Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 미스테리 ♥ Mystery, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, Fanfiction, 형제 ♥ Brothership, 우정 ♥ Friendship

Protected Brother . . . Part 15

Annyeonghaseo chingudeul! \(^o^)/

Akhirnya Protected Brother part 15 di posting juga~

Mian buat chingudeul yang udah nungguin lanjutan FF ini kelamaan, aku memang hiatus dari dunia perFFan selama sebulan ini.

Buat part 15 ini sebenarnya aku ngga yakin sama alurnya, tapi berhubung banyak chingudeul yang nanyain baik di FB mau pun di Twitter akhirnya di posting juga.

~~~~~


“Haaaaah….” Kyuhyun menghela hafas berat. Pikirannya kini berkecamuk hebat hanya karna seorang gadis memenuhi seluruh ruang yang ada di kepalanya, siapa lagi kalau bukan minji. Ya, gadis itulah yang mampu membuat Kyuhyun jadi seperti ini. Galau~

Sekolah telah usai sekitar 30 menit yang lalu dan sebagian besar murid sudah pulang sejak tadi, namun tidak bagi Kyuhyun. Entah mengapa dia enggan beranjak dari kursinya, yang Kyuhyun lakukan hanya melamun memandangi ranting-ranting pohon dari sisi jendela tempatnya duduk.

Sampai…

Drrrrrrrrtt . . . . Drrrrrrrrtt . . . . Drrrrrrrrtt . . . . Drrrrrrrrtt . . . .

Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Kyuhyun meraihnya dengan malas dan melihat siapa yang telah mengganggu dirinya dari dunia lamunan.

~Sungmin Hyung Calling~

Ternyata hyung terimutnya yang menghubungi Kyuhyun.

“Yeoboseo.”

“Ya! Kyunnie, kau masih ada didalam kelas kan? Ayo cepat keluar! Kakiku sudah pegal nih…” Kata Sungmin memerintah dengan setengah merengek.

“Ah…mian hyung, sebentar lagi aku selesai.” Kyuhyun terpaksa berbohong.

“Memangnya kau sedang apa dikelas? Kenapa lama sekali…”

“A..aku sedang piket hyung, tapi sekarang sudah selesai.”

“Kalau begitu ayo cepat keluar, aku menunggumu di tempat biasa.”

“Ne hyung.”

Kyuhyun memutuskan sambungan teleponnya lalu memasukan segala buku-buku yang ada di atas meja. Setelah selesai dia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kelas. Lorong-lorong koridor kelas tampak sepi tak berpenghuni, padahal masih ada beberapa murid yang sedang mengikuti eskul di sekolah, tapi suasana sekolahnya hampir mirip seperti komplek pemakaman.

Kyuhyun terus melangkahkan kakinya tanpa ragu sedikit pun, tidak memperdulikan suasana sekolah yang bisa membuat bulu kudunya berdiri.

Lanjutkan membaca “Protected Brother . . . Part 15”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, Fanfiction, 우정 ♥ Friendship

The Leader Part 2

PerpustakaanRosemaryAcademy…

Salah satu tempat dimana buku-buku berjejer rapi dan disusun berdasarkan abjad. Dan juga tempat favorit Alex. Ia terbiasa duduk disalah satu meja yang menempel di dinding. Setiap hari, ia selalu membaca buku kesukaannya sambil mengerjakan tugas sekolah. Terkadang ia bisa lupa waktu jika sudah asyik membaca.

“ Enjoy the books, eh? I wonder why you never feel boring in this place,”  Alex menutup bukunya. Ia melirik kesamping, tersenyum saat mengetahui pemilik suara itu. “ Memang kenapa? Aku suka berada disini. Sangat menyenangkan bisa membaca buku yang ada disini,” ujar Alex. Pemuda itu hanya menghela nafas, menarik kursi disamping Alex. “ Kenapa kau tidak bermain dengan mereka?” tanya pemuda itu. Alex terdiam, lalu menggeleng. “ Jordan dimarahi Claudia, Marcus diganggu Taylor lagi, lalu Bryan…”, “ Sibuk latihan drama?” Alex mengangguk. “ Andrew?” Nama terakhir membuat Alex sedikit tersentak. Joshua buru-buru meralat ucapannya. “ Maaf. Aku tak bermaksud…” Alex menggeleng, tersenyum pada kakak tirinya itu. “ Tak apa-apa. Lagipula, Andrew memang sedang disibukkan dengan urusan keluarganya,” ucap Alex. Joshua melirik sesuatu berkilauan yang melingkar di jari adiknya. Digenggamnya tangan adik kesayangannya itu. “ Jo…please. It’s okay. You know his Daddy’s habbit. Always made him busy,” Ucapan Alex malah membuat Joshua semakin sedih. “ Apa tidak bisa Tuan Choi berhenti menganggunya?” tanya Joshua. Alex mengedikkan bahu. “ Jika bisa, mungkin Andrew tak akan terus menerus berkutat dikamarnya,”

*********************************

Lanjutkan membaca “The Leader Part 2”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 미스테리 ♥ Mystery, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, Fanfiction, 형제 ♥ Brothership, 우정 ♥ Friendship

Protected Brother . . . Part 14

Akhirnya bisa posting lanjutan Protected Brother lagi, maaf ya buat reders yang udah nunggu lama. ^^

~~~~~~~~

 

Tok… Tok… Tok…

Eeteuk mengetuk pintu kamar Kyuhyun dengan senampah makanan ditangannya. “Kyu, hyung membawakanmu makanan, kau harus makan.” Tidak ada jawaban dari dalam kamar. “Hyung masuk ya?” Eeteuk membuka knop pintu kamar Kyuhyun perlahan. Dilihatnya Kyuhyun tengah bebaring sambil memainkan sehelai pita berwarna pink yang di yakini Eeteuk adalah milik Minji.

“Kenapa tidak menjawab hyung?” Tanya Eeteuk pelan, lalu berjalan mendekati Kyuhyun dan duduk ditepi ranjang. “Ayo makan, Sungmin sudah memasakan bubur terenak untukmu.”

Kyuhyun terpaksa menatap Eeteuk. “Aku tidak lapar hyung…” Ujar Kyuhyun lemah hampir seperti sebuah bisikkan.

“Aish… kau ini sedang masa pemulihan, jadi harus makan yang banyak supaya cepat sembuh.” Kata Eeteuk sambil membantu meninggikan bantal Kyuhyun. “Ayo aaaaaa….” Kyuhyun yang awalnya enggan untuk membuka mulut pun akhirnya menyerah dan menuruti perintah hyungnya untuk membuka mulut.

Saat sedang menyuapi, Eeteuk terus memperhatikan tingkah dongsaengnya yang masih memainkan pita yang ada ditangannya dengan tatapan sedih. “Hyung sebenarnya tidak ingin ikut campur masalah pribadimu, tapi melihatmu seperti ini juga hyung tidak akan tinggal diam. Kenapa kau bersikap kasar seperti itu pada Minji tadi siang?”

“…..” tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kyuhyun.

“Hahh… kau tau wajah Minji terlihat sedih sekali saat kau mengusirnya.” Eeteuk menghela nafas mengingat kejadian siang ini.

“Aku hanya tidak ingin terus bergantung pada dirinya hyung.” Akhirnya Kyuhyun mau bicara juga mengenai kejadian tadi siang. “Selama ini… aku sudah merepotkannya dengan menjagaku setiap saat. Itu membuat diriku terlihat lemah dan bodoh dihadapannya.” Kyuhyun memejamkan matanya agar Eeteuk tidak dapat melihat bahwa hatinya sedang menangis. “Disini…” Tangan Kyuhyun memegang dadanya. “Entah bagaimana muncul perasaan ketergantungan pada dirinya yang amat sangat besar. Sedangkan mana mungkin Minji mau terus berada disisi pria lemah sepertiku, karna aku hanya akan menjadi beban baginya, hyung. Jika dia berada disisiku lebih lama lagi… aku takut nanti tidak akan bisa melepaskannya…” Kyuhyun membuka matanya dengan senyuman yang dipaksakan.

Lanjutkan membaca “Protected Brother . . . Part 14”

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 가족 ♥ Family, 계속 ♥ Countinue, Fanfiction, 우정 ♥ Friendship

The Leader File 1

Main Cast:

Male:

-Park Jungsoo as Dennis Park

-Kim Heechul as Casey Kim

-Hangeng        as Joshua

-Kim Jongwoon as Jeremy Kim

-Kim Youngwoon as Jordan Kim

-Shindong       as Matthew

-Lee Sungmin  as Vincent Lee

-Lee Hyukjae  as Spencer Lee

-Lee Donghae  as Aiden Lee

-Choi Siwon     as Andrew Choi

-Kim Ryeowook as Nathan Kim

-Kim Kibum     as Bryan Kim

-Cho Kyuhyun  as Marcus Cho

Female:

Alexandra Hwang, member of The Leader and also Joshua’s half-sister

-Hera Lee as Aiden’s sister and Jeremy’s girlfriend

-Aprodhite Shim as Nathan’s bestfriend

-Angela Park as Dennis’s twins and also Casey’s girlfriend

-Claudia Kim as Jordan’s manager

-Grace Shin as Vincent’s partner

-Taylor Cho as Marcus’s cousin

 

Enjoy it and happy reading fellas ^^

 

TENGG!! TEENGG!!

Suara bel berdentang menandakan waktu pelajaran pagi akan segera dimulai. Murid-murid bergegas memasuki kelas masing-masing sesuai jurusannya. Begitu juga Aiden. Pagi ini ia harus mengikuti kelas Seni Rupa. Karena ia merupakan siswa Jurusan Seni, maka setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at, ia wajib hadir di kelas yang berhubungan dengan Seni. Selain ketiga hari itu, kurikulum diisi dengan pelajaran umum seperti Eksak, Sosial dan Olahraga. Namun, kurikulum tersebut tidak selengkap yang diajarkan di Jurusan. Hanya untuk penambahan wawasan.

Aiden memasuki kelas, mendapati Spencer dan Nathan sedang duduk berdiskusi sesuatu. “ Morning, guys,” sapa Aiden. “ Morning, Mr. Lee,” balas Nathan. Tangannya memegang buku partitur. Nathan adalah siswa Jurusan Seni yang mengambil mata pelajaran Musik. Setiap Jurusan memiliki beberapa mata pelajaran yang bisa dipilih. Setiap murid diperbolehkan mengambil dua mata pelajaran di setiap Jurusan. Seperti Nathan. Ia memilih mengambil kelas Seni Rupa dan Seni Musik, sedangkan Aiden dan Spencer mengambil Seni Rupa dan Seni Tari. “ Apa ada kabar menarik hari ini?” tanya Aiden sambil menaruh tas. Spencer melirik Nathan sambil tersenyum. “ Well, there’s a lot of rumors in our academy. Did you heard about The Leader?” ucap Spencer. Aiden mencoba mengingat-ingat. “ You mean five student who selected for Student Leader?” Aiden balik bertanya. “ Exactly. And one of them is…a beautiful girl in this academy,” bisik Spencer bergairah. Aiden menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ku pikir apa, ternyata hanya soal perempuan,” ujar Aiden. DUK! “ Aw! That’s hurt!” jerit Aiden. Spencer mengacuhkannya. “ Aduh…kalian ini. Maksud Spencer, gadis ini sedikit berbeda. Dia cantik, pintar dan…yaa berbeda dengan siswi lainnya,” sahut Nathan. Aiden tertegun. “ Benarkah?”

Tok, Tok. Suara ketukan itu mengagetkan mereka bertiga. Rupanya Mr. Matthew sudah berdiri didepan kelas. Mereka bertiga menghentikan obrolan mereka dan kembali ke kursi masing-masing. Aiden masih mencerna ucapan Spencer dan Nathan tadi. Satu-satunya calon ketua murid dari kalangan perempuan? Siapa?

 

*********************************

 

“ Itu dia orangnya,” Aiden dan Spencer menoleh kearah yang dimaksud Nathan. Seorang gadis duduk bersama keempat siswa laki-laki. Matanya sipit dan berambut hitam lurus. Bando kuning bertengger di atas kepalanya. Jas putih dan kemeja biru dikancing rapi, bahkan dasi kuningnya diikat rapi. Tak heran jika gadis itu dicalonkan sebagai Ketua Murid. “ Namanya Alexandra Hwang. Tapi dia lebih sering dipanggil Alex,” lanjut Nathan. Sepertinya Nathan sudah mencari informasi tentang Alex. “ Lalu? Siapa empat laki-laki itu?” tanya Aiden. Nathan membuka-buka notesnya, menemukan informasi yang dimaksud. “ Yang badannya besar namanya Jordan Kim. Ia dari Jurusan Olahraga. Kelas yang ia ambil adalah kelas Tinju dan Wrestling,” Siswa yang bernama Jordan itu terlihat besar dan kekar. Pakaiannya juga rapi seperti Alex. “ Lalu, yang sedang berbicara dengan Alex itu namanya Bryan Kim. Dari Jurusan Akting. Ia mengambil kelas Musikal dan Film,” lanjut Nathan. Sekilas penampilan Bryan seperti dari kalangan terhormat. Rambut hitamnya dibuat model spike dan senyumnya sangat menawan. “ Nah, yang sedang sibuk memainkan PSP itu namanya Marcus Cho. Murid Jurusan Eksakta. Ia mengambil kelas Matematika dan Kimia,” Aiden melirik kearah Marcus. Ia terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar. “ Dan terakhir, Andrew Choi dari Jurusan Manajemen. Kelas yang dia ambil ada 3. Kelas Manajemen Produksi, Manajemen Pemasaran dan Manajemen Keuangan,” Andrew satu-satunya yang terlihat paling berwibawa. Tampan dan gagah. Cukup memenuhi kriteria lelaki idaman bagi para siswi Rosemary Academy. “ Oh iya. Alex mengambil Jurusan apa?” tanya Spencer. “ Jurusan Sastra. Kelas yang ia ambil adalah kelas yang tergolong jarang muridnya,” jawab Nathan. “ Apa itu?” tanya Aiden dan Spencer serempak. “ Kelas Sastra Klasik dan Filsafat,”

 

*********************************

 

Rosemary Academy adalah satu-satunya sekolah berasrama yang membuka Jurusan Sastra. Jurusan ini tergolong minim peminatnya dikarenakan kurikulumnya yang terlalu berat. Hanya sekitar 15 anak yang sanggup bertahan menghadapi kurikulum di Jurusan ini.

Selain kurikulumnya yang beragam, Rosemary Academy juga memiliki fasilitas yang bagus dan bermutu. Salah satunya adalah Ruang Serba Guna di lantai 2. Hampir semua kegiatan sekolah diselenggarakan disini. Termasuk kompetis-kompetisi bergengsi. Rosemary Academy termasuk sekolah yang menjadi unggulan disetiap kompetisi.

Asrama Rosemary dibagi menjadi 3 gedung. Asrama untuk wanita, asrama untuk pria dan asrama khusus anak-anak berprestasi. Dengan adanya asrama khusus anak-anak berprestasi, diharapkan anak-anak tersebut mampu meningkatkan kemampuan akademisnya tanpa ada gangguan. Disinilah asrama tempat The Leader tinggal.

 

********************************

 

Asrama khusus pria, kamar 309….

Nathan sibuk membereskan partitur-partitur untuk kelas Musik. Karena kelas Musik akan dimulai 1 jam lagi, Nathan memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak dari pelajaran. “ NATHAN!” Teriakan itu sukses memekakkan telinga Nathan. “ Aduuh….Aprodhite! Bisa tidak mengetuk pintu dulu?” protes Nathan. Yang diprotes malah tertawa. “ Aku ingin memberi kejutan, Mr. Nathan,” ledek Aprodhite. “ Ya sudahlah. Kenapa kau kesini? Ini kan asrama putra,” Aprodhite mengacuhkan ucapannya Nathan, mengobrak-abrik lemari pakaian Nathan. “ Hey! What are you doing? That’s my closet!” Nathan yang panik, bergegas melindungi lemarinya. Aprodhite cemberut melihat sikap Nathan. “ Nathan jahat! Aku kan hanya ingin membantu memilih pakaian untuk recital bulan depan,” protes Aprodhite. Pipinya menggembung, membuat dirinya tampak menggemaskan. “ Aprodhite….dengar ya. Yang akan mengikuti recital itu aku, bukan kamu. Kenapa kamu mesti repot?” ucap Nathan. Ucapan Nathan membuat Aprodhite semakin sebal dan pergi meninggalkan Nathan. “ Aprodhite! Tunggu dulu!”

 

*********************************

 

Kolam Renang Rosemary Academy…

“ Jordaaaannn……dimana kau???” teriak seseorang. Ia celingukan mencari Jordan. Di ceknya notes miliknya, menelurusi daftar yang ia buat. “ Padahal, ini kan jadwal dia untuk latihan tinju,” gumamnya. Tiba-tiba saja, ada orang lain mencipratkan air kearahnya. “ KYAAA!!!! JORDAAAANNN!!!!!” jeritnya. Jordan malah tertawa dan kembali masuk kedalam air. “ Jordan Kim! Keluar kau!!” teriak orang itu. “ Ahahahahaha!!” Gadis itu kesal dengan perlakuan Jordan, meneriakinya, “ KELUAR KAU DARI KOLAM ATAU KU ADUKAN PADA TUAN KIM!!” Teriakannya cukup ampuh membuat Jordan bergegas keluar dari kolam. “ Jangan adukan hal ini pada ayah. Bisa-bisa dia memarahiku karena menyalahi jadwal,” pinta Jordan. Claudia mendengus kesal. “ Kau memang menyalahi jadwal. Kau hanya boleh latihan renang di hari Kamis!” omel Claudia. Jordan pura-pura tak dengar. Ia bosan harus mendengarkan ocehan Claudia tentang jadwal hariannya. Seolah-olah hidupnya tergantung pada jadwal. “ Jadwal kau hari ini adalah latihan tinju. Tepat di jam pelajaran Kelas Tinju. Masih ada waktu 15 menit untuk bersiap-siap,” ucap Claudia. Selesai memberitahu jadwal, gadis berambut pendek itu beranjak pergi. “ Claudia,” panggil Jordan. Langkah Claudia terhenti, ia menoleh kearah Jordan. “ Apa?” tanya Claudia. Raut wajah Jordan berubah menjadi serius. “ Kau masih sanggup bertahan dengan pekerjaan ini?” Jordan balik bertanya. Claudia menghela nafas. “ Iya. Ayahmu sudah mempercayakanku untuk menjadi managermu. Aku hanya tak ingin melepas tanggung jawab,” jawabnya seraya melangkah pergi. Jordan tak membalas. Ia hanya menatap datar punggung gadis itu. “ How stupid,”

 

*********************************

 

Taman bunga Rosemary Academy….

Taman bunga di Rosemary merupakan taman favorit bagi siswa-siswi Rosemary untuk berkumpul. Entah hanya sekedar menikmati makan siang atau belajar kelompok. Seperti biasa, hari ini para siswa dan siswi berkumpul di taman. Sebagian membicarakan pelajaran, sebagian asyik bercanda dan sebagian sibuk menyendiri. Marcus, salah satu yang sibuk menyendiri, asyik memainkan PSP nya. Ia sering menghabiskan waktu di taman sembari menunggu jam pelajaran berikutnya.

“ Hi, Marcus,” Marcus tak menjawab. Matanya tetap fokus pada PSP nya. “ Marcus Cho,” Lagi-lagi Marcus tak menjawab. Seolah ia tak mendengar ada yang memanggilnya. “ Hey! If someone call you, you have to respond it!” seru orang itu. Dirampasnya PSP dari tangan Marcus, sontak membuat Marcus kaget. “ Hey! Give me back! That’s mine!!” protes Marcus. Yang diprotes malah mencibir. Membalas perlakuan Marcus. “ Stop being anti-social, my lovely cousin. You’re the future leader, you’ve to gain relationship with people,” ceramah orang itu. Orang itu melirik PSP Marcus, menghela nafas. “ And stop playing games,” tambahnya. Marcus berdiri, menepuk kepala orang itu. “ Okay, Miss Taylor Cho. I understand…and please give me back my PSP. Just wanna finish one level,” Taylor menyerahkan kembali PSP itu pada Marcus. Ia duduk di kursi, menyilangkan kakinya yang jenjang. “ What do you want?” tanya Marcus. Taylor menggeleng. “ Nope. Just thinking how can you selected as Student Leader’s candidate,” jawab Taylor. Marcus meringis, ia tahu berita tentang dirinya yang dipilih menjadi kandidat sangatlah mengejutkan. Karena menurutnya, keempat kandidat lainnya lebih pantas ketimbang dirinya. “ Yang lebih mengejutkan, kelima kandidat kali ini semuanya….” “ Yeah, I know. It’s really surprising but it’s okay. Now, we’re rival,” potong Marcus. Ia pun beranjak dari kursinya, melambaikan tangan tanda salam perpisahan pada Taylor. Gadis berambut pirang itu terlihat sedih. Tak ia sangka harus berjalan seperti ini. “ No. They’re not rival…Never…”

 

*********************************

 

Cafetaria Rosemary Academy….

Aiden mengetuk meja seraya melirik temannya yang terlihat gelisah. “ Where’s she?” gumamnya. Aiden menghela nafas. “ Tenang. Mungkin dia tersesat, seperti biasa,” ujar Aiden. Duk! “ Aw! Hei, kenapa?” protes Aiden. “ Dia itu adikmu! Seharusnya kau khawatir kalau terjadi sesuatu padanya,” Aiden melengos. Ia merasa tak perlu khawatir berlebihan, mengingat sifat keras kepala adiknya. “ Hera baik-baik saja. Jangan khawatir, Jeremy,” ucap Aiden seraya menenangkan Jeremy.

Tak lama kemudian, seorang gadis mungil datang menghampiri mereka. “ Sorry, babe. Lost direction, as usual,” ujar gadis itu nyengir. “ It’s okay, my little Hera,” balas Jeremy. Aiden berdehem keras, menyadarkan kedua sejoli itu. “ Tugasku sudah selesai kan? Aku mau kembali ke kamar,” kata Aiden. Hera terkikik, memeluk erat kakaknya. “ Jangan ngambek begitu. Tadi kan kakak sendiri yang bilang mau bertemu denganku,” ucap Hera seraya melepas pelukannya. Aiden tak menjawab, namun ekspresinya terlihat seperti anak kecil.

“ Oh ya, tadi kalian berdua menanyakan soal kandidat Ketua Murid ya?” tanya Hera. Jeremy dan Aiden mengangguk bersamaan. “ Tentang kandidat itu ya….sebenarnya cukup mengejutkan juga. Waktu itu beritanya belum resmi, jadi hanya sekedar desas-desus,” sambung Hera. “ Desas-desus apa?” tanya Jeremy. Hera mengeluarkan selembar kliping koran. Tertulis ‘BIGGEST NEWS: FIVE STUDENT ARE SELECTED AS STUDENT LEADER’S CANDIDATE!’. “ Awalnya, banyak siswa mengira mereka yang terpilih adalah anak-anak yang berasal dari golongan atas yang tak berotak. Tapi seminggu kemudian, muncul berita resmi dari Kepala Sekolah bahwa yang terpilih adalah lima siswa terbaik di Rosemary Academy. Semua siswa terkejut. Apalagi yang terpilih benar-benar elit diantara yang terelit,” jelas Hera. Aiden menerawang, mengingat perkataan Nathan. “ Andrew, Alex, Bryan, Jordan dan Marcus. Lima siswa yang berhasil mengangkat reputasi Rosemary Academy di bidang masing-masing,” sambung Jeremy. Hera mengangguk. “ Tak heran jika mereka dipilih menjadi kandidat Ketua Murid. Marcus Cho, juara olimpiade Matematika dan Sains. Andrew Choi, berhasil menjadi pengusaha muda seperti ayahnya. Alexandra Hwang, penulis terkenal dan dia baru saja memenangkan Best-Seller Award untuk karya terbarunya. Jordan Kim juga baru saja memenangkan kejuaraan renang dan tinju. Dan yang terakhir, Bryan Kim baru memulai karir aktingnya,” tambah Hera. Aiden menelan ludah. Ia tak menyangka kelima kandidat itu benar-benar unggul di bidang yang mereka geluti. “ Satu lagi,” Aiden dan Hera menatap Jeremy. Masih ada satu rahasia yang belum kami ketahui? batin Aiden. Jeremy menarik nafas. “ Kudengar….Alexandra Hwang bertunangan dengan Andrew Choi,”

TBC~

 

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, Fanfiction

20 Minutes (Drabble)

Aku berdiri di halte bus, menanti kedatangan bus. Aku termenung, mengingat peristiwa sepuluh menit yang lalu. Mantan pacarku, Kim Kibum, datang menyapa temanku tapi aku diabaikan. Aku masih merasa sakit hati dengan sikapnya. Sudahlah. Lupakan. Dia memang tak pernah menganggapku ada sejak kami putus.

Ah, bus nya sudah datang. Sepi sekali. Biarlah. Aku memilih bagian tengah dan dekat jendela. Mungkin dengan melihat pemandangan, aku bisa merasa lebih baik.

 

10 menit kemudian…

 

Bus berhenti di halte berikutnya. Ada sekelompok siswa SMA yang naik. Sepertinya mereka seumuran denganku. Aku memutuskan untuk cuek saja. Tapi, saat anak yang terakhir naik, mataku terpaku padanya. Waw….dia tampan sekali. Putih, tinggi dan…ehem, manis. Eh, tunggu dulu. Aku tak boleh jatuh cinta pada orang lain pada orang lain. Cukup Kibum saja! Titik!

 

5 menit kemudian…

 

Anak itu terlihat asyik mengobrol dengan teman-temannya. Pasti pacarnya. Tapi masa iya?

Mataku melirik kearah buku yang dipangkunya. Ada tulisan namanya. Hmm….Cho…Kyuhyun… Namanya bagus. Cocok dengan orangnya. Eh! Apa-apaan sih? Tak boleh! Jangan terpikat pada orang lain! *geleng-geleng kepala*

 

5 menit kemudian…

 

Satu persatu temannya turun di halte yang berbeda. Tinggal kami berdua didalam bus. Sesekali aku meliriknya. Ada perasaan yang tumbuh dalam hatiku. Aku tak tahu, tapi aku senang. Ada yang membuatku tersenyum lagi. Entahlah. Tapi anak ini…memberiku semangat. Ah, dia turun. Untuk terakhir kalinya, aku melihatnya. Dan mata kami berpapasan. Aku tersenyum. Aku merasa senang.

Aku tak tahu kenapa, tapi Kyuhyun membuatku kembali bersemangat. Aku akan menata kembali kehidupanku dan membuka lembaran baru.

Kamsahamnida, Cho Kyuhyun~

END

 

PS: FF ini 100% kisah nyata author! XD. Tapi, nama namjanya ku ganti hehe. Dan settingnya bukan di bus, melainkan di angkot. LOL ^^

Diposkan pada 로맨스 ♥ Romance, 불안감 ♥ angst, 비극 ♥ Tragedy, Fanfiction, 한방 ♥ Oneshoot

Eun-Hae (Life Couldn’t Get Better)

Anyyeonggg readerrr… Kali ini aku narik-narik simpanan suami ke dua aku, Lee DongHae..

 

This is originally Jong-Key fic made by me, but since our blog post SUJU fanfic only, I replace my cast and the choosen members are…

Cast: Eunhyuk (clapping hands.. Finally I MADE it!! Finally Hyukkie become my MAIN CAST),, Donghae,, Siwon,, Kibum

Disclaimer: I don’t own them. If I do, you will not read this, cos I will be so busy taking care of them. Kekeke..

 

So sorry if this is so LAME, but I tried my best.. Kekeke..

Happy readingg…

 

 

Eunhyuk POV

 

Darah.. Aku selama ini selalu takut dengan darah. Tapi sekarang tidak lagi. Aku menikmati rasanya darah mengalir dari tubuhku, juga bau darah itu sendiri. Sakit.. Rasanya sakit.. Tapi ringan.. Aku sudah tidak ingin apa-apa lagi. Hanya menantikan orang yang kucintai menemukan tubuh bersimbah darahku ini, dan aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya untuk yang terakhir kali.

 

Kenapa aku memilih mati dengan cara seperti ini? Mengiris urat nadi dan mati perlahan kehabisan darah. Sakitnya akan lebih lama.. Tapi itu yang ingin aku rasakan.. Rasa sakit.. Alasannya? Simpel saja. Karena ini nyawaku, dan aku berhak menentukan bagaimana caraku mati. Agar orang yang kucintai itu nantinya akan selalu mengingatku.

 

Pandangan mataku mulai mengabur. Sakit di pergelangan tanganku menjalar sampai ke jantung. Tapi dia belum juga datang.. Siwon.. Jangan sampai aku mati sebelum melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Sebelum dia tau betapa aku mencintainya..

 

Senyum getir sengaja kusunggingkan. Aku teringat semua kenangan yang telah aku lalui bersamanya. Indahnya suaranya,, tatapan matanya,, caranya tertawa,, tampannya wajahnya.. Ah.. Sesuatu yang tidak akan aku temukan lagi setelah aku mati.. Di surga apa aku masih bisa melihatnya tertawa?  Hahaha.. Aku pasti bermimpi.. Bukannya orang yang mati bunuh diri itu akan masuk neraka?

 

Aaarrgghhh…. Sakit sekali ternyata.. Choi Siwon… Hahaha.. Bukankah aku menyedihkan? Aku mencintainya, bahkan lebih dari apapun. Tapi karena aku seorang Lee Eunhyuk yang pengecut,, seseorang yang tidak mampu untuk sekedar menunjukkan rasa cintanya, aku harus mati di sini sendiri.. Aku begitu sangat mencintainya, dan aku tidak bisa menghadapi kenyataan kalau dia memilih Kim Kibum, orang yang selama ini kuperlakukan seperti adik kandungku sendiri.

 

Uhuk.. Darah kental kehitaman keluar dari mulutku. Rasanya.. parah. Rasa darah ternyata tidak enak. Darah keluar dari mana-mana.. Bagus,, kematianku hanya menghitung menit saja. Dan dia belum juga datang. Tuhan.. Ah, masih berhakkah aku memohon pada Tuhan untuk melihat wajahnya sekali lagi? Aku.. sejujurnya.. ingin mati di pelukan orang itu..

 

Air mataku menetes satu-satu dari mataku yang terpejam. Sakit menghujam di sekujur tubuhku. Darahku tinggal berapa? Setengahnya? Sepertiganya? Oksigen sepertinya sudah berhenti dialirkan ke seluruh tubuhku. Aku takut penglihatanku menghilang.. Napasku tinggal satu-satu.. Hhh.. Siwon.. Aku melihat Siwon tersenyum dalam pejaman mataku.. Kenapa?? Kenapa harus Kim Kibum, Siwon????

 

Aku masih mendengar suara pintu dibuka, derap langkah kaki.. Ada berapa orang? Aku juga tidak tau.. Tapi suara itu.. Bukan.. Suara itu bukan suara Siwon, tapi.. Donghae ??

 

“Eunhyuk-ssi!!” Ya Tuhan, haruskah dia berteriak sekeras itu? Kepalaku berdenyut nyeri mendengarnya. Dia berlutut di dekat tubuhku yang penuh noda darah, dia melilitkan sapu tangannya ke pergelangan tangan kiriku. Napasku semakin sesak, aku ingin mengatakan kalau aku akan menunggu Siwon di sini, tapi untuk bernapas saja aku sulit.

 

Tiba-tiba aku merasakan udara mengisi paru-paruku. Donghae  meniupkan udara ke paru-paruku. Apa yang dilakukan orang ini? Ah… Dia mengangkat tubuhku dengan satu gerakan. Apa aku seringan itu? Tidak… Jangan Donghae ..

 

“A..ku.. ingin.. Siwon.. Choi Siwon.. hh…” kata-kataku tercekat, aku kehabisan udara. Lagi-lagi, Donghae  meniupkan udara ke mulutku yang sekarang berada dalam bopongannya. Dia akan membawaku kemana?

 

“Jangan bicara lagi, Eunhyuk-ah.. Tahan sedikit lagi ya..” Tidak.. Donghae  aku mohon.. Air mata jatuh ke pipiku, aku terisak lemah. Suara Donghae  bernada sangat cemas, dan dia menangis. Dia menangisiku? Bodoh, untuk apa dia menangisi Eunhyuk pengecut yang hampir mati ini?

 

Aku ingin sekali meminta maaf padanya.. Karena tidak memiliki kemampuan untuk membalas cintanya. Aku terlalu terperangkap dalam imajinasiku akan Siwon. Aku hanya mencintainya.. Tapi disaat memalukan seperti ini kenapa malah Donghae  yang menangisiku? Yang memberiku udara berkali-kali agar organ-organ tubuhku tidak mati?

 

“Arrrgghhh…” sakit.. sudah dekat.. Aku.. aku tidak kuat lagi.. Aku memejamkan mataku rapat-rapat tapi kemudian Donghae  mengguncang-guncangkan tubuhku yang digendongnya.

 

“Jangan tidur dulu, Eunhyuk.. Sebentar lagi..” Di mana aku? Oh.. DI dalam mobil.. Aku tidak tau butuh berapa lama agar kami sampai di rumah sakit.. Ya.. Rumah sakit.. Meskipun aku tidak melihatnya, tapi dari baunya saja aku bisa tau.. Ajaib.. Mengapa aku bisa bertahan selama ini? Apa persediaan darahku segitu banyaknya? Aku merasakan Donghae  memegang tanganku, dan dia berbisik pelan di telinga kiriku.

 

“Kau akan selamat Eunhyuk.. Kau kuat.. Berjuang, Jewel.. Sa.. saranghae..” haha, aku menyeringai sedikit.. Donghae .. Cinta apa yang sedang kau bicarakan pada orang yang sudah sekarat sepertiku? Aku sudah tidak ingin hidup lagi Donghae .. Tidak dengan kenyataan Siwon mencintai Kibum.. Hatiku akan sangat tersiksa,, jauh lebih tersiksa daripada sakit yang kurasakan sekarang..

 

“Siwon.. hh.. hh..” aku mencintainya.. Dia dimana? Aku membutuhkannya.. Ah.. Apa ini? Kakiku mati rasa, dan perlahan seluruh tubuhku ikut mati rasa.. Jangan bilang ini pengaruh obat bius.. Hei.. Jangan.. Tolong jangan selamatkan aku.. Aku mohon.. Lalu gelap, dan tanpa suara apapun..

 

xxXXxx

 

Donghae  POV

 

Aku terus menangis dan berdoa untuk Eunhyuk.. Tuhan.. Apa yang sedang terjadi? Eunhyuk.. Dia pasti selamat kan Tuhan? Kau tidak sejahat itu kan padaku? Ambil semuanya Tuhan, tapi aku mohon jangan Eunhyuk.. Jangan..

 

Siwon.. Ya.. Dia yang harus aku cari sekarang. Aku akan membuatnya meminta maaf di depan Eunhyuk.. Aku akan memaksanya mencintai Eunhyuk.. Memang hatiku pasti akan sakit membiarkan orang yang kucintai bersama orang lain. Sakit hati? Apa itu penting bagiku? Kebahagiaan Eunhyuk adalah kehidupan bagiku. Dan melihat Eunhyuk begini? Artinya kematian bagi Siwon.

 

Aku mengendarai mobilku ke rumah Kim Kibum. Aku tau jelas Siwon ada di sana. Aku buka pintu rumah itu dengan paksa. Kulihat Siwon duduk di sofa. Segera kuraih kerah bajunya sampai dia berdiri.

 

“Siwon!!” apa? Kenapa dia seperti ini? Kenapa dia sepucat ini? Apa yang sedang terjadi? Matanya memancarkan kesedihan yang sangat.. Dan raut wajahnya lelah.. Aku.. aku kasihan melihatnya..

 

“Lee Donghae..” panggilnya lemah sambil tersenyum getir. Melihat senyumannya jantungku bagaikan berdecit.. Sakit.. Senyumannya ini.. senyuman yang paling disukai Eunhyuk di dunia.. Kenapa harus dia? Kenapa harus bajingan ini Eunhyuk?

 

“Lihat keadaannya sekarang gara-gara kamu!! GARA-GARA KAU SIWON!!” aku berteriak dan kemudian meninju mukanya sampai dia terduduk di sofa. Dia tidak membalas. Wajahnya masih sama seperti tadi, tenang namun terlihat sedih.. Sangat sedih.. Dia lagi-lagi tersenyum. Cih!!

 

“Jangan bunuh aku sekarang Donghae.. Dia.. dia..” aku meninju mukanya sekali lagi. Saat ini Eunhyuk sedang berjuang melawan maut karena dia, dan dia memintaku untuk tidak membunuhnya? Hahaha.. Dia kira dunia akan berpihak sebanyak itu padanya? Tidak.. Yang dia butuhkan sekarang adalah kemurahan hatiku.. Tapi sayang.. Lee Donghae  tidak memiliki belas kasihan bila itu sudah menyangkut LEE EUNHYUK.

 

Dia menangis. Siwon menangis. Bangsat ini menagis di hadapanku? Mau muntah aku melihat tangisannya. Apa yang membuat dia begini? Merasa bersalah?

 

“Dia di rumah sakit sekarang!! Ikut aku!!” aku menarik pergelangan tangannya menggunakan seluruh tenaga yang kumiliki. Namun kemudian dia berontak. Dia melepaskan tanganku.

 

“DENGAR AKU LEE DONGHAE !!!” aku tersentak, kaget melihat air mata menganak sungai di pipinya. Ada apa sebenarnya?

 

“Selama lebih dari dua tahun aku mengenal Eunhyuk.. Aku tau dia memiliki perasaan padaku. Dan aku juga tau saat dia akan melakukan hal itu.. Dia mengatakan padaku kalau dia akan melakukan ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.. Tapi mohon mengerti kondisiku Donghae.. Tolong…” dia terduduk, menangis sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Kenapa?

 

“Bukannya aku ingin membiarkannya mati bunuh diri.. Tapi coba kau lihat di atas sana.. Di dalam kamarnya KIBUM tidak sadarkan diri.. Dia kolaps tadi.. Apa mungkin aku meninggalkannya dalam kondisi separah ini? KATAKAN PADAKU DONGHAE!!! APA AKU HARUS MENINGGALKANNYA???” Siwon berteriak, lebih seperti teriakan orang yang sedang putus asa. Aku hanya berdiri mematung.

 

“Kibum sakit Donghae.. Entah sampai kapan aku bisa melewati hari-hariku dengannya.. Tidakkah menurutmu dia terlalu muda untuk segala macam penyakit itu? Dari kecil aku mengenalnya.. Dari kecil pula dia selalu selemah ini.. Aku sudah berjanji untuk selalu melindunginya.. Dan saat dia begini, AKU TIDAK BISA MENINGGALKANNYA UNTUK EUNHYUK!! TIDAK BISA!!”

 

Siwon.. ternyata sedang dalam situasi sesulit ini.. Kim Kibum itu sekarang sakit?? Kalau aku jadi dia aku juga tidak akan meninggalkan Kibum.. Tapi bagaimana dengan Eunhyuk? Eunhyuk-KU? Dia bahkan masih menggumamkan nama Siwon saat aku memegang tangannya. Ya Tuhan.. Apa ini? Bagaimana?

 

“Maafkan aku Donghae.. Sampaikan juga pada Eunhyuk.. Aku begini karena aku tau Eunhyuk memiliki orang sepertimu yang akan selalu menjaga dan melindunginya.. Sedangkan Kibum? Kibum-ku? Dia hanya memilikiku saja. Hanya aku saja.. Bahagiakan dia kalau kau memang mencintainya. Tugasmu adalah meyakinkannya, bahwa kau bisa membahagiakannya jauh lebih baik daripada yang mampu aku lakukan.”

 

Aku menatap Siwon, kali ini bukan dengan tatapan kemarahan. Orang ini memiliki hati yang baik.. Kenapa aku bisa buruk sangka dan mengiranya sejahat itu? Kata-katanya benar.. Sudah saatnya Lee Donghae.. berhenti menjadi seorang pengecut. Yang hanya mampu mencintai dari jauh, tanpa bisa berbicara jujur tentang perasaannya.

 

Aku berlari ke luar meninggalkan Siwon yang masih menangis. Aku segera memacu mobilku ke rumah sakit. Donghae  bodoh!! Seharusnya aku menemani Eunhyuk..

 

Aku segera masuk ke rumah sakit dan menuju ke ruangan dokter yang menangani Eunhyuk, dokter Park EeTeuk. Dia terlihat sedikit kaget melihatku yang terengah-engah karena berlari.

 

“Hh.. Eunhyuk.. Bagaimana keadaannya?” tanyaku masih susah payah mengatur napas. Dokter EeTeuk menunduk sedikit, ini pertanda tidak baik.. Jangan.. Jangan bilang Eunhyuk-ku tidak selamat.. Dia orang yang kuat,, tidak mungkin dia selemah itu.

 

“Dia kehilangan banyak sekali darah. Saat kau membawanya ke sini.. sudah sedikit terlambat..” aku kehilangan seluruh tenagaku. Aku terduduk di lantai dan air mataku langsung tumpah begitu saja. Tidak.. Seseorang.. kumohon katakan ini bercanda.. Ini lelucon..

 

Dokter EeTeuk menghampiriku, berlutut di sampingku. Dia mengelus punggungku, mencoba menenangkanku. Tapi bagaiman bisa aku tenang? Aku terus menangis, tidak malu sedikitpun.

 

“Tapi dia sangat kuat.. Dia yang tidak menyerah dengan keadaannya. Dia bertahan, Donghae-ssi.. Dia bisa bertahan walalupun kehilangan darah sebanyak itu. Dia benar-benar lelaki yang hebat..” aku menatap dokter EeTeuk dengan tatapan tidak percaya. Dia lalu mengangguk. Seketika dadaku yang tadinya sangat sesak kini berubah menjadi sangat lapang dan ringan.

 

“Dia mungkin menunggumu membangunkannya.” Kata Dokter EeTeuk sambil tersenyum. Aku segera berlari ke ruangan Eunhyuk yang dikatakan Dokter EeTeuk. Dia masih terbaring di sana, dengan selang dimana-mana. Aku terdiam melihatnya yang pucat bagaikan mayat, hanya saja dia masih bernapas walaupun dibantu dengan selang oksigen. Dan dari monitor itu masih terdengar detak jantungnya. Dia masih ada.. Masih bersamaku..

 

Aku memegang tangannya. Dingin..

“Eunhyuk-ah.. Ayo bangun.. Kau kuat Hyukkie, kau pasti bisa bila hanya seperti ini.. Tahan sakitnya ya.. Ada aku di sini..” aku mencium tangannya dan meletakkannya di pipiku yang basah. “Saranghae..”

 

Eunhyuk POV

 

Tidak ada siapa-siapa di sini.. Dimana ini? DI surga? Jelas tidak mungkin.. Di neraka? Tidak panas.. Lalu ini dimana?

 

“Eunhyuk-ah…”

Ada yang memanggilku. Siwon? Oh.. bukan.. itu.. Donghae.. Tapi dia dimana? Aku takut di sini, temani aku.. Donghae  temani aku..

 

“Ayo Hyukkie, raih tanganku..” dia mengulurkan tangannya. Aku tidak sendiri.. Ada Donghae, dan dia memintaku untuk ikut dengannya. Tapi.. Bukankah aku sedang menunggu Siwon? Aku hampir saja meraih tangan Donghae saat suara Kibum mengagetkanku.

 

“Eunhyuk Hyung..” Kibum menangis.. Kenapa dia menangis? Apa yang telah dilakukan Siwon padanya? Tapi kemudian Siwon datang ke arahnya, dan menghapus air matanya.

 

“Ada aku Kibum-ah..” kata Siwon lembut, dan Kibum memeluknya, meyandarkan kepalanya ke dada Siwon. Kibum tersenyum.. Hatiku senang sekali melihatnya tersenyum bahagia seperti itu.. Tapi.. Ini tidak benar.. Bukankah aku mencintai Siwon? Bukankah seharusnya aku cemburu melihatnya memeluk Kibum? Tapi kenapa sekarang tidak lagi? Aku malah senang jika Kibum bahagia..

 

Aku kembali melihat ke arah Donghae , tapi dia mau kemana? Dia berjalan menjauhiku. Sakit.. Hatiku tiba-tiba sakit melihat punggungnya yang semakin jauh dariku.. Aku segera berlari ke arahnya, dan meraih tangan kanannya. Dia memandangku dengan tatapan sedih.. Dia menangis.. Air mataku juga reflek jatuh karena melihat airmatanya.

 

“Donghae -ah.. Temani aku..” dia menggeleng lemah. Dia sudah tidak mau lagi menemaniku? Dia sudah bosan menghadapiku? Maafkan aku.. aku.. mohon jangan tinggalkan aku..

 

“Aku akan meminta Siwon datang untukmu.. Kau harus bahagia Eunhyuk-ah.. meskipun bukan denganku.. Kau mencintainya kan? Aku akan membawanya ke sini untukmu..” dia melepaskan  pegangan tanganku, lalu berjalan menjauhiku. Seiring dengan terlepasnya tangannya dari tanganku, rasa sakit mulai menjalar di tubuhku. Menyusup sangat lambat, namun terasa mematikan. Aku terjatuh,, aku mencoba memanggil Donghae  namun dia tidak berbalik untuk melihatku.. Jangan.. Donghae  jangan pergi dariku… Ah.. sakit ini menguasaiku..

 

Donghae  POV

 

Dia tidak juga membuka matanya. Aku tidak berguna.. Heh.. Hanya bisa menangis sambil berpegang pada harapan konyol, bahwa dia akan sembuh dan membuka hati untukku. Bodoh!! Dia sekarang pasti ingin berada di dekat Siwon.. Dia pasti ingin yang memegang tangannya itu Siwon, bukan pengecut sepertiku..

 

“Baiklah.. Aku akan meminta Siwon datang untukmu.. Kau harus bahagia Eunhyuk-ah.. meskipun bukan denganku.. Kau mencintainya kan? Aku akan membawanya ke sini untukmu, agar kau cepat sadar..” aku melepaskan tangannya, lalu berjalan ke arah pintu. Aku menghapus air mataku sebelum keluar dari ruangan Eunhyuk. Hatiku memang hancur,, tapi bagiku Eunhyuk lebih penting..

 

“Emmhh…” aku mendengar leguhannya, lalu aku berbalik dan segera berlari ke arahnya. Ya Tuhan, dia berkeringat.. Pasti ini sangat sakit baginya. Aku membelai rambutnya dan memegang tangannya lagi.

 

“Hae… Lee.. Donghae..” dia memanggil namaku!! Hah.. Terimakasih Tuhan!!

 

“Aku di sini Eunhyuk-ah..” dia membuka matanya perlahan-lahan, lalu setetes air mata jatuh dari kedua sudut matanya. Ada apa? Kenapa dia menangis? Apa dia kecewa karena yang berada di sini aku, bukan Siwon?

 

“Jangan.. tinggalkan.. aku..” bisiknya dari balik masker oksigen. Tentu.. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu.. Lalu dia kembali memejamkan matanya.

 

“Aku…” dia terisak lemah. “Aku.. takut.. Temani aku…” aku duduk di kursi samping tempat tidurnya. Aku menghapus airmatanya.

 

“Tidak akan.. Aku tidak akan meninggalkanmu..” aku mencium tangannya. Aku sangat bahagia. Dia ingin AKU menemaninya.. Dia menginginkanku,, bukan Siwon..

 

“Hae.. Donghae-ah…” panggilnya masih dengan mata terpejam. “Katamu.. kau.. mencintaiku??” tanyanya.. IYA.. Benar Eunhyuk.. Itu benar..

“Aku.. ingin kau mengatakannya lagi…” dia menatap mataku yang basah dan bengkak.

 

“Saranghae.. Jeongmal saranghae.. Aku mencintaimu EUNHYUK.. Sangat..” dia tersenyum kecil. Ya Tuhan,, terimakasih.. Aku bisa melihatnya tersenyum lagi..

 

“Aku senang.. aku bahagia mendengar itu darimu..” katanya. Bahkan aku lebih bahagia..

 

“Neo animyeon andwae.. Jangan tinggalkan aku Eunhyuk-ah.. Jangan pernah melakukan hal sebodoh itu lagi..” kataku, dia mengangguk.

 

“Aku berjanji…” jawabnya. Aku memeluk tubuhnya yang masih terbaring lemah itu, dan aku merasakannya membalas pelukanku. Tidak ada yang akan membuatku sebahagia ini.. Life couldn’t get better.. Aku ingin semuanya seperti ini saja. Jangan pernah berubah, dengan Eunhyuk disampingku, dan aku bisa dengan bebas mencintainya..

 

Life couldn’t get better..
I’ll hold you in my arms and fly
We’ll fly towards the blue moon
I’ll kiss you when you’re sleeping
Life couldn’t get better
..
Open your heart and take my hand
Life couldn’t get bette
r..


-FIN-

Okehh… Selesai sudah FF gajebun ini.. Awalnya yang jadi Hyukkie Oppa itu KEY, trus yang jadi Hae Oppa itu Jonghyun.. Yang jadi Siwon Oppa itu Minho dan Kibum oppa itu Taemin.. Yang jadi dokter sebenernya Onew.. Gimana FF nya? Aku agak susah gitu kalau Maincast-nya Eunhyuk.. Entah kenapah.. Mungkin karena dia suka grepe-grepe My Donghae kali.. Hohoho.. Dikomen yaaahhh….