kepalaku berdenyut nyeri mendengarnya. Dia berlutut di dekat tubuhku yang penuh noda darah, dia melilitkan sapu tangannya ke pergelangan tangan kiriku. Napasku semakin sesak, aku ingin mengatakan kalau aku akan menunggu Siwon di sini, tapi untuk bernapas saja aku sulit.

 

Tiba-tiba aku merasakan udara mengisi paru-paruku. Donghae  meniupkan udara ke paru-paruku. Apa yang dilakukan orang ini? Ah… Dia mengangkat tubuhku dengan satu gerakan. Apa aku seringan itu? Tidak… Jangan Donghae ..

 

“A..ku.. ingin.. Siwon.. Choi Siwon.. hh…” kata-kataku tercekat, aku kehabisan udara. Lagi-lagi, Donghae  meniupkan udara ke mulutku yang sekarang berada dalam bopongannya. Dia akan membawaku kemana?

 

“Jangan bicara lagi, Eunhyuk-ah.. Tahan sedikit lagi ya..” Tidak.. Donghae  aku mohon.. Air mata jatuh ke pipiku, aku terisak lemah. Suara Donghae  bernada sangat cemas, dan dia menangis. Dia menangisiku? Bodoh, untuk apa dia menangisi Eunhyuk pengecut yang hampir mati ini?

 

Aku ingin sekali meminta maaf padanya.. Karena tidak memiliki kemampuan untuk membalas cintanya. Aku terlalu terperangkap dalam imajinasiku akan Siwon. Aku hanya mencintainya.. Tapi disaat memalukan seperti ini kenapa malah Donghae  yang menangisiku? Yang memberiku udara berkali-kali agar organ-organ tubuhku tidak mati?

 

“Arrrgghhh…” sakit.. sudah dekat.. Aku.. aku tidak kuat lagi.. Aku memejamkan mataku rapat-rapat tapi kemudian Donghae  mengguncang-guncangkan tubuhku yang digendongnya.

 

“Jangan tidur dulu, Eunhyuk.. Sebentar lagi..” Di mana aku? Oh.. DI dalam mobil.. Aku tidak tau butuh berapa lama agar kami sampai di rumah sakit.. Ya.. Rumah sakit.. Meskipun aku tidak melihatnya, tapi dari baunya saja aku bisa tau.. Ajaib.. Mengapa aku bisa bertahan selama ini? Apa persediaan darahku segitu banyaknya? Aku merasakan Donghae  memegang tanganku, dan dia berbisik pelan di telinga kiriku.

 

“Kau akan selamat Eunhyuk.. Kau kuat.. Berjuang, Jewel.. Sa.. saranghae..” haha, aku menyeringai sedikit.. Donghae .. Cinta apa yang sedang kau bicarakan pada orang yang sudah sekarat sepertiku? Aku sudah tidak ingin hidup lagi Donghae .. Tidak dengan kenyataan Siwon mencintai Kibum.. Hatiku akan sangat tersiksa,, jauh lebih tersiksa daripada sakit yang kurasakan sekarang..

 

“Siwon.. hh.. hh..” aku mencintainya.. Dia dimana? Aku membutuhkannya.. Ah.. Apa ini? Kakiku mati rasa, dan perlahan seluruh tubuhku ikut mati rasa.. Jangan bilang ini pengaruh obat bius.. Hei.. Jangan.. Tolong jangan selamatkan aku.. Aku mohon.. Lalu gelap, dan tanpa suara apapun..

 

xxXXxx

 

Donghae  POV

 

Aku terus menangis dan berdoa untuk Eunhyuk.. Tuhan.. Apa yang sedang terjadi? Eunhyuk.. Dia pasti selamat kan Tuhan? Kau tidak sejahat itu kan padaku? Ambil semuanya Tuhan, tapi aku mohon jangan Eunhyuk.. Jangan..

 

Siwon.. Ya.. Dia yang harus aku cari sekarang. Aku akan membuatnya meminta maaf di depan Eunhyuk.. Aku akan memaksanya mencintai Eunhyuk.. Memang hatiku pasti akan sakit membiarkan orang yang kucintai bersama orang lain. Sakit hati? Apa itu penting bagiku? Kebahagiaan Eunhyuk adalah kehidupan bagiku. Dan melihat Eunhyuk begini? Artinya kematian bagi Siwon.

 

Aku mengendarai mobilku ke rumah Kim Kibum. Aku tau jelas Siwon ada di sana. Aku buka pintu rumah itu dengan paksa. Kulihat Siwon duduk di sofa. Segera kuraih kerah bajunya sampai dia berdiri.

 

“Siwon!!” apa? Kenapa dia seperti ini? Kenapa dia sepucat ini? Apa yang sedang terjadi? Matanya memancarkan kesedihan yang sangat.. Dan raut wajahnya lelah.. Aku.. aku kasihan melihatnya..

 

“Lee Donghae..” panggilnya lemah sambil tersenyum getir. Melihat senyumannya jantungku bagaikan berdecit.. Sakit.. Senyumannya ini.. senyuman yang paling disukai Eunhyuk di dunia.. Kenapa harus dia? Kenapa harus bajingan ini Eunhyuk?

 

“Lihat keadaannya sekarang gara-gara kamu!! GARA-GARA KAU SIWON!!” aku berteriak dan kemudian meninju mukanya sampai dia terduduk di sofa. Dia tidak membalas. Wajahnya masih sama seperti tadi, tenang namun terlihat sedih.. Sangat sedih.. Dia lagi-lagi tersenyum. Cih!!

 

“Jangan bunuh aku sekarang Donghae.. Dia.. dia..” aku meninju mukanya sekali lagi. Saat ini Eunhyuk sedang berjuang melawan maut karena dia, dan dia memintaku untuk tidak membunuhnya? Hahaha.. Dia kira dunia akan berpihak sebanyak itu padanya? Tidak.. Yang dia butuhkan sekarang adalah kemurahan hatiku.. Tapi sayang.. Lee Donghae  tidak memiliki belas kasihan bila itu sudah menyangkut LEE EUNHYUK.

 

Dia menangis. Siwon menangis. Bangsat ini menagis di hadapanku? Mau muntah aku melihat tangisannya. Apa yang membuat dia begini? Merasa bersalah?

 

“Dia di rumah sakit sekarang!! Ikut aku!!” aku menarik pergelangan tangannya menggunakan seluruh tenaga yang kumiliki. Namun kemudian dia berontak. Dia melepaskan tanganku.

 

“DENGAR AKU LEE DONGHAE !!!” aku tersentak, kaget melihat air mata menganak sungai di pipinya. Ada apa sebenarnya?

 

“Selama lebih dari dua tahun aku mengenal Eunhyuk.. Aku tau dia memiliki perasaan padaku. Dan aku juga tau saat dia akan melakukan hal itu.. Dia mengatakan padaku kalau dia akan melakukan ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.. Tapi mohon mengerti kondisiku Donghae.. Tolong…” dia terduduk, menangis sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Kenapa?

 

“Bukannya aku ingin membiarkannya mati bunuh diri.. Tapi coba kau lihat di atas sana.. Di dalam kamarnya KIBUM tidak sadarkan diri.. Dia kolaps tadi.. Apa mungkin aku meninggalkannya dalam kondisi separah ini? KATAKAN PADAKU DONGHAE!!! APA AKU HARUS MENINGGALKANNYA???” Siwon berteriak, lebih seperti teriakan orang yang sedang putus asa. Aku hanya berdiri mematung.

 

“Kibum sakit Donghae.. Entah sampai kapan aku bisa melewati hari-hariku dengannya.. Tidakkah menurutmu dia terlalu muda untuk segala macam penyakit itu? Dari kecil aku mengenalnya.. Dari kecil pula dia selalu selemah ini.. Aku sudah berjanji untuk selalu melindunginya.. Dan saat dia begini, AKU TIDAK BISA MENINGGALKANNYA UNTUK EUNHYUK!! TIDAK BISA!!”

 

Siwon.. ternyata sedang dalam situasi sesulit ini.. Kim Kibum itu sekarang sakit?? Kalau aku jadi dia aku juga tidak akan meninggalkan Kibum.. Tapi bagaimana dengan Eunhyuk? Eunhyuk-KU? Dia bahkan masih menggumamkan nama Siwon saat aku memegang tangannya. Ya Tuhan.. Apa ini? Bagaimana?

 

“Maafkan aku Donghae.. Sampaikan juga pada Eunhyuk.. Aku begini karena aku tau Eunhyuk memiliki orang sepertimu yang akan selalu menjaga dan melindunginya.. Sedangkan Kibum? Kibum-ku? Dia hanya memilikiku saja. Hanya aku saja.. Bahagiakan dia kalau kau memang mencintainya. Tugasmu adalah meyakinkannya, bahwa kau bisa membahagiakannya jauh lebih baik daripada yang mampu aku lakukan.”

 

Aku menatap Siwon, kali ini bukan dengan tatapan kemarahan. Orang ini memiliki hati yang baik.. Kenapa aku bisa buruk sangka dan mengiranya sejahat itu? Kata-katanya benar.. Sudah saatnya Lee Donghae.. berhenti menjadi seorang pengecut. Yang hanya mampu mencintai dari jauh, tanpa bisa berbicara jujur tentang perasaannya.

 

Aku berlari ke luar meninggalkan Siwon yang masih menangis. Aku segera memacu mobilku ke rumah sakit. Donghae  bodoh!! Seharusnya aku menemani Eunhyuk..

 

Aku segera masuk ke rumah sakit dan menuju ke ruangan dokter yang menangani Eunhyuk, dokter Park EeTeuk. Dia terlihat sedikit kaget melihatku yang terengah-engah karena berlari.

 

“Hh.. Eunhyuk.. Bagaimana keadaannya?” tanyaku masih susah payah mengatur napas. Dokter EeTeuk menunduk sedikit, ini pertanda tidak baik.. Jangan.. Jangan bilang Eunhyuk-ku tidak selamat.. Dia orang yang kuat,, tidak mungkin dia selemah itu.

 

“Dia kehilangan banyak sekali darah. Saat kau membawanya ke sini.. sudah sedikit terlambat..” aku kehilangan seluruh tenagaku. Aku terduduk di lantai dan air mataku langsung tumpah begitu saja. Tidak.. Seseorang.. kumohon katakan ini bercanda.. Ini lelucon..

 

Dokter EeTeuk menghampiriku, berlutut di sampingku. Dia mengelus punggungku, mencoba menenangkanku. Tapi bagaiman bisa aku tenang? Aku terus menangis, tidak malu sedikitpun.

 

“Tapi dia sangat kuat.. Dia yang tidak menyerah dengan keadaannya. Dia bertahan, Donghae-ssi.. Dia bisa bertahan walalupun kehilangan darah sebanyak itu. Dia benar-benar lelaki yang hebat..” aku menatap dokter EeTeuk dengan tatapan tidak percaya. Dia lalu mengangguk. Seketika dadaku yang tadinya sangat sesak kini berubah menjadi sangat lapang dan ringan.

 

“Dia mungkin menunggumu membangunkannya.” Kata Dokter EeTeuk sambil tersenyum. Aku segera berlari ke ruangan Eunhyuk yang dikatakan Dokter EeTeuk. Dia masih terbaring di sana, dengan selang dimana-mana. Aku terdiam melihatnya yang pucat bagaikan mayat, hanya saja dia masih bernapas walaupun dibantu dengan selang oksigen. Dan dari monitor itu masih terdengar detak jantungnya. Dia masih ada.. Masih bersamaku..

 

Aku memegang tangannya. Dingin..

“Eunhyuk-ah.. Ayo bangun.. Kau kuat Hyukkie, kau pasti bisa bila hanya seperti ini.. Tahan sakitnya ya.. Ada aku di sini..” aku mencium tangannya dan meletakkannya di pipiku yang basah. “Saranghae..”

 

Eunhyuk POV

 

Tidak ada siapa-siapa di sini.. Dimana ini? DI surga? Jelas tidak mungkin.. Di neraka? Tidak panas.. Lalu ini dimana?

 

“Eunhyuk-ah…”

Ada yang memanggilku. Siwon? Oh.. bukan.. itu.. Donghae.. Tapi dia dimana? Aku takut di sini, temani aku.. Donghae  temani aku..

 

“Ayo Hyukkie, raih tanganku..” dia mengulurkan tangannya. Aku tidak sendiri.. Ada Donghae, dan dia memintaku untuk ikut dengannya. Tapi.. Bukankah aku sedang menunggu Siwon? Aku hampir saja meraih tangan Donghae saat suara Kibum mengagetkanku.

 

“Eunhyuk Hyung..” Kibum menangis.. Kenapa dia menangis? Apa yang telah dilakukan Siwon padanya? Tapi kemudian Siwon datang ke arahnya, dan menghapus air matanya.

 

“Ada aku Kibum-ah..” kata Siwon lembut, dan Kibum memeluknya, meyandarkan kepalanya ke dada Siwon. Kibum tersenyum.. Hatiku senang sekali melihatnya tersenyum bahagia seperti itu.. Tapi.. Ini tidak benar.. Bukankah aku mencintai Siwon? Bukankah seharusnya aku cemburu melihatnya memeluk Kibum? Tapi kenapa sekarang tidak lagi? Aku malah senang jika Kibum bahagia..

 

Aku kembali melihat ke arah Donghae , tapi dia mau kemana? Dia berjalan menjauhiku. Sakit.. Hatiku tiba-tiba sakit melihat punggungnya yang semakin jauh dariku.. Aku segera berlari ke arahnya, dan meraih tangan kanannya. Dia memandangku dengan tatapan sedih.. Dia menangis.. Air mataku juga reflek jatuh karena melihat airmatanya.

 

“Donghae -ah.. Temani aku..” dia menggeleng lemah. Dia sudah tidak mau lagi menemaniku? Dia sudah bosan menghadapiku? Maafkan aku.. aku.. mohon jangan tinggalkan aku..

 

“Aku akan meminta Siwon datang untukmu.. Kau harus bahagia Eunhyuk-ah.. meskipun bukan denganku.. Kau mencintainya kan? Aku akan membawanya ke sini untukmu..” dia melepaskan  pegangan tanganku, lalu berjalan menjauhiku. Seiring dengan terlepasnya tangannya dari tanganku, rasa sakit mulai menjalar di tubuhku. Menyusup sangat lambat, namun terasa mematikan. Aku terjatuh,, aku mencoba memanggil Donghae  namun dia tidak berbalik untuk melihatku.. Jangan.. Donghae  jangan pergi dariku… Ah.. sakit ini menguasaiku..

 

Donghae  POV

 

Dia tidak juga membuka matanya. Aku tidak berguna.. Heh.. Hanya bisa menangis sambil berpegang pada harapan konyol, bahwa dia akan sembuh dan membuka hati untukku. Bodoh!! Dia sekarang pasti ingin berada di dekat Siwon.. Dia pasti ingin yang memegang tangannya itu Siwon, bukan pengecut sepertiku..

 

“Baiklah.. Aku akan meminta Siwon datang untukmu.. Kau harus bahagia Eunhyuk-ah.. meskipun bukan denganku.. Kau mencintainya kan? Aku akan membawanya ke sini untukmu, agar kau cepat sadar..” aku melepaskan tangannya, lalu berjalan ke arah pintu. Aku menghapus air mataku sebelum keluar dari ruangan Eunhyuk. Hatiku memang hancur,, tapi bagiku Eunhyuk lebih penting..

 

“Emmhh…” aku mendengar leguhannya, lalu aku berbalik dan segera berlari ke arahnya. Ya Tuhan, dia berkeringat.. Pasti ini sangat sakit baginya. Aku membelai rambutnya dan memegang tangannya lagi.

 

“Hae… Lee.. Donghae..” dia memanggil namaku!! Hah.. Terimakasih Tuhan!!

 

“Aku di sini Eunhyuk-ah..” dia membuka matanya perlahan-lahan, lalu setetes air mata jatuh dari kedua sudut matanya. Ada apa? Kenapa dia menangis? Apa dia kecewa karena yang berada di sini aku, bukan Siwon?

 

“Jangan.. tinggalkan.. aku..” bisiknya dari balik masker oksigen. Tentu.. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu.. Lalu dia kembali memejamkan matanya.

 

“Aku…” dia terisak lemah. “Aku.. takut.. Temani aku…” aku duduk di kursi samping tempat tidurnya. Aku menghapus airmatanya.

 

“Tidak akan.. Aku tidak akan meninggalkanmu..” aku mencium tangannya. Aku sangat bahagia. Dia ingin AKU menemaninya.. Dia menginginkanku,, bukan Siwon..

 

“Hae.. Donghae-ah…” panggilnya masih dengan mata terpejam. “Katamu.. kau.. mencintaiku??” tanyanya.. IYA.. Benar Eunhyuk.. Itu benar..

“Aku.. ingin kau mengatakannya lagi…” dia menatap mataku yang basah dan bengkak.

 

“Saranghae.. Jeongmal saranghae.. Aku mencintaimu EUNHYUK.. Sangat..” dia tersenyum kecil. Ya Tuhan,, terimakasih.. Aku bisa melihatnya tersenyum lagi..

 

“Aku senang.. aku bahagia mendengar itu darimu..” katanya. Bahkan aku lebih bahagia..

 

“Neo animyeon andwae.. Jangan tinggalkan aku Eunhyuk-ah.. Jangan pernah melakukan hal sebodoh itu lagi..” kataku, dia mengangguk.

 

“Aku berjanji…” jawabnya. Aku memeluk tubuhnya yang masih terbaring lemah itu, dan aku merasakannya membalas pelukanku. Tidak ada yang akan membuatku sebahagia ini.. Life couldn’t get better.. Aku ingin semuanya seperti ini saja. Jangan pernah berubah, dengan Eunhyuk disampingku, dan aku bisa dengan bebas mencintainya..

 

Life couldn’t get better..
I’ll hold you in my arms and fly
We’ll fly towards the blue moon
I’ll kiss you when you’re sleeping
Life couldn’t get better
..
Open your heart and take my hand
Life couldn’t get bette
r..


-FIN-

Okehh… Selesai sudah FF gajebun ini.. Awalnya yang jadi Hyukkie Oppa itu KEY, trus yang jadi Hae Oppa itu Jonghyun.. Yang jadi Siwon Oppa itu Minho dan Kibum oppa itu Taemin.. Yang jadi dokter sebenernya Onew.. Gimana FF nya? Aku agak susah gitu kalau Maincast-nya Eunhyuk.. Entah kenapah.. Mungkin karena dia suka grepe-grepe My Donghae kali.. Hohoho.. Dikomen yaaahhh….